Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Kota Havana yang penuh gairah



Yebin POV


Suasana malam kota Havana sangat berbeda dari siang harinya. Setelah merasa lelah seharian berada di luar untuk merasakan keindahan negeri Kuba melalui salah satu kotanya yang eksentrik, Havana, aku dan suamiku kembali ke penginapan. Saat kembali hari sudah terasa sangat gelap. Aku yang merasa sangat kelelahan itu langsung tepar ke atas kasur. Ahh, hari ini memang menyenangkan. Aku beramain di luar sepuasku bersama suamiku sampai sampai aku merasa seolah tidak memiliki beban apa apa. Namun sekembalinya aku ke penginapan, hal itu terbesit di ingatanku. Bayiku. Bayiku yang telah hilang, aku kembali mengingatnya dalam keheningan waktu yang menghampiri. Di saat saat seperti ini, yang kurasakan hanya satu, kesepian. Aku merasa kosong. Aku merasa hampa. Paadal aku berada di tempat ini bersama suami yang amat aku cintai dan yang mencintaiku sepenuh hati.


Pikiran kosongku ini lama-lama membuatku terkantuk kantuk. Aku tertidur, saat suamiku masih membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Aku terlelap. Tak teringat apa apa sebelum akhirnya suamiku datang. Ia melepaskan semua pakaian yang membalut tubuhku. Membopongku ke kamar mandi untuk memandikan istri pemalasnya yang sangat kelelahan dan mengantuk ini.


Begitu selesai mandi, aku kembali terlelap. Sampai akhirnya aku terbangun pada pukul tiga dini hari. Tubuhku yang kemarin kelelahan pun kembali terasa sangat segar. Melalui tirai penginapan, kulihat kota Havana yang masih gelap. Suara hewan hewan serangga seolah menjadi satu satunya pengisi kota yang terlihat seperti kota mati saat hari gelap.


Suamiku saat ini masih tidur dengan memeluk punggungku. Kadang kadang aku merasa suamiku yang mulai menua itu mnjadi seperti anak anak yang merindukan pelukan ibunya. Ia memeluk pungungku dengan amat erat seolah tak ingin melepaskannya begitu saja.


Aku mengelus ngelus tangan kekar suamiku yang bersemayam di atas perutku. Sepertinya ia menyadari kalau aku sudah terbangun dari tidur. Tangan suamiku yang mula hanya memeluk perutku itu kemudian bergerak menyusup ke dalam pakaianku. Meremas remas sesuatu di balik pakaianku yang tak tertutupi bra.


“Sayang, kau sudah bangun?” bisikku pelan di telinga suamiku.


Kulihat ia perlahan lahan membuka mata. Kemudian terseyum. Aku yang semula tidu memiring membelakanginya, perlahan membalik badan untuk menatap suamiku. Tangannya yang meremas dadaku itu mengikuti gerak tubuhku selama beberapa saat.


“Kau tidur nyenyak?” tanyanya.


“Tentu. Aku bisa tidur nyenyak karena Sayang sudah memandikanku. Rasanya semua lelahku sudah hilang,” jawabku selagi merapikan rambut suamiku yang berantakan.


Oppa terdiam dalam waktu lama. Menatapku dalam keheningan. Sorot matanya yang dalam itu selalu menjadi obat penenang untukku. Tidak peduli seberapa berat aku menjalani hariku sejak bayiku mengilang dari kandungnku, aku selalu merasa mendapat kekuatan baru dari sort matanya yang hangat itu.


“Yebin, kau masih sering bersedih?”


Aku sejenak terdiam sebelum menjawab pertanyaannya. “Kadang, aku masih merasa sangat kosong. Hanya kadang kadang, saat aku tidak memiliki apa pun untuk dipikirkan.”


“Semalam kau merasa kosong?”


“Se... dikit.”


“Aku sangat kaget semalam. Begitu aku selesai mandi, aku melihatmu terbaring sambil memejamkan mata dan menangis. Aku kira kau kenapa. Tapi ternyata kau sudah tidur. Kau tidur tengkurap sambil menagis.”


Suamiku itu bercerita dengan wajahnya yang menyiratkan kesedihan. Ia tampak sangat pilu menatapku.


“Maafkan aku, Sayang. Harusnya aku menjadi istri yang kuat. Harusnya aku tidak menangis menyedihkan seperti itu.”


Saat aku berkata penuh sesal, Oppa menggelengkan kapala. Ia menyeka wajahku dengan salah satu tangannya yang telah keluar dari sela sela pakain tidurku.


