Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Penyesalan....



Penyesalan....


“Kang Yebin!”


Satu panggilan itu menyelamatkan Yebin dari cengkeraman tangan Leo Park. Kepala Yebin seketika menoleh pada Min yang berdiri dari kejauhan mengamati gerak gerik Leo Park yang tiba tiba muncul seperti hantu.


“Se... senior Min!” Yebin membalas panggilan itu. Lantas menarik tangannya dari cengkeraman Leo Park.


“Apa yang kau lakukan di sana? Acara inti akan dimulai, Nyonya Moon yang memberikan sponsor kan harus berpidato dulu,” celetuk Min yang berdiri dengan curiga di ujung lorong lantai dua.


“Baiklah. Aku ke sana sekarang.”


Yebin merasa diselamatkan dengan kehadiran Kang Min yang memenggilnya di saat yang tepat. Tak berniat berada di tempat itu bersama Leo Park lebih lama lagi, Yebin pun segera beranjak pergi. Meninggalkan Leo Park yang hanya bisa menatap punggung Yebin dari belakang.


Dalam hati, Yebn mendesah amat lega karena berhasil kabur dari Leo Park yang dulu pernah memberikan peringatan bahwa tidak akan membiarkan Yebin pergi begitu saja ketika datang lagi ke tempat ini. Untung ada Kang Min. Jika tidak, mungkin puluhan penjaga di dalam klub malam itu sudah menyeret Yebin secara diam diam ke sebuah tempat yang mengerikan.


Baiklah. Untuk malam ini Yebin sudah menemukan sedikit informasi tentang isi dari klub malam milik Leo Park itu. Satu hal yang sangat aneh adalah, bagaimana Leo Park bisa ada di tempat itu. Padahal, lelaki itu adalah pemiliknya. Ia memiliki tempat lain yang jauh lebih bagus dari klub malamnya. Pun tidak mungkin lelaki itu menampakkan dirinya di dalam klub malam di saat identitasnya sebagai pemilik klub malam pun selama ini dirahasiakan. Jadi, bagaimana Leo Park bisa tahu kalau Yebin sedang ada di lantai dua dan bagaimana kebetulan sekali lelaki itu muncul?


“Kau tidak diapa apakan kan?” bisik Min ketika Yebin berjalan menuruni tangga di sebelahnya. Yebin menjawab itu dengan gelengan kepala.


“Tidak apa apa.”


“Tapi, siapa lelaki itu? Dia tampilannya bukan seperti laki laki yang suka berada di klub malam. Sepertinya ia berasal dari perusahaan besar dengan jabatan yang tinggi,” tanya Min dengan spekulasinya tentang Leo Park.


Benar sekali. Leo Park selalu berpakaian rapi layaknya pegawai perusahaan yang kompeten dan memegang suatu jabatan penting di perusahaan tersebut. Tampilannya seperti seorang intelek yang baik dan bukan seperti laki laki yang suka menghamburkan uang di klub malam. Artinya, dengan pakaian yang rapi dan tampilan seperti itu, tidak mungkin Leo Park ada di klub malam miliknya sendiri. Karena itu mungkin bisa membuat orang lain tahu siapa identitas dirinya yang sebenanrya sebagai pemilik klub malam ini. Dan ketika itu terekspos, semua perusahaan tempatnya bekerja sebagai konsultan bisnis pasti tidak akan tinggal diam.


Itu semakin membuat Yebin merasa penasaran. Namun ia mencoba menenggelamkan rasa penasaran itu dan hanya bergumam untuk menjawab pertanyaan Kang Min.


“Bukan siapa siapa, Senior Min. Dia hanya seseorang yang suamiku kenal,” jawab Yebin.


“Ah, pebisnis juga rupanya.”


**


Yebin menatap ke layar ponsel dengan wajah yang sedih. Kemudian napasnya terhela panjang panjang sebelum akhirnya ia menyungkurkan kepala ke atas meja rias sambil menghela napas panjang panjang.


Melihat hal itu, Yul yang baru saja keluar dari kamar mandi  untuk buang air kecil, menyahut, “Apa yang kau lakukan? Sejak tadi kau kelihatan kesal melihat layar ponsel.”


