
Bab 45
Kemarahan terbesar Kim Lysa
Lysa sanagt marah sekali akibat perilaku Brian. Lisa sangat marah sekali akibat perilaku Brian yang tiba-tiba mencium nya lagi tanpa kompromi. Gadis itu kembali ke hotel dengan perasaan marah yang meluap-luap dalam tubuhnya. Lisa bergerak di luar kendali karena amarah yang yang tidak terkontrol pada waktu itu juga. Begitu sampainya di hotel Lisa langsung mengemasi barang-barangnya nya dan berencana untuk kembali ke Korea sekarang juga.
"Dasar! Selama ini aku terlalu bersikap lunak padanya. Aku tidak menyangka kalau Brian akan setega ini padaku. Kurang ajar! Harusnya aku memberi nya pelajaran saat pertama kali dia menciumku pada waktu itu. Harusnya aku tidak membiarkannya begitu saja. Dan harusnya aku tidak memberinya kesempatan lagi."
Sambil memasukkan barang-barangnya dengan kasar ke dalam koper Lisa merutuk rutuk kesal dengan segenap amarah yang membakar kepalanya sampai gadis itu benar-benar kehilangan kendali.
Ketika memasuk masukkan kembali barang barangnya ke dalam koper untuk segera pergi meninggalkan tempat terkutuk ini, Lysa yang amarahnya sedang meledak ledak itu tiba tiba menangis. Air matanya tiba tiba menetes di luar kendali. Ia sangat marah. Ia merasa sanhat bodoh dan *****. Harusnya Lysa tidak pernah menerima tawaran Brian untuk liburan bersama di Indonesia. Dengan alasan apa pun Lysa harusnya menolaknya. Dan tidak peduli seberapa besar rasa rindunya pada Indonesia, Lysa harusnya tidak mengiyakan tawaran brian jika pada akhirnya seperti ini.
Lysa yang merasa hatinya sangat hancur itu menangis semakin deras. Di sela sela deru tangisnya, ia mengusap ngusap bibirnya dengan kasar. Berusaha menghapuskan ciuman bibir Brian padanya beberapa waktu lalu. Menghapuskan bayang bayannya tentang ciuman itu. Dan juga menghapuskan rasa dari sentuhan bibir itu yang masih terasa dan begitu membekas dalam ingatannya.
Saat mengingat itu semua, tiba tiba saja Lysa merasa kakinya sangat lemas. Sehingga tubuhnya pun lunglai ke atas lantai. Lysa duduk meringkuk di bawah ranjang tidurnya untuk menangis dan menenangkan dirinya dari semua hal yang baru terjadi padanya. Menangisi semua yang telah terjadi. Menangis karena menyesal. Menangis karena menyayangkan semua itu terjadi padanya.
Di waktu Lysa masih menangis itu, tiba tiba ponsel Lysa di atas ranjang tidur berdering. Rupanya itu adalah panggilan masuk dari Mino. Laki laki itu menelepon di sela sela istirahat siangnya, demi mendengrkan suara Lysa. Namun yang terjadi pada Lysa ...
Karena keadaan Lysa saat ini sedang menangis tersedu sedu, Lysa tidak menjawab panggilan itu. Jika ia menjawab, Mino akan tahu kalau Lysa sedang menangis dan itu akan membuat Mino khawatir. Sehingga Lysa memilih untuk tidak menjawb telepon yang masuk itu dan membiarkan ponselnya di atas kasur terus berdering.
Setelah panggilan tak terjawab untuk kedua kalinya, akhirnya Mino berhenti menelepon Lysa. Mingkin Mino berpikir kalau Lysa sedang tidur siang atau sedang keluar bersama teman temannya. Sehingga Mino tidak mau menggannggu dan berhenti menghubungi setelah dua kali panggilan tidak terjawab. Sementara Lysa yang masih terkulai di atas lantai itu berusaha menenangkan dirinya dan menghentikan tangisnya yang berjatuhan.
Begitu merasa sedikit tenang, Lysa pun kembali berdiri. Ia melanjutkan kegiatannya berkemas kemas. Memasukkan semua barangnya kembali ke dalam koper, tanpa menyisakan satu barang pun. Bahkan sehelai rambut Lysa tidak tettinggal di sana.
Akhirnya Lysa pun selesai mengemasi baju dan barang barangnya yang lain. Ketika ia selesai memasukkan barang barang ke dalam koper, Lysa pun meraih ponselnya. Ia mengirimi pesan teks untuk menjawab dua panggilan tidak terjawab dari Mino beberapa waktu lalu.
