Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Cinta atau balas budi



Pesta daging panggang di halaman rumah Yebin yang sedang berlangsung ini menjadi pertanda musim dingin yang benar-benar berakhir. Salju i halaman yang beberapa minggu lalu masih menumpuk, kini telah hilang mencair terkena sinar matahari selama beberapa hari belakangan. Kuncup-kuncup bunga yang mulai bersemi menebarkan aroma wangi yang betebaran sepanjang perjalanan.


Miyoon membalik daging sapi di atas alat pemanggang yang warnanya kecoklatan. Daging yang masih setengah mentah itu membuat manusia yang sedang duduk melingkar di atas bangku lebar halaman ini meneteskan air liur. Yebin yang sedari tadi perutnya telah keroncongan, melihat daging di atas panggangan yang mengeluarkan aroma gurih dan lezat.


“Oh ya, di mana Moon Sajang? Perasaan aku tadi melihatnya.” Miyoon yang sedang memanggang daging bertanya.


“Aku tidak tahu. Sepertinya dia ada urusan di luar,” jawab Hun singkat. Laki-laki yang memakai piama berwarna abu-abu itu mengingat Yul yang satu jam lalu pergi membawa mobil keluar.


“Sepertinya Moon Sajang sangat sibuk. Aku jarang melihatnya akhir-akhir ini,” sambung Miyoon.


Melihat daging sapi di atas pemanggang yang sudah matang, Yebin segera mengambilnya menggunakan sumpit. Beberapa kali meniup potongan daging sapi yang belum matang sempurna itu lalu segera melahapnya.


“Tunggulah sebentar! Itu belum benar-benar matang,” celetuk Miyoon.


“Tidak apa-apa, Ibu. Enak kok.” Yebin menjawab tanpa memedulikan ibunya yang mengomel. ia mengambil kembali daging di atas pemanggang lalu melahapnya. Diikuti Jangmi yang juga sudah kelaparan.


“Enak, Bibi. Panggangkan yang banyak, ya.” Jangmi menyahut sambil mengunyah daging sapi panggang.


“Jangan khawatir. Dagingnya masih ada banyak. Kalian makanlah sampai kenyang,” ucap Miyoon. “Nak Hun, makanlah. Kau harus makan banyak supaya besok bisa bekerja dengan baik.”


Miyoon mengulurkan satu potong daging sapi kepada Hun. Menyuapi laki-laki itu menggunakan daging panggang yang sudah matang sempurnya.


“Terima kasih, ibu.”


Tepat setelah itu terdengar deru mobil dari seberang pagar. Deru mobil yang sangat lembut itu terdengar memasuki rumah seberang jalan.


“Sepertinya Moon Sajang sudah pulang. Yebin~a, panggillah Moon Sajang. Suruh dia bergabung kemari untuk makan malam,” suruh Miyoon.


“Kenapa repot-repot memanggil? Nanti dia juga datang sendiri,” cetus Yebin yang masih lapar dan tidak ingin meninggalkan daging panggangnya.”


“Begitukah?”


Keempat orang yang ada di halaman ini pun melanjutkan kegiatan makan malam mereka. Miyoon yang memanggangkan daging untuk putri, keponakannya, dan juga Hun.


Sampai lima belas menit kemudian Yul tak juga datang kemari. Miyoon yang sedari tadi menunggu kedatangan pria itu, merutuki kembali putrinya untuk segera memanggil Yul.


“Kang Yebin, cepatlah panggil Moon Sajang untuk datang kemari. Dagingnya keburu habis kau makan. Cepat panggil dia.”


“Baiklah!” Yebin yang sebal mendengar rutukan ibunya, segera beranjak dari duduk. Tepat saat Yebin berdiri terdengar suara halilintar dari langit malam yang mendung. Yebin menjingkat kaget karena suara halilintar itu dan langsung menceletuk, “Kenapa malam-malam begini ada halilintar? Menyebalkan sekali!”


Miyoon mengembuskan napas keheranan melihat Yebin yang kini mengumpati halilintar. Ia melihat kepergian putri satu-satunya sambil mendesus, “Siapa yang dia turun sampai halilintar saja dimarahi? Aduh, apa yang sebenarnya kumakan saat hamil anak itu.”


Sementara Miyoon mendesus heran, Hun terkikik pelan melihat tingkah laku Yebin. Jika bukan Yebin, tidak ada lagi yang akan memarahi halilintar. Hun yang terkekeh-kekeh itu dipandangi oleh Jangmi dengan memicing.


“Bibi, sepertinya putrimu yang pemarah itu punya sihir.”


Mengabaikan Jangmi yang menggumam tak jelas dan Hun yang sedang terkekeh, Yebin berjalan cepat menuju rumah Yul. Ia melihat pintu gerbang yang terbuka lebar. Yebin berjalan masuk ke halaman dan mendapati pintu utama rumah yang sedikit terbuka.


“Apa yang Ajeossi lakukan di dalam sampai lupa menutup pintu begini?”


