
Bab 49
Pertemuan tragis sepasang manusia
Sejenak Mino menunggu tanggapan dari Moon Yul yang sedang duduk di atas kursi rumahnya sambil memangku anak perempuannya yang manis dan cerewet itu. Kelihatannya Moon Yul yang sedang melakukan video call dengan Mino yang ada di Filipina itu sedang menimbang-nimbang tentang permintaan Mino untuk menunda proyek kafe yang ada di Filipina.
[Seberapa penting urusan mendesak yang kau maksud itu, Mino ya?]
Akhirnya Moon Yul memberikan tanggapan. Suaranya yang terdengar sedikti serak karena terserang flu itu keluar dari speaker tablet Mino yang laki laki itu bawa di atas pangkuan selagi duduk berselonjor di atas ranjang hotel.
“Menyangkut skandal yang sedang hangat di Indonesia. Dan juga pemilik Hangin Grub.” Mino pun menjawab dengan pasti.
Terlihat kening Moon Yul yang seketika itu mengerut. [Indonesia?]
[Ayaahhh... putarkan lagi baby shark, cepat cepat!] Yenni yang sedang ada di pangkuan Yul itu merengek kepada ayahnya untuk diputarkan lagu kesukaannya. [Sayang, tunggu sebentar. Ayah sedang bekerja. Sayang lihat kan di sana ada Paman Mino yang kamu sukai itu?] Yul berusaha membujuk putri cantiknya untuk berhenti merengek. Dan seketika itu juga Yenni terdiam dengan pandangannya yang tertuju pada Mino.
“Halo, Yenni,” sapa Mino kepada Yenni sambil melambaikan tangan dan tersenyum manis. Seketika itu juga, perempuan mungil yang ada di pangkuan Yul tampak tersipu malu melihat Mino sampai menenggelamkan wajahnya di balik baju tidur yang dipakai sang ayah.
[Indonesia... Hangin Grup? Apa yang kamu bicarakan? Apa kau sedang dalam masalah besar?] Yul kembali bertanya kepada Mino setelah sejenak berpikir. Sepertinya ia pernah mendengar tentang Hangin Grup sewaktu ia berlibur ke Indonesia bersama istri dan anak anaknya.
“Sedikit rumit untuk saya ceritakan di sini, Bos Moon. Yang pasti, ada masalah besar yang harus saya selesaikan di Seoul. Jadi saya memohon izin kepada Anda untuk memberikan saya sedikit kelonggaran untuk menyelesaikan masalah itu. Kaerna jika saya terlambat sedikit saja, hidup seorang wanita muda bisa jadi akan hancur.” Mino berusaha membujuk sang bos untuk memberikan izin kepadanya supaya bisa segera kembali ke Korea dan menemui Kim Lysa yang sedang ada masalah.
Sejenak Moon Yul di seberang telepon itu terdiam. Ia seperti sedang berpikir panjang dan mempertimbangkan sesuatu. Sembari sang bos itu berpikir, Mino menunggu dalam keheningan, sambil bertatap tatapan dengan Yenni yang tampak tersipu malu menatapnya. Gadis mungil itu sepertinya jatuh cinta pada Mino. Ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Mino sejak tadi. Dan Mino menanggapi itu hanya dengan tersenyum manis dan sesekali menaik turunkan ailsnya untuk bermain main ekspresi.
[Skandal, Indonesia, Hangin Hrup ... Seoul, dan wanita muda. Mino ya, aku mendengar desas desus di kafe kalau kau berkencan dengan salah satu pelayan di sana. Apa masalah ini berhubungan dengan hal itu? Tapi kenapa melibatkan Indonesia dan juga skandal Hangin Grup?] Moon yul lanjut menanyai Mino tentang hal itu.
Napas Mino berembus pelan. Rupanya, Asisten Min yang ia minta untuk menjaga rahasia tentang hubungannya dengan Lysa itu telah membocorkannya, entah denga sengaja atau pun sekadar keceplosan. Mengetahui hal itu, Mino semakin khawatir kepada Lysa karena desas desus yang beredar itu pasti membuatnya merasa semakin tidak nyaman dan tertekan di tempat kerja.
Setelah menarik napas panjang panjang, Mino pun menjawab pertanyaan Moon Yul untuk melakukan klarifikasi terhadap desas desus yang beredar itu.
“Maafkan saya...”
[Tidak. Kamu tidak perlu meminta maaf, Mino ya. Hanya saja, jika desas desus itu benar, aku hanya memintamu untuk lebih berhati hati karena situasinya akan buruk untuk kekasihmu tetap bekerja di kafe.] Yul menyela kata kata Mino yang terdengar sangat menyesal.
