
Kang Yebin tidak pernah bisa diam!
Yul POV
Selagi menuruni anak tangga menuju lantai satu, aku menyeka rambutku yang setengah basah. Waktu menunjukkan pukul tujug pagi. Aku bangun lebih awal dari biasanya karena ada janji bertemu dengan Haeri dan Pengacara Bae dari Firma Hukum Kyensang nanti pada pukul sembilan.
Kakiku masih memijak tangga menuju lantai satu, ketika pandanganku bertemu dengan Yebin dan Hun yang sedang sarapan bersama di meja makan. Sejak kemarin sore ibu Miyoon memang pergi ke Incheon sehingga Yebin di rumah sendirian.
“Hun Oppa, cobalah mencampurnya dengan Yogurt. Rasanya lebih nikmat,” ucap Yebin yang terlihat sedang mengulurkan sebotol yogurt kepada Hun. Keduanya sedang sarapan bersama menggunakan sereal dan susu instan.
Di anak tangga ini aku masih terdiam memandangi Yebin dari kejauhan. Kejadian dua hari lalu masih terus terbesit di benakku, di mana Yebin terluka di hotel saat mengikutiku bertemu Haeri dan Pengacara Bae. Aku masih mengingat dengan jelas kejadian dua hari lalu. Dan sejak hari itu, sejak kemarin, Yebin belum mau berbicara denganku. Dan aku masih belum bisa memberinya penjelasan apa-apa karena aku tak ingin Yebin berada dalam situasi sulit karenaku.
Sudah cukup aku membuat Yebin terluka seperti saat itu. Sudah cukup aku membuat Yebin menangis sepanjang hari saat itu.
Sekarang, berawal dari ketika aku melingkarkan cincin pertungan di jemari manisnya, aku telah bertekad untuk tidak membuatnya berada dalam kesulitan lagi. Cukup aku yang menanggung semuanya, bukan Yebin.
Setelah beberapa detik mematung, aku meneruskan jalanku. Berjalan menuju dapur tempat Yebin dan Hun melangsungkan sarapan bersama.
“Hyung, kau sudah bangun?” sapa Hun yang terlihat menikmati sarapan paginya.
Aku menganggukkan kepala sembari membuka pintu lemari pendingin.
“Kau akan berangkat bekerja sekarang juga? Bukankah ini masih terlalu pagi?” sahutku.
“Ada urusan yang harus aku selesaikan. Jadi aku berangkat lebih pagi,” jawab Hun yang segera beranjak bangkit dari duduknya. “Yebin~a, selesaikan sarapanmu. Aku berangkat duluan. Daaa~”
“Hati-hati di jalan, Oppa.”
Yebin menceletuk melihat kepergian Hun. Setelah itu aku berjalan menuju meja makan membawa mangkuk kaca kosong dan satu sendok berwarna emas. Duduk di kursi yang beberapa waktu lalu diduduki Hun, berhadapan dengan Yebin.
“Bukannya ibu biasanya memasakkan persediaan makanan sebelum berangkat ke Incheon. Kenapa kau sarapan dengan sereal?” kataku yang tengah menuangkan sereal pada mangkuk kacaku yang kosong.
“Ibu kemarin pergi mendadak. Dia tidak sempat memasak apa-apa dan memintaku untuk makan di luar saja,” jawab Yebin ringan sambil menginyah makanannya.
Pandanganku menaik. Kutatapi dengan baik wajah Yebin yang berseri-seri hari ini. Apa sesuatu yang baik terjadi padanya?
“Apa ada hal baik yang terjadi? Wajahmu terlibat berbeda dari kemarin.”
Seketika itu juga pandangan Yebin ikut menaik. Dengan kedua matanya yang bulat polos, Yebin menatapku sambil menelan makanan yang selesai dikunyahnya.
“Pasti ada hal yang baik. Karena itu aku ada di sini sepagi ini, menunggui Oppa sarapan pagi.”
Begitu Yebin menjelaskan dengan ambigu. Kemudian kembali melahap satu sendok sereal. Mengabaikanku yang menatapnya penuh curiga.
Di sela kebingungan mengartikan perkataan Yebin, aku hanya dapat menebak-nebak. Lalu kutuangkan susu instan dalam botol dua literan ke dalam mangkuk serealku secukupnya. Dan langsung melahap sereal dengan susu full cream yang dingin.
“Kemarin aku pergi ke Firma Hukum Kyensang, bertemu Pengacara Bae.”
“Uhhuk! Uhhuk!”
