
Bulan Madu 2
Yebin Pov
Senja harinya, aku dan Yul Oppa pergi ke Kastel Morro untuk melihta matahari terbanam di atas Malecon. Kastel Morro itu adalah benteng raksasa yang dibangun selama kolinisasi Spanyol yang digunakan untuk melawan para bajak laut. Berdiri di atas tebing yang mengarah ke laut. Dari kastel morro, pemandangan seluruh kota Havana dapat terlihat, begitu pun panorama matahari tenggelam di Kuba terlihat dengan begitu indahnya dari kastel itu.
Kami terduduk di atas tebing. Menghadap ke sisi barat. Mengamati matahari di atas Malecon yang perlahan lahan tenggelam dengan menyiratkan cahaya oranye di segala sisi langit belahan barat.
“Oppa,” panggilku pada Yul Oppa yang duduk di sebelah sambil memelukku. Kami duduk berpelukan mengamati matahari tenggelam dengan memberi kehangatan satu sama lain melalui sentuhan.
Kusandarkan kepalaku pada dada Yul Oppa yang bidang, yang selalu menjadikan sandaran untukku di kala ku sedih dan membutuhkan semangat untuk bangkit menjalani hidup kembali. Tangan kami berpegangan, saling menggenggam layaknya merpati putih yang terbang bersama angin.
“Hm?” jawab Yul Oppa. Suaranya yang pelan itu bergema di dada bidangnya yang ku sandari.
“Apa harapan terakhirmu tahun ini dan harapanmu untuk tahun depan?” tanyaku.
Aku tak mendengar jawaban selama beberapa saat. Membuat kepalaku langsung menengadah, menatap Oppa yang tampak sibuk berpikir. memikirkan apa harapannya untuk tahun depan sekaligus harapan terakhirnya di tahun ini.
“Yang pasti satu hal. Aku ingin kau, aku, kita ... dan semua orang yang ada di sekelilingku merasa bahagia. Bahagia sepanjang waktu, tidak sakit, tidak banyak bersedih, dan pastinya aku berharap tahun depan akan menjadi tahun yang lebih baik untuk kita dan pernikahan kita.” Oppa menjelaskan panjang lebar.
Mendengar itu, perasaanku menghangat. Harapan Oppa adalah bagian dari harapanku. Karena aku ada di setiap pengambilan keputusan Oppa. Karena aku ada di setiap pemikirannya. Ketika Oppa memikirkan dirinya, maka ia sekaligus memikirkan aku. Karena kita sudah menyatu dalam sebuah ikatan pernikahan yang di dalamnya ada cinta sepadang manusia yang akan abadi.
Aku tersenyum. Merasakan debaran debaran di dada tatkala telingaku mendengar desahan napas dan juga detak jantung dari lelaki yang telah memperjuangkan segala hal atas rasa cinta dan kasihnya padaku.
Sesaat kemudian aku lanjut berkata, “Oppa, aku juga mempunyai harapan untuk tahun depan. Apa Oppa mau mewujudkannya?”
Kuregangkan pelukan kami ketika aku mengatakannya. Aku ingin menatap wajah Oppa dengan leluasa. Mengamati setiap sudut wajah Oppa yang rupawan.
“Apa itu?”
“Katakan dulu kalau bersedia mewujudkannya,” tegasku.
Kening Oppa mengernyit. Merasa curiga pada perkataanku yang terkesan memaksa. Benar. Kali ini aku memang memaksa. Aku memaksa Oppa untuk mewujudkan satu permintaan sederhanaku di tahun depan.
Sambil memiringkan kepala curiga, Oppa meyakinkan, “Kau ... kau tidak memiliki permintaan yang aneh aneh kan?”
Aku terkekeh mendengar Oppa yang mengira permintaannku itu adalah hal aneh. Padahal, apa yang aku inginkan sangatah sederhana.
“Tentu tidak, Oppa. Permintaanku sangat sederhana. Jadi Oppa mau mewujudkannya?”
Sejenak berpikir, Oppa pun menganggukkan kepala.
“Baiklah. apa pun permintaanmu, akan kuwujudkan.”
Yes! Berhasil. Meski aku merasa senang bukan kepayang, aku tetap memperlihatkan raut wajah tegasku.
