Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Pesaing terbesar dalam hidup Mino



Bab 40


Pesaing terbesar dalam hidup Mino


Kesedihan Lysa yang terpendam cukup lama itu akhirnya terluapkan melalui tangisnya hari ini. Lysa tidak pernah memiliki kesempatan untuk menangis. Dan ia tidak pernah membuat kesempatan menangis untuk dirinya sendiri. Pikirnya, ia tidak perlu menangis karena itu akan mebuatnya tetap baik baik saja. Namun, seiring berjalannya waktu Lysa menyadari bahwa semakin ia mencoba untuk baik baik saja dengan tidak menangis, semakin tidak baik baik saja dirinya. Dan itu sangat menyiksanya selama ini. dan setelah sekian waktu berlalu sejak masalah itu datang menghampiri Lysa dan mengubah kehidupannya dengan drastis, akhirnya Lysa dapat meluapkannya melalui tangisan.


Di depan ayahnya Lysa tidak ingin menunjukkan tangisnya. Ia tahu, apa yang dialami ayahnya berkali lipat lebih parah dari yang Lysa rasakan. Ayah Lysa sudah cukup berada di ambang kehancuran akibat keluarga yang ia bangun hancur setelah puluhan tahun berlalu. Dan bisnis yang ia bangun pun bangkrut karena suatu kesalahan yang ia lakukan. Sehingga di hadapan sang ayah Lysa tidak pernah nghin menunjukkan kelemahannya. Di depan sang ayah Lysa tidak pernah menangis dan tidak pernah menunjukkan kalau ia lemah. Dan di hadapan Brian, Lysa tidak ingin terlihat seperti anak kecil jika ia menangis. Sehingga Lysa tidak pernah menangis di hadapan Brian tidak peduli betapa hancur perasaannya pada saat itu. Namun kini ada satu orang laki laki yang bersedia meminjamkan dadanya sebagai tempat untuk Lysa menangis dengan begitu pilu. Dan setelah sekian lama itu pula, Lysa memiliki kesempatan untuk meluapkan semua emosi yang ia rasakan selama hampir satu tahun terakhir ini.


Hanya di pelukan Mino Lysa dapat menangis. Dan hanya laki laki itu yang bersedia meminjamkan tubuhnya sebagai tempat untuk Lysa melepaskan semua sedih dan rasa hancurnya.


Dalam waktu lama Lysa menangis di pelukan Mino. Sampai kemeja yang Mino pakai basah karena air mata Lysa dan juga make up nya yang luntur karena tangisan. Dan setelah beberapa waktu itu berlalu, Mino mengajak Lysa kembali ke mobil yang disewanya selama di Yogyakarta untuk menenangkan diri. Dan sekarang Lysa yang napasnya masih tersenggal senggal karena tangisan itu, sedang duduk di kursi samping pengemudi.


Tidak lebih dari sepuluh menit Mino keluar dari  mobil setelah mengantarkan Lysa masuk. Laki laki itu pergi ke supermarket untuk membeli tisu dan juga air minum untuk Lysa, juga mampir sebentar ke sebuah toko baju untuk membeli baju sebagai pengganti pakaiannya yang basah dan kotor karena air mata Lysa.


Setelah berganti pakaian, Mino kembali ke mobil sambil membawa satu kantung plastik kecil berisi air minum dan tisu. Ia masuk ke dalam mobil dan menapati Lysa yang napasnya masih tersenggal senggal.


“Ini, minumlah.” Mino mengulurkan air minum yang baru saja ia buka kepada Lysa. Supaya gadis itu merasa lebih tenang dan rileks.


“Terima kasih, Chagi.”


Lysa menerima uluran air minum itu dan meneguknya perlahan melalui sedotan yang ada di dalamnya. Lalu menurunkannya di atas pangkuan. Menyadari suatu hal, Lysa langsung menoleh pada Mino dan menatapnya penuh rasa bersalah.


“Aduh, bagaimana? Aku pasti sudah mengotori bajumu ya,” gumam lirih Lysa sambil menatap Mino dengan pandangan memelas.


