
Dua jam berlalu sejak Yebin masuk ke dalam ruang operasi bersama beberapa dokter berpakaian hijau. Ibu yang tadi menangis terisak isak melihat putrinya yang malang itu masuk ke ruang operasi, kini sedang tertidur di kursi ruang tunggu bersama Jangmi yang beberapa waktu lalu datang dari Incheon bersama suaminya. Sedangkan Yul masih duduk di depan ruang operasi. Menunggu istrinya yang sedang dibedah. Ia menanti dengan khawatir di depan ruang operasi itu seorang diri.
Berselang waktu tak lama kemudian, seorang perempuan datang. Ia ikut mendudukkan tubuh ke atas kursi bersama Yul yang sedang menanti dengan gelisah.
“Operasi Hakim Hun belum selesai juga?”
Wanita yang tidak lain adalah Jina itu angkat suara. Membuat Yul seketika menoleh dan menyadari keberadaannya. Entah sejak kapan Jina duduk di sebelahnya, Yul sendiri pun tak yakin.
“Sudah, dua jam an lalu. Tapi dia masih belum dibawa keluar dari ruang operasi. Kondisinya masih kritis,” jawab Yul lirih.
Terdengar helaan napas panjang dari Jina yang menggambarkan kegetiran benaknya. Sebelum kecelakaan, Hun sempat berdebat dengan Jina karena permasalahan sepele. Dan kini ia menyesali semua itu. Jika saja perdebatan itu tidak pernah terjadi, apa semua akan baik baik saja? Baik Hun maupun Yebin, apa keduanya tidak akan mengalami kejadian tragis ini? Pikir Jina dalam benak.
“Maafkan aku. Ini semua terjadi karenaku. Ini semua kesalahanku.”
Tiba tiba saja Jine manangis. Ia ini menyesali semuanya. Menangis hening di sebelah Yul sambil menundukkan kepala.
Yul sedikit tersentak melihat wanita itu yang tiba tiba menangis.
“Tidak. Itu bukan kesalahanmu. Itu semua kecelakaan yang disengaja. Jangan menyalahkan dirimu atas apa yang terjadi pada Hun dan istriku.” Yul berucap untuk sedikit menenangkan Jina.
“Apa maksudnya? Kecelakaan yang disengaja?” Jina terdengar kaget mendengar kata itu. Sontak ia menghentikan tangisnya. Duduk menyerong menghadap Yul untuk mendengarkan lebih lanjut apa yang dimaksud kecelakaan yang disengaja.
Untuk saat ini, semua berita masih menyiarkan tentang kecelakaan tunggal di titik 0,7 kilometer jembatan Sungai Han yang disebabkan oleh kelalaian pengemudi. Dan untungnya identitas dari Hun belum terekspos di hadapan publik. Orang yang Yul percaya, Pengacara Bae kini sedang bekerja keras untuk mencekal semua berita yang hendak menyiarkan siapa pengemudi lalai yang diduga adalah seorang hakim Mahkamah Agung itu. Untuk menyelamatkan Hun. Untuk menjaga citranya sebagai seorang hakim yang terhormat. Selain itu, Yul masih meragukan bahwa kecelakaan itu memang benar kecelakaan tunggal. Karena setahu Yul, yang telah menjadi kakak Hun selama puluhan tahun, Hun bukan tipa orang sembrono yang ugal ugalan dalam berkendara hingga menimbulkan kecelakaan seperti itu. terlebih ia bersama Yebin, yang saat itu harus Hun jaga atas permintaan sang kakak.
Berita yang saat ini beredar masih sangat diragukan dan tidak bisa dipercaya. Pun penyelidikan lebih lanjut tentang penyebab kecelakaan itu masih diselidiki oleh pihak kepolisian.
Saat masih dalam pesawat menuju kemari, Yul dikirimi foto oleh seorang temannya yang menjadi detektif di Kepolisian Gangnam. Foto itu adalah foto mobil Hun yang rusak parah akibat kecelakaan. Jika memang itu kecelakaan tunggal, seharusnya hanya bagian depan saja yang ringsek. Tetapi mobil Hun yang ringsek bagian depan dan belakang itu menunjukkan kalau kecelakaan itu bukanlah kecelakaan tunggal. Pasti ada yang menabrak mobil Hun dari belakang dengan begitu keras sehingga terpental ke depan dan menyebabkan bagian depan mobil pun rusak parah.
