
Bab 21
Sebuah kebenaran yang tidak terduga
Pada hari menjelang sore ini Lysa masih tampak sibuk menyiapkan minuman untuk para pelanggan kafe. Di balik meja minuman itu Lysa sedang bekerja keras untuk meracik minuman dan mengemas minuman minuman tersebut untuk diserahkan pada pelanggan.
Lysa mengambil sebuah botok yang telah terisi dengan kopi latte hangat tersebut dengan cekatan begitu alat pengisi minuman berhenti mencucurkan cairan manis ke dalamnya. Kemudian Lysa membawa gelas kaleng tersebut ke alat pres berlogo Moonlight Coffe dan menekan salah satu tuas untuk menutup botol kaleng kemasan minuman instan tersebut. begitu botol telah tertutup dengan rapat dan higienis, Lysa mengambilnya dari alat pengepres dan segera mengambilkan sedotan, untuk kemudian diserahkan pada seorang pelanggan yang telah menunggunya di balik meja minuman yang bersebelahan dengan kasir.
“Satu coffe latte hangat sudah siap.” Lysa berucap demikian selagi mencari yang mana pelanggan yang memesan satu botol latte hangat di hari menjelang sore ini.
“Terima kasih,” balas pelanggan tersebut sambil menerima botol minuman yang diulurkan oleh Lysa.
“Ya. Sama sama.”
Selama kurang lebih sepuluh menit kemudian Lysa masih melakukan hal yang sama. Menracik minuman berdasarkan pesanan yang masuk. Mengepres minuman minuman instan yang hendak di minum di luar kafe. Dan menyerahkan minuam tersebut pada pelanggan serta mengemasnya jika jumlah minuman yang dipesan lebih dari satu botol.
Lima menit setelah itu, Lysa akhirnya menyelesaikan pesanan terakhir yang masuk. Ia memberikan pesanan minuman yang telah ia kemas kepada pelanggan.
“Terima kasih,” kata pelanggan itu ketika menerima minuman yang Lysa berikan.
“Sama sama.”
Hfyuhhhh ....
Setelah kurang lebih dua jam melakukan pekerjaan itu, Lysa akhirnya memiliki jeda untuk beristirahat. Ia menarik napas panjang panjang dan mengembuskannya perlahan. Tubuhnya sangat lelah. Punggungnya terasa pegal, begitu pun kakinya. Tangan yang ia gunkan ratusan kali untuk menekan tuas pengepres kaleng minuman itu juga terasa kebas. Ia merelaksasi otot otot tubuhnya dengan cara memijit mijitnya perlahan sampai tidak terasa kebas lagi.
Ini waktunya untuk pergantian shif. Pekerjaan Lysa pada hari ini sampai di sini saja. Bekerja di hari sabtu merupakan bekerja yang paling lelah. Karena lelah dan pegal tubuh yang ia gunakan untuk bekerja sejak hari senin semua bertumpuk pada hari Sabtu. Sehingga pada hari Sabtu Lysa tidak berani mengambil shif malam karena bagaimana pun juga ia harus mengkhawatirkan tubuhnya.
“Waktunya pergantian shif. Kalian bisa segera istirahat jika orang yang yang bekerja menggantikan kalian sudah datang ya.” Asisten manajer sedang mengingatkan pada semuapegawai paruh waktu bahwa sekarang adalah waktunya pergantian shift. Kemudian ia menghampiri Lysa dan menepuk pundaknya.
“Lysa, setelah ini kau tidak ada shif lagi kan?” tanya asisten manajer pada Lysa yang baru saja melepas apron berwarna coklat muda berlogokan Moonlight Coffe.
“Ya, benar. Ada apa ya?” jawab Lysa, sekaligus bertanya.
“Manajer Han meminta kau datang ke sana setelah shif mu selesai. Katanya ada yang ingin dia katakan padamu. Jadi cepat cepatlah ke sana sebelum masuk pencatatan kedisiplinan. Manajer Han tak setoleran Bos Moon, jadi lebih baik kau hati hati saja dengannya.” Asisten Manajer mengatakan hal itu sambil berbisik kepada Lysa.
