
Di koridor lantai dua puluh ini hanya tersisa Yebin dan Yul setelah kedua wanita berlalu pergi meninggalkan mereka.
“Sampai kapan Ajeossi akan mengganggu pekerjaanku di sini? Aku benar-benar ingin melakukan yang terbaik untuk penelitianku ini. Kenapa Ajeossi selalu muncul dan menggangguku?” Yebin mencetus tegas pada Yul yang menatapnya sayu.
“Maafkan aku. Jika kau memaafkanku, aku tidak akan mengganggumu lagi,” ucap Yul putus asa.
Satu bulan sudah berlalu sejak peristiwa malam itu. Bunga yang malam itu masih kuncup, kini telah bermekaran dengan indahnya. Namun, perasaan Yul tetap sama seperti malam itu. Gelap. Tidak ada ruang untuknya bernapas. Tidak ada tempat untuknya mendapatkan maaf dari Yebin. Entah berapa ribu kali permintaan maaf itu terucap dari mulut Yul dengan bersungguh-sungguh, tidak ada yang berubah. Yebin tetap tak memaafkan Yul.
Dari awal Yul tahu kalau Yebin bukanlah pemaaf. Ia juga tahu kalau Yebin adalah tipikal wanita yang pendendam. Maka dari itu, Yul tetap tak gentar untuk memohon permaafan Yebin. Tidak peduli betapa putus asa dirinya, Yul tetap tidak menyerah untuk mendapat permintaan maaf dari Yebin. Sampai wanita itu benar-benar memaafkan. Sampai Yul diberikan kebebasan untuk bernapas dengan lega.
Yul merasa dirinya pantas mendapat perlakuan seperti ini dari Yebin. Setelah membuatnya terluka dan terluka lagi, Yul merasa pantas menanggung beban perasaan yang sangat menyakitkan ini. Ia tahu luka yang dirasakannya ini tak sedalam luka yang Yebin rasakan karenanya. Maka dari itu Yul tetap melakukan apa yang ia bisa untuk mendapatkan maaf dari Yebin.
Yebin mengembuskan napas panjang. Ia benar-benar merasa lelah mendengar kata-kata maaf yang tidak tulus itu.
“Aku benar-benar muak padamu, Ajeossi.”
Yebin segera berlalu pergi setelah mengucapkan kata-kata sinis itu. Ia meninggalkan Yul yang segera berbalik menatap kepergian Yebin.
Raut wajah Yul menunjukkan kalau ia tak baik-baik saja. selama satu bulan lamanya ia mendapat perlakuan seperti ini dari wanita yang amat disayanginya. Walau Yul tidak pantas memprotes hal ini lantaran luka yang juga dirasakan Yebin karenanya. Yul tidak bisa berbuat apa-apa selain memohon dan terus memohon maaf.
Sore harinya Yul pergi ke rumah Yebin. Seperti biasanya, pria itu memencet bel rumah Yebin dan Miyoon pun keluar tidak lama kemudian. Wanita paruh baya yang biasanya ramah itu menunjukkan raut muka dingin.
“Yebin....”
“Yebin sedang tidur.” Miyoon menyela kalimat Yul yang belum selesai. “Dia baru saja pulang dan kelelahan. Moon Sajang tidak berhak menganggunya istirahat,” lanjut Miyoon mencetus.
Yul tahu betapa marahnya Miyoon melihat putrinya terluka karena Yul—yang dipercayanya untuk menjaga Yebin. Dan Yul merasa bisa memahami perasaan Miyoon yang tidak terima melihat putrinya itu terluka. Yul menyesal. Ia benar-benar menyesal telah menghancurkan kepercayaan Miyoon terhadapnya. Ia menyesal karena telah membuat semua orang berada dalam situasi rumit ini.
Sejak kejadian itu Miyoon tidak pernah mengizinkan Yul masuk ke dalam rumahnya apalagi menemui Yebin. Miyoon masih menerima Hun namun tidak dengan Yul. Dan hal ini menjadi siksaan terberat untuk Yul. Di mana wanita yang dulu dianggapnya sebagai pengganti ibu itu menolaknya mentah-mentah.
Merasa sesak pada semua hal yang terjadi ini, Yul segera berlutut di hadapan Miyoon. Ia menunduk dalam-dalam menahan air mata agar tidak terjun lebih deras lagi.
“Maafkan aku, Ibu. Kumohon, maafkan aku sekali ini saja. Biarkan aku bertemu dengan Yebin sekali saja. Kumohon....”