Jelas sekali semua itu ada kejanggalan. Kenapa buru buru ada berita yang menyiarkan bahwa kecelakaan diduga karena kelalaian pengemudi di saat kepolisian belum melakukan penyelidikan apa pun. Juga bagaimana media tahu bahwa pengemudi di dalamnya adalah seorang hakim Mahkamah Agung ketika para tenaga medis yang melakukan pertolongan pertama pada Hun saja tidak pernah mengkonfirmasi bahwa pengemudi dari mobil itu adalah seorang hakim. Jangankan mengonfirmasi, mungkin para dokter yang mengoperasinya saja tidak tahu siapa Hun. Bukan karena alasan lain. Melainkan karena Hun adalah hakim muda yang baru bekerja di Mahkamah Agung dan belum pernah sekalipun tampil di media mana pun. Sehingga masih segelintir orang saja yang tahu bahwa Hun adalah hakim Mahkamah Agung.
“Ada yang mencoba memanipulasi kecelakaan itu. Semua yang terjadi itu begitu janggal. Media dan para wartawan seolah sedang melakukan manipulasi terkait penyebab kecelakaan Hun. Mereka bergerak terlalu cepat dan seakan akan sudah tahu sebelumnya tentang kecelakaan itu.”
Setelah mencerna semua kata kata Yul itu, wajah Jina berubah pucat. Ia menatap nanar ke depan. Terlihat seperti seseorang yang baru mengetahui pelaku pembunuhan berantai yang telah diincar selama puluhan tahun. Wajahnya pucat pasi. Bola matanya bergetar. Namun ia mencoba menutupi semua itu dengan mengendalikan ekspresi wajah dan rasa keterkejutannya.
“... Polisi masih menyelidiki penyebab sebenarnya kecelakaan Hun. Kita masih harus menunggu sampai polisi selesai melakukan penyelidikan. Baru kemudian bisa menarik kesimpulan,” lanjut Yul berkata.
Suasana menghening setelah itu. Jina bergeming. Terlarut dalam cerita Yul. Begitu juga dengan Yul yang terlarut dalam suasana yang teramat kelam dan menyedihkan ini.
“Hubunganku dengan Hakim Hun tidak baik akhir akhir ini,” ceirta Jina setelah beberapa saat berlalu.
“Aku tahu. Hun selalu bercerita tentang itu.”
“Boleh aku mengatakan sesuatu? Mungkin ini akan sedikit menyinggungmu.” Yina berucap sedikit ragu.
Yul mengangguk ringan. “Katakan saja.”
“Aku selalu merasa raga Hakim Hun ada bersamaku namun jiwanya ada di tempat lain. Awal berkencan dengannya aku mengira dia benar benar mencintaiku. Aku bertanya tanya, kenapa seorang laki laki setuleh Hakim Hun, yang juga berasal dari keluarga terpandang dan punya latar belakang pendidikan yang bagus, mau berkencan dengan gadis desa sepertiku. Awalnya aku berpikir itu karena cinta memang tidak memandang status. Tapi kemudian aku tahu kalau dia mengencaniku sebagai pelampiasan. Pelampiasan setelah wanita yang dicintainya menikah dengan kakaknya.” Jina bercerita lirih.
Bukan pertama kali Yul mendengar tentang itu. Sebelumnya, Hun memang telah mengakui hal itu pada Yul. Kalau di awal ia memang berkencan dengan Jina karena perasaan hampanya setelah Yebin menikah dengan sang kakak.
“Bukan apa alasan kalian berkencan yang penting. Tapi bagaimana perasaan itu tumbuh setelah kalian menjadi sepasang kekasih. Hun memang berkencan denganmu karena kekosongannya sejenak. Tapi setelah itu dia benar benar mencintaimu. Kau telah berhasil mengisi kekosongan dalam dirinya. Dan itu yang membuatnya jatuh cinta padamu, membutuhkanmu, dan merasa tidak bisa melepaskanmu.” Yul menuturi panjang lebar.
“Dia sungguh mencintaiku? Dari mana dia mencintaiku di saat mengatakan kata cinta saja tidak pernah. Dia tidak pernah bertanya apakah aku baik baik saja, tidak pernah mencampuri urusanku, tidak peduli padaku. Bahkan setiap malam aku mengatakan ‘aku mencintaimu’, dia hanya tersenyum dan tak pernah membalas ucapan cintaku. Kami seperti orang asing yang berbicara hanya untuk menjaga kesopanan.” Jina akhirnya meluapkan sema keluh kesahnya terhadap Hun, di hadapan kakak ipar.
