Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Kisah dua manusia melawan perasaan yang padam



Bab 19


Kisah dua manusia melawan perasaan yang padam


“Lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu, Lysa?”


Pertanyaan itu yang pertama kali Mino lontarkan begitu Lysa tiba di hadapannya. Senyum semringah laki laki itu menghiasi wajah. Membuatnya terlihat makin tampak seperti pangeran berkuda putih yang telah sekian menanti permaisuri.


“Tadi kita sudah bertemu di kafe. Tapi Ajeossi teralu serius mengurusi kafe sampai sampai tidak melihatku berdiri di balik meja kasir, kan? Balas Lysa menceletuk. Raut wajahnya terlihat sebal meski sebenarnya gadis itu merasa sangat senang. Lebih dari apa pun ia merasa sangat enang karena dapat bertemu kembali dengan Mino setelah empat hari terpisahkan oleh lautan.


“Benarkah? Ah, sayang sekali aku tadi tidak lihat. Kukira hari ini kau tidak ada pekerjaan di kafe. Dari laporan yang kuperoleh dari asisten manajer, khusus hari ini kau hanya mengambil shift malam saja dan tidak memiliki shift siang. Jadi aku tidak mengira kalau tadi siang kau juga bekerja di kafe.” Mino lanjut berucap. Sepertinya benar kalau ia terlalu fokus memikirkan pkerjaannya di kafe sampai sampai tidak melihat Lysa berdiri di balik meja kasir dan menunggunya dengan antusias. Padahal, Mino tadi berjalan melewati Lysa di balik meja kasir sebelum naik ke lantai dua untuk bertemu Bos Moon dan Nyonya Moon.


“Aku menggantikan seorang teman yang tidak bisa mengisi shift malam siang tadi.” Lysa menjelaskan singkat.


Apa pun yang terjadi, Lysa merasa sangat senang karena akhirnya dapat bertemu lagi dengan Mino. Dan ternyata laki laki itu tidak pernah mengingkari janjinya kepada Lysa. Lysa benar benar bersyukur karena kali ini tak merasa dikecewakan akibat janji janji palsu yang sering kali membuatnya merasa kecewa dan tidak senang.


“Kau sudah makan?” lanjut Mino bertanya setelah merasakan keheningan sejenak.


Kepala Lysa menggeleng geleng. “Belum.”


“Kalau begitu ayo kita cari makan dulu.” Mino lanjut berucap sambil membukakan pintu mobilnya kepada Lysa. Membiarkan Lysa masuk ke dalam mobilnya dengan selamat. Kemudian ia menyusul masuk dan mulai mengendarakan mobil.


Di dalam mobil itu, Lysa hanya tersenyum hangat. Raut wajahnya terlihat sedih sekaligus bahagia. Sungguh. Tak pernah sekali saja dalam hidupnya, ia diperlakukan dengan begitu baik oleh laki laki. Diperlakukan seperti Mino memperlakukannya. Diperlakukan selayaknya seorang wanita dan bukan seperti anak kecil seperti perlakuan yang selalu ia dapatkan baik dari sang ayah maupun dari laki laki terdekatnya, Brian.


“ Ada apa?” Mino yang melihat raut wajah aneh pada Lysa, segera melontarkan pertanyaan. Ini masih terlalu dini untuk membuat Lysa menangis terharu. Tetapi wanita itu memperlihatkan raut wajah yang tak pernah Mino lihat sebelumnya.


“Tidak apa apa.” Lysa menggumam pelan sambil menggeleng gelengkan kepala. “Aku tidak pernah diperlakukan seoerti itu tadi oleh laki laki. Jadi ... rasanya sedikit asing, juga menyenangkan untukku.” Gadis itu berusaha menjelaskan perasaannya kepada Mino. Entah Mino bisa mengerti maksudnya atau tidak.


“Diperlakukan seperti apa?” lanjut Mino bertanya ragu.


“Diperlakukan seperti saat Ajeossi membukakan pintu mobil untukku tadi. Aku tidak pernah merasakan hal semacam itu sebelumnya.” Lysa menjelaskan kembali.