Melihat itu, Mino terkekeh kekeh. “Tidak apa apa. Toh bajuku memang sudah kotor,” ucap Mino sambil membuka sebuah tisu yang ia beli. Ia menarik beberapa lembar tisu, lalu mengulurkannya kepada Lysa untuk menyeka wajah Lysa dari sisa sisa air mata. Setelah Mino menyeka wajah Lysa dari air mata, laki laki itu lantas menyeka hidung Lysa yang tersumbat oleh ingus karena menangis.


“Keluarkan ingusmu,” perintah Mino sambil menempatkan tisu tebal itu tepat di hidung Lysa untuk menyeka ingusnya.


Sruuuuuuttt!


Sesuai perintah laki laki itu, Lysa pun mengeluarkan semua ingus yang mengumbat hidungnya. Di depan Mino, saat ini Lysa terlihat seperti seorang gadis TK yang suka menangis dan tidak bisa menyeka ingus dengan benar sehingga mau tidak mau Mino yang melakukannya. Namun, setelah mengeluarkan semua ingusnya, pernapasan Lysa terasa lebih lega. Hidungnya tak lagi tersumbat dan ia mulai bisa bernapas dengan benar tanpa tersenggal senggal seperti sebelumnya.


Menyadari dirinya yang bertingkan seperti anak kecil, Lysa menundukkan kepala untuk meminum kembali minuman dingin yang Mino belikan. Lalu menggumam gumam.


“Hah.... Aku tidak menyaka akan seperti ini di hadapan seorang laki laki. Aku hanya merasa sangat malu. Tidak bisa menyeka air mata sendiri, bahkan tidak bisa menyeka ingusku sendiri. Benar benar memalukan,” gumam Lysa tidak jelas seperti sedang mengeluh tentang dirinya kepada Mino yang saat ini merawatnya.


“Kenapa kau malu sekali? Inilah yang dilakukan pasangan, Lysa. Kita tidak bisa selalu terlihat sempurna di hadapan pasangan. Justru, pasangan itu harus bisa melihat kekurangan satu sama lain. Kau tidak perlu malu karena menunjukkan sisi lemah dan sisi kekenakanmu padaku. Karena aku juga akan seperti itu, aku tidak akan malu menunjukkan sisi lemah dan sisi kekanakanku di hadapanmu. Itulah yang dilakukan semua pasangan. Dan itu yang membuat seseorang bisa benar benar merasa di terima oleh kekasihnya.” Mino menjelaskan sambil membungkus plastik tempat sampah. Lalu ia mengusap tangannya dengan tisu basah dan mulai membuka minuman dinginnya seperti Lysa.


“Ahh, benarkah?” Lysa yang tidak pernah tahu hal itu, menanggapi. Untuk Lysa yang belum pernah menjalin hubungan dengan seorang laki laki dengan serius seperti ini, apa yang dilakukannya tadi masih terasa canggung dan aneh. Meski pada kenyataannya itu bukanlah hal yang aneh karena semua pasangan melakukannya.


Apa pun yang terjadi, Lysa merasa lebih baik saat ini. hatinya terasa lega. Selah olah beban terbesar yang ia rasakan saat ini telah terangkat dan hidupnya terasa lebih ringan karena hal itu.


Lysa mengembuskan napas panjang panjang karena merasa lebih lega dari sebelumnya. Lalu ia menatap Mino yang sedang meminum minuman dingin tersebut.


“Rasanya aku seperti baru melepaskan satu tali yang mencekik leherku selama ini. Selama ini aku merasa takut karena ibuku yang melakukan perselingkuhan. Aku takut memulai hubungan, dan banyak berpikir sebelum akhirnya aku memutuskan untuk menjalin hubungan dengan laki laki. Aku merasa takut dan khawatir, hal yang sama akan terjadi padaku untuk kedua kalinya. Aku takut mendapatkan penghianatan, dan takut jika aku yang melakukan penghianatan. Apa yang ibuku lakukan terasa sangat membekas untukku dan membawa ketakutan yang sangat besar untukku. Aku melewati banyak masa masa sulit dan banyak berpikir sebelum akhirnya keberanianku terkumpul untuk mencintai seorang lelaki dengan benar.” Lysa muai bercerita kepada Mino yang duduk di sebelahnya. dan begitu mendengar cerita itu, Mino yang merasa memahami posisi Lysa pun mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan gadis itu.