‘Maaf aku tidak bsa menjawab teleponmu, Chagi. Aku sedang siap siap untuk segera kembali ke Korea lebih cepat.’
Dua kalimat itu yang Lysa kirimkan kepada Mino untuk memberikan penjelasan sekaligus pemberi tahuan. Dan Mino yang segera membuka pesan teks dari Lysa, langsung menjawab.
[Ada urusan apa? Kenapa mendadak sekali?]
Itu adalah balasan pesan teks dari Mino yang dikirim segera setelah laki laki itu membaca pesan teks dari Lysa. Dan ada satu pesan lagi yang masuh dari Mino segera setelah itu.
[Kau baik baik saja kan, Chagi?]
Lysa y ang membaca pesan teks Mino itu merasa lebih tenang hanya dengan membaca pertanyaan ‘apakah kau baik baik saja’ dari Mino. Selama ini Lysa tidak pernah tahu kalau pertanyaan semacam itu bisa semanjur ini untuk mengobati luka hatinya.
‘Aku baik baik saja, Chagiya. Terima kasih. Aku akan menceritakan padamu setelah aku nanti tiba di Korea.’
[Baiklah. Hati hati di jalan. Kalau ada apa apa segera telfon aku.]
Meski pun Lysa saat ini merasa benar benar tergorea hatinya akibat perlakuan seenaknya Brian, Lysa masih bisa tersenyum tipis ketika membaca pesan teks yang dikirimkan oleh Mino itu. Di saat inilah Lysa menyadari bahwa ia tidaklah sendirian. Bahwa ia memiliki seorang laki laki yang dapat ia jadikan sandaran ketika merasa benar benar lelah dengan semua yang terjadi. Berkat Mino yang ada jauh di sana, Lysa merasa sedikit lebih tenang lagi. Paling tidak Lysa mulai terkendali. Pikirannya, otaknya, hatinya, emosinya, dan rasa kecewanya, semua itu mulai terkendali dalam diri Lysa. Lysa mulai bisa menegdnalikan dirinya setelah merasa tenang akibat beberapa patah kata saja dari Mino.
Dengan seutas senyum tipis yang terseimpul di wajah sedihnya, Lysa segera membalas lagi pesan teks Mino.
‘Terima kasih. Aku akan segera meneleponmu begitu tiba di Korea. Aku mencintaimu, Chagiya.’
[Nado saranghae, Chagi. (Aku juga mencintaimu, Sayang).’
Lysa merasa lebih tenang setelah berkirim pesan teks dengan Mino. Perasaannya jauh lebih stabil dan ia tak meledak ledak seperti beberapa waktu lalu.
Setelah merasa dirinya lebih tenang, Lysa pun menutup kopernya dan menguncinya rapat rapat. Ia menurunkan koper itu. Lalu keluar dari kamar hotel sambil menyeret kopernya. Keputusan Lysa sudah bulat. Ia ingin kembali ke Korea dan segera meninggalkan tempat ini. di sini, semua yang Lysa lakikan sia sia. Untuk pertama kali ini Lysa benar benar merasa kecewa dengan Brian. Kepercayaannya kepada Brian sudah hilang. Brian sekarang bukan lagi Brian yang dulu Lysa kenal. Bukan lagi Brian yang merupakan sosok teman baiknya. Bukan pula Brian yang selalu mendengarkan ceritanya dan selalu menemani Lysa di saat apa pun atas dasar rasa persaudaraan. Brian yang saat ini adalah Brian yang sangat licik dan tamak. Brian yang tidak waras dan akal sehatnya dikuasai oleh hal hal yang tidak pernah Lysa duga sama sekali.
Lysa menyeret kopernya untuk masuk ke dalam lift dan turun menuju lantai satu. Setibanya di lobi lantai satu, terlihat sosok Brian yang terlihat seperti menunggu Lysa. Sepertinya Brian sudah menduga kalau Lysa yang sedang naik pitam itu akan segera mengemasi barang barang dan turun dengan semua barang bawaannya. Sehingga Brian tidak naik ke atas untuk menyusul Lysa, dan memilih untuk menunggunya di lantai bawah. Dan di lobi lantai satu itu, terlihat juga sosok Im Jiwon yang menatapi Lysa dari kejauhan dengan tatapan sinisnya.
