Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Cerita di Tengah Lautan



Cerita di tengah lautan


“Sejujurnya aku sangat mengkhawatirkan Hun.”


Yul berucap setelah beberapa saat merasakan keheningan. Suara deburan


ombak terasa membelai gendang telinganya. Sementara itu Kang Yebin memeluknya


erat seolah menjadi tameng yang melingdungi tubuh sang suami dari dinginnya


angin laut di malam hari.


“Apa yang kau khawatirkan, Sayang?” Yebin bertanya sementara memeluk


tubuh Yul dengan hangat. Ia pun merasakan kehangatan dari balasan pelukan Yul


terhadapnya.


“Aku berfirasat buruk tentang Leo Park. Kecurigaanku terhadapnya semakin


bertambah seiring dengan berjalannya penyelidikan kepolisian. Aku ragu,


bagaimana jika keadaan nantinya semakin buruk dan Hun dengan istrinya nanti hanya


akan terkena dampak buruk. Bahkan yang kupikirkan bagaimana jika semua itu


terbongkar ketika bayi yang dikandung Jina telah lahir dan membuat semua


menjadi serba canggung.” Yul bercerita.


Beberapa hari lalu, Yul mendapat laporan hasil penyelidikan dari Haeri


sebagai penasihat hukumnya. Di mana identitas dari pengendara dua mobil van


hitam yang menabrak mobil Hun pada hari itu telah diketahui. Dan keduanya


adalah anak buah dari Leo Park, yang bekerja di klub malamnya.


Pada hari yang sama para polisi mendatangi klub malam dan mencari Leo


Park. Ia meminta kesaksian terkait kedua anak buahnya yang dengan sengaja


menabrak mobil Hun dilihat dari hasil penyelidikan kepolisian. Tetapi hari itu


Leo Park bersikap suportif dan bersedia ikut dengan polisi ke kepolisian. Ia mengikuti


segala prosedur penyelidikan serta investigasi dan akhirnya di bebaskan. Leo


Park memberi kesaksian kepad para polisi bahwa kedua orang yang melakukan


kecelakaan terhadap mobil Hun itu memang pernah menjadi anak buahnya dan


bekerja di klub malam. Namun, dalam kesaksian Leo park, kedua anak buahnya itu


sudah berhenti bekerja di klub malamnya sejak awal tahun lalu. Sehingga Leo


Park tidak tahu apa apa mengenai kecelakaan tersebut.


Kesaksian Leo Park tersebut diselidiki lebih lanjut oleh kepolisian. Dan ternyata


semua itu terbukti benar. Para polisi menyelidiki semua pihak yang bekerja di


Everiday Night Club, dan mendapatkan kesaksian yang sama dengan Leo Park. Bahkan,


anggota geng yang menjadi komplotan dua pelaku kecelakaan Hun tersebut juga


dimintai kesaksian dan mengatakan hal sama seperti Leo Park. Bahwa kedua pelaku


tersebut telah berhenti bekerja di Everyday Night Club sejak awal tahun lalu. Pun


keduanya sekarang tidak diketahui keberadaannya di mana. Ada yang berkata bahwa


kedua pelaku tersebut melarikan diri ke luar negeri dan menjadi imigran gelap


karena dikejar kejar oleh rentenir. Ada yang berkata bahwa mereka pergi ke


daerah terpencil. Bahkan ada yang mengatakan bahwa kedua pelaku yang pernah


menjadi anak buah Leo Park tersebut telah bertaubat dan menjadi biksu di sebuah


gunung yang ada di provinsi Jeolla Selatan.


Polisi memang telah menemukan identitas siapa yang mengemudikan mobil van


yang menabrak mobil Hun dengan sengaja. Tetapi polisi tidak berhasil menemukan


lantaran keberadaan keduanya tidak berhasil dideteksi.


