Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Puncak Perselisihan



Puncak perselisihan


“Aku merasa dia merencanakan sesuatu. Tapi tidak tau apa yang sedang


lelaki itu pikirkan.” Di tengah kesibukan malam, Haeri yang sedang bersama Yul


di halaman vila pada hari yang telah gelap ini.


Sudah pasti, yang mereka bicarakan adalah Leo Park. Karena keberadaan Leo


park di pulau ini menjadi satu hal yang sangat mencurigakan untuk Yul dan


Haeri. Bagi mereka, Leo Park adalah orang yang sanggup melakukan apa saja untuk


mencapai apa yang diinginkan. Tidak berbohong jika Yul sendiri merasa bahwa


tertinggalnya Leo Park di pulau ini gara gara seorang staf yang sakit itu sepertinya


sudah direncanakan.


“Aku tidak tau apa yang sedang dia rencanakan. Aku hanya lebih berhati


hati saja,” jawab Yul menanggapi gumaman Haeri.


Meski begitu, Haeri merasa sangat panik kepada Yul. Kejadian di malam


sebelumnya, di mana Yul hampir di tusuk oleh Leo Park menggunakan benda tajam


yang memantulkan cahaya silau, juga tentang matinya kelindi Hanyul dengan


begitu keji. Kedua hal itu membuat Haeri berpikir yang tidak tidak dan merasa


sangat khawatir. Selama ia bekerja sebagai pengacara, belum pernah Haeri


temukan lelaki seperti Leo Park, yang memiliki topeng sangat tebal dan mampu


menipu semua orang dengan sikap ‘baik’ dan telatennya. Identitasnya sendiri


sangat tidak jelas. Dan ia memilki banyak sekali hal tersembunyi yang benar


benar terahasiakan dari dunia. Seolah olah ia bisa mengontrol segala hal dalam


genggamannya.


Yul dan Haeri lanjut bercakap cakap di halaman vila sambil menghabiskan


satu kaleng minuman hangat. Mereka tampak asik ngobrol bersama sampai sampai


Yul tidak menyadari bahwa dari lantai dua, Yebin melihatnya berbicara dengan


begitu asiknya dengan Haeri.


Sepercaya apa pun Yebin kepada Yul, tetap saja Yebin adalah wanita yang


hatinya mudah cemburu. Semua wanita memiliki hati yang kurang lebih sama. Mudah


cemburu dan mudah merasa terasingkan dari seseorang yang menjadi bagian dari


hidupnya. Yebin tahu bahwa hubungan Yul dengan Haeri itu hanya sebatas teman,


juga sebatas klien dan penasihat hukumnya. namun, melihat mereka berdua duaan


seperti itu tentu bukanlah hal yang menyenangkan untuk Yebin. Tidak peduli


seberapa ia tahu Yul mencintainya dan hanya akan mencintainya seorang, tetap


saja Yebin merasakan secercik kecemburuan melihat suaminya berdua duaan bersama


wanita lain di halaman vila. Meski mereka hanya membicarakan bisnis atau hal


yang bukan bersifat privasi, tetap saja Yebin merasa cemburu.


Ini adalah malam terakhir ia tinggal di pulau kecil yang indah dan asri


ini. Di malam terakhir ini, Yebin ingin menghabiskan semua waktunya bersama


Yul. Berdua, bermesra mesraan, dan bercinta. Tetapi melihat Yul justru berdua


duaan dan mengobrol bersama Haeri di depan vila itu membuat semua harapan Yebin


sirna.


“Kau tidak cemburu melihat mereka berdua duaan seperti itu?”


Tiba tiba suara Leo menyahut dari belakang. Yebin yang sedang berdiri di


balkon lantai dua ini pun seketika menolehkan kepala. Tersentak dengan


keberadaan Leo Park.


“Tidak. Untuk apa aku cemburu? Mereka hanya berbicara tentang bisnis,”


jawab Yebin yakin.


Kepala Leo memiring. “Jangan berbohong. Raut wajahmu tidak pernah berbohong.


Kau sangat cemburu kan?” timpal Leo Park.


Yebin pun menyerah. Ia mengembuskan napas panjang sambil kembali


melengoskan pandangan.


“Bukan urusanmu.”


