Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Melodi yang berputar di tengah badai halilintar



Bab 30


Melodi yang berputar di tengah badai halilintar


“Jangan berhenti menyukaiku. Tolong, jangan berhenti menyukaiku. Karena aku ... karena aku mulai memandangmu sebagai wanita. Aku mulai menyukaimu, Kim Lysa. Jadi jangan berhenti menyukaiku. Tetaplah suka padaku, seperti dulu, seperti yang selama ini kau lakukan.”


Hanya perasaan tercengang yang dapat Lysa rasakan tatkala mendengar semua itu. Sungguh mengejutkan, memang. Sungguh tidak masuk akal. dan sungguh membingungkan siapa saja yang mendengarkan. Tidak terkecuali lysa sendiri yang merasa seperti baru saja dilempari rudal oleh seseorang yang langsung meledak saat ia tangkap.


Lysa hanya heran saja. Bisa bisanya Brian mengatakan hal itu saat semua perasaan dalam hati Lysa terhadap lelaki itu sudah berakhir? Bisa bisanya, Brian yang tidak hanya satu atau dua kali menoleh Lysa itu berkata menyukainya di saat Lysa telah memilih laki laki lain? Dan, bisa bisanya, lelaki itu mengatakan hal tidak masuk akal itu di saat dirinya pun tau kalau suasana hati Lysa sedang tidak baik hari ini?


Sampai beberapa detik yang lalu, Lysa masih mengira bahwa hal yang paling sial dalam hidupnya adalah memiliki keluarga yang hancur dan terpecah belah. Tapi, Lysa kini menyadari bahwa poin tersiap dalam hidupnya bukanlah memiliki seorang ibu yang menghianati ia dan ayahnya, melainkan memiliki dia laki laki dalam hidupnya yang membuatnya setengah mati merasa bingung dan tidak karuan.


Untuk saat ini, seluruh dunia Lysa hanya terpusat pada Mino. Ya, hanya kepada laki laki itu. Sedikit pun Lysa tak lagi memusatkan hidupnya pada Brian yang membuatnya menyerah untuk menyukai setelah bertahun tahun berlalu. Lysa telah menyayangi Mino, mengharapkan pria itu untuk menjadi miliknya dan menjadi satu satunya miliknya. Tanpa memikirkan posisi Brian yang telah hengkang dari hati Lysa sejak saat itu, sejak dengan begitu jelasnya Brian berkata bahwa baginya, Lysa tidak lebih dari seorang adik.


Lysa menghela napas panjang panjang mendengar hal itu. Kepalanya menunduk selama beberapa detik karena merasa begitu tercengang dengan situasi yang sangat tidak terduga ini. Ia sampai bertanya tanya apakah telinganya yang masih sehat dan bagus itu salah mendengar. Atau, sebelum ia datang tadi, Brian telah meminum beberapa gelas alkohol bersama ayahnya sehingga laki laki itu tidak sedang mabuk dan melantur sembarangan.


Beberapa kali Lysa telah memastikan bahwa di atas meja restoran yang ada di hadapannya itu tidak terlihat satu botol pun alkohol. Ia ingat jika ayahnya sudah berhenti minum alkohol sejal awal tahun lalu. Dan Brian, meski pun kadang laki laki itu sering minum alkohol, setahu Lysa Brian tidak gampang mabuk dan cukup kuat minum beberapa botol soju seorang diri. Jadi kesimpulannya, laki laki itu tidak sedang mabuk. Ia mengatakan semua itu, mengakui perasaannya terhadap Lysa dengan kondisi yang sangat waras.


“Brian, apa maksudmu?”


Lysa yang begitu terkejut itu hampir tidak bisa berkata kata di depan Brian. Ia hanya merespon semua ucapan Brian itu dengan satu pertanyaan yang terdengar dingin dan sinis.


“Aku tahu mungkin kau berpikiran bahwa aku tidak manusiawi dan tidak berperasaan. Tapi, aku cukup yakin dengan perasaanku ini, Lysa. Aku tidak tahu sejak kapan, tapi perlahan lahan aku mulai melihatmu sebagai wanita. Dan entah mengapa aku merasa semakin serakah terhadapmu. Aku merasa lebih membutuhkanmu karena kau adaah satu satunya wanita yang bisa mendengarkan ceritaku, satu satunya wanita yang bisa kupeluk saat keadaanku tidak baik baik saja, dan satu satunya teman yang sangat berharga untukku. Aku tidak tahu kenapa aku tidak menyadarinya sejak dulu. Tapi aku benar benar menyesal karena selama ini mengabaikanmu. Aku benar benar menyesal, Lysa. Sepertinya aku baru menyadari perasaanku padamu setelah aku kehilanganmu, setelah engkau perlahan lahan semakin menjauh dariku.”


