
Bab 32
Keputusan yang telah bulat
“Syukurlah kau mau datang menemuiku seperti ini. Harusnya kau kemari lebih awal, biar aku bisa menyambutmu lebih cepat.”
Ayah Jiwon menyambut kedatangan Mino dengan hangat. Seolah olah mengerti akan kedatangan Mino hari ini, ia menunggu di depan pintu sehngga dapat menyambut laki laki itu dengan baik.
Mengetahui itu, Mino hanya membungkukkan tubuh dan menyapa. Padahal ia datang hanya karena itu adalah permintaan terakhir Jiwon dan supaya wanita itu tidak lagi mengganggunya, bukan untuk memberikan jawaban baik.
Jika diingat ingat kembali, tidak pernagh sekali pun kedatangan Mino disambut dengan baik oleh keluarga Jiwon. Karena dari awal keluarga Jiwon lah yang memberikan penolakan pada Mino. Tidak memberikan restu pada Mino karena latar beakang keluarganya yang jauh berbeda dari keluarga Jiwon yang berasal dari kalangan atas. Dulu ketika Mino dengan Jiwon masih berkencan, Mino tidak pernah disambut sehangat ini oleh ayahnya. Justru kedatangan Mino sangat dibenci oleh mereka dan bukan menjadi hal yang paling diharap harapkan. Tetapi kini semuanya berbeda. Namun meski pun berbeda, tidak sedikit pun Mino merasa senang. Justru ia merasa tidak nyaman dan sungguh ingin meninggalkan tempat ini dengan cepat tanpa banyak berbasa basi lagi.
Paling tidak Mino masih mengerti apa itu sopan santun. Sehingga ia tetap menunjukkan rasa hormatnya pada ayah Jiwon yang dulu pernah menolaknya mentah mentah.
Di ruang tamu itu Im Jiwon telah menanti kedatangan Mino dengan mata yang berbinar binar. Mino yang digiring masuk oleh ayah Jiwon itu hanya menghela napas sangat pelan ke dalam perut karena merasa ia sedang mendapatkan tipu muslihat dari Jiwon. Wanita itu sungguh kukuh, tidak tahu malu dan tidak tahu kapan harus menyerah. Padahal jelas jelas Mino telah berkata tidak padanya. Dan itu tidak dikatakan oleh Mino satu atau dua kali saja, tetapi berulang kali. Dan Mino juga telah dengan sangat jelas menunjukkan ketidak tertarikannya pada Jiwon yang pernah menyakitinya begitu dalam sampai sampai membuat Mino berada dalam masa masa yang sangat sulit dalam waktu yang lama.
“Duduklah.”
Mino pun dipersilakan duduk oleh Jiwon begitu sampai di ruang tamu bersama ayahnya. Tatapan wanita itu masih memperlihatkan harapan yang besar terhadap Mino. Padahal, sudah berkali kali Mino tegaskan bahwa dirinya tidak ingin mengulang kembali masa lalunya bersama Jiwon ... dengan alasan apa pun.
Perlahan Mino mendudukkan tubuhnya di atas sofa rumah Jiwon. Duduk berhadap harapan dengan ayah Jiwon. Meski pun duduk di atas sofa yang paling bagus, Mino sama sekali tidak merasa nyaman. Namun ia harus bertahan sedikit lagi untuk dapat benar benar terbebas dari Jiwon yang tampaknya masih belum menyerah untuk bisa kembali padanya meski berkali kali Mino berkata tidak.
“Jadi bagaimana pekerjaanmu saat ini? Kudengar kau menjadi salah satu pemenang saham tertinggi di Moonlight Coffe.” Ayah Jiwon menceletuk dengan tatapan mata yang berbinar binar. Sepertinya pria paruh baya itu baru mendengar tentang Mino yang memiliki banyak saham di Moonlight Coffe dan Moonlight Retail, dan langsung memberikan kesempatan kedua untuk lelaki itu menjadi menantunya.
