Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Hubungan Abstrak



Bab 3


“Laki laki yang tadi itu siapa?”


Di sela kegiatan menyetir mobil, Brian


melontarkan satu pertanyaan kepada Lysa yang sedang sibuk mencari cari sesuatu


di layar ponselnya. Seketika, pertanyaan Brian tadi membuat Lysa menolehkan


kepala.


“Ajeossi tadi? Ah, bukan siapa siapa. Kami bertemu


pertama kali hari ini karena sebuah peristiwa.” Lysa menjawab tanpa banyak


berpikir. Kemudian pandangannya kembali pada ponsel yang ada di genggamannya.


“Begitu rupanya. Kukira kau memiliki


kekasih tanpa kuketahui,” ucap Brian selagi fokus berkendara.


“Kenapa? Apa aku tidak boleh memiliki


kekasih?” sahut Lysa.


“Tentu boleh, itu hak mu. Tetapi alangkah


baiknya jika kau menceritakan padaku jika memiliki kekasih. Supaya aku juga


bisa menimbang apakah lelaki itu baik untukmu atau tidak.” Brian berucap seperti


seorang kakak yang menjaga adik perempuannya dengan baik.


“Tcih. Sam, apa kau tahu? Kau itu sudah


seperti kakakku saja jika sampai mengurusi masalah percintaanku.” Lysa


menggumam gumam pelan sambil terkekeh mendengar kata kata Brian yang terdengar


benar benar seperti seorang kakak yang baik untuknya.


Lysa memang senang memiliki seorang seperti


Brian yang bisa dia andalkan dan bisa menjaganya dengan baik. Ia juga sangat


senang ketika Brian menjaganya selayaknya seorang kakak yang menjaga adik


perempuannya dengan baik. Namun, di dalam sudut hati terdalam Lysa, ia


merasakan kegetiran mendapat perlakuan Brian semacam itu. Karena, bagaimana pun


juga, Brian adalah laki laki yang pernah membuat Lysa jatuh cinta untuk pertama


kalinya.


Keduanya sudah mengenal satu sama lain


cukup lama. Sejak Lysa berumur sepuluh tahun sampai kini ia berusia dua puluh


dua tahun. Dua belas tahun mereka saling mengenal. Dan Brian adalah cinta


pertama Lysa. Laki laki yang pertama kali menggenggam tangan Lysa dan membuat


jantungnya berdebar debar. Brian juga yang selalu bisa Lysa andalkan dalam


segala hal. Bukan hal yang wajar jika sampai Lysa jatuh cinta pada Brian. Karena


Brian selama ini memperlakukannya dengan baik. Sejak mereka tinggal di


Yogyakarta, dan sampai kini mereka berdua sama sama tinggal di Seoul, Brian


selalu bisa menjaga Lysa dan menjadi orang yang sangat bisa Lysa andalkan.


Cinta pertama Lysa memang tidak berakhir


dengan baik. Brian tidak pernah memandang Lysa sebagai seorang wanita. Brian


menyayangi Lysa, menjaganya dengan baik, dan memperlakukannya dengan baik


sebagai seorang kakak laki laki kepada adik perempuannya. Lysa tidak lebih dari


adik perempuan untuk Brian. Dan Lysa mengerti hal itu sehingga ia bisa


berlapang dada ketika pernyataan cintanya kepada Brian mendapat penolakan halus


dari sang lelaki. Karena Lysa menyadari betul, hubungan mereka bukanlah seperti


laki laki dan perempuan, tetapi seperti kakak laki laki dan adik perempuannya. Sehingga


ia telah mempersiapkan diri sebelumnya dan dapat menerima penolakan Brian


dengan berlapang dada.


