Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Awal Kecemburuan Istri



**Awal Kecemburuan istri


Yebin Pov**


“Wah, Moonlight Coffe sekarang benar benar sepi. Padahal sebelumnya kafe ini tidak pernah sepi pengunjung,” ujar Somin yang menebarkan pandangan ke sekeliling. Membuatku ikut menebarkan pandangan.


Aku sekarang sedang berada di Moonlight Coffe Gangnam bersama Somin setelah menyelesaikan beberapa urusan di kampus terkait skripsi kami. Memang benar kata orang. Bahwa keluar dari kampus lebih sulit dari pada proses seleksi masuknya. Ada banyak sekali persyaratan untuk bisa lulus sebagai sarjana. Dan tentunya semua persyaratan itu bukanlah hal yang mudah.


Di hari Senin siang ini aku dan Somin sejenak mengistirahatkan tubuh dan pikiran di kafe. Membeli minuman dingin untuk mendinginkan kepala. Juga menikmati camilan manis untuk menghilangkan stres.


Moonlight Coffe adalah tempat favorit kami sejak awal memasuki kuliah. Aku dan Somin sering menghabiskan waktu di Moonlight Coffe, mencari wifi gratis untuk mengunggah produk produk Biniemoon. Dan bahkan berkencan buta di kafe ini untuk bertemu beberapa laki laki yang berasal dari kampus kami. Bukan berarti aku adalah istri dari pemilik Moonlight Coffe sehingga mengajak Somin untuk datang di tempat ini. Hanya saja, Moonlight Coffe adalah tempat favorit kami jauh sebeluh aku mengenal Yul Oppa.


Keadaan kafe memang masih sangat sepi, seperti hari sebelum sebelumnya. Tapi Yul Oppa sedang berusaha menyelamatkan kafe dari semua krisis yang sedang berlangsung ini.


Krisis yang dialami Moonlight Coffe berawal dari kasus penggelapan dana dan penghindaran pajak yang dilakukan oleh manajernya. Dampak dari kasus itu sangat lah besar untuk Yul Oppa sendiri maupun Moonlight Coffe dan semua pekerjanya. Pun diperparah dengan artikel artikel buruk di internet yang mengulas hal hal tentang Moonlight Coffe yang sifatnya sangat menjatuhkan.


Sudah menjadi fakta umum, bahwa semua artikel yang dipublikasikan dalam waktu sama dan konten isi yang sama persis itu adalah perbuatan satu orang, yang ingin benar benar menjatuhkan Moonlight Coffe, melalui para wartawan bayaran yang sangat tidak bertanggung jawab itu. Tapi, semua artikel itu kini telah dihapus dari internet, alias tidak bisa diakses. Sepertinya Oppa berhasil bernegoisasi dengan wartawan bayaran yang diutus seseorang untuk membuat artikel semacam itu.


Tetapi orang orang terlanjut tidak percaya lagi pada Moonlight Coffe. Ulasan negatif masih banyak beredar di internet. Berbagai macam kritikan masih menyisakan jejak yang teramat luas untuk Moonlight Coffe itu sendiri.


Aku tidak tahu dengan pasti strategi macam apa yang tengah Oppa tempuh untuk mengatasi semua itu. yang pasti, aku juga memiliki strategi tersendiri untuk membantu Oppa dari belakang layar.


“Bagaimana kehidupan pernikahanmu? Apa kau merasa berbeda setelah menikah?” tanya Somin sesaat kemudian.


Aku menyesap minuman dinginku ketika mendengar Somin bertanya tentang kehidupan pernikahanku. Aku teringat. Ini adalah pertemuan pertamaku dengan Somin setelah statusku berubah menjadi ‘telah menikah’. terakhir melihat Somin adalah ketika hari resepsi pernikahanku. Ketika itu ia datang bersama kekasihnya yang seorang karyawan di perusahaan media terbesar di Seoul.


Aku memang sudah menikah. dan statusku berubah menjadi Nyonya Moon sejak hari itu. Tapi, aku masih belum merasakan perubahan yang signifikan tentang kehidupanku. Aku merasa hidupku tidak jauh berbeda dari sebelum menikah. hanya saja, sekarang hari hariku menjadi lebih manis dan berwarna karena aku melaluinya bersama Yul Oppa yang setiap bangun tidur di pagi hari menyapaku dengan seutas senyuman hangat dan kecupan di bibir dan juga kening.


“Aku tidak merasa berbeda secara signifikan. Hanya saja semua yang kukerjakan setiap hari terasa lebih berwarna dan aku sekarang merasa lebih leluasa.”


“Leluasa?” Somin menanggapi ucapanku.


“Leluasa dalam bersikap. Leluasa dalam mengambil tindakan bersama. Leluasa dalam berbagi banyak hal. Dan... leluasa melakukan ‘itu’ setiap malam tanpa ada halangan,” imbuhku dengan nada bicara yang sedikit kulebih lebihkan.


“Aduh!” Somin seketika itu menceletuk. Ia menghembuskan napas panjang panjang sambil bergumam, “Aku ingin cepat cepat menikah sepertimu.”


“Cepatlah menikah. Kau akan merasakannya sendiri nanti,” ucapku.


Setelah beberapa detik berlalu, aku kembali membuka percakapan, “Somin~a, kau mau bekerja denganku?”


“Bekerja apa? Ah, mengelola Biniemoon?” jawab Somin.