“Saya mengenalnya belum begitu lama, tapi saya berniat menikahinya. Belum lama ini ada situasi tidak terduga yang membawa kekasih saya dalam kesulitan dan masalah besar dengan Hangin Grup. Saya tidak bisa diam saja dan melihat wanita yang saya cintai hancur berkeping keping, jadi saya berniat untuk membereskan masalah itu sebelum semuanya bertambah buruk.” Mino menjelaskan singkat.
[Tunggu... Hangin Grup? Apa yang kau bicarakan adalah perusahaan real estate yang menguasai sebagian besar properti di Yogyakarta itu?] sahut Yul.
“Ya, Anda benar, Bos Moon”
Seketika itu juga terdengar helaan napas panjang dari Moon Yul. Pertanda bahwa ia merasa sangat terkejut mendengarnya. [Astagaa.]
Setelah itu suasana menghening. Di seberang telepon Moon Yul tampak berpikir sejenak sedangkan Mino menanti tanggapan bosnya.
[Baiklah. Kau bisa kembali ke Seoul secepatnya. Tapi proyek kafe di Filipina tidak akan aku tunda. Untuk sementara waktu aku akan meminta seseorang untuk mengambil alih proyek itu darimu. Kau kembalilah ke Seoul dengan selamat dan selesaikan masalah itu. Ah.. kalau kamu butuh bantuan apa apa, jangan sungkan katakan padaku. Apa yang aku miliki (kekuasaan) memang tidak sebesar milik Hangin Grub di Amerika dan Indonesia, tapi selama kau dan kekasihmu berada di Korea, kalian akan tetap aman bersamaku. Jadi jangan khawatir dan jangan ragu untuk meminta bantuan apa pun padaku. Aku akan membantumu sebisa yang aku lakukan, sebagai tanda terima kasihku padamu karena sudah bersama membangun Moonlight Coffe sejak nol bersamaku.]
“Terima kasih banyak, Bos Moon.”
Dua hari setelah Mino mendapat izin dari Moon Yul, laki laki itu pun benar benar meninggalkan Filipina setelah orang yang akan mengambil alih pekerjaannya tiba di sana. Mino melakukan penerbangan menuju Seoul tanpa memberi tahu siapa pun, termasuk Lysa. Memberi tahu pun akan percuma karena gadis itu masih enggan untuk menerima telepon dari Mino atau bahkan membaca pesan teks yang lelaki itu kirimkan.
Setibanya di Bandara Internasional Incheon, Mino langsung menelepon seseorang. Laki laki itu sedang berjalan menyeret kopernya, keluar dari bandara sambil berusaha mengubungi seseorang di kafe.
“Halo, Asisten Min, apa hari ini Lysa bekerja?” tanya Mino kepada Asisten Min yang menjawab teleponnya beberapa saat setelah terdengar dering.
“Baiklah. Terima kasih.”
Setelah tau informasi yang ingin didengarnya, Mino pun menaiki taksi menuju Gangnam. Ia mampir sebentar ke apartemennya untuk meletakkan koper dan mengambil mobil. Lalu mengendarai mobil itu menuju sebuah tempat yang mungkin menjadi keberadaan lysa sekarang. Ia mendengar dari asisten Min kalau hari ini Lysa tidak masuk bekerja karena sakit, jadi kemungkinan besar Mino tahu di mana gadis itu berada saat ini.
Meski baru beberapa minggu meninggalkan Seoul, Mino sudah sangat merindukannya. Mino mengendarai mobil dengan membuka jendela mobilnya lebar lebar untuk merasakan kesegaran udara pada sore hari ini. hawa hangat pertanda musim panas yang masih berlangsung ini membawa kesejukan. Mino merasakan angin semilir menerpa wajahnya sembari mengendarai mobilnya menuju asrama kampus Lysa.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang petugas keamanan yang melihat Mino baru masuk ke ruang keamanan.
“Saya mencari seorang mahasiswi bernama Lysa, Kim Lysa. Saya mendengar kalau dia sedang sakit dan ingin menjemputnya pulang. Apa saya bisa menemuinya di asrama?” ucap Mino.
“Tapi, Anda ini siapanya?” petugas keamanan itu kembali bertanya. Sepertinya ia merasa familiar dengan wajah Mino. Tidak heran sih, rata rata orang di kampus ini pasti sering melihat Mino di kafe. “Ahh, Anda kakaknya Mahasiswa Kim?” lanjutnya.
