
Bab 12
Bukan salah keadaan, hanya saja takdir tidak mendukung
“Apa keluaragamu membutuhkan uang untuk pengobatan ibumu? Aku bisa memberinya. Berapa pun, aku bisa membiayai pengobatan ibumu kalau itu bisa membuatmu tetap bersamaku.”
Mino berucap penuh tekad. Bertahun tahun waktu yang dihabiskannya bersama Jiwon tidak ingin ia akhiri begitu saja.
Jiwon yakin, jika ia mengatakan berapa jumlah uang yang ia butuhkan untuk pengobatan ibunya, Mino akan memberikan secara suka rela. namun Jiwon tidak akan mengatakannya.
Kepala Jiwon menggeleng geleng. “Bukan uang masalahnya. Masalahnya adalah, ayahku ingin kembali memulai bisnis. Untuk kelangsungan hidup keluargaku, ayahku ingin membuka bisnis dan ada ada seseorang yang mengajak ayah untuk melakukannya bersama. Tapi, sebagai gantinya, mereka menginginkanku untuk menjadi menantu di keluarga mereka. Pilihanku hanya ada dua, menikah dengan alasan bisnis, atau mati kelaparan bersama keluargaku, bersama ayah dan ibuku.”
Tatapan pilu Jiwon tidak dapat menutupi kesedihan atas semua yang terjadi padanya ini. Ia sungguh dibingungkan untuk memilih. Hatinya masih ingin bersama Mino seperti janji yang mereka ucapkan di masa lalu. Namun ia ingin bertahan hidup bersama ibu yang sangat ia sayangi dan ayahnya, ingin hidup enak seperti dulu lagi sebagai putri tunggal di keluarganya.
Ini adlah pilihan yang teramat berat untuk Jiwon sendiri. Ia berpikir cukup lama untuk memutuskan mana yang terbaik untuknya dan untuk Mino. Ia tahu, Mino akan berada dalam situasi sulit karena ia tinggalkan. Namun, jika ia terus bersama Mino, posisi Mino akan semakin sulit karena tekanan dari ayahnya. Dan Jiwon merasa bahwa selama ini kehidupan Mino sudah cukup berat untuknya bertahan. Ia tidak ingin menjadi beban baru dalam hidup Mino dengan keegoisannya untuk tetap bersama Mino meski pada akhirnya Mino akan mendapat sejuta tekanan dan ancaman dari sang ayah. Maka dari itu, meninggalkan Mino adalah pilihan terbaik untuk Jiwon saat ini. Pilihan terbaik untuknya, untuk keluarganya, dan untuk Mino yang masih dicintainya.
Mino turut merenungkan itu semua. Dan ia merasa bisa menerima posisi Jiwon. Bukan salah Jiwon terlahir di keluarga yang mulanya kaya sebagai putri tunggal. Juga bukan keinginan Jiwon untuk memilih pergi dan melupakan semua kisah yang telah mereka jalani selama ini.
Situasi sangat tidak mendukung. Seolah alam semesta tidak menginginkan keduanya untuk tetap bersama dan merangkai sebuah kata pernikahan untuk mereka jalani. Kelangsungan hidup keluarga Jiwon sangat penting karena Jiwon adalah satu satunya harapan keluarganya yang bisa menyelamatkan semua anggota keluarga. Jiwon satu satunya anak di keluarga itu yang bisa memberikan kesempatan kepada sang ayah untuk kembali memberikan kehidupan yang layak dengan cara berbisnis. Itu adalah satu hal yang tidak bisa Mino lakukan. Karena Mino pun menyadari, bukan kesalahannya untuk terlahir sebagai anak pertama di keluarga miskin yang tinggal di desa terpencil. Juga bukan kesalahannya untuk dicap sebagai orang dengan latar belakang keluarga yang tidak memiliki kekuatan atau kekasaan dalam hal apa pun. Mino hanya merasa, apa yang dilakukannya selama ini, semua kerja keras tanpa mengenal lelah yang dilakukannya, semua rasa ingin bertahan di tengah kehidupan yang tidak mudah, adalah upaya Mino untuk mengubah keadaan keluarganya. Memberikan kehidupan yang layak untuk seluruh anggota keluarga. Dan sekarang, posisi Jiwon tidak jauh berbeda. Mino merasa bisa memahami keputusan yang diambil Jiwon untuk keluarganya.