Meski sebenarnya Lysa tahu apa maksud laki laki itu memanggilnya ke kantor, Lysa hanya tersenyum ramah pada Asisten Manajer.
“Baik. Saya akan segera menemui Manajer Han sebelum kena marah olehnya,” jawab Lysa yakin.
“Benar. Cepat cepat ke sana.”
Tanpa menunggu aba aba lagi. Lysa pun segera meninggalkan tempat. Ia meletakkan apronnya di gantungan pakaian yang terletak di tembil belakang kasir. Kemudian naik menuju lantai dua. masuk ke dalam kantor Mino dengan mengetuk pintunya beberapa kali.
Tok tok tok.
“Masuk saja! Pintunya tidak aku kunci.”
Dari dalam ruangan terdengar Mino mengatakan kalimat itu dengan sangat tenang dan santai, seolah olah lelaki itu sudah tahu kalau yang mengetuk pintunya adalah Lysa.
Cklek.
Perlahan Lysa pum membuka pintu ruangan Mino. Mendapati lelaki itu sedang sibuk membaca sesuatu di atas kursi sofa dalam ruangannya. Begitu terdengar suara langkah masuk, kepala Mino langsung menoleh. Bibirnya otomatis membentuk lekukan yang indah, berupa senyuman manis kepada Lysa yang wajahnya terlihat begitu lelah.
“Kenapa kau selalu memanggilku ke sini, Ajeossi? Bukannya ini namanya penyalah gunaan kekuasaan? Kalau Ajeossi seperti itu terus, semua orang kafe akan curiga pada kita berdua dan akan timbul rumor rumor yang tidak ingin kuinginkan.”
Sambil berjalan ke arah pintu, Lysa menrutuk panjang lebar. Ia memasang raut wajah kesal kepada Mino yang terlalu sering memanggilnya ke ruangannya bahkan pada jam bekerja. Bukannya Lysa tidak merasa nyaman bersama Mino, hanya saja lelaki itu terlalu lihai sampai sampai Lysa merasa khawatir jika nantinya ia akan digosipkan yang tidak tidka oleh rekan rekan pegawai yang lainnya. Lysa belum lama bekerja di sini, bahkan belum mendapatkan gaji pertamanya sebegai pekerja paruh waktu. Dan jika sampai timbul rumor rumor yang tidak diinginkan, pasti suasana akan menjadi sangat canggung dan lysa tidak akan bisa bekerja dengan baik lagi di kafe ini.
“Baiklah, baiklah. Mulai minggu depan aku tidak akan memanggilmu lagi. Berhenti marah marah karena kau nanti akan semakin capek.” Mino seketika menyahuti celeutukan Lysa dari jarak beberapa meter. Di atas meja sofa, Mino telah menyiapkan satu gelas minuman dingin yang menyegarkan untuk Lysa. Lelaki itu pun menepuk sisi sofa sebelahnya dan berkata, “Duduklah sini. Aku sudah menyiapkan minuman untukmu.”
Ingin rasanya Lysa tertawa sekencang mungkin melihat Mino berkata sudah menyiapkan minuman yang menyegarkan untuknya. Padahal, yang menyiapkan minuman itu tadi adalah Lysa. Asisten Manajer berkata kalau Manajer Han menginginkan minuman dingin sehingga Lysa yang membuatkannya. Lalu diantarkan oleh Asisten Manajer ke ruangan kerja Mino. Dan ternyata, minuman yang disiapkan oleh Lysa itu adalah minuman yang disiapkan oleh Mino untuknya. Sungguh menggelikan sekali. Lysa sampai ingin tertawa lepas meski sebenarnya itu semua tidak lucu.
Seketika terdudk di sofa sebelah Mino, Lysa menceletuk, “Padahal aku masih ingat ketika aku menaruh dua sendok teh gula ke dalam minuman ini,” dengan nada menyindir. Ia tahu, dan kemungkinan besar Mino tahu, bahwa minuman itu adalah minuman yang dibuat oleh Lysa.
