Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Saatnya mengubur kenangan masa lalu



Bab 18


Saatnya mengubur kenangan masa lalu


“Aku sungguh tidak mengerti kenapa kau terus terusan mencariku di saat hubungan kita benar benar berakhir. Kuharap kau akan segera berhenti melakukannya.”


Mino sama sekali tidak menyangka bahwa Jiwon benar akan mendatanginya di kafe Jeju untuk sekadar bertemu dengannya. Padahal Mino sudah melarang. Dan sejujurnya laki laki tidak ingin lagi bertemu dengan Jiwon apa pun alasannya. Tetapi wanita itu tetap tidak tahu diri dan terus bermunculan di hadalan Mino. Membuat Mino semakin merasa sulit untuk beranjak dari masa lalunya.


Saat ini Jiwon sedang duduk manis di atas salah satu bangku kafe dan menimkati secangkir Latte. Sedangkan Mino baru saja turun dari lantai dua setelah memeriksa administrasi kafe dan menemukan beberapa kendala yang ingin segera ia selesaikan. Namun ketika ia masih sibuk untuk memikirkan kendala itu, beberapa pelayan kafe datang bergantian dan melapor pada Mino kalau di bawah ia ditunggu oleh seorang wanita yang mengaku datang dari Seoul. Mino pun tidak memiliki pilihan lain selain menemui Jiwon yang sangat gigih dan keras kepala itu. Ia turun ke lantai satu dan melihat Jiwon sedang duduk manis di bangku itu sambil menikmati latte. Seketika melihat Jiwon di sana, Mino melihat raut wajah Jiwon yang tidak begitu baik. Sepertinya urusannya tidak berjalan lancar sehingga ia memutuskan untuk berlibur ke Jeju dan menghilangkan beban pikiran.


“Jadi untuk apa kau datang mencariku?” Mino kembali bertanya begitu duduk di hadapan Jiwon. Raut wajahnya tidak begitu senang melihat keberadaan wanita itu.


“Tidak apa apa. Aku hanya ingin melihatmu. Aku merasa, dengan melihatmu sebentar saja beban pikiranku bisa mereda.” Jiwon berucap.


“Sekarang kau sudah melihatku kan? Kalau begitu aku akan kembali bekerja.” Mino pun segera beranjak dari duduk karena merasa tidak dibutuhkan oleh wanita itu. Jika tujuannya adalah untuk sekadar melihat, maka Jiwon sudah memenuhi keinginannya. Ia sudah melihat Mino. Dan Mino akan segera pergi untuk melanjutkan pekerjaannya.


“Tunggu!”


Jiwon segera meraih tangan Mino untuk menghentikannya pergi. Ia tidak ingin laki laki itu pergi secepat ini. Dengan kedua bola matanya yang bergetar, Jiwon menatap Mino sendu.


“... Sebentar saja, tetaplah di sini. Kumohon. Hanya sampai aku menghabiskan minumanku. Setelah itu aku akan pergi dari sini dan tidak akan mengganggumu lagi.”


Kedua bola mata Jiwon yang bergetar itu membuat tubuh Mino meleleh. Ia tidak tega membiarkan wanita itu sesedih ini.


Selagi menghela napas pelan, Mino pun kembali duduk. Seketika itu Jiwon pun melepaskan cengkeraman nya dari tangan Mino.


“Terima kasih,” desus lirih Jiwon dengan senyum tipis di bibir yang terlihat seperti memaksa.


Mino duduk berhadap hadapan dengan Jiwon. Namun lelaki itu hanya terdiam. Ia tidak yakin, apa yang dilakukannya ini adalah hal yang benar atau tidak untuk dilakukan.


“Apa kau ingat saat kita pertama kali datang ke pulau Jeju?” Tiba tiba Jiwon membuka pembicaraan. Mengungkit ungkit masa lalu indah di pulau Jeju yang pernah mereka lewati bersama. “Saat pertama kali datang ke Jaju itu, kita ... untuk pertama kalinya ... melakukan—”


“Tentu aku ingat.” Mino yang sudah tau kelanjutan kalimat apa yang akan diucapkan Jiwon itu segera menyelanya. “Saat itu kau juga berkata ingin sehidup semati bersamaku. Tapi pada akhirnya kau duluan yang menghianati janjimu sendiri,” lanjut Mino dengan ketus.


Jiwon langsung terdiam. Niatnya untuk mengenang hal hal indah bersama Mino di pulau ini berakhir dengan kata kata ketus yang tidak salah.


Tepat setelah itu datang seorang pelayan kafe ke bangku mereka. pelayan itu mengantarkan minuman untuk Mino.


