Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Cinta dan Pengorbanan



Cinta dan Pengorbanan


Yul Pov


“Dia tambah bijaksana. Dan juga cerdas.”


“Ah benar, beberapa hari lalu aku bertemu Kak Haeri.” Hun kembali menceletuk.


“Oh ya?”


“Aku mendengar dari Kak Haeri, kalau kau ingin menyerahkan Moonlight Coffe pada Yebin. apa itu sungguh?” tanya Hun yang membuatku merasa tersentak.


“Ahh, itu.... Awalnya aku berencana memindahkan kekuasaan Moonlight Coffe pada Yebin. Kurasa Moonlight Coffe akan lebih maju jika yang memimpin adalah Yebin. Yebin benar benar seorang pebisnis, tidak sepertiku yang melakukan bisnis dengan sangat amatir. Jadi aku sempat berpikir untuk memindahkan kekuasaan kafe pada Yebin.”


“Tapi kenapa kau tidak melakukannya?” Hun lanjut bertanya.


Aku terdiam sejenak untuk mengingat ingat kenapa aku tidak jadi melakukannya. Apa alasanku yang membuat niatku itu terurung.


“Aku tidak ingin membebani Yebin. karena aku baru menyadari akhir akhir ini, kalau mengurus bisnis lebih sulit dari yang kubayangkan. Apalagi yebin juga sedang hamil. Biar aku saja yang mengurus Moonlight Coffe. Itu sudah tanggung jawabku,” jelasku singkat.


“Kurasa Moonlight Coffe bisa lebih maju jika Yebin yang memimpinnya,” ungkap Hun.


“Kau juga berpikir begitu?”


Hun menganggukkan kepala. “Hyung, kau tahu? Apa berbedaan kau dan Yebin dalam mengurusi bisnis?”


“Apa itu?” tanyaku penasaran.


“Yebin mengurusi bisnisnya dengan sangat enjoy. Dia bukan orang pemikir jadi dia berjalan mengikuti arusnya. Yebin mengembangkan Biniemoon nya bukan karena dia seorang pemikir yang baik, tetapi karena dia berjalan mengikuti arus dan bekerja keras sesuai arus yang ia ikuti. Yebin menyukai bisnis, karena itu dia bisa sangat enjoy menikmati pekerjaannya. Tapi kau, Hyung. Kau sangat berbeda dari Yebin. Kau seorang pemikir. Kau memikirkan bagaimana cara mengelola kafe dengan begitu dalam. dan itulah yang membuatmu selalu merasa tertekan. Yang kau sukai bukanlah bisnis, sehingga kau memikirkan cara berbisnis dengan begitu dalam. Itu yang membuatmu merasa tersiksa dan menjadi bebanmu. Karena kau tidak menikmati pekerjaanmu. Karena kau tidak bisa menyukai bisnis. Karena yang kau sukai adalah hal lain, melukis.”


Apa yang Hun ungkapkan itu sangat masuk akal. aku merasa semua ucapannya memang benar adanya. Aku selalu merasa tertekan karena sebenarnya aku tidak menyukai bisnis. Minatku adalah melukis. Kesenanganku adalah kesenian. Bisnis sama sekali bukan hidupku. Aku melakukan bisnis karena itu adalah tanggung jawabku. Dan aku tidak bisa mengabaikan tanggug jawabku hanya karena aku ingin melukis.


Aku anggap ini adalah jalan yang yang harus kutapaki. Setidaknya dengan berbisnis aku bisa membahagiakan Yebin dan memastikannya tidak pernah kelaparan. Aku percaya ini adalah pengorbanan yang harus kulakukan sebagai kepala keluarga.


“Aku memang tidak menyukai bisnis sebanyak aku menyukai seni. Tapi, aku masih bisa melakukannya. Aku masih bisa berbisnis untuk meneruskan Moonlight Coffe,” kataku.


“Jadi Hyung akan lanjut berbisnis dengan segala tekanan yang kau rasakan itu?”


Aku memberi jawaban ya dengan menaikkan kedua bahuku. Tidak peduli seberapa tertekannya aku karena berbisnis, akan lebih tertekan ketika aku melihat Yebin menerita.


“Dan kau akan berhenti melukis?” lanjut Hun bertanya.


Sebeum menjawab, aku terdiam untuk merenungkannya sekali lagi. Walau sebenarnya keputusan itu sudah aku ambil sejak saat itu.


“Ya. Aku akan berhenti melukis.”


Terdengar Hun yang mengembuskan napas panjang panjang mendengarkan jawabanku. Lebih dari siapa pun, Hun tahu mimpi apa yang aku miliki sejak masih kecil. Yaitu, mimpi untuk menjadi pelukis legendaris seperti mendiang ayah kami. Sejak kecil aku memang menunjukkan minat dan bakat dalam hal meluki, seperti ayahku. Meski ketika dewasa aku membelokkan arah dan memilih untuk meneruskan bisnis kafe yang dibangun ibuku.