Lysa menyatakan perasaannya kepada Brian


ketika usianya tepat memasuki dua puluh tahun. Ketika itu Lysa memiliki cukup


keberanian untuk mengungkapkan semua perasaan terpandamnya kepada Brian. Tetapi


Brian menolak dengan lembut pernyataan cinya Lysa karena ia ingin tetap


menjalin hubungan yang baik dengan Lysa sebagai kakak laki laki untuknya, bukan


sebagai kekasih. Sehingga sejak saat itu pula hubungan mereka menjadi sangat


jelas; kakak laki laki dan adik perempuan. Dan itu berlanjut sampai detik ini. Di


mana keduanya tak memiliki perasaan terpandam satu sama laind an memilih untuk


tetap menjadi adik dan kakak seperti yang Brian dan Lysa sendiri inginkan. Karena


untuk Lysa sendiri, ia juga tak ingin kehilangan sosok laki laki dewasa seperti


Brian yang bisa ia jadikan sandaran ketika sedang lelah. Walau pun hanya


sebagai adik, Lysa merasa lega karena tetap memiliki hubungan baik dengan


Brian.


Lupakan apa yang pernah terjadi di waktu


Lysa menginjak usia dua puluh tahun itu. Sekarang, Lysa telah nyaman bersama


Brian sebagai adiknya. Yah, meski di sudut hati terdalam gadis itu masih


memiliki setitik harapan untuk dipandang sebagai ‘wanita’ oleh Brian dan


bukannya adik perempuan.


“Tapi, kita mau ke mana Sam?” tanya Lysa


kemudian. Ia kira Brian akan berada di kampus sampai larut malam karena


pekerjaannya. Tetapi, lelaki itu pulang lebih cepat dari yang Lysa kira.


“Ayo kita makan daging. Bukannya kau tadi


bilang ingin makan daging?” kata Brian.


“Benar, aku ingin makan daging tadi. Tapi aku


sudah kenyang makan daging sapi.”


Kening Brian mengernyit. Ia menoleh sekilas


kepada Lysa sebelum kembali konsentrasi mengemudikan mobil.


“Kau sudah makan daging?” tanya Brian.


“Hmm. Secara kebetulan, ada orang baik hati


yang kasihan melihatku kelaparan dan akhirnya membelikanku daging,” jawab Lysa


tak acuh.


“Hei, Kim Lysa. Kenapa kau menerima makanan


dari sembarang orang? Bagaimana jika orang itu punya modus tertentu dan ingin


mencelakaimu?” omel Brian.


Mendengar omelah lelaki itu, kepala Lysa


sontak menoleh. “Lalu aku harus bagaimana, Sam? Aku sangat kepalaran dan hanya


bisa berkeliaran di pinggir jalan. Ketika ada orang yang berbaik hati padaku,


bagaimana aku bisa menolak? Benar. Aku memang tidak memiliki harga diri karena


menerima makanan dari orang yang tidak kukenal. Tapi paling tidak, aku bisa


bertahan hidup dengan cara seperti itu!”


Lysa berkata dengan tegas, bersama segenap


emosi yang ia perlihatkan pada Brian. Ia hanya merasa heran pada pria itu yang


katanya hari ini sangat sibuk sehingga tidak bisa meluangkan waktu untuk makan


bersamanya, namun tiba tiba muncul seperti hantu dan mengajak Lysa makan daging


di hari ulang tahunnya.


“Kenapa kau tidak berkata padaku kalau


tidak punya uang untuk makan siang? Harusnya kamu bilang ke aku, Lysa,” ucap


Brian.


“Kalau aku bilang, apa Kau akan memberiku


uang?” sahut Lysa dengan nada suara yang meninggi.


“Ya. Aku bisa memberimu uang untuk makan


siang. Kalau perlu kau bisa meminta uang saku padaku.” Brian berucap.


Pandangan Lysa yang memperlihatkan rasa


marah itu tertuju pada Brian yang mengatakan hal itu dengan begitu mudahnya. Saat


ini suasana hati Lysa sungguh buruk. Benar benar buruk.


“Sam tidak perlu memberiku uang saku. Aku bukan


pengemis.” Lysa menceletuk geram. Sungguh. Ia tidak suka diperlakukan oleh


Brian dengan seperti itu. Seolah olah Brian yang menanggung semua beban


kehidupan Lysa. Lysa sungguh tidak menyukainya. Ia membenci hal itu.