“Terima kasih,” kata Mino pada pelayan itu.


Jiwon berusah payah untuk menghilangkan perasaan bersalahnya karena telah menghianati Mino. Ia meneguk minumannya. Lalu kembai memulai pembicaraan.


“Ah, benar. Kudengar kau akan berhenti bekerja di Moonlight Coffe. Apa yang kudengar itu tidak benar kan? Kau tidak akan berhenti bekerja di Moonlight Coffe kan?” Jiwon lanjut bertanya. Sejujurnya ia kaget ketika mendengar berita itu dari salah seorang temannya. Ia ragu, apa jangan jangan Mino ingin berhenti bekerja di Moonlight Coffe karenanya.


“Tidak benar. Untuk apa aku berhenti bekerja dari kafe? Hidupku tidak akan berakhir hanya dengan kau pergi meninggalkanku. Kedepannya aku akan bertemu dengan seorang wanita baru dan menikah dengannya. Aku masih memerlukan pekerjaan itu untuk mengumpulkan banyak uang dan menafkahi keluargaku kelak.” Mino menimpali Jiwon dengan kata kata yang tidak terduga. Awalnya ia mengira kalau berhenti bekerja di kafe adalah cara terbaik untuk membuka lembaran kehidupan barunya tanpa Jiwon. Namun kini Mino sudah tahu caranya membuka lembaran baru dalam hidupnya tanpa kehilangan pekerjaannya di kafe.


Semnetara itu, Jiwon yang mendengar kata kata ketus dari Mino itu kembali bergetar kedua matanya. Ia sama sekali tidak menyangka Mino akan mengeluarkan kata kata seperti wanita baru, pernikahan, dan keluarga. Apa itu artinya Mino sekarang sudah benar benar melepaksannya?


“Kau ... sudah memiliki kekasih baru?” Jiwon meyakinkan pendengarannya. Ia bertanya dengan hati hati dan menatap Mino penasaran sekaligus sedih.


Napas pelan Mino berembus. Ia menegak minumannya lalu menjawab pertanyaan Jiwon dengan tenang.


“Mulai sekarang aku akan mencari kekasih baru. Sama seperti dirimu, aku juga ingin segera bertemu dengan seorang seperti yang aku inginkan, lalu merencanakan masa depan bersamanya tanpa mengkhawatirkan akan ditinggalkan kembali. Jadi kuharap apa yang kau rencanakan bersama orang yang kau inginkan itu berjalan lancar. Dan berhenti menggangguku. Aku harus kembali bekerja. Waktuku di pulau ini hanya sebentar.”


Mino segera beranjak dari duduk dengan membawa minumannya. Sementara Jiwon yang masih tercengang terhadap jawaban yang didengarnya dari Mino itu, tetap terdiam membengong menahan rasa tertusuk tusuk di dalam hatinya.


“Orang yang kuinginkan itu adalah engkau!”


Langkah mino terhenti seketika terhenti mendengar celetukan Jiwon. Perlahan lahan tubuh Mino pun berbalik, menatap Jiwon yang bola matanya berkaca kaca.


“Jangan munafik. Jika orang yang kau inginkan itu benar aku, kau tidak akan pergi meninggalkanku begitu saja. Pasti kau akan tetap bersamaku dan mencari penyelesaian masalahmu bersamaku. Tapi, kau tidak melakukannya. Alih alih bertahan bersamaku dan mencari solusi bersama, kau memilih untuk pergi. Karena pergi dariku adalah cara yang mudah untuk kau memperbaiki kehidupanmu dan keluargamu, kan? Jangan menjadikanku alasan. Dan jangan berdusta dengan berkata kalau orang yang kau inginkan adalah aku. Jika memang benar yang kau inginkan adalah aku, berpikir untuk pergi saja tidak akan pernah.”


Setelah mengatakan itu semua Mino berlalu pergi. Ia melanjutkan langkahnya menjauhi Jiwon. Naik menuju lantai dua untuk meneruskan pekerjaannya di sana. Bagaimana pun caranya ia harus menyelesaikan pekerjaannya hari ini juga, supaya besok ia bisa melakukan penerbangan kembali ke Seoul. Mino tidak bisa membiarkan seseorang menunggunya terlalu lama dengan cara menunda nunda pekerjaannya di pulau ini.


Seketika Mino menghilang dari pandangannya, Jiwon menangis tersedu sedu. Wanita itu menangis bersama rasa sakit yang akan terus menghantui. Setidaknya, jika ia sudah memutuskan untuk meninggalkan Mino, harusnya ia tetap bahagia dengan keputusannya. Namun bodohnya ia bahkan tidak bahagia atas keputusan yang diambilnya, dan tambah tersiksa dengan sikap Mino yang tidak peduli lagi padanya.


