Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Menuju Pulau



Menuju Pulau


Saat Leo Park keluar dari rumah baru Hun, Kang Yebin masih sibuk melihat


grafik penjualan Biniemoon dan juga Moonlight Retail. Wanita itu tak mengamati


apa yang terjadi pada Leo dan melihat ekspresi wajahnya saat keluar. Yang Yebin


ketahui, hanyalah Leo Park yang telah keluar dari rumah itu melalui ekor


matanya.


Semenjak ia memiliki Hanyul, Yebin menjadi lebih jarang pergi ke kantor


Biniemoon. Jika tak ada urusan yang sangat penting seperti rapat mingguan atau


ada keluhan baru dari sistem aplikasi Biniemoon, ia tidak akan datang ke


kantor. Ia telah memasrahkan semua pekerjaan Biniemoon kepada para karyawannya


yang jumlahnya bertambah sejak Moonlight Retail diresmikan. Karena sejak saat


itu, terjadi pelonjakan pada angka penjualan produk di Biniemoon. Sehingga ia


menambah jumlah karyawan Biniemoon untuk mempermudah pekerjaannya. Apalagi


setelah Yebin memiliki Hanyul, ia benar benar tidak bisa meninggalkan anak


lelakinya untuk bekerja di kantor Biniemoon. Kondisi Hanyul memerlukan


pengawasan yang ketat dan Yebin tidak bisa meninggalkannya barang sejenak.


Karena bisa jadi Hanyul tiba tiba pingsan atau step seperti yang dulu pernah


terjadi.


Yebin terlalu fokus melihat grafik penjualan yang terpampang di layar


tabletnya. Sampai sampai ia melupakan satu hal....


Deg.


Pandangan Yebin menaik seketika. Menoleh ke kanan, ke arah tempat di mana


Hanyul tadi bermain main bersama dua kelincinya. Namun, di tempat itu tidak ada


siapa siapa.


“Hanyul-a!”


Terkaget, Yebin seketika beranjak dari duduk. Kepalanya menoleh sekeliling.


Mencari keberadaan Hanyul, namun bocah lelaki itu tidak ada.


Dalam sekejap itu aliran darah di tubuh Yebin mencepat. Tubuhnya memanik


bersama dengan pandanganngya yang menyebar ke sekeliling, memastikan sekali


lagi apakah Hanyul ada di tempat ini. Namun, halaman ini kosong. Hanya ada


dirinya dan beberapa petugas angkut barang yang ke sana ke mari menata barang


barang. Sedangkan dua anak kelinci yang tadi bermain bersama Hanyul juga tidak


ada.


“Hanyul-a!” Yebin berteriak sekali lagi untuk memanggil putra kecilnya.


Tak terdengar respon Hanyul sama sekali. Membuat Yebin bertambah panik


dan berteriak sekali lagi untuk memanggil putra kecilnya.


“Hanyul-a, Moon Hanyul!”


Dengan perasaan panik yang membuncah di kepalanya, Yebin beranjak dari


tempat. Berlari keluar gerbang untuk mencari keberadaan Hanyul.


“Hanyul-a!”


Di salah satu sudut depan gerbang rumah Hun, terlihat Hanyul yang sedang


berdiri di antara dua anak kelinci. Rupanya, Hanyul tak menjawab panggilan


Yebin karena sedang diajak bicara dengan Leo Park yang belum beranjak pergi


dari tempat itu. Lelaki tersebut masih belum bergi setelah keluar dari rumah


Hun beberapa waktu lalu. Masih bercakap cakap dengan Hanyul di depan pintu


gerbang.


“Hanyul-a, kenapa tidak menjawab panggilan ibu?” Yebin menceletuk, yang


seketika membuat kepala Hanyul menoleh. Melihat Yebin berjalan keluar dari


gerbang rumah, seketika itu juga berlari menghampiri Yebin dan memeluk kedua


kakinya.


“Oh! Ada apa?” tanya Yebin yang merasa aneh melihat sikap Hanyul.


Spontan, Yebin pun menaikkan pandangan. Bertatapan dengan Leo Park yang


beranjak berdiri setelah beberapa waktu lalu berjongkok untuk berhadapan dengan


Hanyul dan dua kelincinya.


Leo Park tak berkata apa apa ketika Yebin menatapnya dengan tatapan penuh


amarah. Lelaki itu hanya tersenyum manis, tanpa rasa berdosa, lalu melambai


lambaikan tangannya kepada Hanyul yang masih menenggelamkan kepalanya di antara


kaki Yebin.


“Lain kali kita bertemu lagi, Hanyul! Sampai jumpa.”