Seketika itu juga Mino tersenyum hangat. Ia tidak tahu seperti apa Lysa hidup selama ini. Namun, sesingkat yang ia ketahui, Lysa sepertinya hidup di tengah orang orang yang memperlakukannya biasa saja, tidak penuh perhatian. Atau, orang orang di sekelilingnya memberinya perhatian dengan cara yang berbeda dari yang Lysa harapkan. Sehingga terkesan seperti Lysa tidak pernah diperhatikan oleh ornag orang di sekelilingnya.


“Kalau begitu, kau tidak usah ragu. Mulai sekarang aku yang akan membukakan pintu untukmu. Aku sudah biasa melakukannya. Jadi rasanya sudah kebiasaan saja.” Mino berucap.


“Terima kasih, Ajeossi.”


Suasana di dalam mobil setelah itu menjadi hening. Lysa hanya tidak tahu harus membuka percakapan seperti apa. Sangat sedikit sekali hal yang ia ketahui tentang Mino. Sehingga sulit untuk membuka topik pembicaraan yang pas dengan lelaki itu. Bukan sulit, sebenarnya. Hanya saja Lysa takut salah mengangkat topik atau salah bertanya. Dan, sejujurnya, situasi saat ini sedikit canggung.


Padahal bukan pertama kalinya Lysa masuk ke dalam mobil Mino dan terduduk di sebelahnya. bukan pertama kali pula mereka berada dalam perjalanan menuju sutau tempat makan untuk makan bersama. Parfum tubuh Mino, harum AC mobil, dan semua yang Lysa rasakan saat ini sudha bukan hal yang asing lagi untuknya. Ia bahkan sudah tahu benda apa saja yang ada di dalam dasbor mobil Mino karena terlalu sering menumpang di mobil laki laki itu. Namun, ini pertama kalinya terjadi kecanggungan di antara mereka berdua. Ya, tentu saja semua menjadi canggung. Setiap kali menoleh ke samping dan menatap ke arah Mino, pandangan Lysa tiba tiba terfokus pada bibir manis lelaki itu yang pernah dua kali berciuman dengannya. Dan ketika Lysa mengingat kembali momen ciuman mereka berdua, perlahan lahan suhu tubuhnya menaik. Rasanya akan semakin canggung. Jadi sebaiknya Lysa diam saja dan menatap ke depan, ke arah jalan raya yang sepi.


“Ah benar. Karena kau baru datang ke Korea, berarti kau belum sempat mengunjungi pulau Jeju?” Sejenak kemudian keheningan amsih berlanjut, Mino yang terpikirkan suatu hal itu segera membuka pembicaraan dan mencairkan suasana cenggung yang berlangsung ini.


“Kalau setelah kepindahanku ke Korea, aku belum berkunjung ke Pulau Jeju. Tapi, dulu sekali, saat umurku sekitar lima atau enam tahunan, ayah pernah mengajak keluargaku pergi liburan ke pulau Jeju bersama. Tapi, sebenarnya aku sudah tidak begitu ingat. Karena saat itu aku masih sangat kecil sekali. Dan sepertinya, pulau Jeju yang samar samar ada di ingatanku itu sudah berbeda dengan pulau Jeju yang sekarang.” Lysa bercerita.


“Tentu saja berbeda. Pembangunan di pulau Jeju itu pesat sekali setiap tahunnya. Ada banyak tempat wisata baru dibuka. Dan ada banyak sekali turis yang ikut membangun rumah di sana.” Mino menjelaskan.


“Tempat wisata? Ah, aku pernah melihat salah satu tempat wisata di pulau jeju yang maish televisi. Kalau tidak salah, namanya bukit kamelia dan satu lagi pusat budaya yang namanya ... apa ya? Ah.. aku sudah lupa. Kemarin lusa aku melihatnya di televisi.” Lysa menyahut sambil mengingat ingat salah satu program televisi yang ia tonton bersama teman asramanya kemarin lusa. Tetapi ia sudah tidak begitu ingat nama dari tempat wisata yang menjadi pusat budaya itu. Ah, ingatannya pendek sekali. Ia tidak menyangka dirinya itu sudah menjadi pelupa. “Ahh, sayang sekli aku tidak ingat namanya. Apa ya?”