Ah, rupanya itu yang membuat ayah Jiwon berubah pikiran, batin Mino. Mino memang telah lama menjadi salah satu dari sepuluh pemegang saham tetringgi moonlight Coffe dan Moonlight Retail. Dan itu tidak banyak diketahui orang karena memang Mino tidak pernah mengungkapkannya apalagi memamerkannya pada semua orang. Mino diam diam memiliki semua aset saaham itu yang setiap tahunnya mengalami kenaikan. Jika ditotal semua saham Mino di Moonlighr Grup, mungkin bisa membeli sebuah pesawat jet pribadi dan sebuah rumah supermewah di daerah Ceongdam dong Gangnam yang memiliki nilai jual tanah dan properti paling tinggi di seluruh Korea Selatan.
Entah dari mana bapak tua itu mendengar hal ini, Mino yang tidak dapat menyangkal hanya dapat mengangguk pelan. Tatapanya tampak dingin, tak seperti biasanya. Mengingat Mino yang merupakan orang ramah dan rendah hati, biasanya lelaki itu tak pernah memberikan tatapan sedingin ini ketika berhadapan dengan seseorang.
“Selama ini aku tidak tahu. Harusnya kau katakan hal itu sejak awal, mungkin aku bisa merestui hubunganmu dengan Jiwon tanpa harus membuat kalian berdua berada dalam masa masa sulit. Astaga, memang tidak ada yang spontan di dunia ini. harusnya aku juga lebih peka dan jeli dalam menilaimu sebagai calon suami dari satu satunya putri yang kusayangi.” Sambil terkekeh kekeh, ayah Jiwon berucap demikian. Tanpa rasa bersalah dan tanpa perasaan malu sedikit pun, lelaki tua itu berkata seolah olah telah menemukan alasan untuk menerima Mino menjadi menantunya setelah dulu menolak dan mencaci caci pria itu.
Jika diingat kembali cacian apa yang pernah Mino dengar dari bapak tua itu, mungkin luka itu masih berbekas di hati Mino sampai saat ini. namun sebagai laki laki dewasa, ia bisa melupakan kesalahan yang pernah terjadi di masa lalu dengan tidak mengungkit ungkitnya lagi. Namun, penilaian Mino tetap tidak berubah. Ia terlanjut terluka karena semua penolakan yang dulu pernah didapatnya. Ia juga telah terlanjur bisa melepaskan Jiwon dan merelakannya pergi meski di awal awal memang sangat sulit rasanya. Dan, penilaian Mino terhadap ayah Jiwon juga tidak pernah berubah. Bahwa bapak tua itu hanya mementingkan harta Mino ketimbang keberadaannya sebagai manusia. Padahal, bagi Mino semua kekayaan dan asetnya itu tidak berarti apa apa jika ia tidak diakui sebagai laki laki yang benar benar pantas untuk mendapatkan seorang wanita yang dikasihinya. Jika lelaki itu diterima karena harta dan kekayaan, ketika suatu saat kekayaannya hilang, maka keberadaannya seolah olah akan hilang karena ia tidak akan pernah mendapatkan pengakuan lagi. Namun, jika Mino diterima bukan kareha harta atau kekayaannya, melainkan diterima sebagai manusia dan juga laki laki yang benar benar layak, maka ketika suatu saat nanti kekayaannya itu lenyap, keberadaannya akan terus diakui karena ia telah dinilai layak bukan dari seberapa banyak harta yang ia punya, melainkan nilainya sebagai laki laki dan sebagai manusia, tentunya.
Sekarang Mino semakin yakin bahwa keputusannya untuk tidak kembali dengan Jiwon itu adalah keputusan yang benar benar bijak. Dengan bertemu ayahnya seperti ini, Mino merasa tidak perlu ragu lagi dan tidak perlu berpikir terlalu lama lagi. Karena ia telah menemukan jawaban yang pas untuk hidupnya. Bahwa Mino tidak membutuhkan seorang perempuan yang menerimanya karena orang lain yang hanya melihat harta dan kekayaannya. Yang Mino butuhkan adalah seorang wanita yang mencintainya apa adanya tanpa pernah tau seberapa besar kekayaan dan aset berupa saham yang dimilikinya di Moonlight Grup.
“Jadi, bagaimana? Bukannya dulu kau sangat ingin menikah dengan putriku satu satunya ini? Kau sendiri yang mengatakannya di hadapanku, kalau kau ingin menikahi putriku. Kau bilang kau sangat mencintainya dan akan menjaganya dengan baik dengan semua yang kau miliki.” Ayah Jiwon berkata. Di sebelahnya, Jiwon hanya tersenyum manis penuh harap dan penantian seakan akan ia adalah gadis yang sedang dilamar oleh seorang lelaki.
