
Bab 25
Jangan memanggilku Ajeossi lagi!
Awalnya Lysa merasa ragu karena ia belum pernah bermain ke apartemen laki laki sama sekali. Saat Mino memintanya untuk datang ke apartemen, Lysa ingin menolak dengan alasan apa pun. Namun ia merasa tidak tega pada Mino yang berkata bahwa ia sangat merindukan Lysa bahkan sampai memimpikan gadis itu semalam.
Ketika tahu bahwa di apartemen Mino juga ada adiknya, Mina, Lysa pun mengiyakan ajakan laki laki itu. Ia mengikuti Mino masuk ke apartemennya untuk sarapan bersama. Lysa berpikir, baiklah, ia akan di sana sampai pukul sebelas nanti. Karena nanti pukul sebelas Lysa harus bertemu dengan calon tunangan Brian yang sudah meneleponnya dan mengajaknya bertemu untuk membicarakan suatu hal.
“Apa benar tidak apa apa? Bagaimana jika adikmu nanti tidak suka?” Lysa yang sekarang berdiri di depan pintu apartemen Mino itu bertanya ragu. Pasalnya, ia belum pernah bertemu dengan adik Mino sebelumnya. Dan ia merasa gugup.
“Siapa? Mina? Jangan terlalu mengkhawatirkannya.”
Sambil menggumamkannya, Mino menekan beberapa angka pada alat keamanan elektrik yang ada di pintu apartemennya. Membuka pintu dengan empat deretang angka.
“Masuklah,” kata Mino begitu pintu apartemen terbuka. Ia masuk ke dalam apartemen dan Lysa berjalan mengikutinya di belakang.
Sembari berjalan mengikuti langkah lelaki itu, Lysa menebarkan pandangan ke sekeliling. Mengamati apartemen Mino yang sangat luas dengan gaya interior serba moderen yang memenuhi pandangan. Perabotan bergaya eropa, beberapa lukisan dengan inisial MY (Lysa mengira lukisan itu adalah lukisan dari bos Moonlight Coffe, karena inisialnya sama seperti lukisan yang terpajang di dinding Moonlight Coffe). Selain itu, ada dua alat olahraga seperti mesin treatmill dan satu lagi alat Gym yang tidak Lysa ketahui fungsinya untuk apa.
Tv berukuran 48 inchi dan sofa berwarna coklat tua yang ada di sudut ruangan. Mino menggiring Lysa menuju sofa apartemennya lalu berkata, “Lakukan apa yang ingin kau lakukan di sini. Aku tinggal sebentar untuk mandi. Setelah itu kita sarapan bersama.”
Lysa hanya menganggukkan kepala pertanda ia setuju dengan apa yang Mino katakan. Begitu melihat Lysa menganggukkan kepala, Mino pun tenggelam ke sebuah ruangan yang tidak lain adalah kamar tidurnya.
Seketika Mino masuk, Lysa yang bingung harus berbuat apa di apartemen ini, duduk di atas sofa berukuran besar yang ada di sebelahnya. menatap televisi yang tadi dinyalakan oleh Mino. Program yang pagi ini sedang disiarkan adalah berita yang disiarkan oleh seorang presenter perempuan. Ia sednag menyiarkan perkiraan cuaca hari ini.
Akhirnya Lysa memutuskan untuk menonton televisi itu daripada tidak berbuat apa apa. Dan tidak lama setelah ia duduk, seseorang keluar dari kamar sebelah kamar tidur Mino. Gadis yang terlihat lebih muda dari Lysa itu keluar dari kamar itu dengan dandanannya yang sudah rapi, make up tipis di wajah dan rambut yang telah disisir rapi. Gadis yang tidak lain adalah Mina itu tampak terkejut melihat ada seseorang sedang duduk di sofa.
Lysa sendiri pun terkejut. Ia hanya tersenyum kikuk sambil melambaikan tangannya dan menyapa, “Annyeonghaseyo.”
Menanggapi sapaan Lysa, tubuh Mina otomatis sedikit membungkuk. Menyapa balik.
“Annyeonghaseyo. Si ... siapa ya?” tanya Mina bingung menatap wajah Lysa yang tampak familiar.
Itu pertanyaan yang paling membuat Lysa bingung selama ini. Siapa dia, dan apa hubungannya dengan Mino sampai ia bisa masuk ke apartemen laki laki itu di waktu sepagi ini. Kalau ia menjawab, ‘pacarnya’ tentu itu tidak benar karena Lysa dan Mino belum berkencan secara resmi, hanya saling menyayangi, bergantung dan saling membutuhkan.
