
Bab 14
Jatuh cinta adalah rasa takut tersendiri
“Hei, Kim Lysa. Sadarlah! Bangunlah, bangunlah. Kumohon bangunlah.”
Berkali kali Mino mencoba membangunkan Lysa yang sedang tepar karena alkohol yang diminumnya. Sungguh. Mino sama sekali tak menyangka Lysa akan tepar secepat itu karena alkohol. Padahal gadis itu sendiri yang mengatakan kalau dia seperti ayahnya yang memiliki kadar toleransi tinggi terhadap alkohol. Namun ternyata itu hanya bualan Lysa supaya Mino menuruti kemauannya untuk minum.
Sekarang Mino sendiri yang kerepotan mengangani gadis muda yang mabuk untuk pertama kalinya dalam hidup. Ia tidak tahu harus membawa Lysa ke mana. Ia tidak tahu di mana tempat tinggal gadis tersebut. dan sangat tidak mungkin kan ia membawa Lysa pulang ke rumahnya dengan alasan ‘supaya lebih efektif’?
Saat ini Lysa sedang tidak sadarkan diri di kursi penumpang sebelah Mino terduduk. Mino telah berhasil memasukkan Lysa ke dalam mobilnya setelah bersusah payah. Namun sekarang Mino tak tahu harus membawanya ke mana. Ia tidak tahu di mana Lysa tinggal. Di asrama kampus, di rumah kos, di apartemen, atau tinggal bersama ayahnya yang sering ia sebut sebut ketika menceritakan suatu hal kepada Mino.
“Harusnya aku sudah menduga hal ini. Harusnya aku tidak mengajaknya menonton saja daripada minum beer. Aish, bodoh sekali aku.”
Di kursi kemudi, Mino tidak bisa berbuat apa apa. Ia tidak tahu harus membawa Lysa ke mana. Sehingga yang bisa ia lakukan, alih alih menyalakan mesin mobil dan segera melajukannya ke sebuah tempat, hanyalah menggumam guman dengan dirinya sendiri. Merasa menyesal dan merasa bodoh karena sudah menuruti keinginan tidak masuk akal gadis itu.
Mino hanya dapat memandangi Lysa yang tertidur dengan kedua pipinya yang memerah karena mabuk. Ia mengamati setiap pergerakan Lysa sambil memikirkan cara untuk menyadarkan Lysa, atau paling tidak tahu harus membawa gadis itu ke mana.
Ketika Mino masih sibuk berpikir, tiba tiba Lysa menundukkan kepala dalam dalam. Lalu terdengar suara tangisan dari gadis itu.
Tanpa diduga, Lysa menangis begitu saja dengan tubuh yang telah terlilit sabuk pengaman mobil. Gadis itu menangis tanpa memedulikan kesadarannya dan juga keberadaan Mino yang bahkan tidak ia sadari. Tubuh dan otaknya sepenuhnya berada di bawah kendali alkohol yang ia minum. Lysa tidak sadar sama sekali ketika ia tiba tiba menangis di hadapan Mino dengan begitu menyedihkan.
Suara sesegukan tangis gadis itu terdengar semakin keras. Mino yang merasa aneh dengan tangisan itu, mencoba membangunkan Lysa sekali lagi dari kondisi mabuknya.
“Hei, Kim Lysa. Bangunlah. Kenapa kau tiba tiba menangis?” tanya Mino heran. Kedua tangannya terulur untuk mengangkat kepala Lysa yang menunduk dalam dalam. Ia membangunkan kepala Lysa, bertatapan dengan gadis tersebut. “Kau ... tidak mabuk?” tanya Mino ketika melihat bola mata Lysa yang masih tampak fokus, tidak sepenuhnya di bawah kendali alkohol.
“Ajeossi, aku tidak mabuk. Aku hanya sangat mengantuk.” Lysa bergumam gumam dengan bola matanya yang sangat sendu.
Mino mengernyit bingung. Ia tidak yakin apa Lysa benar benar tidak mabuk atau hanya meracau karena mabuk. Pasalnya, bola mata Lysa tampak sangat sayu. Namun tatapannya masih terlihat fokus untuk dikatakan mabuk.