Karena pintu tidak terkunci Yebin pun bisa masuk dengan mudah ke dalam rumah itu. Begitu ia masuk ke dalam, tersaji sebuah pemandangan yang tidak menyenangkan.


Di atas sofa terlihat dua manusia yang sedang berciuman. Tubuh Yebin tertegun melihat Yul yang sedang berciuman dengan seorang wanita yang tidak lain adalah Haeri. Kedua manusia yang sedang berciuman dengan mesra itu tak menyadari keberadaan Yebin sebelum akhirnya Yul membuka mata dan melihat gadis itu sedang berdiri di balik pintu.


Untuk yang kesekian kalinya hati Yebin terasa dicabik-cabik hanya karena satu pria. Ia merasa tubuhnya itu telah remuk melihat suatu hal yang sangat menyakitkan ini. Kedua tangan Yebin mengepal erat. Seolah ingin menyalurkan rasa sakit dalam hatinya melalui kepalan tangan itu. Bola matanya meremang merah dan Yebin berusaha menahan air matanya agar tidak terjun.


Di sisi lain Yul membelalakkan mata melihat keberadaan Yebin. Ia tidak tahu apa yang membuatnya berciuman dengan Haeri seperti ini. Yul yang merasa hal ini tidak benar, segera mendorong tubuh Haeri menjauh. Ia segera bangkit dari duduk dan menatap Yebin yang memperlihatkan kehancuran hatinya melalui tatapan.


“Ye... Ye.. Yebin~a.”


Menyebutkan namanya saja Yul tidak sanggup. Ia juga bingung terhadap situasi ini. Bagaimana ia dan Haeri bisa berciuman. Dan bagaimana Yebin menyaksikannya. Yul yang berada dalam kebingungan, mengacak rambutnya sebelum melihat Yebin segera berlari keluar.


“Yebin~a, Kang Yebin!”


Yul segera menyusul Yebin yang berlari keluar. Meninggalkan Haeri di atas sofa. Berlari keluar dan menarik tangan Yebin untuk membuatnya berbalik.


“Yebin~a, dengarkan aku. Ini salah paham. Ini sama sekali tidak seperti yang kau pikirkan,” kata Yul cemas. Ia mencengkeram pergelangan Yebin.


“Lepaskan,” ucap Yebin sinis.


“Percayalan padaku. Tidak seperti yang kau pikirkan, Yebin~a. Ini semua salah paham.” Yul justru mempererat cengkeramannya pada Yebin. Tak ingin melepaskan wanita itu. Hati Yul benar-benar sakit saat ini. Namun ia pun tahu kalau hati Yebin jauh lebih hancur.


Tak ingin berlama lagi bertatapan dengan pria itu, Yebin menyentakkan tangannya. Melepaskan cengkeraman Yul sambil berteriak, “Lepaskan! Kubilang lepaskan!”


Cengkeraman Yul yang kuat itu membuat Yebin menyentakkan tangannya sekencang yang ia bisa. Hingga kedua tangan mereka benar-benar terlepas. Yebin berhadapan dengan Yul bersama semua rasa sakit yang ia rasakan.


“Entah itu benar salah paham atau tidak, aku tidak peduli. Ajeossi tidak usah pedulikan aku. Toh aku ini bukan siapa-siapamu selain gadis menyedihkan yang kau campakkan. Jadi jangan pedulikanku. Entah bagaimana perasaanku saat ini, jangan pedulikanku.” Yebin memperingatkan Yul dengan tegas.


Pandangan Yebin teralih pada seorang wanita yang berdiri di depan pintu. Wanita itu.... Wanita yang sejak awal bukan tandingan yang mudah untuk Yebin. Wanita yang selalu menjadikan Yul budaknya dan membuat Yebin dicampakkan. Yebin membenci wanita itu. Lebih dari apa pun Yebin membencinya.


Yebin segera melengoskan kepala. Tubuhnya terasa dingin karena air hujan. Hatinya terasa sakit karena Yul. Sungguh. Ini malam yang buruk untuk Yebin. Yebin segera berjalan meninggalkan Yul. Meninggalkan halaman rumah Yul. Yul yang tidak membiarkan hal itu terjadi, menyusul Yebin. Ia kembali menghadang Yebin tepat di depan pintu gerbangnya yang terbuka.


“Kang Yebin, kumohon. Percayalah padaku. Aku dan Haeri tidak ada hubungan apa-apa selain teman. Yang kau lihat tadi adalah salah paham. Kumohon, percayalah.” Yul membujuk Yebin sembari memegangi kedua bahunya. Ia membuat Yebin mendongak dan menatapnta sedih.


Napas Yebin berembus panjang-panjang.


“Hubungan kalian bukan apa-apa tapi kalian berciuman? Apa Ajeossi itu memang suka mencium orang sembarangan?! Saat itu kau juga begitu. Kau menciumku dan membuatku menunggu jawaban. Lalu kau menciumku lagi dan menolak perasaanku. Kau hanya menganggapku sebatas adik tapi menciumku layaknya kekasih. Kenapa kau selalu membuatku bingung? Membuatku salah paham hingga aku terluka berkali-kali!”


