Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Perjuangan Seorang Ibu



Perjuangan Seorang Ibu


Yul Pov


Meski aku sudah melarangnya untuk bekerja, Yebin tetap bersi keras ingin bekerja dalam keadaannya yang sedang hamil. Ia mengatakan ini dan itu supaya aku memperbolehkannya bekerja mengurusi Biniemoon bersama Somin, satu satunya karyawannya saat ini.


Tentu saja aku kahwatir. Mengingat ini adalah kehamilan pertama Yebin. Dia sering mengeluhkan mual dan juga pusing. Tapi selalu keras kepala dna tidak mau mendengar nasihatku untuk beristirahat dari semua kegiatan bisnisnya.


Benar. Bukan kang yebin jika langsung menurut begitu saja. Dia sangat keras kepala dan membuat aku mau tidak mau menuruti keinginannya untk tetap bekerja dalam keadaan hamil anak pertama.


Usia kehamilan Yebin saat ini adalah lima minggu, alias satu bulan lebih seminggu. Perkembangan perutnya masih sangat sedikit, hampir tidak terlihat kalau ia sedang hamil. Jika dilihat perutnya masih rata. Tetapi ketika aku meraba perutnya, sudah terlihat sedikit perkembangan.


“Salju turun sangat lebat, jangan keluar dari kantor. Dan kau bisa memanggilku sewaktu waktu untuk mengantarkanmu pulang jika pekerjaanmu selesai.”


Selagi memberhentikan mobil tepat di depan gedung ini, aku menarihati Yebin. Di gedung yang berdiri di hadapan ini, Yebin menyewa satu ruangan untuk menjadi kantor Biniemoon dan juga gudang penyimpanan stok barang. Di sana Yebin bekerja setiap harinya bersama Somin. Mengurus Biniemoon dan mengepak pesanan yang masuk setiap harinya.


Dari jendela mobilku terlihat salju yang turun dengan begitu derasnya. Hawa dingin yang sangat mencekat ini sangat berbahaya untuk Yebin yang mudah terserang flu di musim dingin.


Di kursi penumpang Yebin terlihat sedang merapikan syal yang melingkari leher. Juga merapikan penutup kepala yang menghangatkan dari dinginnya suhu di luar.


“Hari ini jam berapa kau pulang?” lanjutku bertanya .


“Sekitar jam tiga. Nanti ada barang yang datang, jadi aku harus mengurusi itu dulu sebelum pulang.”


Kepalaku terangguk angguk.


“Baiklah hati hati. Kalau merasa capek langsung istirahat saja ya sayang,” kataku sambil mengecup kening Yebin.


“Hmm. Sayang juga hati hati ya.”


Setelah itu Yebin segera beranjak turun dari mobil. membawa teremos kecil berisi susu ibu hamil yang masih hangat yang ia buat tadi sebelum berangkat bekerja.


Aku melambaikan tangan ke arah luar. Begitu memastikan Yebin masuk ke dalam kedung itu dengan selamat, aku pun melajukan mobilku menjauhi gedung tempat kantor Biniemoon berada. Menuju Moonlight Coffe Gangnam tempatku bekerja sehari hari sebagai pemilik kafe. Sejak kasus Kwon Suk itu, aku memiliki banyak sekali pekerjaan di kafe. Semua laporan keuangan dan administrasi dari setiap cabang Moonlight Coffe kuperiksa dengan hati hati san sangat teliti. Laporan kinerja para karyawan dan manajer juga selalu aku periksa setiap hari. Untuk menghindari kejadian serupa terjadi di masa depan. Aku menjadi lebih hati hati dan lebih kritis dalam menilai kinerja semua karyawan dan manajer yang bekerja di Moonlight Coffe.


Sejauh ini Moonlight Coffe memiliki sembilan belas cabang yang tersebar di seluru Seoul dan juga luar Seoul (sampai ke Busan dan Pulau Jeju). Moonlight Coffe Gangnam yang menjadi pusat, ditambah sembilan belas cabang. Moonlight Coffe yang berdiri di negeri ini berjumlah dua puluh. Yang artinya, ada dua puluh manajer, ada empat puluh angkuntan yang bertugas menuliskan semua laporan tentang keluar masuk dana dan laba ruginya. Serta, ada lebih dari seratus lima puluh pelayan Moonlight Coffe yang terdiri dari pelayan paruh waktu maupun pelayan tetap (karyawan). Lebih dari dua ratus orang bekerja untuk Moonlight Coffe. Dan mereka semua ada di bawah pengawasanku sebagai pemilik kafe. Sudah menjadi kewajibanku untuk mengawasi satu persatu kinerja dari mereka semua. Membaca laporan dari angkuntan dan manajer. Mengawasi pembukuan. Mengurusi komplain dari pelanggan terkait pelayanan. Dan juga, mengurusi para investor yang menanamkan modalnya untuk Moonlight Coffe.