**


Keesokan siangnya Mino pergi meninggalkan pulau Jeju. Ia melakukan perjalanan kembali ke Seoul dengan perasaan senang dan tak sabar.


Semua pekerjaan kafe telah selesai ia bereskan. Sekarang ia kembali ke Seoul bersama manajer kafe yang sudah ditunggu tunggu oleh Moon Yul di kafe.


Han Mino yang suasana hatinya sungguh baik itu berjalan menyeret kopernya menuju pintu keluar Bandara. Udara Seoul memang tak sesejuk di pulau Jeju. Tetapi ada alasan mengapa pria itu buru buru kembali ke Seoul begitu pekerjaannya di Jeju berakhir hari ini.


Begitu keluar dari bandara, Mino mengangkat telepon yang masuk dari Moon Yul. Di sampingnya, manajer Moonlight Coffe cabang pulau Jeju sednag berjalan dengan wajah tenang.


“Ya, saya sudah tiba di Bandara Internasional Gimpo. Baiklah. Saya akan langsung ke kafe bersama manajer cabang Jeju.” Kedua laki laki itu pun mulai bergerak menuju Moonlight Coffe yang berpusat di Gangnam.


Sementara kedua laki laki berada dalam perjalanan, di Moonlight Coffe pusat Gangnam, para pegawainya sedang sibuk menyiapkan rapat dadakan di ruang rapat latai tiga. Lysa bersama beberapa pegawai kafe lainnya yang sedang bertugas hari ini, menyiapkan rapat bersama asisten manajer. Mempersiapkan makanan dan minuman, serta menyiapkan semua peralatan rapat seperti proyektor dan notebook.


“Suasana sangat mencekam. Kira kira ada apa ya?”


Sementara menyiapkan kursi di ruangan rapat itu, Hanee mengajak Lysa berbicara. Pemberitahuan rapat tadi sangat dadakan. Dan melihat asisten manajer yang tampak kelabakan dengan raut wajah serius itu membuat para pegawainya merasa ada yang tidak beres di kafe.


“Entahlah.” Lysa yang juga tidak mengerti ada apa ini, hanya menjawab seadanya sambil mengelap meja rapat menggunakan kain dan penyemprot debu.


“Kudengar Boss Moon dan Nyonya Moon juga akan datang nanti. Manajer Han yang baru dari Pulau Jeju juga akan datang bersama seseorang. Apakah mungkin Manajer Han yang akan disidang? Kudengar beberapa pekan lalu dia mengajukan surat pengunduran diri tapi tidak diterima oleh Bos Moon. Ah, atau yang ingin disidang itu adalah orang yang akan datang bersama Manajer Han?”


Hanee terus saja menggumam ketika melakukan pekerjaannya bersama Lysa. Tetapi Lysa tidak begitu menggubrisnya karena ia sibuk mengelap meja rapat sampai kinclong. Dan, jujur, Lysa tidak begitu peduli pada apa yang akan terjadi di Moonlight Coffe. Selain karena Lysa hanyalah seorang pekerja paruh waktu, ia juga merasa kalau Mino yang merupakan manajer umum Moonlight Coffe itu bukanlah orang yang akan disidang dalam rapat ini.


‘Cklek!’


Suara pintu yang terbuka itu membuat Hanee dan Lysa yang masih ada di ruang rapat untuk menyelesaikan sedikit pekerjaan itu, terjingkat kaget. Keduanya langsung menoleh ke arah pintu. Mendapati seorang wanita yang sangat cantik dan semampai, bersama seorang laki laki yang tidak lain adalah Moon Yul.


Seketika melihat bos kafe bersama istrinya yang menawan itu masuk ke dalam ruang rapat, Lysa dan Hanee membungkukkan tubuhnya. Memberikan rapaan sopan pada bos kafe tersebut dan juga nyonya kafe.


“Annyeonghasimnida,” sapa Lysa dan Hanee secara bersamaan sambil membungkukkan tubuh.


“Iya, halo. Apa kalian masih membersihkannya?” Moon Yul membalas sapaan kedua gadis muda itu dengan seutas senyum yang ia paparkan.


“Sepertinya kita datang terlalu cepat, Sayang,” sahut wanita yang menggandeng tangan Moon Yul, yang tidak lain adalah Nyonya Moon yang memiliki nama asli Kang Yebin itu. “Apa kalian pegawai baru yang baru saja direkrut?” lanjut wanita itu bertanya.


“Iya.” Hanee yang tiba tiba terlihat begitu gugup itu menjawab dengan suara yang sangat lirih.