Terdengar helaan napas panjang dari Brian


yang merasa perkataannya itu telah disalahpahami oleh Lysa. Sikap Lysa tidka


pernah berubah sejak kecil. Mudah salah pahan dan mudah marah. Brian yang


mengenal Lysa selama dua puluh tahun, merasa bahwa menghadapi sikap Lysa yang


sangat mudah salah paham itu bukanlah hal yang teramat sulit.


“Bukannya begitu, Kim Lysa. Aku hanya ingin


membalas kebaikan ayahmu. Dulu, saat bisnis ayahku bangkrut, satu satunya orang


yang menolong ayahku adalah Paman Kim, ayahku. Jadi jangan kira bahwa aku


melakukan itu semua karena merasa kasihan padamu. Aku melakukannya untuk membalas


budi. Aku ingin membalas semua kebaikan ayahmu, dengan memperlakukanmu dan


ayahmu dengan baik. Hanya ini yang bisa kulakukan. Berkat kebaikan ayahmu dulu,


keluargaku bisa bertahan hidup sampai sekarang.” Brian bercerita panjang lebar dengan


pembawaannya yang tenang. Ia ingin meredam amarah yang Lysa rasakan karena


kesalah pahaman yang terjadi.


Lysa mengembuskan napas panjang panjang. Lalu


menggerutu, “Bagaimana pun, bagaimana kau bisa meminta uang saku padamu, Sam? Aku


juga punya harga diri.”


Brian terkekeh kekeh. “Kau busa


menghilangkah harga dirimu di hadapan orang yang tidak dikenal tetapi tidak


bisa menghilangkan harga dirimu di hadapanku?”


“I... itu....”


“Yang penting aku sudah mengatakan hal ini.


Terserah kau mau melakukannya apa tidak. Aku hanya merasa tidak


berperikemanusiaan saja jika membiarkanmu kelaparan.” Brian menyela kalimat


Lysa yang terbata bata.


“Siapa yang membuatku kelaparan dengan


membatalkan janji begitu saja? Dan kenapa kau sudah pulang dari kampus? Katanya


Sam ada banyak urusan di lab.” Lysa menyerobot.


“Ya. Aku ada banyak sekali urusan di lab


untuk risetku. Tapi aku tidak tega membiarkanmu merayakan ulang tahun


sendirian. Jadi aku meminta asistenku untuk mengerjakan beberapa pekerjaan


ringan dan nanti akan melembur untuk menyelesaikan semuanya. Apa sekarang kau


merasa puas?” celetuk Brian panjang lebar.


Di kursi penumpang, Lysa yang mendengarkan


jawaban panjang itu, tersenyum sipu dengan kedua pipinya yang memerah seperti


saus tomat. Ia tak dapat menahan rasa senang yang ia rasakan dalam benak. Meski


pun Brian terlihat sangat dingin dari luar, kenyataannya lelaki itu sangat


penuh perhatian.


Tak mendengar respon apa apa dari Lysa,


kepala Brian pun menoleh.  Ia mendapati


gadis itu tersenyum aneh dengan kedua pipi yang bersemu merah. Terlihat begitu


menggemaskan.


Lelaki itu terkekeh kekeh melihat Lysa


tersipu mendengar jawabannya yang ia rasa biasa saja. Kemudian ia lanjut


bertanya, “Jadi, kau masih mau makan daging atau tidak?”


Sudah pasti, itu bukan pertanyaan yang


perlu Lysa pikirkan lagi jawabannya. Namun ia ingin terlihat sedikit berpikir


dan mempertimbangkan sebelum memberikan jawaban kepastikan kepada lelaki yang dipanggilnya


dengan sebutan Sam itu.


“Sebenarnya aku tadi sudah cukup kenyang


memakan daging sapi panggang. Tapi isi perutku kembali kosong setelah aku


berjalan sejauh dua kilometer. Jadi, energiku harus diisi kembali sebelum aku


jatuh pingsan. Ya kan Sam?” kata Lysa.


Untuk kedua kalinya, Brian terkekeh kekeh


mendengar jawaban Lysa yang terdengar begitu polos dan lugu. Sebenarnya ia


sudah menebak apa jawaban dari Lysa.