Awalnya kepolisian masih merasa curiga dengan Leo Park. Bagaimana tidak? Semua


yang ia katakan seolah sudah diatur dengan rapi sehingga tidak memperlihatkan


sedikit pun kesalahan yang diperbuatnya. Sehingga setelah memastikan dari semua


orang yang berhubungan dengan Everiday Night Club bahwa dua pelaku itu memang


sudah tidak ada hubungannya lagi dengan Leo Park, polisi melakukan penyelidikan


lebih lanjut. Mereka melihat pembukuan Everyday Night Club untuk benar benar


memastikan apakah kedua pelaku yang menabrak mobil Hun itu memang tidak


memiliki hubungan sama sekali dengan Leo Park. Dan ternyata, itu terbukti


benar. Pembukuan Everyday Night Club sangat rapi dan terstruktur. Di dalam


pembukuan itu diperinci dengan sangat gamblang siapa saja pekerja di Everyday


Night Club, dan semua pengeluaran yang dikeluarkan untuk seluruh pegawainya. Dalam


buku itu, tidak ditemukan sama sekali jejak jejak dari kedua pelaku kecelakaan.


Itu menjadi titik akhir kecurigaan para polisi terhadap Leo Park. Mereka yang


awalnya meragukan kesaksian Leo Park, menjadi benar benar yakin bahwa Leo Park


bukanlah dalang di balik peristiwa kecelakaan Hun yang sampai detik ini masih


menjadi misteri.


Namun entah mengapa semua itu justru membuat Yul merasa semakin curiga


dengan Leo Park. Yul merasa, Leo park adalah orang yang mampu melakukan semua


manipulasi itu sehingga bisa jadi semua yang diselidiki kepolisian itu adalah


hasil dari manipulasi Leo Park. Maka dari itu tidak ditemukan bukti sama sekali


terkait tanda tanda keterlibatan leo park terhadap kecelakaan Hun yang terjadi


beberapa bulan yang lalu.


Kecelakaan itu memang sudah berlalu cukup lama. Tetapi, masih menjadi


mitseri untuk Hun sendiri dan utnuk orang orang yang berada di sekelilingnya. Karena,


meski pun kecelakaan tersebut sudah lama terjadi dan kini Hun telah sembuh dari


keadaan kritisnya dari kecelakaan yang ia alami. Dalam beberapa kesempatan Hun


masih merasa terancam. Ia mengaku, dan bercerita kepada Yul bahwa di beberapa


kesempatan ia mendapatkan surat yang dikirim tanpa nama, yang berisi ancaman


ancaman dan peringatan. Peringatan supaya Hun tidak bermacam macam. Dan peringatan


peringatan yang entah mengapa Hun merasa itu lebih menjurus untuk kakaknya,


Yul, bukan untuk dirinya.


Itu yang membuat Hun merasa curiga dan benar benar ingin menuntaskan


kasus kecelakaan yang menimpanya dengan suarat peringatan perinagtan yang


menurutnya saling berhubungan. Di sela rencana pernikahannya, itulah yang


sedang Hun kerjakan. Ia menyelidiki hal tersebut dan masih belum menemukan


titik cerah sampai detik ini. Namun pernikahannya tetap harus diberlangsungkan


di tengah semua keadaan krisis yang terjadi. Karena bayi dalam kandungan Jina


semakin hari semakin tumbuh dan berkembang semakin membesar.


“Jika semua kecurigaan Oppa itu benar, apa yang akan terjadi? Bagaimana


Hun Oppa, bagaimana Jina, dan bagaimana bayi mereka?”


Yebin menanggapi gumaman kekhawatiran Yul tentang itu semua. Pelukannya pada


Yul pun sedikit meregang. Mereka bertatapan sendu bersama dinginnya angin yang


membelai lautan.


“Pastinya ... semua tidak akan baik baik saja. Hun harus tahu, bahwa Leo


park bisa menjadi tersangka yang merencanakan kecelakaan itu.” Yul menjawab.


“Apa maksud kalian?”


Tiba tiba terdengar suara lain menyahut dari belakang. Suara itu sontak


membuat kepala Yul dan Yebin menoleh bersamaan. Mereka mendapati sosok Cho Jina


berdiri di belakang mereka dengan jarak beberapa meter.


“... Apa maksud kalian mengatakan bahwa kakakku adalah penyebab


kecelakaan yang menimpa Hun ssi?” lanjut Jina bertanya dengan raut wajah yang


menunjukkan banyak pertentangan. Ia tampak tidak setuju. Juga tidka terima jika


kakaknya dikatakan sebagai dalang dari peristiwa kecelakaan yang pernah menimpa


Hun, ayah dari bayi yang dikandungnya, beberapa bulan lalu.