Mendengar celetukan suaminya, Yebin langsung mengangkat kepala. Menatap ke arah Yul yang membingung. Lantas berdiri dari duduk dan berjalan cepat ke arah Yul. Menyodorkan ponselnya kepada Yul, memperlihatkan isi pesan teks yang baru dia dapat dari perusahaan kartu kredit.


“Lima belas juta won. Aku menghabiskan uang lima belas juta won dalam semalam gara gara si ****** gila itu!” pekik Yebin penuh sesal setelah mendapat pemberitahuan kartu kredit tentang uang lima belas juta won yang telah melayang pergi setelah ia gunakan untuk membiayai semua biaya pesta reuni alumni semalam.


“Ahh... harus bagaimana aku? Itu kan uang untuk gaji karyawan Biniemoon bulan ini,” desah Yebin penuh sesal.


Benar sekali. Ia sangat menyesal setelah menghabiskan uang lima belas juta won tanpa banyak berpikir. Kalau dipikir pikir, semalam Yebin bahkan tidak bisa minum banyak. Ia hanya mencicipi sedikit minuman anggur merah. Ia tidak bisa benar benar bersenang senang dalam pesta semalaman karena harus menjaga kesadaran. Ia tidak boleh mabuk karena pagi ini ia harus mengantarkan Hanyul ke rumah sakit untuk menjalani pengobatan kanker sedangkan Yul tidak bisa menemani karena ada urusan bisnis. Yebin harus menjaga Hanyul dan menemaninya sendirian. Jadi semalam tidak bisa mabuk mabukan sebagai tanggung jawab seorang ibu.


Tapi menghabiskan uang lima belas juta won dalam semalaman sementara ia sendiri tak begitu menikmati acara itu sungguh membuat Yebin menyesal. Andai saja bukan karena serangan Han Mina, mungkin Yebin tidak akan menyombongkan diri di hadapan teman temannya dengan membiayai semua biaya pesta. Mungkin uang lima belas juta won Yebin akan tetap aman berada di dalam genggaman kartu kreditnya.


“Aish! Sial sekali nasipku.”


Yebin terus menggumam kesal sambil meyungkurkan kepala ke atas kasur tidurnya yang masih berantakan. Yul yang sedang berdiri di depan kaca dan menyisir rambut itu terekeh kekeh kecil melihat Yebin sangat frustasi karena kehilangan lima belas juta won.


“Kenapa kau melakukannya jika akhirnya menyesal seperti itu?” gumam pelan Yul sambil terkekeh.


“Coba bayangkan, Oppa, si ****** itu menghinaku sebagai sesama wanita! Dia menyinggung tentang pernikahan bahkan tentang kehamian pertamaku yang berakhir tragis. Aku sangat marah mendengarnya lalu mengambil keputusan itu tanpa banyak pikir! Untuk mencolok kedua matanya secara tidak langsung. Untuk mempertahankan harga diriku sebagai perempuan,” rutuk Yebin dengan suara yang meninggi. Kepalanya menyembul di depan kaca rias, bertemu pandang dengan Yul secara tidak langsung.


Mendengar itu, Yul membalas, “Lalu kenapa kau menyesal? Bukannya itu yang kau inginkan?”


“Oppa, ini lima belas juta won. Lima belas juta won! Oppa tahu itu hasil dari laba berapa pesanan? Aku harus mengemas ratusan pesanan untuk mendapatkan laba lima belas juta won, itu pun harus dibagi untuk menggaji karyawan karyawanku,” pekik Yebin tida habis pikir. Hal seperti itu bagaimana Yul tidak mengerti juga?


Setelah menyelesaikan kegitan menyisir rambut, Yul menoleh ke belakang. Bertatapan dengan Yebin yang wajahnya bertambah kesal.


Dengan pasrah lelaki itu berkata, “Sekarang apa yang harus kulakukan? Jangan marah marah begitu dan katakan saja apa yang kau inginkan.”


Yul tahu betul bahwa sikap Yebin yang seperti itu karena menginginkan sesuatu darinya. Yebin sedang mengharapkan kepekaan Yul dalam menanggapi permasalahan yang sedang ia peroleh karena hal tidak berguna yang dia lakukan semalam. Yul tahu betul bahwasaannya Yebin itu sedang menginginkan sang suami berbuat sesuatu.


