
Cerita di tengah lautan
“Sejujurnya aku sangat mengkhawatirkan Hun.”
Yul berucap setelah beberapa saat merasakan keheningan. Suara deburan
ombak terasa membelai gendang telinganya. Sementara itu Kang Yebin memeluknya
erat seolah menjadi tameng yang melingdungi tubuh sang suami dari dinginnya
angin laut di malam hari.
“Apa yang kau khawatirkan, Sayang?” Yebin bertanya sementara memeluk
tubuh Yul dengan hangat. Ia pun merasakan kehangatan dari balasan pelukan Yul
terhadapnya.
“Aku berfirasat buruk tentang Leo Park. Kecurigaanku terhadapnya semakin
bertambah seiring dengan berjalannya penyelidikan kepolisian. Aku ragu,
bagaimana jika keadaan nantinya semakin buruk dan Hun dengan istrinya nanti hanya
akan terkena dampak buruk. Bahkan yang kupikirkan bagaimana jika semua itu
terbongkar ketika bayi yang dikandung Jina telah lahir dan membuat semua
menjadi serba canggung.” Yul bercerita.
Beberapa hari lalu, Yul mendapat laporan hasil penyelidikan dari Haeri
sebagai penasihat hukumnya. Di mana identitas dari pengendara dua mobil van
hitam yang menabrak mobil Hun pada hari itu telah diketahui. Dan keduanya
adalah anak buah dari Leo Park, yang bekerja di klub malamnya.
Pada hari yang sama para polisi mendatangi klub malam dan mencari Leo
Park. Ia meminta kesaksian terkait kedua anak buahnya yang dengan sengaja
menabrak mobil Hun dilihat dari hasil penyelidikan kepolisian. Tetapi hari itu
Leo Park bersikap suportif dan bersedia ikut dengan polisi ke kepolisian. Ia mengikuti
segala prosedur penyelidikan serta investigasi dan akhirnya di bebaskan. Leo
Park memberi kesaksian kepad para polisi bahwa kedua orang yang melakukan
kecelakaan terhadap mobil Hun itu memang pernah menjadi anak buahnya dan
bekerja di klub malam. Namun, dalam kesaksian Leo park, kedua anak buahnya itu
sudah berhenti bekerja di klub malamnya sejak awal tahun lalu. Sehingga Leo
Park tidak tahu apa apa mengenai kecelakaan tersebut.
Kesaksian Leo Park tersebut diselidiki lebih lanjut oleh kepolisian. Dan ternyata
semua itu terbukti benar. Para polisi menyelidiki semua pihak yang bekerja di
Everiday Night Club, dan mendapatkan kesaksian yang sama dengan Leo Park. Bahkan,
anggota geng yang menjadi komplotan dua pelaku kecelakaan Hun tersebut juga
dimintai kesaksian dan mengatakan hal sama seperti Leo Park. Bahwa kedua pelaku
tersebut telah berhenti bekerja di Everyday Night Club sejak awal tahun lalu. Pun
keduanya sekarang tidak diketahui keberadaannya di mana. Ada yang berkata bahwa
kedua pelaku tersebut melarikan diri ke luar negeri dan menjadi imigran gelap
karena dikejar kejar oleh rentenir. Ada yang berkata bahwa mereka pergi ke
daerah terpencil. Bahkan ada yang mengatakan bahwa kedua pelaku yang pernah
menjadi anak buah Leo Park tersebut telah bertaubat dan menjadi biksu di sebuah
gunung yang ada di provinsi Jeolla Selatan.
Polisi memang telah menemukan identitas siapa yang mengemudikan mobil van
yang menabrak mobil Hun dengan sengaja. Tetapi polisi tidak berhasil menemukan
lantaran keberadaan keduanya tidak berhasil dideteksi.