“Kau, sungguh tidak mabuk?” Mino mempertanyakan kembali kata kata Lysa sambil mengayunkan tangannya ke depan wajah gadis itu. Untuk memastikan apakah penglihatannya benar masih fokus atau penglihatan Mino yang salah.
Lysa menolehkan kepala, menatap Mino. Menatap fokus ke arah laki laki itu. Baru kemudian, Mino merasa yakin bahwa Lysa memang tidak mabuk.
“Kalau kau tidak mabuk, kenapa kau membuatku menggendongmu dari rumah minum? Kukira kau benar benar mabuk setelah menghabiskan setengah teko beer.” Mino berucap, seperti mengeluh.
Napas Lysa berembus panjang. Ia mengembalikan pandangannya lurus ke depan. Memalingkan muka dari Mino.
Tatapan Lysa menyendu. Ia menatap jauh ke depan, ke arah keramaian orang di tengah area Myeongdong. Wajahnya terlihat sedih, dan pilu. Kepalanya yang masih sadar itu memikirkan suatu hal yang tiba tiba membuatnya menangis. Air matanya menetes lagi. Dalam diamnya yang sangat henin, Lysa meneteskan air mata dari kedua bola matanya yang tampak kalut.
Mino yang kembali melihat tangisan itu, menghela napas ringan ke dalam perut. Ia tidak tahu kenapa dan apa yang membuat Lysa menangis. Juga tak tahu apa yang harus ia lakukan untuk Lysa, tidak tahu harus berbuat apa pada gadis itu.
Yang bisa mino lakukan adalah ...
Mino mengambil sebuah sapu tangan di atas dasbor mobilnya. Menyerahkan sapu tangan itu kepada Lysa untuk menghapus air mata yang bercucuran di wajahnya.
“Menangislah, aku akan menunggu di luar.”
Setelah menyerahkan sapu tangan itu, Mino beranjuak keluar dari mobil. Ia pikir membiarkan Lysa meluapkan kesedihannya dengan menangis adalah hal yang benar. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk membuat Lysa lebih tenang. Dan ia tidak ingin berbuat kesalahan kepada gadis itu. Sehingga satu satunya cara yang Mino lakukan adalah membiarkan Lysa menangis di dalam mobil sementara ia akan menunggu sejenak di luar.
Mino pun keluar dari mobil. Ia berdiri mengharap jalan distrik Myeongdong dengan tubuh yang menyandar pada pintu mobil bagian kemudian. Ia membelakangi Lysa yang sedang duduk di dalam mobil untuk menangis supaya lebih tenang setelahnya.
Sembari menunggu Lysa selesia menangis, Mino mengambil sekotak rokok yang ada di saku pakaiannya. Ia mengeluarkan sebatang rokok, lalu menyalakannya menggunakan pematik api yang ia ambil dari saku celana.
Selama beberapa saat Mino menikmati rokoknya, sembari menatap beberapa kendaraan yang lalu lalang di hadapannya. Ia menghisap rokok sampai rongga paru parunya dipenuhi oeh asap rokok. Kemudian mengembuskannya perlahan lahan dan mengeluarkan semua asap rokok yang telah mengendap dalam paru parunya. Ia terus mengulangi kegiatan itu, sampai satu batang pertama rokoknya sudah habis. Dan ketika ia ingin menyalakan satu batang lagi untuk ia hisap, Lysa telah keluar dari mobil dan menghampiri Mino yang sedang larut dalam dunianya sendiri bersama rokok.
“Ajeossi,” panggil Lysa.
Tubuh Mino langsung menoleh. Ia tidak yakin sejak kapan Lysa keluar dari mobil karena tak mendengar suara pintu mobil yang terbuka.
Begitu melihat Lysa menghampirinya, tangan Mino yang memegang pematik api dan hendak menyalakan rokok itu menurun. Ia kembali menyakui pematik apinya ke dalam saku celana. Lantas mengembalikan sebtang rokok yang telah diapitnya menggunakan bibir. Memasukkan kembali batang rokok itu ke dalam kotak rokok dan kembali menyakuinya.