Mendapat pertanyaan legas seperti itu dari Yul, pandangan Yebin menurun. Wajahnya yang awalnya kesal itu berubah menjadi penuh rayu. Dengan memelas dan raut wajah manja wanita itu meminta Yul berbuat sesuatu.


“Gajilah karyawan karyawanku ya Sayang, dengan uangmu. Aku tidak bisa menggaji mereka dengan yang lima belas juta wonku yang sudah melayang,” desah Yebin penuh manja.


Sebetulnya Yul sudah menebak dalam benak. Tentang apa yang diinginkan Yebin ini. Lagi pula, ini bukan pertama kalinya Yul menanggung gaji semua karyawan Biniemoon. Dan bagaimana bisa ia menolak ketika Yebin meminta dengan begitu melas dan manja seperti itu? Bagaimanapun, Yul adalah seorang suami yang lemah terhadap rayuan istri. Mana mungkin dia tega membiarkan Yebin pusing masalah finansial di saat dirinya saja mampu membeli pulau pribadi untuk ditinggalinya saat tua nanti? Yul bukan orang sepelit itu, ia adalah laki laki yang rela mengeluarkan uang berapa pun untuk orang orang yang dia sayang. Selain itu, ia juga memilih mengeluarkan uang beberapa juta won untuk membayar karyawan Biniemoon daripada harus mendengar Yebin terus mengeluh dan memperlakukannya penuh rasa kesal seperti tadi.


“Baiklah, aku yang akan menggaji mereka. Jadi berhentilah mengeluh,” tegas Yul.


“Terima kasih, Sayang,” gumamnya.


Kedua mata mata Yul menyipit melihat wajah istrinya yang merekah itu. Sekesal dan sesedih apa pun Kang Yebin, kalau ia membicarakan uang akan selalu senang. Tidak ada wanita yang tidak materialistis di dunia ini. Setulus tulus apa pun wanita, pasti akan senang dengan uang. Itu hal yang harusnya diketahui para lelaki yang memiliki tanggung jawab penting sebagai kepala keluarga.


“Sekarang segeralah bersiap siap. Aku akan membangunkan Hanyul,” lanjut Yul sambil berjalan keluar.


“Baiklah.”


Yul keluar dari kamarnya. Menuju kamar sebelah yang merupakan kamar tidur Hanyul. Ia membuka kamar itu dengan niat untuk membangunkan Hanyul.


Di dalam kamar itu, Hanyul sudah bangun. Bocah lelaki itu tampak sedang melamun sambil melihat sebuah gambar yang ia tempelkan didinding. Itu adalah gambar yang ia gambar menggunakan tangan kecilnya. Ia menggambar ayah dan ibu kandungnya yang sedang duduk di sebuah kursi taman rumah sakit.


Hanyul sedang merindukan orang tua kandungnya. Anak kecil yang baru beberapa hari tinggal di rumah ini bersama Yul dan Yebin itu kembali dihantui oleh rasa rindu terhadap orang tua kandung yang telah menelantarkannya di panti asuhan.


Melihat apa yang sedang Hanyul lakukan, Yul menghela napas ringan. Ia ikut merasa pedih. Lalu berjalan pelan menghampiri Hanyul yang tampak sedang melamun itu.


“Hanyul sudah bangun rupanya, Ayah baru akan membangunkanmu. Ternyata Hanyul sudah bangun,” sahut Yul yang seketika membuat tubuh Hanyul berbalik ke balakang. Anak kecil itu menatap ke arah Yul yang tersenyum hangat padanya.


Begitu tiba di hadapan Hanyul, tubuh Yul berjongkok. Bertatapan lurus dengan Hanyul yang memperlihatkan senyum tipis di wajahnya yang tampak sedih.


“Apa Hanyul tidur dengan nyenyak semalam?” tanya Yul sambil membelai kepala sang anak.


“Ya,” jawan Hanyul sambil mengangguk angguk.


Yul terdiam selama beberapa saat. Menatap wajah Hanyul yang terlihat sedih. Sepertinya Hanyul benar benar sedang merindukan orang tua kandungnya.


“Hanyul rindu dengan ayah dan ibu?” tanya pelan Yul dengan menatap sang anak lembut.