Seketika aku terbatuk-batuk begitu mendengar Yebin berkata demikian. Keterkejutan yang kurasakan ini membuat tenggorokanku tercekat hingga aku terbatuk-batuk cukup lama. Sementara itu Yebin masih melanjutkan kegiatan makannya dengan begitu lihai.
“Kang Yebin!”
“Kenapa?!” celetuk Yebin menanggapi suaraku yang tiba-tiba meninggikan. “Aku ke sana dengan kedua kakiku. Dan menanyakan semua yang ingin kutanyakan pada wanita berambut ekor kuda itu. Aku sudah mendengar semuanya. Sekarang aku merasa tidak bodoh karena sudah tahu situasi apa yang sedang Oppa hadapi sendirian,” lanjutnya menceletuk.
Napasku berembus panjang-panjang mendengar itu semua dari Yebin.
“Kau benar-benar keras kepala, Kang Yebin,” gumamku pelan tidak habis pikir. Sudah kuduga, Yebin pasti tidak akan diam saja setelah melihat apa yag terjadi hari itu. Sudah kuduga dia tidak akan benar-benar diam menanggapi semuanya.
“Jangan memarahiku! Oppa akan sangat menyesal. Karena Oppa nanti akan sangat berterima kasih padaku.” Yebin lanjut merutuk dengan wajahnya yang memberengut seperti gadis remaja yang sedang merajuk.
Anehnya, di saat seperti ini aku justru tersenyum geli melihat tingkah laku Kang Yebin. Aku yang bodoh. Meski aku tahu kalau Yebin bukanlah gadis yang bisa dibungkam, aku masih mencoba membungkamnya dengan sikapku. Membuatnya memberontak dan melakukan spa yang biasa ia lakukan. Dasar keras kepala!
“Kau memang benar Kang Yebin,” gumamku pelan sambil tersenyum geli. Menertawakan diriku sendiri yang mencoba membuat Yebin tetap diam sampai akhir, yang pada akhirnya tetap gagal.
Selesai menggumam keheranan sambil terkekeh-kekeh, aku melanjutkan kegiatan sarapan. Ketika itu Yebin lanjut berkata, “Apa pun yang terjadi pernikahan kita musim panas ini tidak boleh batal. Oppa lakukan apa yang harus kau lakukan. Aku juga akan melakukan apa yang harus kulakukan supaya pernikahan kita tidak ditunda apalagi batal.”
Begitu besar tekad Yebin yang terlihat dari nada bicaranya. Aku pun menanggapi itu dengan tersenyum meriah sembari menatap wajah Yebin yang menunjukkan semangatnya yang sedang berkobar-kobar.
“Sebegitunya kau ingin segera menikah denganku?” candaku sambil terkekeh-kekeh yang seketika membuat Yebin menceletuk.
“Benar! Aku sangat ingin menikah denganmu. Kenapa?”
Aku terkekeh-kekeh. Melihat Yebin memasang raut wajah kesal begitu rasanya sangat menggelikan.
“Astaga, pasti kau benar-benar sudah jatuh pada pesonaku.”
“Aku hanya tidak tega melihatum semakin hari semakin menua sendirian kok!”
Seketika itu tenggorokanku terasa kering. Astaga. Kenapa Yebin tidak bisa berkata iya saja untuk menyenangkanku? Kenapa juga ia membahas usia?
“Ah, kau itu benar-benar,” gumamku pelan. “Kalau kau ingin cepat menikah, kenapa tidak kau selesaikan dulu skripsimu? Aku dengar dari ibu kalau kau sering kelayapan alih-alih mengerjakan skripsimu yang belum selesai,” ucapku yang seketika membuat Yebin mengumpat kesal.
“Sial. Skripsiku....”
***
Aku tersentak ketika tiba-tiba Pengacara Bae menghubungiku dan berkata bahwa Jesica telah menyerahkan diri ke polisi. Itu sangatlah aneh. Juga tidak masuk akal. bagaimana orang yang telah bersembunyi selama tiga tahun tiba-tiba muncul dan menyerahkan diri? itu sangatlah mustahil. Apalagi sebelumnya aku mencoba mencari melalui semua koneksiku tetapi tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Jesica.
Begitu selesai memamkirkan mobilku di depan gedung Kepolisian, Pengacara Bae menyapaku.
“Apa yang terjadi? Jesica menyerahkan diri semudah itu?” tanyaku bingung, tidak percaya. Mustahil jika melihat situasi ini aku langsung percaya begitu saja.
Dengan bangganya Pengacara Bae tersenyum miris. Membuat langkahku yang sedang menaiki undak-undakan menuju pintu masuk Kepolisian, berhenti.
