Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Kerinduan yang tidak berujung



Bab 52


Kerinduan yang tidak berujung


Mino menyelesaikan urusannya dengan Moon Yul di kafe cukup lama. Mereka berbincang cukup lama sebelum akhirnya percakapan mereka berakhir dan Mino kembali ke apartemennya tepat pada tengah malam. Ia keluar dari kafe ketika kafe sudah tutup, sekitar pukul dua belas malam lebih beberapa menit. Dan lima belas menit kemudian, ia sampai di apartemen.


Saat ini Mino masih berada di dalam mobil setelah selesai memarkirkannya di basement bawah tanah. Ia melihat ke arah setumpuk berkas yang ia bawa dari kafe, yaitu artikel artikel tentang skandal Hangin Grup yang diberikan Yul untuknya. Sejenak, Mino memeriksa kembali semua berkas artikel itu. Lalu menyembunyikannya di dalam sebuah tas kerja yang ia taruh di bawah kursi belakang. Ia tidak ingin membawa artikel artikel itu ke apartemen karena akan mudah ketahuan oleh Lysa. Dan Mino sampai saat ini pun yakin, kalau Lysa belum tahu tentang konferensi pers yang dibuat secara sepihak oleh Hangin Grup mengenai rencana pernikahan putra mereka dengan Lysa.


Kalau Lysa tahu, gadis itu akan semakin terpukul dan tertekan jika mendengarnya.


Setelah menyembunyikan artikel artikel itu ke dalam tas kerjanya, Mino pun turun dari mobil dan membuka bagasi. Ia mengambil tas besar di bagasi mobil yang pakaian pakaian Lysa dan juga beberapa barang Lysa yang ia ambil dari asrama. Termasuk telepon genggam Lysa yang keadaannya telah mati karena kehabisan baterai.


Sambil membawa tas itu, Mino pun berjalan meninggalkan basement. Masuk ke dalam gedung apartemen menuju unit apartemennya. Keadaan unit apartemennya sudah gelap. Lysa telah tertidur dengan lelap dan tidak ada tanda tanda kalau gadis itu bangun.


Mino masuk ke dalam kamar tidurnya. Sunyi. Gelap. Tidak ada hal lain yang dirasakan Mino selain keberadaan Lysa yang sedang tidur dengan lelap tanpa suara. Dengan cahaya kamarnya yang gelap itu, Mino meletakkan tas pakaian Lysa ke atas lantai. Lalu melepaskan coat panjang yang ia pakai. Setelah itu, ia berjalan menuju meja nakas untuk men-charger ponsel Lysa yang kehabisan baterai. Dan begitu terhubung dengan daya, ponsel itu pun menyala. Mino mendapati ponsel Lysa yang keadaannya tidka terkunci. Kemudian ia membuka aplikasi Kakao Talk dan mendapati berpuluh puluh pesan darinya yang tidak gadis itu buka, juga belasan panggilan tidak terjawab lainnya yang menyertai.


“Tcih, dia benar benar mengabaikan telepon dan semua pesan teks ku. Bagaimana seorang wanita bisa melakukan hal seperti ini pada kekasihnya?” Melihat apa yang saat ini tersaji di layar ponsel Lysa, Mino hanya menggumam gumam dengan sangat pelan sambil mengembuskan napas panjang. Merasa heran, bagaimana seorang wanita bisa melakukan hal itu padanya. Kalau bukan Kim Lysa, tidka ada yang memperlakukan Mino seperti itu di dunia ini.


Selesai memeriksa itu, Mino kembali meletakkan ponsle Lysa ke atas nakas untuk diisi dayanya. Kemudian Mino naik ke atas kasur untuk beranjak tidur bersama Lysa, di sebelahnya.


Merasakan gerakan tubuh Mino yang sedang naik ke atas kasur dan menenggelamkan tubuhnya ke dalam selimut itu, Lysa terbangun. Gadis itu membuka mata dengan pelan dan menengok ke arah Mino yang memeluknya dari samping.


“Chagi baru pulang? Jam berapa ini?” tanya pelan Lysa yang merasa dirinya sudah tertidur di sana sangat lama. Keadaan kamar benar benar gelap. Di sebelahnya itu, Mino memeluk tubuh Lysa dengan menenggelamkan diri ke dalam selimut tebal dan menyungkurkan kepalanya di antara ceruk leher Lysa.


“Sudah lewat tengah malam,” jawab lirih lelaki itu.


