Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Kekacauan yang sudah terduga



Bab 46


Kekacauan yang sudah terduga


Pada hari itu juga Lysa kembali ke Korea tanpa mendengarkan Brian yang berusaha membujuknya supaya menetap di Indonesia sampai hari kembali mereka tiba. Namun ia tak mendengarkan Brian karena merasa terlalu marah pada lelaki itu. Dan lebih memilih untuk pulang sendirian ke Korea menggunakan uang yang selama ini ia kumpulkan dengan bekerja di kafe. Lysa membeli tiket pulangnya sendirian. Dan melakukan penerbangan pesawat sendirian untuk pertama kali seumur hidupnya.


Lysa memang masih memiliki fobia ketinggian. Dan merasa sangat takut untuk melakukan penerbanagn sendirian. Namun, pada waktu itu ia akan merasa lebih takut jika tidak kembali ke Korea. Karena ia tidak pernah tahu apa yang dapat Brian perbuat untuknya jika terus berada di Indonesia hingga hari kembalinya mereka ke Korea. Mengingat Brian yang bisa menciumnya secara tiba tiba dan tak terduga sebanyak dua kali, tidak menutup kemungkinan laki laki itu juga bisa melakukan hal yang lebih kepada Lysa ketika isi kepalanya sedang tidak waras.


Dengan segala keberaniannya, Lysa naik pesawat menuju Korea sendirian. Badan Lysa sangat dingin dan pucat. Tubuhnya gemetar ketakutan ketika pertama kali pesawat lepas landas dari bandara Adisutjipto Yogyakarta. Dan bahkan Lysa sempat menangis sebentar karena saking takutnya terhadap ketinggian. Namun gadis itu berusaha sekuat tenaga untuk bisa tegar dan berani menlewati semua itu. Sampai akhirnya ia tiba di Seoul pada dini hari dan langsung dijemput oleh salah satu teman terdekatnya. Dengan sangat berat hati Lysa meminta bantuan pada teman terdekatnya itu karena Lysa tidak memiliki siapa siapa lagi untuk dihubungi. Ia bahkan tidak berani memberi tahu ayahnya karena takut ayahnya akan khawatir karena Lysa tidk kembali bersama Brian. Lysa juga ingin tetap menjaga hubungan baik antara Brian dengan ayahnya sehingga ayahnya tidak salah paham. Karena itulah, begitu tiba di Seoul Lysa langsung kembali ke asramanya untuk istirahat. Selama dua hari ia kbersembunyi di dalam asrama dan hanya datang ke kafe untuk bekerja sekaligus menghibur diri. Karena dengan bekerja di kafe, rasa sedih, marah, dan campur aduk gadis itu bisa teralihkan pada hal lain.


Dua hari setelah itu, saat Brian telah kembali ke Korea bersama Jiwon, mau tidak mau Lysa harus meneleponnya. Untuk suatu alasan, mau tidak mau Lysa harus menelepon Brian yang pada hari itu juga tiba di Korea bersama Jiwon.


Pada pukul dua siang shif kerja Lysa di kafe telah usai. Gadis itu telah bersiap siap pulang dengan mengganti pakaian kerjanya dengan pakaian yang tadi ia kenakan untuk berangkat. Kemudian Lysa keluar dari kafe dan melihat Brian telah menunggunya di dalam mobil yang terparkir di kejauhan.


Sebenarnya Lysa masih belum memaafkan Brian. Gadis itu masih merasa marah dan sedih ketika mengingat momen itu. Namun ia tidak bisa berbuat apa apa karena ia membutuhkan Brian untuk mengantarnya pulang kepada ayah.


Dari kejauhan Lysa berjalan menuju mobil Brian. Dengan raut wajah dinginnya dan dengan langkah kakinya yang terasa berat. Kemudian ia segera masuk ke dalam mobil Brian begitu sampai di tempat mobil biru lelaki itu diparkirkan.