Mendengar itu, Mino hanya memperlihatkan senyum simpul. Mungkin akan menimbulkan spekulasi yang aneh jika ia berkata sebagai calon suami Lysa atau kekasihnya. Jadi Mino hanya tersenyum dan tidak menjawab apa apa.
“Sebentar, saya coba panggilkan.”
Sekurity perempuan berambut pendek itu kemudian mempersilakan Mino untuk duduk dan menunggu. Sementara dirinya pergi meninggalkan kantor keamanan untuk memanggil Lysa.
Selama kurang lebih sepuluh menit Mino menunggu di tempat itu. Dan kemudian ia melihat petugas keamanan itu kembali seorang diri, tanpa Lysa.
Menyadari kedatangan petugas keamanan itu, Mino beranjak berdiri dari duduk. Dan bertanya tanya menggunakan raut wajah yang penasaran.
“Mahasiswa Kim Lysa sedang sakit di kamarnya. Tubuhnya sangat panas dan dia menggigil. Dia sendirian di kamar asramanya dan tidak ada yang melapor kalau dia sakit. Sepertinya dia harus segera dibawa ke rumah sakit.” Petugas keamanan itu berkata dengan panik, sambil menunjukkan raut wajah penyesalan karena keteledoran ini. Mahasiswa yang tinggal di asrama selama liburan musim panas memang sangat sedikit. Hanya ada beberapa mahasiswa saja yang bertahan di asrama dan tidur di kamar asrama seorang diri, tanpa teman. Sehingga kalau sampai ada yang sakit pun tidak akan ketahuan kecuali mahasiswa itu ditemukan pingsan ketika petugas penjaganya melakukan patroli.
Mendengar hal itu, Mino yang merasa sangat panik itu langsung berlari keluar dari kantor keamanan. Ia masuk ke dalam asrama wanita dengan petugas keamanan yang menyusulnya di belakang.
“Kamarnya di lantai dua.”
Mino pun langsung berbelok menuju tangga seketika mendnegar arahan itu. Kakinya yang panjang itu melangkah dengan sangat lebar dan bisa melalui tiga anak tangga sekaligus. Dia benar benar tergesa untuk melihat kondisi Lysa secepatnya dan membawanya ke rumah sakit.
“Sebelah sini kamarnya,” tunjuk di petugas keamanan itu.
Segera Mino masuk ke dalam kamar Lysa. Melihat gadis itu tidur meringkuk di atas ranjang tidur dengan tubuh yang terutupi selimut tebal. Ia menggigil kedinginan. Bibirnya pucat membiru dan keringat membasahi seluruh badannya.
“Lysa, Kim Lysa!”
Mino yang telah menemukan Lysa itu langsung menyibak selimut tebal yang menutupi Lysa dan memeluknya dengan erat. Tubuh Lysa terasa sangat panas saat ia peluk. Dan gadis itu sepertinya berada di ambang kesadaran.
“Bertahanlah sebentar lagi, aku akan membawamu ke rumah sakit.”
Sambil mengucapkan kata itu, Mino menaikkan Lysa ke atas gendongannya. Membopong tubuh Lysa menggunakan kedua lengannya dan membawa Lysa keluar dari kamar itu. Sambil menggendongnya, Mino setengah berlari menuruni anak tangga.
Saat ada di gendongan Mino itu, perlahan lahan Lysa membuka mata. samar samar ia melihat wajah Mino yang terlihat begitu panik, mendekapnya dengan hangat dan tergesa gesa.
“Ajussi... apa aku sedang bermimpi...”
Setelah menggumam gumam tidak jelas, Lysa telah kehilangan kesadaran. Ia pingsan di atas gendongan Mino yang berjalan secepat yang ia bisa menuju mobil yang akan melesat menuju rumah sakit dan memberikan pertolongan pada gadis itu sebelum terlambat.
**
Hai, para pembaca yang setia menunggu...
Author ucapkan maaf ya kalau lama banget update-nya. Author belum sempet lanjutin cerita karena kesibukan di dunia nyata, hehehe. Dan setelah menerjang badai tugas-tugas ujian akhir yang menumpuk, akhirnya Author bisa lanjutin cerita ini.. uuhh, udah gatel banget rasanya buat nulis kisah Mino dan Lysa di sini..
Mulai sekarang Author bakal rajin upload chapter lagi... Satu hari bisa jadi satu chapter, bisa jadi dua chapter, bisa jadi lebih... Jadi tunggu ya!
Oh ya, terima kasih buat yang udah nunggu lanjutan cerita ini. Semoga kalian tidak bosen membaca setiap bab yang akan diupload. Hari ini bab selanjutnya juga akan diupload lho, jadi tunggu ya!
See you later...