Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Pertemuan yang tidak menyenangkan



Bab 55


Pertemuan yang tidak menyenangkan


“Aku mendapat pesan teks dari ayahku beberapa hari lalu. Ayah memintaku untuk menemuinya di akhir pekan ini. Dan entah mengapa, aku merasa bersalah pada ayah karena selama ini aku berbohong padanya.”


Di dalam mobil Mino yang sedang melaju menuju distrik Gwangjin, Lysa memulai percakapan. Hari ini mereka berdua akan berkunjung bertemu ayah Lysa. Sudah lama sekali sejak Lysa terakhir kali bertemu dengan ayahnya. Dan sudah lama juga Lysa tidak mendengar kabar tentang ayahnya. Sejak Lysa tahu bahwa ayahnya telah berpihak pada Hangin Grub dan Lysa marah kepada ayahnya, Lysa tidak pernah lagi berkomunikasi dengan ayahnya melalui telepon atau pun pesan teks. Lysa merasa sangat marah dan kecewa ketika ayahnya pada akhirnya ‘menyerahkannya’ pada Hangin Grub karena termakan oleh hasutan Tuan Alvend.


Namun kini Lysa merasa sangat bersalah pada ayahnya. Bukan hanya karena ia tidak pernah lagi menelepon atau menghubungi ayahnya untuk menanyakan kabar. Tetapi juga karena Lysa selama ini telah banyak berbohong pada ayahnya. Mulai berbohong tentang pekerjaannya di Moonlight Coffe. Dan kebohongan kebohongan kecil yang ia lakukan untuk menutupi apa yang ingin ditutupinya dari sang ayah.


“Berbohong tentang apa?” sahut Mino yang sedang mengendarai mobil di tengah jalan raya yang cukup padat pada siang di akhir pekan ini.


“Ya, banyak sekali. Berbohong tentang pekerjaan. Ayahku tidak tahu selama ini aku bekerja di kafe. Berbohong tentang hubunganku dengan Brian yang terlihat baik baik saja di hadapan ayah meski sebenarnya hubungan kami sangat buruk. berbohong tentang kepulanganku dari Indonesia saat itu. Dan masih banyak lagi.” Lysa menjelaskan.


Mino tahu betul, kebohongan yang dimaksud Lysa itu bukanlah kebohongan besar yang dia lakukan untuk kepentingannya sendiri. Melainkan, Lysa berbohong karena tidak ingin membuat ayahnya khawatir. Berbohong karena tidak ingin membuat ayahnya menganggap bahwa Lysa tidaklah baik baik saja dnegan semua keadaan yang terjadi. Termasuk keadaan setelah ayah dan ibunya bercerai dan Lysa merasakan banyak sekali tekanan dan juga stres. Dari yang Mino tahu, semua kebohongan yang Lysa perbuat itu semata mata karena ia menyayangi ayahnya dan tidak ingin menambah beban pikiran sang ayah. Lysa berbohong karena ingin menjadi putri yang baik dan tidak bergantung pada sang ayah. karena Lysa mengerti, keadaan ayahnya sudah cukup buruk sejak perceraian itu dan sejak semua bisnisnya bangkrut. Dan lysa tidak ingin menambah beban kehidupan ayahnya yang sudah sulit itu. Sehingga sebisa mungkin, Lysa ingin mandiri dan tidak melibatkan ayahnya tidak peduli seperti apa kondisinya.


Salah satu penyebab ayah Lysa menerima tawaran dari Tuan Alvend untuk berbesan adalah karena ia tidak tahu apa yang sedang terjadi antara Lysa dengan Brian. Ayah Lysa tidak tahu seperti apa hubungan Brian dengan Lysa akhjir akhir ini. Dan ia pikir, sepertinya memang benar jika Lysa itu pernah menyukai Brian. Lysa sejak dulu selalu berkata bahwa suatu saat nanti ia ingin mendapatkan suami yang seperti Brian. Mungkin karena Lysa menyukai Brian pada wkatu itu. Dan ayah Lysa masih berpikir bahwa putri semata wayangnya itu menyukai brian sehingga menerima tawaran  Hangin Grub untuk menjadi besannya. Pun, di mata ayah Lysa, Brian adalah sosok laki laki yang bisa diandalkan dan menjadi idaman setiap wanita. Karirnya yang bagus, latar belakang keluarga yang mendukung, dan masa depan yang terjamin. Siapa yang tidak menginginkan menantu sepertinya? Yah, siapa pun pasti menginginkan Brian utnuk menjadi menantunya, kecuali orang yang sudah tau bagaimana Brian memperlakukan Lysa seenaknya sendiri seperti ini.


“Tapi ngomong ngomong, Chagi nanti akan memperkenalkan diri sebagai siapaku kepada ayah?” tanya Lysa.