“Maafkan aku.”
Hanya kata itu yang terlontar dari mulut Mino untuk Jiwon yang telah memilih pergi meninggalkannya. Semua penyesalan seolah berkumpul di hati Mino dan membuatnya mengucapkan kata maaf pada Jiwon yang belum sempat ia bahagiakan meski bertahun tahun mereka telah bersama.
“Tidak, Mino ya. Kau tidak perlu meminta maaf. Ini semua bukan kesalahanmu,” kata Jiwon dengan bola mata yang berkaca kaca. Wanita itu sedang menahan rasa penyesalahan yang dalam karena membuat Mino meminta maaf padanya di saat ia yang memilih untuk meninggalkan lelaki itu.
“Aku minta maaf, karena tidak melakukan apa apa untukmu selama kita berpacaran. Dan aku minta maaf, karena sudah membencimu tanpa alasan yang jelas mengapa kau ingin berpisah dariku. Aku sungguh sungguh minta maaf.” Mino mengulangi permohonan maafnya dengan bersungguh sungguh.
Jiwon memaku sesaat. Ia meresapi setiap kata yang diucapkan oleh Mino, yang mungkin kata itu adalah kata kata terakhir Mino yang bisa diberikan padanya setelah perpisahan yang menyedihkan ini.
“Aku ... aku juga minta maaf. Aku sungguh tidak ingin meninggalkanmu seperti ini, Mino ya. Tapi aku tidak memiliki pilihan. Maafkan aku.”
Perasaan Mino meretih mendengar kata kata itu dari mulut Jiwon. Namun laki laki itu harus menyembunyikan hatinya yang tersayat sayat itu untuk menguatkan Jiwon.
“Jangan bersedih. Carilah kebahagiaan di mana pun kau berada. Jangan pedulikan aku lagi, dan berbahagialah bersama laki laki yang menjadi pilihan ayahmu. Aku akan baik baik saja jadi kau juga harus baik baik saja, Jiwon a. Semua kisah yang telah kita lalui, akan kuingat sebagai kenangan yang indah. Aku berterima kasih karena kau sudah sempat singgah di hatiku untuk sesaat. Terima kasih banyak.”
Hanya itu yang dapat Mino katakan untuk hubungan mereka yang tidak bisa lagi diselamatkan. Bagaimana pun ia mengharapkan yang terbaik untuk Jiwon. Dengan tulus hati Mino mendoakan Jiwon untuk lebih bahagia bersama laki laki lain dibanding bersama dirinya. Paling tidak, itu yang bisa Mino lakukan untuk membalas semua yang Jiwon lakukan terhadapnya selama ini.
Air mata yang menetes dari bola mata Jiwon yang bening itu segera diseka olehnya. Kepala Jiwon mengangguk angguk, menyetujui apa yang Mino ucapkan dengan bersungguh sungguh. Perpisahan ini adalah yang terbaik yang bisa ia lakukan untuk tidak membuat Mino dan juga dirinya semakin tersiksa di masa depan. Jiwon hanya berpikir, sejak awal mereka sudah tidak ditakdirkan. Dan ini adalah akhir bagi sepasang manusia yang tidak ditakdirkan oleh semesta.
“Kau juga berbahagialah, Mino ya, bersama wanita yang lebih baik dariku.”