Miyoon ikut meneteskan air mata mendengar desahan putus asa Yul. Ia segera mendongakkan kepalanya ke atas. Menyeka air mata di wajahnya. Lalu kembali menatap Yul yang sedang menangis tersedu. Pria itu benar-benar putus asa. Kepedihan yang ditahannya selama satu bulan ini meluap bersama suara gemuruh di langit.
“Moon Sajang... kau... sungguh mencintai Yebin?” Di sela air matanya yang masih berlinangan, Miyoon memastikan.
Yul menjawab dengan anggukan yakin. Mulutnya seolah membeku bersama tangisan ini. Ia tak dapat menjawab apa-apa selain anggunkan sungguh-sungguh.
“Kalau begitu masuklah. Aku akan memaafkanmu setelah Yebin memaafkanmu.”
Miyoon membawa Yul masuk ke halaman rumahnya yang bersih.
“Tunggulah sebentar, aku akan memanggilkan Yebin.”
“Tidak perlu.” Yul segera menyela. “Aku yang akan membuat Yebin keluar. Ibu tidak perlu repot-repot memanggilnya.”
Setelah mengucapkan kalimat itu Yul kembali berlutut di halaman rumah Yebin. Kepalanya mendongak menatap lantai dua rumah. Seolah ingin berbicara dengan Yebin yang ada di dalam kamar lantai dua.
“Kang Yebin! Maafkan aku. Aku benar-benar bodoh. Maafkan aku yang bodoh ini! Sekarang... aku sedang berlutut untukmu. Aku berlutut untuk mendapatkan maaf darimu. Keluarlah! Aku tidak akan berhenti sampai kau keluar dan memaafkanku!”
Yul berteriak sambil mendongakkan kepalanya ke atas. Di dalam kamar mungkin Yebin mendengar teriakan ini. Paling tidak hati Yebin pasti akan bergetar mendengar teriakan putus ada Yul dari halaman rumah.
Tepat setelah Yul berteriak-teriak, gerimis mulai berjatuhan dari langit. Cuaca yang tidak stabil pada musim semi ini seolah ikut memberi hukuman kepada Yul. Yul masih berlutut seperti itu sementara Miyoon masuk ke dalam rumah untuk membujuk putrinya itu keluar. Namun, membujuk wanita berkepala batu itu bukan hal yang mudah. Yebin bergeming di atas kasur dan sama sekali tak beranjak. Ia mendengar suara gemuruh dari langit yang hujannya semakin deras.
Sampai hari menggelap Yebin tak juga keluar dari kamarnya. Matanya seolah-olah terpejam mendengar tetesan air hujan yang berjatuhan mengenai atap rumah. Miyoon dan Jangmi berjantian masuk ke kamar Yebin untuk membujuknya keluar. Bagaimanapun, Miyoon tidak bisa membiarkan Yul berlutut lebih lama lagi di malam yang hujan ini. Apalagi tubuh Yul sudah menggigil dan pria itu tidak mau beranjak dari tempatnya sebelum melihat Yebin keluar. Kulit tubuh Yul yang putih perlahan memucat. Bibirnya yang merah muda berubah menjadi biru keunguan. Kakinya seolah mati rasa setelah digunakannya untuk berlutut selama berjam-jam. Tetapi Yul tetap tidak mau berhenti.
Dari seberang rumah Hun mengamati apa yang kakaknya itu lakukan. Lebih dari apa pun, hati Hun sangat sakit melihat kakaknya melakukan hal itu.
Di depan dinding kaca lantai dua Hun menatapi kakaknya. Wajahnya memilu. Satu tetes air matanya jatuh mengenai pipi.
“Kakakku yang bodoh. Apa dia tidak berpikir kalau dia bisa mati kedinginan di sana?”
Hun masih mengamati kakaknya dalam waktu lama. Sementara di rumah Yebin, Miyoon benar-benar geram terhadap putrinya.
“Kang Yebin! Apa kau sungguh akan seperti ini? Tidakkah kau itu punya sedikit rasa kemanusiaan?!” Miyoon yang menggeram pun menyibak selimut yang menutupi tubuh Yebin. Ibu yang sungguh tidak bisa mengerti pola pikir putrinya itu terlihat sedih sekaligus marah melihat sikap Yebin ini.
“Kenapa ibu seperti ini? Aku tidak akan keluar!” Yebin beteriak dengan napasnya yang tak beraturan. Ia bersikap seolah-olah tak memedulikan Yul. Padahal, air matanya kini berlinangan. Miyoon yang mengerti kalau putrinya itu sangat mencintai Yul, mengembuskan napas panjang.