“Ya. Saya pernah mencintai Jiwon. Dan saya pernah memiliki keinginan untuk menikahinya. Tapi, Anda tidak pernah mengizinkan saya untuk menikah dengan putri Anda karena saya bukan dari keluarga berdarah konglomerat seperti yang Anda inginkan, bukan?” Mino menimpali dengan bahasa dan pengucapan yang sangat sopan sampai sampai yang mendengar kalimatnya itu tidak merasa sedang ditimpali.
“Itu karena aku tidak tahu banyak tentangmu, Nak. Jadi aku pikir kau bukan laki laki yang tepat untuk putriku,” kata ayah Jiwon.
Mino terdiam. Mendengar dirinya dipanggil dengan sebutan ‘Nak’ membuatnya merasa sangat risi. Namun Mino hanya terdiam dengan raut wajahnya yang sama sekali tidak berubah.
“Padahal Anda tidak tahu banyak tentang saya, bagaimana Anda menilai saya tidak layak untuk menjadi suami Jiwon saat itu?” Mino kembali mencetus dengan tegas. Kata katanya yang kali ini terdengar tegas dan serius membuat senyuman getir di wajah ayah Jiwon perlahan lahan lenyap. Pria tua itu menatap Mino dengan pandangan bertanya tanya seperti orang bodoh.
Karena keadaan sangat hening, Mino kembali berucap dengan bahasa yang lebih sopan dan halus. “Hari ini mau tidak mau saya datang karena Jiwon berkata Anda ingin bertemu dengan saya. Dan akhirnya saya datang dengan hati dan pikiran yang tidak berubah sejak saat itu. Jika Anda tanya bagaimana posisi saya saat ini, saya akan menjawab bahwa saya telah melalui banyak masa masa sulit karena Anda dan karena Jiwon meninggalkan saya. Sekarang saya telah merasa lebih baik karena bisa terbebas dari masa lalu yang mulanya masih mencekik leher saya.”
“Apa maksudmu?! Apa kau berkata bahwa putriku adalah hal terburuk dalam hidupmu? Apa yang telah kau lakuka dengan putriku itu yang menjadi hal paling buruk dalam hidup putriku. Apa kau tahu itu?!” Ayah Jiwon yang emosinya tersulit itu langsung menaikkan nada suara dan menceletuk sambil menunjuk ke arah Mino menggunakan jari telunjuknya.
“Tidak.” Mino menyela dengan tegas. “Momen bersama Jiwon adalah salah satu momen paling indah dalam hidup saya yang terjadi di masa lalu. Saya tidak pernah menghakimi Jiwon dan selalu mengenangnya sebagai ingatan yang buruk. Meski itu memang merasa menyakitkan untuk saya, saya tetap melihat Jiwon sebagai hal yang indah dan berarti dalam hidup saya ... di masa lalu. Ya. Semua itu hanya sebatas masa lalu untuk saya. Sedikit pun saya tidak memiliki keinginginan untuk dapat mengulang kembali masa lalu itu.”
Raut wajah Jiwon tampak begitu terpukul mendengar apa yang bari sana Mino katakan. Sungguh. Ini di luar dugaannya. Ia pikir, jika ayahnya mengizinkannya bersama Mino, semua akan menjadi baik baik saja untuknya dan unutk Mino. Namun sekarang ayahnya telah memberinya izin. Telah mendukungnya utnuk bersama Mino dan menikah dengannya. Namun Mino yang berkata lain dan menegaskan bahwa dirinya memang tidak berniat kembali kepada Jiwon dan mengulang kisah manis yang sama seperti di masa lalu.