“Lysa, kau mau pergi ke mana?” Brian bertanya begitu malihat Lysa keluar dari lift membawa kopernya yang besar.
“Bukan urusanmu!”
Hanya kalimat sinis itu yang Lysa gunakan untuk menjawab pertanyaan Brian. Gadis itu maish tetap mengabaikan Brian hingga pada akhirnya Brian terpaksa menyusul langkah cepat Lysa dan menarik tangannya. Membuat tubuh Lysa seketika berbalik. Dan mereka berdua pun beradu pandang, saling menatap satu sama lain.
Kemarahan masih tergambar dengan jelas di bola mata Lysa. Kilatan biru pertanda amarah masih terpancar ketika kedua mata Lysa bertemu dengan Brian. Sontak Lysa menatapnya tajam dan sinis, tanpa ampun!
“Kau mau ke mana, Kim Lysa?” Brian kembali bertanya. Nada suaranya sedikit meninggi karena perasaan panik yang laki laki itu rasakan melihat Lysa yang ingin pergi begitu saja.
“Lebih baik aku kembali ke Korea, dari pada aku sini dan terus kau tipu daya.” Lysa berkata dengan sinis, menatap tajam ke arah Brian bersama semburat amarah yang masih diperlihatkannya.
Kening Brian mengernyit dalam. Ia cukup terkejut mendengar Lysa ingin kembali ke Korea sekarang juga. Sebelumnya Brian hanya mengira kalau Lysa hanya akan pergi dari hotel ini untuk pindah ke hotel lain. Tapi ... apa? Kembali ke Korea sekarang juga? Itu sangat konyol!
“Apa? Ke... kembali ke Korea? Sekarang? Sendirian?” tanya Brian tergagap gagap.
“Ya! Aku akan kembali. Jangan halangi aku!”
Lysa menghentakkan tangannya. Seketika itu juga cengkeraman Brian pada pergelangan tangannya itu terlepas. Dan Lysa langsung melanjutkan langkah untuk menjauh dari Brian.
“Kim Lysa, tunggu dulu!”
Brian yang kebingungan itu kembali mengejar Lysa dan menghadang jalan gadis itu. Berusaha menahan Lysa untuk tetap berada di sini. Jadwal keberangkatan mereka dari Indonesia menuju Korea adalah besok lusa. Terlalu nanggung jika Lysa pergi sekarang juga. Apalagi tiket pesawat Lysa untuk besok lusa juga sudah dipesankan oleh Brian.
Sambil menghadang jalan Lysa, Brian berbicara untuk membujuknya.
“Bagaimana kau akan kembali sekarang, Lysa? Aku sudah memesankan tiket pesawat untuk kepulanganmu besok lusa. Dan apa kau sungguh bisa kembali seorang diri? Tenangkan dirimu, dan tetaplah di sini sampai besok lusa.” Brian berucap dengan nada suara yang masih tinggi seperti sebelumnya. Ia mencoba sebisa mungkin untuk menghadang Lysa dan tidak membiarkannya pergi sekarang juga. Cukup mengkhawatirkan jika Lysa kembali seorang diri sekarang. Selain karena Lysa tidak pernah naik pesawat sendirian tanpa yang mendampingi, gadis itu juga masih memiliki fobia ketinggian. Brian hanya merasa sangat khawatir jika membiarkan gadis itu pulang ke Korea sendirian hari ini juga.
Susah payah Lysa mengendalikan napasnya yang tersenggal senggal. ia menatap Brian tak percaya dan mencetus.
“Brian, apa kau sadar yang kau katakan itu?” cetus Lysa.
Kedua alis Brian menaik. Tidak mengerti apa maksud ucapan Lysa.
“Apa maksudmu?” tanya Brian tak mengerti.
“Kau ingin aku untuk tetap di sini sampai besok lusa di saat kau memperlakukanku seenak hatimu seperti tadi? Aku tidak mau berada dalam posisi seperti tadi. Kau bukan lagi Brian yang kukenal. Kau bisa bersikap seenaknya padaku dan membuatku merasa terinjak injak.” Lysa berucap dengan ketus tepat di hadapan Brian. Membuat tubuh Brian membeku karena tertegun. Di kesempatan inilah Lysa berlalu melanjutkan langkah untuk meninggalkan laki laki itu.
“Bukannya ini yang kau inginkan?!” Brian yang terlihat emosional itu lantas menceletuk keras, tatapan mata dan raut wajahnya memperlihatkan sesirat rasa marah dan pilu kepada Lysa yang langkahnya tiba tiba berhenti.