Seketika mendengar jawaban dari Lysa, Brian


menyesali. Ah, seharusnya dia tidak perlu bertanya dan langsung saja membawa


gadis itu ke restoran daging sapi untuk makan sepuasnya sampai kenyang. Hahaha.


**


ketika Lysa pulang dengan diantarkan Brian menggunakan mobilnya. Waktu yang


mereka habiskan untuk merayakan ulang tahun bersama di restoran daging sapi


rupanya cukup lama. Dari hari masih tampak terang samai matahari terbenam. Keduanya


menghabiskan waktu bersama dengan mamakan berbagai olahan daging sapi kesukaan


Lysa.


“Hati hati, Sam! Jangan melembur sampai


malam. Aku tidak kau tanggung jawab kalau sampai kau sakit gara gara melembur


karenaku,” seru Lysa begitu turun dari mobil Brian. Tangannya melambai lambai


kepada Brian yang masih duduk manis di dalam mobil.


“Jangan khawatir. Aku akan segera pulang


kalau pekerjaanku di lap sudah selesai. Dan meski pun aku sakit karena


melembur, aku tidak akan meminta pertanggung jawaban darimu, Nona Kim.” Brian


menceletuk sambil tertawa ringan menanggapi kata kata tidak masuk akal Lysa


yang membuat benaknya tergelitik.


“Baiklah.Daa!”


Begitu Lysa melambaikan tangan untuk yang


kesekian kalinya kepada Brian, laki laki itu pun menaikkan jendela mobilnya. Lalu


melajukan mobilnya menjauh dari hadapan Lysa. Melaju ke arah utara, menuju


geudng labolatorium biologi untuk menyelesaikan pekerjaanya di sana. Asrama


yang ditempati Lysa itu berada di area dalam kampus, karena masih menjadi


bagian dari kampus itu sendiri. Sehingga Brian tidak perlu keluar lagi dair


pintu gerbang, dan tinggal melajukan mobilnya beberapa ratus kilometer menuju


labolatorium biologi.


Sekepergian Brian, Lysa yang perutnya sudah


kenyang itu masuk ke dalam asrama. Masuk ke salah satu ruangan kamar yang


ditempati oleh tiga orang mahasiswa lainnya. Satu kamar asrama ditempati oleh


empat mahasiswa yang terdiri dari dua teman satu angkatan dengan Lysa dan satu


orang kakak senior yang menjadi ketua asrama.


“Lysa! Kau habis kencan dengan Mr Brian ya?”


Seketika celetukan itu terdengar begitu


Lysa masuk ke dalam asrama. Gadis yang menceletuk itu tidak lain adalah Mira,


teman satu kamar Lysa yang dari jurusan Bahasa Korea. Tempat tidur gadis itu


berada di atas Lysa, mereka tidur di kasur bertingkat.


Sejujurnya Lysa sedikit tersentak mendengar


celetukan itu. Namun ia hanya tersenyum dan berjalan ke kasurnya untuk


membaringkan tubuh.


Sudah menjadi rahasia umum lagi tentang


kedekatan Lysa dengan Brian. Terutama untuk teman satu kamar Lysa dan teman


satu kelasnya yang hampir setiap hari melihat Lysa dan Brian mengobrol bersama.


Keduanya memang terkenal dekat. Namun, semua orang juga tahu bahwa hubungan


Lysa dengan Brian itu seperti keluarga, dan bukan hubungan romansa. Pun yang


pertama kali mengenalkan Lysa untuk masuk ke dalam asrama ini adalah Brian. Sehingga


semua penghuni asrama pun tahu bahwa Lysa memang memiliki hubungan keluarga


yang cukup dengan dengan seorang pengajar universitas (dosen biologi) yang


sekaligus menjadi peneliti di kampus mereka.


“Tidak. Aku hanya keluar bersama Sam untuk


membeli makan.” Lysa menanggapi celetukan temannya dengan ringan.


Mira yang semua tiduran di atas kasur


atasnya itu tiba tiba melongokkan tubuh untuk melihat Lysa di kasur bawah.


Dari kasur atas terlihat wajah putih dengan


dua lubang di bagian mata. Membuat Lysa terkejut untuk kedua kalinya. Mira yang


sedang memakai masker wajah itu menatap Lysa penasaran dari atas kasur


bertingkatnya.