“Dia sedang minta maaf padamu. Apa kau ingin menyesal seumur hidup dengan membiarkan laki-laki itu pergi? Setidaknya dia minta maaf dengan tulus dan mengakui semua kesalahannya padamu. Kenapa kau itu kaku sekali jadi orang?” cetus Miyoon memarahi putrinya yang keras kepala itu. Ia sungguh tidak menyukai sikap Yebin yang keras dan kaku seperti mendiang suaminya itu.
“Dari mana ibu tahu kalau dia itu meminta maaf dengan tulus?”
“Kalau tidak tulus Moon Sajang pasti sudah pergi sejak tadi!” Miyoon kembali berteriak dan seketika itu membuat Yebin diam. Wajah wanita itu meng-kaku. Miyoon menghela napas panjang-panjang. “Cepatlah keluar dan hentikan dia. Kau bahkan tidak tahu bagaimana keadaan Moon Sajang saat ini.”
Untuk terakhir kalinya Miyoon memperingatu putrinya untuk keluar. Dan benar. Yebin bergegas keluar setelah itu. Ia berlari turun dan melihat Yul yang menggigil di halaman rumahnya. Pria itu berlutut dengan bibir birunya yang gemetar kedinginan.
Tangan Yebin mengepal erat melihat keadaan Yul yang mengenaskan. Wanita itu seolah ingin menyalurkan rasa sakitnya melalui kepalan tangan ini. Rasa yang amat menyakitkan melihat keadaan Yul.
“Yebin.... Kau... kau memaafkanku?” tanya Yul di sela harapannya yang masih tersisa satu titik.
Yebin segera menyeka air matanya dan berjalan mendekat pada Yul. Dengan nada suaranya yang ketus ia berkata, “Apa Ajeossi itu bodoh?! Apa yang kau lakukan dengan berlutut di sini?”
“Untuk mendapatkan maaf darimu,” sela Yul. Kepalanya mendongak menatap wajah Yebin yang perlahan-lahan basah karena air hujan. “Yebin, kau memaafkanku kan?”
Napas Yebin terhela panjang-panjang. Tanpa menjawab apa-apa, tubuh Yebin segera menunduk. Ia memeluk tubuh Yul yang menggigil. Memeluknya dengan erat seolah meluapkan semua kasih sayang pada Yul yang dicintainya.
Yul membalas pelukan Yebin dengan erat sebelum ia teringat suatu hal.
“Kalau kau memaafkanku, apa kau bersedia memakainya?”
Perlahan Yul melepaskan pelukannya. Ia merogoh sesuatu dari saku kemejanya. Mengambil kotak cincin berwarna hitam. Menunjukkan sebuah cincin berlian yang dibelinya beberapa minggu lalu untuk Yebin.
“Ayo kita menikah. Tidak sekarang. Tapi aku ingin menikah denganmu saat kau benar-benar siap nanti. Di masa depan aku akan menjagamu dengan lebih baik lagi. Akan kupastikan kau tidak akan terluka lagi karena kebodohanku. Yebin~a, maafkan aku, dan berikan aku satu kesempatan lagi. Satu kesempatan yang akan kugunakan seumur hidup.”
Yebin tertegun melihat cincin berlian yang berkilauan dengan indah itu. Setelah menatapi cincin itu beberapa saat, pandnagan Yebin kembali turun pada Yul.
“Berdirilah dulu, Ajeossi. Jangan seperti ini.”
Wanita itu menceletuk sambil menarik tangan Yul untuk diajaknya berdiri. Ia tak bisa membiarkan Yul berlutut lebih lama lagi.
“Kau memaafkanku kan?” Sekali lagi Yul memastikan.
“Ya! Aku memaafkanmu. Cepat berdirilah!” Yebin mencetus sambil menarik tubuh Yul sekuat tenaga. Tubuh Yul terhuyung-huyung saat pertama kali ia berdiri. Kakinya yang seperti mati rasa itu tidak bisa menopang tubuh Yul dengan baik sehingga ia nyaris jatuh tersungkur. Yebin menahan tubuh Yul dan membawanya berjalan masuk ke dalam rumah.
***
Tubuh Yul masih menggigil meski ia telah memakai selimut tebal dengan beberapa penghangat yang menempel di tubuh. Pria itu memiringkan tubuh di atas ranjang tidur yang tidak begitu besar. Seluruh tubuhnya kedinginan karena air hujan yang membasahinya cukup lama.
Yebin mengulurkan tangannya ke atas telinga Yul. Membungkam telinga Yul menggunakan pack penghangat yang ada di genggamannya. Memberikan pria itu kehangatan.
