
Prolog
Yogyakarta, 10 Desember 2019
Kisah perjalanan Lysa di Indonesia berakhir sampai di sini. Ia harus berpisah dengan kota kelahirannya, Yogyakarta. Harus pergi meninggalkan kota budaya yang indah nan permai, dan menjadikannya sebuah kenangan yang akan abadi dalam ingatannya. Lysa telah mengucapkan selamat tinggal dengan semua teman kampusnya. Telah mengucapkan selamat jalan kepada tempat tempat yang sering ia kunjungi.
Perceraian kedua orang tuanya resmi terjadi pada hari ini. Ia sekarang tak lagi berada dalam keluarga yang utuh seperti sebelumnya. Ibu dan ayah Lysa bercerai. Lysa harus ikut ayahnya pulang kembali ke kota asal, Seoul, Korea Selatan. Sedangkan ibunya akan menempuh kehidupan baru bersama selingkuhannya yang akan menjadi suaminya sebentar lagi. Lysa harus pergi bersama ayahnya. Lysa harus ikut ayahnya pulang ke Korea Selatan. Selain Lysa seorang, ayah Lysa tak memiliki siapa siapa lagi. Paling tidak ayahnya adalah sosok yang menyayanginya dan rela melakukan apa pun untuk mereka berdua bertahan hidup bersama. Karena sejak hari itu, sejak hari di mana Lysa menyaksikan secara langsung perselingkuhan ibunya, ia membenci ibunya. Ia tak menginginkan ibunya lagi untuk menjadi sosok ibu untuknya. Lysa membenci ibunya, sejauh ia membenci ayah tirinya yang seorang pengusaha sukses di Yogyakarta.
Hari ini adalah hari di mana Lysa harus pergi meninggalkan Indonesia. Hari keberangkatannya menuju Korea Selatan bersama sang ayah. Tapi, ia datang seorang diri di bandara, sedangkan ayahnya masih memiliki sedikit urusan di luar.
“Lysa!”
Suara seseorang yang memanggil membuat Lysa, yang baru memasuki bandara, menolehkan tubuh ke belakang. Ia melihat sosok lelaki tinggi berkaca mata melambaikan tangan dan berjalan ke arahnya.
“Sam, kenapa kau di sini?” seru Lysa yang terkejut melihat sosok lelaki itu.
“Hh! Aku juga mau berangkat ke Korea hari ini. Kamu nggak tau?” kata Brian begitu tiba di hadapan Lysa.
“Loh, bukannya besok lusa kau baru kembali ke Korea Selatan, Sam?” tanya Lysa tak yakin.
“Sebenarnya, iya. Tapi, ada urusan mendesak di kampus. Jadi harus berangkat hari ini.” Begitu lelaki itu menjawab.
Di sisi lain, Lysa masih membingungkan jawaban Brian. Ayahnya tak bisa datang tepat waktu padahal keberangkatan mereka sebentar lagi. Sedangkan Brian tiba tiba muncul dan berkata akan terbang ke Korea Selatan dalam waktu dekat. Jangan jangan ....
Telepon Lysa setelah itu berdering. Tepat sekali. Itu adalah panggilan telepon dari ayahnya.
“Halo, ayah. Ayah di mana? Sebentar lagi kan kita mau berangkat.” Lysa buru buru menjawab panggilan yang masuk dari ayahnya.
[Lysa, ayah tidak bisa berangkat denganmu hari ini juga. Setelah dari pengadilan, ibumu jatuh pingsan karena kelelahan. Ayah harus mengantarnya ke rumah sakit dan menunggunya sebentar. Kamu berangkat duluan ya? Kamu anak ayah yang pemberani, kamu akan baik baik saja melakukan penerbangan tanpa ayah. Ayah akan pergi besok, saat keadaan ibumu sedikit lebih baik.]