“Hun memang seperti itu orangnya. Harga diri dan egonya sangat tinggi untuk bisa merendah dan mengatakan ‘aku mencintaimu’ pada orang yang benar benar dia sayangi. Dia tidak mau bertanya apakah kau baik baik saja, dan tidak mau mencampuri urusanmu, karena pola pikirnya yang menganggap bahwa dia tidak berhak mencampuri urusan pribadimu. Hun tidak ingin kau terusik jika ia ikut campur urusan pribadimu. Dan tidak ingin menganggapmu lemah dengan terus bertanya apakah kau baik baik saja.” Yul berucap panjang lebar. Kemudian melanjutkan, “Aku telah menjadi kakaknya selama tiga puluh tahun usia Hun. Dan aku tidak pernah mendengarnya berkata ‘aku menyayangimu, Hyung’ meski aku sering mengatakan rasa sayangku padanya. Bisa dihitung dengan jari berapa kali Hun bertanya apakah aku baik baik saja di tengah semua keadaan sulit yang kulalui. Meskipun begitu, dia akan selalu ada ketika ia tahu orang yang disayanginya berada dalam masa masa sulit. Hun bukan orang yang pandai mengekspresikan rasa sayangnya. Juga bukan tipe orang yang mau sedikit merendah untuk mengungkapkan rasa sayangnya pada orang lain.”
“Tapi Hakim Hun sering bertanya ‘apakah kau baik baik saja’ pada Kang Yebin, istrimu. Artinya dia bisa merendah pada orang yang benar benar dia sayangi,” cetua Jina.
Napas Yul terhela. Ia menatap Jina lekat lalu berkata, “Itu karena kepribadian Yebin. Istriku, Yebin, orangnya sangat terbuka dan blak blakan. Dia tidak mau menutup nutupi segala sesuatu dan selalu mengatakan apa yang terlintas di kepalanya. Dia orang yang sangat terbuka dan bisa merendah pada orang yang memperlakukannya dengan baik. Yebin memiliki kemampuan untuk membuat orang lain merendah tanpa merasa sedang merendahkan diri. Dia mampu membuat orang yang bersamanya takluk dan bisa melakukan apa yang tidak mudah dilakukan, seperti halnya Hun, dan aku. Aku selalu merasa menjadi orang yang baru ketika bersama Yebin. Bukan karena aku mencintainya atau karena dia mencintaiku, tetapi karena kepribadian yang dibawakannya.”
Jina diam bergeming. Menatap nanar ke arah depan.
“Istrimu sungguh wanita yang mengagumkan. Pantas saja dia disukai dan dikagumi banyak orang. Termasuk kau, Hakim Hun, bahkan kakakku yang selalu mengutarakan kekagumannya pada Kang Yebin,” gumam pelan Jina yang tanpa disadari menyinggung suatu hal yang teramat sensitif.
“Karena itu aku selalu merasa waspada. Terutama pada kakakmu yang memperlihatkan rasa sukanya kepada Yebin dengan begitu jelas.” Yul balas menggumam gumam pelan. Itu seketika membuat Jina tersentak.
“Ma... maksudku....” Jina tergagap gagap saat mencoba menanggapi.
“Tidak perlu kau tutup tutupi. Aku sudah tahu semuanya.”
Tepat setelah itu terdengar pintu ruang operasi yang terbuka. Seorang dokter yang menggunakan baju operasi hijau lengkap dengan penutup kepala, keluar. Seketika dokter itu menampakkan diri, Yul langsung beranjak dari duduk. Berjalan menghampiri dokter tersebut yang ingin mengatakan sesuatu pada pasien.
“Dengan keluarga Nyonya Kang Yebin dan Tuan Moon Hun?” tanya dokter tersebut.
“Saya keluarganya. Bagaimana keadaan istri saya dan adik saya?” lanjut Yul bertanya.