“Hahaha! Begitukah? Ahh, harusnya aku menyuruh Asisten Seo untuk menyiapkan minuman untukku. Kenapa dia malah menyuruhmu membuatkan minuman untukku? Aneh sekali.” Mino bergumam heran sambil tertawa garing, menertawakan dirinya sendiri yang telah bersikap sekonyol itu di sore hari yang cerah ini.
“Sudahlah, Ajeossi. Kau tidak perlu melakukan hal seperti ini padaku.” Lysa berucap demikian karena melihat Mino yang sepertinya berusaha terlalu keras untuknya.
Mino tersenyum lebar menanggapi kata kata Lysa itu. “Baiklah. Lain kali aku akan mengajakmu makan malam di luar saja,” ucapnya.
Bagaimana pun, Mino telah menyiapkan minuman ini untuknya. Sebenarnya ia tidak yakin apa Mino benar menyiapkan minuman ini, karena yang menyiapkan minuman ini adalah Lysa sendiri. Tetapi paling tidak Mino telah memikirkannya dengan memberikan minuman ini padanya seselesainya bekerja. Hal itu parut dihargai oleh Lysa.
Lysa pun mulai meneguk minuman segar itu. Seketika, teggorokannya yang kering terbasahi oleh minuman manis itu dan terasa segar. Seluruh tubuhnya terasa kembali segar di tengah rasa capek dan lelah yang ia rasakan setelah bekerja seharian.
“Emm, manis sekali.”
“Enak kan?” sahut Mino.
“Jelas enak, aku yang membuat.”
“Benar sekali. Hahaha!”
Lysa pun segera menghabiskan minuman itu karena terlalu haus. Kemudian meletakkan gelas korongnya ke atas meja sofa.
“Apa kau capek sekali?” tanya Mino melihat Lysa tampak sedang memijit mijit bahunya sendiri yang terasa pegal pegal setelah bekerja seharian. Wajah Lysa juga menunjukkan kalau ia sedang kelelahan.
“Kau butuh istirahat sekarang?” Mino kembhali bertanya.
Sebenarnya setelah ini mereka memiliki janji untuk menonton film bersama. Ini adalah hari Sabtu. Dan ini adalah waktu yangs angat pas untuk menonton film kesukaan Lysa yang akan tayang perdana pada hari ini. Sekaligus, Lysa ingin menggunakan satu tuket gratis yang akan Mino berikan sesuai janji mereka pada hari itu. Namun, keadaan tubuh Lysa tidak begitu mendukung untuk mereka bisa berkencan sehabis ini. Lysa benar benar merasa butuh istirahat. Ia merasa, kalau tidak segera istirahat sekarang juga, ia akan segera pingsan karena kelelahan.
Dengan berat hati Lysa mengatakan situasinya kepada Mino.
Tubuh Lysa perlahan menyerong ke arah Mino. Gadis itu menatap mino penuh rasa bersalah dan memohon. Lalu ia berucap dengan hati hati.
“Sepertinya aku butuh istirahat sekarang. Tubuhku capek sekali. Aku merasa sangat lelah dan ingin cepat cepat tidur. Tidak apa apa kan kalau menontonnya besok, atau kapan kapan saja?” ucap Lysa penuh permohonan.
Mino justru tersenyum melihat Lysa berkata dengan sangat hati hati seperti itu. Ia tahu, Lysa mengatakannya seperti itu karena tidak ingin menyinggung perasaannya dan membuatnya merasa tidak nyaman.
“Kalau begitu istirahatlah. Besok kita masih ada waktu untuk bertemu.”
Lysa merasa sangat berterima kasih karena Mino bisa memahami perasaannya dan mengerti situasinya. Gadis itu balas tersenyum penuh haru dan bergumam, “Terima kasih.”
Setelah itu Mino berdiri dari duduk. “Turunlah duluan. Aku akan mengantarmu ke asrama.”