“Ayah. Ayah itu sudah bercerai dengan ibu. Kenapa ayah peduli padanya? Ibu sudah menghianatimu, ayah, menghianati kita berdua. Menelantarkan kita berdua. Untuk apa ayah peduli padanya?” Karena emosi, nada suara Lysa meninggi. Namun ayahnya di seberang telepon segera menjawab
[Lysa, biar pun begitu... dia tetap ibumu. Kau lahir dari rahimnya dan kau tidak bisa merubah kenyataan itu. Hati hati di jalan, Nak. Aku sudah menelepon Brian supaya menemani kepergianmu ke Korea. Percaya saJa padanya, seperti selama ini kau memercayainya.]
Tut tut tut.
Panggilan segera berakhir bahkan sebelum Lysa dapat menjawab apa apa. Dan lagi, ia terpaksa harus menjadi gadis pemberani ... demi ayahnya.
Lysa menghela napas panjang panjang. Tubuhnya masih terpaku menatap layar ponsel yang masih menyala. Ketika itulah, Brian yang berdiri di depannya menyela.
“Ayo, kita harus cepetan Chack in pesawat. Kita tidak bisa ketinggalan kan?”
Brian berkata demikian sambil merebut koper dalam genggaman Lysa. Membawakan koper Lysa sambil berjalan melewatinya. Otomatis, Lysa pun segera menyusul langkah kaku Brian. Mereka berdua check in, melewati beberapa tahap pemeriksaan sebelum akhirnya masuk ke dalam pesawat kelas bisnis dengan kursi yang bersebelahan.
Di dalam pesawat itu, Lysa telah memakai pengaman di tubuhnya. Kepalanya menatap keluar jendela. Melihat langit sore ini yang benar benar berwarna biru. Biru, cerah, putih, segar...
“Sam, kau pernah dihianati seseorang sampai semua terasa begitu menyakitkan?” Sambil menatap ke arah luar, Lysa mendesus pelan kepada Brian yang duduk di sebelahnya sambil membaca buku. Apa yang Lysa lontarkan itu membuat Brian sejenak menjeda kegiatan membacanya, lantas menoleh.
“Entahlah... aku tidak begitu memikirkannya.”
“Sakit. Sangat sakit. Bahkan membayangkan rasa sakit yang ayahku rasakan akibat penghianatan ibu, membuat tubuhku terasa hancur dan tak bertulang. Tapi ayah masih menyuruhku untuk menyayanginya. Aku sangat penasaran, terbuat dari apa hati ayahku.”
Brian mendengarkan cerita Lysa dengan baik. Namun, ia tak dapat berkomentar. Ia tak tahu harus menanggapi apa. Ia mengenal keluarga Lysa cukup lama dengan sangat baik. Dan ia juga cukup terkejut menengar perceraian antara ayah dan ibu Lysa yang terlihat baik baik saja. Termasuk kabar perselingkuhan, bayi dalam kandungan ibu Lysa, dan siapa lelaki ayah dari bayi tersebut. itu semua memang cukup mengejutkan. Dan Brian tak berani berkomentar apa apa tentangnya.
Karena tak mendengar tanggapan apa apa dari Brian, Lysa pun menolehkan kepala. Menatap Brian yang tampak bengong memikirkan sesuatu.
“Kenapa kau tidak menjawab Sam?” sahut Lysa.
“Oh... hanya saja... aku tidak tau harus membereikan respon seperti apa,” jawan Brian dengan gugup.
Mendengar itu, Lysa seketika terkekeh kekeh. “Kau masih tidak berubah, Sam. Sikapmu tetap kaku dan dingin. Dasar... benar kata Ayah, Sam memang tidak akan berubah,” kata Lysa sambil terkekeh kekeh menatap Brian.
Brian ikut tersenyum mendengarnya. Paling tidak, Lysa masih bisa bersenyum di tengah keadaan yang semakin memprihatinkan saat ini.