“Aku sangat penasaran, sebenarnya


hubunganmu dengan Mr Brian itu apa? Kukira kalian keluarga, tapi kudengar dari


teman teman kalau kalian tidak terikat sebagai keluarga. Terlebih, marga kalian


juga berbeda. Mr Brian tidak memiliki marga Korea sedangkan kau bermarga Kim


seperti ayahmu. Jadi, hubungan kalian itu apa sebenarnya?” tanya penasaran


Mira.


Pertanyaan Mira, yang mewakili rasa


penasaran dua teman lainnya yang tinggal di kamar ini, membuat Lysa mendesah


panjang dan ringan selagi masih berbaring di atas. Baik. Mungkin banyak orang


yang penasaran akan hal itu. Entah bagaimana, Lysa merasa memahami mengapa


semua temannya sangat penasaran akan hubungannya dengan Brian. Alasannya hanya


satu. Yaitu, karena Brian sendiri sangat populer di kalangan mahasiswa. Banyak mahasiswa


yang ke-baper-an saat diajar oleh


Brian. Dan bahkan ada yang rela mengikuti kelas biologi meski bukan dari


jurusan Biologi, hanya untuk melihat wajah dosen mereka yang masih mudah dan blesteran


Amerika.


“Kami tidak memiliki hubungan apa apa.


Hanya... hanya, bagaimana aku menggambarannya ya? Aku kenal Sam sudah lebih


dari sepuluh tahun, sejak aku berusia sepuluh tahun. Dan kami sangat dekat


seperti kakak adik. Jadi, ya semacam itulah hubunganku dengan Sam,” jelas Lysa


sambil memikirkan bagaimana mengatakannya dengan tepat kepada teman temannya


yang penasaran.


“Ah, begitu rupanya. Pantas saja yang


mengantarmu ke asrama ini pada waktu itu adalah Mr Brian. Kukira kau kekasihnya,


atau benar benar adik kandungnya.” Mira menyahut dengan bergumam gumam.


“Lysa ya, aku sungguh penasaran. Apa arti


dari panggilan Sam yang kau berikan pada Mr Brian itu?” sahut Dahye yang sedang


ada di depan meja rias. Dahye adalah senior dari jurusan Biologi yang menjadi


ketua asrama. Wanita cantik berambut panjang itu sedang mengoleskan beberapa


krim wajah ke wajahnya yang bersih setelah mandi.


“Sam?” Lysa menyahut sambil berpikir.


Ia memikirkan kembali apa arti panggilan


Sam yang selalu ia gunakan untuk memanggil Brian. Dan ia pikir, tidak ada arti


khusus di balik panggilan Sam yang ia sematkan pada lelaki itu.


“Entahlah, aku tidak yakin kalau panggilan


itu memiliki arti khusus. Aku bahkan tidak ingat kenapa aku memanggilnya dengan


sebutan Sam. Yang kutahu, Sam yang membuatku ingin sekali pergi ke negeri ‘Paman


Sam’.”


Keesokan paginya, Brian mengirimkan pesan


teks kepada Lysa. Pesan teks berisi ajakan bertemu untuk makan siang nanti itu


datang tepat ketika Lysa melangkah masuk ke kelas perkuliahan pada pagi hari


ini.


Tidak biasanya lelaki itu mengajak Lysa


makan siang bersama terlebih dahulu. Biasanya, Lysa yang menghampirinya dan


merengek mengajaknya makan siang bersama karena Lysa tak punya uang. Tumben


sekali. Membuat Lysa sangat penasaran, kenapa laki laki itu tiba tiba


mengajaknya makan siang.


Begitu memasuki jam makan siang, Lysa


bergegas keluar dari perpustakaan tempatnya mengerjakan tugas kuliah selama


berjam jam. Ia keluar dari gedung perpustakaan itu. Berjalan menuju


labolatorium biologi untuk menemui Brian yang berkata ada di sana untuk


mengerjakan sedikit pekerjaan yang tersisa.


