
Kring-kring.
“Ajeossi!”
Kring-kring.
Yebin berteriak memanggil Yul di depan pintu gerbang rumahnya. Beberapa kali wanita itu membunyikan bel sepedanya untuk memanggil Yul yang semalam tepar karena mabuk setelang menghabiskan dua botol bir.
Semalam Yul meminta Yebin untuk menemaninya meminum bir di balkon lantai tiga. Keduanya bercakap-cakap dalam waktu lama sambil mengabiskan minuman berkadar alkohol rendah; bir. Ketika Yebin sedang asyik bercerita, tiba-tiba saja Yul mendaratkan kepala ke bahu Yebin. Pria itu mabuk dan langsung tidur setelah menghabiskan dua botol bir.
Yebin sampai merasa keheranan. Padahal pria itu yang mengajaknya minum bir di balkon. Tetapi Yul justru mabuk duluan? Terlebih dari itu Yul baru menghabiskan dua botol bir dan langsung mabuk bahkan tertidur lelap di pundak Yebin yang memberat karena kepalanya.
Bagaimana tubuh pria bisa begitu lemah meminum alkohol? Yebin sama sekali tak menyangka jika pria yang terlihat tidak akan tumbang meminum dua galon bir itu langsung tepar setelah meminum dua kaleng. Padahal Yebin sendiri tidak gampang mabuk. Wanita itu bahkan bisa menghabiskan lima kaleng bir tanpa merasa mabuk sedikit pun.
Setelah Yul mabuk di pundaknya, Yebin berusah payah memindahkan tubuh menjulang laki-laki itu ke kamar tidur. Begitu Yul yang mabuk sudah terbaring di atas kasur yang empuk, Yebin pun pulang. Sebelum itu, tak lupa Yebin menutup semua jendela dan pintu balkon rumah Yul. Juga mematikan seluruh lampu rumah dan akhirnya pulang lalu tertidur karena kelelahan.
Pagi ini Yebin mengeluarkan sepedanya. Ibunya telah berangkat pagi-pagi buta ke Incheon. Dan Yebin baru memiliki kelas kulian nanti pukul dua siang. Ia bingung tentang apa yang harus dilakukannya di pagi yang sepi tanpa sang ibu, dan akhirnya memutuskan untuk bersepeda. Yebin akan merasa terlalu kesepian jika bersepeda seornag diri. Ia pun mengajak Yul yang mungkin kepalanya masih pengar karena alkohol yang semalam diminum.
“Ajeossi!” lanjut Yebin berteriak membangunkan Yul.
Pintu kayu rumah Yul perlahan terbuka. Terlihat sesosok pria yang berjalan gontai sambil mengerjap-ngerjapkan mata dan memegangi kepala. Yul baru terbangun dari tidur. Kepalanya terasa pengar karena reaksi alkohol yang belum sepenuhnya hilang. Perutnya juga terasa tidak nyaman dan mual-mual. Ia berjalan membukakan gerbang untuk Yebin yang menunggu di depan pagar dengan membawa sepeda kayuh berwarna ungu.
“Ada apa pagi-pagi begini membangunkanku?” tanya Yul malas sambil menyipitkan mata. Ia masih merasa ngantuk. Seluruh tubuhnya merindukan kasur untuk berbaring sebentar saja.
Sambil menyalakan bel sepedanya Yebin menceletuk, “Ayo bersepeda, Ajeossi. Selama ini aku tidak pernah melihatmu berolah raga. Olah raga itu penting, lho!”
Yul menyipitkan mata menatap Yebin yang sedang bersemangat. Entah apa yang membuat wanita itu bersemangat di pagi-pagi begini, Yul merasa sangat pusing. Ia menggaruk-garuk rambutnya sambil berucap, “Aku tahu kalau olah raga itu penting. Masalahnya, aku tidak dalam kondisi baik untuk olah raga pagi ini. Perutku sangat mual dan kepalaku pengar.”