Pekerjaanku sebagai pemilik kafe sepertinya semakin menyibukkan. Bekerja dari pagi sampai sore di kafe, membaca laporan keuangan dan marketing, memeng cukup membuatku jenuh. Saat aku benar benar merasa jenuh, biasanya aku hanya meminta Jisoo~ssi untuk mengantarkan satu gelas kopi atau minuman dingin.


Seharian bekerja dengan membaca semua laporan bisnis itu memang membuatku merasa stres. Tapi, ketika sore hari dan jam bakerjaku selesai, ada satu sosok wanita cantik yang menyembut kedatanganku di rumah. Ia yang membuat semua lelahku hilang. Ia juga yang membuat stres karena pekerjaanku melayang hilang. Ia, yang membuatku bisa bertahan menjadi pebisnis kafe yang baru saja menangani krisis dengan segala jerih payah dan perjuangan yang kulakukan.


Yebin adalah sumber kekuatanku. Yebin yang membuatku bisa melewati semua itu. Saat aku merasa benar benar lelah dan hampir tumbang ketika mengurusi laporan keuangan kafe yang bermasalah, aku hanya akan menelepon Yebin. mengganggu Yebin yang juga sedang bekerja. Mendengar suaranya sebentar, lalu lelahku hilang. Kemudian meneruskan pekerjaanku dan memanggil semua orang yang terlibat dalam menyusun laporan keuangan yang bermasalah itu.


Dengan cara seperti itu aku bertahan. Dengan dorongan Yebin baik secara langsung maupun tidak langsung.


***


Yebin Pov


“Salju di luar sangat lebat. Perlukah kunaikkan suhu penghangat udaranya? Aku masih merasa sedikit kedinginan,” kataku pada Somin yang tampak sibuk menghitung jumlah pakaian dari salah satu brand terkenal itu.


“Naikkan saja. aku juga merasa sedikit dingin.”


Mendengar jawaban Somin, aku meraih remot penghangat udara yang ada di atas meja. Memencet salah satu tombol di remot itu untuk menaikkan suhu pada penghangat udara yang ada di kantor Biniemoon.


Di sinilah Biniemoon beroperasi. Kantor kedua Biniemoon setelah kamarku.


Sejak mempekerjakan Somin, aku menyewa sebuah ruangan berukuran cukup besar yang letaknya ada di Gangnam (tidak begitu jauh dari kafe Oppa). Di kantor inilah Biniemoon beroperasi.


Ruangan yang menjadi kantor ini memang tidak seluas ruang tamu du rumah Yul Oppa (yang sekarnag menjadi rumah kami). Tetapi ukurannya cukup besar dibanding ruangan ruangan lain yang ada di gedung ini. Yah, setidaknya ruangan ini cukup untuk menjadi gudang penyimpanan produk produk yang dijual Biniemoon. Tempatnya juga bersih dengan dinding dan lantai beton yang tebal. Ada fitur anti maling dan anti api untuk mencegah kebakaran. Juga terdapat CCTV yang mengawasi dua puluh empat jam non stop. Pun sebagai tempat penyimpanan, suhu di dalam ruangan ini bisa disesuaikan. Mengingat pakaian pakaian yang dijual Biniemoon adalah pakaian bermerek dari brand terkenal sehingga penyimpanannya pun harus diperhatikan supaya kualitas tidak turun ketika sampai di tangan para pelanggan.


“Somin~a, apa kau memerlukan teman?” tanyaku pada Somin.


Aku sedang duduk di kursi meja kerja untuk menjawab berbagai pesan yang masuk dari pelanggan melalui perangkat Biniemoon.


“Ya teman untuk membantumu bekerja di sini. Saat usia kehamilanku semakin bertambah, aku tidak akan leluasa membantumu mengepak barang pesanan. Jadi aku berpikir untuk mempekerjakan dua orang lagi. Satu yang akan membantumu mengepak pesanan dan mengatur stok. Dan satunya lagi untuk bagian customer service yang akan menjawab setiap pertanyaan, komentar, dan juga keluhan dari para pelanggan yang masuk di perangkat. Setiap harinya ada lebih dari tiga ratus pesan yang masuk, dan ratusan komentar serta beberapa keluhan terkait sistem dan lain sebagainya,” jawabku.


“Kalau aku sih tidak masalah jika kau ingin mempekerjakan dua orang lagi. Ya, asalkan kau tidak mengurangi gajiku. Dan asalkan kau mampu membayar semua karyawanmu,” jawab Somin yang seketika membuatku terkekeh kekeh.


Aku menoleh pada Somin yang terlihat sibuk dengan kegiatannya. Lalu menceletuk, “Jangan khawatir. Aku tidak akan mengurangi gajimu. Dan kau tidak usah mencemaskan apa aku bisa menggaji tiga orang karyawan. Kan aku punya suami. Dan suamiku punya banyak uang. Dia bahkan bisa menggaji ratusan orang yang bekerja di Moonlight Coffe. Masa ak umenggaji tiga orang karyawan saja tidak bisa?”