Selain Jiwon yang tampak begitu terkejut, ayah Jiwon juga memperlihatkan raut wajah yang sama. Sama sama kecewa, sama sama terkejut, dan sama tidak menduga hal ini akan terjadi. Ia pikir, meluluhkan hati Mino itu sangat mudah karena laki laki itu selama ini menjalani hidupnya dengan sangat simpel dan tidak banyak berkutik. Namun penilaiannya ternyata salah, Mino bukanlah laki laki yang mudah dimenangkan hatinya. Saat ia memutuskan untuk tidak melakukan sesuatu, apa pun godaannya ia tidak akan mendekati hal itu. Dan saat ia memutuskan untuk mengejar sesuatu, ia tidak akan menyerah sampai akhir. Sama seperti ketika ia mengejar karir yang bagus di Moonlight Coffe, sampai tujuannya belum terpenuhi laki laki itu tidak akan menyerah. Dan akhirnya, dengan semua kerja kerasnya, dan dengan semua sifat tak acuhnya pada cibiran yang mengatakan bahwa orang miskin terlahir untuk menjadi miskin, Mino sekarang mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Ia bisa mengangkat derajat keluarganya dan mengeluarkan keluarganya dari kemiskinan. Serta memiliki aset pribadi yang tergolong besar dalam bentuk saham di Moonlight Grup yang terus berkembang dan semakin maju sampai ke luar negeri.
Hati Mino telah tertutup untuk Jiwon. Sekali pun wanita itu memaksa untuk masuk dengan semua bantuan orang di sekelilingnya, ia tidak akan pernah bisa masuk lagi ke dalam hati Mino yang dulu ditinggalkannya. Seberapa besar pun wanita itu berharap dan seberapa keras usahanya, ia tidak bisa lagi memenangkan hati Mino. Karena ... karena hati Mino telah dimasuki oleh wanita lain yang jauh lebih baik dari pada Jiwon.
“Maaf. Saya rasa saya harus segera pergi karena ada pekerjaan di kafe. Kalau begitu saya permisi dulu.”
Mino membungkukkan tubuhnya dengan hormat kepada Jiwon dan ayahnya yang masih duduk tercengang di atas sofa. Lalu melangkah pergi. Sambil berjalan menjauhi sofa menuju pintu, telinga Mino mendengar desusan lirik dari ayah Jiwon yang sedang memarahi putrinya.
Tapi Mino tidak peduli. Ia hanya berjalan lurus dan keluar dari rumah ini. ia berjalan menuju mobil dan hendak masuk ke dalamnya sebelum suara Jiwon membuat tubuhnya kembali berbalik.
“Mino ya!” panggil Jiwon yang sedang berlari keluar dengan telanjang kaki.
Tanpa menajwab panggilan Jiwon, Mino hanya menoleh dan menatapnya.
“Mungkinkah kau ... sudah memiliki wanita lain?” tanya Jiwon ragu dengan tatapan mata yang sangat sedih. Itu adalah tatapan maut Jiwon yang dulu sering ia gunakan untuk membujuk dan mengelabuhi Mino.
Sejenak Mino terdiam. Lalu kepalanya mengangguk kecil.
“Siapa? Siapa wanita itu? Siapa yang sudah merebut hatimu secepat itu?” celetuk Jiwon melontari Mino dengan beberapa pertanyaan. Wanita itu tampak sedang emosional dengan segenap emosi yang ia perlihatkan terang terangan kepada Mino.
“Mungkin kau mengenalnya.” Mino bergumam lirih. Lalu ia kembali membuka pintu mobil. Hendak masuk ke dalamnya sebelum melontarkan kata kata terakhir untuk Jiwon. “Aku sudah bertemu dengan ayahmu. Kuharap kau benar benar berhenti mengharapkanku. Kejar apa yang kau inginkan dan jangan berharap bisa kembali bersamaku. Karena sungguh, duniaku kini hanya terpusat pada seorang gadis yang membuatku merasa paling dibutuhkan, dan keberadaanku di dunia ini adalah suatu hal yang sangat bernilai untuknya. Jadi kumohon, berhentilah, Jiwon a. Kuharap kau bisa bahagia dengan laki laki yang dapat memenangkan hatimu dan ayahmu.”
Mendengar kata kata itu, kedua bola mata Jiwon berkaca kaca. Bibirnya membentuk lekukan huruf U yang menandakan bahwa wanita itu benar benar sedih mendengar Mino berkata demikian. Dan air mata yang berkumpuk di bola matanya pun tak terbentung lagi ketika Mino mengucapkan kata kata perpisahan dengan begitu yakin sampai sampai Jiwon merasa menjadi wanita yang tidak berguna selama ini.
“Selamat tinggal.”