Yebin mendecakkan lidah mendengar Yul mengeluh. “Siapa suruh Ajeossi minum alkohol semalam? Kalau tahu kau mudah sekali mabuk, aku tidak akan mengiyakan permintaanmu. Bagaimana seorang pria bisa langsung tepar setelah minum dua kaleng bir?” rutuk Yebin yang merasa heran. Ia mengalihkan pandangannya dari Yul yang terlihat tidak bersemangat. Kemudian menggumam, “Ah, sayang sekali. Cuacanya benar-benar bagus untuk bersepeda.” Lalu melirik ke arah Yul dan lanjut berkata penuh pasrah, “Tidak ada pilihan lain. Aku akan bersepeda sendirian. Meski itu tidak akan menyenangkan. Padahal aku sangat ingin melihat pemandangan pagi yang penuh inspirasi. Tidak ada pilihan lain kalau Ajeossi tidak bisa menemani.”
Dengan wajah impresif Yebin mulai berjalan menjauhi Yul sambil menuntun sepeda ungunya. Langkah gontainya beringsut pelan dengan tidak bersemangat. Napas pasrahnya beberapa kali berembus hingga hati Yul tergerak.
Pria itu mendapati langkah berat Yebin yang meninggalkannya. Tubuh bagian belakang Yebin seolah memberi isyarat agar Yul mengakhiri kekecewaannya ini.
Melihat Yebin yang tak lagi bersemangat membuat Yul merasa tidak nyaman. Ada satu sudut dalam hatinya yang menyayangkan keantusiasan Yebin untuk bersepeda. Tidak biasanya Yebin bersemangat sejak pagi hari. Yul merasa tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan baik ini.
“Nona Kang,” panggil Yul yang otomatis membuat tubuh Yebin berbalik. Seolah sudah menunggu Yul memanggilnya, Yebin memberi tatapan penuh harap pada pria itu.
“Kenapa?”
“Tunggulah sebentar. Aku mau membasuh wajahku dulu,” ucap Yul yang seketika mengembalikan semangat Yebin. Wanita itu terbelalak girang menatap Yul yang memakan umpan yang ia lempar.
“Sungguh?”
Dengan anggukan kepala Yul menjawab. Kemudian berjalan pergi meninggalkan Yebin di depan gerbang. Masuk ke dalam rumah untuk membasuh wajah dan bersiap-siap melakukan olah raga. Serta meminum obat pereda mabuk herbal yang disediakannya di rumah. Paling tidak minuman herbal itu bisa membuat pengar di kepala Yul mereda.
Yebin menunggu Yul di depan gerbang rumahnya dengan perasaan senang. Satu kali lagi, wanita itu berhasil melakukan tipu muslihat kepada Yul. Jauh dari yang diduga ternyata pria itu penurut. Penurut kepada Yebin yang mengendalikannya seperti penyihir. Yebin yang merasa bangga karena apa yang dilakukannya, tersenyum ceria dengan dagu wajahnya yang menaik.
Tidak lama kemudian Yul keluar dari rumah dengan pakaian olah raga berwarna abu-abu. Wajahnya yang beberapa waktu lalu masih terlihat kusut, sekarang menjadi segar setelah pria itu cuci muka dan mengolesi wajahnya menggunakan sedikit pelembab.
Selagi melangkah keluar dari gerbang, Yul menceletuk, “Aku tidak punya sepeda. Jadi bonceng aku pakai sepedamu.”
“Apa?” Yebin pun membelalak. “Orang kaya macam apa yang sepeda saja tidak punya?” lanjutnya merutuk.
“Harusnya kau bilang padaku sejak kemarin. Agar aku bisa membeli sepeda baru untuk bersepeda pagi ini,” desus Yul yang terdengar seperti embusan napas panjang.
Tanpa banyak beragumen Yul naik ke sepeda Yebin. Bersiap untuk dibonceng wanita itu di belakang. Yebin yang melihat Yul telah duduk di belakang, menganga heran.
“Apa-apaan ini? Kalau begini hanya aku yang berolah raga. Ajeossi tinggal duduk manis di belakang,” rutuk Yebin yang masih belum percaya.
Dengan santainya Yul menanggapi, “Tidak apa-apa. Aku kan hanya menemanimu bersepeda. Katanya kau kesepian kalau bersepeda sendirian. Jadi aku hanya menamanimu.” Kepala Yul termanggut-manggut untuk membuat Yebin berkata ‘baiklah’. Ia menarik pinggang Yebin untuk duduk di atas saddle sepeda.