“Hahaha! Enaknya suami bos kafe. Kau tidak perlu mencemaskan keuangan. Karena uangmu mengalir deras seperti air terjun.” Somin mencandai.


“Hei, tidak semudah yang dibayangkan banyak orang. Lebih dari siapa pun aku tahu betapa kerasya Oppa bekerja untuk kafe. Dia sudah melalui banyak hal untuk menyelamatkan kafenya dari krisis waktu itu.” Aku yang beberapa waktu lalu merasa bersemangat, tiba tiba menjadi sedih ketika mengingat Yul Oppa dan usaha kerasnya untuk kafe. Benar. Aku merasa sedih setiap kali mengingat pengorbanan yang telah Oppa lakukan untuk kafe, dan juga ... untukku.


“Apa apaaan itu? kenapa kau jadi sedih begitu?” Somin menceletuk melihat raut wajahku yang berubah mendung.


“Tidak tahu. Aku selalu merasa sedih setiap mengingat Yul Oppa. Dia sudah mengorbankan banyak hal untukku. Tapi aku belum memberinya satu pun pengorban,” curhatku selagi membalas satu per satu pesan yang masuk di perangkat.


“Apa maksudmu belum memberinya satu pun pengorbanan? Nah itu, bayi yang ada dalam kandunganmu. Itu juga namanya pengorbanan, Yebin~a.”


Kepalaku mengangguk angguk.


“Benar sekali. tapi tetap saja aku ingin memberinya lebih dan lebih lagi,” gumamku. Aku kemudian merasa mual mual. Kepalaku sedikit pusing dan perutku terasa sangat mual, mau muntah.


“Sebentar, Somin~a, aku mau ke kamar mandi,” kataku.


“Kau mual mual?” tanya Somin panik melihatku bergegas ke kamar mandi untuk memuntahkan seisi perutku.


Tiba di kamar mandi itu aku segera membungkuk di atas kloset.


Uueekk! Ueekk!


Aduh. Apa memang hamil rasanya semenyakitkan ini? Perutku terus saja terasa mual. Saat aku meminum susu, aku merasa mual. Namun mau tidak mau aku harus meminum susu untuk menambah asupan nutrisi pada bayiku. Sekalipun aku merasa mual, aku harus menelannya. Walau setelah itu perutku bereaksi ingin memutahkan semuanya. Dan meski aku berada di kamar mandi ingin memuntahkan semuanya, aku tidak bisa muntah. Aku hanya merasa mual mual saja tanpa bisa memuntahkan isi perutku. Dan rasanya ini jauh lebih menyiksa.


“Yebin~a, kau baik baik saja? Perlukan kutelponkan suamimu untuk mengantarmu pulang saja? Aku akan mengurus semua pekerjaannya. lebih baik kau istirahat saja di rumah. Kau baik baik saja?”


Merasa khawatir, Somin menyusulku ke kamar mandi. Ia menepuk nepuk punggungku. Sementara aku masih berusaha memuntahkan isi perutku walau kenyataannya tidak bisa. Dan ini sangat menyiksa sekali. Perjuangan seorang ibu ternyata sangatlah berat. Aku merasakannya sendiri saat ini.


Setelah rasa mualku sedikit mereda, aku pun mulai berdiri. Tubuhku terasa lemas. Kepalaku terasa berkunang kunang. Aku berjalan pelan menuju wastafel untuk membilas wajahku menggunakan air dingin.


“Tidak perlu. Aku masih bisa bekerja kok,” ungkapku.


Aku menoleh pada Somin yang tampak khawatir. Ia meragukan kata kataku.


“Sungguh? Kau masih bisa bekerja dalam keadaan seperti itu?”


Aku mengangguk yakin.


“Kau tidak usah khawatir. Sekarang tolong ambilkan aroma terapi untuk menghangatkan perut dan meredakan pusingku,” pintaku pada Somin.


“Baiklah. Tunggu sebentar.”


Setelah itu Somin berjalan keluar dari kamar mandi. Sementara aku menunggu di sini karena merasa perutku masih terasa mual. Dan, benar. Perutku kembali terasa mual. Aku berjalan tergesa menuju kloset sampai tak melihat bungkus sabun di depan pintu terpeleset.


“Aaghh!”


Buukk!


Kakiku tergelincir bungkus plastik itu. Tubuhku pun terjatuh dengan begitu keras ke lantai kamar mandi yang sangat dingin. Kepalaku terbentur pintu kamar kecil sedangkan bagian tubuhku lainnya menghantam lantai. Aku meringis kesakitan sambil memegangi kepalaku yang terbentur. Pandanganku pun berkunang kunang. Di antara penglihatanku yang sudah kabur ini, kulihat darah merah mengalir di sela sela kakiku.


“Yebin~a!”


Saat aku dengar teriakan itu dari Somin, kesadaranku sudah mulai pergi. Setelahnya, aku sama sekali tidak mengingat apa apa.


***