Di depan pintu labolatorium, terlihat Brian


yang sedang bercakap cakap dengan seorang mahasiswa biologi. Oh, bukan sekadar


mahasiswa rupanya. Tetapi wanita yang Lysa kenal itu adalah asisten


labolatorium tempat Brian bekerja. Tidak salah lagi, wanita bernama Kang Dahye


yang di mana mana dibutuhkan karena kepintarannya itu, merupakan salah satu


dari tiga asisten labolatorium yang membantu pekerjaan Brian dan juga


penelitiannya.


“Oh, kau sudah datang?”


Begitu mendapati keberadaan Lysa yang


berjalan mendekat, brian menceletuk. Kepalanya menoleh pada Lysa yang berjalan


dari kejauhan. Kemudian lelaki itu menyerahkan mapnya kepada Dahye dan  berkata, “Sisanya akan kuperiksa nanti. Kau


sudah bekerja keras, Asisten Kang.”


“Ya, Mr.”


Dahye yang sempat beradu pandang dengan


Lysa itu terseyum. Sebelum akhirnya berlalu pergi dengan menenggelamkan dirinya


ke balik pintu labolatorium.


“Tumben sekali kau mengajakku makan siang,


Sam. Ada apa?” cetus Lysa begitu tiba di hadapan Brian.


Ada yang berbeda dari wajah Brian hari ini.


Lelaki itu tampak lebih ceria dari biasanya. Senyum di bibir dan sudut matanya


itu yang membuat kesannya hari ini tampak berbeda. Brian tersenyum kepada Lysa


selagi menjawab pertanyaan Lysa dengan ceria.


“Kita akan pergi ke sebuah tempat hari ini.


Kau pasti juga akan senang. Ayo!”


**


Di tempat lain, di ruang bos kafe Moonlight


yang ada di Gangnam, lelaki bernama Han Mino sedang berhadap hadapan dengan


Moon Yul, bosnya. Keduanya berada dalam situasi yang tidak biasa dan sedikit


mencekam.


Yul terdiam cukup lama, dengan wajah ramahnya


yang hari ini terlihat misterius. Melihat sepucuk surat pengunduran diri dari


salah satu anak buah kesayangannya.


“Mino ya, aku sama sekali tidak mengerti


kenapa kau menyerahkan surat pengunduran diri ini padaku.” Yul mendesus setelah


cukup lama terdiam untuk mencerna situasi aneh yang terjadi ini.


Di atas sofa hadapan Yul, Mino yang raut


wajahnya terlihat sangat sendu itu menjawab dengan berat hati. Sungguh berat.


“Aku ingin mengundurkan diri, Bos Moon. Terima


kasih atas semua kebaikanmu selama ini,” ucap Mino.


Seketika terdengar helaan napas panjang


dari laki laki yang dipanggilnya bos itu. Mino merasa berat hati kepada Yul. Selama


ini bosnya itu telah memperlakukannya dengan baik, memberikan banyak kesempatan


kepada Mino untuk terus berkembang. Dan memberikan gaji yang cukup besar dengan


segala fasilitas yang menyertai. Namun terlebih dari gaji dan semua fasilitas


itu, Yul memperlakukan Mino dengan sangat baik tanpa memandang latar belakang


yang Mino miliki. Yul sepenuhnya hanya melihat Mino dari kinerja yang


dilakukan, bukan dari latar belakang Mino yang biasa saja. Selama ini Yul telah


memperlakukannya dengan baik dan memberinya kepercayaan penuh untuk mengelola


Moonlight Coffe sementara dirinya sendiri fokus pada hal lain.


Yul menarik napas panjang panjang. Lalu


mengambil surat pengunduran diri yang diserahkan Mino.


“Kau ingin aku bagaimana dengan surat


pengunduran diri ini, Mino ya?” tanya Yul dengan tatapan sendunya kepada Mino. “Apa


kau sedang di situasi sulit? Kalau iya, aku akan memberimu cuti lebih lama


supaya kau bisa mengatasi kesulitanmu terlebih dahulu sebelum kembali ke kafe. Jadi


maumu bagaimana?” lanjutnya bertanya.


“Tidak, Bos. Aku ingin berhenti.”


**