“Sebagai kekasihmu, tentu saja. Aku ingin menunjukkan pada ayahmu, kalau yang kau cintai itu adalah aku, bukan Brian. Begitu pun denganmu, jangan menutupi perasaanmu pada ayahmu. Katakan pada ayahmu kalau yang kau cintai adalah aku, bukan Brian. Sehingga yang kau inginkan utnuk menikah dneganmu juga adalah aku, bukannya Brian.” Mino menjawab sekaligus berpesan kepada Lysa. Tidak tahu apa yang sedang Lysa pikirkan, Mino ingin Lysa bisa lebih jujur kepada ayahnya tentang perasaannya selama ini.


“Baiklah. Tapi, ada yang membuatku khawatir.” Lysa berucap.


“Apa?”


“Bagaimana kalau ayahku tahu kalau kita tinggal bersama di apartemenmu? Bisa bisa, ayah justru +akan menjauhkan kita, Chagi.”


Mino sempat memikirkan hal itu sebelumnya. Tentang bagaimana jika ayah Lysa tahu bahwa selama beberapa hari terakhir ini Lysa tinggal bersama Mino di apartemennya. Bagi seorang ayah, tentu tidak akan membiarkan putri satu satunya yang berharga tinggal bersama di rumah seorang lelaki yang belum menjadi suaminya. Terlebih, selama ini ayah Lysa mengira bahwa yang Lysa sukai adalah Brian.


Mino sempat khawatir.  Namun, ia berpikir bahwa seharusnya ia tidak mengkhawatirkan hal itu. Baru tiga hari Lysa tinggal bersama Mino di apartemen. Kecuali kalau ayah Lysa memiliki mata mata yang mengawasi semua gerak gerik Lysa, ayah Lysa tidak akan pernah tau. Karena yang ia ketahui adalah, Lysa masih tinggal di asrama untuk mengikuti kelas musim panas—yang hampir satu minggu terakhir ini tidak Lysa ikuti karena alasan kesehatan.


“Ayahmu tidak akan pernah selama kamu tidak memberi tahunya. Kalau pun benar beliau sudah tahu secara kebetulan, katakan saja kalau aku yang memintamu tinggal bersamaku karena alasan kesehatanmu. Toh, memang benar bukan kalau kita tinggal bersama karena alasan itu?” ucap Mino.


Lysa terdiam. Wajahnya cemberut karena merasa tidak senang akan suatu hal dari jawaban Lysa.


“Memang kita tinggal bersama karena alasan itu. Tapi aku tidak menyukai caramu yang ingin mengambil tanggung jawab atas semuanya. Kemarin kita sudah berjanji untuk menanggung semuanya bersama sama. Kalau begitu, semisal kita ketahuan, aku akan berkata kepada ayah bahwa aku yang memaksa ingin tinggal bersamamu.”  Lysa berkata dengan raut wajah yang bersungut sungut. Baru kemarin mereka saling berjanji untuk tidka melakukan smeuanya sendirian. Untuk saling berkerja sama dan berbagi tanggung jawab. Tapi, Mino malah ingin bertanggung jawab secara penuh jika mereka ketahuan tinggal bersama—yang pastinya itu akan membuat ayah Lysa sangat marah.


O ohh... maksud Mino tidak seperti itu...


Akhirnya Mino terdiam. Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam sampai akhirnya mobil yang dikendarai Mino telah sampai di sebuah gedung tempat ayah Lysa tinggal selama ini.


Lysa turun dari mobil, diikuti oleh Mino yang segera turun dari mobil kemudian.


“Di gedung ini ayahmu tinggal? Sendirian?” tanya Mino yang berjalan mengikuti Lysa di belakang.


“Ya, bersama tikus tikus gudang.” Lysa menjawab dengan tidak senang. Benak nya masih merasa kesal kepada Mino.


Mendengar jawaban Lysa yang tidak menyenangkan dan terkesan sewot itu, Mino menyimpulkan bahwa Lysa masih marah akrena percakapan mereka di perjalanan kemari beberapa waktu lalu. Astaga, Lysa itu cukup pendendam rupanya. Mino saja sudah lupa apa yang mereka bicarakan di mobil tadi. Tapi Lysa masih saja ingat dan masih ngambek karena hal itu.


Mino tentunya tidak merasa nyaman jika sikap Lysa seperti itu, ngambek dan terkesan sewot padanya. Akhirnya, mino menarik lengan Lysa yang sedang menaiki anak tangga di dalam gedung yang tidak begitu terawat ini.