“Apa masih lama membersihkannya?” lanjut Nyonya Moon bertanya.


“Tidak. Kami sudah selesai dan mau keluar.” Lysa menjawab.


“Baiklah. Kalian sudah bekerja keras.”


Kemudian Lysa dan Hanee kembali membungkukkan tubuh untuk menberikan salam pamit. Dan selanjutnya mereka segera keluar dari ruangan. Begitu keluar, Hanee ang terlihat paling gugup itu mengembuskan napas panjang panjang.


“Hfyuuhhhhh. Kau lihat tadi? Istrinya Bos Moon, bos kita. Sangat cantik sekali ya? Aku sangat iri padanya. Baru pertama kali ini aku melihat Nyonya Moon, dan ternyata benar seperti yang dikatakan orang orang. Kalau istrinya Bos Moon masih sangat muda dan sangat cantik seperti bidadari.”


Sembari menuruni anak tangga, Hanee yang terkesipa pada Nyonya Moon di pandangan pertama itu menggumam gumam tidak jelas. Sementara Lysa di sebelahnya hanya terdiam dan mendengarkan celotehan temannya. Memang benar kalau Nyonya Moon itu sangat cantik dan menawan. Sebagai perempuan, Lysa menyadari hal itu. Namun tidak dapat dimungkiri bahwa semua pegawai perempuan di kafe ini merasa sangat iri pada Nyonya Moon. Iri pada kecantikannya. Iri pada karisma yang dibawanya sebagai istri dari Bos Moon. Juga iri pada kepribadiannya yang sangat tegas dan tak kenal ampun.


Yang Lysa tahu tentang Nyonya Moon dari teman teman pegawai kafe lainnya adalah, Nyonya Moon orangnya sangat tegas dan tidak kenal ampun. Sangat berbeda dari Tuan Moon yang orangnya sangat toleran dan sangat ‘berperasaan’. Dan satu hal yang pasti. Nyonya Moon itu sangat jarang sekali datang ke kafe bersama suaminya. Ia hanya akan datang ketika ada suatu perkara besar yang tidak bisa diputuskan oleh Tuan Moon sendiri, sehingga membutuhkan bantuan istrinya.


Begitu tiba di lantai satu, terlihat asisten manajer sedang membawakan nampan berisi minuman dan juga camilan untuk dibawanya menuju ruang rapat. Lysa pun berjalan menuju meja kasir untuk bersiap melakukan pekerjaan selanjutnya. Ia telah bersiap siap bekerja, seperti hari hari sebelumnya.


Baru beberapa detik Lysa berdiri di balik meja kasir itu, terdengar suara mobil yang datang. Mobil yang tampak sangat familiar itu berhenti tepat di halaman kafe. Lysa mengerti itu mobil siapa. Dan, seperti yang diduganya, itu adalah mobil dari Mino. Yang ditunggu tunggunya selama beberapa hari terakhir ini, Mino, sudah pulang dari pulau Jeju rupanya.


Tentu saja, lysa merasa senang sekali melihat pria itu kembali dengan selamat. Dan ia berharap untuk segera bertemu dengan Mino dan memberbincangkan banyak hal bersama laki laki itu.


Beberapa detik kemudian Mino terlihat turun dari Mobil bersama seorang laki laki yang wajahnya tampak asing untuk Lysa. Di balik meja kasir itu, Lysa menanti dengan semangat. Ia memandangi Mino dari kejauhan dan menunggu lelaki itu masuk ke dalam kafe. Dengan tatapan semringah dan perasaan menggebu gebu, Lysa bersemangat menunggu Mino dan berharap akan mendapat sapaan hangat dari laki laki itu.


Tetapi Lysa dilanda kekecewaan. Karena begitu Mino masuk ke dalam kafe, lelaki itu tam mengalihkan pandangannya sama sekali. Ia hanya menatap lurus ke dalam sambil berjalan melewati beberapa petugas kafe yang menyapanya. Tatapannya serius. Mino terlihat cukup serius, tidak berada dalam kondisi yang cukup baik untuk membalas sapaan bawahannya apalagi menyapa Lysa dengan antusias seperti ketika ia menunggu jawaban dari Lysa saat di bandara hari itu.


Mino hanya berlalu melewati Lysa. Mino segera naik ke lantai dua untuk mengantarkan laki laki yang dibawanya itu masuk ke ruang rapat dan bertemu dengan Moon Yul.


Baiklah. Mungkin Mino memang benar benar sibuk karena urusan pekerjaannya. Lysa merasa bisa memaklumi sikap laki laki itu. Akhirnya Lysa pun kembali fokus pada pekerjaannya. Ia menyelesaikan pekerjaannya tepat pada pukul setenagh tiga sore karena tepat pada pukul tiga ia harus mengikuti kelas perkuliahan.


