Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Persiapan sebelum bermain



Bab 24


Persiapan sebelum ‘bermain’


“Ajeossi, aku belum siap!”


Lysa yang tiba tiba menceletuk itu membuat tubuh Mino tersentak kaget. Ia sontak menolehkan tubuhnya pada Lysa. Melihat wajah panik Lysa dan kedua pipinya yang memerah.


“Apa ... apanya yang belum siap?” Mino mendesus pelan karena begitu bingung apa yang Lysa belum siap dengan tiba tiba itu. Kening Mino mengernyit bingung dan ia menanti jawaban dari Lysa yang tampak kebingungan menjelaskan.


“Ya itu .... Ber ’main’ ke apartemenmu, aku be—belum siap.”


Dengan gugup Lysa menjelaskan hal itu. Wajahnya masih merona merah dan gadis itu tampak begitu menggemaskan. Seketika itu juga Mino menyadari apa yang ada di pikiran Lysa tentang ‘bermain’ di apartemennya itu.


Rasanya ingin sekali Mino tertawa karena tingkah menggemaskan Lysa dan pemikiran tidak terduganya. Namun jika Mino tertawa dengan lugas, itu pastinya akan membuat Lysa malu dan tidak nyaman. Sehingga lelaki itu hanya menyembunyikan rasa ingin tertawanya di balik senyuman manis yang ditujukannya kepada Lysa.


Kepala Mino memiring. Tubuhnya menyerong kepada Lysa yang kedua pipinya masih tampak memerah karena menahan sebuah gelora yang muncul dalam otaknya.


“Hm... Sepertiinya kau salah paham. Maksudku bermain itu, bermain dengan kucingku, Mocky ...  dan melakukan beberapa aktivitas di dalam apartemen. Memasak, makan bersama, nonton film, atau melakukan apa yang ingin kau lakukan. Di dalam apartemenku ada banyak hal yang bisa kau pakai.” Mino pun menjelaskan apa arti kata ‘bermain’ yang disalah pahami Lysa sampai membuatnya merona seperti itu.


Lysa yang mendengarkan penjelasan itu tampak terkejut. Dasar, otak mesum! Gadis itu merutuki dirinya sendiri yang telah memikirkan hal hal mesum bersama Mino hanya karena satu ungkapan yang ditangkapnya dengan ambigu.


Mengerti hal itu, wajah Lysa langung memalu. Gadis itu berdeham deham pelan untuk menutupi rasa malu yang ia rasakan di hadapan Mino.


“Ehm, ehhemm.”


Sambil sesekali melirik ke arah Mino, Lysa berkata, “Aku tahu, Ajeossi. Te—tetap saja, aku belum siap untuk bermain ke apartemen laki laki.”


Mino justru tersenyum semakin lebar mendengar elakan Lysa yang berfungsi untuk menutupi rasa malu itu. Kesempatan ini, adalah kesempatan untuk Mino bisa menggoda Lysa.


Laki laki itu menyenggol pekan lengan Lysa. Menatapnya dengan gemas dan bergumam, “Hayoo ... tadi apa yang kau pikirkan? Apa yang kau pikirkan tentang ‘bermain’ sampai sampai wajahmu memerah seperti itu?”


“Tidak kok!” Lysa langsung menceletuk dengan guugp menanggapi kalimat godaan Mino. Reaksinya kelabakan dan Lysa sedang mencari sesuatu untuk dijadikan alasan.


Gadis itu pun mengangkat botol air minum yang ia bawa lalu menceletuk, “Wajahku memerah karena ini, Ajeossi. Karena aku meminum air dingin di udara pagi yang masih dingin ini. Jadinya wajahku memerah karena kedinginan.”


Mendengar celotehan Lysa yang tidak masuk akal itu, Mino hanya mengernyitkan kedua alisnya sambil mengangguk anggukkan kepala. Tetapi bibirnya melengkung ke bawah dan membentuk sebuah senyum cibiran. Lelaki itu sama sekali tidak memercayai celotehan Lysa yang sungguh konyol. Ini bukan musim dingin yang bisa membuat kulit siapa saja memerah dan membiru. Tetapi ini adalah awal musim panas yang udaranya sangat hangat dan sejuk. Jadi mana mungkin wakah Lysa memerah karena udara yang seperti ini?