“Ayo jalan, Nona Kang! Ini adalah olah raga yang baik untukmu.”
Yul menyeru sembari mengayunkan kakinya ke atas. Memberi isyarat pada Yebin untuk segera mengayuh sepedanya. Cuaca pagi ini sangat cerah. Di awal musim pendingin, matahari masih terbit dengan hangat. Membawa sejuta keceriaan dan kabut euforia untuk Yul yang sebenarnya masih sedikit mual. Tetapi tidak masalah, sebentar lagi Yul melupakan perutnya yang mual dan membagi momen keceriaannya bersama Yebin.
Udara pagi terasa segar meski tak melupakan seiras dingin. Wajah Yebin diterpa angin yang menyejukkan dari selatan. Wanita itu mengayuh sepedanya menyusuri jalanan perumahan yang cukup sepi. Mengendarakan sepeda ungu itu menuju perbatasan untuk sampai ke taman kota yang meramai di waktu pagi. Di belakangnya, Yul tersenyum riang sambil memegangi pinggang Yebin. Kakinya yang jenjang mengayun-ngayun hingga membuat sepeda yang dikendarai Yebin bergerak tak seimbang.
“Diamlah, Ajeossi! Jangan menggerkkan kakimu yang seperti tiang listrik itu.” Yebin merutuki Yul yang membuatnya kesulitan. “Apa Ajeossi tahu kalau tubuhmu itu berat? Seharusnya kan laki-laki yang membonceng. Apa yang sebenarnya kulakukan ini?” lanjut Yebin mengeluh. Tahu begini, lebih baik ia bersepeda sendirian tanpa Yul.
Yul menekan bibir mendengar Yebin mengomel. Di belakang punggung Yebin pria itu membatin, siapa yang memaksaku bersepeda? Nona Kang itu tidak tahu terima kasih.
“Baiklah. Biar aku yang mengayuh. Kau tinggal mengarahkan setir dan aku yang mengayuh sepeda,” usul Yul yang mendengar napas berat Yebin karena kelelahan.
“Jangan khawatir. Kau tidak akan jatuh. Aku akan memegangimu,” sahut Yul.
Yebin pun melepaskan kakinya dari pengayuh sepeda. Seketika itu Yul mengulurkan kakinya ke depan dan berganti mengayuh sepeda. Kaki Yebin yang tidak terlalu panjang pun bertengger di atas frame. Keduanya melaju dengan saling bergantung satu sama lain. Yul yang hanya mengeluarkan kekuatannya untuk mengayuh, bergantung pada Yebin yang mengarahkan handlebar untuk tetap seimbang. Begitu pun Yebin yang memercayakan laju sepeda kepada Yul yang mengayuh dari belakang.
***
“Ajeossi akhir-akhir ini jarang melukis. Apa kau kekurangan inspirasi?” Yebin yang sedang menuntun sepedanya berjalan di pinggiran taman, memulai pembicaraan setelah hening sejenak. Wanita itu mengajak bicara Yul yang berjalan pelan di sebelahnya.
“Tidak.” Yul seketika itu menyahut. Pandangannya lurus ke depan. Mengamati orang-orang yang sedang berolah raga pagi di taman kota. “Ada banyak sekali inspirasi di kepalaku. Hanya saja aku sangat sibuk dan tidak punya banyak waktu untuk melukis.”
Di bawah pohon gynko yang dedaunannya telah berguguran musim lalu, keduanya berjalan santai. Mereka baru selesai bersepeda. Dan sekarang beristirahat sejenak setelah membeli minuman di supermarket seberang jalan. Berniat menikmati udara sejuk di taman dengan berjalan santai seperti ini.
Yebin teringat suatu hal dan langsung menoleh. “Apa pembangunan Moonlight Coffe Mapo sudah selesai? Karena itu kan Ajeossi jadi supersibuk?”
Kepala Yul mengangguk. “Pembangunannya sudah berjalan tiga bulan dan selesai sesuai rencana. Sekarang tinggal persiapan pembukaan kafe. Awal Desember kafe harus opening. Makanya sekarang aku sangat sibuk mempersiapkan semua dokumen dan surat izin.”