Jika dulu aku masih sempat menyalurkan bakat dengan sesekali melukis di waktu luang. Maka sekarang aku benar benar tidak bisa melakukannya. Aku tidak bisa melukis karena itu akan semakin membuatku merasa tertekan. Karena lukis adalah candu. Sekali aku melukis lagi, aku tidak akan pernah bisa berhenti. Jika aku melakukannya, maka aku akan mengabaikan semua tanggung jawabku, entah sebagai pemilik kafe atau pun sebagai kepala keluarga. Sekarang adalah waktu di mana aku harus benar benar berhenti melukis. Waktunya aku membuang jauh jauh mimpi yang telah kubuat sejak kecil.


Hun berdiri dari duduk. Sepertinya dia sudah mau pamit pulang.


“Hyung, kau tahu kenapa aku tidak ingin menikah?” tanyanya tiba tiba.


Keningku hanya mengernyit mendengar pertanyaan anehnya. Kemudian ia segera menjawab pertanyaannya sendiri.


Hun langsung berlalu pergi begitu mencetuskan jawaban yang terdengar pedas itu. aku yang terheran mendengarnya, terkekeh kekeh.


“Bocah itu.... Dia sangat jujur sekali.”


Sebelum Hun benar benar meninggalkan ruanganku, aku kembali menceletuk.


“Hei, kalau kau ada waktu luang hubungi aku. Ayo kita minum bersama di bar,” celetukku.


“Hmm.”


Hanya itu jawaban setuju yang Hun gumamkan sebelum benar benar pergi meninggalkan ruanganku.


Sekepergian Hun, aku pun beranjak dari duduk. Aku kembali ke meja kerjaku. Membuka laptop untuk memeriksa pesan email yang masuk.


Beberapa saat kemudian, terdengar suara seseorang mengetuk pintu. tak lama setelah itu Yebin membuka pintu ruang kerjaku dan berjalan masuk.


“Yebin~a, ada apa?” tanyaku selagi memeriksa setiap pesan email yang masuk.


“Lampu kamar ibu tiba tiba mati. Apa oppa bisa menggantinya dengan lampu yang baru sekarang juga?” tanya Yebin.


Pandanganku menaik.


“Benarkah? Baiklah. aku akan ke sana sekarang.”


Setelah itu aku beranjak bangkit dari duduk. Keluar dari ruang kerjaku untuk pergi ke rumah ibu di seberang jalan dan mengganti lampunya.


***


Yebin Pov


Oppa baru saja berjalan keluar meninggalkan ruang kerja setelah aku memberitahunya untuk mengganti lampu di kamar ibu. Karena persendiannya sakit, aku menyuruh ibu utnuk sering beristirahat dan tidak terlalu banyak bergerak. Namun lampu di kamar ibu tiba tiba saja mati saat itu hendak membaringkan tubuhnya. Untuk itu aku memanggil Yul Oppa untuk sekarang juga mengganti lampu di kamar ibu. Supaya ibu bisa segera beristirahat.


Oppa berjalan keluar dengan meninggalkan laptopnya begitu saja. merasa penasaran apa yang sedang Oppa kerjakan di hari minggu ini, aku pun berjalan mendekat ke arah meja kerja Oppa.


Kulihat laptopnya yang menyala. Memperlihatkan puluhan pesan email yang masuk. Psan pesan itu terdiri dari pesan bisnis, beberapa pesan pribadi dari teman temannya, dan satu lagi pesan masuk email yang menarik perhatianku.


Di antara pesan email yang sudah Oppa periksa itu, ada satu pesan email dari seorang pelukis yang beberapa bulan lalu kami kunjungi pameran seninya. Ya, benar sekali. Itu adalah pesan email dari Pelukis Jae Min Chul.


Penasaran apa isi dari pesan itu, aku pun perlahan menggerakkan kursor laptop untuk membuka pesan dari pelukis terkenal itu. Aku membaca pesannya yang dikirim dua hari lalu. mencerna kata demi kata yang tertulis dalam body email.


Aku membaca semua isi pesannya. Seketika itu juga napas panjangku berembus. Oppa sudah membaca pesan ini. Tetapi ia masih belum memberikan balasan kepada pelukis Jae Min Chul.


Lalu aku memeriksa pesan draf dalam email milik Oppa. Dan kulihat ada satu pesan draf dari Oppa untuk membalas pesan Pelukis Jae Min Chul. Pesan itu masih berada di draf dan belum dikirim oleh Oppa. Oppa sepertinya ragu untuk mengirimnya, atau masih mempertimbangkannya sekali lagi.


Pelan pelan aku membaca apa yang hendak Oppa balas untuk pesan dari pelukis tersebut. Ketika selesai membaca apa yang Oppa tulis, mendadak benakku terasa sesak. Ada segudang perasaan perih yang terurai ketika aku membaca pesan yang ditujukan Oppa untuk pelukis itu.


“Oppa ... sungguh akan berhenti melukis?”


Kurang lebih seperti itu isi dari pesan yang Oppa tulis. Berupa pernyataan (lebih seperti keinginan) bahwa Oppa akan berhenti melukis dan meneruskan karirnya sebagai pebisnis. Namun, melihat pesan ini yang masih ada di draf, sepertinya Oppa juga merasa ragu. Ia meragukan keputusannya untuk berhenti melukis. Artinya, Oppa memiliki keinginan terpendam untuk melanjutkan perjalannya sebagai pelukis. Tapi karena alasan yang disebutkannya dalam pesan itu, Oppa ingin berhenti. Dan alasan itu adalah ... aku.


***