“Gwandeogjeong?” Mino yang terbesit satu tempat di pulau Jeju itu menyahut.


“Oh?” Lysa tersentak mendengar nama itu. Kemudian ia mencoba mengingat ingat apakan benar nama itu yang dimaksud oleh hatinya. “ Apa itu ya? Tidak tahu. Aku benar benar lupa.”


“Hahahaha.”


Seketika twa mino tergelak. Rasanya lucu sekali. Entah apa yang membuatnya tertawa, melihat situasi ini Mino tergelak untuk tertawa. Lysa yang mendadak jadi malu pun hanya cengengesan menyadari tingkah lakunya sendiri yang konyol.


Tidak lama setelah itu keduanya telah tiba di salah satu tempat yang ada di Itaewon. Ini adalah tempat yang akan disukai Lysa. Tempat kesukaannya yang akan membuat kedua matanya berbinar binar.


Yaps, benar sekali. Tempat ini merupakan rumah daging sapi yang menyajikan berbagai macam olahan daging sapii. Tempat ini sangat terkenal di Itaewon dan menjadi tempat paling favorit untuk memakan olahan daging sapi.


“Oh! Kita akan makan di sini Ajeossi?”


Menyadari di mana Mino menghentikan mobil yang mereka tumpangi bersama, Lysa menceletuk. Seperti yang diduga, bola matanya berbinar binar ketika melihat suatu tempat yang lebih indah dari istana. Bagi Lysa, sudah pasti tempat ini lebih indah dari istana. Karena di tempat ini perutnya tidak akan pernah kelaparan. Lidahnya akan dimanjakan dengan sajian lezat daging sapi Korea kualitas premium yang dijual di sini. Bahkan aroma daging sapi panggang yang merembet sampai ke luar bangunan restoran pun membuat Lysa tidak sabar untuk masuk ke dalamnya.


“Apa kau sesenang itu makan di sini?” Mino yang melihat Lysa tampak begitu gembira dengan bola mata yang berbinar binar antusias itu menceletuk sambil terkekeh kekeh. Baru pertama kali ini ia bertemu dengan seorang gadis yang sangat sederhana dibanding gadis yang lainnya.


Sejauh yang Mino tau selama ini, wanita wanita di kota metropolitan Seoul ini sangat materialistis. Mereka menuntut sesuatu yang besar dari kekasihnya ketika berpacaran. Membiat wanita bahagia pun dengan cara yang sedikit rumit seperti; mengajak makan di restoran paling mahal dan berkela, berlibur ke luar negeri dan menghamburkan begitu banyak uang, mengajak berjalan jalan menggunakan mobil sport, dan semua hal yang dapat menguras sebagian besar dari dompet laki laki yang diajaknya berkencan. Gaya hidup wanita wanita di Seoul memang seperti itu. Selain orang orangnya sangat gensian, juga suka pamer. Daya persaingan antara satu wanita dengan wanita yang lainnya sangat ketat dan tinggi, yang ini membuat wanita di Seoul tampak semakin materialistis.


Tetapi membahagiakan Lysa sangat sederhana sekali caranya. Yaitu, mengajaknya makan di restoran daging sapi Korea dan mebiarkannya makan sebanyak yang dia mau. Itu adalah cara paling sederhana di antara semua cara yang digunakan para laki laki untuk membahagiakan kekasihnya.


Eits, ada satu hal yang janggal. Mino kan ... belum menjadi kekasih Lysa.


“Apa di sini aku bisa makan daging sapi sepuasku Ajeossi?” Lysa yang tidak sabar untuk turun itu menceletuk dan memastikan satu hal itu kepada Mino.


Seketika Mino menganggukkan kepala. “Tentu saja. Makanlah sepuasnya. Katanya kau nanti bekerja di shift malam. Jadi pastikan perutmu itu sudah terisi sebelum bekerja keras di kafe.”


“Siap, Komandan!”