Awalnya kepolisian masih merasa curiga dengan Leo Park. Bagaimana tidak? Semua
yang ia katakan seolah sudah diatur dengan rapi sehingga tidak memperlihatkan
sedikit pun kesalahan yang diperbuatnya. Sehingga setelah memastikan dari semua
orang yang berhubungan dengan Everiday Night Club bahwa dua pelaku itu memang
sudah tidak ada hubungannya lagi dengan Leo Park, polisi melakukan penyelidikan
lebih lanjut. Mereka melihat pembukuan Everyday Night Club untuk benar benar
memastikan apakah kedua pelaku yang menabrak mobil Hun itu memang tidak
memiliki hubungan sama sekali dengan Leo Park. Dan ternyata, itu terbukti
benar. Pembukuan Everyday Night Club sangat rapi dan terstruktur. Di dalam
pembukuan itu diperinci dengan sangat gamblang siapa saja pekerja di Everyday
Night Club, dan semua pengeluaran yang dikeluarkan untuk seluruh pegawainya. Dalam
buku itu, tidak ditemukan sama sekali jejak jejak dari kedua pelaku kecelakaan.
Itu menjadi titik akhir kecurigaan para polisi terhadap Leo Park. Mereka yang
awalnya meragukan kesaksian Leo Park, menjadi benar benar yakin bahwa Leo Park
bukanlah dalang di balik peristiwa kecelakaan Hun yang sampai detik ini masih
menjadi misteri.
Namun entah mengapa semua itu justru membuat Yul merasa semakin curiga
dengan Leo Park. Yul merasa, Leo park adalah orang yang mampu melakukan semua
manipulasi itu sehingga bisa jadi semua yang diselidiki kepolisian itu adalah
hasil dari manipulasi Leo Park. Maka dari itu tidak ditemukan bukti sama sekali
terkait tanda tanda keterlibatan leo park terhadap kecelakaan Hun yang terjadi
beberapa bulan yang lalu.
Kecelakaan itu memang sudah berlalu cukup lama. Tetapi, masih menjadi
mitseri untuk Hun sendiri dan utnuk orang orang yang berada di sekelilingnya. Karena,
meski pun kecelakaan tersebut sudah lama terjadi dan kini Hun telah sembuh dari
keadaan kritisnya dari kecelakaan yang ia alami. Dalam beberapa kesempatan Hun
masih merasa terancam. Ia mengaku, dan bercerita kepada Yul bahwa di beberapa
kesempatan ia mendapatkan surat yang dikirim tanpa nama, yang berisi ancaman
ancaman dan peringatan. Peringatan supaya Hun tidak bermacam macam. Dan peringatan
peringatan yang entah mengapa Hun merasa itu lebih menjurus untuk kakaknya,
Yul, bukan untuk dirinya.
Itu yang membuat Hun merasa curiga dan benar benar ingin menuntaskan
kasus kecelakaan yang menimpanya dengan suarat peringatan perinagtan yang
menurutnya saling berhubungan. Di sela rencana pernikahannya, itulah yang
sedang Hun kerjakan. Ia menyelidiki hal tersebut dan masih belum menemukan
titik cerah sampai detik ini. Namun pernikahannya tetap harus diberlangsungkan
di tengah semua keadaan krisis yang terjadi. Karena bayi dalam kandungan Jina
semakin hari semakin tumbuh dan berkembang semakin membesar.
“Jika semua kecurigaan Oppa itu benar, apa yang akan terjadi? Bagaimana
Hun Oppa, bagaimana Jina, dan bagaimana bayi mereka?”
Yebin menanggapi gumaman kekhawatiran Yul tentang itu semua. Pelukannya pada
Yul pun sedikit meregang. Mereka bertatapan sendu bersama dinginnya angin yang
membelai lautan.
“Pastinya ... semua tidak akan baik baik saja. Hun harus tahu, bahwa Leo
park bisa menjadi tersangka yang merencanakan kecelakaan itu.” Yul menjawab.
“Apa maksud kalian?”
Tiba tiba terdengar suara lain menyahut dari belakang. Suara itu sontak
membuat kepala Yul dan Yebin menoleh bersamaan. Mereka mendapati sosok Cho Jina
berdiri di belakang mereka dengan jarak beberapa meter.
“... Apa maksud kalian mengatakan bahwa kakakku adalah penyebab
kecelakaan yang menimpa Hun ssi?” lanjut Jina bertanya dengan raut wajah yang
menunjukkan banyak pertentangan. Ia tampak tidak setuju. Juga tidka terima jika
kakaknya dikatakan sebagai dalang dari peristiwa kecelakaan yang pernah menimpa
Hun, ayah dari bayi yang dikandungnya, beberapa bulan lalu.