“Ya. Itu memang bukan urusanku. Tapi sebentar lagi akan menjadi urusanku,”


gumam Leo Park lalu menyesap kopi instan dalam kaleng genggamannya.


Yebin kembali menoleh sambil mengernyitkan alis. “Maksudmu?”


Pertanyaan Yebin tersebut tidak dijawab oleh Leo Park. Lelaki itu hanya


mengedikkan bahu dan mengernyitkan salah satu alis. Membuat tanda tanya dalam


benak Yebin itu semakin besar.


Alih alih menjawab pertanyaan Yebin, Leo malah mengulurkan satu minuman


kaleng kepada Yebin. Satu kaleng kopi instan, seperti yang diminumnya. Ia mengulurkan


kopi tersebut kepada Yebin yang kelihatan ragu untuk menerima minuman darinya.


“Tenang, aku tidak meracunimu atau apa. Aku hanya memberimu kopi instan


kalengan.” Begitu Leo menceletuk ketika melihat Yebin tampak ragu ragu menerima


minuman kaleng yang diberinya.


Mendengar itu, Yebin berdeham deham pelan. Lalu menerima minuman kaleng


yang diberikan Leo. Benar juga. Kan ini adlaah minuman dalam kaleng. Tidak mungkin


lelaki itu bermacam macam dengan memberikan racun atau zat lainnya dalam kaleng


minuman yang masih tersegel dengan baik.


Lelaki itu tersenyum melihat Yebin menerima minuman kalengnya. Entah apa


makna di balik senyuman itu, Yebin tidak peduli. Hatinya sedang kesal karena


melihat Yul berduaan dengan wanita lain.


Segera Yebin membuka minuman kaleng tersebut. Meminumnya perlahan.


“Akhirnya, kau tidak memberikan penolakan lagi padaku,” desus Leo di sela


Yebin meminum kopinya. Lelaki itu tersenyum seperti tadi karena merasa senang


Yebin tak menolak apa yang dia lakukan. Selama ini hanya reaksi penolakan yang


Leo dapatkan dari Yebin. Dan sekarang Yebin menerima minuman yang diberikan


Leo, artinya Yebin tidak menolaknya lagi.


“Hanya kebetulan saja aku sedang ingin minum kopi. Jangan kegeeran,”


timpal Yebin.


“Terserah. Faktanya kau tidak menolah apa yang ingin kuberikan.”


Yebin menoleh ke samping. Yang dilihatnya saat ini bukanlah Leo Park yang


ia lihat ketika di dalam lift kemarin malam. Lelaki yang sekarang berdiri di


hadapan Yebin  bukanlah sosok Leo Park


yang mampu mencengkeram tangannya dengan begitu kasar dan mengancamnya dengan


kata kata yang menusuk. Di depan mata Yebin sekarang, Leo park hanyalah sosok


lelaki yang haus akan kasih sayang dan menjadi pemuja wanita. Yebin sama sekali


tak takut pada laki laki yang sekarang ada di hadapannya. Namun, Yebin sangat


takut pada laki laki yang kemarin mencengkeramnya di dalam lift. Dan kedua


lelaki yang benar benar sangat berbeda itu adalah laki laki yang sama.


Merasa bingung kembali, Yebin hanya mengembuskan napas panjang panjang. Ia


meneguk kembali minuman kalengnya dan tanpa sengaja menurunkan pandangan ke


arah halaman. Di halaman vila itu, Yul sedang mendongakkan kepalanya ke atas. Beradu


pandang dengan Yebin dengan tatapan aneh satu sama lain. Jelas sekali, tatapan


aneh itu bukanlah tatapan dari rasa senang. Melainkan, tatapan kesal lantaran


rasa cemburu yang menguasai benak masing masing.


Gara gara peristiwa itu, Yul merajuk tidak jelas kepada Yebin. Malam harinya,


mereka sedang beres beres. Kapal very yang akan membawa mereka kembali ke Seoul


sudah datang dan akan berlayar nanti pukul tiga dini hari.


“Apa alasanmu merajuk seperti itu, Sayang? Bukannya kau juga melakukan


hal yang sama bersama wanita itu? Minum kopi bersama di depan vila dan asik


mengobrol.”