Mino tambah terkekeh mendengar seruan semangat Lysa yang selesai melepas sabuk pengaman itu. Kemudian Lysa segera turun dari mobil. Seketika turun, aroma daging panggang dari dalam restoran menyebar ke luar. Menyeruak indra penciuman Lysa dan membuat perutnya otomatis bereaksi dengan mengeluarkan suara suara tidak terduga. Untung saja jaraknya berdiri dari Mino itu cukup jauh sehingga Mino tidak mednengar suara suara aneh dari perut Lysa. Coba sjaa kalau jarak mereka dekat dan Mino mendengarnya, bisa langsung membeku tubuh Lysa karena merasa malu.


“Ayo.”


Tempat ini memang tak begitu luas dan tak sebagis restoran bintang lima yang berdiri di area Itaewon lainnya. Tatanan ruangan dan semua perabotannya terkesan sangat sederhana dan tradisional. Namun kesan yang dibawanya adalah kehangatan keluarga. Sehingga bangku di dalam reatoran pun tidak seberapa. Di dalam restoran hanya terdapat enam meja pelanggan yang lengkap dengan peralatan memanggang dan juga cerobong asap yang terlihat seperti pipa besar penyerap debu. Dan di setiap mejanya terdapat empat kursi yang semuanya adalah terbuat dari kayu dan agak usang.


Seketika masuk ke dalam restoran, Mino berjalan ke arah salah satu bangku restoran yang kosong. Ia duduk di atas salah satu kursi di sana. Sedangkan Lysa mengambil tempat duduk yang berhadap hadapan dengan Mino.


“Bibi, satu set daging sapi Korea panggang!” Mino memesan makanan dengan mengangkat tangan dan meneriakkan kata itu dengan sopan dan lantang pada bibi yang berdiri di meja kasir.


“Ya. Tunggu sebentar Tuan!” Sahutan itu terdengar spontan begitu Mino memesan satu set daging sapi.


“Kenapa tempat seterkenal ini sangat sedikit pelanggannya?” Lysa bertanya setelah menebarkan pandangan ke sekeliling dan mendapati hanya sedikit orang yang ada di dalamnya


“Area ini kan area perkantoran. Jadi pelanggannya baru berdatangan nanti saat hari sudah petang. Sekitar jam tujuh ke atas, dan siang sekitar jam satu. Kalau akhir pekan, tempat ini sangat penuh dan bahkan antrean di luar nanti akan sangat panjang, sampai halte bus sebelah sana.” Mino menjelaskan.


“Wah. Benarkah? Sepertinya tempat ini benar benar terkenal. Pertama aku melihat tempat ini melalui salah satu blog makanan terkenal. Dari blog itu makanannya terlihat sangat lezat dan menggiurkan. Aku sangat ingin sekali datang sejak dulu. Tapi belum ada kesempatan. Dan baru kali ini datang bersama Ajeossi,” cerita Lysa.


Ini adalah restoran yang ingin ia datangi bersama Brian di hari ulang tahunnya. Namun batal. Dan pada sore harinya, Brian mengajak Lysa ke tempat ini tetapi tempat ini sangat penuh sehingga Brian mengajak Lysa makan di tempat lain. Sekedar memberi tahu saja, Brian itu orangnya sangat perfeksionis dan sensitif. Ia tidak mau makan di tempat yang dikerumuni banyak orang, apalagi mengantres. Lelaki itu sangat benci dengan yang namanya mengantre.


Ahh, lupakan soal Brian. Lysa ingin menikmati waktunya bersama Mino di tempat ini.


“Ajeossi, apa kau pelanggan tetap di sini?” tanya Lysa setelah beberapa detik memikirkan Brian. Jujur saja. Lysa sendiri tidak mengerti kenapa dirinya tiba tiba memikirkan Brian di saat di hadapannya ada laki laki yang ratusan kali lebih baik dari pada Brian.


Sambil menimbang nimbang Lysa menjawab, “Hm... bukan pelanggan tetap. Tapi aku sudah beberapa kali makan di sini. Bersama rekan kerjaku, bersama teman kuliahku, juga pernah makan di sini bersama Bos Moon saat dia belum berkeluarga.”


