Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Dasar pria kurang ajar!



“Kak Minho yakin ini tempatnya?”



Tubuh Yebin terpaku ketika matanya melihat orang-orang mengantre di depan sebuah bangunan klub malam. Orang-orang yang mayoritas dari golongan anak muda itu mengantre untuk masuk ke sebuah klub malam terkenal yang berdiri di Gangnam.



Yebin tidak yakin jika Minho benar-benar mengajaknya berkencan ke klub seselesainya mereka kencan di Menara Namsan. Bermain di klub malam memang menjadi hal lumrah untuk kalangan anak muda yang hidup di Seoul. Tetapi untuk Yebin yang tidak pernah menyentuh tempat-tempat semacam itu, merasa aneh ketika Minho mengajaknya ke klub malam untuk berkencan. Ia pun merasa tidak yakin apakah klub malam adalah tempat yang cocok untuk berkencan, bukannya mencari pacar.



“Kau tidak pernah ke klub malam?” tanya Minho.



“Pernah sekali aku masuk klub malam untuk merayakan ulang tahun seorang temanku.”



“Pastinya kau tahu, klub malam bukan tempat seperti yang kau bayangkan. Banyak orang datang untuk sekadar berseang-senang dan menari.”



Minho meyakinkan Yebin. Kemudian menuntun kedua bahu Yebin untuk ikut masuk ke dalam antrean panjang. Sayangnya hanya orang-orang berpenampilan menarik yang dapat masuk ke dalam klub. Beberapa pria yang mengantre di depan Yebin tidak diperpobehkan masuk oleh tiga bodyguard yang membuat Yebin dan Minho mendapat giliran lebih cepat. Minho yang sepertinya sudah terbiasa ke klub malam, terlihat mengenal ketiga bodyguard yang menyeleksi di depan pintu. Yebin yang datang bersama Minho langsung diperbolehkan masuk ke dalam bangunan klub malam.



Suara keras dari musik yang tidak Yebin kenali seketika itu menggelegar. Menyeruak di telinga Yebin yang berjalan canggung di sebelah Minho yang tampak gembira. Cahaya ruman warna-warni berputar-putar di atas kepala Yebin. Membuat bola matanya terasa silau. Dalam kerumunan orang yang meliuakkan tubuh untuk menari-nari di dalam klub, Yebin melihat seorang dj sedang memainkan musik di atas. Kemudian semua orang berteriak ketika terdengar suara tembakan dari musik yang dj itu mainkan.



Berisik sekali. Sepertinya telingaku mulai berdarah.



Dalam hati Yebin mengeluh berada di tempat yang sangat tidak nyaman ini. Sebelumnya ia memang pernah datang ke klub. Tetapi ketika itu klub tidak terlalu ramai dan Yebin hanya menghabiskan waktu di dalam ruangan bersama teman-temannya untuk merayakan ulang tahun.



“Bagaimana? Kau suka?”



Di samping telinga Yebin, Minho berteriak. Pria itu meninggikan nada suaranya untuk menyeimbangi suara musik yang menggelegar di dalam klub.



Yebin hanya tersenyum canggung menjawab pertanyaan Minho. Pandangan Yebin menyebar ke sekeliling. Mengamati seluruh orang dalam klub malam yang terlihat sedang bersenang-senang bersama seorang dj yang memainkan musik.



“Kemarilah,” kata Minho sambil mencengkeram kedua bahu Yebin. Membawa wanita itu duduk di depan meja bartender.



Sebenarnya Yebin merasa sangat tidak nyaman. Ia merasa risi melihat wanita-wanita berpakaian seksi menari-nari dengan gerakan sensual. Juga merasa risi ketika para lelaki di dalam klub menatapnya penuh goda. Padahal ia datang bersama Minho, kekasihnya. Tetapi para lelaki mata keranjang itu tidak memedulikan kalau Yebin sebenarnya sudah memiliki kekasih.



“Kau mau minum?” tawar Minho. Laki-laki itu berdiri di samping tempat duduk Yebin. Menggerakkan tubuh secara ringan mengikuti musik yang berputar.



Yebin menggeleng. “Aku sedang tidak ingin minum alkohol.”



“Begitukah?”