“Jangan berkata begitu. Aku menikahimu tidak untuk memberimu beban apa pun, termasuk menjadi tetap kuat di saat saat seperti ini. Saat ingin menangis, menangislah. Saat bahagia, tertawalah sepuasmu. Aku akan tetap ada di sisimu apa pun keadaannya. Kau adalah istri yang baik untukku. Sudah sewajarnya kau menangis saat kehilangan bayi yagn kau kandung. Itu artinya kau sangat menyayangi bayi kita, makanya kamu merasa sangat sedih saat kehilangannya dan bahkan menangis. Menangis bukan berarti kamu rapuh dan lemah, Yebin-a, kau hanya terluka karena rasa sayangmu yang teramat dalam.”


Aku mencerna semua ucapan suamiku dengan baik. Perasaanku ini sangat bahagia mendengar suamiku yang sangat mengerti tentang perasaanku. Selain ibuku, manusia yang paling memahami dan mengerti aku adalah suamiku.


Hatiku ini selalu merasa tenang dibuatnya. Suamiku mengenalku lebih dari siapa pun. Aku yang merasa haru ini memberinya sebuah kecupan hangat di bibir.


“Terima kasih sudah memahamiku, Sayang. Aku akan tumbuh menjadi istri yang lebih baik lagi untukmu. Dan menjadi ibu yang lebih baik untuk anak anak kita nanti.”


Satu kecupan saja membangkitkan gairah. Suamiku yang sejak tadi sepertinya merindukan bercinta sebelum subuh itu tampak gairah tubuhnya sedang membangkit. Ia langsung membawaku dalam dekapan eratnya. Tangan kekarnya yang jahil itu mulai menjelajah masuk ke dalam sela sela pakaian bahkan masuk ke dalam celanaku. Aku tahu apa yang suamiku itu inginkan; bercinta. Sepertinya ia sangat menyukai bercinta sebelum subuh. Waktu yang paling sering kami gunakan untuk bercinta adalah sebelum subuh.


“Aku ingin melakukannya sebanyak dua kali. Setelah itu kita keluar untuk melihat matahari terbit. Bagaimana?”


Aduh... Kenapa ia malah meminta pendapatku? Kalau ingin melakukannya, ya lakukan saja. Kenapa menawariku segala? Entah mengapa rasanya sangat memalukan untuk mengiyakan begitu saja permintaannya itu. Aku ini kan perempuan. Aku memiliki rasa malu yang besar pada hal semacam ini. Ia bisa saja melakukan sebanyak yang ia mau tanpa memintai pendapatku. Astaga. Kenapa kadang suamiku ini menjadi sangat sopan?


Sama sepertinya, saat ini aku juga sedang bergairah. Suhu tubuhku memanas begitu saja dalam pelukannya. Apalagi dengan sentuhan sentuhannya pada daerah daerah sensitifku.


“Bagaimana? Kau setuju, Sayangku?”


Astaga. Ternyata lelaki ini masih menanti ku menjawab. Tanpa memberikan jawaban seperti yang ia inginkan, aku hanya menarik kepalanya untuk segera mencium leherku. Membaringkan tubuhku di bawahnya dan membenamkan kepalanya pada ceruk leherku yang harum.


Matahari terbit terlihat sangat indah. Namun aku bingung apakah matahari itu yang indah, atau keberadaan suamiku yang membuat matahari terbit itu terlihat sangat indah. Ini bukan pertama kalinya aku melihat matahari terbit di atas lautan. Tetapi yang kami saksikan bersama ini adalah matahari terbit paling indah yang pernah ada. Aku tidak tahu sejak kapan matahari bisa menjadi seindah itu di langit timur.


Begitu matahari terbit, kota yang seperti kota mati saat hari gelap itu kembali bersinar dengan orang orang yang memulai aktivitasnya di pagi hari. Di pagi hari inilah berbagai mata pencaharian dimulai. Para pedagang mulai mengluarkan barang dagangannya. Supir supir taksi mulai berkumpul disuatu tepat untuk mulai bekerha. Begitu pun para turis asing sepertiku yang langsung berhamburan di pusat kota seperti semut yang mencari gula.


“Kau ingin sarapan apa?” tanya Oppa yang berjalan sembari menggandeng tanganku.


“Apa saja terserah. Yang peting sesuai dengan lidahku.”


Kami pun berhenti di sebuah restoran dekat keramaian penjual baju dan souvenir. Berhenti di restoran untuk melakukan sarapan pagi sebelum memulai perjalanan kami berkeliling Kuba.


Begitu Oppa masuk untuk memesankan makanan untukku, aku teduduk di salah satu kursi pengunjung yang berada di teras restoran. Restoran ini memiliki interior yang sederhana. Areanya juga terbuka sehingga pengunjung sepertiku tetap bisa berpapasan dengan orang yang lalu lalang di jalan sempit ini.