Brian berkata panjang lebar, seperti laki laki bodoh di hadapan Lysa. Dan Lysa hanya menatap wajah sendu dan penuh rasa bersalah Brian itu dengan tatapan pasrah. Sungguh, selain pasrah, tidak ada hal yang bisa lakukan untuk saat ini. ia sudah cukup terpukul karena Mino. Dan sekarang Lysa dibuat semakin tidak bisa berkata kata akibat pengakuan Brian yang sungguh diluar dugaannya.


“Tunggu ... tunggu, Brian. Aku ... aku sungguh tidak mengerti.” Lysa yang sangat bingung itu hanya dapat bergumam gumam pelan karena tak mengerti apa yang Brian itu katakan.


Melihat Lysa yang kembali menanyakan maksudnya, Brian mengembuskan napas panjang panjang. Ia terlihat begitu putus asa karena Lysa tidak kunjung mengerti apa maksud ucapannya. Dan itu membuatnya lebih frustasi lebih dari apa pun.


“Aku yakin, kau mengerti apa maksudku. Jadi apa yang sebenarnya ingin kau tanyakan?” Brian menceletuk. Ia menatap Lysa penuh rasa putus asa. Ia yakin sekali kalau sebenarnya Lysa mengerti semua maksud kata yang ia lontarkan. Karena setahu Brian, Lysa bukanlah gadis bodoh yang tidak mengerti ucapan dan bahasa. Lysa adalah gadis yang pintar dalam hal apa pun, dalam mencerna informasi dan dalam memahami sesuatu. Namun gadis itu pura pura bodoh di hadapan Brian dan membuat Brian merasa tidak dihargai, harga dirinya terluka.


Baiklah. Lysa akui, sebenarnya ia menegrti semua yang diucapkan Brian. Toh, otaknya tidak sebodoh itu untuk tidak mengerti kata kata Brian yang sangat jelas dan gamblang itu. Lysa hanya bingung saja. Ia tidak tahu harus menanggapi apa dan benar benar terdesak, sehingga menanyakan kembali apa maksud Brian di saat ia sendiri tahu apa maksud pria itu.


Napas Lysa berembus panjang panjang.


“Baiklah. Aku mengerti. Tapi aku tidak bisa mencerna situasi tidak masuk akal ini, Brian. Jelas jelas kau berkata padaku bahwa kau tidak pernah memandangku sebagai wanita dan secara tidak langsung memintaku untuk berhenti menyukaimu. Dan aku berhasil melakukannya meski dengan bersusah payah. Sekarang aku tidak memiliki perasaan apa pun padamu, karena semua rasa sukaku padamu sudah berakhir sejak saat itu. Jadi, tolong ... biarkan aku sebentar saja. Aku perlu waktu untuk mencerna semuanya.”


Padahal niat Lysa datang ke restoran ini adalah untuk meredakan kemurungan hatinya akibat perbuatan Mino. Ia juga ingin mencari ketenangan dengan bertemu dengan sang ayah dan juga Brian di restoran ini untuk makan bersama. Namun, yang terjadi adalah, di tempat ini pun Lysa disuguhkan dengan suatu hal yang membuat perutnya tak dapat merasakan lapar lagi. Jangankan merasa lapar, ia sepertinya sudah mati rasa karena makanan pedas yang membakar mulutnya tidak terasa apa apa. Lysa seperti sedang berada di kutup utara yang sangat dingin dan mencekat.


Lysa pun mengambil air putih yang ada di gelas hadapannya. Menegak air putih itu sampai habis. Lalu ia segera mengambil tas dan berdiri dari duduk.


“Aku butuh waktu, tolong biarkan aku. sekarang aku tidak dalam suasana hati yang baik untuk membicarakan apa pun. Dan katakan pada ayah, kalau aku mendadak ada acara kampus dan harus segera kembali ke kampus. Katakan juga pada ayah untuk tidak mengkhawatirkanku. Permasalahan ini, tentang perasaanmu dan tentang aku, jangan sampai ayah tahu. Ini adalah prmohonanku, Brian. Kalau ayah bertanya, katakan saja padanya aku sedang stres karena kelas musim panas yang akan mulai minggu depan.”