Suasana kembali hening setelah Yul melontarkan jawabannya. Pria itu pun menoleh menatap Yebin yang berjalan santai di sebelah sambil menuntun sepeda ungu.
“Bagaimana dengan bisnismu? Akhir-akhir ini kulihat kau banjir pesanan.”
Raut wajah Yebin seketika berubah. Wanita itu terlihat bersemangat mendengar Yul membahas Biniemoon. Yul melihat bola mata Yebin yang berbinar-binar. Tanpa disadari hal itu membuat Yul menyimpulkan senyum manis di wajah. Kedua lesung pipitnya yang indah membaur dengan udara pagi yang menyejukkan.
“Aku merasa usaha kerasku terbayarkan. Jumlah pengunjung Biniemoon berlipat setiap harinya. Pesanan yang masuk juga semakin bertambah. Sebelum tidur semalam aku melihat ada lima pesanan yang masuk. Tapi, begitu bangun tidur dan mengecek portal, aku sangat terkejut saat melihat ada lebih dua puluh pesanan yang masuk.” Yebin bercerita dengan riang. Wajahnya berseri ketika menceritakan kemajuan Biniemoon yang Yebin perjuangkan dengan begitu keras.
Senyum Yul ikut melebar. “Aku senang mendengarnya.” Kepalanya termanggut-manggut melihat Yebin yang mengembalikan pandangan ke depan. Yul teringat suatu hal dan mengernyitkan kening. “Apa kau tidak kesulitan mengelola Biniemoon sendirian? Apalagi kau juga menyambi dengan kuliah.”
“Sebenarnya aku cukup kesulitan. Aku berusaha keras agar kuliahku tidak terganggu. Tapi nyatanya sangat sulit.” Yebin menghela napas mengingat satu mata kuliahnya yang terkendala karena kesibukannya mengelola Biniemoon. “Aku tidak boleh sampai mengulang mata kuliah karena tahun depan harus lulus. Tapi mempertahankan nilai sambil mengurus Biniemoon sangat sulit. Aku tidak bisa mengurangi jam belajar. Dan akhirnya jam tidurku yang berkurang.”
Yul melihat area bawah mata Yebin yang melingkar hitam. Sudah dapat dipastikan kalau wanita itu kurang tidur. Yebin yang mugil bertambah kurus karena otot-ototnya yang termakan oleh tubuh karena terlalu sering begadang. Kulit tubuhnya juga terlihat lebih gelap dan kering. Sepertinya wanita itu tidak sempat merawat tubuh karena terlalu sibuk mengurusi bisnis di samping kuliah. Yul yang melihat perubahan tubuh Yebin, mulai merasa prihatin sekaligus khawatir. Ia mengkhawatirkan kesehatan Yebin yang bahkan tidak memiliki cukup waktu untuk tidur dan memikirkan kesehatan tubuh.
“Pastinya sulit mengurus bisnis di samping kuliah. Kau harus membentuk tim yang terdiri dari dua sampai tiga orang untuk mengurus Biniemoon. Dengan begitu kau memiliki waktu lebih luang dan memkirkan kesehatan. Setidaknya tim itu bisa membantumu mengelola Biniemoon sampai kau lulus.” Yul menasihati.
Ia mengerti dengan baik bahwa mengelola bisnis itu tidak mudah dan membutuhkan tenaga yang ekstra. Baik tenaga untuk berpikir atau pun tenaga fisik. Yul yang selama lima tahun terakhir ini mengurus Moonlight Coffe, merasa mengerti kesulitan yang dihadapi Yebin. Apalagi wanita itu masih memiliki tanggungan untuk menuntaskan kuliah.
Wanita itu terdiam merenungkan nasihat Yul. Setelah memikirkannya cukup dalam, Yebin pun menanggapi dengan bijak.
“Aku tahu membentuk tim khusus untuk Biniemoon itu akan sangat membantuku. Tapi Biniemoon perlu berkembang lebih besar lagi sebelumnya. Kalau sekarang, aku tidak bisa membayar orang yang kuajak bergabung bersama tim. Biniemoon masih perlu berkembang lebih besar dan itu memerlukan banyak modal. Semua omset yang terkumpul hanya cukup untuk sebagian modal tetapi tidak cukup untuk menggaji. Untuk saat ini aku yang akan mengelolanya sebisaku. Nanti jika Biniemoon berkembang semakin pesat dan tidak memungkinkan aku mengelolanya sendirian, saat itu aku akan membentuk tim khusus untuk Biniemoon.” Yebin menjelaskan panjang lebar setelah pertimbangan yang dalam. Ia berpikir demikian mengingat Biniemoon yang masih berada di tahap awal perkembangannya.
