Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Bukan salah siapa siapa



Bab 56


Bukan salah siapa siapa


Keheningan berlangsung cukup lama di dalam mobil Mino. Peristiwa mengejutka yang terjadi beberapa waktu lalu membuat kedua manusia yang duduk manis di dalam mobil itu diam membeku dengan pikiran kalutnya masing masing. Sudah berlalu hampir setengahjam sejak Tuan Kim memberikan pukulan keras pada Mino dan mengusir mereka berdua dari tempat tinggalnya. Bahkan mengusir Lysa yang merupakan satu satunya putri yang beliau miliki.


Hawa dingin mengisi seluruh ruang di dalam Mino. Perdarahan pada bibirnya berhasil dihentikan setelah Lysa mengolesinya menggunakan salep. Namun kehancuran di hati Lysa dan juga Mino masih belum terobati. Mereka berdua masih kalut dengan perasaan masing masing.


“Maaf....”


“Ini bukan kesalahanmu, Chagi. Jangan meminta maaf padaku.” Lysa menyela kata kata Mino yang belum selesai. Napas Lysa berembus panjang panjang.


Bagaimana pun Mino merasa bersalah atas apa yang terjadi pada mereka hari ini. ia merasa bertanggung jawab secara penuh atas hancurnya hubungan Lysa dengan ayahnya. Mino merasa sangat bersalah sampai sampai mengucapkan kata maaf saja sudah sangat sulit untuk ia lakukan. Karena kata maaf itu tidak cukup untuk menebus semuanya.


Tetapi Lysa tidak berpikir demikian. Ia tidak berpikir bahwa semua itu adalah kesalahan Mino. Mino hanya terlalu mengkhwatirkannya. Mino hanya tidak ingin melihat Lysa terluka atau pun sakit lagi. Dan jujur saja, Lysa tidak pernah menyalahkan Mino atas apa yang terjadi padanya dan pada ayahnya. Toh, ini sudah ia prediksi sebelumnya. Lysa sama sekali tidak menyalahkan Mino atas semuanya.


“Urusanku dengan ayahku, akan kuselesaikan baik baik. Perlahan lahan aku akan membujuknya. Dan aku harap kamu juga tidak goyah,” lanjut Lysa berucap. Kedua matanya menatap lurus ke depan. Mengamati jalan sempit ini melalui kaca mobil Mino.


Kepala Mino seketika itu terangkat ketika mendengar Lysa berkata demikian. Laki laki itu menoleh pada Lysa yang memberinya tatapan penuh keyakinan.


“Aku tidak goyah. Hanya saja, aku tidak tega melihat hubungan kalian memburuk.” Mino berkata.


“Tidak ada yang lebih buruk dari Brian yang memberi tahukan semuanya pada ayah,” kata Lysa yang berspekulasi bahwa ayahnya mengetahui tentang dirinya yang tinggal bersama Mino di apartemennya dari Brian. Ya. Lysa hanya mengira seperti itu. Karena kalau bukan Brian yang memberi tahu ayahnya, ayahnya tidak akan tahu dari siapa siapa.


Mino mengembuskan napas pelan.


“Bukan Brian yang memberi tahu ayahmu bahwa kita tinggal bersama di apartemenku,” ucap Mino.


Terkejut, kepala Lysa seketika itu menoleh pada Mino. Menatapnya penuh tanda tanya. “Apa maksudnya?” tanya Lysa bingung. Kalau bukan Brian yang memberi tahu, dari mana ayahnya tahu tentang itu semua? Tanya Lysa dalam hati sambil menatap Mino penuh tanda tanya.


“Sebenarnya, kemarin aku bertemu dengan ayahmu di kafe. Aku tidak tahu kalau Pak Kim yang hendak mengajukan proposal kerja sama dengan Moonlight Retail itu adalah ayahmu.  Kemarin kami bertemu tanpa mengenal satu sama lain. Lalu saat aku tawari untuk meminum teh, Pak Kim berkata bahwa dirinya harus segera pergi karena ingin menuju kampus sebelah untuk menengok putrinya di sana. Jadi, ayahmu kemarin datang ke asramamu untuk menjengukmu. Tapi mungkin petugas keamanan memberi tahu bahwa kamu telah meninggalkan asrama sejak tiga hari yang lalu. Dari situlah ayahmu tahu bahwa kau tinggal bersama dengan seorang lelaki, yang tidak lain adalah aku.” Mino menjelaskan panjang lebar.