Mendengarnya, Lysa pun tergerak tubuhnya. Gadis itu merasa tubuhnya sudah jauh lebih membaik setelah meminum obat dan setelah beristirahat total selama berjam jam. Ia pun memiringkan tubuhnya ke arah Mino. Membalas pelukan Mino dan merangkul leher dan kedua bahu lelaki itu dengan hangat dan nyaman.


“Apa Chagi di rumah orang tuamu? Kenapa tidak menginap sekalian di sana?” Lysa lanjut bertanya.


“Aku mengkhawatirkanmu. Apa kamu sudah mendingan?” Mino balas bertanya. Laki laki itu mendengar suara Lysa yang terdengar cukup ringan, tak seberat beberapa waktu lalu sebelum ia tinggal pergi.


“Hm, aku sudah merasa jauh lebih baik. Panasku juga sudah turun. Kepalaku sekarang hampir merasa tidak pusing,” jawab Lysa dengan suara lirihnya.


Begitu mendengar itu, Mino sedikit menjauhkan tubuhnya dari Lysa. Ia menjulurkan telapak tangannya untuk menyentuh kening Lysa. Dan laki laki itu pun merasakan kening kekasihnya yang sudah dingin. Lalu Mino pun melepaskan tangannya dari kening Lysa dan kembali memeluk tubuh sang gadis.


“Syukurlah. Apa kau tahu betapa kahwatirnya aku tadi? Wajahmu sangat pucat pasi dan bibirmu berwarna ungu setengah biru. Aku merasakan suhu tubuhmu yan sangat panas. Dan aku merasa seperti menggendong mayat saat membawamu ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan aku merasa gugup dan takut. Aku sangat takut sekali kalau aku tidak bisa lagi melihatmu lagi. Tanganku terus gemetas sementara aku menyetir. Dan pandanganku terus tertuju padamu yang duduk di kursi penumpang dengan tidak sadarkan diri.”


Mino bercerita panjang lebar tentang perasaannya ketika menemukan Lysa jatuh tidak berdaya dan bahkan tidak sadarkan diri. Padahal itu adalah pertama kalinya Mino melihat Lysa setelah mereka berpisah di Indonesia beberapa minggu lalu. Dan saat saat itu sungguh saat yang menegangkan karena selain menahan rasa rindu yang tidak terbendugn, Mino juga menahan rasa khawatir lantaran Lysa yang tidak bisa ia hubungi sama sekali selama beberapa hari terakhir. Dan pertama menemukan Lysa di asrama dalam keadaan sakit parah dan kemudian pingsan. Hati Mino benar benar remuk, teririt iris melihat keadaan Lysa yang seperti itu. Dalam otak dan juha hatinya terbendung perasaan rindu, khawatir, takut kehilangan, dan segenap emosi lainnya yang meradu menjadi satu, memuncak bersamaan. Sebelum akhirnya Mino tiba di rumah sakit dan ia melihat Lysa yang masih memiliki harapan hidup itu diberi pertolongan pertama dan mendapat perawatan.


Lysa yang mendengar semua itu, merasa sangat bersalah kepada Mino karena telah membuatnya merasa sangat khawatir. Tindakan Lysa dengan cara memboikot semua panggilan telepon dan juga pesan teks Mino itu sudah cukup membuat Mino khawatir. Dan Lysa masih membuat Mino lebih khawatir dengan dia yang sakit dan tidak sadarkan diri dalam pelukan Mino. Untung saja hari itu Mino datang lebih cepat. Andaikan penerbangan Mino terlambat, dan laki laki itu tidak langsung menuju asrama Lysa begitu tiba di Seoul, mungkin Lysa tidak tetrolong. Mungkin Lysa tergeletak di asramanya dengan keadaan yang mengenaskan dan baru ditemukan beberapa hari kemudian dengan keadaan sangat kritis atau bahkan tidak bernyawa. Beruntung sekali karena Lysa dijemput oleh Mino pada waktu itu juga.


Merasa sangat bersalah kepada Mino, Lysa mempererat pelukannya pada tubuh Mino dan juga kepalanya. Lalu gadis itu mencium kening Mino sambil menggumam, “Maafkan aku, karena membuatmu begitu khawatir.”


“Jangan mengulanginya lagi. Jangan pernah lagi memboikot semua panggilan telepon dan juga pesan teks ku lagi. Apa pun yang terjadi dan apa pun yang kau alami, jangan melakukannya lagi. Apa kau tau betapa khawatirnya aku di Filipina sana? Tidak banyak yang mengenalmu di Seoul. Dan aku juga tidak mengenal siapa pun teman kuliahmu di sini, apalagi keluaramu. Kecuali asistenku di kafe, aku tidak ada yang bisa aku tanyai tentang keadaan dan juga keberadaanmu. Dan itu pun sangat terbatas.” Mino mengomeli gadis itu sambil menggerutu. Karena sungguh, ia kesal sekali dengan sikap Lysa yang seperti itu. Seperti seolah olah Mino tidak diizinkan untuk masuk lebih dalam ke kehidupan Lysa, meski pun Lysa melakukan hal itu hanya karena rasa bersalahnya yang begitu besar saja.