“Lysa, kau masih marah?” tanya Mino sambil menarik tangan Lysa dan membuatnya berbalik. Di anak tangga menuju lantai dua, kedua manusia itu bertatap tatapan. Lysa yang masih terlihat marah itu memberengutkan wajahnya menatap Mino. Bibirnya melekuk ke bawah dan tatapannya terasa dingin.


“Tidak!” jawab sewot Lysa sambil menghentakkan tangannya sehingga terlepas dari cengkeraman tangan Mino. Lalu segera gadis itu meneruskan perjalanannya menuju lantai dua.


“hehei, aku tau kau marah, Lysa. Katakan saja yang sejujurnya.” Mino mengejar langkah Lysa yang semakin cepat itu sambil mencoba membujuk hatinya. Begitu langkah mereka sejajar, Mino kembali meraih tangan Lysa dan memutar kedua bahu gadis itu secara perlahan, berhadap hadapan dengannya.


“Aku hanya kesal padamu, Chagi. Kemarin kau sendiri yang berjanji kalau semua akan kita lakukan bersama. Tidak ada yang bertindak sendirian dan bertanggung jawab sendirian. Kenapa kau masih berpikir untuk mengambil smeua tanggung jawab dan membuatku tidak terlibat apa pun? Kalau pun kita ketahuan oleh ayah, aku tidak akan membiarkanmu menanggung semua konsekuensi sendirian.” Lysa meurutuk rutuk memarahi Mino. Mino yang merasa bersalah, hanya diam menerima semua omelan Lysa.


Napas Mino terhela panjang dan ringan. Ia menatap Lysa lembut sambil menjawab, “Baik. Aku tau aku tadi sudah salah bicara...”


“Chagi tidak salah bicara. Tapi salah niat!” Lysa menimpali.


Lysa terdiam, bertatap tatapan dengan Mino yang berdiri tepat di hadapannya.


“Siapa yang bilang kalau aku hanya memiliki ayah? aku juga memiliki kekasih. Aku juga memilikimu, Chagi. Dan bagaimana pun ayah tetaplah ayahku, dia tidak akan pernah memperlakukan seperti orang lain. Meski pun aku berbuat kesalahan, ayah akan tetap menyayangiku dan menempatkanku sebagai harta berharganya.”


Kini Mino yang terdiam. Apa yang dikatakan Lysa, memang benar.


Sebenarnya mereka berdua memang memikirkan satu sama lain, hanya saja sudut pandang mereka berbeda. Sehingga perbedaan pendapat itu yang membuat semuanya semakin ribat.


Kedua tangan Mino yang ada di bahu Lysa terlepas. Laki laki itu tidak bisa menyanggah apa yang Lysa katakan, karena memang benar bahwa bagaimana pun, ayah Lysa adalah ayahnya, yang akan tetap menempatkan Lysa sebagai prioritas dan harta berharganya.


“Baiklah. Maafkan aku.”


Akhirnya sepasang kekasih itu mengakhiri perdebatannya hari ini. Kemudian, mereka melanjutkan menaiki tangga. Menuju sebuah unit di dalam gedung yang menjadi tempat tinggal ayah Lysa sekaligus kantor perusahan yang sedang dibangunnya.


“DI sini ayahmu tinggal?” tanya Mino.


“Hmm.”


Sudah lama sekali Lysa tidka mengunjungi ayahnya. Dan entah mengapa ia merasa sangat gugup untuk sekadar bertemu sang ayah.


Lysa menarik napas panjang panjang. Kemudian mengembuskannya perlahan. Mempersiapkan hati dan pikiran untuk bertemu dengan ayahnya.


Tok tok tok


Perlahan Lysa mengetuk pintu sebuah unit yang menjadi tenpat tinggal ayahnya. Gadis itu berdiri dengan gugup di depan pintu unit sang ayah bersama Mino yang ada di sebelahnya. alih alih seperti Lysa yang terlihat sangat gugup, Mino justru terlihat santai dan biasa saja. Namun itu yang terlihat, karena sebenarnya Mino juga cukup merasa gugup. Hanya saja laki laki tidak mau menunjukkan kepada Lysa.


Tidak lama setelah ketukan pintu itu terdengar, pintu unit tempat tinggal sang ayah terbuka. Terlihat sosok ayah Lysa, Tuan Kim, yang sedang berdiri di ambang pintu sambil menatap lurus ke arah sepasang manusia yang berdiri di depan tempat tinggalnya. Menatap dingin Kim Lysa dan juga Han Mino.


Mino merasa sangat terkejut, ketika melihat bahwa laki laki paruh baya yang merupakan ayah Lysa itu adalah sosok paman yang kemarin mendatangi kantornya untuk mengajukan proposal kerja sama dengan Moonlight Retail. Mino sangat terkejut, dan tidak pernah menduga hal ini sebelumnya. Laki laki itu hanya diam membeku bertatap tatapan dengan ayah Lysa yang melayangkan tatapan dingin kepadanya.