“Tidak perlu. Aku bisa jalan kaki saja. Lagi pula asramaku tidak jauh kok.” Lysa buru buru menyanggah. Ia sudah membatalkan janjinya. Dan ia merasa sangat sungkan untuk diantar pulang oleh Mino yang telah berusha mengerti situasi dan keadaannya.
Mino tengah berjalan menuju tiang gantung pakaian untuk mengambil coat panjang dan memakainya. Kemudian ia mengambil kunci mobil sambil menceletuk kepada Lysa yang sempat menolah tawaranya untuk diantar pulang ke asrama.
“Aku hanya khawatir saja kalau kau tiba tiba pingsan di tengah jalan. Jadi tidak usah memprotes. Cepat turun dan ganti pakaianmu. Aku akan menunggumu di dalam mobil.”
Bahkan untuk terus menyanggah saja Lysa sudah tidka memiliki tenaga. Lysa pun menyerah untuk menolak. Karena, jujur saja. Ia sudah sangat lelah dan tidak bisa menjamin apakan dirinya nanti bisa sampai asrama dengan selamat. Ia juga mengkhawatirkan dirinya sendiri jika nanti tergeletak begitu saja di tengah jalan dan bangun bangun ia berada di ruang rawat inap rumah sakit.
Membayangkan saja sudah membuat Lysa merinding. Akhirnya ia pun menuruti ucapan Mino. Dengan lesu Lysa berjalan keluar meninggalkan ruangan Mino. Ia pergi ke ruangan pegawai. Mengganti seragam kafe yang dikenakannya dengan pakaian yang tadi ia kenakan ketika datang ke kafe. Lalu menyangklong tas punggung yang berisi seragam kafe yang kotor dan beberapa peralatan harian lainnya. Ia berjalan menuju pintu keluar kafe. Melihat mobil Mino yang terparkir di sudut kafe yang paling jauh.
Sebelum melangkah mendekat pada mobil Mino, Lysa terlebih dahulu menengok ke sekeliling. Memastikan tidak ada orang lain yang mengawasi dirinya dengan Mino. Begitu ia memastikan tidak ada orang lain di sekitar halaman kafe, Lysa pun berjalan mendekat ke arah mobil Mino. Membuka pintu penumpang bagian depan. Lalu melesat masuk ke dalamnya.
“Hyufff. Untung saja tidak ada yang memperhatikan kita.” Lysa menggumam gumam, seolah baru saja selamat dari paparazi.
“Memang mengapa kalau ada yang melihat kita? Toh, kau maupun aku bukan aktris yang suka bermain main dengan skandal.” Mino menyahut sambil menyalakan mesin mobil.
“Aku masih ingin bekerja dengan nyaman di kafe. Aku tidak mau kalau sampai ada rumor rumor tentang Ajeossi yang menjalin sebuah hubungan asmara dengan pegawai paruh waktu yang baru saaja bekerja dan bahkan belum mendapatkan gaji pertama,” cetus Lysa.
“Hahaha! Jadi itu yang kau cemaskan?”
“Salah satunya.
“Baiklah. Aku akan lebih hati hati.”
Lysa mengembuskan napas panjang panjang seketika tubuhnya bersandar pada kursi mobil Mino yang empuk seperti kapas. Punggungnya akhirnya menemukan tempat yang sangat nyaman. Lysa merasa tubuh bagian atasnya mendapatkan kenyamanan hanya dengan bersandar dengan tenang pada sandaran kursi mobil Mino.
“Setelah ini istirahatlah saja yang baik. Aku tidak akan mengganggumu. Tapi, begiu besok pagi terbangun, segeralah hubungi aku supaya aku bisa memastikan bahwa kau bisa bangun dari tidurmu yang panjang nanti.” Di sela kegiatannya mengemudi, Mino berkata demikian. Laki laki terlihat sangat memedulikan Lysa dan perhatian terhadapnya. Membuat Lysa merasa selalu bergarga terlepas dari bagaimana kondisi hidupnya yang masih berantakan.