Itu kalimat terakhir yang Leo Park utarakan kepada Hanyul yang bahkan


tidak mau berbalik menatapnya. Kemudian, Leo Park masuk ke dalam mobil. Berlalu


pergi meninggalkan rumah Hun.


Setelah melihat kepergian Leo Park, pandangan Yebin kembali tertuju pada


Hanyul yang masih memeluk kedua kakinya dengan erat. Perlahan lahan Yebin


melepaskan pelukan si anak. Lantas berjongkok untuk bertatapan dengan Hanyul


yang memasang ekspresi wajah tidak biasa.


“Apa apa Hanyul-a? Kau takut dengan paman yang tadi? Apa yang terjadi,


katakan padaku?” Yebin berucap lirih untuk meyakinkan Hanyul.


“Paman itu... mengatakan sesuatu tentang ayah,” jawab Hanyul dengan suara


polosnya.


Kening Yebin mengernyit dalam.


“Sesuatu apa itu?” tanya Yebin.


“Itu... itu...”


**


“Benar. Semua barang dan perlengkapan akan diberangkatkan hari ini juga.


Tolong urusi penerbangannya.”


Sambil berjalan cepat di bandara Internasional Incheon, Yebin bercakap


dengan seseorang melalui telepon. Yang sedang berbicara dengannya itu adalah


seorang yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan pernikahan Hun dan Jina


yang akan dilaksanakan di pulau pribadi milik Yul.


Semua persiapan pernikahan itu telah dipersiapkan. Undangan pernikahan


yang mendadak itu pun sudah disebar ke berbagai tempat. Dan yang menyiapkan


segalanya adalah Yul dan juga Yebin. Karena Hun dan Jina tak sempat mengurusi


pernikahannya sendiri sebab disibukkan oleh pekerjaan di Mahkamah Agung.


Sehingga yang membantu semua persiapannya adalah Kang Yebin dan juga Moon Yul.


Hari ini adalah hari keberangkatan mereka semua ke sebuah pulau kecil


yang telah dibelu Yul menggunakan uang pribadinya, yang kini menjadi salah satu


aset terbesar Yul selain Moonlight Grup. Di pulau itu, Hun dan Jina akan


melangsungkan pernikahan sekaligus berbulan madu. Hari ini, Yul, Yebin, Hanyul,


ibu Miyoon, Hun, dan juga Cho Jina berangkat ke pulau tersebut dengan


menggunakan akomodasi pesawat.


“Oh ya, jangan lupa juga siapkan tiket pesawat dan semua akomodasi untuk


para tamu undangan. Paling tidak semua tamu undangan harus tiba di pulau satu


hari sebelum pernikahan. Pastikan saja semua tamu undangannya mendapatkan


akomodasi yang layak. Untuk hotel dan penginapannya, suamiku sendiri yang akan


persiapkan. Kau hanya perlu menyiapkan akomodasi dan mengkoordinir semua


tamunya saja.” Yebin lanjut bercakap cakap sembari berjalan di tengah kerumunan


orang sambil menyeret kopernya.


“Baiklah. Aku percayakan semua itu padaku, Jaehyun ssi.”


Panggilan telepon Yebin tertutup kemudian. Ia memasukkan ponselnya ke


dalam tas. Lalu berhenti di satu titik. Menoleh ke kanan dan ke kiri untuk


mencari keberadaan seseorang.


“Kemana dia? Katanya mau ke kamar mandi. Kenapa lama sekali?” gumam Yebin


pelan sambil menebar pandangan ke sekeliling. Ia melihat setiap orang yang lalu


lalang untuk mencari keberadaan Yul yang sejak beberapa menit lalu menghilang


dari pandangannya untuk pergi ke kamar mandi.


“Oh, Sayang!”


Mendapati keberadaan suaminya, Yebin langsung melambaikan tangan dan


menceletuk. Yul yang mendengar suara Yebin dan melihat salah satu tangan Yebin


terangkat untuk memberikan tanda keberadaannya, segera berjalan mendekat.


Lelaki itu berjalan cepat, setengah berlari, sambil menyeret koper besarnya.


“Apa Jaehyun tadi susah telepon?” tanya Yul begitu tiba di hadapan Yebin.


Mereka lanjut berjalan untuk melakukan check in sebelum melakukan penerbangan


menuju Busan terlebih dahulu.


Pulau pribadi milik Yul tersebut terletak di daratan selatan Korea


Selatan. Letaknya tidak begitu jauh dari kota Busan. Sehingga pesawat mereka


akan mendarat di Busan terlebih dahulu. Kemudian melanjutkan perjalanan menuju


pulau tersebut menggunakan kapal veri. Pulau tersebut tak memiliki bandar udara


sehingga jika ingin ke sana harus mendarat di Busan terlebih dahulu kemudian


melanjutkan perjalanan menuju pulau tersebut menggunakan kapa.