“Kau tidak usah khawatir. Sekarang aku sudah tahu apa yang kau alami dan apa ketakutan terbesarmu selama ini. Dan kita bisa sama sama saling menjaga supaya apa yang kau takutkan itu tidak terjadi. Seperti kata ibumu tadi, Kim Lysa mewarisi sifat ayahnya dan sangat mirip dengan ayahnya. Dan aku ... ketakutan terbesarku adalah ditinggalkan, karena aku juga memiliki pengalaman buruk ditinggalkan oleh seorang wanita yang saat itu sangat aku cintai. Jadi, buat apa aku meninggalkan seorang wanita yang tidak akan meninggalkanku? Aku sudah sangat lelah dengan hubungan semacam itu. Sekarang aku ingin bahagia. Aku ingin hidup dengan tenang dan bahagia bersama satu satunya wanita yang aku cintai. Selama kita masih berada di jalur yang sama, baik ketakutanmu atau pun ketakutanku itu tidak akan terjadi. Itu yang harus kita percaya.” Mino berucap panjang lebar kepada Lysa yang terlihat mulai tenang meski pandangan gadis itu masih sangat sayu.


Apa yang dikatakan Mino itu sangat logis dan rasional. Tentunya itu lebih terdengar dapat dipercaya dari pada sejuta kata kata gombal yang tidak berbobot dan hanya terdengar seperti omong kosong. Lysa yang kesadarannya telah kembali dan akal sehatnya telah kembali berfungsi normal itu merasa setuju dengan apa yang Mino ucapkan. Bagaimana pun, keberhasilan sebuah hubungan itu tidak bergantung pada salah satu pihak saja, tetapi perlu usaha dari kedua belah pihak. Dan Lysa tidak tahu bagaimana sebenarnya rumah tangga ibu dan ayahnya dulu sampai akhirnya semua ini terjadi. Dari luar, semuanya terlihat baik baik saja dan ibunya terlihat menyayangi ayah. tapi bagaimana keadaan yang sebenarnya di dalam, Lysa tidak pernah tahu karena ia tidak pernah ikut campur masalah ibu dan juga ayahnya. Yang past, apa pun yang terjadi di antara mereka, Lysa akan belajar untuk bisa berklaborasi dengan baik bersama Mino. Untungnya Mino lebih berpengalaman dalam hubungan seperti itu meski pada akhirnya kisah cintanya tidak berhasil karena berawal dari pertetangan orang tua. Namun, Mino tahu lebih banyak dan akan mengajarkan Lysa selangkah demi selangkah sampai keduanya benar benar bisa bersatu.


Perlahan lahan senyuman Lysa terukir. Ia merasa jauh lebih baik karena Mino ada di sampingnya. Namun waktu terus berjalan dan Lysa menyadari sekarang sudah pukul setengah empat sore. Dan Mino harus segera bersiap siap untuk penerbangannya nanti pukul enam sore.


“Kita harus segera kembali ke hotel. Tapi aku tidak bisa berpamitan dengan ibu di dalam. Aku harus bagaimana?” ucap Lysa.


Mino pun menganggukkan kepala dan bergumam, “Tidak apa apa. Kau tunggu saja di sini biar aku yang masuk untuk berpamitan.”


“Tidak apa apa kah jika seperti itu?”


“Tidak apa apa. Yang penting kau sudah bertemu dengan ibumu. Biar aku saja yang berpamitan,” ucap Mino dengan yakin.