Sejujurnya Mino tidak yakin adakah wanita yang lebih baik darinya kecuali Jiwon. Dan ia juga tidak yakin apakah hatinya nanti akan mudah terbuka untuk wanita lain di saat dirinya saat ini masih sangat mencintai wanita itu dan merasa teramat kehilangannya. Namun, satu hal yang Mino yakini. Yaitu, semua ini akan berakhit untuknya. Rasa sakit yang tidak tertahankan ini, dan rasa bersalah, semuanya akan segera berlalu seiring berjalannya waktu.
Kepala Mino termanggut manggut. Menyetujui apa yang Jiwon katakan padanya.
Jiwon segera bangkit dari duduk setelah itu. Ia yang sudah berdandan rapi ini sepertinya hendak pergi ke sebuah tempat.
“Aku pergi dulu. Selamat tinggal,” kata Jiwon lirih sembari beranjak dari duduk. Mino hanya menganggukkan kepala. Lalu Jiwon berjalan meninggalkan bangku tempat mereka bercakap sebelumnya. Keluar dari kedai es krim ini untuk menuju sebuah tempat.
Selama beberapa saat Mino masih tercenung dalam angan angannya. Lelaki itu duduk melamun di atas bangku dalam kedai. Menatap kosong semangkuk es krim stoberi yang pelan pelan mencair dan berubah menjadi cairan kental.
“Hh, dia bahkan tidak memakan es krimnya.”
Selagi menggumamkan kalimat tersebut, Mino mengambil sendok es krim dan mulai menyendok es krim di hadapannya yang telah mencair itu. Rasa dingin dari es masih tersisa sedikit. Namun rasa manis masih terasa lembut di dalam mulutnya. Selama beberapa saat Mino berada di kedai itu dan menghabiskan es krim yang sudah mencair itu. Es krim tersebut adalah es krim terakhir yang Jiwon berikan untuknya.
Dahulu kala, Jiwon yang sangat menyukai es krim itu sangat sering mengajak Mino untuk menemaninya makan es krim seusainya menghadiri kelas kuliah. Begitu Mino mulai bekerja dan memiliki penghasilan, ia sering membelikan Jiwon es krim di kedai es krim tersebut. Dan hari ini adalah terakhir kalinya mereka berada di tempat itu bersama.
Ketika Mino masih sibuk menghabiskan sisa-sisa es krim strawberry dibangkunya sambil mengenang semua ingatan indahnya bersama sang mantan kekasih yang baru saja pergi meninggalkannya, tiba-tiba ponselnya berdering. Nama yang menyembul di tengah layar ponselnya adalah Kim Lysa.
Kening Nino mengernyit melihat nama tersebut sedang menghubunginya. Dan tanpa menunggu lama Mino pun menjawab telepon yang masuk dari Lysa. Ia tak menyangka Lysa akan menghubunginya di saat mereka baru saja menghabiskan waktu bersama untuk memakan Jajangmyeon. Dan Mino melihat dengan mata kepalanya sendiri ketika Lysa masuk ke dalam mobil seorang pria dan di bawahnya pergi.
“Halo, ada apa? Ada sesuatu yang terjadi?"
Dari seberang telepon terdengar suara Lysa yang sungguh terdengar pilu. Mendengarkan hal itu Mino merasa sedikit khawatir dan menanyakan lebih lanjut tentang apa yang harus saja Lysa katakan dari seberang telepon.
"Sekarang juga? Baiklah. Sekarang kau ada di mana? Aku akan kesana secepatnya, tunggulah sebentar."
Begitu mendapat panggilan telepon dari Lysa, Mino segera beranjak dari duduk. Dia telah menghabiskan semua es krim yang telah berubah menjadi cairan kental manis tersebut. Mino keluar dari kedai es krim lalu masuk ke dalam mobilnya untuk menghampiri Lysa yang sepertinya sedang membutuhkan bantuannya.
Beberapa menit Mino mengendarakan mobilnya dengan kecepatan standar di jalanan Seoul yang cukup ramai. Dan tidak lama setelah itu, terlihat sesosok gadis muda yang sedang duduk di kursi halte dengan kepala yang menunduk dalam dalam.