Mendapati raut wajah Mino yang tak memercayai perkataannya, Lysa kembali membela diri dengan menomel ngomel.


“Aku sungguhan, Ajeossi. Ajeossi tidak tahu kan kalau udara pagi di sini itu sangat dingin? Dan juga, aku menunggu Ajeossi selama setengah jam dan tentunya wajahku terasa sangat dingin ditambah air minum yang kubawa.” Begitu Lysa kembali berarguman untuk menghilangkan rasa malunya yang masih tersisa. Tidak hanya tersisa, tetapi rasa malunya akibat pikiran pikiran vulgarnya itu bahkan belum hilang setitik pun.


“Ahh ... begitu rupanya. Meski aku tidak yakin kalau ucapanmu itu benar, paling tidak aku harus menghargai usahamu membela diri,” balas Mino yang membuat Lysa semakin kesal.


“Tidak, Ajeossi! Aku sungguh sungguh.”


‘Tiri ring tiri ring ~ tiri ring tiring’


Suara dering telepon rupanya yang menyelamatkan Lysa dari situasi yang sungguh memalukan ini. Telepon Lysa berdering. Dan gadis itu buru buru mengangkat telepon yang masuk tanpa melihat terlebih dahulu siapa orang yang meneleponnya—yang menjadi penyelamat Lysa di tengah rasa malu yang tidak terbendung.


“Halo,” sahut Lysa begitu teleponnya tersambung. “Ini dengan siapa ya?”


Sementara Lysa masih bercakap dengan seseorang di seberang telepon yang kelihatannya juga tidak gadis itu kenali, Mino memperhatikan sekeliling. Pandangannya menyebar pada keadaan di sekitarnya, yang masih sangat sepi.


“Ahh ... iya iya.”


Begitu terdengar desahan panjang Lysa, Mino menoleh. Lelaki itu mengamati raut wajah Lysa yang terlihat tidak begitu senang meski mulutnya berucap ‘iya iya’.


“Ada apa ya? Bertemu ... denganku? Untuk urusan apa? Baiklah.”


Tidak lama kemudian sambungan telepon itu berakhir. Lysa memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas bahu sambil mendengus panjang. Terlihat tidak begitu senang dengan apa yang baru saja ia dengar.


“Siapa? Kelihatannya kau tidak senang.” Mino pun langsung bertanya karena menyadari raut wajah Lysa yang tampak berubah.


Keduanya telah tiba di taman kecil samping gedung apartemen Mino. Ketika sampai di sana, langkah Lysa pun berhenti. Ia langsung menghadapkan tubuhnya pada Mino yang bertanya dengan penasaran.


“Ajeossi ... aku harus bagaimana?” tanya Lysa bingung.


Kening Mino mengernyit semakin dalam. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud Lysa dengan meminta saran harus bagaimana di saat Mino tidak tahu apa yang terjadi padanya.


“Apa?” lanjut Mino menanyai.


Ketika mendengar pertanyaan itu, napas Lysa berembus panjang. Ia menjatuhkan pandangannya ke atas tanah. Lalu merenung dalam dalam. Mempertimbangkan, haruskah ia menceritakannya pada Mino lalu meminta saran. Jika begitu, sedikit canggung untuk Lysa. Tapi ia rasa bercerita lebih baik daripada membuat mino penasaran.


“Ajeossi ... sebenarnya Sam, maksudku, Brian sebenarnya akan menikah. Lebih tepatnya, ia didesak untuk menikah oleh orang tuanya, dengan wanita yang dipilihkan orang tuanya.”


“Jadi begini ... hm....”


Melihat Lysa yang tampak ragu ragu menceritakan hal itu, Mino pun menyela, “Kenapa dengan mereka berdua? Apa ada masalah yang membuatmu merasa terbebani?”


Kepala Lysa menggeleng geleng. Lalu ia mengangkat kepalanya. Menatap Mino yakin.