Sambil menengok ke belakang itu Yul tampak terkejut. Begitu pun Kang
Yebin yang seketika melepaskan pelukannya pada tubuh sang suami. Sepasang suami
istri itu tampak membeku selama beberapa saat mendapati keberadaan Cho Jina
yang entah muncul dari mana dan sejak kapan berada di tepi pantai di waktu yang
semakin larut ini.
“It... itu... Jina ssi.”
Yebin ingin menjelaskan semuanya. Tetapi suaranya tergegap gagap seolah
olah ia tidak sanggup mengatakan yang sebenarnya kepada calon adik ipar yang
tengah mengandung bayi kecil dalam perutnya.
Saat Yebin masih tergagap gagap menjelaskan semua itu kepada Jina, Jina
telah tiba di hadapan Yebin. Menagih kejelasan. Meminta perhitungan dari apa
yang pasangan itu katakan tentang kakaknya, yang menurutnya semua itu tidak
benar.
“Jina-ya, tenanglah dulu.... Yang kau dengar tadi tidak seperti yang kau
bayangkan.” Yul mencoba menenangkan Jina yang terlihat tidak terima dan marah
mendengar ucapannya.
Yul merasa dapat mengerti apa yang sekarang ada dalam pikiran Jina. Ia tidak
ingin membuat Jina merasa tidak nyaman di hari hari menjelang pernikahannya
dengan Hun. Terlebih lagi, kondisi Jina saat ini sedang hamil. Memiliki pikiran
yang berlebihan dan emosi yang tidka terkontrol akan membawakan dampak butuk
untuk bayi di dalam kandungannya. Sehingag Yul, sebagai kakak seorang kakak
yang juga telah berkeluarga dan memiliki putra, ingin menenangkan Jina terlebih
dahulu dengan meyakinkannya bahwa apa yang dimaksudnya itu tidak seperti yang
ditangkap oleh telinga Jina.
“Apanya yang bukan, Yul Oppa? Aku jelas jelas mendengar kalian mengatakan
sesuatu tentang kakakku. Bahwa kalian mencurigainya sebagai dalang di balik
kecelakaan yang pernah dialami oleh ayah dari bayi yang kukandung,” kata Jina
tegas. Kedua bola matanya telah berkaca kaca. Membuat Yul benar benar merasa tidak
tega untuk mengatakan yang sejujurnya kepada Cho Jina.
Sebisa mungkin Yul mencoba untuk tetap tenang menghadapi Jina yang
sepertinya terlanjur salah mengartikan ucapannya. Sejujurnya apa yang Yul
katakan tidak salah dan Jina tidak salah dalam mengartikan. Hanya saja Yul
merasa perlu untuk menjaga perasaan Jina yang akan segera melangsungkan
pernikahan dengan Hun. Pernikahan mereka tinggal tersisa dua hari lagi. Jika semua
kecurigaan Yul diungkapkan sekarang, ini akan membuat semuanya menjadi berantakan
dan bisa jadi pernikahan Hun dua hari lagi menjadi kacau. Karena itu Yul
bersikap dengan sangat hati hati dalam menyikapi Jina.
“Maksudku, aku dengan istriku tadi sedang membicarakan tentang kakakmu
yang sempat diselidiki polisi terkait dua mantan pekerja night club nya.” Yul
menjelaskan singkat. Toh, ia tidak berbohong tentang hal itu.
Untuk saat ini, yang Yul ketahui adalah hubungan Jina dengan kakaknya,
Leo Park, yang cukup baik. Mereka dikenal sebagai adik kakak yang saling
membantu, saling menyongkong, salng memberikan dukungan dalam segala hal. Sehingga
tidak heran jika Jina sangat menyayangi kakaknya dan merasa bahwa kakaknya itu
adalah orang yang benar benar baik. Hanya saja kakaknya tersebut memiliki klub
malam yang membuat beberapa orang mengenalnya dengan kesan yang berbeda dari
yang ia ketahui.
Jina memiliki hubungan dengan kakaknya yang sangat baik. Bahkan, sebelum
itu mereka juga memiliki hubungan yang baik sebagai adik kakak. Sehingga wajar
saja jika Jina tidak memiliki kecurigaan sedikit pun terhadap kakaknya. Karena,
Leo Park dikenal sebagai kakaknya yang sangat baik dan selalu memperhatikan
segala sesuatu tentang dirinya. Selalu membantunya dalam kesusahan dan
memberinya banyak dukungan.