“Aku baru saja meneleponnya.”


“Apa katanya?” lanjut Yul bertanya.


“Ya dia sedang mempersiapkan semuanya. Jaehyun ssi berkata kalau semua


akan ia urus dengan baik dan kita tidak usah mencemaskannya.” Yebin menjawab


dengan yakin.


“Baguslah.” Yul menganggukkan kepala. Kemudian ia teringat suatu hal. “Oh


ya, apa Hanyul dan yang lainnya sudah berangkat duluan?”


“Sudah. Sekitar lima belas menitan yang lalu.”


Hanyul harus terbang terlebih dahulu bersama Hun, Jina, dan juga Ibu


Miyoon. Ini dikarenakan Yebin dan Yul harus mengurusi beberapa hal terlebih


dahulu sehingga lebih baik Hanyul berangkat duluan bersama paman dan neneknya


saja. Kemudian mereka nanti akan menunggu di Busan sampai kedatangan Yebin dan


Yul sebelum melanjutkan perjalanan kembali menuju pulau tersebut menggunakan


very.


Setelah melalui segenap prosedur untuk penerbangan menuju kota


metropolitan Busan, Yebin dan Yul pun akhirnya berangkat bersama menyusul


keluarga lainnya yang juga melaju ke sana. Begitu keluar dari bandara, ia


disambut oleh Hanyul yang langsung berlari dari arah mereka.


“Ibu, ayah!” Bocah kecil yang rambut kepalanya mulai tumbuh itu berlari


kencang menuju kedua orang tuanya sambil merentangkan tangan. Yul yang melihat


anak kecilnya berlari kegirangan melihatnay datang itu, lantas mengangkat tubuh


Hanyul begitu tiba di hadapan. Dalam sekejap, tubuh mungil Hanyul pun ada di


pelukan hangat sang ayah.


“Aigoo... Hanyul sudah merindukan ibu dan ayah?” sahut Yul begitu putra


kecilnya itu memeluknya seperti bayi kanyuru.


“Hahaha. Belum ada dua jam Hanyul berpisah dengan ibu dan ayah, sudah


sangat rindukah?” celetuk Yul. Ia melanjutkan jalannya sambil membopng tubuh


mungil Hanyul dan menyeret salah satu koper yang ia bawa.


“Haduh, lama lama kalian berdua jadi sangat mirip dan punya banyak


kecocokan. Dulu Hanyul tidak semanja itu, lihatlah sekarang dia jadi sangat


manja karena meniru tingkah laku ayahnya,” gerutu Yebin smabil ikut berjalan di


sebelah Yul. Ia menggeleng geleng heran melihat anak dan ayah yang sangat


serasi itu.


“Itu hal bagus, Sayang. Artinya kau akan memiliki dua laki laki yang bisa


kau andalkan seumur hidupmu. Ya kan, Nak?” balas Yul sambil mengajak Hanyul


berbicara. Yang membuat Yebin tidak habis pikir adalah, bagaimana Yul meminta


pendapat dari seonak berusia lima tahun yang hanya mengerti tentang arti kata ‘bisa


diandalkan’.


Hanyul yang ada di pelukan Yul, karena tidak mengerti apa yang ayahnya


itu bicarakan, hanya berkedap kedip sambil menatap kedua bola mata sang ayah. Bocah


lelaki yang memiliki mata lebar itu sama sekali tak menegrti apa yang Yul


maksud. Ia hanya diam dan mengedip ngedipkan bola matanya yang jernih dan


indah.


“Hahaha, tidak tidak. Ayah hanya bercanda. Kau tidak perlu bingung


memikirkannya, Nak.” Yul mengimbuhkan setelah melihat raut wajah putranya yang


kebingungan mencerna apa yang ia katakan.


Kemudian anak lelaki itu tersenyum sipu. Ia mengalungkan kedua tangannya


pada leher sang ayah. Kemudian menopangkan kepalanya di antara leger dan bahu


bidang Yul.


“Hanyul mengantuk? Apa tadi di pesawat tidak sempat tidur?” tanya Yul


sambil berjalan menghampiri ibu Miyoon, Hun, dan juga Jina di tempat parkir


mobil.


“Hanyul tidak mau tidur. Ia merasa tertaril melihat awan awan putih dari


dalam pesawat. Dan dia terus menanyakan kapan ayah dan ibunya akan datang.” Ibu


Miyoon, yang berdiri di sebelah Hun itu segera menyahut. Ketika di pesawat,


tempat duduk Hanyul bersebelahan dengan sang nenek sedangkan Hun dengan calon


istrinya.