Sungguh sempit dunia ini, Mino membatin. Baru kemarin ia bertemu dengan Pak Kim yang datang padanya sambil membawa proposal kerja sama dengan Moonlight Retail. Namun sekarang ia mendapat pukulan dari Pak Kim yang ternyata adalah ayah Lysa. Pantas saja, Mino merasa familiar dengan wajah Pak Kim. Karena Lysa memiliki garis wajah dan kontur muka yang mirip dengan ayahnya. Sehingga secara tidak langsung Mino merasa familiar dengan wajah Pak Kim yang mirip dengan Lysa.


“Astaga... aku sangat tidak beruntung.”


Setelah mendengar semua cerita Mino tentang hal itu, Lysa menghela napas panjang sambil mendesah heran. Ia memang sangat tidak beruntung sekali. Kalau saja ayahnya itu berkunjung ketika Lysa sedang sakit, pasti peristiwa ini tidak akan trejadi. Dan Lysa tidak perlu tinggal bersama dengan Mino di apartemennya. Sungguh pemilihan waktu yang tidak tepat. Lysa benar benar merasa sangat tidak beruntung masalah timing.


“Lalu, kita sekarang harus bagaimana?” Lysa yang merasa sanagt pasrah dan tidak tahu harus berpikir apa apa itu, hanya bertanya dengan putus asa.


“Sekarang kita tidak bisa berbuat apa apa. Ayahmu masih sangat marah dan aku yakin beliau masih mau berbicara denganmu apalagi denganku. Lebih baik, hari ini kita pergi dulu. Besok kita datang lagi untuk berbicara baik dengan Pak Kim, maksudku ... Ayah Kim.”


 


 


Seperti ucapan Mino, pada siang itu mereka meninggalkan ayah Lysa karena situasi sudah tidak memungkinkan lagi untuk mereka dapat berbicara bersama dan meluruskan kesalah pahaman yang masih berlangsung itu. Sehingga Mino membawa Lysa pergi. Mino tahu suasana hati Lysa benar benar hancur pada hari itu. Mino yang tak ingin membuat suasana hati Lysa semakin buruk, hanya mengajak Lysa untuk mampir makan ke sebuah tempat sebelum akhirnya kembali ke apartemen untuk beristirahat. Lysa masih dalam perawatan psikologis akibat kecemasan yang ia rasakan. Sehingga begitu sampai di apartemen, gadis itu meminum obat yang diresepkan dokter kemudian tertidur pulas. Dan selagi Lysa tertidur pulas, Mino bertemu dengan pengacaranya untuk berbicara terkait penuntuttan pada Hangin Grub atas hak hak Lysa yang telah dirampas.


Mino datang ke kantor Pengacara bae. Ia adalah seorang pengacara wanita yang sangat terkenal di Seoul, yang selama ini menjadi penasihat hukum Moonlight Grub dan keluarga Moon Yul sendiri. Pengacara itu terkenal sangat kompeten walau sikapnya memang arogan dan agak sadis secara verbal. Namun Pengacara Bae selalu menyelesaikan pekerjaannya dengan cemerlang tanpa detail satu pun yang terlewatkan. Berkat itulah Moon Yul menyarankan Mino untuk bertemu secara langsung dengan Pengacar Bae dan berbicara empat mata dengannya terkait masalah Lysa dengan Hangin Grub.


Di atas kursi sofa yang besar dan nyaman itu Mino terduduk. Ia sedang menunggu Pengacara Bae yang baru daja tiba di kantor setelah menghadiri sebuah persidangan.


“Apa kabar, Han Mino? Sepertinya Moonlight Coffe sudah sangat stabil sejak kau yang diangkat menjadi manajer umum. Kalian sudah jarang sekali menghubungiku untuk masalah hukum di Moonlight Coffe.” Pengacara Bae menyapa Mino yang sudah lama tidak ia lihat. Sejak masalah terakhir yang ditangani Pengacara Bae terkait mavia yang terlibat dengan percobaan pembunuhan Moon Yul itu, Pengacara bae tidak pernah lagi melihat Mino.