Seketika mendengarkan teriakan Brian itu Lysa menghentikan langkah. Selama beberapa detik tubuhnya masih diam tak bergerak. Hingga kemudian perlahan lahan Lysa membalik badan dan berhadapan dengan Brian yang memperilhatkan secarik emosi di wajahnya.
“Aku? aku yang menginginkannya?” desus Lysa tak mengerti. Ia sungguh tidak tahu apa maksud Brian mengatakan hal itu.
Brian pun melangkah mendekat kepada Lysa. Dan bericara tepat di hadapan gadis itu.
“Benar. Ini bukan yang kau inginkan sejak dulu? Kau ingin aku pandang sebagai wanita, bukan sebagai adik perempuanku apa lagi anak kecil. Sekarang aku memperlakukanmu sebagai wanita, Kim Lysa. Aku memperlakukanmu seperti yang kau inginkan. Dan apa ada yang salah dengan hal itu? Kau yang selalu bertanya, dengan wajah penuh harapanmu, apakah aku sama sekali tidak memandangmu sebagai wanita. Saat kujawab tidak, kau terlihat sangat kecewa dan sedih lebih dari apa pun. Sekarang aku bisa memandangmu sebagai wanita yang sebenarnya. Aku menganggapmu sebagai wanita, dan aku menciummu. Apa ada yang salah dengan hal itu?” Brian berbicara kepada Lysa dengan tegas. Sejauh ini, laki laki itu tidak merasa berslaah sedikit pun. Ia merasa telah melakukan hal yang benar terhadap Lysa. Dan tidak seharusnya Lysa marah pada apa yang Brian lakukan terhadapnya.
Tubuh Lysa sontak membeku. Ia terbungkam selama beberapa saat. Merasa tercengang lebih dari apa pun sampai sampai tenggorokannya tak mampu mengeluarkan suara dan lidahnya tak dapat mengucapkan satu kata pun. Apa yang Brian katakan itu sungguh di luar dugaan Lysa, juga di luar nalarnya. Sehingag Lysa terbengong cukup lama karena merasa sangat tercengang dan tak bisa berkata kata.
Hingga sesaat kemudian Lysa mampu mengendalikan perasaan tercengangnya dan ia pun menanggapi kata kata Brian dengan segenap emosinya yang telah meluruh. Mendengar ucapan brian tadi, amarah menggebu di dalam diri Lysa perlahan padam dan sekarang Lysa menatap Brian dengan perasaan yang bercampur aduk.
“Benar, Brian. Yang kau katakan itu memang benar. Sangat benar. Aku memang berharap kau bisa memandangku sebagai wanita. Aku ingin kau menganggapku bukan sebatas adik perempuanmu dan aku ingin kau behenti menganggapku seperti anak kecil. Aku ingin melihatku sebagai wanita yang tidka berbeda dari kebanyakan wanita lainnya. Tapi, itu dulu, saat aku masih menyukaimu, saat aku masih memiliki harapan untuk bersamamu. Dan saat itu untuk terakhir kalinya aku bertanya padamu, apakah kau benar benar tidak memandangku sebagai wanita. Kau menjawab, bahwa kau hanya menganggapku sebagai adik perempuan, tidak lebih. Itu jawabanmu saat itu. Dan setelah mendengar jawaban dari pertanyaan terakhirmu itu, aku sudah menyerah. Aku berusaha menerima itu semua dan perlahan lahan melupakan perasaanku padamu, Brian. Aku bersusah payah untuk menerima kenyataan bahwa aku tidaklah lebih dari adik perempuan untukmu. Dan sekarang aku sudah melupakan perasaan itu. Aku... aku benar benar mengganggapmu sebagai kakak laki lakiku, seperti yang kau lakukan selama ini.”
Lysa menjelaskan semua itu dan seketika membuat Brian terlihat semakin pilu. Brian segera mengalihkan wajahnya yang terlihat sangat sedih dan menyesal itu dari Lysa. Laki laki itu maish mencoba untuk menerima kenyataan, sama sepert yang Lysa alami pada saat itu.
Terakhir, Lysa menambahkan...
“Sekarang aku ingin kembali ke Korea. Terima kasih sudah mengajakku. Dan jangan hubungi aku sementara waktu sampai aku benar benar bisa memaafkanmu atas perlakuanmu tadi.”
**