Mendengarkan rutukan kekasihnya dengan nada yang terdengar sedih dan rancu itu, Lysa merasa sangat bersalah. Kemudian ia mengangguk pelan dan berjanji pada dirinya untuk tidak membuat Mino khawatir seperti itu lagi.


“Baiklah. Maafkan aku.”


Tepat setelah Lysa menggumam, terdengar sebuah suara aneh yang berasal dari perut Lysa. Lysa terbelalak kaget ketika mendengar perutnya bergemuruh karena lapar. Dan seketika itu juga, Mino yang juga mendengarkan gemuruh dari perut Lysa, terperanjat bangun dari tidur.


“Kamu belum makan ya? Ayo, keluar.” Mino yang tidak jadi tidur itu langsung terperanjat bangun. Ia menyibak selimutnya dan langsung meloncat turun dari kasur. Lalu ia mengingat suatu hal. “Ah, benar. Di dapur sepertinya tidak ada bahan makanan. Bagaimana kalau kita pesan makanan cepat saji saja? Tidak jauh dari sini ada rumah makan yang buka dua puluh empat jam.”


Lysa pun mengikuti Mino. Gadis itu menyibak selimut tebal yang ia gunakan. Lalu terduduk di atas ranjang menatap Mino.


“Baiklah. Sebentar, biar aku pesankan.”


Setelah itu Mino keluar dari kamar. Menuju dapur untuk menghubungi restoran cepat saji itu yang nomor teleponnya ia tempelkan di dinding kulkas. Sementara Mino berada di dapur, Lysa melihat ponselnya yang sedang tergeletak di atas nakas, sedang diisi dayanya.


Sudah lama sekali sejak terakhir kali Lysa memerika ponsel. Terakhir kali ia membuka ponsel adalah sebelum ia jatuh sakit di asrama. Waktu itu ia ingin menelepon temannya untuk meminta pertolongan karena ia sedang sakit di asrama. Namun ponselnya kehabisan daya dan mati. Pun Lysa tidak sanggup untuk sekadar berdiri dan mengisi daya ponselnya. Dan akhirnya ponselnya tergeletak begitu saja tanpa sempat ia menelepon temannya untuk meminta pertolongan.


Lysa membuka ponsel. Melihat ada banyaknya notifikasi yang masuk. Termasuk notifikasi pesan masuk dari ayahnya. Ayahnya mengirimi pesan teks kepada Lysa kemarin pagi. Pesan teks itu bertuliskan.


‘Tadi malam Tuan Alvendo mendatangi ayah. kamu di mana, Lysa? Bisakah kau bertemu ayah akhir pekan ini untuk membicarakan hal itu bersama Brian?’


Membaca pesan teks dari ayahnya, Lysa merasa sesak. Ia tahu apa yang dimaksud ayahnya. Dan gadis itu tidak berencana untuk bertemu dengan ayahnya maupun dengan Brian. Karena mereka berdua telah bersekongkol. Ayah Lysa, satu satunya harapan Lysa dan satu satunya orang yang dapat ia percaya, telah berpihak pada Tuan Alvendo yang ingin menikahkan Lysa dengan Brian. Dan Brian... lelaki itu bahkan tidak mau mendengarkan Lysa dan tidak mau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada ayahnya. Brian.. memanfaatkan kesempatan ini untuk mendapatkan Lysa kembali. Dan satu satunya orang yang bisa melindungi Lysa dari itu semua adalah Mino. Ya, hanya Mino seorang.


Tidak lama setelah itu Lysa meletakkan kembali ponselnya ke atas nakas. Pusing kepalanya sudha banyak berkurang. Kepala Lysa tidak terasa seberat tadi. Namun, ia masih merasa sedikit sempoyongan ketika mau berdiri. Lysa pun berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya untuk berdiri dan berjalan menuju dapur. Di dapur, Mino yang telah selesai memesan makanan itu sedang menyalakan teko elektrik untuk menyeduhkan teh herbal untuk Lysa minum. Teh herbal sangat baik untuk meningkatkan data tahan tubuh dan kebugaran.