Minho tampak sedang berpikir melihat Yebin menolak tawaran minum. Setelah beberapa saat, pria itu menambahkan, “Tunggulah sebentar. Aku akan mengambilkan air putih atau soda untuk kau minum.”



Duduk di kursi bar itu, Yebin merasa mulai terbiasa dengan situasi ini. Ia merasa mulai dapat beradaptasi dengan suasana di dalam klub yang sangat ramai dan berisik. Beberapa pria melintas di depan Yebin dan menatapnya nakal. Yebin yang merasa tidak nyaman seketika itu mengalihkan pandangan. Ia melihat Minho yang berjalan dari kejauhan membawakan air mineral untuknya.



Setibanya di hadapan Yebin, Minho yang mendapati ekspresi wajah kekasihnya yang tidak nyaman, menceletuk, “Sepertinya kau tidak menyukai klub. Apa sebaiknya kita pulang saja?”



Otomatis kepala Yebin menggeleng. “Tidak. Kita pulang agak nanti saja.”



Yebin menjawab demikian karena merasa Minho masih ingin berada di klub sedikit lebih lama lagi. Pria itu terlihat begitu gembira saat datang ke klub dan melihat kemeriahan semacam ini. Yebin, yang sebenarnya ingin cepat pergi meninggalkan klub, memutuskan untuk menahan diri sebentar lagi dan membiarkan kekasihnya itu bersenang-senang. Sore tadi Minho sudah menuruti kemauan Yebin untuk berkencan ke Menara Namsan. Sekarang saatnya Yebin yang menuruti keinginan Minho untuk berada di klub malam. Lagi pula, Yebin merasa sudah terbiasa dengan suara-suara menggelegar di dalam klub dan tarian orang-orang yang di awal tadi mengganggunya.



“Minumlah. Kau pasti merasa haus,” kata Minho sembari menyerahkan satu botol air putih kepada Yebin. Senyum manis pria itu tersimpul dan membuat Yebin ikut tersenyum.



Sambil menikmati minuman dalam botol kaca di genggamannya, Minho mulai menari mengikuti irama musik yang diputar dj. Pria itu meliuk-liukkan tubuhnya di hadapan Yebin yang duduk di kursi. Membuat Yebin terkekeh-kekeh melihat kekasihnya menari mengelilinginya sambil menguntai senyum menggoda.



“Ternyata kau juga pintar menari, Kak. Tarianmu seperti itu terlihat bagus,” kata Yebin yang melihat Minho melakukan tarian ala boyband. Tubuh Minho yang tinggi ramping terlihat gemulai menarikan tarian perut dan kaki.



“Kau menyukainya?” sahut Minho sambil terus menunjukkan tariannya kepada Yebin yang terlihat suka. Wanita itu meletakkan botol air minumnya ke atas meja bar setelah meneguknya.



Kepala Yebin otomatis mengangguk. Itu membuat Minho semakin bersemangat dan menunjukkan tarian-tarian unik yang seketika membuat Yebin tertawa riang.



Di sela melihat gerakan tubuh Minho mengelilinya, tiba-tiba saja kepala Yebin berdenyut. Ia kontan memegangi kepalanya yang mulai terasa berat.



Sepertinya sering melembur di malam hari membawakan efek yang tidak baik untuk tubuh. Yebin yang akhir-akhir ini tidurnya terganggu karena mengurusi Biniemoon, merasa kepalanya sangat pening. Pandangannya mulai berkunang-kunang. Kelopak matanya terasa sangat berat dan membuat mata Yebin perlahan mulai meredup. Denyut di kepalanya semakin terasa dan membuat perut Yebin memual. Sementara wanita itu berusaha sekuat tenaga menahan kesadaran, Minho terus menari tanpa menyadari apa yang terjadi pada Yebin. Hingga perlahan kesadaran Yebin mulai hilang. Wanita itu mendaratkan kepalanya ke meja bar. Di sela kesadarannya yang makin menipis, ia mendengar suara keributan diiringin pukulan di tengah klub. Samar-samar telinga Yebin menangkap suara seorang laki-laki yang amat familiar.



Ajeossi...?