“Kalian di sini rupanya? Aku mencari kalian di mana mana.”
Satu sahutan lagi dari belakang membuat ketika orang yang berdiri di tepi
pantai itu menoleh bersamaan. Terlihat seososok laku laki yang berjalan dari
arah hotel. Lelaki yang tidak lain adalah Hun itu berjalan medekat pada ketiga
“Oh, Hun-a,” panggil Yul terhadap sang adik.
Begitu tiba, Hun langsung merangkul pundak Jina. “Kenapa kau malah datang
kemari? Harusnya kau tidur saja karena sudah malam,” ucap Hun. Semanjak Jina
hamil, Hun jadi lebih memperhatikan Jina dan tidak sungkan menunjukkan kasih
sayangnya pada sang kekasih yang selangkah lagi akan menjdi istrinya.
“Aku hanya ingin mencari udara segar sebentar. Dan bertemu dua kakak ipar
di sini,” jawab Jina.
Kepala Hun mengangguk angguk. Mengerti apa yang Jina maksud.
“Kalau begitu, aku masuk dulu. Kalian segeralah masuk kalau sudah
mendapat udara segar. Semakin malam di sini semakin dingin.” Yul berucap sambil
mengajak Yebin untuk segera meninggalkan tepi pantai.
Sepasang suami istri itu pun pergi meninggalkan Hun dan Jina yang
sepertinya maish ingin berada di sana sebentar lagi. Dalam perjalannya
meninggalkan pantai menuju hotel, Yul mengembuskan napas panjang panjang. Merasa
lega akibat kedatangan Hun yang mencairkan suasana menegangkan antara dirinya
dengan Cho Jina.
“Keliahatannya Jina ssi sangat menyayangi kakaknya. Kita harus bagaimana
Oppa?” tanya Yebin di sela kegiatan berjalannya.
“Entahlah. Kita tunggu saja nanti.”
**
Kapal veri akhirnya berangkat pada pukul tiga dini hari, menjelang subuh.
Ketika itu semua perempuan sedang tidur dan hanya tersisa Yul yang sedang bercakap
cakap dengan Hun sepanjang malam di meja tempat mereka makan malam. Kedua kakak
beradik itu tidak dapat tidur sepanjang malam karena beban pikiran masing
masing yang membuat tetap terjaga.
Namun begitu kapal berlayar meninggalkan pelabukan, kedua lelaki yang
terjaga semalaman itu tertidur pulas sampai matahati terbit kemudian.
Awan yang semalam begitu pekat menjadi sangat bersinar dengan cahaya
matahari yang perlahan merembet menyentuh permukaan air laut dengan warna
cerahnya. Air lautan menjadi sangat jernih dan biru, seolah olah tidak pernah
menjadi gelap ketika malam datang. Suara mesin kapan yang dikemudikan oleh
seorang kapten kapal. Berbaur dengan deburan ombak ringan di seluruh permukaan
lautan. Juga suara suara ringan dari burung camar yang beterbangan di langit
seperti udara yang berputar putar.
Pagi menyingsing dari ujung timur. Setelah semalaman mereka menunggu
untuk berlayar, akhirnya di pagi hari Yebin bisa melihat matahari terbit
melalui dek kapal bersama putra kecilnya dan sang bunda.
“Hanyul-a, lihatlah, itu lumba lumba. Kau pernah melihat lumba lumba
sebelumnya?” tanya Yebin sambil menunjuk salah satu sisi lautan yang baru saja
dilompati segerombol lumba lumba. Lumba lumba yang bergerombol itu tampak
melompat lompat di permukaan laut dan membentuk sebuah formasi tertentu yang
sangat unik.
“Wah! Itu lumba lumba! Mereka melompat lompat seperti kelinci.” Hanyul
menyeru senang dalam pelukan Yebin yang menggendongnya. Anak kecil yang telah
tertidur pulas semalaman itu terlihat begitu semringah menyambut datangnya pagi
yang cerah di tengah lautan yang terbentang luas ini.
“Wah, ibu, lihat itu! Nenek, mereka seperti katak.”