“Saat nanti kita tiba di Korea, aku akan mengajakmu makan di restorah mahal. Lalu kita pergi ke Namsan Tower,” kata Brian.
Kedua bola mata Lysa langsung membulat antusias. “Benarkah? Sam akan mentraktirku dan mengajakku pergi ke Namsan? Hohoo!” seru Lysa sambil menyenggol lengan Sam.
“Asalkan kau tidak salah paham lagi,” ucap Brian mengimbuhkan.
Lysa menghela napas panjang. Ia teringat akan kekonyolannya beberapa bulan lalu. Ketika Brian mengajaknya makan di restoran mahal dan berkunjung ke tempat wisata di Yogyakarta. Ketika itu, Lysa menyatakan perasaannya pada Brian karena mengira Brian menyukainya. Tapi, yang terjadi setelah itu adalah....
“Baiklah! Kenapa kau masih mengingatnya, Sam?! Aku sudah berhenti menyukaimu sejak saat itu. Aku sudah berhenti melihatmu sebagai laki laki idamanku pada saat itu. Jadi jangan mengungkit ungkit hal itu lagi! Memalukan. Dan aku sekarang laki laki idamanku sudah berbeda, tentunya bukan kamu, Sam.” Lysa menegaskan dengan emosi yang tergambar jelas di wajahnya.
“Baguslah. Aku hanya ingin menjalin hubungan baik denganmu, Lysa. Aku tidak ingin semuanya menjadi canggung. Dan aku lebih nyaman menganggapmu sebagai adikku,” kata Brian.
“Iya iya, Sam. Kau tidak perlu mengatakannya lagi dan lagi. Aku sudah tau.”
Brian tersenyum melihat Lysa yang mengerucutkan bibir dan segera memalingkan wajah darinya. Merasa gemas melihat ekspresi wajah Lysa, Brian mencubit pipi Lysa sambil menggumam pelan.
“Dasar anak kecil...”
“Jangan mencubit pipiku! Aku bukan anak kecil lagi, usiaku sudah 22, Sam.” Lysa memprotes. Dan itu membuat Brian tambah terkekeh kekeh karena gemas.
**
Musim semi, Seoul
Beradaptasi dengan lingkungan baru yang jauh berbeda dari lingkungan tempat tinggal yang sebelumnya memang bukan hal yang mudah untuk dilakukan. terlebih, Lysa tidak memiliki siapa siapa di Seoul selain ayahnya seorang dan juga Brian. Tapi, seiring berjalannya waktu, Lysa mulai terbiasa dengan kehidupan barunya di Seoul. semua ini, tidak lain dan tidak bukan adalah berkat bantuan dari Brian. tanpa lelaki itu, Lysa akan merasa sanga kesulitan dalam beradaptasi dengan lingkungan barunya. karena, sungguh, kehidupan di Korea Selatan dan Indonesia sangatlah berbeda. Dari kehidupan sosialnya, kehidupan ekonomi, bahkan iklim dan cuaca, semuanya sungguh berbeda.
Untungnya Lysa tak perlu lagi mempelajari bahasa Korea karena sejak kecil ia telah terbiasa menggunakan bahasa Korea ketika bercakal cakap dengan sang ayah. Sehingga ia telah fasih berbahasa Korea, juga membaca dan menulis menggunakan hangul (alfabet Korea). Selain itu, sebelumnya ia juga telah beberapa kali mengunjungi Korea Selatan sehingga ia tau cukup hal untuk bertahan hidup di negeri tersebut dan mengerti tentang sosial budayanya.
Untuk beradaptasi, tak perlu ditanyakan lagi karena Lysa memiliki banyak cara untuk bertahan hidup di negeri tersebut. Meski tak memiliki banyak teman baru yang bisa diajaknya berkomunikasi setiap saat, Lysa memiliki ayahnya dan Brian untuk bisa mendengar setiap keluh kesah dan juga ceritanya.