Kepala Yul termanggut kecil mencerna penjelasan Yebin.
“Tetapi kau juga harus memikirkan kesehatanmu. Kurang tidur tidak baik untuk kesehatan jangka panjang,” lanjut Yul menuturi.
Yebin mengerlingkan kepala menatap Yul. Nasihat Yul itu terdengar seperti sedang mengkhawatirkan kesehatan Yebin. Yebin yang merasa diperhatikan, memicingkan kedua mata menatap lelaki jakung di sebelahnya.
“Ajeossi, kau mencemaskanku?” tanya spotan Yebin yang mengejutkan Yul. Pria itu mengernyitkan alis sambil melirik bola mata Yebin yang membulat antusias.
“Te... tentu saja. Mengingat hubungan kita, bagaimana aku tidak mencemaskanmu?” Yul menjawab dengan tergagap-gagap.
“Hubungan kita? Memang apa hubungan kita?” lanjut Yebin menginterogasi.
“Ya... hubungan baik. Semacam... hm... oppa-dongsaeng sai (hubungan kakak adik).” Yul berucap sambil memainkan gestur tubuh.
Bola mata Yebin terbelalak. Wajahnya semringah mendengar ucapan Yul barusan.
“Oppa? Kalau begitu biarkan aku memanggilmu Oppa mulai sekarang,” seru Yebin antusias. Pertama kali ini dalam hidup ia memanggil seorang pria dengan sebutan oppa. Sebelum-sebelumnya Yebin lebih senang memanggil laki-laki yang lebih tua darinya dengan sebutan ajeossi atau pun senior.
Tubuh Yul memegun mendengar wanita itu dengan riang memanggilnya oppa. Wajahnya perlahan memerah karena tersipu. Detakan jantung dalam dada Yul mencepat seperti benderang. Ia merasakan gelora aneh dalam tubuh tatkala dipanggil Yebin dengan sebutan oppa. Padahal bukan pertama kali Yul dipanggil oppa oleh wanita yang lebih muda darinya. Tetapi itu terasa benar-benar berbeda ketika yang mengatakannya adalah Yebin. Beberapa waktu Yul membingung hingga tak dapat memberi tanggapan apa-apa.
Yebin yang kegirangan merasa gemas melihat reaksi Yul. Wanita itu tersenyum riang sambil berjalan meninggalkan Yul yang wajahnya tersipu.
“Ayo jalan, Oppa! Kita harus cepat-cepat pulang.”
Selagi Yebin berjalan menjauh membawa sepeda, Yul masih bergeming. Ia memagangi dadanya yang berdetak cepat. Di balik tulang rusuknya yang kuat itu jantung Yul seperti melompat-lompat.
“Apa apa denganku? Apa aku mulai menua dan punya masalah jantung?” gumam Yul tak percaya sambil memegangi dada kiri. Pandangannya melihat Yebin yang berjalan semakin jauh. “Tidak mungkin! Aku tidak mungkin menyukai Nona Kang.”
“Cepatlah, Oppa!” Dari kejauhan Yebin berteriak memanggil Yul yang berbicara sendirian. “Kau harus memboncengku pulang. Kakiku sudah tidak bertenaga.”
Menanggapi seruan Yebin, Yul menganggukkan kepala. “Baiklah!” Kemudian berjalan mendekat pada Yebin yang menunggunya.
Sembari berjalan menghampiri wanita itu, Yul merutuk-rutuk pelan. “Sial. Kenapa dia memanggilku Oppa dan membuatku seperti ini?” gumam Yul yang sedang menahan debaran tidak terkendali dalam rongga dadanya. Ia merasa malu karena tubuhnya yang bereaksi di luar kendali. Namun juga merasa senang mendengar wanita itu memanggilnya dengan sebutan oppa yang menurutnya manis dan mendebarkan.