“Jadi Manajer Han, yang mengaku sebagai kakak laki laki Lysa dan menculiknya dari asrama itu?” Tuan Kim yang pelan pelan terlihat marah itu melayangkan satu kalimat pertanyaan yang cukup menohok kepada Mino. Rupanya, Tuan Kim sudah tau kalau selama beberpa hari terakhir ini putrinya tidak tinggal di asrama lagi...


Mino hanya diam. Ia tidak tahu harus menanggapi dengan seperti apa. Dan di sela laki laki itu terdiam, satu pukulan keras mendarat di pipinya. Tuan Kim yang merasa marah karena putrinya satu satunya yang berharga itu tinggal bersama seorang pria yang belum menjadi suaminya. Tuan Kim memang asli Korea dan sudah sering mendapati anak muda jaman sekarang yang masih menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, tinggal bersama di sebuah tempat. Namun Tuan Kim sudah lama tinggal d Indonesia dan cukup menggunakan nilai nilai budaya yang ada di Indonesia, yang menganggap tercela perbuatan itu. Dan sekarang, ia mendapati putrinya sendiri melakukan hal yang dianggapnya tercela itu. Tidak peduli Lysa hidup di Indonesia yang penuh dengan nilai budaya dan aturan sosial, atau pun Korea yang pergaulannya lebih bebas dan tidak seketat di Indonesia, tetap saja Tuan Kim meniali itu adalah hal yang sangat buruk.


Tubuh Mino langsung terhempas ke lantai ketika satu pukulan keras dari Tuan Kim mendarat di pipinya.


“Ayah!”


Lysa seketika itu beteriak melihat ayahnya memukul Mino sampai Mino terjatuh. Lysa pun langsung berjongkok untuk menolong Mino yang bibirnya berdarah.


“Chagi, kau tidak apa apa?” tanya Lysa panik melihat bibir Mino yang mengeluarkan darah. Lalu ia menoleh pada ayahnya yang maish berdiri di depan pintu dengan kedua tangan yang mengepal karena marah. Ayah Lysa terlihat sangat marah dengan kedua mata yang memerah dan napas nya yang terlihat berat.


“Ayah,” panggil Lysa sambil menatap ayahnya sedih. Tuan Kim yang masih sangat marah itu malah berteriak.


“Pergi kalian! Mulai sekarang aku tidak memiliki seornag putri atau siapa pun. Pergi kalian berdua dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku! Aku tidak pernah membesarkan putriku untuk menjadi ******. Dan aku juga tidak akan memaafkan siapa pun yang telah merubah putriku menjadi ******! Pergi kalian berdua.”


Duarrr!


Suara pintu yang terbanting keras membuat kedua manusia yang tersungkur di atas lantai itu terkejut bukan kepayang. Lysa yang tidak bisa membendung tangisan itu meneteskan air mata melihat ayahnya sangat marah. Gadis itu menatap pilu pintu unit yang dibanting oleh ayahnya. Lalu pandangannya tertuju pada Mino yang bibirnya maish mengeluarkan darah akibat pukulan keras ayahnya.


Sambil menyeka air mata yang menetes di pipinya, Lysa bertatapan dengan Mino. Lalu menyeka darah yang mengalir di dagu Mino.


“Bibirmu terus mengeluarkan darah. Ayo pergi ke rumah sakit.” Lysa merintih melihat raut wajah Mino yang tampak benar benar hancur. Ia berusaha menolong Mino. Namun laki laki itu hanya terdiam dan memegang tangan Lysa dengan erat, menatapnya misterius.


“Kau lebih hancur dariku, Lysa. Hatimu lebih hancur. Jangan khawatir. Kita akan menyelesaikan masalah ini bersama,” ucap Mino menatap wajah Lysa yang memperlihatkan betapa hancur hatinya mendengar apa yang ayahnya tadi lontarkan terhadapnya. Kemudian Lysa menangis. Ia tidak dapat menutupi rasa sedihnya yang sangat dalam. Setelah itu Mino memeluknya dengan hangat.


“Maafkan aku, jika membuatmu berada di situasi seperti ini. aku sungguh sungguh minta maaf,” ujar Mino sambil memeluk tubuh Lysa. Ia merasa, semua ini terjadi karena. Mino  merasa, ia yang berhak bertanggung jawab atas kekacauan yang terjadi ini. Padahal hanya ayah yang dimiliki Lysa. Namun mino merasa sudah menghancurkan hubungan antara ayah dengan anak itu. Mino merasa sangat bersalah. Mino merasa menjadi pria paling brengsek yang pernah ada.


“Sekali lagi, maafkan aku.”


**