Yebin yang sama sekali tidak mengerti mengapa Yul merajuk, menceletuk


sembari mengikutinya mondar mandir di dalam kamar. Untung saja malam ini Hanyul


tidur dengan neneknya. Kalau tidak, mungkin Hanyul akan terganggu dengan suara


langkah kaki Yul yang gusar.


Mendengar celetukan istrinya, tubuh Yul seketika berbalik. Wajahnya penuh


kesal. Ia menatap Yebin dengan kening yang mengernyit dan salah satu alisnya


yang menaik.


“Sayang, kau sendiri yang mengatakan padaku malam itu. Supaya aku berhati


hati terhadap Leo Park. Kau yang mengatakannya. Tidak ingat? Kenapa justru kau


yang dekat dekat dengannya? Seharusnya kau juga menjauhinya dan lebih berhati


hati lagi.” Yul mencerocos panjang lebar.


Yebin yang mendengarkan argumen suaminya itu hanya terdiam. Baiklah. Ia memang


mengatakan hal itu kemarin malam. Berkata pada Yul supaya hati hati berhadapan


dengan Leo Park. Tapi, sedikit berbohong jika Yebin tidak mengaku bahwa ia


mengatakannya karena terdesak keadaan. Waktu itu ia masih terbawa suasana. Dan tidak


salah juga ia mengatakan hal itu. Karena Yul memang harus berhati hati terhadap


Leo Park. Hanya saja, tadi sore itu Yebin juga sedang dalam suasana hati buruk


melihat Yul berdua duaan dengan Jin Haeri. Pun kemunculan Leo Park di waktu


yang sangat tepat, ketika Yebin dipenuhi rasa kesal pada Yul, dan memberikan


minuman kopi itu untuknya. Jadi jangan salahkan Yebin jika ia tadi menikmati


kopi kaleng yang disuguhkan Leo Park. Akibat kopi itu, kekesalan dan rasa


cemburu dalam benak Yebin perlahan lahan mereda.


“Sayang...” panggil Yebin. Ia mengembuskan napas panjang panjang sambil


menatap Yul.


“Kenapa?” jawab Yul dingin.


“Jujurlah padaku, Oppa itu sedang mengkhawatirkanku apa sedang cemburu


melihatku berdua dengan Leo Park di balkon vila?” tanya Yebin lugas.


Sejenak Yul terdiam. Ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Bahwa sebenarnya


ia kesal karena cemburu, bukan karena khawatir. Tentu saja ia mengkhawatirkan


Yebin. Namun di situasi seperti tadi, yang ia rasakan adalah rasa cemburu.


Yul pun menghela napas panjang panjang. Pasrah. Menyerah dan ingin


mengakui semuanya.


“Hhh. Baiklah.... Tidak ada yang perlu ditutup tutupi lagi. Aku memang


cemburu melihatmu bersama Leo Park dan minum kopi bersama,” ucap Yul pasrah. Kepalanya


menunduk dalam. Tak dapat menatap Yebin dengan legas. Lalu kakinya ikut melemas


dan ia terduduk begitu saja ke atas ranjang tidur.


“... Aku tahu, dan kau juga tahu, Leo Park menyukaimu. Dia mengidolakanmu


sebagai sosok wanita yang ingin dia miliki. Dia selalu memancing emosiku dengan


mengatakan hal hal tidak masuk akal tentang perasaannya padamu. Bagaimana aku


bisa bersabar lagi? Aku sangat marah setiap kali dia membanggakan kau di


hadapanku. Padahal aku adalah suamimu, harusnya aku yang membanggakanmu di


hadapannya, bukan sebaliknya. Benar jika aku marah. Tapi aku harus tetap tenang


karena tak ingin membuatmu atau siapa pun berada dalam bahaya lagi karena


ulahnya. Aku merasa cemburu karena menyayangimu. Aku marah karena aku merasa


berhak marah sebagai suamimu, Kang Yebin.”


Yul melanjutkan kalimatnya dengan penuh penghayatan. Kemudian Yebin


mendekat padanya. Memeluk tubuh Yul. Menenggelamkan wajah lelaki itu dalam


pelukannya. Menepuk nepuk punggung Yul dan mengelusnya dengan lembut.