Setelah mengatakan semua itu, tanpa menunggu respon apa apa dari Brian, Lysa pergi. Ia menenteng tas bahunya dan berjalan menjauhi meja restoran. Keluar dan berjalan menuju halte bus. Sial. Tadi ia telah menghabiskan cukup banyak uang untuk naik taksi dari restoran yang jauh itu menuju restoran ini. dan sekarang Lysa harus menghemat mengeluaran dengan menggunakan angkutan umum bus yang maish beroperasi.


Hari ini ... sungguh bukan hari yang baik untuk Lysa.


**


Kepala Lysa masih pusing untuk memikirkan semua peristiwa yang terjadi padanya. Mulai dari Mino sampai Brian. Semua itu sungguh membuat Lysa pusing tujuh keliling dan kehabisan akal. Lysa yang tidak ingin kehidupan kesehariannya terganggu karena hal itu, memutuskan untuk menjauh dari kedua laki laki yang membuatnya kesulitan itu. Lysa memutuskan untuk tidak lagi memikirkan mereka. sejenak beristirahat dengan cara fokus pada tujuannya saat ini dan tidak begitu menggubris masalah perasaan.


Sudah berlalu beberapa hari sejak peristiwa tidak mengenakkan sore itu. Kuliah Lysa telah memasuki liburan musim panas. Kemarin, beberapa teman asramanya telah pulang ke kampung halaman masing masing untuk mengisi liburan musim panas bersama keluarga. Namun Lysa masih tetap bertahan di asrama bersama seorang teman yang juga akan mengikuti kelas musim panas yang berfungsi menambah spesifikasi Lysa dan sertifikat.


Seperti hari hari sebelumnya, meski kini ia tak berhubungan lagi dengan Mino dan juga Brian, Lysa tetap bekerja di kafe. Dan sesekali datang ke kampus untuk mengikuti kelas musim panas. Ketika bekerja di kafe, Lysa memang beberapa kali bersimpangan dengan Mino yang juga setiap hari datang ke kafe untuk bekerja. Namun Lysa memutuskan untuk diam, tutup mulut, dan bersikap seolah tidak pernah memiliki hubungan apa apa dengan Mino. Lysa memilih untuk bersikap dingin dan tak acuh meski Mino mengajaknya berbicara sebagai karyawan dan manajer. Namun di balik sikap dingin dan tak acuhnya itu, jiwa Lysa meronta ronta ingin segera mengakhiri kecanggungan hubungan ini. ia merindukan setiap saat yang pernah ia lalui bersama Mino, di segala situasi. Tetapi, Lysa masih harus bertahan beberapa saat lagi, sampai Mino membawa kepastian apakah hubungan mereka masih akan berlanjut ataukah berhenti sampai di sana.


Di kampus, beberapa kali juga Lysa berpapasan dengan Brian. Namun Lysa bersikap dingin pada Brian dan memperlakukannya seperti memperlakukan seorang dosen. Bahkan ketika Brian ingin mengajaknya bicara, Lysa menolak dengan cara yang sangat sopan seperti ketika ia berbicara kepada profesor. Dan itu membuat Lysa sedikit nyaman, seperti bebannya sedikit terkurangi.


Seiring berjalannya waktu, hati Lysa semakin mantap dalam menentukan keputusannya. Ia tahu, bahwa Mino tengah mempertimbangkan hubungan itu. Dan di saat yang bersamaan, Brian kembali datang dengan seutas pengakuan cintanya terhadap Lysa yang terlambat, sangat sangat terlambat. Di kesempatan seperti itu, bisa saja Lysa lebih memilih bersama Brian yang perasaannya telah pasti sehingga Lysa tidak digantung seperti ini. namun, hati Lysa tidak bisa berbohong. Dari awal Lysa telah memilih untuk bersama Mino. Apa pun yang nantinya akan terjadi, Lysa merasa ingin tetap menunggu Mino bersama ketidakpastian yang laki laki itu berikan. Bodoh, memang. Karena itu artinya Lysa menyia nyiakan seseorang yang telah pasti—Brian, demi menunggu ketidakpastian laki laki lain. Tapi, itu semua tetap tidak sebanding dengan kebodohan Lysa di masa lalu, di mana ia menyukai seseorang yang jelas jelas menolak perasaannya. Paling tidak, Lysa sekarang tidak merasa sebodoh dulu. Dan ia yakin untuk menuruti kata hatinya meskipun nanti ia harus terluka kembali—atau tidak.


