Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Alasan Ketidaksukaan Yebin



Aku masih menunggu Yebin memberikan jawaban atas pertanyaan singkatku tadi. Lalu ia mengelurkan sebuah kartu nama berwarna hitam dari dalam tasnya.


“Sebenarnya, sebelum kejadian pot bunga di kuba itu sempat mengobrol dengan Leo Park. Cara bicaranya sangat tidak sopan. Aku tidak begitu menyukainya tapi tiba tiba ia memberiku kartu nama. Ini...”


Selesai memberikan jawaban singkat, Yebin menguluran kartu nama itu padaku. Selagi aku berenti di lampu merah, aku menerima kartu nama yang diberikan Yebin dan melihatnya sekilas.


“Wah, kebetulan sekaili. Orangnya cukup terkenal sebagai konsultan bisnis. Yah, walau dari yang kudengar sikapnya memang arogan dan seenaknya sendiri. Lihatlah, ia malah meminta bertemu denganku di kafe pada waktu selarut ini. Padahal kemarin kemarin aku menyuruhnya datang ke kafe tapi ia berkata tidak bis. Tapi ya bagaimana lagi? Aku membutuhkan nasihatnya untuk membuka indukan baru Moonlight Retail,” ceritaku panjang lebar. Lampu lalu lintas telah menyala hijau. Aku melajukan kembali mobilku menuju distrik Gwangjin.


“Oppa kurang tegas menghadapi lelaki kurang ajar itu. Cobalah sedikit lebih tegas padanya! Karena inilah Oppa sering mendapat masalah. Karena Oppa memperlakukan semua pegawaimu dan pekerja Moonlight Coffe dengan begitu lembek.”


Yebin justru berbalik mengomeliku. Istriku yang dari dulu suka mengomel itu memarahiku lagi. Namun, jujur saja. Aku lebih senang melihat Yebin mengomel ngomel seperti ini dari pada melihatnya selalu sendu dan sering terdiam sepanjang hari.


“Aku sudah bersikap sedikit lebih tegas pada pegawaiku.”


“Tegas apanya?! Aku masih sering melihat karyawan Moonlight Coffe datang terlmbat. Bahkan tidak memakai seragam saat bekerja.” Yebin langsung menimpali.


“Itu... mereka punya alasan sendiri kenapa tidak memakai seragam kafe. Aku juga mendengar alasan mereka datang terlambat,” sanggahku pelan.


“Jadi itu yang namanya tegas?” cetus Yebin. Ia menghembuskan napas panjang panjang karena merasa terheran sekaligus emosi medengarku yang beralasan. “Dan bukan hanya itu saja Oppa. Sikap para karyawan Moonlight Coffe itu perlu didisiplinkan lagi. Jangan biarkan mereka melalaikan pekerjaanya dengan sibuk merumpi di dapur saat pegawai lainnya sibuk mengurusi pelanggan. Dan pilah baik baik orang yang ingin kau pekerjakan di Moonlight Coffe. Jangan asal mempekerjakan orang saja. Seleksilah mereka dengan ketat, dan disiplinkan karyawan karyawan yang ada. Gaji yang kau berikan pada mereka itu bukan jumlah yang kecil. Jadi lebih disiplinkan lagi mereka dan terapkan beberapa peraturan.”


Saat Yebin sibuk melontarkan semua omelan itu, aku hanya diam mendengarkan. Jika aku menjawab, Yebin akan mengomel lebih banyak lagi. Dan jika aku pura pura tak mendengarkan, ia akan murka dan bisa bisa jatahku dikurangi. Itu bahaya yang sangat besar. Lebih baik aku diam dan mendengaran semua omelannya tanpa berusaha melawan atau menyanggah.


Setelah sekiranya Yebin menyelesaikan semua omelannya padaku, aku pun angkat suara.


“Baiklah, baiklah, Sayangku. Aku akan mendengakan apa yang istri cantikku ini katakan. Asal jatah subuhku tidak dikuragi, aku akan melakukan apa yang istriku katakan.”


Mendengar kalimatku yang penuh goda itu, Yebin hanya mendesah heran. Lalu kami terkekeh kekeh bersama sambil mengingat ingat semua subuh yang telah kami lewati dengan sangat menggairahkan. Bercinta saat subuh... Ah, membayangkan saja hatiku sudah berdebar debar. Dapat kupastikan Yebin juga merasakan debaran ini saat membayangkan sedang bercinta saat subuh, sebelum matahari benar benar terbit.