Hanyul menceletuk senang sambil menunjuk nunjuk ke arah gerombolan lumba
lumba itu menampakkan diri di perlukaan. Ia menceletuk senang pada ibu yang
menggendongnya, dan nenek yang berdiri di sebelahnya sambil memegangi kedua
kakinya supaya tetap hangat.
Miyoon dan Yebin yang mendengar celetukan senang anak kecil itu hanya
terkekeh kekeh. Bagaimana pun, perkataan Hanyul yang menyamakan lompatan lumba
lumba dengan katak itu membuat mereka tidak habis pikir.
“Benarkah? Hanyul sesenang itu melihat lumba lumba?” celetuk sang nenek
sambil terkekeh kekeh.
“Ne!”
“Apa Hanyul tidak kedinginan? Kalau kedinginan, lebih baik kita masuk
saya ya? Di dalam lebih hangat. Hanyul bisa tidur di pelukan ayah atau paman.”
Miyoon lanjut berkata akrena mengkhawatirkan Hanyul yang sejak satu jam lalu
berada di dek kapal dan bermain main.
Seketika itu juga wajah Hanyul berubah murung. Ia memberengutkan wajah
dan melekukkan bibirnya ke bawah. Pertanda tidak setuju pada apa yang sang
nenek itu katakan.
“Tidak mau....” ucap lirih Hanyul.
“Ah, begitukah? Kalau begitu nenek ambilkan selimut hangat dulu untuk
Hanyul ya?”
Setelah itu Miyoon beranjak pergi dari dek. Masuk ke dalam pesawat dan
mulai membongkar koper yang dibawanya untuk mencari sleimut yang bisa digunakan
Hanyul untuk menghangatkan tubuhnya.
Beberapa detik setelah kepergian Miyoon meninggalkan dek, Yebin mengajak
Yul untuk duduk di salah satu kursi yang terdapat di dek kapal. Ia merasa
kewalahan menggendong Hanyul selama kurang lebih setengah jam.
“Sampai menunggu nenek datang, kita duduk dulu ya Sayang.” Yebin berucap.
Yang segera mendapat balasan berupa anggukan ringan dari Hanyul.
Begitu Yebin duduk di salah satu kursi besi yang terdapat di dek kapal,
seseorang keluar dari salah satu bilik kapal very. Lelaki itu tidak lain adalah
Leo Park, yang kelihatannya baru bangun dari tidurnya sejenak.
Melihat keberadaan Yebin bersama Hanyul di sana, Leo Park langsung duduk
di sebelah Yebin. Ia tersenyum menis kepada Hanyul sambil membelai kepalanya.
“Selamat pagi, Hanyul,” sapa Leo Park kepada bocah kecil yang ada di
pangkuan Yebin.
“Aku tidak menyangka kalau kau benar benar akan ikut ke pulau untuk
mempersiapkan semua pernikahan Hun Oppa,” ucap Yebin penuh rasa curiga.
“Apa salahnya? Kurasa aku berhak dan bisa bisa saja membantu kelancaran
pernikahan adikku. Apa ada yang salah dengan aku ikut?” sahut Leo Park.
“Aku hanya bilang terkejut, tidak mengatakan kalau kau salah.”
“Apa kau tidak senang dengan keberadaanku? Padahal aku ada di sini bukan
untuk siapa siapa selain dirimu,” ucap Leo park yang seketika membuat Yebin
menolehkan kepala dengan cekatan.
Kening Yebin mengernyit. Tatapan tajamnya menyorot pada Leo park sementara
dirinya memeluk Hanyul dengan lebih erat. Seolah olah sedang melindungi Hanyul
dari orang yang hendak melakukan penyerangan.
Yebin terdiam sejenak, menatap Leo Park tajam.
“Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku? Kenapa kau selalu berada di
sekelilingku dan seolah olah sedang menanamkan pagar di sekelilingku?” tanya
Yebin lugas. Ia mendekap Hanyul di depan dadanya. Menghalangi putra lelakinya
utnuk mendengarkan percakapnnya dengan Leo Park.
Leo Park menyeringai sinis. Ia tampak seperti tersenyum. Tetapi senyumnya
terasa menakutkan sekaligus licik.