“Begitukah? Kalau begitu sekarang tidurlah. Kau pasti mengantuk,” ucap


Yul. Di atas bahunya itu, Hanyul yang sedang menyandarkan kepala tiba tiba


menguap karena ngantuk.


“Hooaahhh!” Suara desahan kecil pun terdengar lirih di telinga Yul. Membuat


hatinya tergelitik.


“Benar. Tidur saja.”


Kemudan Yul menyerahkan kopernya kepada Hun. Meminta tolong kepada Hun


untuk memasukkan kopernya dan juga koper Yebin ke dalam sebuah mobil keluarga


yang akan ia gunakan untuk pergi menuju pelabuhan nanti sore.


Mereka ber enam itu pun masuk ke dalam satu mobil keluarga berukuran


besar yang telah dipersiapkan oleh Hun. Masuk ke dalam mobil tersebut. Di kurdi


depan ada Hun yang sedang mengemudikan mobil, dan Jina yang ada di sebelahnya. Di


kursi belakang sopir ada Yebin dan ibunya, Miyoon yang sedang memeriksa kembali


semua persiapan pesta pernikahan melalui checklist yang Yebin miliki. Dan di


kursi paling belakang sendiri, ada Yul yang sedang memangku Hanyul yang sudah


tertidur lelap. Di samping menemani sang putra tertidur, lelaki itu sedang


membaca pesan pesan email yang masuk di ponselnya. Yang semua itu adalah pesan bisnis.


Perjalanan cukup hening karena semua orang sibuk dengan pekerjaannya


masing masing. Bahkan Yebin dan ibunya yang sednag memeriksa semua perlengkapan


pesta itu juga akhirnya sibuk menghuting sejumlah uang milik Hun yang


dikeluarkan untuk mengurusi pernikahannya.


Perjalanan yang sangat hening itu tidak berlalu cukup lama. Mengingat jarak


antara bandara di Busan dan juga pelabuhan yang cukup dekat, sehingga


perjalanan yang penuh keheningan itu hanya berlalu kurang dari lima belas


menit. Mereka pun tiba di pelabuhan. Dan sejenak beristirahat di area


peristrahatan pelabutan tersebut sembari menunggu kapal very yang akan membawa


mereka menuju pulau, datang.


Yebin telah pergi dahulu ke area peristirahatan bersama Hanyul yang masih


lelap teridur. Di area psristirahtaan itu, Yebin menidurkan Hanyul. Juga menungguinya.


Sedangkan sang suami dan anggota keluarga lainnya sedang pergi mencari makanan


untuk makan siang bersama di area peristirahatan bersama Yebin.


“Hyung, kapal very yang akan menjemput kita masih ada kendala. Sepertinya


kedatangannya nanti juga tertunda.”


Hun yang baru saja mendapat telepon dari seseorang itu berjalan


menghampiti Yul yang berdiri di depan sebuah restoran cepat saji. Ia sedang


menunggu ibu Miyoon dan calon adik iparnya memesan makanan di dalam.


“Begitukah? Apakah tertundanya akan lama?” sahut Yul menanggapi Hun


begitu sang adik tiba di hadapan dengan raut wajah yang tidak begitu bekesan.


“Sepertinya begitu. Paling cepat kapalnya akan tiba pada pertengahan


malam. Bagaimana, Hyung? Kita terlanjur tidak memesan penginapan. Dan sepertinya


sangat sulit mencari penginapan kosong di area pelabuhan seperti ini,” kata


Hun.


Ia menghela napas panjang. Kalau memang kapal baru bisa datang nanti


tengah malam, otomatis mereka harus mencari penginapan untuk beristirahat


sampai waktu itu tiba. Apalagi mereka juga membawa anak kecil, Hanyul, yang


kondisinya masih dalam pantauan dokter.


Hanyul memang sudah dikatakan sembuh dari derita kanker yang menyerangnya


sejak usia tiga tahun. Setelah melalui proses yang teramat panjang dan tentu


saja menyakitkan baik secara fisik maupun mental, Hanyul akhirnya dikatakan


sembuh oleh dokter. Namun, kondisinya masih perlu dipantai. Ia memiliki banyak


sekali pantangan untuk mempertahankan kondisinya yang sekarang dan semakin


sehat. Namun, jika teris berada di aren penginapan yang memiliki lantai dingin


dan udara yang tak lembab, mungkin kesehatan Hanyul akan terganggu. Itu yang


paling Hun cemaskan ketika mendepat kabar tentang penundaan pelayaran kapal


dikarenakan ombak laut yang tidak cukup stabil pada siang hari ini.