Pakaian yang Lysa kenakan masih sama seperti ketika beberapa waktu lalu mereka makan Jajjangmyeon bersama. Ikat rambut, bahkan tas kuliah, masih sama seperti yang tadi siang Lysa gunakan.
“Itu dia.”
Perlahan Mino mengubah haluan mobilnya menuju halte di sebelah kiri. Lalu menepikan mobilnya dan berhenti tepat di depan halte tempat Lysa duduk dengan menundukkan kepala dalam dalam. Mino membatin, sepertinya Lysa bahkan tidak menyadari keberadaannya karena terus menundukkan kepala. Sampai akhirnya Mino menekan klakson mobil sebanyak dua kali dan memanggil namanya melalui jendela mobil yang menurun.
Tin tin!
“Hei, Kim Lysa.”
Panggilan itu sontak membuat kepala Lysa terangkat. Wanita itu mengernyitkan keningnya melihat kedatangan Mino secepat itu. Ia kira dirinya akan menunggu kedatangan Mino dalam waktu cukup lama. Namun laki laki itu datang dengan sangat cepat.
“Cepatlah masuk! Bus dari ujung sana akan segera datang.” Mino lanjut menceletuk dari dalam mobil.
Segera setelah mendengar seruan itu, Lysa segera beranjak dari duduk. Masuk perlahan ke dalam mobil Mino dan memakau sabuk pengamannya. Setelah itu mobil tersebut kembali melaju melintas jalan kota Seoul yang padat.
“Ada apa dengan wajahmu itu? Sepertinya waktu berangkat tadi kau sangat senang, kenapa sekarang kau jadi terlihat sangat murung?” Mino membuka pembicaraan sambil sesekali melirik ke arah Lysa yang raut wajahnya benar benar mendung.
“Ah, laki laki itu tadi ... kekasihmu?” lanjut Mino bertanya.
“Hhh! Kekasih apanya? Dia hanya laki laki yang tidak pernah menganggap keberadaanku. Laki laki yang sangat egois dan tidak memiliki sedikit pun perasaan. Hatinya seperti telah membeku. Dia seperti tumpukan es yang sangat lebat di musim salju.” Lys mengomel ngomel panjang lebar untuk menjawab pertanyaan singkat Mino. Gadis itu seperti berkata sambil meluapkan emosi.
Dari jawaban panjang Lysa tentang siapa laki laki berkaca mata yang tadi membawanya pergi, Mino dapat menyimpulkan satu hal. Sepertinya, Lysa menyukai laki laki itu namun rasa sukanya tidak terbalas. Dan entah apa yang terjadi saat ini, sepertinya keduanya dalam hubungan yang tidak baik. Lysa terlihat seperti dikecewakan atas suatu hal.
“Ah, begitu rupanya.”
Hanya itu yang Mino lontarkan untuk membalas gumaman panjang Lysa. Ia tidak tahu harus menjawab apa dan takut salah jika mengatakan sesuatu yang tidak berkenan untuk Lysa dengar.
“Kau sungguh ingin menonton film?” Mino kembali bertanya, meyakinkan. Tadi Lysa menelepon dengan berkata ingin menggunakah salah satu tiket nonton yang dijanjikan Mino. Namun Mino tak yakin apa di kondisi seperti ini gadis itu sungguh ingin menonton film.
Lysa menghela napas panjang panjang. Memikirkan ulang permintaannya untuk menonton film tersebut.
Sebenarnya yang paling tepat Lysa lakukan saat ini adalah minum minum. Ia bukan ingin menonton film, tetapi ingin minum alkohol sebanyak yang ia mau. Mabuk adalah hal yang ingin sekali ia lakukan di saat saat menyedihkan seperti ini. Namun masalahnya adalah, Lysa tidak memiliki ‘tiket’ gratis untuk membeli banyak minuman soju dan mabuk. Yang ia miliki hanya dua kali tiket nonton gratis dari Mino, seperti yang haru itu mereka sepakati bersama.