Setelah kelas khusus musim panasnya hari ini, Lysa hendak menuju kafe. Sebenarnya waktunya bekerja amsih sekitar satu jam lagi. Namun ia tidak memiliki tujuan selain kafe setelah kelas musim panasnya selesai hari ini.


“Sampai kapan kau akan menghindar?”


Suara yang menyahut itu sontak menghentikah langkah Lysa di tengah lorong kelas musim panas. Suara itu sangat familiar. Lysa yang mengenali suara itu, perlahan lahan menolehkan kepala. Melihat sosok Brian yang baru selesai mengajar salah satu kelas musim panas. Laki laki itu berjalan menuruni tangga sambil menenteng sebuah buku tebal dan juga tablet.


“Kelasmu sudah selesai?” Lysa balik bertanya sembari menunggu Brian menyusul langkahnya. Ia rasa, sudah saatnya ia berbicara kepada Brian. Sudah cukup ia menjaga jarak dengan laki laki itu. Dan sekarang saatnya untuk memperjelas semuanya.


“Sudah. Baru saja.” Brian menjawab.


Lysa melanjutkan langkah begitu Brian berdiri di sebelahnya. keduanya berjalan berdampingan di koridor kelas, sembari mengamati pemandangan musim panas sekeliling.


Tidak menyangkal, Lysa hanya mengangguk anggukkan kepala.


“Aku haus. Belikan aku minuman dingin ya?” kata Lysa.


Seketika itu Brian tersenyum. Lysa yang meminta sesuatu padanya seperti ini sangat persis dengan Lysa yang dulu Brian kenal. Yang sering meminta dibelikan minum dan juga makan, yang selalu merengek manja jika keinginannya tidak dituruti.


“Tentu.”


Setelah itu mereka berdua menuju sebuah kantin yang ada di dekat gedung kelas. Di kantin itu Lysa memesan minuman berkarbonasi dan juga es, begitu pun dengan Brian. Keduanya duduk berhadap hadapan untuk berbicara dengan tenang dan santai. Lagi pula keadaan kantin sangat sepi. Memang, di musim panas seperti ini kampus cukup sepi karena hanya ada beberapa kelas saja yang melansungkan perkuliahan musim panas. Dan mahasiswa yang mengikuti kelas musim panas pun sangat terbatas.


“Ahh, segar sekali. Musim panas di Korea memang benar benar panas. Tapi sebenarnya masih panas di Indonesia.” Lysa bergumam gumam.


“Karena itu negar di garis katulistiwa menjadi tempat liburan yang cukup populer akhir akhir ini. khususnya untuk turis dari negara sub tropis seperti Korea,” kata Brian.


“Tiba tiba aku rindu Indonesia. Sekarang, isu apa kira kira yang sedang ada di Indonesia?” Lysa kembali menggumam. Pandangannya sayu karena ia tiba tiba merindukan Indonesia.


Brian terdiam sejenak. Mengingat ingat sesuatu.


“Minggu depan aku akan berkunjung ke Indonesia. Kau mau ikut?” tawar Brian.


Mendengar itu, Lysa sontak mengerutkan kening. Ia cukup terkejut. Bukan karena Brian yang akan berkunjung ke Indonesia, tetapi karena lelaki itu menawarinya untuk ikut bersamanya ke Indonesia.


“Brian ... barusan, kau menawariku untuk ikut bersamamu ke Indonesia?” tanya Lysa tak yakin.


Dengan penuh rasa yakin Brian mengangguk angguk.


“Hmm. Tentu saja.”


“Bolehkah ...? Apa tidak apa apa?” desus pelan Lysa. Sejujurnya ia sangat antusias sekali mendengar tawaran itu dari Brian. Namun, ia merasa sungkan untuk langsung mengiyakannya. Karena sungguh, Lysa sangat sangat merindukan Indonesia.


“Minggu depan aku akan ke Indonesia, dan aku baru mau membeli tiket pesawatnya. Kalau kau mau, nanti aku pesankan sekalian tiketnya.” Brian berkata.


Lysa banyak memikirkan hal itu. Namun ia merasa tidak seharusnya menerima tawaran Brian itu di saat ia akan memberikan penolakan pada pengakuan cinta Brian hari itu.


“Akan kupikirkan lagi.” Lysa hanya menjawab ambigu. Lalu ia segera meneguk minuman dingin yang tersaji di hadapannya.


Suasana menghening setelah itu. Brian hanya terdiam karena merasa ada sesuatu yang ingin dismapaikan Lysa.


