
**Kesabaran Suami Sedang Diuji
Yul POV**
Dengan perasaan kesal ini aku mendorong troli belanja. Berjalan mengintari lantai tiga untuk mencari keberadaan Kang Yebin. sambil beberapa kali menghela napas panjang, mengatur kesabaran. Aku baru menyadari, di titik inilah kesabaranku sebagai lelaki diuji oleh istriku sendiri, Kang Yebin.
Selama beberapa saat aku terus berjalan. Hingga dari kejauhan kudapati Yebin yang sedang sibuk mencicipi buah buahan sambil bercakap cakap dengan seorang bibi penjaga stan buah melon yang memberikan sempel secara gratis.
Sekali lagi, aku menghela napas panjang panjang ke dalam perut karena Yebin.
Perlahan lahan kulajukan troli belanja ini dengan mendorongnya sambil berjalan. Kuhampiri Yebin yang tampak begitu senang mencicipi buah melon sampai tak menyadari kedatanganku yang baru kesulitan mencari keberadaannya.
Kusenggol pinggang Yebin menggunakan troli belanja yang kudorong. Seketika itu juga Yebin menoleh.
“Eh, dari mana saja?” ucapnya dengan begitu tenang.
Keningku mengerut dalam dalam. setelah mencarinya ke mana mana, Yebin malah bertanya...
“Dari mana saja?” merasa kesal, aku hanya mengulangi perkataan Yebin.
Namun Yebin justru tersenyum semringah seolah tidak terjadi apa apa. Membuatku merasa semakin kesal. Kesabaranku benar benar diuji olehnya. Menyebalkan sekali.
“Nona manis, berikan potongan ini pada pamanmu,” ucap bibi penjaga stan buah melon.
Keningku mengerut semakin dalam. apa katanya? Paman? Siapa? Maksudnya, aku ini pamannya Yebin?
Di sisi lain Yebin juga tampak terkejut. namun ia hanya tersenyum geli sambil meraih potongan melon yang dilurkan bibi penjual.
“Bukan paman, dia adalah suamiku,” gumam Yebin sambil mengulurkan potongan buah melon ke depan mulutku. Menyuapiku menggunakan buah segar yang terasa manis itu.
Aku hanya terdiam dengan kedua mata yang melemas ketika mengunyah buah yang disuapkan oleh Yebin. kehidupan pernikahan yang kadang tidak sesuai ekspektasi. Ditinggal belanja sendiri dengan asiknya hingga dilupakan dan ditinggal. Sekarang, aku malah disalah sangkai sebagai paman Yebin karena rambut di wajahku yang membuatku beberapa tahun lebih tua dari usia ku yang sebenarnya. Sore yang melelahkan. Secara fisik dan mental aku merasa lelah.
“Oh, dia suamimu. Kalian pengantin baru?” tanya bibi penjaga stan dengan cara bicaranya yang sangat ramah.
Hmh!. Ramah tidak ramah. Aku tetap tidak menyukainya. Tetapi Yebin justru menanggapi bibi itu dengan senyuman.
“Kami memang pengantin baru. Bibi, tolong bungkuskan buah melon yang paling besar.”
***
Yebin POV
“Pokoknya lain kali aku tidak mau seperti itu. Berbelanja saja sendiri jika kau seperti tadi. Mengabaikanku, meninggalkanku, dan asik sendiri tanpa memedulikan aku yang datang bersamamu.”
Sejak berada di pusat perbelanjaan tadi Yul Oppa terlihat memliki mood yang buruk. Tapi, aku menyadari penyebabnya. Dan aku memahaminya. Aku juga mengaku salah karena asik sendiri ketika berbelanja sampai sampai aku lupa kalau aku tidak datang sendirian melainkan datang bersama Yul Oppa, suamiku.
Aku memahami apa yang membuat Oppa sangat kesal. Ya, benar sekali. karena bibi penjaga stan buah yang tadi salah sangka dan mengira Yul Oppa adalah pamanku. Aku tahu Oppa sangat kesal karena hal itu. Aku juga tahu kalau Oppa benar benar tidak menyukai sikapku yang asik sendiri dan tidak memedulikannya.
Yul Oppa berjalan menuju dapur sambil menentang dua kantung besar berisi barang barang belanjaan kami. Saat kami tiba di rumah, langit sudah begitu gelap. Sore telah berganti malam dan Oppa semakin kesal karena perbuatanku.
Dengan gusar Oppa meletakkan barang barnag belanjaan ke atas meja dapur. Aku hanya terdiam melihat nya yang sedang merajuk.
“Baiklah, Oppa. Lain kali tidak akan kuulangi,” desusku lirih. Aku berjalan medekati Yul Oppa yang wajahnya masih memperlihatkan emosi kesal.
Kupeluk ia dari samping. Ku longokkan kepalaku untuk menatap wajah Yul Oppa yang perlahan lahan menenang. Raut kekesalan yang ia tunjukkan sebelumnya berangsur angsur hilang, seiring dengan pelukanku yang semakin mesra.
Yul oppa hanya tediam dengan emosi kesal yang sudah tak tampak lagi pada wajahnya yang tampan. Kemudian aku tersenyum. Melepaskan pelukanku secara perlahan. Mengambil salah satu benda yang terselip di antara barang barang belanjaan. Lalu menarik tangan Yul Oppa sambil membawa benda yang tidka lain adalah alat pencukur elektrik ini di genggamanku.