“Aku hanya berusaha mengembalikanmu pada tempatnya. Aku ingin membuat
segala hal di dunia ini menjadi adil seadil adilnya,” jawab Leo park tajam.
Kening Yebin mengerut semakin dalam. “Apa maksudmu?” tanyanya tak
mengerti.
Embusan napas panjang keluar dari rongga hidung Leo Park. Ia mengalihkan
pandangan dari Yebin. Menatap ke arah lautan yang memperlihatkan semburat
keemasan dari sinar matahari yang mulai bersinar. Di ujung sana, sudah terlihat
sebuah pulau kecil yang tampak asri yang akan menjadi tempat resepsi pernikahan
Hun di selenggarakan.
“Kau lihat, betapa tidak adilnya dunia ini.” Leo Park berucap di sela
pandangan kelamnya yang menatap ke depan. “Pulau itu milik suamimu. Suamimu telah
membelinya secara resmi dengan izin pemerintah. Pulau itu punya banyak potensi
alam dan keindahan bahari. Pulau itu menjadi incaran hampir setiap pengusaha di
negeri ini, dan suamimu yang berhasil mendapatkannya. Suamimu membeli pulau itu
dengan harga yang sangat fantastis. Yang itu membuat pengusaha negeri lain
memikirkan kembali seberapa besar keuntungan yang dieprolehnya hanya dari
bisnis kafe dan retail.”
“Suamiku bekerja dengan sangat keras untuk kafenya. Orang lain tidak
pernah membayangkan betapa keras suamiku bekerja setiap harinya untuk kafe. Jangan
bicara sembarangan tentang suamiku,” serobot Yebin yang merasa tidak terima
mendengar Leo berkata demikian.
“Aku tahu. Aku pernah bekerja untuk suamimu jadi aku tahu hal itu dengan
jelas. Yang ingin kukatakan adalah, suamimu itu kapitalis di antara para
kapitalis negeri ini.” Leo Park meluruskan setelah mendapati respon Yebin yang
tidak baik terhadapnya.
“Lalu?”
“Pulau pribadi, bisnis kafe yang semakin melesat dan bercabang cabang,
bisnis retail yang membuat wajahnya dikenal semua orang di negeri ini. Kehidupan
yang mapan. Keluarga yang bahagia. Adik seorang hakim yang sebentar lagi akan
menikah. Citra yang baik di hadapan semua pengusaha. Suamimu itu... terlalu
serakah karena memiliki segalanya tanpa terkecuali. Bahkan seorang istri yang
cantik dan menawan sepertimu. Itu semua adalah keserakahan suamimu. Yang membuat
kaum kaum kecil sepertiku semakin miskin sedangkan kehidupannya semakin
melesat. Parahnya lagi, dia bahkan tidak mengizinkanku untuk membeli separuh
saham Moonlight Retail nya.” Leo berucap panjang lebar.
Yebin mengembuskan napas panjang mendengar semua alasan tidak masuk akal
itu. Ia sungguh merasa sangat heran dan merasa kesal mendengarnya.
“Asal kau tau, suamiku tidak mendapatkan semua itu dengan begitu
mudahnya. Dia susah melalui jalanan gelap dan berduri sepanjang perjalanan
hidupnya. Puluhan, bahkan ratusan kali dia terjatuh dan aku menyaksikan segala
perjuangannya sebelum mencapai titik ini. Kau tidak berkak mengatakan semua
yang didapatkan suamiku adalah keserakahannya. Ini hanyalah hasil dari darah
yang benar benar dia habiskan dan kuras di masa mudanya.” Yebin berucap penuh
amarah. Hanyul yang ada di dalam pelukannya, hanya terdiam memeluk tubuh Yebin
dan menyandarkan kepalanya di dada sang ibu dengn tenang.
Leo Park terdiam. Menatap kedua bola mata Yebin dengan pandangan
sendunya. Lantas berkata, “Lantas, untuk orang sepertiku, yang tidak pernah
keluar dari jalanan berduri, apa tidak pantas mendapatkan secuil kebahagiaan
seperti yang suamimu rasakan?”
“Apa... maksudmu?” desus Yebin pelan.
“Di antara semua kebahagiaan yang suamimu rasakan, setidaknya dia harus
membaginya sedikit denganku. Dengan cara aku bisa memilikimu.”
**