“Aku tidak ingin menonton film. Suasana hatiku terlalu menyedihkan untuk menonton film. Karena biasanya aku menonton film ketika suasana hatiku sedang sangat baik.” Lysa menggumam gumam pelan. Lalu terbesit suatu hal di dalam kepalanya. “Ah, Ajeossi!” celetuk Lysa.
Kepala Mino seketika itu langsung menoleh. Ia menatap ke arah Lysa yang memikirkan suatu ide.
“Ada apa?”
“Bagaimana kalau satu tiket nontonku diganti dengan minum minum? Jadi hari ini kita tidak nonton film, tetapi minum minum. Ajeossi mengajakku minum alkohol ke sebuah tempat dan salah satu tiket nontonku akan hangus. Bagaimana? Kumohon, Ajeossi. Aku benar benar ingin minum alkohol untuk saat ini.” Lysa menceletuk semangat.
Memang masuk akal. Minum alkohol saat hati sedang sedih, memang hal yang masuk akal dan mungkin ingin dilakukan semua orang, termasuk dirinya. Tapi, Mino merasa ragu. Ia ragu apakan memberi minum seornag gadis seperti Lysa adahal hal yang tepat dilakukan.
“Kau ingin minum? Kau yakin? Dari yang kudengar, di Indonesia tidak ada minuman seperti soju, dan minuman alkohol jenis lain pun sangat terbatas peredarannya. Apa kau sebelumnya pernah minum? Setelah datang ke Korea, apakah kau sudah pernah minum alkohol bersama teman temanmu?” tanya Mino.
Selama beberapa hari terakhir ia banyak mencari tahu informasi tentang Indonesia. Karena permintaan khusus dari bosnya, Mini melakukan pencarian dan mendapat beberapa informasi tentang budaya sosial negara tersebut yang tentunya sangat berbeda jauhd engan Korea Selatan. Di Korea, alkohol dijual sangat bebas dan dikonsumsi hampir setiap orang dewasa. Namun dari hasil pencairannya, di Indonesia minulan alkohol tidak dapat dicari semudah itu karena aturan undang undangnya yang sangat ketat. Selain itu, ada beberapa kalangan orang Indonesia (meski Mino tidak yakin apakah Lysa termasuk kalangan tersebut) yang tidak diperbolehkan minum alkohol. Mino sendiri lupa apa namanya, tapi intinya mereka tidak boleh mengonsumsi alkohol dan daging ****.
Itu yang membuat Mino merasa ragu. Ia adalah tipikal orang yang sangat hati hati dalam mengambil tindakan tertentu. Ia tidak ingin karena hal hal kecil seperti ini ia nanti mendapat masalah.
“Ayahku orang Korea, Ajeossi. Di rumahku di Indonesia ada beberapa jenis alkohol yang diimpor dari Korea Selatan. Aku memang tidak pernah mencoba semua itu karena ayahku sangat melarangku untun minum alkohol, tapi aku bisa meminumnya. Dan sebelumnya aku memang belum pernah meminum alkoho, namun aku ingin meminumnya saat ini. Bukannya usiaku juga sudah diperbolehkan minum alkohol? Usiaku sudah 22.” Lysa menjelaskan panjang lebar.
Kepala Mino memiring. Ia mendesah tidak yakin.
“Apa status warga negaramu sudah berubah?” tanya Mino.
“Tentu. Begitu datang ke sini aku langsung mengubah warga negara seperti ayahku,” jawab Lysa yakin.
“Pertama, secara hukum kau memang sudah diperbolehkan minum alkohol karena usiamu sudah dua puluh dua tahun. Tapi, apa kau sungguh yakin mau minum alkohol? Apa kau tawar mengonsumsi alkohol? Jika itu pertama kalinya, mungkin kau tidak akan suka dan perutmu akan langsung mual mual begitu meneguk satu seloki soju.” Mino berkata panjang lebar.