“Tunggu saja di sofa kalau masih merasa lemas. Aku sedang membuatkan minuman herbal untuk membuatmu sedikit bertenaga, jadi tunggu saja di sofa.” Mino yang sedang berdiri di seberang meja dapur itu menceletuk ketika melihat Lysa berjalan dengan sangat pelan dan tertatih tatih. Jarak sofa lebih dekat dari pintu kamar Mino. Jadi Mino ingin menyuruh Lysa untuk menunggu di sofa saja. Tapi Lysa tidak mendengarkan dan terus berjalan menuju dapur dengan tertatih tatih.


Mino yang melihat Lysa terus berjalan ke arahnya itu menghela napas ringan. Bukan Lysa namanya jika tidak keras kepala.


“Sudah kubilang tunggu saja di sofa jika masih lemas...”


Namun Lysa tidak mendengarkan Mino dan langsyung memeluk tubuh laki laki iu begitu tiba di hadapannya. Lysa memeluk tubuh Mino dengan sangat erat sambil menempelkan kepalanya pada dada bidang sang kekasih. Napas Lysa pun terdengar terengah engah di atas dada Mino. Mino yang tiba tiba mendapat pelukan manis dari Lysa pun menghela napas sangat ringan lalu tersenyum. Ia membalas pelukan Lysa ini sembari menggumam gumam.


“Kenapa tiba tiba kau memelukku? Apa kamu masih sangat merindukanku?” gumam Mino sambil terkekeh kekeh membalas pelukan Lysa. Tidak pernah sebelumnya Lysa memeluknya seerat dan semendadak ini. Biasanya Mino yang memeluk Lysa terlebih dahulu baru kemudian Lysa membalasnya. Dan kali ini, benar benar Lysa yang memeluk Mino setelah berjalan dengan tertatih tatih dari kamar tidur menuju ke dapur.


“Aku sangat merindukanmu. Setiap hari aku sangat merindukanmu.” Lysa bergumam pelan di pelukan Mino. Nada suaranya terdengar sangat sedih dan pilu.


Mino pun mengelus elus kepala Lysa. “Begitu kau masih bisa mengabaikan semua teleponku? Dasar gadis keras kepala.” Kemudian lelaki itu kembali memeluk Lysa dan mencium keningnya dengan lembut. Ia membiarkan Lysa memeluknya dengan sangat erat selama beberapa saat. Membiarkan Lysa meredakna semua kerinduannya terhadap Mino, sembari Mino menunggu air yang ia panaskan itu mendidih untuk menyeduh teh herbal.


“Maafkan aku. Mulai sekarang aku tidak akan meninggalkanmu,” ucap lirih Mino kepada Lysa yang ada di pelukannya. Dari pelukan gadis itu, seolah ia sedang mengatakan kepada Mino untuk tidak lagi meninggalkannya, untuk tetap berada di sisinya apa pun yang terjadi. Meski Lysa tidak membicarakan hal itu secara terus terang, Mino bisa merasakan apa yang sangat Lysa butuhkan saat ini. yaitu, keberadaannya.


Kepala Lysa perlahan lahan mendongak. Gadis itu menengadahkan pandangan, bertatap tatapan dengan Mino.


“Janji?” ujar Lysa meyakinkan.


Mino tersenyum getir. Merasa bersalah karena tidak ada di sisi Lysa ketika gadis itu sangat membutuhkannya. Dan mulai sekarang Mino berjanji, untuk tidak meninggalkannya.


“Aku berjanji.”


Setelah memberi jawaban yakin kepada Lysa, Mino menurunkan kepalanya. Mencium bibir Lysa yang sedikit kering karena efek samping obat yang dikonsumsinya. Mino mencium bibir gadis itu dengan lembut sambil memegangi pinggang Lysa yang ramping dan lehernya yang lembut. ******* bibir manis gadis itu dengan sangat pelan dan lembut seolah tidak ingin melukainya sedikit saja. Dan setelah beberapa saat mereka berciuman, terdengar bunyi ‘bip!’ dari teko elektrik pertanda air yang dipanaskan Mino sudah panas. Mino pun melepas ciumannya dengan Lysa. Menatap wajah gadis itu denan lekat. Menggunakan ibu jarinya, Mino mengusap pelan bibir Lysa yang basah akibat ciumannya. Menyeka bibir itu, kemudian mencium kening Lysa dengan lembut.


“Tunggulah di sofa. Aku akan menyeduhkan teh herbal untukmu, sambil kita menunggu pesanan makanan kita datang,” ucap Mino.


Tanpa banyak memprotes, Lysa menganggukkan kepala. Mengiyakan perkataan Mino kali ini.


“Baiklah.”


**