“Kalau begitu berjanjilah. Berjanjilah kalau Oppa akan mewujudkan keinginanku,” imbuhku meyakinkan sambil mengacungkan jari kelingking. Berharap Oppa akan bnar benar berjanji padaku dengan menautkan jari kelingkingnya.
Menuruti perkataanku, Oppa pun menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingkingku. Jari kalingking kami berpautan.
“Baiklah. aku berjanji.”
Seketika itu senyum semringahku terbentuk. Yul Oppa menatapiku, menanti permintaan apa yang ingin kulontarkan sampai menautkan jari keingking seperti tadi.
“Jadi, apa permintaanmu?” tanyanya.
Dengan yakin aku berkata, “Aku ingin Oppa kembali melukis.”
Raut wajah Oppa seketika itu berubah. Ia menatapku hening, dengan tatapan bingung sekaligus terperangah. Permintaanku ini memang tak terduga. Dan pastinya mengejutkan untuk Oppa. Karena ia sudah terlanjur berjanji akan mewujudkannya.
Oppa hanya diam. Ia tak bisa berkata kata kecuali mengekepresian keterkejutan dan juga rasa bingungnya melalui tatapannya padaku yang terasa begitu hening dan sendu.
Aku menggenggam tangan Oppa. Menggenggam tangan kekar itu menggunakan kedua tanganku yang menyalurkan kehangatan. Sembari itu, aku menatapnya dalam.
“Oppa, aku tidak bodoh. Aku cukup tahu dunia seperti apa yang ingin dimiliki oleh Moon Yul. Aku cukup tahu, jiwa dan ragamu selalu memberotak untuk menciptakan sebuah karya lukisan yang indah. Aku cukup tahu, apa yang sebenarnya kau inginkan dan apa yang bisa membuatmu merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Bukan hanya perasaan bahagia melihat orang yang kau sayangi bahagia, tetapi kebahagiaan yang benar benar membuatmu merasa seluruh dunia ini menjadi milikmu.”
“Yebin~a,” panggilnya kemudian sambil menoleh kembali menatapku. “Maaf. Sepertinya aku tidak bisa mewujudkan permintaanmu itu.”
“Aku ingin mengelola Moonlight Coffe.”
Aku mengimbuhkan tanpa memedulikan perkataan Oppa yang sebelumnya. Kalimat yang kulontarkan itu, sontak membuat kening Oppa mengerut dalam. mempertanyakan maksudku.
“Itu ... apa maksudmu?” tanyanya bingung mendengarku tiba tiba ingin mengelola kafe.
“Aku ingin bekerja di Moonlight Coffe, menggantikanmu. Ini bukan berarti aku ingin mengambil alih Moonlight Coffe dengan mengganti semuanya dengan namaku. Tapi, lebih tepatnya, aku yang bekerja di Moonlight Coffe sebagai orang yang menggantikan semua tugasmu,” jelasku.
Cukup lama Oppa terdiam untuk mencerna semua kata kataku, juga mempertimbangkannya. Namun, setelah kutunggu lama, yang kulihat adalah Oppa yang menggeleng gelengkan kepala. Tidak setuju.
“Tidak, Yebin~a. Bisnis kafe dengan bisnis belanja daring sangat berbeda. Jauh lebih sulit baik dari segi administrasi maupun sistem manajemen.”
“Oppa tidak percaya padaku?” sahutku legas.
Terlihat Oppa yang mengembuskan napas panjang mendengar sahutanku. Kulihat juga raut wajahnya yang cemas.
“Hh. Bukan begitu, Yebin~a....”
Aku ikut menghela napas panjang selagi mengalihkan pandangan dari Yul Oppa.
“Sayang sekali. Menjadi bos kafe adalah salah satu impianku. Impianku dulu itu bukan menjadi nyonya istri pemilik kafe, tapi menjadi bos kafe. Dulu aku ingin mendirikan bisnis kafe, tapi aku tahu mendirikan kafe memerlukan modal yang sangat besar dan itu sangat tidak memungkinkan untuk aku yang masih beratstus menjadi mahasiswa tahun pertama. Akhirnya aku memulai bisnis belanja daring, karena bisnis itu tidak memakan banyak modal.”
Dengan sangat sayang aku menceritakan keinginan terpendamku sejak kecil. Sebenarnya, bukan pertama kali aku menceritakan hal ini. Tetapi sebelumnya aku pernah bercerita pada ibu dan juga Somin.