Siang hari ini Lysa sedang berada dalam ruang kuliah. Ia mengikuti salah satu kelas pada siang hari yang cukup panas ini. Memerhatikan penjelasan seorang dosen menggunakan bahasa Korea formal dengan penuh konsentrasi. Sampai tiba saatnya dosen tersebut mengucapkan salam terakhir sebelum menutup kelas perkuliahan di siang ini. Detik detik ketika kelas akan ditutup seperti ini adalah detik detik paling menegangkan untuk mahasiswa. Karena biasanya, berbagai macam tugas di luar kepala akan diumumkan di pengujung kelas. Suasana seketika berubah menegangkan ketika dosen di depan kelas memindah slide power point menuju slide selanjutnya. Satu, dua, tiga ...
"Untuk tugas di kelas biologi saya minggu ini, silakan mencari literatur literatur barat untuk kalian review beberapa materi tentang mikrobakteri. Lalu kalian buat laporan tentang literatur tersebut dalam format yang biasanya saya gunakan. Silakan dikerjakan secara berkelompok. Satu kelompok terdiri dari tiga sampai empat orang. Dan seperti biasanya, saya tidak ingin membatasi kalian mau berkelompok dengan siapa. Jadi, sampai bertemu minggu depan dan selamat mengerjakan."
Berangsur angsur mahasiswa yang ada di kelas ini pun keluar dari kelas. Sementara dosen yang baru saja mengumumkan tugas kuliah dengan tidak manusiawi itu tampak sedang memberesi mimbar mengajarnya dan mematikan notebook yang ia gunakan untuk menampilkan bahan ajarnya tentang mikrobakteri.
Ketika kelas sudah sepi, tinggal Lysa seorang diri di barisan paling depan, Brian yang sedang menutup notebooknya itu menyahut dengan tidak peduli.
"Kenapa mahasiswa bisnis bisa ada di kelas biologi?" desus Brian selagi menenteng notebook. Sejak tadi, yang membuatnya hampir salah fokus adalah Lysa yang duduk di depan sendiri dengan bola mata yang membulat lebar menatap Brian.
Mendengar celetukan Brian, Lysa segera beranjak dari duduk. Ia melompat turun dari kursi dan berlari menghampiri Brian yang sedang berjalan keluar meninggalkan kelas.
"Sam, hari ini kau ingat kan?" celetuk Lysa sambil berjalan lincah mengikuti Brian.
"Ada apa dengan hari ini sampai kau menungguku dengan antusias bahkan mengikuti kelas perkuliahanku? Apa hari ini hari spesial?" jawab Brian tak acuh.
"Hasshh! Ini kan hari ulang tahunku. Katanya kau akan membelikanku makan di restoran daging sapi yang paling lezat di Itaewon itu," kata Lysa. Dari tadi ia menunggu untuk memberi tahu Brian bahwa ia ulang tahun. Ia bahkan rela mengorbankan waktu siangnya yang berharga untuk mengikuti kelas biologi Brian supaya bisa mengingatkan lelaki itu bahwa ini adalah hari yang tepat untuk mengajaknya makan daging sapi yang lezar di Itaewon.
"Ah, benar. Aku sudah berjanji. Tapi, bagaimana ya? Aku tidak bisa pergi hari ini." Brian berucap penuh sesal. Tidak, tidak. Sepertinya tak terdengar nada penyesalan dari suara Brian.
Langkah Lysa seketika terhenti. Satu satunya orang yang bisa memberinya makan daging sapi adalah Brian. Tapi lelaki itu berkata tidak bisa. Lysa, yang menyandang status sebagai 'orang miskin baru' setelah kebangkrutan bisnis ayahnya itu pun tidak bisa makan daging sapi meski telah mengorbankan waktu siangnya yang berharga untuk mengikuti kelas Brian. Percuma saja. Harusnya Lysa menyadari sejak awal bahwa laki laki supersibuk seperti Brian pasti tidak akan bisa meluangkan sedikit waktu untuk membelikannya makanan daging sapi. Terlebih, ini adalah saat saat paling sibuk untuk seorang pengajar seperti Brian. Karena menjelang liburan musim panas ada banyak sekali hal yang harus lelaki itu kerjakan di universitas. Belum lagi ia juga harus mengisi kelas kursus bahasa Indonesia di salah satu unit dalam kampus tempatnya mengajar.