Mino sedang bersiap siap dan hendak turun dari mobil untuk kembali masuk ke rumah sakit dan berpamitan dengan ibu Lysa dan juga ayah tirinya. Namun belum sempat Mino keluar dari mobil dan baru saja membuka pintunya, Lysa menarik tangan Mino dan membuat Mino kembali menoleh ke belakang.


“Kenapa?” tanya Mino melihat Lysa yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu.


“Cha... chagi... aku ada pesan untuk ibuku. Bisakah Chagi menyampaikan pesanku pada ibu?” tanya Lysa dengan wajah ragu ragu.


“Tidak tidak. Aku tidak bisa bertemu ibuku lagi. Tadi sudah cukup aku mendengarkan dia bericara. Aku tidak ingin bertemu dengannya lagi dan kembali teringat hal itu.” Lysa dengan begitu yakin berkata kalau dirinya tidak ingin bertemu dengan ibunya lagi.


Mino yang paham apa maksud Lysa pun menganggukkan kepala. “Kalau begitu apa pesan yang ingin kau sampaikan pada ibumu?” tanya Mino.


“Itu ....”


**


“Bagaimana keadaan Lysa? Apa dia baik baik saja?”


Beberapa detik setelah Han Mino masuk ruang rawat ibu Kim dan berhadapan dengannya dan juga suami mudanya, ibu kim bertanya demikian. Ibu itu terlihat begitu mengkhawatirkan Lysa dan menanyakannya pada Mino dengan raut wajah yang menunjukkan kekhawatiran seornag ibu terhadap putrinya.


“Lysa baik baik saja. Hanya saja dia tidak bisa masuk untuk berpamitan pada Anda.” Mino berucap. Laki laki itu duduk di atas kursi bundar yang terletak di sebelah ranjang sang ibu.


Terdengar embusan napas panjang dari Ibu Kim mendengar jawaban Mino.


“Lysa pasti banyak terluka karenaku. Sungguh malang nasip Lysa karena memiliki seorang ibu yang buruk sepertiku,” gumamnya pelan dengan raut wajah yang begitu hancur dan sedih. Di sebelahnya, suaminya yang masih terlihat muda itu mencoba menenangkan ibu Kim dengan memeluk bahunya.


Suasana menjadi hening setelah itu. Dan Mino kembali angkat suara.


“Saya dan Lysa mau pamit dulu, Eomoni. Semoga Anda lekas sehat dan bayi Anda juga bisa tumbuh sehat,” ucap Mino.


“Apa kau dan Lysa akan kembali ke Korea? Bagaimana dengan Brian?” tanya ibu Kim.


“Tidak. Saya ada pekerjaan di Filipina dan hanya singgah sebentar ke sini untuk bertemu dengan Lysa. Dan nanti sore saya harus kembali ke Filipina. Kalau Lysa dan Brian, mereka akan kembali ke Korea besok lusa,” jelas singkat Mino.


“Hm, baiklah.” Ibu Kim menggumam pelan. Kemudian ia menarik tangan Mino dan menggenggamnya seperti seorang ibu. “Tolong jaga Lysa ku dengan baik. Hidupnya sudah sangat menderita karenaku. Aku berharap kau bisa menjaganya dengan baik dan tidak pernah menyakitinya sedikit pun. Aku akan selalu memberkati hubungan kalian dan berharap kalian bisa sama sama bagia bersama. Tapi, jika suatu saat nanti Lysa berada dalam situasi sulit karenamu, aku juga tidak akan segan untuk seseorang mengambil Lysa darimu, jika kau membuat putriku terluka.” Ibu Kim mengatakannya dengan tegas sebagai seorang ibu yang ingin melindungi putri tersayangnya. Dan ia tidak mainj main dengan ucapannya itu.


Mino terdiam sejenak. Mencoba menerka nerka siapa ‘seseorang’ yang siap mengambil Lysa darinya jika saja Lysa berada dalam kesulitan karena Mino.


“Maksud ibu, apa orang itu adalah Brian?” tanya Mino.