Ketika Lysa meninggalkan kafe, Mino dan beberapa orang lainnya masih berada di ruang rapat dan belum ada tanda tanda kalau rapat sudah selesai. Baiklah. Nanti kalau Mino sudah menyelesaikan pekerjaannya, pasti lelaki itu akan menghubungi Lysa. Dengan pemikiran seperti itu Lysa pun pergi meninggalkan kafe. Ia harus segera ke kampus untuk mengikuti salah satu kelas kuliah. Itu adalah kelas bahasa Korea Indonesia yang diisi oleh Brian.


Lysa mengikuti kelas perkuliahan itu dengan konsentrasi. Fokusnya tertuju pada pelajaran. Namun beberapa kali bayang bayang Mino dan ciumannya kala itu terbesit dalam benak. Jika sudah seperti itu, maka yang bisa Lysa lakukan hanyalah menggeleng gelengkan kepala. Berusaha menghilangkan angan angan eksotis dari kepalanya. Lalu menyadarkan seisi kepalanya untuk kembali dokus pada pelajaran dan juga Brian yang sedang berbicara di depan kelas.


Kelas tersebut selesai tepat pada pukul lima sore. Semua mahasiswa yang berasal dari Indonesia dan yang hendak melakukan pertukaran pelajar ke Indonesia, meninggalkan kelas. Begitu pun Lysa yang keluar terakhir kali setelah memberesi beberapa buku dan peralatan kuliah.


“Setelah ini kau akan ke mana?”


Suara Brian yang menyahut dari belakang seketika membuat Lysa menoleh. Laki laki itu berjalan menyeimbangi Lysa di sebelahnya sambil membawa beberapa bahan ajar yang selesai ia gunakan untuk mengajar.


“Entahlah. Pastinya, aku akan mencari makan dulu.” Lysa menjawab.


“Ayo makan bersama. Aku yang traktir.” Brian berucap.


Selagi menolehkan kepala, Lysa mengernyitkan alis. Padahal ia tidka meminta traktiran dari Brian, tetapi lelaki itu inisiatif ingin metraktir. Wah, kejadian yang sangat langka sekali terjadi.


“Kenapa? Kenapa Sam ingin mentraktirku?” tanya Lysa legas.


Tidak mengerti, kepala Brian memiring. Ia tidak tahu maksud Lysa bertanya demikian.


“Maksudmu? Apa aku perlu alasan khusus untuk mentraktrirmu? Bukannya biasanya kau yang memintaku membelikan makanan?” celetuk Brian tak habis pikir.


Langkah Lysa berhenti. Dengan raut wajah kesal Lysa menoleh pada Brian.


“Kalau begitu, mulai sekarang kau tidak usah mentraktirku makan lagi. Sekarang aku bukan pengangguran. Untuk sekedar makan saja aku juga punya uang. Berhenti merendahkanku dan menganggapku sebagai pengemis.”


Lysa menceletuk panjang lebar bersama segelimang emosi yang ia perlihatkan pada Brian. Brian yang sungguh terkejut itu hanya menghembuskan napas panjang panjang sementara Lysa yang selesai memperingatinya, berjalan menjauh. Berjalan cepat meninggalkan Brian yang masih berada dalam keadaan tercengang.


“Hei, Kim Lysa! Berhenti. Lysa, Kim Lysa!”


Teriakan Brian yang memanggil manggil nama Lysa itu sama sekali tidak digubris oleh si pemilik nama. Lysa yang sudah terlanjur marah dan tidak terima itu berjalan cepat meninggalkan gedung perkuliahan. Ia hendak mencari makan sebelum mengisi shift malam di kafe dari jam tujuh sampai jam sepuluh malam.


Tin tin!


Begitu Lysa melangkahkan kakinya keluar dari pintu gerbang kampus untuk mencari makan. Suara klakson mobil menyambut langkah gadis itu. Dari jarak sepuluh meter dari tempat Lysa berdiri saat ini, terlihat mobil Mino yang terparkir di pinggir jalan. Mino masih berada di dalam mobil dan membunyikan klaksonnya begitu melihat Lysa melintasi pintu gerbang kampus.


Seketika itu, Mino turun dari mobil. Ia melambai lambaikan tangannya pada Lysa, memberikan isyarat keberadaa. Bersama untaian senyum meriahnya, Mino menyandarkan tubuh ke badan mobil dan menanti Lysa yang sedang berjalan pelan dari kejauan menuju ke arahnya.


**