***


Yebin mengerjapkan matanya perlahan setelah reaksi bius dalam tubuhnya berhenti. Untung saja wanita itu hanya meminum satu tegukan air putih yang telah bercampur obat bius dari Minho.



Bola mata Yepin perlahan mengerjap-ngerjap. Kornea matanya mendapati cahaya redup berwarna kuning di atas kepala. Ia sedang berada di dalam mobil. Kepala Yebin yang memiring, mendapati keberadaan Yul di kursi pengemudi. Pria itu sedang duduk terdiam di dalam mobilnya yang terparkir di basement.



Denyutan di kepala menyerang Yebin ketika wanita itu baru terbangun. Ia seketika mengernyit dan mendesah sakit sambil memegangi kepalanya yang berdenyut-denyut.



“Kepalaku,” desah pelan Yebin yang seketika itu membuat Yul menoleh.



Pria yang memasang raut wajah misterius itu memandangi Yebin yang masih berusaha mengumpulkan kesadaran.



“Kau sudah bangun?” Yul bertanya dengan raut wajah yang tidak dapat ditebak. Menatap Yebin—entah itu tatapan dingin atau tatapan hangat—yang membingung setelah kesadarannya seratus persen kembali.



“Ajeossi, apa yang terjadi?” tanya Yebin spontan. Pandangannya berkeliling. Mendapati dirinya yang ada di dalam mobil Yul yang terparkir di basement bangunan klub.




Tanpa disadarinya suara Yul meninggi. Pria itu segera menarik napas panjang lalu mengembuskannya untuk menenangkan benak. Saat ini ia sedang emosional gara-gara Yebin yang nyaris menjadi korban Minho—bocah tengik yang memanfaatkan wanita untuk mendapatkan semua yang dimilikinya.



Yul berusaha menenangkan diri. Untung saja, Seyun—teman dekat Yul yang merupakan pemilik klub malam—menelepon Yul seketika tahu lelaki bernama Minho itu mengajak seorang wanita yang Yul kenal. Seyun yang sebelumnya pernah melihat Yebin ketika bermain di rumah baru Yul, mengerti bahwa wanita itu adalah tetangga depan rumah Yul yang dikenalnya dekat. Sebab itulah Seyun menelepon Yul begitu melihat Minho mengajak Yebin masuk ke klub.



Merasa emosinya itu telah terkendali, Yul kembali menoleh pada Yebin yang berusaha mencerna situasi. “Kau baik-baik saja? Kau sudah sepenuhnya sadar?”



Yebin diam terpatung dan tak mendengarkan pertanyaan khawatir Yul. Wanita itu larut dalam pemikirannya yang baru menyadari situasi apa yang terjadi ini.



“Dasar pria brengsek! Aku tadi sudah curiga saat dia bertanya akses masuk ke Biniemoon. Ternyata dia mengincar Biniemoon-ku.” Yebin menggumam-gumam tak jelas menyadari Minho yang hanya memanfaatkannya. Kemarahan mulai membakar kepala Yebin. Bahunya naik turun karena pernapasanya yang disesakkan amarah.



Tadi sore, ketika mereka berkencan di Menara Namsan, Minho sempat bertanya akses masuk ke Biniemoon kepada Yebin. Lelaki itu berkata ingin membantu Yebin mengelola Biniemoon agar Yebin memiliki lebih banyak waktu untuk bisa memikirkan kesehatan. Padahal yang laki-laki itu inginkan setelah mendapat akses masuk Biniemoon adalah mengambil semua hasil penjualan dan mengelabuhi Yebin dengan alasan-alasan konyolnya.



Yebin bukanlah gadis bodoh yang akan memberikan akses masuk Biniemoon kepada laki-laki yang baru berkencan dua minggu dengannya. Dengan tegas ia berkata bahwa dirinya sanggup mengelola Biniemoon sendirian tanpa perlu Minho bantu. Yebin pun menegaskan kalau untuk saat ini ia masih berniat mengelola Biniemoon dengan kedua tangannya sendiri tanpa perlu membentuk tim seperti yang Minho sarankan.



Ternyata laki-laki itu hanya mengincar Biniemoon. Ia memanfaatkan rasa ketertarikan Yebin untuk mendapatkan akses masuk Biniemoon dan mengambil semua hasil penjualan. Yebin yang benar-benar merasa tercengang, merasakan ada ledakan di kepalanya.