Setibanya di depan gerbang rumah, aku menghentikan mobil. Kulihat Yebin yang sedang melepaskan sabuk pengamnnya.


“Hati hatilah, Sayang. Jika Leo Park itu sangat kurang ajar, cari saja konsultan lain. Dari awal aku sangat tidak menyukai cara bicaranya yng tidak sopan dan caranya menatap yang sangat aneh,” kata yebin setelah melapaskan sabuk pengaman.


Aku hanya terkekeh kekeh. Sepertinya yebin benar benar tidak menyukai Leo Park itu, meski ia telah diselamatkan olehnya ketika di Kuba. Mungkin kesan pertama mereka sebelum itu tidak begitu baik. Sehingga Yebin secara terang terangan berkata tidak menyukainya.


Setelah selesai terkekeh, tubuh Yebin terulur padaku. Ia memelukku sebentar dan mengecupku di leher. Lalu aku membalas kecupannya di kening dan setelah itu berbisik pelan di telinganya.


“Segeralah beritirahat. Besok aku akan membangunkanmu saat subuh," bisikku pelan yang seketika membuat Yebin tertawa kecil.


“Baiklah. Hati hati, Sayang.”


**


“Maaf sudah membuat Anda menunggu lama. Saya harus mengantarkan istri saya pulang terlebih dahulu jadinya memakan waktu sedikit lama.”


Begitu masuk ke dalam ruang kerja, aku menceletuk. Leo Park yang sedari tadi menanti keberadaanku, seketika berdiri untuk menyambut. Terlihat raut wajah terkejutnya melihatku.


“Oh! Anda kan yang....”


Setelah uluran tanganku disambut dengan baik, aku beranjak duduk di kursi sofa dalam ruangan. Lantas menguntai senyum hangat menanggapi gumamannya.


“Benar. Saya yang dipesawat saat itu. Juga yang pernah Anda temui di Kuba,” kataku.


Kulihat lelaki itu yang tersenyum. “Anda masih mengingat saya?”


“Tentu saja. Anda sudah menyelamatkan istri saya pagi itu. Bagaimana mungkin saya melupakannya?” jawabku.


“Ini mengejutkan sekali. Saya bertanya tanya kenapa wajah Anda ini terlihat familiar. Dan ternyata Anda itu adaah bos dari Moonlight Coffe. Saya sering mengajak klien saya bertemu di Moonlight Coffe untuk membicarakan bisnis. Secara tidak sengaja mungkin saa sering melihat atau berpapasan dengan Anda. Makanya wajah Anda terliht sangat familiar,” ungkapnya.


Aku tersenyum ramah. “Saya juga terkejut kalau ternyata Anda itu adalah Leo Park yang sering dicari pebisnis sepertiku.”


“Oh... Anda sudah tahu saya?”


Tepat setelah itu manager baru Moonlight Coffe, masuk mebawakan dua cangkir teh hangat. Ia meletakkanya ke atas meja. Tepat di hadapan Leo Park dan aku.


“Silakan diminum,” ucapku selagi mengambil cangkir tehku untuk kuminum. Di hadapan, Leo park pun ikut mengmbil cagnki teh dan menyesapnya. “Saya diberi tahu istri saya tepat sebelum berangkat kemari. Aku bercerita padanya, bahwa konsultan yang sudah menungguku di kafe itu bernama Leo Park. dan istriku memberi tahuku bahwa Leo Park adalah yang pernah kami temui di Kuba dan di pesawat.”


“ahh.”


Ia mengangguk angguk paham mencerna penjelasanku. Setelah itu ia meletakkan cangkir teh kembali ke tas meja.


“Anda dan istri Anda pergi ke Kuba untuk bulan madu?” lanjutnya bertanya.


“Ya. Karena suatu hal, kami tidak bisa berangkat bulan madu seselesainya resepsi musim panas lalu. Dan akhirnya di akhir tahun kemarin kami baru bisa berangkat ke Kuba,” jelasku singkat.


“Istri Anda masih terlihat sangat muda.”


Aku hanya tersenyum simpul. Sambil mengurai apa maksudnya mengatakan hal itu di hadapanku.