“Baiklah. Aku minta maaf. Tadi aku hanya merasa kesal melihatmu berduaan


bersama Jin Haeri di hari terakhir kita tinggal di pulau.” Yebin berucap lirih


lelaki itu sangat menyukaiku. Tapi satu hal yang perlu kau ketahui, Sayang. Aku


hanya menyayangimu. Aku tidak akan pernah berpaling dari laki laki yang


menyayangiku dengan teramat dalam sepertimu. Bahkan jika Song Joong Ki mengaku


menyukaiku , aku tidak akan berbalik dan tetap memilihmu,” lanjut Yebin


berucap.


Sontak Yul terkekeh mendengar kalimat terakhir Yebin yang sangat tidak


masuk akal. Kepalanya mendongak, menatap yebin yang tersenyum penuh goda.


“Kau itu ada ada saja. Song Joong Ki? Dia adalah idola hampir setiap


wanita di negeri ini. Tidak mungkin kau membandingkanku dengannya. Dan yang


paling penting, tidak mungkin Song Joong Ki menyukaimu.”


Ucapan Yul yang sangat realistis dan masuk akal itu sontak membuat Yebin


tertawa. Benar juga. Bagaimana mungkin Song Joong Ki menyukainya yang bukan


siapa siapa itu? Aktris bukan, model bukan, idol bukan, penyanyi juga bukan. Itu


sangat tidak mungkin sekali.


“Hahaha! Setidaknya seperti itu, Sayang. Aku hanya ingin meyakinkan bahwa


keberadaanmu itu tidak bisa tergantikan oleh siapa pun. Itu saja.” Yebin


berucap penuh rasa yakin. Membuat Yul langsung menarik kedua lengannya. Dalam sejekap,


Yebin pun duduk manis di pangkuan Yul.


“Cantik sekali istriku,” desus pelan Yul sambil membelai wajah Yebin yang


berbinar binar itu. Jangan lupakan tatapannya yang penuh goda. Jika sudah


seperti ini, Yebin tahu apa yang lelaki itu inginkan. “Ini kesematan yang


bagus. Malam terakhir kita di pulau harus diisi dengan hal hal yang sedikit


menggelora. Apalagi Hanyul juga sedang sama neneknya. Kesempatan yang bagus


kan?” lanjut Yul melirih.


Yebin hanya tersenyum. Itu pertanda baik untuk. Lampu hijau.


Akhirnya malam terakhir di pulau itu menjadi malam yang berkesan untuk


mereka berdua. Tidak peduli perdebatan apa yang terjadi pada keduanya sebelumnya,


akhir dari ceirta mereka selalu indah dan baik baik saja.


Namun siapa yang jika di antara semua orang yang menghuni vila pada malam


ini, ada seorang yang belum tidur. Leo Park, yang sedari tadi menguping isi


pembicaraan Yebin dengan Yul tentang dirinya, keluar dari vila dalam keadaan


benar benar marah. Ia membawa sebuah pisau dapur sambil terus berjalan dengan


langkah gusar menuju ke tengah hutan. Berjalan ke belakang vila. Mencari target


baru berupa hewan yang dapat ia binasakan sebagai bentuk peluapan dari


amarahnya.


Dini hari pukul tiga semua orang yang ada di fila itu terbangun untuk


siap siap melakukan perjalanan pulang. Alasan mengapa mereka memilih untuk


berangkat di jam sebelum subuh itu adalah supaya ketika mereka nanti tiba di


pesisir Busan, hari sudah memasuki pagi. Sehingga tidak akan merepotkan lagi


untuk langsung melakukan penerbangan menuju bandara di Seoul.


Di waktu yang menunjukkan pukul tiga ini semua orang di dalam vila bangun


dan bersiap siap. Mengangkat angkat benda dan koper yang akan dibawa kembali


dari pulau. Di pesisir pantai itu, terlihat Yul yang sedang mengangkat angkat


benda ke dalam kapal, Yebin yang menggending Hanyul yang masih terlelap, dan


beberapa orang lainnya yang membantu Yul mengangkat semua benda menuju kapal. Ditemani


Hun dan Jina yang siap mengantarkan kepergian mereka.