Mino tersenyum lebar menyambut sapaan Pengacara Bae.


“Itu karena kau dan Bos Moon sudah menyelesaikan semua masalah kafe dengan sangat baik. Sehingga aku tinggal membuat semuanya tetap stabil dan aman terkendali saja.” Mino berkata.


“Tcih, kau masih sama saja rupanya. Rendah hati dan sedikit rendah diri,” tukas Pengacara Bae yang baru saja meletakkan tas dan juga berkasnya ke atas meja kerjanya. Wanita berambut panjang yang diikat ekor kuda itu memencet salah satu bel di atas mejanya. Lalu berbicara kepada bel yang terhubung dengan sekretarisnya di depan. “Bawakan teh herbal untuk tamuku dan kopi pahit untukku.”


Setelah itu, Pengacara bae berjalan meninggalkan meja kerjanya. Menuju sofa di ruangan pengacara mitra senior di firma hukum terbesar yang ada di Seoul itu. Duduk berhadap hadapan dengan Mino. Dilihat dari gestur tubuhnya yang seolah tahu untuk apa Mino datang mencarinya ahri ini, sepertinya Pengacara Bae telah di beri tahu oleh Moon Yul.


“Aku sudah mendengar semuanya dari Moon Yul. Dan aku juga sudah membaca semua artikel dari mesia Indonesia yang berhasil didapatkan Moon Yul. Jadi, apa sebenarnya hubunganmu dengan gadis yang ada di dalam artikel itu?” tanya Pengacara Bae menginterogasi Mino. Terakhir kali bertemu dengan Mino, Pengacara Bae masih mendapati laki laki iti berkencan dengan Im Jiwon dan bahkan telah merencanakan pernikahan dengannya. Namun sepertinya itu semua tidak berjalan lancar.


“Aku yakin kau juga sudah mendengar siapa gadis itu dari Bos Moon.” Mino berkata.


Kedua alis Pengacara Bae mengernyit. “Rupanya kau masih enggan memanggil Moon Yul dengan sebutan ‘hyung’. Kukira kalian sudah seperti adik kakak.” Pengacara Bae bergumam tidak jelas membahas topik lain. Kalau berbicara tentang itu, memang benar bahwa Mino berkali kali diminta Moon Yul untuk memanggilnya dengan sebuatan hyung, bukannya bos. Tetapi Mino tidak mau karena ingin tetap menghargai Moon Yul sebagai bosnya meski hubungan mereka tidaklah seperti bos dan anak buah.


Abaikan panggilan tidak penting yang sedang dibicarakan Pengacara Bae itu, ada pembahasan yang lebih penting lagi.


“... Aku memang telah mendengar dari Moon Yul, kalau gadis yang ingin dijadikan tumbal oleh Hangin Grub itu adalah kekasihmu, ah, lebih tepatnya, calon istrimu. Tapi pertanyaanku, apa yang terjadi? Bukannya waktu itu kau sedang merencanakan pernikahan dengan Im Jiwon? Apa jangan jangan kau ingin menikahi dua gadis sekaligus sama seperti kebanyakan kasus yang ada di Indonesia dan negeri timur itu?” tanya Pengacara Bae dengan sinis.


Mino menghela napas panjang panjang. Kalau pun ia tahu bahwa Pengacara Bae memang cukup kasar secara verbal, ia masih saja merasa kesal mendengar kata katanya yang terkesan ada unsur sarkasme.


“Bercandamu sama sekali tidak menyenangkan, Pengacara Bae yang terhormat. Kau pikir aku ini sultan yang bisa menikahi dua gadis sekaligus? Selera humormu itu benar benar sangat rendah.” Mino membalas dengam menyindir.


Pengacara Bae memiringkan kepalanya. Padahal, ia hanya penasaran saja apa yang terjadi pada hubungan Mino degan Im Jiwon.