Mendapati Lysa yang tiba tiba menghentikan langkah, Brian pun ikut berhenti dan menoleh. Ia melihat wajah Lysa yang penuh kesedihan.
"Maaf, makan dagingnya lain kali saja ya. Aku sangat sibuk hari ini. Ada banyak pekerjaan di labolatorium," kata Brian. Kali ini perkataannya penuh sesal. Ia tampak menyesal karena tak bisa membelikan daging sapi untuk Lysa.
"Tidak apa apa. Toh, aku tidak begitu merasa lapar kok," desus Lysa yang tak tega melihat raut penuh rasa bersalah Brian.
Kepala Brian mengangguk lega. "Kalau begitu aku pergi dulu." Ia handak meneruskan berjalan pergi sebelum teringat suatu hal dan kembali menoleh pada Lysa. "Oh ya, selamat ulang tahun Lysa." Kemudian lelaki itu segera berlalu pergi meninggalkan Lysa di lorong kelas.
Melihat Brian yang berjalan semakin jauh, Lysa mengembuskan napas panjang dan menggumam gumam, "Ucapan selamat ulang tahun yang sangat ... sangat ... sederhana. Tidak salah lagi. Dia memang Sam yang kukenal. Tidak begitu peduli orang lain dan hanya memedulikan pekerjaan. Apa yang aku harapkan darinya? Dasar bodoh aku ini. Berkali kali di tolak masih saja berharap banyak darinya. Baiklah. Mulai saat ini, aku tidak akan mengharapkan apa apa dari orang lain. Aku akan mengurus hidupku sendirian, tanpa melibatkan orang lain."
Setelah itu Lysa pergi meninggalkan gedung kampus. Pergi keluar untuk mengisi perutnya yang sejak tadi memberontak ingin segera diisi. Masalah adalah...
Lysa merogoh semua saku pada pakaian yang melekat di tubuhnya, tapi tak mendapatkan sepeser pun uang untuk membeli makan siang. Sedangkan di dalam dompetnya hanya tersisa selembar uang seribu won yang bahkan tidak cukup untuk membeli satu bungkus cup ramyeon di toserba. Sial sekali. Sepertinya, siang ini harus menahan lapar seperti siang siang sebelumnya.
Tinggal di asrama bisa menjadi hal menguntungkan tapi juga bisa menjadi hal yang tidak begitu mengenakkan untuk Lysa. Asrama kampusnya memang menyediakan fasilitas kamar yang bagus. Tetapi, ia hanya diberi jatah makan dari asrama sebanyak dua kali sehari, pagi dan malam. Sedangkan siang harinya, semua mahasiswa yang tinggal di asrama harus mencari makan sendiri.
Baiklah. Lysa hanya perlu menahan rasa laparnya pada siang ini. Toh, bukan pertama kalinya ia menahan lapar pada siang hari. Ia sudah terbiasa melakukannya, dan hampir selalu melakukannya. Jadi, pastinya hal itu tidak jadi masalah.
"Sial, kenapa siang ini aku lapar sekali? Apa karena sebelumnya aku sudah membayangkan makan daging?"
Tetapi rasa laparnya ini sudah tidak tertolong. Lysa berjalan sambil memegangi perut, karena merasa terlalu lapar. Tapi ia terus berjalan keluar dari gerbang kampus dan terus berjalan ke arah selatan. Dengan terus berjalan, ia berharap bisa menemukan uang koin yang terjatuh di trotoar. Dengan begitu, paling tidak ia bisa membeli cup ramyeon di toserba.