Sambil menengok ke belakang itu Yul tampak terkejut. Begitu pun Kang


Yebin yang seketika melepaskan pelukannya pada tubuh sang suami. Sepasang suami


istri itu tampak membeku selama beberapa saat mendapati keberadaan Cho Jina


yang entah muncul dari mana dan sejak kapan berada di tepi pantai di waktu yang


semakin larut ini.


“It... itu... Jina ssi.”


Yebin ingin menjelaskan semuanya. Tetapi suaranya tergegap gagap seolah


olah ia tidak sanggup mengatakan yang sebenarnya kepada calon adik ipar yang


tengah mengandung bayi kecil dalam perutnya.


Saat Yebin masih tergagap gagap menjelaskan semua itu kepada Jina, Jina


telah tiba di hadapan Yebin. Menagih kejelasan. Meminta perhitungan dari apa


yang pasangan itu katakan tentang kakaknya, yang menurutnya semua itu tidak


benar.


“Jina-ya, tenanglah dulu.... Yang kau dengar tadi tidak seperti yang kau


bayangkan.” Yul mencoba menenangkan Jina yang terlihat tidak terima dan marah


mendengar ucapannya.


Yul merasa dapat mengerti apa yang sekarang ada dalam pikiran Jina. Ia tidak


ingin membuat Jina merasa tidak nyaman di hari hari menjelang pernikahannya


dengan Hun. Terlebih lagi, kondisi Jina saat ini sedang hamil. Memiliki pikiran


yang berlebihan dan emosi yang tidka terkontrol akan membawakan dampak butuk


untuk bayi di dalam kandungannya. Sehingag Yul, sebagai kakak seorang kakak


yang juga telah berkeluarga dan memiliki putra, ingin menenangkan Jina terlebih


dahulu dengan meyakinkannya bahwa apa yang dimaksudnya itu tidak seperti yang


ditangkap oleh telinga Jina.


“Apanya yang bukan, Yul Oppa? Aku jelas jelas mendengar kalian mengatakan


sesuatu tentang kakakku. Bahwa kalian mencurigainya sebagai dalang di balik


kecelakaan yang pernah dialami oleh ayah dari bayi yang kukandung,” kata Jina


tegas. Kedua bola matanya telah berkaca kaca. Membuat Yul benar benar merasa tidak


tega untuk mengatakan yang sejujurnya kepada Cho Jina.


Sebisa mungkin Yul mencoba untuk tetap tenang menghadapi Jina yang


sepertinya terlanjur salah mengartikan ucapannya. Sejujurnya apa yang Yul


katakan tidak salah dan Jina tidak salah dalam mengartikan. Hanya saja Yul


merasa perlu untuk menjaga perasaan Jina yang akan segera melangsungkan


pernikahan dengan Hun. Pernikahan mereka tinggal tersisa dua hari lagi. Jika semua


kecurigaan Yul diungkapkan sekarang, ini akan membuat semuanya menjadi berantakan


dan bisa jadi pernikahan Hun dua hari lagi menjadi kacau. Karena itu Yul


bersikap dengan sangat hati hati dalam menyikapi Jina.


“Maksudku, aku dengan istriku tadi sedang membicarakan tentang kakakmu


yang sempat diselidiki polisi terkait dua mantan pekerja night club nya.” Yul


menjelaskan singkat. Toh, ia tidak berbohong tentang hal itu.


Untuk saat ini, yang Yul ketahui adalah hubungan Jina dengan kakaknya,


Leo Park, yang cukup baik. Mereka dikenal sebagai adik kakak yang saling


membantu, saling menyongkong, salng memberikan dukungan dalam segala hal. Sehingga


tidak heran jika Jina sangat menyayangi kakaknya dan merasa bahwa kakaknya itu


adalah orang yang benar benar baik. Hanya saja kakaknya tersebut memiliki klub


malam yang membuat beberapa orang mengenalnya dengan kesan yang berbeda dari


yang ia ketahui.


Jina memiliki hubungan dengan kakaknya yang sangat baik. Bahkan, sebelum


itu mereka juga memiliki hubungan yang baik sebagai adik kakak. Sehingga wajar


saja jika Jina tidak memiliki kecurigaan sedikit pun terhadap kakaknya. Karena,


Leo Park dikenal sebagai kakaknya yang sangat baik dan selalu memperhatikan


segala sesuatu tentang dirinya. Selalu membantunya dalam kesusahan dan


memberinya banyak dukungan.


