Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Kamu Menyesal?



**Kamu menyesal?


Yul Pov**


“Baiklah. Ayo kita bicara. Tapi tidak di sini.”


Aku kembali menarik tangan Yebin dengan lebih lembut. Mengajaknya menepi di sisi barat gedung pameran seni yang sepi. Begitu tiba di tempat itu, tangan Yebin yang ada di cengkeraman, kulepas. Kamu berdiri hadap hadapan. Kuamati raut wajah Yebin yang menunjukkan ketidak senangan atas sikapku tadi.


“Kang Yebin, aku ini suamimu kan? Tapi kenapa kau tidak mau mendengar kata kataku?” aku angkat suara setelah beberapa detik berhadap hadapan dengan Yebin di tempat ini.


“Memang benar Oppa suamiku. Tapi bukan berarti aku tidak memiliki hak untuk memilih.”


Seperti itu Yebin menimpali kata kataku. Membuat napas panjangku seketika berembus keluar. Aku masih terdiam mengamati Yebin yang terlihat ingin melanjutkan bicara.


“Sebenarnya apa sih yang Oppa permasalahkan? Pakaianku? Memang kenapa dengan pakaianku? Aku membelinya dengan uangku sendiri dan merasa sayang jika tidak menggunakannya. Kenapa sejak tadi Oppa mempermasalahkan pakaianku? Apa seorang suami berhak untuk mengekang dan mengatur pakaian mana yang akan dipakai istrinya? Setidaknya biarkan aku menggunakan pakaian yang aku inginkan, Oppa. Aku juga ingin terlihat cantik dengan pakaian seperti ini seperti gadis gadis pada umumnya.”


Mendengar semua cerocosan Yebin, keningku mengerut dalam. alih alih membahas pakaiannya, Yebin justru membicarakan hal lain yang cukup menyakitkan untuk kudengar. Karena dalam kata katanya itu, seolah ia telah menyesali dirinya yang bukan lagi gadis perawan seperti gadis seusianya pada umunya yang belum menikah, melainkan sebagai wanita bersuami. Apa dia mengatakan kalau dirinya menyesal setelah menikah denganku? Karena itu ia ingin berpakaian seperti ‘gadis pada umumnya’?


Aku tidak habis pikir mencerna kata kata Yebin yang jauh di luar dugaanku. Perasaan sakit ini, rasa perih karena mendengar kalimat itu dari Yebin, tanpa disadari membuat raut wajahku semakin layu. Tatapanku ikut memendung saat bertatapan dengan Yebin, memperlihatkan rasa perih sekaligus kecewa.


“Barusan ... kau berkata kalau kau menyesal menjadi wanita bersuami? Kau menyesal karena pernikahan membuatmu tidak bebas seperti gadis pada umumnya? Benar begitu, Kang Yebin?”


Bersama perasaan getir ini aku bertanya. Suaraku bergetar dan melirih. Yebin pun seketika itu memperlihatkan tatapan yang bergetar takut.


“Bu ... bukan begitu. Oppa, bukan itu maksudku....”


“Baiklah. Sekarang aku tau kenapa sejak tadi kau bersikeras ingin memakai pakaian terbuka yang hampir memperlihatkan selutuh tubuhmu seperti itu. Karena kau ingin seperti gadis pada umumnya? Kenapa tidak sekalian kau melepas cincin pernikahanmu dan pergi ke klub malam seperti yang dulu pernah kau lakukan?”


Kemarahan yang bercampur rasa perih akibat kekecewaan ini telah berada di titik puncak. Aku tidak bisa lagi menahan kesabaranku setelah melihat Yebin nyaris dilecehkan karena pakaian terbukanya. Dan sekarang ia malah berkata kalau ia ingin seperti gadis pada umumnya yang bebas memakai pakaian seperti itu agar dilirik banyak lelaki.


Kutatap dengan legas Kang Yebin yang matanya bergetar ketakutan melihatku semarah dan sekecewa ini. Mungkin aku sedikit berlebihan dalam mencerna kata katanya. Tetapi, maksud Yebin kurang lebih seperti yang kujelaskan tadi, bahwa ia ingin berpakaian dengan bebas seperti ‘gadis pada umumnya’ yang tidak terkekang oleh aturan sosial tentang ‘wanita bersuami’.


Baiklah. perdebatan ini harus segera kuakhiri. Karena kurasa tidak ada lagi yang perlu kami perdebatkan. Aku terlanjut sakit hati. Perasaanku terlanjut tertoreh begitu dalam akibat kelakuan Yebin.


“Aku benar benar kecewa, Kang Yebin. Kalau seperti ini lebih baik kau tidak pernah menerima lamaranku. Atau kau bisa kabur di hari pernikahan dan melihatku benar benar jatuh seperti yang inginkan.”


Yebin terlihat ingin menyanggah kalimat terakhir yang aku lontarkan. Tetapi bibirnya bergetar ketika ingin berkata kata. Yebin tak sanggup mengeluarkan suara melihatku yang benar benar kecewa padanya.


Terakhir, aku kembali menggandeng tangan Yebin. mengajaknya pergi dari tempat ini. Berjalan menuju mobil.


“Sebaiknya kita pulang saja. Suasana hatiku sudah terlanjur rusak untuk bermain di luar.”


***


Sejak perdebatan kami di gedung pameran seni, Oppa tidak mau lagi berbicara padaku. Ia hanya berbicara seadanya, menjawab dengan begitu singkat ketika aku bertanya.


Aku akui itu adalah kesalahanku. Dan aku mengaku salah karena telah membuat Oppa begitu kecewa karena kata kata yang ku lontarkan.