“... Ah! Apa Anda menjalankan bisnis ini bersama istri Anda? Dari kesan saya terhadap istri Anda, sepertinya dia juga pebisnis,” lanjutnya menerka nerka.


Aku terkekeh kekeh mendengar terkaannya yang cukup baik.


“Anda rupanya sangat jeli. Istri saya memang pebisnis. Bisa dikatakan... dia jauh lebih berbakat dari saya. Tapi, saya menjalankan bisnis kafe ini sendirian. Istri saya memiliki bisnis di bidang lain,” jawabku.


“Kalau boleh tau, binis apa yang dijalani istri Anda?”


Sejenak aku terdiam. Aku mulai merasa curiga. Kenapa laki laki ini malah menanyakan banyak hal tentang istriku? Jika dipikir pikir, dari awal sampai saat ini yang ia pertanyakan bukan tentang bisnis tetapi malah kehidupan pribadiku. Ia justru lebih banyak bertany tentang istriku alih alih menayakan bisnis apa yang ingin aku jadikan indukan baru Moonlight Retail.


Sepertinya ia mulai menyadari kecurigaanku. Sehingga langsung menceletuk.


“Saya hanya penasaran. Apa mungkin bisnis istri Anda itu yang ingin Anda jadikan indukan baru Moonlight Retail. Akhir akhir ini banyak sekali suami istri yang menggabungkan bisnis mereka menjadi satu dan dikembangkan bersama,” jelasnya. Seketik aku memakluminya.


**


“Makanlah yang baik, Menantuku!”


Sambil menyerukan kalimat itu, ibu menyuapiku dengan irisan daging ham yang telah digoreng matang. Aku yang mendapat suapan pertama hari ini, mengunyah makananku dengan semangat.


“Terima kasih, ibu.”


“ahh! Kenapa Ibu menyuapi Oppa seperti anak kecil saja?” Yebin yang sepertinya merasa iri melihatku disuapi ibu, merutuk turuk sambil menjejalkan nasi ke dalam mulutnya dengan gusar.


“Biarkan saja! Seharusnyakau itu mengurusi suamimu dengan baik dan menyuapinya seperti yang kulakukan,” cetus ibu.


“Toh Oppa bukan anak kecil. Kenapa disuapi segala? Dia kan bisa makan sendiri.”


aku hanya menghela napas ke dalam perut. Merasa heran pada ibu dan anak satu ini yang hampir selalu beradu omelan setiap kali bertemu. Rasanya langka sekali melihat ibu dan istriku ini tidak berdebat karena masalah yang sangat sepele. Namun meskipun mereka sering berdebat, hampir setiap hari, kasih sayang mereka bahkan bisa terlihat melalui perdebatan itu.


Aku yang tak ingin mendengar istri cantikku itu lebih banyak mengomel pagi ini, segera mengambil satu iris daging ham mengunakan tanganku yang telah bersih. Lalu menyuapkannya pada Yebin.


“Makanlah juga, Sayang.”


“Aduh, cantik sekali istriku.”


Daging ham itu sepertinya  benar benar bisa membungkam mulut istriku. Seketika ia berhenti mengomel. Bahkan, dengan pipinya yang merona mendengar godaanku itu ia melanjutkan kegiatan sarapannya dengan tenang dan tak lagi mengomel.


“Oh ya, Menantu Moon, apa aku sudah pernah memberi tahumu hal itu?” kata Ibu di tengah berjaanannya sarapan kali.


“Hal apa, Ibu?” tanyaku.


“Aduh, ini sudah lama sekali. Tapi aku selalu lupa memberi tahumu. Sepertinya aku sudah mulai pikun, aduh... harusnya aku memberi tahumu sejak dulu.”


“Lupa itu hal yang wajar, Ibu. Kenapa tiba tiba kau menyinggung tentang pikun? Menakutkan sekali,” rutuk yebin menanggapi keluhan ibunya.


Sementara itu, Ibu terlihat kebingungan. Aku yang melihatnya membingung pun kembali melontarkan pertanyaan.


“Soal apa, Ibu? Siapa tahu ibu sudah pernah memberi tahu.”


“Jadi, saat kalian pergi ke Kuba tiga bulanan lalu, ada seorang mengunjungi rumah kalian. Namanya... ah, aku lupa. Tapi dia orang yang sangat terkenal kok. Dia itu seorang pelukis yang sering muncul di televisi. Namanya....”