Di sela sela rasa bingungnya, Lysa terpikirkan satu hal. Ia pun menjawab, “Saya karyawan Moonlight Coffe, sekaligus kenalan Manajer Han.”
Mendengar itu, Mina menganggukkan kepala. Namun raut wajahnya terlihat ragu. Ia meragukan jawaban Lysa yang terdengar beitu canggung itu.
“Ah, ya ya.”
Setelah itu, Mina yang sangat penasaran siapa wanita yang sedang duduk manis di sofa itu langsung beringsut masuk ke kamar Mino. Mencari keberadaan kakaknya untuk menanyakan siapa wanita itu.
Mino baru saja selesai mandi dan keluar dari kamar mandi dengan kondisi telanjang dada, hanya menggunakan handuk yang melilit pinggang untuk menutupi bagian ‘terpenting’nya.
“Oppa!”
Celetukan Mina yang baru masuk ka dalam kamar itu membuat tubuh Mino terkejut. Sambil menggosok gosok rambutnya yang basah menggunakan handuk, Mino menatap bingung sang adik yang tampak begitu penasaran terhadap suatu hal.
“Kau mengagetkanku saja. Ada apa?” balas Mino sambil melanjutkan berjalan menuju lemari pakaian untuk mengambil baju dan celana.
Mina yang merasa sungguh penasaran itu segera berjalan mendekati Mino.
“Oppa, Eonni yang duduk di sofa itu siapa? Dia mengaku karyawan Moonlight Coffe, tapi kenapa ada di sini? Katakan yang sejujurnya, Oppa. Apa kau sudah berkencan lagi?” Mina menrutuki kakaknya dengan berbagai pertanyaan yang terlontar sekaligus. Mino yang sedang memilih pakaian itu hanya mendengar pertanyaan adiknya dan menanggapinya seadanya.
“Memang kenapa kalau aku berkencan lagi?” sahut Mino tanpa banyak berpikir.
“Heol... Daebak! Sungguh, Oppa? Kau sudah berkencan lagi? Bukannya hubunganmu dengan Jiwon Eonni itu baru berakhir? Tapi kau sudah menemukan wanita baru dan langsung berkencan dengannya? Sungguh hebat sekali kakakku yang satu ini. Sungguh Oppa?” Mina yang sangat kaget itu merasa tidak percaya pada kakaknya. Setahunya, Mino itu sulit untuk jatuh cinta dengan seseorang. Apalagi setelah hubungannya dengan Jiwon berakhir, ia kira kakakkya itu akan memilih untuk sendiri selama beberapa waktu sambil merenungkan apa yang terjadi padanya di masa lalu. Namun menapati sang kakak yang bisa langsung berkencan dengan wanita baru itu membuat Mina sama sekali tidka habis pikir. Mina merasa itu bukan seperti kakaknya yang biasanya.
Akhirnya Mino menarik salah satu kaus di dalam lemari pakaian untuk ia menutupi tubuh bagian atasnya. Sembari memakai baju itu, Mino menjawab rutukan adiknya.
“Kenapa? Kau pikir aku akan larut dalam masa laluku karena hubunganku dengan Jiwon yang gagal? Apa kau pikir aku akan terus sedih, merenungkan hidupku, menutup diri dan menyalahkan diriku sendiri karena hubunganku yang gagal itu?” celetuk Mino yang seketika membuat Mina terdiam dan membeku.
Karena tak mendengar tanggapan apa apa dari Mina, pandangan Mino pun menaik. Ia menatap sang adik yang terlihat mati kutu dan tidak bisa berkata apa apa tentangnya.
“Kakakmu ini bukan lagi laki laki muda yang berusaha mencari jati diri lagi, Mina~ya. Aku memang terluka dan tertekan karena hubunganku dengan Jiwon yagn gagal. Tapi aku tidak bersalah dan tidak bertanggung jawab atas kegagalan itu. Jadi buat apa aku terlalu larut di dalamnya? Sementara ada orang baru yang membuatku merasa lebih berharga dan lebih dibutuhkan di dunia ini.” Mino berkata demikian dengan tatapan dan raut wajah yang serius.
Mendengar perkataan kakaknya yang begitu serius dan mengandung makna yang begitu dalam itu, Mina mengembuskan napas dnegan sangat pelan. Ia menatap Mino penuh kepercayaan.
“Jadi, Eonni muda itu benar kekasih barumu?” Sekali lagi, Mina meyakinkan.