“Kau sudah baik baik saja?” tanya Mino melihat Lysa yang telah menghentikan tangis. Gadis itu memang tak lagi menangis. Namun sisa sisa kesedihannya masih tampak jelas di wajahnya yang cantik.
Lysa menganggukkan kepala. “Aku sedikit merasa lebih baik.”
“Kalau begitu, ayo kita pulang. Katakan tempat tinggalmu di mana. Aku akan mengantarmu ke sana.” Mino kembali berbicara. Ia lantas membuka pintu membuka pintu mobil untuk segera masuk ke dalamnya dan mengantarkan Lysa kembali ke rumahnya.
“Aku akan turun di sini.”
Ucapan Lysa menghentikan Mino yang hendak masuk ke dalam mobil. Mino tersentak dan segera menoleh kepada Lysa yang terlihat begitu sendu.
“Apa tempat tinggalmu di dekat sini?” tanya Mino meyakinkan diri.
Lysa menggeleng geleng. “Tidak. Tapi aku akan turun di sini. Aku ingin jalan kaki saja kembali ke asrama.”
“Jadi kau tinggal di asrama kampus,” desus Mino menyimpulkan. Namun ia sama sekali tidak berpikir kenapa Lysa ingin jalan kaki saja.
Padahal jarak kampus dan tempat ini sangatlah jauh. Menggunakan mobil saja bisa sampai sepuluh menit. Kalau jalan kaki bisa sampai satu jam. Terlebih dari itu ini sudah gelap dan ada banyak sekali laki laki mesum berkeliaran di tempat yang ramai seperti Myeongdong ini.
Mino yang tidak mengerti jalan pikiran Lysa, sama sekali tidak mengerti apa yang Lysa katakan itu. Ia hanya berpikir sepertinya Lysa tidak seratus persen sadar. Alias sedikit mabuk gara gara minuman beer yang tadi diteguknya.
“Sudahlah. Naik saja ke mobilku. Aku akan mengantarmu sampai depan asrama. Tempat tinggalku kan satu jalur dengan kampusmu. Jadi cepatlah naik, tidak usah berpikiran yang macam macam untuk jalan kaki. Kalau kau ingin berolah raga dengan jalan kaki, lakukan saja besok atau besok lusa. Sekarang sudah malam dan aku akan mengantarmu menggunakan mobil.” Mino berucap panjang lebar. Ia lantas mendorong tubuh Lysa dan membuatnya berjalan menuju sisi mobil sebelah kanan. Membukakan pintu mobil untuk Lysa dan mendudukkan paksa Lysa ke dalam mobil.
Setelah itu Mino masuk ke dalam mobil. Mulai menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya perlahan.
“Jangan lupa sabuk pengaman.” Mino mengingatkan. Lysa yang lupa menggunakan sabuk pengaman itu segera memakainya.
Perjalanan mereka pun terasa sangat hening. Lysa larut dalam dunianya sendiri. Larut dalam pemikirannya tentang suatu hal. Sedangkan Mino pun sedang berkonsentrasi mengemudikan mobilnya dengan kecepatan standar di tengah jalan yang sangat padat ini.
Mobil Mino berhenti tepat di depan pintu asrama kampus. Mino mematikan mesin mobilnya dan segera menoleh kepada Lysa.
Perlahan lahan Lysa melepaskan sabuk pengamannya. Lalu menyerongkan tubuh untuk menatap Mino yang memberinya tatapan sendu.
“Ajeossi, kenapa kau sebaik ini padaku? Apa karena aku sangat menyedihkan sampai sampai membuatmu merasa pilu dan melakukan semua ini untukku?” tanya Lysa lugas. Ia sangat berhati hati menanyakannya, namun menunutut jawaban yang jelas. Tatapannya saat ini juga memperlihatkan rasa waswas dan sedikit rasa tak suka karena Mino memperlakukannya sebaik ini.
Mino diam sejenak. Menatap Lysa lekat lekat.
“Aku tadi sudah mengatakannya padamu. Kalau kau sangat mirip denganku ketika aku seusia denganmu. Hanya saja cerita kita berbeda. Namun nasip kita kurang lebih sama.” Mino menjawab.