Aku langsung terdiam. Mengingat ingat siapa pelukis yang sekiranya akan mencariku di rumah.


Saat ibu masih berusaha mengingat ingat nama pelukis itu, aku menyebutkan satu nama yang terbesit dalam benak.


“Pelukis... Jae Min Chul?”


“Oh, iya benar benar! Pelukis Jae Min Chul. Dia mencarimu di rumah pagi pagi saat aku sedang menyapu halaman. Katanya kalian memiliki hubungan baik sejak kau masih kecil. Tapi kau sangat sulit dihubungi bahkan email pun tidak sempat kau balas. Dia menyuruhku untuk mengatakan padamu bahwa dia datang saat kau tidak ada dan memintamu untuk menghubunginya. Aduh... tapi aku lupa mengatakan padamu sampai berbulan bulan. Dia pasti sangat menunggu...”


Aku kembali terdiam setelah mendengar penjelasan panjang ibu. Tiba tiba saja nafsu makanku berkurang. Seolah olah aku tak dapat lagi menelan makanan.


Saat pikiranku ini menjadi kosong, aku bertatapan dengan Yebin. Seperti yang kuduga, Yebin yang lebih dari siapa pun mengiginkanku untuk kembali melukis, mnatapku dengan tatapan yang berkobar kobar. Seolah ia sedang mencoba membalik pikiranku dengan tatapannya.


Sarapan pun berlanjut dalam segenap keheningan yang menghiasi. Sampai akhirnya sarapan pun selesai. Seperti biasanya, aku membantu mmbereskan meja makan dan mengepel lantai ruang makan. Sedangkan Yebin dan ibu mencuci piring di dapur.


Sembari itu Yebin terus terdiam. Ia sedang menahan semua yang ada di kepalanya untun tidak di keluarkan sampai kami tiba di rumah. Rasanya akan sangat cangung jika kami berdebat di depan ibu.


Setelah semua pekerjaan itu selesai, aku dan Yebin kembali ke rumah. Sedangkan ibu pergi ke pasar bersama dua orang pekerja rumah makan Galbinya untuk membelanjakan kebutuhan.


Sesampainya di rumah, seperti yagn kudiga, Yebin langsung memarahiku.


“Oppa tidak membalas email yang dikirimkan pelukis itu?” rutuknya selagi berjalan menuju dapur.


Pandanganku menurun. Aku menggaruk garuk leherku yang tidak gatal.


“Aku langsung menghapusnya. Tidak sempat membalas. Tidak, aku memang sengaja tidak membalas,” jawabku yakin.


Terdengar Yebin yang sedang menghela napas panjang panjang.


“Oppa, kau itu sungguh kenapa? Lebih dari siapa pun aku tahu, bahwa kau masih ingin melukis,” kata yebin dengan suaranya yang meninggi.


“Aku sudah menyerah. Berapa kali aku memberi tahumu bahwa aku sudah menyerah melukis. Aku memilih untuk tidak melakukannya. Aku memilih menekuni pekerjaanku yang sekarang,” tegasku.


“Kalau begitu katakan padaku, alasanmu melakukannya. Katakan padaku alasanmu menyerah pada impianmu sejak kecil iu?”


Aku terdiam. Menatap putus asa ke arah Yebin.


“Kau bertanya karena sungguh tidak tau? Lebih dari siapa pun kau kau tahu apa alasanku menyerah,” kataku lirih.


Yebin ikut menghening. Tubuhnya berputar, membelakangiku untuk menarik napas panjang panjang. Lalu ia kembali berbalik menatapku dan berkata dengan putus asa.


“Kalau begitu sekarang kau bisa memulainya kembali, Oppa. Melukis... lakukanlah lagi. Jae Min Chul atau siapa pun yang mencarimu itu, temui dia. Menyerah adalah menyerah, tapi bukan berarti kau tidak bisa melakukannya. Oppa ingin melukis lagi kan? Aku tau kalau Oppa ingin melakukannya lagi.”


Setelah terdiam cukup lama, aku berkata, “Benar. Aku memang ingin melakukannya lagi. Lebih dari apa pun aku ingin melukis lagi. Tapi, aku memilih untuk tidak melakukannya. Ini adalah keputusanku.”