Yul menarik tubuh Yebin merapat. Di bawah selimut tebal itu Yul memeluk tubuh Yebin dengan erat. Mencari kegangatan melalui tubuh Yebin yang menyalurkan rasa hangat. Yul sepertinya terserang flu. Kepalanya yang terasa berat itu menyungkur di depan dada Yebin. Mata Yul terpejam merasakan hangat tubuh Yebin yang mulai merasuki tubuhnya.
“Ajeossi itu memang bodoh atau keras kepala?” cerocos Yebin heran sembari membalas pelukan Yul.
“Benar. Aku memang bodoh. Aku juga keras kepala. Tapi, apa kau tahu? Kepalamu itu puluhan kali lipat lebih keras dariku,” gumam pelan Yul. “Kepalamu itu sungguh seperti batu, Nona Kang. Aku tidak punya pilihan lain. setidaknya, dengan melihatku sekarat, hatimu akan sedikit tergugah. Benar kan?”
Napas Yebin terhela panjang. ia meregangkan pelukannya pada tubuh Yul. Kedua manusia yang ada di atas ranjang itu pun bertatapan lekat. Yebin melihat wajah Yul yang tak sepucat beberapa waktu lalu. Juga melihat bibir pria itu yang menormal.
“Tadi, Ajeossi serius mengatakannya?” Yebin bertanya meyakinkan.
“Yang mana?”
“Menikah. Ajeossi serius mengajakku menikah?”
Yul mengangguk pelan dengan senyum serius yang tergambar di wajah. “Aku tidak akan bercanda mengatakan hal semacam itu, Nona Kang. Aku serius ingin menikah denganmu. Tentu aku tidak ingin melangsungkan pernikahan secepatnya. Aku juga mempertimbangkan usiamu yang maish terlalu muda. Aku hanya ingin memastikan kau akan menjadi istriku di masa depan. Itu saja.”
“Kenapa aku?” lanjut Yebin menginterogasi. “Kenapa Ajeossi ingin menikah denganku? Bukannya selama ini kau menganggapku gadis kecil?”
Senyum tipis yang tersungging di bibir Yul mengisyaratkan kalau dugaan Yebin itu salah.
“Sekali saja aku tidak pernah menganggapku gadis kecil. Aku memang sering berkata bahwa kau seperti gadis kecil dan remaja. Tapi perasaanku tidak demikian. Aku merasa kagum melihat bagaimana kau bersikap seperti orang dewasa yang bijaksana dan tegas. Aku tidak pernah berpikir kalau kau itu masih kecil. Di mataku, kau adalah sosok wanita yang mengagumkan. Kau melindungi apa yang menjadi milikmu. Dan memperjuangkannya dengan bersungguh-sungguh. Aku sungguh merasa kagum atas itu semua.”
Yebin terdiam mencerna semua kalimat Yul dengan baik.
“Jadi, bagaimana? Apa kau menerima lamaranku ini?” Yul melanjutkan.
Wajah Yebin mendatar selama beberapa saat. Matanya lekat menatap Yul, laki-laki yang dicintainya dengan sepenuh hati. Kemudian Yebin pun tersenyum dan menganguk-angguk.
“Setelah musim panas. Aku ingin menikah setelah musim panas tahun ini. Saat itu aku sudah lulus dan usiaku sudah beranjak 25.”
Perkataan Yebin yang mengejutkan itu membuat kening Yul mengernyit.
“Kau ingin menikah tahun ini juga? Kau ingin menikah muda?”
Yebin mengangguk yakin. “Sejak dulu aku berpikir ingin menikah di usia 25. Selain itu, aku juga tidak bisa membiarkan Ajeossi semakin tua.”
Yul terkekeh mendengar jawaban Yebin yang masuk akal.
“Benar sekali.”
Setelah itu Yul mengecup bibir Yebin. Sementara wajah mereka masih berdekatan, Yul mendesus pelan, “Ibu dan Jangmi sudah berangkat ke Incheon. Kurasa mereka sengaja meninggalkan kita berdua. Tidak ada siapa pun di rumah.”
Suara rendah Yul yang dekat di wajahnya itu membuat hasrat Yebin sedikit tergugah. Ia menatap lekat Yul yang tersenyum menggoda di atasnya. Pria itu **** tubuh Yebin. Memberi rangsangan di area bawah Yebin menggunakan lututnya. Kemudian berbisik di telinga Yebin menggunakan suara rendahnya.
“Aku menginginkanmu, Kang Yebin. Aku ingin menjadikanmu seutuhnya milikku. Hanya milikku, Moon Yul.”