Ada satu hal yang Mino belum sebutkan. Yaitu, ia pernah satu kali datang ke tempat ini bersama Jiwon. Tetapi Jiwon tidak begitu menyukai tempat ini karena sangat kecil dan pengap. Seusainya makan pada hari itu, Jiwon memprotes karena Mino mengajaknya makan di tempat yang kuno, pengap, dan tidak ada sirkulasi udaranya. Sehingga setelah hari itu Mino tidak pernah datang lagi bersama Jiwon.


Mino hanya tersenyum setelah memberikan jawaban itu kepada Lysa. Ia masih merasa ragu untuk menceritakan masa lalu kelamnya kepada gadis yang saat ini duduk di hadapannya. Ragu, apakah ia nanti masih tetap diterima dan diperlakukan dengan cara yang sama seperti sekarang. Juga ragu, apakah Lysa tidak akan menghindarinya setelah mendengar semua cerita kelamnya di masa lalu. Tentang cerita menyedihkan ia bersama wanita lain di masa lalunya. Dan semua peristiwa yang telah Mino lalui bersama wanita itu. Ia merasa ragu, setelah mendengar cerita itu nanti Lysa masih tetap menatapnya dengan tatapan hangat dan penuh kasih seperti itu lagi atau tidak.


Keduanya makan malam bersama di restoran sederhana yang menyajikan daging sapi paling lezat di seluruh penjuru Seoul. Selagi makan bersama, keduanya juga saling bercerita tentang beberapa kejadian yang lucu untuk diceritakan. Menceritakan tentang pengalaman pertama Lysa bekerja di kafe dan menceritakan susah senangnya.


Beberapa waktu kemudian mereka berdua telah menyelesaikan makan malam bersama. Pekerjaan paruh waktu Lysa dimulai tepat pada pukul tujuh. Dan sekarang waktu masuk menunjukkan pukul enam lebih seperempat.


Seselesianya makan, Mino mengajak Lysa untuk membeli minuman hangat sebagai pencuci mulut. Lalu menikmati minuman tersebut di dalam mobil sembari mengamati keramaian orang di Itaewon. Area Itaewon memang sangat terkenal sebagai kawasan elit dan memiliki harga jual tanah yang paling tinggi di antara banyak tempat lainnya di Gangnam. Di area Itweon itu pula terdapat banyak tempat hiburan, restoran, pameran pameran, sehingga Itaewon selalu ramai dan tidak pernah sepi ketika malam hari.


Di dalam mobil itu Lysa dan Mino menikmati minuman kopi yang baru saja di belinya di mesin penjual kopi otomatis. Sedangkan pandangan mereka tertuju pada pameran tari yang sedang di selelnggarakan di dalam satu gang besar yang ada di Itaewon.


“Apa sebelumnya kau sering ke Itaewon?” Mino yang juga tengah mengamati pameran tadi yang diikuti oleh banyak orang di ujung jalan itu membuka pembicaraan dengan Lysa yang duduk di sebelahnya.


“Beberapa kali aku diajak Sam datang ke Itaewon. Tapi ini pertama kalinya aku melihat pameran tari di sini,” jawab Lysa.


Mino terdiam. Ia memikirkan suatu hal. Lalu bertanya kemudian.


“Kalau boleh tahu, siapa laki laki yang kau panggil Sam itu? Bukannya dia laki laki yang sering membawamu pergi dengan mobil birunya?” tanya Mino penasaran.


Sejak awal ia melihat Brian yang datang bersama mobil biru mewahnya untuk membawa Lysa, Mino sudah penasaran. Namun ia berpikir kalau pemilik  mobil mewah berwarna biru itu adalah kakak Lysa atau anggota keluarganya. Tetapi mendengar Lysa yang beberapa kali menyebutkan nama Sam, membuat Mino yakin kalau laki laki bernama Sam yang merupakan seorang pengajar di kampus Lysa itu bukanlah anggota keluarga Lysa. Dan jika bukan anggota keluarga, jangan jangan lelaki itu adalah ...