“... Aku sudah putus dengan Jiwon. Dan tidak lama setelah itu aku bertemu dengan seorang gadis yang luar biasa. Ah.. kau tidak perlu tahu tentang kisah cintaku, cukup ceritakan padaku bagaimana proses hukum nya untuk menuntut Hangin Grub dan juga Brian Alvendo yang telah melakukan pelecehan seksual kepada kekasihku.” Mino mengimbuhkan. Ia datang kemari untuk mendengar nasihat hukum kepada Pengacara Bae, bukan untuk bercerita masalah cinta kepada orang yang sama sekali tidak mengerti tentang cinta.


Pengacara Bae mengangguk anggukkan kepala. Kalau dipikir pikir, tidak ada gunanya juga ia tahu tentang kisah cinta Mino. Toh yang ia butuhkan hanyalah kesuksesan karir sebagai pengacara terbaik negeri ini.


“Benar itu adalah pelecehan seksual. Video ciuman mereka yang beredar di internet itu sudah cukup dijadikan bukti yang konkret untuk menjerat Brian Alvendo. Tapi masalahnya, dia pasti akan membuat pembelaan bahwa mereka saling mencintai dan saling suka sama suka untuk sekadar berciuman di kafe. Tapi untuk tuntutan pelecehan seksual itu, serahkan saja padaku. Aku bisa mengurusnya dengan baik. Masalahnya adalah, Tuan Alvend dari Hangin Grub. Akan cukup sulit mengumpulkan bukti bahwa dia memang mengancam, melakukan pemaksaan kehendak, dan pelanggaran hak asasi manusia pada kekasihmu. Bukti sulit dikumpulkan karena melibatkan tiga negara; Korea Selatan, Indonesia, dan Amerika. Hah, sangat merepotkan bukan jika aku harus pergi ke tiga negara itu?” Pengacara Bae berbicara dengan nada bicaranya yang terkesan congak.


Mino hanya mengernyitkan kedua matanya, menatap Pengacara Bae. Laki laki itu tahu apa yang Pengacara Bae inginkan...


“Jangan khawatir, aku akan membayarmu berapa pun kau inginkan jika bisa memangkan kasus. Katakan, apa yang kau inginkan?” ucap Mino yang seolah bisa membaca apa yang ada di otak wanita yang ada di depannya itu.


Pengacara Bae tersenyum menyeringai mendapati Mino yang sangat peka mengartikan ucapannya. Wanita itu tersenyum sambil menaikkan kedua alisnya.


“Tentu saja kau sanggup membayarku. Mana mungkin pemegang saham tertinggi Moonlight Coffe tidak sanggup membayar pengacara ****** sepertiku?” desus Pengacara Bae dengan tatapannya yang tajam seperti ular.


“Aku menginginkan lima puluh persen sahammu di Moonlight Retail.”


Kedua mata Mino terbelalak mendengar apa yang pengacara itu katakan. Sebnetar, apa dia tidak salah dengar?


Mino mengernyitkan keningnya karena merasa permintaan Pengacara Bae itu terlalu berlebihan.


“Kalau seperti itu aku yang bisa melaporkanmu karena perampasan. Kau berniat membantuku atau mau merampasku?” Mino menceletuk pada Pengacara Bae yang permintaannya sangat berlebihan. Tidak peduli kalau memang bayaran Pengacara Bae itu sangat mahal sebagai pengacara mitra senior, tapi permintaan lima puluh persen saham di Moonlight Retail itu sangat berlebihan.


“Itu lebih baik dari pada aku meminta lima puluh persan sahammu di Moonlight Coffe,” celetuk Pengacara Bae.


Baik. Itu memang benar. Lima puluh persen saham di Moonliht Retail itu jauh lebih baik dari pada lima puluh persen saham Mino di Moonlighr Coffe. Tapi tetap saja, Mino juga memiliki saham yang cukup besar di Moonligjht Retail yang potensi bisnisnya sangat besar. Dan lima puluh persen itu ...


“Kenapa harus Moonlight Retail? Bagaimana kalau aku memberimu sepuluh persen saham di Moonlight Coffe?” Mino memberikan tawaran.


“hehei, kau pikir aku bodoh? Meski pun sepuluh persen di Moonlight Coffe jauh lebih besar dari lima puluh persen sahammu di Moonlight Retail, aku tidak bodoh. Aku cukup tau betapa besar peluang investasi di Moonlight retail, dan mengerti dengan baik kalau potensinya lebih berlipat. Jadi kenapa kau bertanya suatu hal yang sebenarnya tidak perlu kau tanyakan?” Pengacara Bae menimpali.