Bagi Lysa, Mino adalah tipikal laki laki idaman yang hampir diiginkan oleh semua wanita di dunia ini. Memiliki pekerjaan yang mapan dan terpandang. Sikapnya sangat ramah dan baik pada semua orang. Ia bahkan sangat baik pada Lysa sejak pertemuan pertama mereka. juga perhatian dan merupakan laki laki yang sangat pengertian. Secara umum, sikap yang dimiliki Mino adalah sikap laki laki yang menjadi dambaan semua wanita Korea Selatan, bahkan termasuk Lysa. Namun, ada satu hal yang sangat Lysa bingungkan. Bagaimana, laki laki sebaik dan mendekati kata sempurnya seperti Mino itu ditinggalkan oleh kekasihnya yang memilih untuk bersama laki laki lain? Kalau wanita itu tidak bodoh, berarti ada yang aneh dengan selera wanita itu. Karena Lysa berpikir, jika ia mendapatkan laki laki seperti Mino, sampai titik darah penghabisan ia tidak akan melepaskannya. Ia hanya merasa heran saja bagaimana bisa Mino yang hampir tidak memiliki kekurangan itu ditinggalkan oleh wanita yang telah bersamanya selama bertahun tahun.
Sejujurnya Lysa merasa penasaran akan banyak hal pada Mino. Namun ia menekan rasa penasarannya karena tidak ingin menjadi beban baru daam hidup Mino. Lysa hanya meyakini satu hal. Bahwa perlahan lahan ia akan mengenal Mino lebih dalam dan lebih dalam lagi. Sehingga tidak ada sedikit pun keraguan yang ia rasakan.
“Yep! Baiklah, Ajeossi.” Lysa menjawab dengan menceletuk permintaan Mino tadi.
Jarak kafe dengan kampua Lysa hanya beberapa ratus meter. Hanya membutuhkan waktu sekitar dua sampai tiga menit saja untuk Mino sampai di depan pintu gerbang kampus.
Tidak lama kemudian Mino telah sampai di depan pintu asrama Lysa. Perlahan, Mino pun menghentikan laju mobilnya dan segera menoleh pada Lysa yang saatnya turun.
“Terima kasih, Ajeossi.”
“Istirahatlah yang baik.
“Hm.”
Sambil mengangguk anggukkan kepala, Lysa mengiyakan ucapan Mino. Ia melepas sabuk pengaman dan segera turun dari mobil Mino.
Lysa berjalan menuju depan gerbang asramanya. Lalu melambai lambaikan tangannya pada Mino di dalam mobil.
“Berkendaralah dengan hati hati, Ajeossi. Aku akan menghubungimu besok!” seru Lysa sambil melambaikan tangan.
Dari dalam mobil Mino menganggukkan kepala. Dan begitu ia melihat Lysa masuk ke dalam asrama, Mino pun kembali melajukan mobilnya menjauhi asrama. Menuju pintu gerbang kampus untuk keluar.
Tetapi pemandangan aneh membuat Mino menghentikan sejenak mobilnya di jarak sekitar sepuluh meter dari pintu gerbang. Mino menghentikan mobilnya karena terlalu terkejut dengan pemandangan yang tersaji jauh di hadapannya.
Di deka pintu gerbang, terlihat sesosok wanita berdiri di depan mobil berwarna biru yang terlihat familiar untuk Mino. Benar. Mobil itu adalah mobil dari laki laki yang Lysa sapa dengan sebutan ‘Sam’. Mino tidak tahu siapa nama laki laki itu, yang ia tahu adalah lelaki itu merupakan cinta pertama Lysa yang berusaha dilupakan oleh sang gadis. Dan anehnya, seorang wanita yang tampak sedang bercakap cakap dengan lelaki bernama Sam itu adalah ...
“Jiwon?” Mino menggumam pelan dalam benak. Keningnya mengerut dalam karena merasa begitu kaget. “Jadi, laki laki yang akan menikah dengan Jiwon itu adalah lelaki itu? Lelaki yang ingin dilupakan Lysa, lelaki yang menjadi cinta pertamanya.”
**