Cepat-cepat Yebin melepas sabuk pengaman yang melindungi tubuh. Ia hendak beranjak turun dan mencari Minho untuk memberinya pelajaran. Entah menendang kakinya atau menjambak rambutnya sampai gundul, Yebin merasa perlu meluapkan kemarahannya pada laki-laki itu.



“Berani-beraninya dia menyentuh Biniemoon-ku!” desus Yebin penuh amarah sambil berusaha membuka pintu mobil. Tetapi pintu mobil itu tidak bisa dibuka. Yul mengunci semua pintu mobil karena tahu Yebin akan bersikap seperti ini.



“Bukakan pintunya, Ajeossi! Aku perlu memberinya pelajaran. Cepat buka!” Yebin berteriak sambil berusaha sekuat tenaga untuk membuka pintu mobil. Ia benar-benar terdesak. Teriakannya terdengar seperti rintihan putus asa di telinga Yul. “Dia tidak tahu bertapa keras aku berusaha menyelamatkan Biniemoon. Seberapa besar usahaku untuk melindungi Biniemoon yang nyaris tidak selamat. Dia tidak tahu berapa jam aku tidur dalam sehari untuk membuat Biniemoon-ku tetap hidup. Berani-beraninya dia membiusku untuk mendapat akses masuk dari tablet yang selalu kubawa? Cepat buka, Ajeossi! Aku harus segera turun.”



Di sela ledakan amarah itu air mata Yebin turun membasahi pipi. Bersama teriakan putus asanya kepada Yul, Yebin menangis. Ia menangisi Biniemoon alih-alih menangisi perasaan cintanya yang hancur.



Yul mengerti bagaimana perasaan Yebin. Sementara Yebin terus berteriak kepadanya untuk membukakan pintu, Yul menarik tangan wanita itu. Merengkuh tubuhnya. Membawa Yebin dalam dekapannya yang hangat. Membuat kemarahan yang membuncah di dada Yebin perlahan-lahan mereda.



Kepala Yul menyungkur di belakang kepala Yebin. Tangannya yang kekar mendekap kedua bahu Yebin dan mengelus punggungnya. Yebin yang awalnya memberontak, pelan-pelan menenang. Api kemarahan yang membakar kepalanya meredam. Ia merasakan kehangatan tubuh Yul yang memeluknya. Membuat tangisan tak tertahankan itu meluap di pelukan Yul. Yebin menangis tersedu bersama kehangatan tubuh Yul yang mendekap seluruh sel dalam benaknya.



Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Yebin menangis. Wanita yang bahkan tidak menangis ketika menghadiri pemakaman temannya itu menangis tersedu di pelukan Yul setelah sekian lama. Jika mengingat beberapa tahun ke belakang, terakhir kali Yebin menangis adalah ketika ia berumur enam belas tahun, ketika ayahnya meninggal dunia karena serangan jantung. Itu adalah terakhir kali Yebin menangis. Setelahnya, Yebin selalu menahan tangisan di dalam dada karena tak ingin membuat ibunya sedih. Yebin yang tumbuh tanpa ayah sejak usia enam belas tahun, memutuskan untuk tidak pernah menangis. Itu adalah satu-satunya cara Yebin melindungi ibu, satu-satunya orang yang dimilikinya. Yebin tidak boleh menangis. Agar ibu tak ikut menangis melihat Yebin sedih. Sejak saat itu Yebin tak pernah menangis dan hanya memendam kesedihan di dalam dada.



Seolah sedang meluapkan kesedihannya selama beberapa tahun terakhir, Yebin menangis di pelukan Yul. Membuat kemeja Yul bagian depan basah karena tangisnya. Membuat Yul tak memiliki pilihan selain mempererat pelukannya pada tubuh mungil wanita berkepala batu itu.



Beberapa waktu Yebin menangis di pelukan Yul. Hingga sesaat kemudian tangisan Yebin mereda. Ia melepaskan pelukan Yul. Menjauh dari tubuh hangat pria itu.