“Apa kau sedang mengasihani dirimu sendiri?” lanjut Lysa bertanya.
“Tidak. Aku hanya ingin menunjukkan padamu, kalau semuanya akan berubah di masa depan. Apa pun yang kau tangisi saat ini, akan berubah menjadi kebahagiaan di masa depan jika kau tetap tegar dan terus berjuang untuk hidupmu sendiri.” Mino bertutur. Saat ia berada dalam masa masa sulit, ada Jiwon yang selalu menguatkannya. Namun untuk Lysa, Mino tidak yakin siapa yang memegang peran itu untuk Lysa.
Lysa yang berganti menghening. Ia diam, bergeming menatap Mino cukup lama. Dan Mino hanya membalas tatapan itu tanpa berkata apa apa.
“Ajeossi, jika terus seperti ini ... kurasa aku akan jatuh cinta padamu.”
Apa yang Lysa katakan itu hanya membuat Mino tetap terdiam. Laki laki itu masih menatap Lysa dengan hangat. Sedangkan Lysa mulai memalingkan wajahnya dari Mino karena merasa pedih jika saja nanti apa yang ia katakan itu benar terjadi dan yang ia rasakan hanyalah jatun cinta sepihak. Lagi, dan ... lagi.
Karena terlalu canggung dengan situasi yang tiba tba menjadi sangat canggung ini, Lusa buru buru turun dari mobil. Ia keluar, meninggalkan Mino yang masih tak membalas apa apa ucapannya atdi.
Lysa berjalan menuju depan pintu asramanya. Sebelum menenggelamkan dirinya ke dalam bangunan besar asrama tersebut, Lysa membungkukkan tubuh. Mengucapkan terima kasih sekaligus selamat tinggal pada Mino yang berada di dalam mobil. Lalu langsung berbalik badan, masuk ke dalam asrama tanpa meoleh lagi ke belakang.
**
Mulai hari Senin ini Lysa melakukan pelatihan pekerja di Moonlight Coffe. Di mana ia diajadi melakukan beberapa pekerjaan kafe yang akan ia lakukan kedepannya. Ada pun pekerjaan yang Lysa lakukan itu adalah seperti, menyiapkan minuman (bagaimana mengisi tandon minuman dan bagaimana menggunakan alat alat peracik kopi di dalam kafe), melakukan pekerjaan kasar seperti mengepel lantai, menyapi, mengelap meja dan mencuci peralatan minum yang ada di kafe. Selain itu ia juga diajari cara menggunakan alat pembayaran di kasir maupun pembayaran digitak seperti Kakao Pay dan dompet digital lainnya.
Ada banyak sekali pelajaran yang Lysa dapatkan dalam waktu satu minggu itu. Dan seperti yang Mino nasihatkan, Lysa tidak pernah melewatkan satu sesi pun pembelajaran di kafe. Ia bersungguh sungguh kali ini. Ia ingin bekerja sebagai pegawai paruh waktu Moonlight Coffe dan ingin melakukan pekerjaannya dengan baik. Untuk dirinya sendiri, dan untuk meringankan beban sang ayah.
Sejak kejadian itu sampai detik ini Lysa tak menemui Brian lagi. Lysa ingin benar benar melupakan peasaannya pada laki laki itu. Makanya tidak pernah menghubunginya sama sekali. Bahkan jika laki laki itu mengirimi Lysa pesan teks, Lysa hanya membacanya dan tidal pernah membalas kalau tidak panting. Kalau pun terpaksa membalas, Lysa hanya akan membalas seadanya dan tidak begitu memedulikan pria itu lagi. Kali ini Lysa benar benar ingin fokus pada tujuannya. Tujuanya saat ini adalah mencari uang sebanyak mungkin. Ia ingin mencari uang sebanyak mungkin dan di sela itu mencari pengalaman bekerja. Ia ingin menguasai paling tidak salah satu keterampilan sehingga ia nanti tidak akan keteteran ketika lulus dan harus segera mencari pekerjaan.