“Oppa, kenapa bajumu kotor sekali?” Di sela kesibukan orang orang di


pesisir pantai, Jina yang melihat baju kakaknya itu penuh dengan noda,


menceletuk. Ia berdiri menghadap Leo dan memeriksa lengan bajunya yang kotor


dengan tanah.


“Ah, ini, aku tadi terpeleset di tengah hutan,” jawab Leo tak acuh.


“Kalau begitu gantilah pakaian, Oppa. Bajumu kelihatan kotor sekali.”


“Begitukah? Baiklah.” Leo berucap. Ia tersenyum pada Jina. Sebelum berlalu


untuk mengganti baju lelaki itu menceletuk, “Sudah kuduga. Hanya kau seorang


yang memedulikanku, Jina-ya.”


Setelah itu Leo Park naik duluan ke dalam kapal. Masuk ke salah satu


bilik di dalam kapal untuk mengganti pakaian kotornya dengan pakaian bersih. Ketika


ia sudah selesai berganti baju, semua orang sudah berada di dalam kapal. Kapal itu


siap mulai berlayar. Di pesisir pantai, Jina dan Hun yang sedang berpelukan itu


melambai lambaikan tangan pada orang orang yang akan meninggalkan pulau.


“Hati hati di jalan, Semuanya! Sampai bertemu hari Jumat depan di Seoul.”


Hun menceletuk.


Kapal itu pun berlayar meninggalkan pulau kecil yang dihuni beberapa


orang. Ah, perlu diketahui juga bahwa di pulau itu ada beberapa orang yang


bertugas sebagai pengurus pulau. Jadi Hun dan Jina tidak sendirian di pulau


itu. Tetapi ditemani beberapa pengurus pulau yang akan membantunya bertahan


hidup di pulau ini.


Hanya membutuhkan dua sampai tiga jam untuk kapal dari pulau yang dinamai


sebagai ‘Moon Family Island’ itu untuk sampai di pesisir Busan. Meski itu


memang pulau kecil dan terpencil, letaknya sangat strategis karena tidak perlu


memakan waktu begitu lama untuk sampai di sana. Di dalam kapal terdapat


beberapa bilik kecil yang dapat digunakan penumpang untuk beristirahat. Yebin


yang kelelahan menggendong Hanyul itu ikut tertidur di sebelahnya. sedangkan


Haeri tampak sedang asik mengobrol dengan kapten kapal yang masih muda dan


energik itu.


Di dek kapal Yul sedang terdiam memandangi lautan. Pulau kecil miliknya masih


terlihat dari kejauhan. Tampak gelap di tengah langit hitam dan hanya


memperlihatkan titik titik lampu dari vila dan resort.


“Pasti kau bangga sekali ya, memiliki pulai pribadi yang bisa kau


tinggali kapan saja, punya bisnis kafe dan retail yang lancar seperti air


terjun Niagara, bahkan memiliki keluarga yang harmonis.”


Tiba tiba Leo menyahut dari belakang. Ia berdiri berjajar dengan Yul di


dek kapal, memandangi hitamnya lautan yang seolah bisa menelannya dalam dalam


dan dapat membawanya ke dalam lapisan perut bumi terdalam.


Tanpa menoleh, dengan pandangan yang lurus, Yul menjawab dengan gumaman.


“Tentu saja aku bangga. Aku mendapatkan semua itu dengan usaha yang


sangat keras dan sampai tertatih tatih. Aku tidak ingat berapa kali Moonlight


Coffe berada dalam krisis besar sebelum akhirnya menjadi kafe nomor satu di


negeri ini. Dan keluarga harmonis... itu tidak kudapatkan dengan mudah. Dari


awal bertemu, aku dan Yebin sudah dihadapkan dengan situasi situasi yang sangat


rumit dan menusuk nusuk. Aku dan Yebin sudah melalui banyak jurang bersama dan


saling menguatkan satu sama lain, sampai detik ini.” Yul bercerita panjang. Bukan


berniat pamer, ia hanya ingin orang lain tahu bahwa semua yang dimilikinya saat


ini tidak semata mata ia dapatkan dengan mudah, tetapi juga dengan usaha yang


begitu keras dan bahkan tubuhnya itu sudah remuk berkali kali.


“Jadi maksudmu, orang selain dirimu tidak melalui kehidupan yang sesulit


itu? Tidak berusaha sekeras itu karena tidak bisa menjadi sepertimu yang


memiliki segalanya?” sahut Leo Park sinis.