Yul mengambil sapu tangan dari saku kemeja. Hendak menyeka air mata di wajah Yebin sebelum wanita itu menyahut, “Aku bisa melakukannya sendiri.”



Yebin pun menyeka wajahnya menggunakan sapu tangan Yul. Membersihkan sisa-sisa air mata di pipi dan mengeluarkan ingus yang menyumbat hidungnya setelah menangis.



“Dengarkan nasihat orang dewasa sesekali saja. Jangan hanya percaya pada apa yang kau anggap betul.” Yul berucap tegas selagi Yebin masih menundukkan kepala menyeka air mata. Pria itu menasihati Yebin yang nyaris berada dalam kekacauan karena keras kepalanya yang tidak dapat ditolerir.



“Aku selalu heran kenapa ibumu memanggilmu gadis bandel. Ternyata kau itu benar-benar bandel,” lanjut Yul merutuk.



Selesai menyeka air mata, Yebin memasukkan sapu tangan Yul ke dalam tas. Ia menoleh pada Yul yang menatapnya khawatir.



“Kenapa Ajeossi datang? Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak ikut campur urusanku.”



“Aku juga ingin seperti itu. Tapi aku tidak bisa membiarkan seseorang yang kukenal baik terluka oleh laki-laki yang sama,” tegas Yul. Ia memang berniat untuk tidak peduli pada apa yang Yebin lakukan. Kenyataannya Yul tidak bisa melakukan hal itu. Ia tidak bisa berhenti mengkhawatirkan Yebin sekalipun wanita itu memperingatkannya dengan ketus.


Di kursi penumpang Yebin hanya diam. Sorot matanya yang sendu itu pertama kali dilihat Yul. Selain pandangan sinis dan memelas, Yul tidak pernah melihat sorot mata Yebin sesendu itu.



“Aku sudah memberi lelaki itu pelajaran. Jika dia muncul lagi di hadapanmu....”



“Tidak,” sela Yebin. Tatapannya kembali membara mengingat kelakukan Minho. “Aku sendiri yang akan mencolok matanya jika lelaki brengsek itu muncul. Dasar menyedihkan! Awas saja kalau dia menampakkan diri di depanku, aku sungguh akan menghabisinya.”



Yul terkekeh-kekeh melihat Yebin yang seolah-olah akan merebus Minho dan menjadikan lelaki itu sup buaya. Mendengar Yebin yang mencerocos, Yul pun sadar. Sepertinya Yebin sudah tidak bersedih lagi. Kesedihan yang tadi diluapkannya melalui tangisan telah pergi melihat bagaimana semangat Yebin berkobar-kobar. Semengat untuk memberi Minho pelajaran jika keduanya dipertemukan lagi.



Selesai terkekeh, Yul menyalakan mobil. Mulai melajukan mobil itu pergi meninggalkan basement.



“Kita akan ke mana, Ajeossi?” tanya Yebin.



“Makan malam. Aku mendengar suara paralon air dari perutmu.”



Sontak Yebin menurunkan pandangan dan mengelus perut. Wajahnya memalu menyadari Yul yang mendengar suara-suara aneh dari perutnya yang kelaparan.



“Astaga. Lelaki itu bahkan tidak memberimu makan. Apa yang kau dapatkan dengan berkencan dengannya?” gumam Yul yang terengar seperti desahan napas panjang.



“Sudahlah! Jangan membahas lelaki itu. Membuatku tak nafsu makan.”



Yebin meruruki Yul yang membahas Minho. Sungguh. Mendengar nama Minho saja membuat Yebin merasa muak. Sampai satu jam lalu ia masih mencintai Minho. Tapi perasaan itu hilang dalam sekejap mata begitu Yebin bangun dari pengaruh bius. Kini hanya perasaan benci dan muak yang Yebin rasakan terhadap lelaki yang dipanggilnya kak itu.



Cinta dan benci benar-benar terbatasi dinding kaca yang sangat tipis dan rentan. Yebin pikir istilah seperti itu hanya candaan. Namun, ia menyadari kini bahwa istilah cinta yang mudah menjadi benci dan sebaliknya itu memanglah benar. Dalam sekejap rasa cinta Yebin berubah menjadi benci yang benar-benar memuakkan.


***