“Kalian di sini rupanya? Aku mencari kalian di mana mana.”


Satu sahutan lagi dari belakang membuat ketika orang yang berdiri di tepi


pantai itu menoleh bersamaan. Terlihat seososok laku laki yang berjalan dari


arah hotel. Lelaki yang tidak lain adalah Hun itu berjalan medekat pada ketiga


“Oh, Hun-a,” panggil Yul terhadap sang adik.


Begitu tiba, Hun langsung merangkul pundak Jina. “Kenapa kau malah datang


kemari? Harusnya kau tidur saja karena sudah malam,” ucap Hun. Semanjak Jina


hamil, Hun jadi lebih memperhatikan Jina dan tidak sungkan menunjukkan kasih


sayangnya pada sang kekasih yang selangkah lagi akan menjdi istrinya.


“Aku hanya ingin mencari udara segar sebentar. Dan bertemu dua kakak ipar


di sini,” jawab Jina.


Kepala Hun mengangguk angguk. Mengerti apa yang Jina maksud.


“Kalau begitu, aku masuk dulu. Kalian segeralah masuk kalau sudah


mendapat udara segar. Semakin malam di sini semakin dingin.” Yul berucap sambil


mengajak Yebin untuk segera meninggalkan tepi pantai.


Sepasang suami istri itu pun pergi meninggalkan Hun dan Jina yang


sepertinya maish ingin berada di sana sebentar lagi. Dalam perjalannya


meninggalkan pantai menuju hotel, Yul mengembuskan napas panjang panjang. Merasa


lega akibat kedatangan Hun yang mencairkan suasana menegangkan antara dirinya


dengan Cho Jina.


“Keliahatannya Jina ssi sangat menyayangi kakaknya. Kita harus bagaimana


Oppa?” tanya Yebin di sela kegiatan berjalannya.


“Entahlah. Kita tunggu saja nanti.”


**


Kapal veri akhirnya berangkat pada pukul tiga dini hari, menjelang subuh.


Ketika itu semua perempuan sedang tidur dan hanya tersisa Yul yang sedang bercakap


cakap dengan Hun sepanjang malam di meja tempat mereka makan malam. Kedua kakak


beradik itu tidak dapat tidur sepanjang malam karena beban pikiran masing


masing yang membuat tetap terjaga.


Namun begitu kapal berlayar meninggalkan pelabukan, kedua lelaki yang


terjaga semalaman itu tertidur pulas sampai matahati terbit kemudian.


Awan yang semalam begitu pekat menjadi sangat bersinar dengan cahaya


matahari yang perlahan merembet menyentuh permukaan air laut dengan warna


cerahnya. Air lautan menjadi sangat jernih dan biru, seolah olah tidak pernah


menjadi gelap ketika malam datang. Suara mesin kapan yang dikemudikan oleh


seorang kapten kapal. Berbaur dengan deburan ombak ringan di seluruh permukaan


lautan. Juga suara suara ringan dari burung camar yang beterbangan di langit


seperti udara yang berputar putar.


Pagi menyingsing dari ujung timur. Setelah semalaman mereka menunggu


untuk berlayar, akhirnya di pagi hari Yebin bisa melihat matahari terbit


melalui dek kapal bersama putra kecilnya dan sang bunda.


“Hanyul-a, lihatlah, itu lumba lumba. Kau pernah melihat lumba lumba


sebelumnya?” tanya Yebin sambil menunjuk salah satu sisi lautan yang baru saja


dilompati segerombol lumba lumba. Lumba lumba yang bergerombol itu tampak


melompat lompat di permukaan laut dan membentuk sebuah formasi tertentu yang


sangat unik.


“Wah! Itu lumba lumba! Mereka melompat lompat seperti kelinci.” Hanyul


menyeru senang dalam pelukan Yebin yang menggendongnya. Anak kecil yang telah


tertidur pulas semalaman itu terlihat begitu semringah menyambut datangnya pagi


yang cerah di tengah lautan yang terbentang luas ini.


“Wah, ibu, lihat itu! Nenek, mereka seperti katak.”