Itu adalah kata terakhir Mino yang terlontar untuk Jiwon sebelum lelaki itu melajukan mobilnya menjauhi rumah Jiwon. Mino pergi tampa menengok lagi ke belakang, atau bahkan melirik ke arah kaca spion yang maish memperlihatkan Jiwon yang berdiri dari kejauhan. Fokus Mino saat ini hanya tertuju pada Lysa. Mino ingin mengakhiri keraguannya dengan menemui Lysa sekarang juga. Tapi, laki laki itu tidak tau ke mana ia harus pergi untuk bertemu Lysa. Ia sekarang tak tahu Lysa ada di mana dan bersama siapa. Tetapi, Mino yakin sekali kalau Lysa sekarang ada di sebuah tempat yang cukup jauh dari tempat Mino berada saat ini. sehingga Mino pun menaikkan kecepatan mobil demi menuju tempat yang diduga menjadi tempat Lysa berada saat ini.
**
“Kenapa aku gugup sekali? Sudah berkali kali aku naik pesawat. Tapi kenapa aku merasa gugup setiap kali hendak naik pesawat menuju sebuah tempat?”
Lysa yang wajahnya terlihat pucat itu memegangi tiket pesawatnya sambil bergumam gumam pelan. Sekarang adalan jam keberangkatannya menuju Indonesia. Dan ia merasa sangat gugup sampai kulit wajahnya yang bersih itu terlihat pucat. Jantungnya berdebar debar kencang dan ia sedang berusaha menyetabilkan pikirannya yang tidak terarah.
“Apa kau masih takut ketinggian?” tanya Brian yang berjalan di sebelah Lysa sambil menyeret koper besarnya. Keduanya lalu naik eskalator menuju lantai dua untuk melakukan check in dan melakukan penerbangan menuju Indonesia.
“Sedikit. Kalau sudah di dalam pesawat aku merasa lebih baik. Tapi kalau membayangkan aku akan naik pesawat, dan juga ketika pesawat lepas landas, aku masih merasa takut dan sangat gugup.” Lysa bercerita. Sejak kecil ia memang takut ketinggian. Dan biasanya, sebelum naik pesawat ia meminum obat penenang supaya lebih tenang sebelum melakukan penerbangan. Hanya saja hari ini ia tidak meminumnya karena berpikir kalau kecemasannya sudah membaik dan tidak akan separah sebelumnya. Sekarang mungkin Lysa merasa gugup dan takut, tapi begitu ia naik ke dalam pesawat kecemasannya akan sedikit mereda dan benar benar hilang ketika pesawat yang ditumpanginya telah sampai di atas awan.
“Tidak apa apa. Semua akan baik baik saja saat kau sudah naik ke dalam pesawat.”
Brian berucap demikian untuk meyakinkan Lysa supaya tidak perlu takut dan merasa gugup lagi.
Sampai di lantai dua, Lysa dan Brian berjalan bersamaan untuk check in. Lysa melewati semua pemeriksaan sebelum naik ke dalam pesawat. Dan, ketika Lysa masih diperiksa oleh petugas bandara, telinganya seperti mendengar samar samar suara seseorang memanggilnya.
“Lysa! Kim Lysa!”
Tubuh Lysa tersentak karena suara kecil yang didengarnya itu. Kepalanya menoleh sekeliling. Dan tidak mendapati siapa pun yang sedang meneriakkan namanya. Sepertinya, suara teriakan itu berasal dari lantai satu. Atau, Lysa hanya salah dengar karena terlalu gugup.
Tepat setelah itu petugas yang memeriksa Lysa telah selesai melakukan tugasnya. Ia memberikan isyarat pada Lysa untuk segera berlalu karena di belakangnya ada yang mengantre.
Tanpa merasa ragu Lysa pun melangkah menyusul Brian, hendak masuk ke dalam gate pesawat. Namun terus saja telinganya mendengar suara seseorang memanggil namanya. Suara itu sangat pelan, sangat samar, dan bahkan hampir tidak terdengar di telinga Lysa. Dan ketika Lysa menoleh ke belakang, tidak ada siapa pun yang sedang memanggilnya. Saat itulah Lysa memastikan kalau dirinya pasti sedang merasa sangat gugup dan mendengarkan hal hal yang sebenarnya tidak ada.
**