“Ini yang membuat bibi di departemen store tadi mengira bahwa kau adalah pamanku,” desusku pelan sembari meraba area dagu dan bawah hidung Yul Oppa yang ditumbuhi bulu bulu halus berwarna hitam.
“Harusnya aku mencukurnya sejak kemarin.”
Aku hhanya tersenyum. Lalu mulai mengolesi wajah Yul Oppa menggunakan krim pelembab khusus untuk mencegah iritasi kulit ketika bercukur.
Kunyalakan mesin pencukur elektronik yang beberapa waktu lalu kami beli di pusta perbelanjaan. Lalu aku mulai menggunakan alat pencukur itu untuk mencukur rambut halus pada dagu dan bagian atas bibir Yul Oppa.
“Apa benar seperti ini caranya?” tanyaku tidak yakin. Ini memag pertama kalinya aku menggunakan alat pencukur untuk mencukur kumis dan jenggot laki laki. Dan aku tidak yakin apa caraku yang seperti ini benar.
“Gerakan atas bawah, seperti ini.”
Yul Oppa membenarkan caraku mencukur jenggotnya. Ia menggenggam tanganku dan menggerakkannya ke atas bawah.
“Ah, begitu rupanya.”
Sekarang aku mengerti. Yul Oppa memberi tahuku bagaimana cara melakukannya dengan benar.
Aku pun melanjutkan kegiatanku mencukur jenggot Oppa. Membuat penampilan wajahnya menjadi lebih bersih dan segar. Mengembalikan penampilan Yul Oppa supaya terlihat lebih muda dari usianya. Jujur. Aku juga merasa sedikit kesal ketika bibi tadi mengira Oppa adalah pamanku. Memang terdengar sedikit menggelikan. Tetapi ketika tiba di rumah aku menyadari jika itu menyebalkan.
Setelah selesai mencukur jenggot Oppa, aku melihat penampilan Yul Oppa yang terlihat jauh lebih muda dari sebelumnya. Ia hanya tersenyum, ketika aku menangkup kedua pipinya dengan kedua tanganku.
Tatapan Yul Oppa terasa dalam setiap kali menatapku. Kurasakan segenap perasaaan yang mendesir dalam setiap kali Oppa menatapku dengan lembut dengan mengiratkan banyak kasih sayang yang ia berikan. Setiap hari aku semakin mencintainya. Setiap hari aku merasa tidak pernah kosong karena keberadaan Yul Oppa.
Menatap Yul Oppa dalam waktu lama membuatku semakin merasa gemas. Hingga beberapa detik kemudian aku mendekatkan wajahku untuk mencium bibirnya yang lembut.
Cuuuupp.
Oppa hanya tersenyum geli ketika aku tiba tiba menciumnya. Ia terkekeh kekeh sambil bergumam, “Ooo, Nyonya Moon... kulihat kau jatuh cinta lagi padaku. Setiap hari kau jatuh cinta lagi pada ku. Benar kan?”
Aku hanya mengangguk antusias membenarkan setiap kata yang Oppa lontarkan. Memang betul. Setiap hari aku merasakan jatuh cinta. Setiap hari pula aku merasa rasa cintaku tumbuh semakin besar. Apa semua orang yang sudah menikah memang seperti itu? Atau karena usia pernikahanku dengan Yul Oppa yang baru dua minggu? Jadi hal hal seperti ini wajar saja terjadi?
Aku mengecup lagi bibir Yul Oppa dengan lebih dalam. Dan Yul Oppa segera menceletuk.
“Hei, bukan seperti itu caranya berciuman, Nyonya Moon.”
Selanjutnya Oppa mengajariku caranya berciuman dengan baik. Ia menurunkan kedua tanganku yang menangkup kedua pipinya. Melingkarkan kedua tanganku ini untuk bergelantungan dan memeluk lehernya. Kemudian Oppa mencengkeram pinggangku dan menempelkan tubuh kami berdua. Lanjut mencium bibirku dengan mesra. Menciumku dengan gerakan gerakan lembut selama beberapa waktu, sebelum terdengar suara dering dari ponselnya yang ada di dalam saku.
Karena dering itu sangat mengganggu, Oppa mengakhiri ciuman kami. Ia melepaskan pautan bibirnya dariku, kemudian mendesus pelan, “Sebentar.”
Sementara aku sibuk mengendalikan pernapasan dan juga suhu tubuhnya yang tiba tiba naik, Oppa menjawab telepon yang masih itu.
“Hun~a, ada apa?” sahut Yul Oppa begitu panggilannya tersambung. Yang meneleponnya adalah adiknya, Hun Oppa. “Kau mau mengambil barang barang mu yang ketinggalan? Iya. Aku sekarang ada di rumah. Ke sini saja, sekalian kita makan malam bersama.”
Tidak lebih dari sepuluh detik kemudian panggilan Yul Oppa dengan adiknya berakhir.
“Hun Oppa mau datang?” tanyaku.
Oppa menganggukkan kepala. “Dia mau mengambil barang barangnya yang masih ada di sini. Sekalian saja aku ajak makan malam bersama.”
“Kalau begitu, aku ke rumah ibu dulu. Untuk membantunya menyiapkan makan malam.”
***