Hanyul menceletuk senang sambil menunjuk nunjuk ke arah gerombolan lumba


lumba itu menampakkan diri di perlukaan. Ia menceletuk senang pada ibu yang


menggendongnya, dan nenek yang berdiri di sebelahnya sambil memegangi kedua


kakinya supaya tetap hangat.


Miyoon dan Yebin yang mendengar celetukan senang anak kecil itu hanya


terkekeh kekeh. Bagaimana pun, perkataan Hanyul yang menyamakan lompatan lumba


lumba dengan katak itu membuat mereka tidak habis pikir.


“Benarkah? Hanyul sesenang itu melihat lumba lumba?” celetuk sang nenek


sambil terkekeh kekeh.


“Ne!”


“Apa Hanyul tidak kedinginan? Kalau kedinginan, lebih baik kita masuk


saya ya? Di dalam lebih hangat. Hanyul bisa tidur di pelukan ayah atau paman.”


Miyoon lanjut berkata akrena mengkhawatirkan Hanyul yang sejak satu jam lalu


berada di dek kapal dan bermain main.


Seketika itu juga wajah Hanyul berubah murung. Ia memberengutkan wajah


dan melekukkan bibirnya ke bawah. Pertanda tidak setuju pada apa yang sang


nenek itu katakan.


“Tidak mau....” ucap lirih Hanyul.


“Ah, begitukah? Kalau begitu nenek ambilkan selimut hangat dulu untuk


Hanyul ya?”


Setelah itu Miyoon beranjak pergi dari dek. Masuk ke dalam pesawat dan


mulai membongkar koper yang dibawanya untuk mencari sleimut yang bisa digunakan


Hanyul untuk menghangatkan tubuhnya.


Beberapa detik setelah kepergian Miyoon meninggalkan dek, Yebin mengajak


Yul untuk duduk di salah satu kursi yang terdapat di dek kapal. Ia merasa


kewalahan menggendong Hanyul selama kurang lebih setengah jam.


“Sampai menunggu nenek datang, kita duduk dulu ya Sayang.” Yebin berucap.


Yang segera mendapat balasan berupa anggukan ringan dari Hanyul.


Begitu Yebin duduk di salah satu kursi besi yang terdapat di dek kapal,


seseorang keluar dari salah satu bilik kapal very. Lelaki itu tidak lain adalah


Leo Park, yang kelihatannya baru bangun dari tidurnya sejenak.


Melihat keberadaan Yebin bersama Hanyul di sana, Leo Park langsung duduk


di sebelah Yebin. Ia tersenyum menis kepada Hanyul sambil membelai kepalanya.


“Selamat pagi, Hanyul,” sapa Leo Park kepada bocah kecil yang ada di


pangkuan Yebin.


“Aku tidak menyangka kalau kau benar benar akan ikut ke pulau untuk


mempersiapkan semua pernikahan Hun Oppa,” ucap Yebin penuh rasa curiga.


“Apa salahnya? Kurasa aku berhak dan bisa bisa saja membantu kelancaran


pernikahan adikku. Apa ada yang salah dengan aku ikut?” sahut Leo Park.


“Aku hanya bilang terkejut, tidak mengatakan kalau kau salah.”


“Apa kau tidak senang dengan keberadaanku? Padahal aku ada di sini bukan


untuk siapa siapa selain dirimu,” ucap Leo park yang seketika membuat Yebin


menolehkan kepala dengan cekatan.


Kening Yebin mengernyit. Tatapan tajamnya menyorot pada Leo park sementara


dirinya memeluk Hanyul dengan lebih erat. Seolah olah sedang melindungi Hanyul


dari orang yang hendak melakukan penyerangan.


Yebin terdiam sejenak, menatap Leo Park tajam.


“Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku? Kenapa kau selalu berada di


sekelilingku dan seolah olah sedang menanamkan pagar di sekelilingku?” tanya


Yebin lugas. Ia mendekap Hanyul di depan dadanya. Menghalangi putra lelakinya


utnuk mendengarkan percakapnnya dengan Leo Park.


Leo Park menyeringai sinis. Ia tampak seperti tersenyum. Tetapi senyumnya


terasa menakutkan sekaligus licik.