Yebin kembali berteriak sambil melepaskan kedua tangan Yul dari pundaknya. Seluruh tubuh Yebin basah dan ia menggigil kedinginan. Tapi hati Yebin panas karena amarah sekaligus kesedihan ini.


Raut wajah sedih Yul menatap Yebin putus asa. Meski tidak ada yang tahu, air mata Yul menetes bersama air hujan yang membasahi wajahnya. Ia melihat Yebin yang bola matanya memerah karena menangis.


“Maafkan aku.”


Hanya kata itu yang terlontar dari mulut Yul.


“Lupakan. Aku sungguh membenci kata maaf.”


Yebin tak menggubris ucapan Yul. Ia berbalik dan melihat Hun yang bediri di seberang jalan. Sama sepertinya, laki-laki yang tulus mencintai Yebin itu basah karena air hujan. Ia menatap Yebin dengan raut wajahnya yang tidak bisa di tebak. Di balik pagar rumah Yebin yang terbuat dari rangkaian baja, Miyoon dan Jangmi terlihat sedang hujan-hujanan menyaksikan pertengkaran Yebin dengan Yul. Namun, Yul tidak menyadari keberadaan orang lain kecuali dirinya dan Yebin. Pria itu terlalu larut dalam situasi yang mencengangkan ini.


“Bagaimana denganmu?” desus Yul yang seketika membuat langkah Yebin berhenti. “Malam itu kau juga berciuman dengan Hun. Dan keesokan harinya kau bilang kalau hubungan kalian bukan apa-apa. Apa itu masuk akal? Kau pikir aku akan percaya kalau kau dengan Hun tidak memiliki hubungan apa-apa setelah berciuman?”


Kalimat yang dilontarkan Yul itu perlahan membuat Yebin kembali berbalik. Keduanya kembali bertatapan dengan jarak yang tidak lebih dari dua meter.


“Maka kita impas. Tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan. Ajeossi bisa berciuman dengan wanita itu sampai puas dan aku bisa berciuman dengan pria lain sepuas yang aku inginkan!”


“Kang Yebin!” Yul membentak mendengarkan ucapan kasar Yebin.


Yebin terdiam sejenak mengatur pernapasannya yang mencepat. Ia berusaha sekuat tenaga untuk menenangkan perasaannya yang berkecamuk ini. Semua emosi yang ia pendam selama ini seolah akan meluap malam ini juga.


“Kenapa?! Tidak ada alasan untuk Ajeossi marah melihatku berciuman dengan laki-laki lain. Kau bahkan tidak pernah memandangku sebagai wanita. Di matamu aku hanyalah gadis kecil malang yang mengharapkan kasih sayang pria dewasa. Tidak ada alasan kau marah. Kaulah yang mencampakkanku, Ajeossi!”


“Aku mencintaimu!” Teriakan Yul seketika membungkam mulut Yebin. Wanita itu seketika diam membisu menatap Yul dengan kedua matanya yang bergetar. “Aku mencintaimu, Kang Yebin. Aku mencintaimu.”


Sementara Yebin diam membisu mendengar pengakuan cinta ini, Yul berjalan mendekat. Ia mendekat pada Yebin dan mencium bibirnya. Kedua manusia itu berciuman. Yebin kehilangan akal selama beberapa saat merasakan ciuman pria ini yang menghanyutkan. Di hadapan Hun yang hatinya hancur berkeping. Serta di hadapan Jangmi dan Miyoon yang menganga di balik pagar, Yul mencium Yebin. Hingga Yebin pun tersadar dan segera mendorong tubuh Yul menjauh.


Wanita itu membingung selama beberapa detik. Ia merasa marah pada perlakuan Yul ini. Seolah-olah Yul sedang memainkannya. Yebin yang amarahnya mulai meledak, mengayunkan tangannya dan menampar pipi Yul keras-keras.


PLAAKKK!


Suara tamparan ini terdengar sangat keras sampai membuat dua wanita di balik pagar menjingkat kaget. Mereka terperangah melihat Yebin yang baru menampar pipi kiri Yul dengan kuat.


“Aku membencimu, Ajeossi. Aku sungguh membencimu.”


Itu adalah kalimat terakhir yang dilontarkan Yebin sebelum berlalu pergi meninggalkan Yul. Wanita itu berjalan melewati Hun di depan gerbang rumahnya. Berjalan cepat masuk ke dalam rumah.


Pipi Yul sakit karena tamparan keras Yebin. Tetapi hatinya berkali-kali lipat lebih hancur. Saat wanita itu pergi, barulah Yul menyadari ada orang lain yang menyaksikan adegan miris padanya ini. Raut wajah Hun terlihat misterius. Jangmi dan Miyoon yang masih ternganga itu membuat Yul mengembuskan napas panjang-panjang.


‘Ini benar-benar sudah berakhir. Tidak ada tempat untukku bersinggah.’


***