Ketika itu juga Yul menolehkan kepala. Bertatapan dengan Leo Park.


“Apa seperti itu kau mencerna kata kataku?” balik Yul bertanya.


“Kurang lebih begitu.”


“Padahal aku hanya ingin katakan bahwa tidak sepantasnya orang lain


menilaiku berdasarkan apa yang kumiliki saat ini. Orang orang tidak tahu proses


seperti apa yang kulalui dan merasa iri padaku tanpa sebab yang jelas.” Yul


berucap.


“Memang orang sepertimu tau apa tentang perasaan orang orang kecil


sepertiku? Kau bahkan tidak peduli jika salah satu di antara kami ada yang


jatuh karena bisnismu yang semakin membludak,” timpal Leo Park tak acuh.


Apa yang lelaki itu katakan sontak membuat kening Yul mengernyit. Ia tidak


yakin apa tujuan Leo mengatakan hal semacam itu.


“Bukankah itu yang dinamakan bisnis? Bisnis adalah tentang persaingan,


daya saing pasar, kesempatan, dan peluang. Sejauh ini kafeku sudah mensponsori


ribuan bisnis waralaba kecil yang dikelola perseorangan. Berkembangnya bisnis


kafeku berarti juga berkembangnya bisnis bisnis waralaba kecil yang mendapat


sponsor dariku atau bahkan bermitra denganku. Aku tidak yakin apa hal seperti


itu yang kau sebut sebagai menjatuhkan,” sergah Yul. Ia menatap tajam Leo yang


tampak tidak senang mendengar jawabannya.


“Dasar manusia tidak tau diri! Gara gara orang sepertimu itu, banyak kaum


tertindas.” Leo kembali berucap dengan begitu sinisnya. Ia sontak menyerongkan


tubuh menatap Yul dan mencengkeram kerahnya.


“Lepaskan!” Yul pun langsung menepis cengkeraman tangan Leo. Ia membenarkan


kerah lehernya sambil memberengutkan wajah. Mempertanyakan apa maksud Leo Park


mencengkeram lehernya seperti tadi. “Apa yang kau laku—agh!”


Kalimat Yul tidak terselesaikan karena ia mendapatkan pulukan di perut


yang seketika membuat tubuhnya terhempas ke lantai dek. Perutnya dipukul


menggunakan alat pemukul yang terbuat dari besi. Rasanya amat menyakitkan. Yul


memegangi perutnya sambil mengernyit kesakitan dan merintih rintih. Ia merasakan


kedua tangannya yang basah karena darah dari perutnya yang mencucur keluar.


Di hadapannya, Leo Park yang masih terbalut emosi itu menatap Yul dengan


tajam, seolah olah ingin menghancurkannya sekarang juga. Napasnya tersenggal


senggal. Besi pemukul yang terpaut di kelima jarinya itu lepas dari tangannya


dan jatuh ke lantai.


“Ap—apa... yang kau inginkan?” tanya Yul di sela rasa sakitnya yang tidak


tertahankan.


“Aku? Aku menginginkan semua yang kau punya. Kekayaanmu, kekuasaanmu,


keserakahanmu, dan terutama istri cantikmu. Aku menginginkan semuanya. Maka dari


itu aku harus menghancurkanmu,” jawah Leo Park tidak habis pikir.


Hari masih gelap. Namun di ujung timur sudah terlihat secercah dari sinar


matahari yang sebhentar lagi akan terbit. Namun lautan masih dikepung oleh


warna hitam dan langit pun sepadan.


“Yul-a!”


Di sela pertikaian mereka, terdengar pekikak Haeri yang baru tiba di dek.


Wanita yang terkaget setengah mati itu langsung berlari ke arah Yul dan ingin


menolongnya. Haeri berjongkok di hadapan Yul, melihat keadaannya.


“Minggirkau, jika tidak ingin kuhancurkan!” Leo yang sedang dikuasai


amarah itu menjambak rambut Haeri dan menjauhkannya dari Yul. Akibatnya, Haeri


ikut terpental menjauh. Di waktu itulah, Yebin keluar setelah mendengar


keributan di luar.


“Sayang!”


**