“Tidak mungkin si jalang itu menyerahkan diri dengan suka rela. Sudah pasti aku yang membujuk... maksudku, mengancamnya untuk menyerahkan diri dan mengakui semua perbuatannya tanpa menyebutkan namamu atau pun Moonlight Coffe.” Pengacara Bae menjelaskan dengan begitu percaya dirinya. Sikapnya memang angkuh. Tetapi kinerjanya tidak bisa diragukan lagi.
“Jadi kau yang menemukannya?” aku balas bertanya.
Tetapi Pengacara Bae segera melengoskan pandangannya dariku. Ia melanjutkan langkah hingga mebuat aku mau tidak mau mengikuti langkahnya menuju pintu masuk.
“Akan kuceritakan nanti. Sekarang kau tinggal memberi kesaksian singkat tentang Jesica. Setelah semua beres, kasus Kwon Suk akan kubereskan dan kau akan bebas dari segala jeratan hukum yang ditudingnya.”
Terkesan, napas perutku berembus panang-panjang. Sepertinya dewi keberuntungan masih berpihak padaku. Buktinya saja ia masih memberikan keberuntungan padaku dan membuatkan jalan termudah untuk kulalui menjelang hari pernikahanku.
Ketika kami tiba tepat di depan pintu kaca kepolisian, Pengacara Bae tiba-tiba menghentikan langkah. Ia menyerongkan tubuhnya menghadapku. Memberikan tatapan tajam dengan ujung matanya yang memicing.
“Kenapa? Ada masalah?” sahutku curiga.
“Di mana kau mendapatkan bocah itu?”
Bocah itu? Aku membatin bingung sembari mencerna pertanyaan Pengacara Bae yang cukup membingungkan. Aku tidak mengerti siapa yang dimaksudnya bocah itu. Ahh, untuk sekedar informasi, Pengacara Bae memang tidak pernah berbicara sopan sekali pun pada kliennya. Bahasanya terkesan kasar dan tidak sopan. Serta tatapan tajamnya yang terkesan menantang. Dia memang tipe orang yang menyebalkan. Tapi, tidak apa-apa. Aku menyukai kinerjanya yang patut diacungi jempol.
“Tunanganmu. Dia sangat pintar, dan keras kepala.”
“Apa?”
Aku cukup terkejut dengan jawaban tidak terduga Pengacara Bae. Jadi yang dimaksudnya bocah itu adalah kang Yebin? Dasar sialan. Kenapa dia memanggil calon istri kliennya dengan sebutan bocah?
Aku hanya mneghela napas panjang mendapati Pengacara Bae yang segera menenggelamkan dirinya ke balik pintu kaca Kapolisian. Ia tidak memberiku kesempatan untuk memarahinya karena menyebut calon istri kesayanganku dengan sebutan bocah.
Di kantor polisi itu aku memberikan kesaksian singkat tentang Jesica yang pernah bekerja di kafeku. Sekaligus mengikuti berjalannya penyelidikan tentang Kwon Suk dan kasus penghindaran pajak yang dilakukannya. Keadaan memang semakin baik setelah Jesica menyerahkan diri. tetapi Moonlight Coffe yang kukelola tetap terancam popularitasnya karena kasus penghindaran pajak Kwon Suk. Beberapa wartawan yang sedang berada di Kepolisian sepertinya juga sedang sibuk menulis artikel tentang itu. Mereka sangat serakan dan kadang suka mengada-ngada.
Beberapa waktu aku menunggu Yebin keluar. Aku menunggunya dengan perasaan tergesa-gesa ingin segera melihatnya, bersama segenap emosi yang bercampur dalam hatiku. Beberapa waktu lalu, tepat sebelum aku meninggalkan gedung Kepolisian, Pengacara Bae mengucapkan suatu hal tentang Yebin.
Ia berkata, “Berterima kasihlah pada calon istrimu. Dia yang menemukan keberadaan Jesica dan membuatku bisa menemukannya.”
Memang aku terkejut. Berapa kali pun berpikir, aku tidak menemukan jawaban bagaimana Yebin bisa menemukan keberadaan Jesica sementara aku yangs ejak dulu mencarinya saja tidka pernah bisa menemukan keberadaannya dengan semua koneksi yang aku miliki.
Aku ingin cepat-cepat bertemu Yebin dan memeluknya dengan mesra. Tapi, kenapa ia tidak juga terlihat?
Tepat lima menit kemumdian, seseorang memanggilku dengan suara kecilnya.
“Oppa?”
Segera aku menolehkan kepala. Kudapati Yebin yang sedang berjalan dari kejauhan dengan memeluk berkas skripsi tebal menggunakan kedua lengannya.
Otomatis senyumku merekah.
“Yebin~a!”