“Lysa, a—aku... aku bisa jelaskan itu...”


“Aku hanya ingin kau mengantarku pulang dengan selamat bertemu ayah. Aku tidak ingin membuat ayah khawatir jika tau bahwa aku tidak kembali bersamamu dari Indonesia, aku juga tidak ingin ayah tau kalau hubungan kita sedang tidak baik. Jadi aku meminta tolong padamu supaya mengantarku pulang pada ayah seolah tidak terjadi apa apa dan seolah olah aku baru kembali denganmu.”


Lysa menyela kata Brian dengan tegas. Ia masih belum mau berbicara dengan lelaki itu. Dan belum ingin mendnegarkan penjelasan atau apa pun darinya. Untuk saat ini Lysa hanya ingin menenangkan dirinya dengan cara menjauh dari Brian yang membuatnya merasakan sebelenggu emosi tidak menyenangkan itu (marah, sedih, tidak terima, kecewa, dan banyak yang lainnya). Dan Lysa juga belum bisa memaafkan Brian yang telah membuat Lysa benar benar diselimuti rasa bersalah kepada Mino yang sedang berada jauh darinya.


Karena Brian, Lysa merasa sangat bersalah dan berdosa kepada Mino. Sampai sampai Lysa terus berbohong kepada Mino karena tidak bisa sering sering meneleponnya. Karena rasa bersalah dan berdosa Lysa kepada Mino, Lysa tak memiliki keberanian yang besar untuk sering sering mengirim pesan kepada Mino untuk sekadar mengurangi rasa rindu atau pun mengetahui bagaimana kabarnya.


Di dalam mobil itu, Brian seketika terdiam. Ia tidak dapat berkata kata lagi kepada Lysa yang jelas jelas telah menutup kedua telinganya dari semua ucapan Brian. Brian yang menyadari kesalahannya itu hanya diam membisu dan mulai menjalankan moibilnya. Menjauhi bangunan Moonlight Coffe dan melaju menuju tempat ayah Lysa berada.


Untung saja Lysa jago berakting di depan ayahnya. Dan begitu juga Brian yang berakting di depan ayah Lysa seolah tidak terjadi apa apa dan tidak memperlihatkan hubungan canggung antara Mino dengan Lysa. Sehingga ayah Lysa alias paman Kim sama sekali tidka tahu jika putrinya itu sedang ada masalah dengan Brian. Ayah Lysa mengucapkan terima kasih pada Brian dan merasa senang terhadapnya. Karena Brian telah memberikan kesempatan kepada Lysa untuk bertemu dengan ibunya di Indonesia. Paling tidak ayah Lysa sudah merasa sanagt senang mendengar hal itu.


Hubungan kecanggungan Brian dengan Lysa berlangsung dalam waktu yang lama. Bahkan sampai dua minggu setelah itu. Namun, kabar baiknya adalah Lysa telah dapat mengurangi rasa bersalahnya terhadap Mino akibat perilaku Brian hari itu. Sehingga Lysa yang tengah menjalani hubungan jarak jauh dengan Mino itu lebih sering menghirimkan pesan teks, telepon, dan juga video call untuk sedikit mengurangi rasa rindu yang menggebu gebu kepada Mino yang berada jauh di Filipina untuk projec pekerjaannya.


Hubungan jarak jauh itu memang sangat sulit untuk Lys ayang baru pertama kali ini menjalani Long Distance Relationship (LDR). Lysa awalnya merasa belum terbiasa dengan jarak yang memisahkan mereka. namun lama kelamaan mulai terbiasa dan merasa dapat beradaptasi dengan hal itu. Karena ia sendiri masih tidak tahu kapan Mino akan kembali Ke Korea. Mungkin ketika liburan musim panas Lysa sudah selesai, atau jauh sebelum itu, Lysa sama sekali tidak tahu. Dan Mino sendiri ketika ditanya kapan bisa kembali Ke Korea, ia tidak bisa memberikan kepastian dan hanya berkata kalau ia masih belum bisa kembali dalam waktu dekat.