Saat ini Lysa berada dalam situasi di mana ia tak memiliki sama sekali uang selain seribu won yang ada di dompetnya. Ia tak bisa meminta uang pada ayahnya. Karena ia juga tahu bahwa ayahnya kesulitan finansial sejak bisnis yang dikelolanya bangkrut dan semua aset yang ayahnya miliki di Korea ini disita oleh pihak bank. Ceritanya, sejak awal kedatangannya di Korea itu, ayah Lysa membangun sebuah bisnis di bidang retail. Dengan sisa sisa uang yang dibawanya dari Indonesia, ayahnya membangun bisnis di Korea Selatan. Tapi, bisnis itu tidak berakhir baik dan langsung bangkrut begitu berdiri karena kurang matangnya sistem masketing yang dirancang. Sehingga, semua aset yang dimiliki ayah Lysa semua disita. Mereka tak memiliki tempat tinggal sehingga Lysa harus pindah di asrama untuk mendapat tempat tinggal yang layak. Sedangkan ayah Lysa tinggal di kantor bisnis retail yang telah bangkrut. Tempat itu sangat sempit dan kumuh. Hanya terdiri dari satu ruangan seperti kantor dan kamar mandi. Ayah Lysa tentunya tidak menginginkan putrinya untuk tinggal bersamanya di tempat yang sempit itu, sehingga memindahkan Lysa ke asrama kampus dengan biaya superminim yang berasil diperoleh sang ayah dari meminjam beberapa teman di Seoul.
Dengan uang seribu won di genggamannya, Lysa terus berjalan di pinggir trotoar. Dengan semua harapan yang menyembul dalam benaknya, ia terus berjalan sambil menahan rasa lapar dari lapisan dalam perutnya yang memberontak. Sampai ia tiba di halaman sebuah kafe terkenal yang berdiri tidak jauh dari kampusnya. Di teras kafe bernama 'Moonlight Coffe' itu, tertera jelas tulisan "Promo untuk yang sedang ulang tahun. Diskon 70% dan mendapat satu voucher minum gratis dengan menunjukkan kartu identitas atau kartu mahasiswa!".
Kedua bola mata Lysa langsung terbelalak melihat tulisan itu. Seperti kucing kelaparan yang mencium aroma ikan, Lysa berlari secepat kilat menuju Moonlight Coffe. Dan, benar. Ia hanya perlu menunjukkan kartu identitas yang menunjukkan kalau dirinya sedang ulang tahun. Ia pun berhasil mendapatkan satu porsi burger hanya dengan uang seribu won, bahkan mendapatkan minuman dingin gratis dari Moonlight Coffe.
Sebelum mendapatkan burger dengan uang seribu Won dan minuman gratis itu, Lysa pikir ia adalah orang paling sial di hari ulang tahunnya sendiri. Namun kenyataannya, ia tak cukup sial. Ia merasa menjadi orang paling beruntung di dunia ini hanya karena mendapatkan burger dengan uang seribu won dan minuman gratis ketika perutnya sedang lapar laparnya.
"Terima kasih."
Lysa mengucapkan kalimat itu dengan penuh semangat setelah menerima burger dan minuman gratis dari seorang pelayan Moonlight Coffe yang berdiri tidak jauh dari kampusnya. Sambil keluar dari bangunan kafe yang terlihat mewah itu, Lysa menggigit satu bagian burgernya. Lantas berjalan keluar dengan pandangan yang tertuju pada satu tulisan di jendela kafe.
'Dibutuhkan pekerja paruh waktu khusus untuk mahasiswa. Silakan hubungi nomor berikut, 010 XXX XXX'
Sambil memakan burgernya, Lysa mengambil ponsel dari saku pakaiannya. Ia menyalakan kamera, lalu memfoto tulisan di jendela itu.
Ckrekk.