Yebin berjalan mendenkat dengan tatapan penuh tanda tanyanya.
“Oppa, kenapa kau ada di sin—”
Belum sempat ia meneyelesiakan ucapannya ketika tiba di hadapanku, aku segera memeluknya erat. Mendekat tubuh mungil Yebin dengan erat hingga membuatnya kebingungan.
“Oppa, pa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba memelukku?” celetuknya sementara masih ada dalam pelukanku.
Aku pun melepas pelukannya. Menarik tangannya masuk ke dalam mobil. merebut tumpukan berkas dalam pelukan Yebin lalu meletakkannya ke kursi belakang.
“Tidak apa-apa. Aku hanya merindukanmu. Bagaimana skripsimu?” tanyaku sambil menyalakan mobil dan mulai melajukannya menjauhi unievrsitas tempat Yebin belajar.
“Aku hanya tinggal menunggu sidang.” Yebin menjawab dengan sekelebat perasaan curiganya padaku. Bisa jadi. Ia mungkin sedang curiga kenapa aku datang menjemputnya tanpa menghubunginya terlebih dahulu. Juga curiga kenapa aku tiba-tiba memeluknya erat seperti tadi.
“Ngomong-ngomong, kita mau ke mana?” Setelah beberapa saat Yebin kembali memulai percakapan.
Sembari berpikir mau ke mana, aku menggumam, “Hmm... Kau sudah makan? Belum kan? Mau makan apa?”
Tanpa berpikir panjang Yebin langsung menceletuk, “Aku mau makan bibimbab (masakan trasisional Korea; nasi campur).”
“Ayo, kita makan Bibimbab.”
***
Yebin POV
Sejak beberapa hari lalu ibuku pergi meninggalkan rumah. Ia terus-terusan diminta bibi untuk ikut menemaninya merawat nenek yang sedang sakit di Incheon. Sehingga aku di rumah sendirian. Aku hanya ditemani Somin yang datang setiap pukul satu siang untuk membantuku mengemasi barang-barang pesanan pelanggan di Biniemoon.
Hari ini aku juga akan menghabiskan waktu sendirian di rumah. Oops, jangan salah. Tidak mungkin aku sendirian di rumahku. Aku tidak suka sendirian. Aku selalu mencari teman supaya tidak sendirian. Jadi, hari ini aku memutuskan untuk berada di rumah Yul Oppa sepanjang hari.
Satu minggu menjelang pernikahanku. Sekarang, aku benar-benar merasa akan menikah. aku mempersiapkan semua persiapan pernikahan dengan Yul Oppa. Memilih dekorasi ruang resepsi. Memilih souvenir. Melakukan foto Preweeding beberapa hari lalu. menentukan desain undangan yang telah disebar ke seluruh keluarga dan juga teman-teman dekatku.
Jantungku berdebar-debar menunggu hari pernikahanku. Hari-hari yang kulalui seolah menjadi hari paling indah sepanjang hidupku. Oppa memang sedang sibuk mengurusi Moonlight Coffe yang sedang mengalami krisis. Tetapi aku menemaninya menyelesaikan permasalahan itu. Aku berada di sampingnya setiap kali ia merasa kelelahan. Aku menjadi bahu sandarannya setiap kali ia merasa lelah setelah seharian sibuk ke sana kemari untuk bertemu dengan para investor Moonlight Coffe yang merasa dirugikan karena turunnya saham Moonlight Coffe akibat kasus Manager Kwon Suk yang melakukan penghindaran pajak dan juga penggelapan dana.
Aku ingin sekali membantunya. Tetapi Yul Oppa tidka mengizinkanku untuk ikut berpartisipasi dalam menyelesaikan permasalahan Moonlight Coffe. Ia menyuruhku tetap tenang—walau aku tahu yang tidak tenang sebenarnya adalah Yul Oppa, bukan aku. Ia juga menyuruhku untuk tidak ikut memikirkan krisis yang tengah dialami Moonlight Coffe.
Untuk kali ini aku akan menuruti perkataan Yul Oppa. Sampai hari pernikahan kami tiba, aku akan menuruti apa yang Yul Oppa katakan—untuk tetap diam dan tidka melakukan apa-apa. Tetepi, ketika kami telah memiliki ikatan yang sah di mana hukum, aku tidak akan diam saja. menggunakan caraku sendiri aku akan membantu Yul Oppa menangani permasalahan kafenya.
Di rumah besar ini aku hanya bersama Hun Oppa. Yul Oppa masih belum kembali setelah siang tadi berkata akan bertemu seorang investor di kafe.