Seperti perjanjian mereka berdua, Mino setiap hari membelikan makan siang untuk Lysa. Mereka berdua selalu makan bersama di beberapa tempat. Dan sejujurnya Lysa sama sekali tidak menyangka Mino akan benar benar menepati semua janji yang dibuatnya untuk Lysa.
Awalnya Lysa kira Mino hanya akan mentraktirnya makan setiap hari selama beberapa hari saja. Namun ia sama sekali tidak menyangka sudah hampir tiga minggu ini Mino benar benar mentraktir makan Lysa satu kali satu hari seperti janji yang telah ia utarakan. Sejujurnya Lysa kadang merasa tidak enak kepada Mino. Kadang Lysa merasa seperti parasite yang menempel pada Mino.
Karena perasaan seperti parasite itu, Lysa selama pernah tidak menghubungi Mino sama sekali selama satu hari. Ia tidak meminta traktiran makan siang dari Mino dan tidak memuntut janji laki laki itu. Namun pada hari itu juga Mino yang menghubungi Lysa duluan. Mino tetap membawa Lysa pergi makan bersama meski Lysa tidak memintanya. Mino berkata, kalau ia paling membenci seseorang yang tidak bisa menepati janji. Sehingga Mino selalu menepati janji yang telah dibuatnya, tanpa terkecuali. Dari situlah Lysa merasa bahwa Mino sangat berbeda dari Brian yang suka membatalkan janji seenaknya dan suka memberi harapan tinggi pada Lysa lalu mengecewakannya, dan kemudian datang lagi untuk menepati janji itu di saat kesedihan Lysa sudah berhasil ia tangani sendirian.
Lysa akhirnya menyadari bahwa Brian memang bukan laki laki yang baik untuknya. Meski pun ia tidak bisa menjamin apakah laki laki tyang baik untuknya itu adalah laki laki yang seperti Mino.
Ah, semua ini sangat rumit. Jika terus bersama Mino seperti ini, Lysa merasa dirinya benar benar akan jatuh cinta pada Mino. Namun di sisi lain ia juga ingin terus bersama Mino. Lakilaki itu sungguh membuat Lysa merasa nyaman. Dan seolah olah ketika bersama Mino, Lysa sama sekali tidak memiliki beban apa pun dan semuanya terasa ringan kembali.
Ini adalah hari terakhir dari sesi pelatihan pegawai par time baru di Moonlight Coffe. Setelah mengikuti sesinya di sebuah ruangan kafe yang berada di lantai dua, Lysa keluar bersama sepuluh pegawai lainnya yang terpilih. Ia bersama mereka keluar setelah mempelajari cara mengakses website resmi kafe untuk meng update jadwal buka dan tutup kafe serta menu menu baru yang disediakan setiap harinya.
“Lysa, kau akan ke mana setelah ini? Apa kau ada jadwal kuliah?” Seorang perempuan berambut cepol yang baru saja keluar dari ruangan rapat bersama Lysa itu bertanya. Wanita itu tidak lain adalah Hanee, yang telah mengenal Lysa sejak hari wawancara mereka. Hanee juga diterima bekerja di Moonlight Coffe. Dan ia langsung sangat akrab dengan Lysa.
“Tidak. Aku tidak ada kelas kuliah hari ini. Bagaimana denganmu?” jawab Lysa yang langsung balas bertanya.
“Aku tidak ada kelas kuliah. Kan hari ini hari Minggu. Tapi aku ada kegiatan di komunitasku,” jawab Hanee dengan cerita. Keduanya menuruni anak tangga secara bersamaan.
“Komunitas apa yang kau ikuti?” tanya balik Lysa.
“Komunitas pecinta alam. Aku mengikuti komunitas pecinta alam karena aku suka menjelajah di hutan hutan dan mendaki gunung. Bagaimana denganmu? Apa kau mengikuti kegiatan komunitas semacam itu?”
Lysa menggeleng gelengkan kepala. “Tidak. Aku tidak mengikuti komunitas apa pun saat ini. Tapi aku ditawari oeh seornag senior untuk mengikuti komunitas pecinta film. Kudengar komunitas itu sangat santai dan kegiatannya tidak begitu mengganggu kegiatan perkuliahan. Aku sedang mempertimbangkan untuk mengikuti klub itu.”