Mino terdiam. Ia berpikir sejenak.


“Tiga puluh persen, deal?” Mino menawar.


Kening Pengacara Bae menegrnyit. “Tiga puluh lima persen, deal?”


“Okay, deal!”


Setelah membuat kesepakatan dengan Pengacara Bae terkait bayaran yang akan Mino berikan, mereka melanjutkan percakapan mereka mengenai sederet tuntuttan yang akan dilontarkan untuk Hangain Grub. Mereka bercakap cakap dalam waktu lama. Sampai akhirnya waktu menunjukkan pukul empat sore. Mino telah menyelesaikan semua urusannya dengan pengacara bae. Laki laki itu kembali ke apartemennya.


Setibanya di apartemen, Mino dikagetkan oleh keberadaan dua sosok manusia yang tidak lain adalah kedua adiknya. Mina dan juga Minjae ada di apartemen Mino, sedang duduk di ruang tamu berdua. Mereka seperti sednag sibuk mendiskusikan sesuatu.


“oh, kalian datang rupanya. Kenapa tidak bilang? Kalau tahu, aku pasti akan belikan makanan di jalan pulang kemari.” Mino yang melihat kedua adiknya itu tampak sedang sibk berdiskusi di atas sofa, menyahut menyapa mereka. Mino melepas sepatu yang ia kenakan, mengenakan sendal slip kemudian berjalan masuk ke apartemennya.


Melihat Mino berjalan ke arah kamar, Mina seketika itu berdiri dan menghadang Mino di depan. Gadis itu menyeret lengan kakaknya dan mendudukkannya di atas sofa untuk diinterogasi bersama Minjae.


“Oppa, tadi aku masuk ke dalam kamarmu. Dan melihat sesosok perempuan sedang tidur pulas di atasnya. Siapa perempuan itu? Dan kenapa dia ada di kamarmu? Apa kalian tinggal bersama? Atau kalian hanya sekedar bersenang senang di atas ranjang lalu Eonni itu ketiduran?” tanya Mina penuh selidik. Adik perempuan Mino yang sangat kepo itu membicarakan konten dewasa di hadapan adiknya, Minjae, yang usianya masih remaja.


“Ngomong apa sih kau itu, Mina? Anak kecil tidak boleh tau urusan orang dewasa. Kau diam saja ya.” Mino menyahut. Ia hendak berdiri dari duduk namun Mina menahannya dan memaksa Mino untuk duduk kembali ke atas sofa.


“Siapa Nuna (panggilan untuk kakak perempuan oleh adik laki laki) yang tidur di kamarmu itu, Hyung?” giliran Minjae yang bertanya. Bocah remaja yang berkaca mata itu juga tampak penasaran tentang siapa gadis yang tadi dilihatnya sekelebat.


Menyerah, Mino pun akhirnya menjawab pertanyaan kedua adiknya itu dengan jujur. Mino merengkuh kedua bahu adiknya untuk mendekat padanya. Lalu membisiki mereka pelan pelan.


“Dengarkan baik baik, adik adikku. Jadi perempuan yang ada di kamarku itu adalah calon kakak ipar kalian. Bersikaplah baik padanya, ya. Dan dia menginap beberapa hari di sini karena sedang sakit, sedangkan di asrama kampus tidak ada yang merawatnya.” Mino menjelaskan.


“Jadi, perempuan itu adalah yang dulu pernah aku lihat di apartemen ini, Oppa? Kanapa dia kelihatan berbeda sekali? Aku tidak mengira kalau Eonni itu sangat cantik dan terlihat dewasa, kukira usianya tidak jauh berbeda dariku,” ucap Mina.


“Bukannya calon kakak iparku itu Jiwon Nuna? Jadi Hyung sudah putus dengan dia? Kapan?” sahut Minjae yang tidak tau apa apa.