Saat aku sibuk mengamati sekeliling dan menunggu Oppa kembali, seorang pemuda menghampiriku. Ah, aku tidak yakin apa harus menyebutnya pemuda. Karen kelihatnnya aku lebih muda darinya. Wajahnya tak terlihat tua. Namun juga tak terlihat lebih muda dariku.


“Apa nona ini juga orang Korea?” Begitu ia bertanya sambil mendudukkan tubuh tingginya berhadapan denganku.


Lelaki beramput pirang yang menggunaan bahasa korea dengan baik dan benar itu terlihat bukan seperti orang yang sopan. Ia langsung duduk di hadapanku tanpa bertanya seperti dahulu. Tetapi senyumnya terlihat begitu menawan meski tak semenawan senyum suamiku.


“Anda juga orang Korea?” tanyaku sopan.


“Hei.. tidak itu pakai bahasa seformal itu denganku. Kita kan masih sama sama muda.” Ucapnya dengan ceria.


Baiklah. Aku akan biarkn lelaki ini bertindak semaunya. Ia cukup tampan. Tidak. Seandainya saja aku belum memiliki Yul Oppa, aku pasti menganggap lelaki ini benar benar tampan. Tetapi karena aku telah memiliki suami, tidak ada satu lelaki pun di dunia ini yang lebih tampan dari Yul Oppa.


“Sepertinya kau lebih muda dariku. Apa kau datang kemari sendirian?” lanjutnya bertanya.


Aku mungkin bisa memahami keinginannya untuk bisa mengakrabkan diri. Tetapi melihatnya terus terusan memperlihatkan senyum seperti itu membuatku tidak nyaman.


“Aku datang bersama seseorang.” Aku menanggapinya untuk sekadar menjaga kesopanan. "Ngomong ngomong, kau orang Seoul? Kemari untuk liburan?”


“Ya. Aku orang Seoul. Aku datang kemari untuk urusan pekerjaan.” Begitu menjawab pertanyaanku, ia kembali menyahut. “Jalan ini sangat ramai. Aku sering berpapasan dengan orang Korea yang sedang berlibur di jalan ini.”


“Ya. Memang ramai,” sahutku sambil merapikan ikat rambutku yang melonggar.


Di kesempatan ini, sepertinya lelaki berambut pirang itu melihat sesuatu yang bersinar di jari manisku.


“Sayang sekali, rupanya kau sudah menikah.”


Jujur saja. Aku terkejut mendengarnya berkata seperti itu. Tetapi aku berusaha untuk terlihat tenang dan tidak panik.


Setelah mengatakannya, ia beranjak dari duduk sambil mengambil sesuatu dari dompetnya. Selembar kartu berwarna hitam, ia ulurkan kepadaku. Itu adalah kartu namanya. Ia memberikan kartu itu kepadaku sambil berkata, “Tapi aku tidak peduli sekalipun kau sudah menikah. Kuharap kita punya satu kesempatan lagi untuk bertemu ketika sampai di Korea.”


Aku sungguh tercengang dibuatnya. Dan ia langsung beranjak pergi begitu saja tanpa memperhatikan raut wajah heranku.


Leo Park. Nama itu tertulis di dalam kartu nama yang diberikannya. Di bawah nama itu juga tertera profesinya sebagai konsultan bisnis. Aku masih sibuk memperhatikan kartu namanya ini sebelum mendengar orang orang terteriak padaku menggunakan bahasa spanyol yang tidak bisa kumengerti.


“Hei! Awas di atas kepalamu!”


Di antara semua teriakan orang orang yang tidak bisa ku mengerti itu, aku mendengar pemuda berambut pirang itu berteriak. Ia menunjuk atas kepalaku. Membuatku ikut mendongak.


Mataku seketika terbelalah. Dari lantai paling atas, terlihat pot bunga berisi tanaman hijau jatuh. Pot hitam yang terlihat cukup berat itu jatuh dari atap bangunan. Nyaris mengenai kepalaku sebelum akhirnya pemuda itu mendorong kursi kayu yang kududuki. Aku pun jatuh tersungkur bersamanya. Kami jatuh berguling di atas tanah yang lembab bersama. Lalu sedetik kemudian pot itu jatuh dengan keras dan pecah mengenai tanah. Suara ‘pyarrr!’ yang sangat keras itu membuatku kaget setengah mati. Pecahan dari pot dan tanah di dalamnya mencuat cuat keluar mengotori kakiku. Saat itulah aku melihat suamiku keluar dari restoran. Ia membelala kaget melihatku jatuh tersungkur dan nyaris saja celaka karena pot itu. Yang tak kalah membuatku kaget lagi adalah... aku yang sedang meringkuk di dalam pelukan lelaki muda ini untuk berlindung.


Oh, tidak....