“Brian,” panggil Lysa lrih. Ia telah mengumpulkan keberanian untuk mengatakan yang sejujurnya kepada Brian. “Aku tidak ingin merusak hubungan baikku denganmu selama ini, Brian. Dulu aku pernah menyukaimu, dalam waktu lama, karena kau adalah satu satunya laki laki dewasa yang aku kenal. Dan aku sama sekali tidak terbebani dengan hal itu. Masa kecilku, masa remajaku, dan masa masa aku mulai menjadi dewasa, semua berarti berkatmu. Sampai akhirnya aku sadar kalau perasaan yang aku anggap sebagai rasa suka itu ternyata adalah rasa kagum. Sekarang aku telah memiliki orang lain yang benar benar aku sukai dan sayangi. Tidak sebatas rasa kagum, tapi aku benar benar mencintainya.”


Lysa menundukkan kepalanya dalam dalam. Sungguh, ia sama sekali tidak ingin menghancurkan hubungannya dengan Brian. Tapi ia harus mengakui hal itu supaya Brian juga mengerti bahwa sekarang perasaan Lysa tak lagi untuknya.


“... Maafkan aku. aku sangat terkejut dan marah waktu mendengar pengakuan cintamu itu. Aku tidak seharusnya marah padamu. Hanya saja keadaan sedang tidka baik untukku, jadi aku menjadikanmu sasaran kemarahanku. Sekali lagi aku minta maaf.” Lysa lanjut berkata.


Jauh dari yang Lysa duga, Brian terlihat lebih mengerti apa yang Lysa maksud. Laki laki itu menganggukkan kepala, dengan raut wajah yang tak begitu terkejut. Sepertinya ia juga telah menebak akan berakhir seperti ini, pengakuan cintanya terhadap Lysa.


“Tidak apa apa. Ini kesalahanku. Harusnya aku menyadari perasaanku sejak dulu. Tidak seharusnya kau memberikan waktu waktu sulit untukmu, Lysa. Aku bisa memahaminya. Aku bisa mengerti jika saat ini ada laki laki lain yang mengisi hatimu, yang menggandikan kedudukanku sebelumnya.” Brian berucap. Ia yakin, perasaan yang Lysa sebut dengan ‘rasa kagum’ terhadapnya itu tidak sebatas rasa kagum. Namun Lysa benar benar menyukai Brian, hanya saja gadis itu tidak mau memperumit keadaan dan semakin menyalahkan Brian yang selama ini berlagak bodoh.


Tidak dapat menyanggah, Lysa hanya terdiam. Ia kemudian meneguk kembali minuman dinginnya.


Setelah itu Brian kembali berbicara dengan suara yang lebih ringan.


“Tidak apa apa. Kau lanjutkan saja perasaanmu dengan laki laki itu, aku tidak masalah. Kalau kau memang menyukainya, mencintainya, dan menyayanginya, tunggu saja laki laki itu. Dan hanya satu hal yang perlu kau ingat, Lysa.”


Brian menghentikan perkataannya. Membuat Lysa semakin serius menatapnya. Brian seolah olah ingin mengatakna suatu hal yang sangat penting. Membuat Lysa memasang tajam tajam telinganya untuk mendengarkan.


“Apa itu?” tanya Lysa.


Dengan tatapan penuh tekad, Brian berucap, “Aku tidak akan menyerah dengan mudah. Kau bisa mengejar laki laki itu semaumu, dan aku juga akan mengejarmu semauku, tanpa menyerah. Tidak usah pedulikan perasaanku. Aku rasa ini cukup seimbang dengan yang selama ini kau rasakan. Kau bisa menyukai lelaki itu semaumu, dan aku juga akan tetap menyukaimu semauku. Jangan pernah merasa terganggu karena hal itu, karena aku tidak pernah merasa terganggu ketika kau menyukaiku sesuka hatimu waktu itu,” kata Brian dengan tegas. Membuat Lysa tidak bisa berkata apa apa. Gadis itu tetap terdiam seribu bahasa, ketika Brian lanjut berkata, “Juga, kau bisa menganggapku sebagai kakak laki lakimu. Tempatmu berkeluh kesah, tempatmu mengeluh dan merengek, juga tempatmu bersinggah saat hubunganmu dengan laki laki itu tidak baik baik saja. Kau tidak perlu terbebani. Karena aku juga akan memperlakukanmu dengan cara yang sama seperti sebelumnya.”


**