Aku mengangguk angguk.


“Aku akan memberimu gaji 2 juta won setiap bulan. Itu tidak termasuk bonus. Dan jika penjualannya nanti semakin bagus, aku akan menaikkan gajimu secara berkala. Bagaimana?” tawarku.


Rencananya aku akan menyewa suatu tempat di daerah perkotaan sebagai kantor marketing Biniemoon. Aku juga sedang menyusun rencana untuk bekerjasama dengan beberapa perusahaan manufaktur pakaian untuk memperluas jangkauan Biniemoon sampai ke luar negeri. Tapi, aku sebelum mengembangkan Biniemoon menjadi lebih besar, ada satu tugas penting yang harus aku selesaikan. Yaitu, membantu Yul Oppa mengembalikan keadaan Moonlight Coffe. Setelah itu baru aku akan berfokus pada mengembangkan jangkauan Biniemoon.


Dilihar dari raut wajahnya, Somin terlihat tertarik pada tawaranku. Namun ia mencoba sedikit jual mahal dengan cara mempertimbangan tawaranku cukup lama padahal mau. Tapi tidak apa. Aku mengikuti alur berpikir Somin. Menunggu jawabannya selama beberapa menitsebelum akhirnya Somin menganggukkan kepala.


“Baiklah. Aku menerima tawaranmu. Kebetulan aku lagi butuh pekerjaan.” Somin menceletuk setelah beberapa saat. “Aku perlu pekkerjaann tetap sebelum benar benar lulus menjadi sarjana. Dengan begitu, aku bisa sedikit membanggakan diri di hadapan calon ibu mertuaku nanti.”


Aku tersenyum mendengar Somin yang segera mengiyakan tawaranku tanpa banyak berpikir. Ku angkat gelas minuman dingin. Lalu mengajak Somin bersulang.


“Bersulang!”


Kami berdua meminum minuman dingin kami. Lalu Somin kembali melontarkan pertanyaan, “Apa kau berencana memperluas jangkauan Biniemoon?”


Aku terangguk angguk.


“Aku sedang menyusun rencana untuk bermitra bisnis dengan beberapa perusahaan tekstil. Tapi untuk meyakinkan perusahaan itu, aku perlu membuat Biniemoon lebih besar. Salah satu caranya ya dengan mendirikan kantor Biniemoon. Memperluas jangkauan pasar. Dan menambah produk serta menyediakan banyak gift untuk pelanggan supaya memberikan kesan yang positif kepada mereka ketika berbelanja. Persaingan pasar sekarang sangat ketat, aku perlu meningkatkan strategi bisnis untuk bisa memperluas jaringan dan bermitra dengan banyak perusahaan manufaktur pakaian.”


Selagi menjelaskan, aku membuat gambaran tentang keadaan Biniemoon dalam lima tahun ke depan. Berbisnis memang bukanlah hal yang mudah. Tetapi aku memiliki ambisi besar dalam hal itu. Aku juga memiliki strategi pasar dan rencana yang bagus untuk kukembangkan dalam jangka waktu lima tahun ke depan. Tidak mudah, memang. Tetapi aku telah memepersiapkan diri untuk semua tantangan dan hanbatan yang akan kuhadapi kedepannya.


“Kalau begitu, biarkan aku menjadi karyawan pertama Biniemoon. Kau tidak berbohong kan dengan gaji sebesar dua juta won per bulan itu?” Somin meyakinkan nominal gaji yang akan ia dapatkan dengan bekerja sebagai karyawan pertama Biniemoon. Aku yang mendengarnya terkekeh kekeh. Apa somin mengira tawaranku tadi bercanda?


“Tentu saja. apa kau pernah melihatku berbohong?” jawabku sambil menceletuk. “Bagaimana pun, Biniemoon bisa bertahan sampai sekarang juga berkat bantuanmu Somin~a. Karena itu, ketika nanti Biniemoon semakin besar, aku akan menempatkanmu pada posisi yang tinggi. Aku akan menjadikanmu direktur, sedangkan aku adalah CEO nya. Bagaimana?”


Kulihat bola mata Somin yang berbinar binar mendengar celetukanku. Tidak ada yang mustahil. Dan tidak ada salahnya berangan angan asalkan aku juga berusaha keras dan memiliki tujuan yang jelas untuk mengembangkan Biniemoon menjadi tempat berbelanja daring nomor satu di Korea Selatan dan mancanegara.


Dengan matanya yang berbinar binar dan raut wajah yang antusias, Somin mengangkat gelas minumannya. Lalu ia menyeru.


“baiklah. Ayo kita buat Biniemoon menjadi tempat berbelanja daring nomor satu di Korea Selatan!”


“Ayo!”


Aku ikut menyeru sambil mengangkat gelasku lalu membentukannya dengan gelas Somin. Kami berdua kembali meneguk minuman dingin ini dengan penuh semangat.


Tepat setelah meminum minuman dinginnya, Somin langsung menceletuk sambil menatap ke luar jendela.


“Oh, bukannya itu suamimu?”


Mendengar celetukan Somin, aku pun segera menolehkan kepala ke belakang. Kudapati Yul Oppa yang baru saja turun dari mobilnya yang terparkir di halaman kafe. Ia turun dari mobil. Sesaat kemudian, kulihat ada sesosok wanita berpakaian seksi turun dari mobil Oppa.


“Pemandangan apa ini! Oppa berselingkuh?!”


***