Ini adalah dua minggu setelah kepulangan Lysa dari Indonesia. Dan, ada kehebohan yang terjadi di Indonesia yang membuat Lysa saat ini berhadap hadapan dengan ayah Brian di sebuah restoran berbintang di Seoul.


Di Indonesia sekarnag sedang digemparkan oleh berita tentang skandal pewaris Hangin Group di sebuah kafe dekat Hotel X yang ada di Yogyakarta. Pewaris Hangin Grup, sebuah perusahaan real estate besar yang ada di beberapa negara yang berpusat di Amerika (dan beroperasi dalam skala besar di Indonesia), yang tidak lain adalah Brian, terkena skandal akibat peristiwa di kafe hari itu.


Sebenarnya sehari setelah kejadian di kafe di mana Brian tiba tiba mencium Lysa itu, sejumlah fiti dan video telah banyak beredar di mesia sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, WhatsApp, dan lain sebagainya. Itu adalah video ketika Brian tiba tiba mencium bibir Lysa di depan umum dan di saksikan banyak orang, yang mana berciuman bibir itu sendiri masih menjadi kontra sosial dalam budaya Indonesia yang sangat religuis. Semua video dan foto foto itu beredar di mesia sosial. Dan baru sepuluh hari kemudian terungkap siapa sosok laki laki yang ada di video senonoh (ciuman di depan umum), yang tidak lain adalah Brian, si pewaris dari perusahaan real estate terbesar Hangin Grup, yang satu minggu sebelumnya mengadakan pesta besar besaran di Bali untuk perayaan pembukaan resort baru di sana.


Setelah terungkap siapa sosok laki laki yang tidak lain adalah Brian itu, berbagai media menerbitkan artikel tentang itu. Artikel artikel yang terbit itu seperti berjudul ‘Detik detik pewaris Hangin Grup melakukan tindakan asusila di depan umum’ atau ‘Siapa sosok di balik CIUMAN LIMA DETIK di kafe X di Yogyakarta?’ dan juga seperti ‘Pewaris Hangin Grup berlibur di Yogyakarta bersama tunangannya, berikut foto foto mesra mereka dan ciuman bibir mereka di kafe’. Itu semua adalah tiga dari ratusan artikel yang telah bredar di Indonesia, dan mungkin juga di liput di mesia Amerika karena pusat operasional dari Hangin Grup milik ayah Brian berada di California. Yang bredar di Internet tidak hanya video detik detik Brian mencium Lysa di kafe, tetapi juga kedatangan mereka di Bandara, ketika keduanya memasuki hotel bersama, dan ketika mereka berdua mengunjungi beberapa tempat di Jogja untuk sekadar jalan jalan. Entah dari mana berasalnya foto foto itu, ayah Brian yang merasa dirugikan benar benar marah mendengarnya. Ayah Brian yang mendengar itu saat di Amerika bersama istrinya, seketika melakukan penerbangan ke Korea selatan untuk menemui Brian dan Lysa. Namun begitu tiba di Korea, yang lebih dulu ayah Brian temui adalah Lysa, bukan anaknya sendiri yan g menyebabkan kekacauan itu.


Lysa sudah tahu kalau dirinya sedang berada dalam masalah. Namun ia mencoba bersikap tenang untuk berhadapan dengan ayah Brian alias Paman Alven tanpa merasa takut atau minder. Meski tidak dapat dimungkiri kalau memang sebenarnya Lysa merasa sangat takut untuk bertemu dengan ayah Brian yang ia kenal sebagai seorang ayah yang bersosok keras dan otoriter.


Saat ini lysa berhadap hadapan dengan paman Alven. Mereka berada di dalam sebuah ruangan restoran berbintang setelah beberapa saat lalu Lysa yang sedang bekerja di kafe, dijemput oleh sekretaris Paman Alven.