Sembari mengembuskan napas panjang Mino berucap, “Sekarang masih belum. Tapi sebentar lagi kami akan berkencan. Aku hanya menunggu timing yang tepat untuk menyatakan cinta dan mengajaknya berkencan secara resmi.”
“Eonni itu terlihat jauh lebih muda darimu, Oppa. Kau yakin?” Mina lanjut bertanya penuh ragu.
Mino memicingkan kedua mata mendengar adiknya berkata demikian. “Wajahnya memang baby face dan terlihat muda. Usia internasionalnya masih dua puluh dua tahun dan usia Korea nya pun masih dua puluh tiga. Tapi sikapnya jauh lebih dewasa dari usianya, jauh lebih dewasa dibanding dengan kau yang masih sangat kekanak kanakan.”
Mendengar dirinya dibanding bandingkan dengan Lysa, Mina merasa sangat kesal. Ia langsung memberengutkan wajahnya dan menceletuk kesal.
“Hah, begitu ya? Aku khawatir saja jika suatu saat Oppa jalan bersama Eonni muda itu dan orang orang akan mengira kau sebagai pamannya!”
“A—apa katamu?” Mino yang mendengar ejekan adiknya itu sangat kesal dan geram padanya. “Paman? Siapa yang kau bilang seperti paman?”
“Benar, paman. Oppa tahu kan kalau kau jalan bersama gadis muda seperti Eonni itu kau terlihat sangta tua seperti paman paman?” rutuk Mina.
“Hei, Han Mina, hati hati kalau bicara. Jangan bicara sembarangan!” protes Mina kesal.
Tidak berniat menghilangkan kekesalan sang kakak, Mina justru lanjut mencetus, “Aku sarankan saja ya, Oppa. Kalau kau memang ingin berkencan dengan Eonni itu, kau harus lebih sering pergi ke salon dan melakukan perawatan wajah. Supaya kerutan di wajahmu itu tidak kelihatan dan kau tidak disangka pamannya saat jalan bersamanya.”
Saking herannya, Mino tidak bisa berkata apa untuk membalas ucapan pedas adik perempuannya itu. Dan ketika ia masih bengong karena tercengang, Mina segera keluar dari kamarnya dan menutup pintu keras keras.
Alih alih merasa kesal, sekarang Mino jadi merasa sangat sedih dan putus asa. Cepat cepat ia melepas handuknya, memakai celana dalam dan juga celana selutut. Lalu berjalan menuju meja rias. Memeriksa apakah di wajahnya terlihat ada kerutan seperti yang adiknya itu katakan.
Dengan sangat serius Mino melihat wajahnya melalui cermin. Memeriksa berbagai sudut wajah untuk melihat tanda tanda penuaan. Dan seketika itu juga ia menghembuskan napas panjang panjang.
“Sial! Kenapa aku tidak kepikiran? Harusnya aku tidak menolak hadiah topeng inframerah dari Bos Moon. Bagaiamana ini? Apa aku memintanya lagi pada Bos Moon? Aish, itu terlalu memalukan.”
Sementara Mino di dalam kamar itu masih bergelut dengan diri sendiri, Lysa yang menunggu di luar itu mulai merasa bosan. Setelah adik Mino keluar dari apartemen dengan tergesa gesa, Lysa mematikan televisi dan mulai berjalan jalan mengelilingi apartemen. Mencari benda apa yang bisa ia mainkan. Menuju dapur dan memeriksa persediaan makanan Mino. Dan melihat lihat apa saja yang ada di dapur apartemen yang dihuni seorang pria lajang.
“Ajeossi, kenapa kau mandi lama sekali?” sahut Lysa begitu melihat Mino keluar dari kamarnya. Gadis itu sedang ada di dapur untuk melihat lihat.
“Sampai kapan kau akan memanggilku Ajeossi? Panggilan itu hanya membuatku merasa begitu tua,” protes Mino terhadap panggilan Lysa terhadapnya.
Lysa tidak berpikir sejauh itu selama ini. Ia hanya merasa bahwa Mino baik baik saja dengan panggilan itu dan ia merasa nyaman nyaman saja. Selain itu, Lysa tidak yakin harus memanggil Mino dengan sebutan apa selain Ajeossi.
“Lalu, aku harus memanggilmu apa Ajeossi?” sahut Lysa penasaran.
“Panggil saja aku Oppa, atau panggilan apa pun yang lebih enak didengar.” Mino berkata.
Tanpa memprotes apa apa Lysa menganggukkan kepala. “Baiklah. Aku akan memanggilmu Oppa mulai sekarang.”