“Brian lebih dulu datang dan berkata kalau dia mencintai Lysa. Bagaimana pun, aku sudah mengenal Brian cukup lama dan tahu bahwa dia bisa menjaga Lysa dengan baik. Dan aku baru tahu kemudian kalau Lysa ternyata telah memiliki calon suami. Aku mendukung dengan siapa pun Lysa bersama, asalkan orang itu benar benar bisa menjaga Lysa dan tidak akan menyakitinya sedikit pun.” Ibu Kim lanjut berkata.


Menegrti, kepala Mino terangguk angguk. Dari awal, ia tahu kalau Brian adalah satu saunya saingan terberat Mino. Dan Mino tahu kalau Brian memang lebih lama bersama Lysa dan lebih mengenalnya. Namun bukan berarti Mino ‘kalah’ dari laki laki yang membuat cinta Lysa bertepuk sebelah tangan dalam waktu yang sangat sangat lama. Ibu Kim memang tidak tahu hal itu dan hanya menganggap bahwa Brian adalah laki laki yang mengenal Lysa dengan baik dan menjaganya dengan baik selama ini. namun Ibu Kim tidak tahu kalau laki laki itu membuat Lysa mengalami perasaan yang tidak terbalas selama kurang lebh sepuluh tahun. Dan semuanya berakhir sia sia. Namun sekarang laki laki yang tidak membalas cinta Lysa itu, menjadi saingan terberat Mino untuk mendapatkan hati Lysa. Meski sekarang hati Lysa benar benar untuk Mino, Mino tetap merasa terancam oleh Brian.


“Saya akan ingat ingat pesan Anda, Eomoni.” Mino pun menjawab dengan yakin.


“kalau begitu, kembalilah dengan hati hati. Sampaikan pada Lysa supaya selalu menjaga kesehatan. Dan suruh dia untuk memperhatikan makannya supaya badannya tidak sekurus itu. Kalau bertemu dengan ayah Lysa, katakan juga padanya untuk tidak lupa menjaga kesehatan,” ucap Ibu Kim. Bagaimana pun, wanita itu telah hidup bersama ayah Lysa selama lebih dari dua puluh tahun.


“Baik Eomoni,” ucap Brian. “Ah, juga, Lysa ingin menyampaikan pesan pada Anda.”


Wajah ibu Kim terlihat sangat terkejut sekaligus gembira saat Mino mengatakannya. Dengan wajah berbinar binar ia bertanya, “Pesan? Apa?”


“Lysa berpesan supaya Anda tetap sehat dan berumur panjang.”


Kedua mata ibu Kim seketika itu berbinar binar mendnegar kalimat itu dari Mino. Kemudian ia menarik sesuatu dari dalam laci kecil yang ada di sebaelah ranjang tidurnya. Mengambil sebuah kotak persegi panjang yang berisi scraft berwarna hijau yang tampak begitu cantik.


“Tolong berikan hadiah kecil ini kepada Lysa. Tapi jangan katakan padanya kalau ini dari ibunya. Hanya ... katakan saja kalau kau yang membelikan ini untuknya. Dengan begitu Lysa mau memakainya.”


Mino menerima uluran scraft itu dari Ibu Kim. Lalu menganggukkan kepala.


Dan terakhir, ibu Kim berpesan kepada Mino.


“Aku ingin mengatakan ini karena sepertinya kau sangat menyayangi Lysa dan kaulah yang dipilih oleh putriku. Kalau kau ingin benar benar menikah dengan Lysa, cobalah untuk memenangkan hati ayahnya. Jangan biarkan hati ayah Lysa lebih condong pada laki laki lain yang juga ingin memiliki Lysa. Itu tidak akah berakhir baik untukmu.”


Mino kembali terdiam. Dan, lagi, ia merasa terancam oleh laki laki lain itu yang tidak lain adalah Brian. Ya, Brian, laki laki itu satu satunya rintangan terbesar Mino saat ini. dan Mino tidak ingin lengah sedikit pun.


“Baik. Terima kasih, Eomoni.”


**