Untuk sekedar informasi saja, sampai hari pernikahanku tiba, Hun Oppa masih tinggal di sini. Meski sebenarnya ia telah membeli satu unit apartemen di dekat kantornya. Yul Oppa memintanya untuk tetap tinggal di rumah sampai hari pernikahannya, dan Hun Oppa pun menurut meski merasa berat hati.
Jam tiga sore tadi Hun Oppa telah menyelesaikan pekerjaannya. aku tidka mengerti kenapa ia pulang lebih cepat dari biasanya. Mungkin pekerjaannya selesai lebih cepat, ini hanya tebakanku saja.
Hun Oppa sedang membersihkan diri di kamarnya yang terletak di lantai dua. Sedangkan aku berada di dapur untuk membuatkan cappucino kesukaan Yul Oppa ketika nanti ia datang. beberapa waktu lalu aku menelepon. Dan ia berkata akan segera pulang.
Tepat setelah aku mengaduk cappucino dalam cangkir yang kusiapkan untuk Yul Oppa, terdengar suara mobil datang. tidak salah lagi. itu adalah Yul Oppa. Tidak lama kemudian, kulihat ia masuk ke dalam rumah dan beradu pandang denganku.
“Oh, kau ada di sini?”
Dari kejauhan Yul Oppa menyahut. Senyum meriahnya bermekaran di wajah ketika berjalan menuju arahku.
“Aku membuatkan cappucino untukmu,” ucapku.
“Oh ya?”
Setibanya di hadapanku, aku menyerahkan cangkir cappucino pada Yul Oppa. Ia segera meraih cangkir itu dan menyesap minuman cappucino secara perlahan.
Melihatnya tampak menyukai minuman buatanku, aku pun tergiur untuk mencicipinya.
“Boleh aku mencicipinya?” kataku penuh permohonan.
Yul Oppa terkekeh sambil menyerahkan cangkir minuman padaku.
“Tentu saja, Nyonya Moon.”
Aku tersenyum selagi menerima uluran cangkir ini. Kemudian mencicipinya. Rasa manis dan creamy dari cappucino. Serta aroma kafein memenuhi mulutku.
“Aduh, bukan seperti itu caranya meminum cappucino.”
Yul Oppa mendesah panjang melihat tumpukan busa putih dari cappucino di atas bibirku. Lalu ia mendekatkan wajahnya pada wajahku. Menghisap semua bisa putih di bibirku menggunakan bibirnya. Mengapit bibir atasku dengan kedua bibirnya. Seketika itu aku memejamkan mata.
“Busanya manis,” gumam Oppa selesai mencium bibirku. Ia terkekeh kekeh. Lalu sekali lagi mengecup bibirku dan menggumam, “Augh, manis sekali.”
Dasar modus. Aku hanya memicingkan kedua mataku melihat Oppa yang terkekeh-kekeh usai menciumku. Tepat setelah itu, terdengar suara bel diiringi ketukan pintu.
“Ada yang datang. Oppa memiliki tamu?” tanyaku sambil menoleh ke arah pintu.
“Siapa memang? Hei, tidak mungkin.”
Setelah bergumam tak jelas, Oppa berjalan meninggalkan dapur. Menuju pintu rumah. Sedangkan aku berjalan mengikutinya di belakang.
Yul Oppa membukakan pintu pada seorang tamu yang memencet bel rumah. Terlihat seorang wanita berambut panjang yang sednag berdiri tepat di depan pintu. wanita itu... aku seperti pernah melihatnya. Di mana ya?
“Siapa ya?” tanya Oppa pada wanita berambut panjang yang memperlihatkan senyum penuh ramah tamah pada wajahnya yang cantik.
Aku berdiri di sebelah Yul Oppa, berhadapan dengan wanita yang tampak tidak asing itu.
“Anda siapa ya?” lanjutku bertanya.
Wanita itu membungkukkan badan untuk menyapa. Aku dan Yul Oppa yang merasa bingung, hanya ikut menganggukkan kepala canggung menanggapinya.
“Apa ini alamat tempat tinggalnya Hakim Hun? Apa beliau sedang ada di rumah?” tanya wanita itu ramah.
Keningku mengernyit. Begitu pun Yul Oppa.
“Ya. Saya kakaknya Hun. Anda siapa?” Yul Oppa kembali melontarkan pertanyaan.
“Perkenalkan, saya....”
“Oh, Jinhee~ssi.” Hun yang sedang menuruni anak tangga menceletuk, seketika membuat aku dan Yul Oppa menoleh ke belakang. Mendapatu Hun Oppa yang baru saja mandi dengan rambutnya yang masih basah. Saat itu juga aku menyimpulkan, Hun Oppa... sudah memiliki kekasih?
***