“Kenapa? Oppa ingin, tapi kenapa memilih tidak melakukannya?” sahutnya,


“Karena sekarang hidupku tidak tentang diriku sendiri. Aku punya kamu, aku telah memiliki keluarga dan menjadi kepala dari keluargaku.”


“Jangan mejadikanku alasan, Oppa.” Yebin menyentak dengan suaranya yang meninggi. Wajahnya yang terlihat begitu pilu itu membuatku semakin bersedih. “Ini juga berat untukku. Aku bisa melakukan apa yang aku sukai tapi orang yang sangat kusayangi tidak bisa melakukan apa yang dia suka karenaku. Oppa tahu beratnya perasaan seperti itu? Aku tahu selama ini kau sering keluar dari kamar saat malam malam. Hampir setiap malam kau terbangun, lalu keluar meningalkanku yang sedang tidur pulas. Oppa menghabiskan waktu malammu di ruang lukisan kan? Setiap malam bangun itu, Oppa pergi ke ruang lukis kan?”


Tubuhku membeku. “Itu... bagaimana kau tahu?”


“Tentu aku tahu. Setiap kali kembali ke kamar setelah keluar malam malam, aku mencium aroma  cat minyak di tubuhmu. Itu aroma dari ruang lukis yang selalu kucium setiap kali masuk ke sana. Bagaimana aku tidak tahu?”


Aku yang merasa sangat terkejut ini masih membeku di tempat menatap Yebin. Lalu perlahan Yebin mendekat dan memelukku. Ia memeluk tubuhku dengan erat sambil membisik pelan.


“Aku berharap Oppa bisa bahagia hidup bersamaku. Aku tidak ingin menjadi bebanmu. Jangan menjadikanku alasan, dan lakukan apa yang ingin kau lakukan, Oppa.”


Apa yang Yebin katakan dalam dekapanku ini membuat perasaanku tersentuh. Aku membalas pelukannya dengan erat.


“Aku sudah merasa bahagia hanya dengan memilikimu, Sayang. Tidak ada kebahagiaan yang lebih daripada kenyataan bahwa aku memilikimu seutuhnya.”


Pelukan kami berlangsung cukup lama. Sampai kemudian Yebin melepaskan terlebih dahulu pelukannya. Kepalanya mendongak menatapku. Kemudian memberiku kecupan ringan di bibir.


Satu kecupan memicu kecupan lain yang lebih dalam. Aku membalas kecupan itu dengn ciuman mesra pada bibir Kang Yebin yang selalu terasa manis menyentuh lidahku. Ciuman pun tak terhindarkan. Bercinta di pagi hari setelah sarapan, tidak buruk juga. Meski saat subuh tadi kami sempat melakukannya, melakukannya lagi sekarang tidak ada salanya.


Satu kecupan pun memicu hasrat bercinta di pagi hari. Aku dan Yebin nyaris melakukannya di dapur sebelum akhirnya suara bel rumah menghentikan aksi kami berdua.


“Oppa, sepertinya ada yang datang,” kata Yebin di sela ciuman kami.


Aku pun menoleh ke arah pintu. Dan menghela napas. Sial. Siapa yang datang di saat yang tidak tepat seperti ini? Dengan penuh rasa kesal, aku pun melepaskan pelukanku pada yebin. Lalu berjalan meninggalkan dapur sementara Yebin sibuk mengancingkan baju dan meraikan tatanan rambut untuk menyambut tamu yang datang di hari minggu seperti ini.


“Apa Hun Oppa datang?” tanya Yebin yang mengikutiku berjalan di belakang.


“Kurasa bukan Hun. Dia sedang berada di luar kota sejak kemarin.”


Setelah menjawab itu, aku pun mulai membuka pintu. Mendorong pintu keluar untuk melihat siapa yang bertamu di rumaku hari minggu seperti ini. Dan ternyata, yang bertamu sekaligus yang mengganggu kegiatanku di dapur bersama Yebin itu adalah....


“Leo Park ssi? Ada apa Anda datang kemari?” gumamku pada lelaki yang berdiri di ambang pintu.


Lelaki itu hanya tersenyum simpul. Membungkukkan tubuh padaku dan pasa istriku untuk menyapa.


“Maaf atas kedatanganku yang mendadak. Ada hal mendesak yang ingin saya bicarakan dengan Anda. Jadi saya datang ke rumah Anda karena Anda tidak ada di kafe saat hari minggu.”


**