“Aku hanya berusaha mengembalikanmu pada tempatnya. Aku ingin membuat


segala hal di dunia ini menjadi adil seadil adilnya,” jawab Leo park tajam.


Kening Yebin mengerut semakin dalam. “Apa maksudmu?” tanyanya tak


mengerti.


Embusan napas panjang keluar dari rongga hidung Leo Park. Ia mengalihkan


pandangan dari Yebin. Menatap ke arah lautan yang memperlihatkan semburat


keemasan dari sinar matahari yang mulai bersinar. Di ujung sana, sudah terlihat


sebuah pulau kecil yang tampak asri yang akan menjadi tempat resepsi pernikahan


Hun di selenggarakan.


“Kau lihat, betapa tidak adilnya dunia ini.” Leo Park berucap di sela


pandangan kelamnya yang menatap ke depan. “Pulau itu milik suamimu. Suamimu telah


membelinya secara resmi dengan izin pemerintah. Pulau itu punya banyak potensi


alam dan keindahan bahari. Pulau itu menjadi incaran hampir setiap pengusaha di


negeri ini, dan suamimu yang berhasil mendapatkannya. Suamimu membeli pulau itu


dengan harga yang sangat fantastis. Yang itu membuat pengusaha negeri lain


memikirkan kembali seberapa besar keuntungan yang dieprolehnya hanya dari


bisnis kafe dan retail.”


“Suamiku bekerja dengan sangat keras untuk kafenya. Orang lain tidak


pernah membayangkan betapa keras suamiku bekerja setiap harinya untuk kafe. Jangan


bicara sembarangan tentang suamiku,” serobot Yebin yang merasa tidak terima


mendengar Leo berkata demikian.


“Aku tahu. Aku pernah bekerja untuk suamimu jadi aku tahu hal itu dengan


jelas. Yang ingin kukatakan adalah, suamimu itu kapitalis di antara para


kapitalis negeri ini.” Leo Park meluruskan setelah mendapati respon Yebin yang


tidak baik terhadapnya.


“Lalu?”


“Pulau pribadi, bisnis kafe yang semakin melesat dan bercabang cabang,


bisnis retail yang membuat wajahnya dikenal semua orang di negeri ini. Kehidupan


yang mapan. Keluarga yang bahagia. Adik seorang hakim yang sebentar lagi akan


menikah. Citra yang baik di hadapan semua pengusaha. Suamimu itu... terlalu


serakah karena memiliki segalanya tanpa terkecuali. Bahkan seorang istri yang


cantik dan menawan sepertimu. Itu semua adalah keserakahan suamimu. Yang membuat


kaum kaum kecil sepertiku semakin miskin sedangkan kehidupannya semakin


melesat. Parahnya lagi, dia bahkan tidak mengizinkanku untuk membeli separuh


saham Moonlight Retail nya.” Leo berucap panjang lebar.


Yebin mengembuskan napas panjang mendengar semua alasan tidak masuk akal


itu. Ia sungguh merasa sangat heran dan merasa kesal mendengarnya.


“Asal kau tau, suamiku tidak mendapatkan semua itu dengan begitu


mudahnya. Dia susah melalui jalanan gelap dan berduri sepanjang perjalanan


hidupnya. Puluhan, bahkan ratusan kali dia terjatuh dan aku menyaksikan segala


perjuangannya sebelum mencapai titik ini. Kau tidak berkak mengatakan semua


yang didapatkan suamiku adalah keserakahannya. Ini hanyalah hasil dari darah


yang benar benar dia habiskan dan kuras di masa mudanya.” Yebin berucap penuh


amarah. Hanyul yang ada di dalam pelukannya, hanya terdiam memeluk tubuh Yebin


dan menyandarkan kepalanya di dada sang ibu dengn tenang.


Leo Park terdiam. Menatap kedua bola mata Yebin dengan pandangan


sendunya. Lantas berkata, “Lantas, untuk orang sepertiku, yang tidak pernah


keluar dari jalanan berduri, apa tidak pantas mendapatkan secuil kebahagiaan


seperti yang suamimu rasakan?”


“Apa... maksudmu?” desus Yebin pelan.


“Di antara semua kebahagiaan yang suamimu rasakan, setidaknya dia harus


membaginya sedikit denganku. Dengan cara aku bisa memilikimu.”


**