“Diam kau, anak kecil!” Mina menimpali. “Yang penting bukan siapa kakak ipar kita, tapi, apa kita harus membeberkan ini pada ibu dan ayah? apa harus kita adukan saja kalau Oppa tinggal bersama seorang wanita?” Mina yang licik itu mulai melancarkan ide memeras kakaknya yang banyak uang.


“Heheii, Mina, dari mana kau jadi suka mengadu seperti itu? Apa kau juga ingin kuadukan kalau sedang berkencan dengan salah satu pegawai pria di kafe?” Mino yang juga memiliki senjata rahasia itu balik menyerang Mina.


Mina seketika itu diam membisu. Ia hanya menundukkan kepala.


“Bagaimana kau bisa tau hal itu, Oppa? Padahal aku baru saja jadian dengannya,” rutuk Mina pelan.


“Heol! Nuna sudah memiliki pacar? Apa sekarang Nuna sudah memiliki first kiss?” tanya Minjae dengan polosnya.


“Han Minjae, kau bisa diam tidak?!” Mina menceletuk kesal pada adiknya.


“Sttt. Jangan keras keras, nanti kekasihku bisa bangun. Dia sedang beristirahat karena sakit,” Mino memarahi Mina yang menceletuk dengan keras.


“O ooh, jadi Nuna masih belum memiliki first kiss.” Minjae menggumam gumam.


“Kubilang diam kau, Han Minjae!” desus Mina agak keras. Hendak memukul Minjae namun Minjae mengelak pukulan kakak perempuannya dengan gesit. Dan itu membuat Mina semakin emosi sehingga tangannya yang ingin memukul Minjae itu bergerak semakin agresif.


“Diamlah jangan bertengkar, adik adikku! Kalian bukan anak kecil lagi.” Mino merutuki. Jika disatukan, kedua adiknya itu memang mudah sekali bertengkar dan cakar cakaran seperti kucing. “Mina, Minjae, diam. Ada apa dengan kalian berdua itu?!”


“Haha, pantas saja Nuna belum memiliki first kiss. Pasti pacarmu tidak mau menciummu karena kau suka memakan bawang goreng.” Minjae lanjut mengejek kakak nya. Laki laki itu memang suka menggoda kakak perempuannya yang galak dan agrasif, suka bermain kekuatan itu.


“Apa kau bilang?! Sini kau, Han Minjae. Aku akan memberimu pelajaran!” Mina berteriak dengan tidak terkendali. Ia beranjak dari duduk untuk menyambar Minjae dan memberinya pelajaran karena sudah mengejeknya.


Melihat kedua adiknya itu bertengkar, Mino mengembuskan napas panjang panjang. Ia tahu, jika sudah seperti ini, mereka berdua tidak bisa dihentikan. Mereka akan membuat keributan dan kericuhan di apartemen Mino.


Seperti dugaannya, Mina dan Minjae melanjutkan perang mereka berdua mengelilingi apartemen Mino. Melempar bantal ke sana ke sini dan saling mengelak. Sampai kemudian, Lysa yang tidur pulas itu bangun karena kericuhan yang ada di luar. Penasaran, Lysa pun beranjak turun dari ranjang tidur. Hendak keluar dari kamar. Membuka pintu, kemudian sebuah bantal sofa melayang dengan cepat mengenai wajahnya.


Bukk!


“Agghh!”


Tubuh Lysa yang masih ngantuk itu langsung terjatuh ketika terlempar oleh bantal yang baru saja dilempar oleh Mina. Mina dan Minjae yang terkejut mendengar pekikan pelan Lysa saat terjatuh, seketika terdiam dan menoleh bersamaan ke arah pintu. Melihat seorang perempuan yang terjatuh dengan lemas karena lemparan bantal Mina. Sedangkan Mino, yang sangat terkejut melihat Lysa jatuh, spontan berdiri dari duduk. Laki laki itu berlari secepat kilas menghampiri Lysa dan membantunya berdiri.


“Chagi, kau baik baik saja?” tanya Mino khawatir. Belum sempat Lysa menjawab, Mino menatap kedua adiknya yang berdiri membeku di ujung sofa. “Sudah kubilang, jangan bertengkar! Ada apa dengan kalian berdua itu Han Mina, Han Minjae?” mino merutuk tegas pada kedua adiknya yang kelakuannya masih seperti anak anak.


**