Lysa mendesah panjang. “Tidak apa apa, Ajeossi. Kenapa kau berpikir sampai sejauh itu? Kalau aku mual aku sudah pasti akan berhenti minum. Jadi jangan hentikan aku ketika aku bahkan belum mencicipi alkohol.”
“Tidak. Bukan itu masalahnya. Bagaimana jika kau sampai mabuk? Aku tidak bisa mengurus orang mabuk. Dan aku benar benar membenci orang mabuk yang sama sekali tidak punya kesadaran.” Mino berucap.
“Jangan khawatir, Ajeossi. Kadar toleransi alkohol ayahku sangat tinggi. Dan aku sangat mirip dengan ayahku. Kau tidak perlu khawatir, Ajeossi. Cukup temani saja aku minum alkohol. Hm?? Kumohon, Ajeossii. Aku memintamu karena orang orang di sekitarku tidak pernah membiarkanku minum alkohol. Ayahku selalu melarangku minum alkohol karena khawatir aku akan berbuat kesalahan. Dan Sam tidak pernah memberikan alkohol padaku dengan alasan aku masih terlalu dini untuk minum alkohol.”
Begitu Lysa mendesak Mino untuk mengajaknya minum minum. Ia belum pernah merasakan alkohol karena ayahnya melarang. Dan jika ada makan malam bersama dalam acara kampus yang biasanya disediakan alkohol, Lysa tidak pernah diberi soju karena teman teman mengira semua orang dari Indonesia tidak diperbolehkan minum alkohol. Sehingga tidak pernah memberikan minuman alkohol kepada Lysa di acara acara makan malam semacam itu.
“Kalau ayahmu saja berkata begitu, berarti kau memang tidak boleh minum alkohol. Dan bagaimana aku bisa membelikanmu alkohol di saat orang orang yang kenal dekat denganmu saja tidak pernah memberimu minuman itu?” celetuk Mino.
Mendengar itu, napas Lysa berembus panjang. Ia memohon pada Mino supaya mau menuruti kemauannya.
“Haahh, Ajeossi ... kumohon. Ada saat saat aku benar benar membutuhkan sesuatu untuk mendinginkan hati dan kepalaku yang sednag membara seperti ini, Ajeossi. Kumohon, sekali ini saja. Hm?”
Karena Lysa yang pantang menyerah itu sangat gigih dalam membujuk Mino. Akhirnya Mino pun luluh.
“Dua botol beer. Bagaimana? Kalau hanya dua botol beer aku akan mengikuti kemauanmu.” Mino menawarkan.
Lysa berpikir pikir dalam benak. Meski hanya dua botol beer.... Ah, daripada tidak sama sekali.
“Baiklah. Dua botol Beer. Sepakat.” Lysa menyeru lega. “Tapi, di mana kita akan minum beer?”
Kepala Mino memiring. Ia teringat sesuatu dan menggumam gumam pelan. “Sebenarnya aku punya banyak beer di rumah.”
“Rumah Ajeossi? Ah, apartemen itu?” Lysa tang tanpa sengaja mendengar gumaman pelan Mino itu langsung menceletuk.
“Hm. Di rumahku ada beberapa beer.”
“Kalau begitu kita ke rumahmu saja, Ajeossi. Untuk minum beer!” Lysa kembali meneletuk dengan begitu mudahnya. Itu seketika membuat Mino menoleh heran.
“Hei, apa kau sudah gila? Kau tidak tau artinya minum beer berdua di rumah seorang pria?” celetuk Mino heran.
Kedua alis Lysa terangkat. Ia tidak mengerti apa yang Mino bicarakan.
“Apa maksudnya, Ajeossi? Kau yang bilang kalau di rumahmu ada banyak beer. Dengan begitu kita bisa minum beer saja di rumahmu. Tidak usah beli di luar dan tidak usah mengeluarkan uang lagi untuk membeli beer,” ucap Lysa.
Sambil mendesah panjang Mino menggumam, “Kau itu benar benar .... Masih sangat polos.”
**