Awalnya Hanyul hanya diam. Namun raut wajahnya berubah cemberut. Ia berusaha menghindari tatapan sedihnya dari Yul. Saat itulah Yul mengimbuhkan, “Tidak apa apa jika Hanyul merindukan ayah dan ibu. Paman dan bibi tidak akan marah kok.”


Bola mata Hanyul mulai berkaca kaca ketika Yul berkata demikian dengan lembut. Bibir Hanyul semakin cemberut sebelum akhirnya anak kecil itu mengangguk anggukkan kepala dan menangis. Meneteskan air mata dengan mulut yang tertutup rapat. Bocah lelaki itu menangis tanpa mengeluarkan suara karena takut akan dimarahi.


Yul segera memeluk tubuh kecil Hanyul. Memberinya pelukan hangat di depan dada. Yul menepuk nepuk pelan punggung Hanyul sambil meyakinkannya.


“Tidak apa apa, Hanyul-a. Paman tidak akan memarahimu, jadi menangislah. Pasti Hanyul sedih sekali ya. Tidak apa apa Hanyul menangis, jadi menangis saja. Paman akan memeluk Hanyul seperti ini,” ucap lirih Yul sambil memeluk tubuh mungil Hanyul.


Hati Yuk ikut bersedih mendengar tangisan bocah lelaki dalam pelukannya ini. Yul mencoba untuk menguatkan dirinya supaya tak ikut menangis. Ia tahu bagaimana perasaannya kehilangan kedua orang tua. Apalagi Hanyul masih sangat kecil. Ia masih sangat membutuhkan kasih sayang orang tua.


Selagi Hanyul menangis dalam pelukannya, Yul menggendong tubuh Hanyul. Ia membopong Hanyul keluar dari kamarnya. Mencoba menenangkan Hanyul yang masih tersedu di dalam pelukannya.


Ketika Yul beranjak keluar dari kaamr Hanyul, bertepan dengan Kang Yebin yang selesai mandi. Wanita itu terkaget melihat Yul menggendong Hanyul yang mengeluarkan suara tangusan sedu.


“Hanyul kenapa?” Yebin bertanya lirih kepada suaminya.


“Dia ingat orang tuanya.” Yul menjawab demikian hanya dengan geran bibirnya, tanpa mengeluarkan suara.


Yebin yang mengerti itu segera menganggukkan kepala.  Ia ikut menepuk nepuk punggung Hanyul dan berkata lirih kepadanya, “Tidak apa apa, Hanyul-a. Bibi dan paman tidak akan memarahi Hanyul. Pasti Hanyul sedih sekali ya, tidak apa apa Hanyul menangis.”


Yul masih menenangkan Hanyul dengan menggendongnya sampai anak itu merasa lebih tenang. Sedangkan Yebin sedang menyiapkan bak mandi dan baju baju Hanyul untuk memandikannya setelah merasa lebih tenang nantinya.


Ketika Yul masih sibuk membawa Hanyul berjalan ke sana kemari untuk membuatnya semakin tenang, tiba tiba terdengar bel pintunya berbunyi. Ada tamu yang datang di waktu sepagi ini. Sambil menggendong tubuh Hanyul, Yul berjalan menuruni tangga. Berjalan menuju pintu rumah untuk membukakan pintu pada tamu yang berkujung itu.


“Oh... Haeri-ya.”


Ternyata yang datang di waktu sepagi ini adalah Jin Haeri. Yul yang sejujurnya merasa terkejut itu mempersilakan Haeri masuk.


“Masuklah. Tapi tumben sekali kau tidak mengabariku saat mau datang,” ucap Yul.


“Ahh, maafkan aku jika kunjunganku ini mendadak.” Haeri berucap tidak enak hati. Namun ia tak beranjak dari tempatnya. Masih berdiri di depan pintu sambil menatap ragu ke arah Hanyul. Wajah Haeri bertambah sendu saat melihat Hanyul sedang digendong Yul.


“Tidak apa apa. Tapi ada apa?” tanya Yul.


Haeri mengembuskan napas panjang panjang. Ia menatap tak tega ke arah Hanyul yang ada di pelukan Yul. Dengan ragu ragu Haeri menjawab, “Sepertinya perlu berbicara berdua saja. Ini tentang dia,” sambil menatap pilu ke arah Hanyul.


“Oh... baiklah.”


**