Untuk orang dewasa seperti Hun, Yul, atau pun yang lain, mungkin


penundaan pelayaran kapal itu tidak apa apa. Para orang dewasa bisa melakukan


banyak kegiatan di area pelabuhan karena fasilitas di tempat ini cukup memadai.


Mereka juga bisa berjalan jalan di tempat tempat wisata di Busan sembair


menunggu waktu kapal tiba. Namun, untuk bicah kecil seperti Hanyul, tentu itu


sangat memberatkannya. Alasan kesehatan Hanyul adalah yang pertama. Anak itu


tidak boleh kecapekan. Tidak boleh berada dalam kondisi tertekan karena itu


bisa berakibat buruk pada syaraf di otaknya yang baru terbebas dari kanker.


Yul ikut mengembuskan napas panjang. Merasa cemas sekaligus bingung.


“Yang aku khawatirkan adalah Hanyul. Kondisi kesehatannya baru saja


membaik. Dan dia tidak tahan dengan udara dingin berada di tempat yang banyak


polusi seperti di sini.” Hun lanjut berucap. Mengkhawtairkan kondisi Hanyul.


“Paling tidak kita harus cari penginapan.” Yul berucap di sela sela perasaan


cemas yang ia rasakan.


“Kenapa? Ada apa? Kapalnya tidak bisa datang?”


Ibu Miyoon yang baru saja keluar dari restoran membawa beberapa makanan


yang sudah dibungkus dari restoran, menyahut melihat kedua putranya tampak


bingung memikirkan sesuatu. Di sebelahnya, Cho Jina yang membawa beberapa


kudapan lain itu juga tampak terkejut.


Hun menghela napas. “Kapalnya tidka bisa datang tepat waktu karena


kondisi ombak yang tidak cukup baik hari ini. Sehingga keberangkatannya pun


akan tertunda. Paling cepat kita bisa berangkat nanti tengah malam.”


“Aduh, kalau baru nanti malam bisa berangkat, bagaimana dengan Hanyul? Dia


perlu tempat istirahat yang lebih hangat dan nyaman jika memang baru nanti


malam bisa berangkat ke pulau.” Miyoon menggumam gumam dengan raut wajahnya


yang menunjukkan kekhawatiran.


“Bagaimana? Haruskah kita mencoba mencari penginapan di luar area ini?”


usul Hun.


“Di luar area ini? Kenapa tidak cari di sini saja?” tanya Jina.


“Di area sini penginapannya pasti sudah penuh. Aku sudah mencoba menghubungi


beberapa penginapan, tapi semua kamar sudah penuh. Ada pun yang kosong itu


sudah dibooking satu hari sebelumnya,” jawan Hun. Begitu mendapat telepon


mengenai kabar penundaan pemberangkatan itu, Hun sudah mencoba menghubungi


beberapa penginapan di dekat sini, namun hasilnya nihil.


Jina berpikir sejenak. Lalu ia teringat suatu hal dan langsung


menceletuk.


“Oh, seperti kita tetap bisa dapat penginapan malam ini,” celetuk Jina. Itu


membuat tiga orang lainnya yang berdiri bersama itu menoleh seketika. “Kakakku


memiliki satu penginapan di area ini. Pastinya dia bisa mencarikan paling tidak


dua kamar kosong untuk laki laki dan perempuan.”


Semua orang terdiam. Berbeda dari Miyoon dan Hun yang menunjukkan


ekspresi senang seolah memiliki satu harapan baru, Yul tak demikian. Karena sekali


lagi, ia harus berurusan dengan Leo Park.


“Bagaimana? Haruskan aku teleponkan kakakku untuk mengosongkan dua kamar


untuk kita tempati sampai nanti malam?” tawar Jina meyakinkan.


“Benar, itu saja. Daripada kita terus berada di area peristirahatan yang


dingin dan berisik. Aku sangat kasihan sekali pada Hanyul jika seperti itu,”


celetuk Miyoon.


“Baiklah. Aku setuju. Bagaiman denganmu, Hyung?” Hun menyahut. Lalu menyenggol


lengan Yul untuk meminta pendapatnya.


Yul langsung terbangun dari lamunan. Dengan tergagap gagap ia mengiyakan


“Be.. benar. Tidak apa apa. Coba kau telepon kakakmu,” ucap Yul. Dalam hati


ia hanya bisa menyeru, ‘baiklah, tidak apa apa. Ia tidak bisa membiarkan Hanyul


terlantar di tempat seperti ini hanya karena harus berurusan lagi dengan Leo


Park.’


**