“Sebenarnya Brian tidak ingin menikah dengan wanita itu. Berkali kali Brian mengatakan padaku kalau dia tidak ingin menikah dan ingin fokus pada pekerjaannya. Tapi orang tuanya dan wanita itu terus saja mendesak. Aku tidak tahu harus bagaimana. Dan tadi yang meneleponku itu adalah wanita calon tunangan Brian. Dia ingin bertemu denganku... untuk membicarakan sesuatu, katanya.”


Lysa lalu menghembuskan napas panjang panjang karena tidak tahu harus berbuat apa. Dalam hati ia merasa terbebani. Wanita yang baru pertama kali Lysa lihat di restoran secara sekilas itu, mengajaknya bertemu untuk membicarakan sesuatu. Sudah pasti sesuatu itu adalah tentang Brian. Lysa tidak enak hati.


Di sisi lain, Mino yang juga tampak terkejut mendengar kata kata Lysa itu hanya diam untuk mencerna selama sesaat.


“Jadi, maksudmu ... wanita calon tunangan Brian itu ingin mengajakmu bertemu? Kalian saling kenal?” tanya Mino.


Lysa menggelengkan kepala. “Tidak. Kami sama sekali tidak saling kenal. Aku bahkan tidak tahu dari mana dia bisa mendapatkan nomor teleponku. Aku hanya pernah sekali melihatnya, dan itu hanya sekilas, saat Brian mengajakku untuk makan malam bersama keluarganya dan ternyata wanita itu juga ada di sana.”


Mino mengangguk anggukkan kepala. Mengerti apa maksud Lysa.


Sambil lanjut berjalan menuju salah satu alat permainan di taman kecil itu, Mino menggumam gumam, “Sepertinya kau dengan Brian itu sangat dekat ya? Sampai sampai lelak itu menceritakan perasaannya padamu. Kau berbohong. Kukira perasaanmu pada lelaki itu bertepuk sebelah tangan dan sudah berakhir, ah... ternyata tidak.”


Kalimat terakhir Mino menunjukkan rasa getir di hatinya. Ia pikir hubungan Lysa dengan Brian itu benar benar berakhir. Tapi kenyataannya, Lysa dengan lelaki itu sangat dekat sampai sampai membuat Mino merasa tidak senang. Ya, tentu saja Mino tidak senang. Karena perasaannya pada Jiwon sudah jelas berakhir dan kini mulai memudar sejak kemunculan Lysa. Dan ia pikir, perasaan Lysa terhadap lelaki itu juga mulai memudar, tapi kelihatannya tidak, batin Mino.


Mendengar Mino menceletuk dengan wajah yang murung itu, Lysa segera menyusul langkahnya. Mengikuti Mino duduk di ayunan taman.


“Tidak begitu, Ajeossi. Perasaanku sudah berakhir, aku serius. Sejak aku tahu kalau Brian denganku hanya bisa menjadi saudara, aku sudah memutuskan untuk berhenti menganggapnya siapa siapa. Sekarang aku hanya berpikir bahwa Brian adalah saudaraku, karena begitulah dia menganggapku. Dia menganggapku adik perempuannya, dan aku menganggapnya seperti kakak laki lakiku. Jadi begitulah hubungan kami saat ini.” Lysa berusaha menjelaskan. Dan sepeti itulah kejujuranya. Saat ini ia merasa tidak memiliki hubungan apa apa dengan Brian kecuali hubungan saudara seperti yang sebelumnya mereka jalin. Brian dari dulu menganggap Lysa hanya sebagai adik perempuannya, dan sekarang pun Lysa menganggap brian hanya sebagai kakak laki lakinya, tidak lebih.


Mino terlihat sedikit memercayai penjelasan Lysa. ‘Hubungan adik-kakak’ sepertinya masuk akal. kalau diingat ingat seberapa jauh mereka kenal dan apa yang terjadi pada keluarga mereka berdua, itu juga masuk akal.


“Juga, sebenarnya....”


Lysa kembali melanjutkan ceritanya yang belum selesai. Suaranya yang terdengar ragu ragu itu membuat kepala Brian menoleh. Lelaki itu menatap Lysa yang perlahan menundukkan kepala karena malu.