“Untuk operasi Nyonya Kang Yebin sudah berhasil. Sebentar lagi istri Anda akan dikembalikan ke ruang perawatan. Dan untuk Tuan Moon Hun, keadaannya masih kritis. Pendaharahan pada otaknya cukup parah sehingga kami tidak bisa menjamin kapan beliau akan sadar. Dan untuk saat ini, kamu akan memindahkannya ke ruang perawatan intensive ICU.”
Selang sejenak setelah dokter itu selesai memberikan penjelasan, pintu ruang operasi kembali terbuka. Terlihat empat orang dokter sedang mendorong ranjang pasien Hun. Membawa Hun masuk ke ruang ICU. Seketika Hun lewat, Jina yang meneteskan air mata itu mengikuti ke arah mana Hun dibawa. Lalu kemudian dari ruang operasi satu ranjang pasien pagi keluar dengan didorong tiga orang tenaga medis. Itu adalah ranjang pasien Kang Yebin. Yebin hendak dibawa ke ruang rawatnya setelah operasi patah tulang rusuknya berhasil.
Di belakang ketika dokter yang sedang mendorong ranjang rawat Yebin itu, Yul berjalan pelan mengikutinya. Seakan akan tubuhnya itu tak sanggup untuk berjalan lebih jauh lagi. Fakta bahwa Yebin saat ini sedang sakit sudah cukup menyayat setiap ruang dalam benaknya. Ditambah fakta pahit lain tentang kondisi Hun yang masih kritis dan juga kasus kecelakaannya yang masih simpang siur.
Memasuki ruang rawat Yebin.
Dari arah pintu Yul menatap ketiga dokter operasi yang sedang memasang beberapa peralatan pada tubuh Yebin. Dari sudut itu, Yul yang menatap lurus ke depan seolah sedang hilang naluri. Separuh dari jiwa Yul sedang terbang berkelana bersama Yebin di alam yang tak dapat ia sentuh. Sedangkan separuh jiwa Yul lainnya yang terisi oleh kasih sayangnya pada sang adik, juga berhenti berjalan. Mendapati dua manusia yang paling berharga untuknya terbaring tak berdaya seperti itu adalah fakta yang menyayat Yul, melemahkannya sebagai seorang suami sekaligus kakak, membuatnya dihantui rasa bersalah. Jika saja ia tak ada urusan ke Jeju atau tak memasrahkan Yebin pada Hun, mungkin kecelakaan itu tidak pernah terjadi. Hun tidak akan melewati jembatan itu dan tentunya tidak akan mengalami kecelakaan. Begitu pun Yebin. Andai kata Yul tidak terbang ke Jeju, Yebin tidak perlu menggantikan pekerjaannya di kafe dan tidak mungkin terlihat dalam kecelakaan tragis ini.
Karena perasaan pilu yang menghantui benaknya, Yul sampai tidak menyadari bahwa seorang dokter yang selesai memasang alat kesehatan pada Yebin itu sedang mengajaknya bicara. Tatapan Yul nanar. Menatap ke arah Yebin tak fokus sampai tak menyadari apa yang sedang terjadi di sekitarnya.
“Permisi.... Tuan, Wali Nyonya Kang Yebin.”
Baru setelah seorang dokter itu meninggikan suaranya, Yul tersadar. Ia menatap dokter itu dan berkata, “Ah... ya... Ada apa, Dok?”
Terlihat dokter itu yang menghela napas panjang. “Nyonya Kang Yebin akan sadar dari bius dalam satu jam ke depan. Tolong awasi dia. Jangan tinggalkan dia sendirian. Begitu sadar nanti, jangan biarkan pasien minum air putih sebelum bisa buang angin. Setelah buang angin nanti pasien baru boleh minum atau makan yang lembut.”
Menanggapi penjelasan dokter itu, Yul menganggukkan kepala.
“Saya akan mengingat nasihat Dokter. Terima kasih.”
Setelah itu, ketiga dokter yang bertugas pergi keluar dari ruang rawat Yebin. Begitu mereka pergi, Yul pun berjalan ke arah ranjang. Melihat kondisi Yebin yang lemah tak berdaya. Di beberapa bagian wajah Yebin terlihat luka akibat pecahan kaca mobil. Pada lengannya juga terdapat luka jahitan yang ditutupi perban warna putih. Begitu pun kepalanya yang diperban.
Yul perlahan menundukkan tubuh. Mencium lembut kening Yebin yang maish larut dalam bius operasi.
“Maafkan aku. Harusnya aku tidak pergi meninggalkanmu.”
**