Mendengar itu, Mino merasa sedikit lebih lega. Kemudian ia berjalan menuju lemari pendingin untuk mengambil beberapa bahan makanan dan memasak untuk sarapan.
“Apa kau bisa memasak?” tanya Mino sambil mengeluarkan beberapa bahan makanan dari dalam kulkas.
“Aku pernah belajar memasak dulu. Tapi yang aku pelajari adalah masakan Indonesia. Kalau masakan Korea aku tidak begitu familiar dan tidak bisa memasaknya.” Lysa menjawab sambil mengamati bahan bahan yang Mino keluarkan. Ada daging, daun bawang, bawang bombai, dan beberapa bahan makanan lain.
“Begitu rupanya. Kapan kapan kau bisa memasak masakan Indonesia di sini. Aku juga cukup penasaran seperti apa makanan Indonesia. Aku belum pernah mencobanya sama sekali. Apa sangat berbeda dengan masakan Korea?”
“Tentu berbeda. Masakan Indonesia banyak menggunakan rempah rempah. Jadinya rasanya lebih kaya dan khas seperti makanan makanan India,” jelas Lysa singkat.
“Wahh, pasti enak sekali. Kapan kapan apa kau mau memasaknya untukku?” tanya Mino sambil menolehkan kepala, menatap Lysa.
Tanpa ragu Lysa mengangguk angguk. “Tentu saja.”
**
Sepertinya pikiran Lysa terlalu jauh jika membayangkan kalau laki laki dan perempuan berada di apartemen bersama itu pasti melakukan hal hal yang berbau vilgar dan intim. Nyatanya, ketika ia bermain di apartemen Mino tidak terjadi apa apa di antara mereka. benar benar seperti aktivitas harian yang tidah melulu mengarah ke hal hal berbau vulgar.
Tadi Mino hanya memasakkan sarapan untuk mereka berdua. Kemudian mereka sarapan bersama di meja makan. Gosok gigi. Lalu lanjut menonton tayangan drama bersama di televisi sambil bercakap cakap.
Tidak terjadi hal hal di luar dugaan seperti yang Lysa bayangkan sebelumnya. Maksud dari bermain yang Mino ucapkan itu memang benar benar bermain saja, bukan bermain yang lain lain.
Pada pukul sebelas Lysa terpaksa harus meninggalkan apartemen Mino untuk bertemu dengan seseorang. Ia keluar dari apartemen Mino. Dan berjalan kurang lebih tiga ratus meter menuju kafe yang berada di dekat gedung apartemen Mino. Wanita yang ingin mengajak Lysa bertemu itu sedang berada di sekitar sini dan akhirnya mereka memutuskan bertemu di kafe yang tidak begitu jauh dengan tempat Lysa berada.
Dan, benar. Wanita yang saat ini duduk berhadap hadapan dengan Lysa adalah wanita yang hari itu Lysa lihat secara sekilas di restoran tempat Brian dan keluarganya makan malam bersama. Wanita yang tidak Lysa ketahui namanya itu benar benar cantik seperti seorang permaisuri yang menawan. Senyumnya begitu berkesan dan penuh keindangan. Membuat Lysa tiba tiba merasa berkecil hati dan tersaingi. Wajar saja, ternyata wanita seperti ini yang diinginkan keluarga Brian untuk dijadikan menantu. Lysa membatin ketika bertatapan dengan wanita itu.
“Aku pikir kau tinggal di asrama kampus tempat Brian ssi mengajar.” Wanita itu membuka percakapan setelah beberapa saat berlalu dengan hening.
“Aku memang tinggal di asrama kampus. Hanya saja sekarang sedang ada urusan di sekitar sini,” jawab Lysa lugas. Ia tidak mau berbasa basi dan langsung berucap pada intinya. “Aku tidak tahu dari mana kau mendapatkan nomor teleponku dan mendapatkan beberapa infomasi tentangku. Kurasa, kalau Brian tidak akan membagi informasi semacam itu padamu. Jadi, apa yang sebenarnya ingin kamu bicarakan denganku?”
Wanita cantik yang terlihat sangat lembut itu tampak sangat terkejut mendengar Lysa berbicara selugas itu di hadapannya. Ia kira Lysa itu tipe gadis yang pendiam dan sering ditindas. Namun ternyata gadis itu tidak mau kalah darinya.