“... Sejak aku kenal Ajeossi, aku semakin sadar, bahwa Brian memang untuk kujadikan seperti kakak laki laki. Perbedaannya jelas sekali. Bagaimana Ajeossi memperlakukanku sebagai wanita dan bagaimana Brian selama ini memperlakukanku seperti anak kecil. Aku merasakan perbedaan yang sangat mencolok. Hingga akhirnya aku sadar. Bahwa kami memang terlahir untuk menjadi saudara satu sama lain, bukan untuk bersatu.” Lysa mengimbuhkan. Ia tak memiliki keberanian menatap wajah Mino secara legas ketika mengakui itu semua.


Perlahan lahan bibir Mino membentuk sebuah lekukan. Lelaki itu tersenyum hangat menatap Lysa yang malu malu kucing itu. Sangat menggemaskan. Gadis itu sungguh membuat Mino merasa sangat gemas, seperti ketika ia bermain dengan Mocky. Sangat gemas sampai sampai timbul keinginan Mino untuk menerkam dan memeluknya sampai Lysa tidak bisa berbuat apa apa lagi dalam pelukannya.


“Kalau begitu ... apa kau sudah siap untuk bermain ke apartemenku?” canda Mino setelah mendengar penjelasan panjang Lysa.


Lysa yang menundukkan kepala seketika itu membelalak. Perlahan lahan kepalanya menaik. Bola matanya yang membulat seperti mata kucing itu menatap Mino yang tersenyum misterius. Laki laki itu sedang menggoda Lysa.


“Ajeossi! Kau tidak boleh bercanda dengan hal itu,” rutuk Lysa menahan rasa malu karena wajahnya yang seketika bersemu merah. Tetapi Mino justru menanggapi dengan menaikkan kedua alis tinggi tinggi sambil memasang wajah lugu dan tidak berdosa.


“Ahh, tidak tau ah!”


Seketika itu juga Lysa berdiri dari duduk. Ia menatap Mino kesal lalu berjalan pergi meninggalkannya.


“Kau mau ke mana? bukannya kita mau olah raga?” celetuk Mino melihat Lysa berlalu pergi.


“Pulang! Sepertinya Ajeossi sedang tidak waras, aku mau pulang saja.” Lysa mencetus sambil berlalu pergi, tanpe menoleh ke belakang.


“Begitu saja?”


Mino yang melihat Lysa berjalan semakin menjauh pun ikut berdiri dari duduk. Lelaki itu menyusul langkah cepat Lysa. Sepertinya Lysa benar benar sedang ngambek. Langkahnya kakinya yang pendek itu tidak pernah secepat ini biasanya.


“Tunggu! Kubilang, tunggu.”


Karena langkah kaki Lysa semakin cepat, Mino mau tidak mau harus berlari menyusul Lysa. Mino pun langsung menarik tangan Lysa begitu sampai di belakangnya. Membuat tubuh Lysa seketika berbalik dan kemudian langsung membawa tubuh sang gadis dalam dekapannya.


Lysa seketika tersentak. Tubuhnya menabrak tubuh bagian depan Mino dan wajahnya berada tepat di depan dada bidang lelaki itu. Kedua tangan Mino mendekap tubuh Lysa dengan erat, dan hangat.


“Jangan ke mana mana dulu. Aku masih ingin bersamamu.”


Sembari mendekap Lysa dalam pelukan, Mino menggumamkan kalimat itu dengan lirih di dekat telinga Lysa. Sungguh. Lelaki itu sangat merindukan Lysa. Sangat sangat merindukan Lysa sampai sampai semalam ia bermimpi tentang gadis itu. Mimpi yang begitu indah, sampai sampai ia hampir lupa caranya untuk terbangun.


Keduanya memang hampir setiap hari bertemu. Di kafe atau di mana pun, mereka selalu menyemparkan untuk melihat satu sama lain meski hanya sekilas. Namun, tentu saja itu tidak cukup. Mino merasa sangat merindukan Lysa dan ingin lebih lama bersamanya hari ini.


“Aku ingin bertanya sekali lagi. Apa kau sungguh tidak ingin bermain ke apartemenku?”


**