Lysa tetap terdiam dengan wajah datarnya menatap Paman Alven. Menjawab atau tidak menjawab, Lysa yakin Paman Alven akan langsung mengatakan apa keinginannya bertemu dengan Lysa hari ini.


“Apa kau menjalin hubungan spesial dengan Brian?” tanya Paman Alven tanpa berbasa basi lagi.


“Tidak. Saya tidak menjalin hubungan dengan Brian kecuali hubungan kakak adik seperti yang selama ini Anda ketahui.” Lysa menjawab dengan tegas dan ekspresi wajah yang sangat serius.


“Apa kau menyukai Brian?”


Sejenak Lysa diam. Ia benar benar tidak suka perasaannya yang dulu dulu kembali diungkit oleh seseorang, entah oleh Brian sendiri atau pun oleh ayahnya.


“Ya, saya menyukai Brian dan menyayanginya, sebagai seorang adik dan tidak lebih dari itu.” Lysa menjawab.


“Lalu apa yang kau lakukan dengan Brian di kafe itu? Kau tau kan apa kekacauan yang sedang terjadi karena ulahmu dengan putraku? Kalau memang kau menganggap Brian hanya sebatas kaka, tiadk seharusnya kau mendekatinya. Dan seharusnya kau tau diri untuk menjauh perlahan lahan dari Brian.”


Kedua mata Lysa bergetar. Ia merasa harga dirinya benar benar diinjak injak oleh paman yang satu ini.


“Brian sendiri yang menyebabkan kekacauan. Saya hanyalah korban,” lirih Lysa dengan sinis.


“Jangan dekati putraku lagi. Jauh jauhlah darinya karena aku tidak ingin putraku dekat dengan orang yang tidak selevel dengannya. Berhenti menggodanya!” Tegas ayah Brian yang membuat hati Lysa benar benar hancur dan sakit. Lysa yang mendengarkan hal itu merasakan hantaman keras pada dadanya. Dan ia mencoba untuk terlihat tetap kuat, tidak ingin tumbang oleh kata kata itu.


Saat ini Lysa mulai merasa marah. Lebih dari sepuluh tahun ia mengenal keluarga Brian dan selalu diperlakukan dengan baik oleh keluarga mereka. itu tidak lain karena pada saat itu ayah Lysa masih berpatner bisnis dengan Paman Alven. Dan begitu bisnis ayah Lysa bangkrut,keluarga Brian menjauh begitu saja. Dan bahkan bersikap seolah olah Lysa yang dulu dikenalnya sebagai anak baik, mendekati Brian untuk memanfaatkan lelaki itu. Lysa benar benar tidak terima. Ia merasa sangat terluka akan hal itu.


Namun Lysa masih berusaha menenangkan hatinya. Ia menarik napas panjang panjang untuk menanggapi ayah Brian.


“Saya tidak menggoda Brian, Paman. Brian sendiri yang mengajak saya menemaninya berlibur ke Indonesia—“


“Itu sama saja kau menjual tubuhmu pada Brian!”


Paman Alvend meneriakkan kata kata itu kepada Lysa dengan penuh amarah. gara gara skandal antara Brian dengan Lysa itu, saham bisnisnya menurun drastis dan ia mendapat beberapa masalah beruntun karena hal itu.


Mendengarnya, tubuh Lysa langsung membeku. Jantungnya serasa ditusuk dan ia tidak dapat bernapas lagi. Hati Lysa sangat sakit karena dirinya dijatuhkan oleh ayah Brian. Dan Lysa hampir saja menangis saat ini, namun ia menahan tangisannya.


Dalam kondisi seperti itu, Lysa menegaskan dengan suaranya yang bergetar.


“Jaga bicara Anda. Anda tidak tahu dengan siapa Anda berhadapan. Dan jika setelah ini Anda betemu dengan Brian, tolong sampaikan pada Brian supaya berhenti mengejar saya karena saya telah memiliki laki laki lain yang lebih darinya.”


**