Lysa memang berpikir untuk mencari pekerjaan di samping kuliahnya. DI tengah keadaannya dengan sang ayah, tidak mungkin Lysa tidak berpikir untuk mencari pekerjaan paruh waktu. Ayahnya memang melarangnya untuk bekerja paruh waktu. Tapi di posisi lain, Lysa merasa butuh pekerjaan karena tak bisa membebani ayahnya lagi untuk uang saku dan keperluan pribadinya.
Setelah selesai memfoto, Lysa pun memasukkan kembali ponsel ke dalam saku pakaiannya. Lantas berbalik, sebelum seorang lelaki yang berjalan mundur sambil melambai lambaikan tangan menabrak Lysa menggunakan punggungnya.
Buukk. "Agh!"
"Ohh!"
Lelaki itu tersentak mendengar pekikan seorang perempuan yang menabrak punggungnya. Ia reflek berbalik dan ketika itu....
Lysa terbengong ketika melihat burgernya jatuh dan terinjak oleh lelaki yang berjalan dengan mundur ini. Burger itu ... satu satunya harapan terakhir Lysa ... jatuh setelah gigitan ketiga. Ohh, sayang sekali. Lysa membengong melihat burgernya yang jatuh dan terinjak oleh sepatu mengkilap lelaki ini.
"Burgerku...."
Selagi menggumamkan kata itu, bola mata Lysa sudah berkaca kaca. Sudah cukup berat ia menahan lapar di setiap siang yang ia lalui. Sudah cukup berat untuknya kecewa dari harapan tinggi yang ia buat terhadap Brian yang berjanji akan mentraktirnya daging sapi di hari ulang tahunnya. Sudah cukup berat ia berjalan sambil menahan rasa lapar dan berharap dengan sangat putus asa. Dan satu satunya burger yang menjadi harapan terakhir Lysa, jatuh dengan begitu menyedihkan dan berakhir di sepatu laki laki tidak tau diri ini.
Bagi Lysa, burger yang didapatkannya dengan uang seribu won hari ini tak sekadar burger, melainkan hadiah ulang tahun yang hanya bisa didapatnya ketika ulang tahun. Sementara tidak ada satu orang pun yang peduli pada ulang tahunnya, hanya burger ini yang ia miliki sebagai hadiah. Ayah tak mungkin membelikan kado ulang tahun seperti sebelum sebelumnya. Dan Brian .... tak ada yang Lysa harapkan lagi dari lelaki. Dan bahkan burger ini....
"Burgerku...."
Kaena kesedihan yang luar biasa ini, Lysa menangis menatap burgernya yang berakhir menyedihkan di atas tanah. Satu satunya hadiah ulang tahun yang dia miliki.... Satu satunya harapan yang ia punya...
"Burgerku."
Lysa yang tak dapat menahan kesedihan yang semakin hari semakin bertumpuk itu, langsung berjongkok di atas tanah dan menangis terisak. Ia menangisi burgernya, menangisi satu satunya hadiah ulang tahun yang dia punya, menangisi hidupnya, menangisi kemalangan yang menimpa ia dan ayahnya. Menangisi semua kepedihan yang terjadi di hari ulang tahunnya. Lysa menangis dengan begitu kencang sampai sampai membuat laki laki yang menabraknya itu kelabakan.
"Burgerku, haaaa!" isak Lysa sambil menyembunyikan kepalanya di antara kedua kakinya yang berjongkok. Ia terus menangis dengan begitu kencang di depan kafe yang sedang ramai pada saat siang.
**
**Jangan lupa like dan komen ya. Satu like dari kalian akan sangat berarti buat Author. Dan komentar kalian bisa jadi penyemangat buat author terus berkarya! ^^ Give me support with your like and comment.
Jangan lupa juga buat bergabung di grub chat bersama Author ya. Kalian bisa berinteraksi dengan author dan sesama pembaca Love You Later SERIES melalui grup chat tersebut.
Terima kasih sudah membaca...^^