Apa yang kukatakan ini bukanlan kebohongan, namun juga tak sepenuhnya kejujuran. Karena sebenarnya aku tidak memiliki ambisi besar untuk menjadi bos kafe. Keinginan pertamaku adalah melihat Oppa bahagia dengan dunianya. Yang aku inginkan bukanlah kafe, tetapi kebahagiaan Yul Oppa sebagai pelukis. Aku tahu impian Oppa sejak kecil adalah menjadi pelukis seperti ayahnya. Namun karena ia harus bekerja untuk mengelola kafe, impian itu harus dikuburnya dalam dalam. Padahal jiwa Oppa adalah jiwa seniman, bukan jiwa pebisnis sepertiku. Aku ingin mengelola kafe, karena aku ingin memberikan kesempatan pada Oppa untuk mewujudkan impiannya.
Melihatku yang tampak murung setelah menceritakan itu semua, Oppa kembali melontarkan pertanyaan.
“Kau ... sungguh menginginkannya? Kau ingin mengelola kafe?” Oppa meyakinkan setelah melihat wajahku yang memurung ini.
Aku mengangguk yakin.
“Mengelola kafe tidak semudah yang kau bayangkan. Lebih rumit dari bisnis belanja daring,” tegasnya.
“Tidak,” sanggahku. “Itu menjadi rumit karena selama ini Oppa berpikir itu rumit. Berbisnis menjadi tidak mudah karena Oppa tidak menikmati proses berbisnis. Karena minatmu sesungguhnya bukan pada bisnis, sebab itulah kau merasa bisnis itu tidak mudah dan sama sekali tidak menyenangkan. Padahal patokan kesuksesan berbisnis bukan pada hasilnya yang melimpah, tapi pada seberapa senang Oppa menjalani proses berbisnis,” imbuhku menegaskan.
Oppa kembali terdiam cukup lama. dari tatapannya, sepertinya Oppa baru melihat seberapa besar minatku pada bisnis. Oppa baru menyadari jiwa pebisnis yang ada pada diriku.
“Yebin~a, kau sungguh menginginkannya?” yakinnya.
Aku pun menjawab dengan yakin. “Aku ingin melakukannya. Aku ingin mencoba hal baru dengan berbisnis kafe. Aku juga memiliki rencana yang bagus untuk mempersatukan Biniemoon dengan Moonlight Coffe. Dengan begitu Biniemoon ku akan semakin maju dan Moonlight Coffe akan menjangkau lebih banyak konsumen. Biniemoon akan menjadi pusat belanja online di Korea dan Moonlight Coffe akan menjadi rujukan kafe nomor satu para anak muda.”
Perlahan lahan Oppa menguntai senyum setelah mencerna semua kalimatku. Ia tersenyum dengan begitu hangat. Mengandung perasaan haru dan rasa senang tiada tara.
“Baiklah, jika kau memang ingin melakukannya. Kau bisa menjadi bos Moonlight Coffe, menggantikanku.”
Aku ikut tersenyum mendengarnya. Lebih dari apa pun, aku merasa senang karena Oppa akhirnya telah kembali ke ‘rumahnya’. akhirnya Oppa telah memutuskan untuk kembali pada jiwa seniman yang telah mendarah daging dalam dirinya.
Merasa senang, aku menarik kepala Oppa menggunakan kedua tanganku. Mendekatkan kepalanya padaku untuk mencium bibirnya.
Kukecup bibir Oppa yang hangat dan lembut itu. lalu aku tersenyum di depan wajahnya, sebelum akhirnya Oppa memautkan bibir kami berdua untuk berciuman mesra bersama gelombang air samudra yang membentang luas di hadapan kami.
***********
*Cerita hidup Kang Yebin dengan Moon Yul masih akan terus berlanjut. Tetap ikuti keseruan cerita hidup mereka yang penuh liku. Ditambah kisah cinta hakim tampan, Hun, yang berkelak kelok seperti jalan pegunungan.
Tunggu kisah mereka selanjutnya. Dan jangan lupa memeberi author support supaya bisa terus berkarya di MangaToon untuk para pembaca. Tunggu kelanjutan ceritanya ya!
Salam hangat, Author Love You Later*