“Dia bukan siapa siapaku, bukan bagian dari keluargaku. Tapi, keluarga Sam dengan keluargaku sudah kenal lama dan sangat dekat. Aku juga mengenal Sam sejak usia sepuluh tahun. Dia mengganggapku sebagai adiknya. Tapi aku tidak pernah sekali pun berpikir kalau Sam adalah kakak laki lakiku,” cerita singkat Lysa tentang Brian.


“Lalu, kau menganggapnya apa?” lanjut Mino bertanya.


Kepala Lysa perlahan lahan menoleh pada Brian. Tatapan Mino memperlihatkan rasa penasaran sekaligus rasa waspada. Jangan jangan, Lysa menyukai laki laki yang dipanggilnya Sam itu, batin Mino curiga.


“Dia cinta pertamaku. Cinta pertama yang gagal. Dulu aku pernah menyukainya. Tapi aku juga tahu kalau rasa sukaku itu pada akhirnya akan berakhir mengenaskan.” Lysa menjawab pelan.


Mino mengembuskan napas dengan sangat pelan, ragu Lysa akan mendengarnya embusan napas tersebut.


“Ahh, begitu rupanya.” Mino menggumam gumam. Raut wajahnya terlihat lebih sendu dari sebelumnya. Pandangannya menurun. Lalu perlahan lahan tatapannya menaik, menatap kedua bola  mata Lysa yang mengisyaratkannya untuk tidak khawatir. “Sekarang ... apa sekarang kau masih menyukainya?” lanjut Mino bertanya.


Telapak tangan Lysa yang hangat setelah memegang gelas kopi itu meraba pipi Mino. Mendekap pipi Mino dengan kehangatan yang masih dibawanya. Memberikan lelaki itu tatapan lekat hingga membuat bola mata Mino tak dapat beranjak dari Lysa.


“Sampai saat itu aku masih menyukai Sam. Sampai aku dipertemukan dengan Ajeossi, dan tahu bahwa Sam akan menikah dengan seorang wanita yang terlihat seperti permaisuri kerajaan.” Lysa berucap pelan dengan bola matanya yang fokus menatap Mino.


Mendengar itu, Mino menggenggam tangan Lysa yang mendekap pipinya. Merasakan jari jari mungil gadis itu dalam genggamannya. Rupanya, cerita Lysa tidak jauh berbeda dari Mino. Keduanya sama sama memiliki kisah yang pahit dalam hal percintaan.


Mino menggenggam tangan Lysa dengan hangat. Lalu menggeser tangan gadis itu dan menciumnya. Aroma kopi yang ada di tangan Lysa tercium di hidung Mino.


“Aku juga memiliki kisah yang sama. Seorang wanita yang telah bersamaku selama beberapa tahun, meninggalkanku untuk menikah dengan seorang pria yang bisa menyelamatkannya dan keluarhanya. Mungkin aku terlalu payah untuknya. Sehingga dia mencari laki laki lain untuk menikahinya. Apa tidak apa apa kalau aku saat ini masih sedang berusaha untuk melupakan wanita itu? Aku tidak berusaha melupakan wanita itu dengan memanfaatkanmu, Lysa. Aku ... aku hanya ingin melupakannya dengan alami, lalu segera memulai kisah baru bersamamu.” Mino berucap dengan pelan. Tatapan matanya yang penuh harap itu menatap sendu ke arah Lysa. Merasa takut jika respon Lysa tak sesuai apa yang ia harapkan.


Selama beberapa saat Lysa terdiam. Kedua tangannya kini mendekap wajah Mino dengan hangat dan lembut.


“Aku ... juga sedang berusaha melupakannya, Ajeossi. Kita di posisi yang sama. Tidak ada alasan untuk kita saling menolak.”


Setelah memberikan jawaban demikian, Lysa segera memeluk tubuh Mino. Meyakinkan lelaki dengan cara memberikan sebuah pelukan yang hangat. Mino pun ikut larut dalam pelukan. Membalas pelukan Lysa dengan hangat. Menyungkurkan kepalanya di ceruk leher Lysa untuk mencari kenyamanan dan kehangatan.


**