“Tidak ada alasan khusus. Aku hanya ingin kenal dekat denganmu karena kudengar hubunganmu dengan Brian ssi sangat dekat, seperti adik kakak. Jadi kurasa tidak ada salahnya kalau aku juga mengenalmu dengan dekat,” ucap wanita yang tidak lain adalah Jiwon itu. Ia mengatakan hal itu sampai lupa memperkenalkan diri. “Oh iya, aku hampir saja lupa. Perkenalkan, namaku Jiwon. Im Jiwon.”
Jiwon mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Lysa. Lysa pun menyambut uluran tangan itu dan balik memperkenalkan dirinya.
“Aku Lysa, Kim Lysa.”
Keadaan menjadi hening setelah itu. Jiwon tampak memikirkan suatu hal sementara Lysa hanya diam saja menunggu wanita itu mengajaknya bicara.
“Mungkin kau sudah mendengar, kalau keluarga Brian ssi ingin menikahkan kami berdua.”
“Ya, aku sudah mendengarnya,” sela Lysa.
“Tapi sepertinya Brian ssi sedang berada dalam situasi sulit karena pekerjaannya. Jadi keluarganya, terutama ibunya mendesakku untuk bisa meluluhkan hati Brian ssi. Mungkinkah kau tahu apa yang sedang terjadi pada Brian ssi? Seandainya saja aku tahu, aku berharap bisa membantunya mengatasi masa masa sulitnya karena pekerjaan itu. Karena hubungan kalian berdua lebih dekat dari yang kubayangkan, aku rasa kau bisa memberitahuku tentang apa yang terjadi pada Brian ssi supaya aku bisa membantunya.”
Sudah jelas sekali apa maksud wanita itu. Lysa yang sejak tadi mendengarkan perkataannya, merasa bahwa mulut wanita ini sangat manis terlepas dari niat busuknya. Karena sudah jelas sekali kalau wanita itu ingin mengorek ngorek infomasi tentang Brian darinya. Supaya persiapan pernikahan mereka bisa berjalan dengan lancar di saat brian sendiri sungguh tertekan dengan adanya pernikahan itu.
Lysa menarik napas panjang panjang. Bersiap siap memberikan jawaban,
“Memang benar kalau aku dengan Sam memiliki hubungan yang sangat dekat, seperti saudara. Tapi, kenapa kau berpikir kalau aku akan membagikan informasi tentang Sam kepadamu?” cetus Lysa.
Terlihat bola mata Jiwon yang bergetar karena perkataan Lysa.
“Karena ... karena aku calon istrinya.” Jiwon menjawab.
“Kau bukan istrinya Brian. Bukan calon istrinya Brian dan bahkan bukan kekasih atau tunangannya. Kau hanyalah seorang yang ingin dinikahkan dengan Brian, dan itu pernikahan bisnis.” Lysa menghentikan kalimatnya ketika melihat raut wajah wanita itu yang tampak terpukul. Lysa menarik napas panjang panjang. Lalu mengembuskannya perlahan. “Maaf, tapi aku tidak bisa membagi informasi apa pun tentang Brian. Kalau kau sungguh penasaran apa yang terjadi pada Brian, dan berniat ingin membantunya keluar dari situasi sulitnya itu, cobalah untuk mendekati Brian dengan tulus tanpa berharap apa apa darinya. Aku cukup prihatin karena di situasi seperti ini tidak ada yang berpihak padanya bahkan orang tuanya sendiri. Kalau sampai aku bekerja sama denganmu dan membocorkan privasinya, Brian benar benar sendirian di dunia ini. Sekali lagi maafkan aku. Aku hanya merasa sangat prihatin pada Brian.”
Setelah mengungkapkan semua itu, Lysa berdiri dari duduk. Sebelum pergi, ia membungkukkan tubuhnya sedikit untuk menghormati Jiwon yang lebih tua darinya, menjaga sopan santun.
“Kalau begitu, aku pergi dulu.”
Lysa hendak meninggalkan tempat itu, sebelum suara Jiwon terdengar dan itu seketika membuat tubuh Lysa menoleh.
“Apa benar kau dengan Brian itu seperti kakak adik?” tanya Jiwon sambil menolehkan tubuhnya pada Lysa. Entah mengapa, ia merasa sangat tidak yakin kalau Lysa itu hanya sebatas adik untuk Brian. Firasatnya berkata demikian, entah bagaimana asalnya. “Sepertinya hubungan kalian bukan seperti kakak adik. Jadi, kau itu siapanya Brian? Apa kalian sedang menjalin cinta?” lanjut Jiwon bertanya.
Kedua mata Lysa bergetar. Bibirnya tiba tiba terasa kering.
“Coba tanyakan saja padanya. Aku pun penasaran.”
**