“Ah, iya. Temanku juga ada yang bergabung dengan klub itu. Dan kurasa kegiatan di dalamnya tidak begitu banyak. Hanya menonton film bersama, menganalisis film, dan pada akhir tahun mereka akan membuat sebuah film dokumenter.” Hanee menjelaskan.
“Perhatian, Semuanya!”
Seorang asisten manajer sedang memerintahkan ke sepuluh pegawai baru Moonlight Coffe untuk menujukan pandangan ke depan. Sepertinya asisten manajer yang seorang perempuan berambut sebahu itu ingin mengatakan sesuatu pada mereka.
“Hari in adalah hari terakhir kalian menjalani pelatihan. Terakhir nanti malam, silakan pilih jadwal kalian sendiri sendiri untuk bekerja di Moonlight Coffe. Cara dan prosedurnya memilih sudah dijelaskan dalam sesi beberapa waktu lalu. Setelah itu, besok pagi bisa kalian lihat jadwal bekerja kalian yang sudah jadi. Kalau ada yang ditanyakan, silakan langsung menghubungi aku lewat telepon seluler. Dan kalau ada kendala macam amcam atau kendala sistem, silakan hubungi operator website supaya bisa dicek kendalanya.” Asisten manajer tersebut menjelaskan dengan gamblang. Semua pegawai abru itu pun mengangguk paham. “Dan terakhir, sebenarnya Bos Moon Yul ingin datang untuk menyapa kalian hari ini. Tapi karena ada urusan mendesak, beliau tidak bisa datang. Jadi beliau meminta ku menyampaikan salamnya kepada kalian. Dan beliau akan menyapa kalian semua di hari pertama bekerja, di hari Senin alias besok lusa. Kalau kalian beruntung mendapatkan jadwal bekerja di hari kedatangan Bos Moon Yul, maka beruntunglah kalian. Kalau tidak, berharap saja Bos Moon Yul akan datang ke kafe dalam wkatu dekat.”
“Ya, Bu Min.”
Jawabna serentak itu terdengar setelah asisten manajer bernama yang disapa Bu Min itu menyelesiakan ucapannya. Bertemu dengan bos Moonlight Coffe adalah keinginan terbesar setiap pegawai yang bekerj adi kafe. Jangan tanyakan lagi alasannya. Bos Moon adalah orang yang sangat populer. Pebisnis yang terkenal dan memiliki citra yang ramah, rendah hati, dan juga dikenal sebagai figur ‘ayah dan suami’ yang diidam idamkan. Sehingga tidak heran jikwa bertemu dengan lelaki itu adalah keinginan setiap pegawai Moonlight Coffe. Dan untuk Lysa, ia sungguh penasaran dengan Bos Moon. Ia sungguh menanti nantikan pertemuannya dengan sang bos. Lysa hanya ingin tahu saja, sosok yang memiliki citra begitu baik di mata pubilk, dan sosok yang kelihatannya cukup dikagumi oleh Mino itu adalah sosok yang seperti apa.
Setelah apa yang ingin dikatakan Bu Min itu berakhir, semua pegawai bubar. Seperti yang dikatakannya tadi, Hanee segera keluar dari kafe untuk kegiatan komunitas yang diikutinya itu. Sedangkan Lysa yang tidak tahu harus ke mana itu hanya mengikuti arah kakinya melangkah. Ia tidak tahu tujuannya ke mana. Kalau tidak ke perpustakaan untuk membaca beberapa buku bacaan, Lysa mungkin akan pulang ke asrama dan tidur siang.
Ketika Lysa masih sibuk berjalan di trotoar menuju kampus, ponselnya berdenting sebanyak satu kali. Ada pesan masuk dari aplikasi Kakao Talk. Pesan itu dari Mino.
Segera Lysa membuka ponselnya dan membaca pesan yang datang dari Mino itu.
‘Apa sesi pelatihanmu sudah selesai? Kalau sudah, ayo kita makan siang. Sekaligus ada yang ingin kukatakan padamu sebelum pergi.’
Kening Lysa mengerut dalam.
“Pergi? Ajeossi akan pergi?”
**