Ini berawal dari beberapa hari yang lalu, ketika aku berkumpul dengan semua teman temanku. Teman temanku belum ada yang menikah. aku sendiri yang statusnya berbeda dari teman teman kuliah.


Dalam pertemuan beberapa hari lalu, kulihat teman teman wanitaku yang memakai pakaian seksi seperti anak muda pada umumnya. Mereka semua terlihat cantik dengan pakaian terbuka seperti itu. membuatku ingin mencoba berpakaian terbuka seperti yang digunakan kebanyakan teman wanitaku ketika berkumpul.


Karena keinginan dan rasa penasaranku memakai pakaian sedikit terbuka dengan belahan dada terbuka dan pakaian tak berlengan, serta bawahan rok mini. Aku bersikeras ingin memakai pakaian seperti itu meski Yul Oppa melarangnya. Awalnya aku mengira Oppa akan suka jika aku berpakaian terbuka seperti itu. Bukannya lelaki itu suka pada wanita yang berpakaian seksi? Dengan pemikiran itu aku bersikeras ingin memakainya. Walau harus melewati perdebatan yang panjang dengan Yul Oppa yang kukira sedang jual mahal.


Ternyata keputusanku ini salah. Oppa benar benar tidak menyukai pakaianku. Aku tidak begitu tahu apa alasannya. Tetapi Oppa benar benar tidak menyukai jika aku berpakaian terlalu terbuka yang katanya hampir memperlihatkan seluruh tubuhku. Oppa sungguh tidak suka dan marah besar.


Aku sempat berdebat dengan Yul Oppa dan tanpa sengaja melontarkan apa yang ada di otakku. Kata kataku inilah yang membuat Oppa salah paham dan berkata kecewa padaku.


Duniaku terasa runtuh ketika Oppa mengungkapkan kekecewaannya secara langsung. Melalui tatapannya, aku bisa melihat seberapa besar kekecewaan yang Oppa rasakan. Tetapi mendengarnya berkata secara langsung, dadaku seolah dihantam benda keras yang membuat seluruh tubuhku bergetar lemas.


Sepanjang perjalanan pulang, aku hanya diam membisu. Ingin sekali aku membela diri dan berkata bahwa Oppa sudha salah paham. Tetapi, suaraku bahkan tidak keluar. Napasku tercekat di tenggorokan. Sehingga aku pun hanya diam sepanjang perjalanan. Merasakan jantungku yang seolah diremas remas mendapati Oppa yang terlihat sungguh kecewa.


Sama sekali aku tidak merasa menyesal menikah dengan Yul Oppa. Aku sama sekali tidak merasa demikian. Aku hanya ingin mencoba pakaian seperti yang digunakan teman temanku ketika berkumpul. Aku mengungkapkan keinginanku, bukan untuk menyakiti Yul Oppa seperti ini.


Sepanjang hari Oppa hanya diam di rumah. Ia menyibukkan diri dengan tablet dan dokumen dokumen kafe. Juga sibuk berbincang dengan seseorang melalui telepon. Aku sama sekali tidak bisa mengajaknya bicara. Bahkan ketika aku datang ke ruang kerjanya untuk mengantarkan tek bunga chamomile, Oppa hanya berkata “ya, letakkan saja di sana” untuk meletakkan teh yang kubuatkan di atas mejanya.


Sungguh. Aku ingin sekali mengakhiri situasi tidak menyenangkan ini. Aku sungguh ingin meluruskan kesalahpahaman kami dan membuat Oppa mau berbicara lagi deganku. Didiamkan oleh orang yang amat kusayangi sangatlah menyakitkan. Lebih baik aku mendengar Oppa beteriak atau menggandeng tanganku dengan kasar. Dari pada didiamkan seperti ini, seolah olah aku tak ada.


Sepanjang hari aku merenungkan. Benar. Ini memang kesalahanku. Untuk apa aku mencoba pakaian seperti itu di saat aku telah memiliki suami? Seharusnya aku mendengarkan nasihat Oppa. Seharusnya aku mendengarkan kata katanya dengan baik, karena sekarang Oppa adalah orang yang bertanggung jawab atas hidupku. Karena Oppa adalah laki laki yang sampai akhir hayat nanti akan terikat denganku. Harusnya aku mendengarkannya. Dan seharusnya juga aku menghargai keberadaannya. Tidak melepaskan lengannya ketika ia sedang asik memandangi lukisan sang ayah. Harusnya aku menemani Oppa melepas kerinduannya dengan ayahnya, dengan terus berada di sampingnya. Namun, aku begitu egois. Aku sibuk dengan rasa penasaranku dan keterkarikanku dengan hal lain. aku tidak bisa mengendalikan egoku hingga akhirnya melepaskan lengan Oppa dan memilih untuk jalan jalan sendirian, menikmati waktuku sendiri padahal aku sedang bersama Oppa.


Aku menyesali semuanya.


Aku ingin menjadi istri yang baik untuk Oppa. Ingin menjadi istri yang bisa meringankan bebannya, bukan semakin menambah beban. Tapi, yang kulakukan hanyalah kebohohan. Aku sangat sembrono dan bodoh dalam setiap sikap.


Tidak banyak yang bisa kuberikan pada Oppa semenjak pernikahan kami. Aku tidak bisa memberinya apa apa. Sedangkan Oppa terus berjuang mati matian sampai sering melembur dan terbangun di malam hari untuk mengurusi kafenya. Dan aku ... aku hanya menjadi beban untuknya. Aku hanya memberinya kekecewaan yang dalam melalui sikapku. Aku hanya menjadi batu sandungan untuk Oppa yang tengah memperjuangkan segalanya demi kelangsungan hidup kami.


Aku... bukanlah istri yang berguna untuk laki laki yang sangat aku cintai di dunia ini.


***