
Bulan Madu
Yebin Pov
Kami sungguh pergi menuju Kuba satu minggu kemudian untuk berbulan madu. Saat kamu menikah, waktunya memang tidka begitu baik karena Oppa masih bergelut dengan banyak pekerjaan untuk menyelamatkan kafenya. Sekarang, setelah semua permasalahann kafe selesai, kami akhirnya bisa berangkat berbulan madu menuju negara yang aku inginkan, Kuba.
Lupakan semua kesedihanku. Lupakan semua rasa bersalah dan penyesalanku setelah kehilangan bayi kecil yang baru berusia lima minggu dalam kandunganku. Aku dan Yul Oppa berangkat menuju Kuba tanpa ada beban lagi yang terasa.
Aku tak akan membiarkan kesedihanku berlarut. Cukup semua pekedihan itu telah aku lewati. Berkat Yul Oppa yang selalu memberiku kekuatan dan tak pernah lelah memberiku pengertian dan kasih sayang, aku bisa bangkit dari semua keterpurukan itu setelah kehilangan bayi yang amat kunanti nanti. Juga berkat ibu yang tak pernah berhenti menasihati dan memberiku dorongan, dan berkat semua teman dekatku, termasuk Somin dan Hun Oppa. Mereka semua sangat berarti untukku. Mereka semua yang membuatku bisa bangkit dan meneruskan kehidupanku sebagai Kang Yebin dan sebagai Nyonya Moon.
Kota Havana sangat menawan dari pagi sampai sore. Dan ketika malam, kota yang selalu ramai itu menjadi sangat sunyi seolah sudah mati.
Aku bersama Yul Oppa menginap di sebuah penginapan di kota Havana setelah tiba di kota tersebut pukul sepuluh malam setelah perjalanan kami yang sangan panjang. lalu kami beristirahat dengan nyenyak sampai terbangun di keesokan harinya.
Sejuknya udara pagi di kota ini membuat kami seolah enggan untuk bangun lebih siang. Kami tak ingin melewatkan kesejukan pagi di kota Havana sehingga memutuskan untuk bangun pada pukul enam pagi dan segera bersiap untuk berjalan jalan menelusuri kota Havana yang sangat unik dan eksentrik ini.
“Oppa, kau sudah selesai bersiap? Ayo kita segera sarapan. Aku sangat lapar,” ucapku pada Oppa yang sedang menyirsir rambutnya di depan cermin. Sementara aku sendiri sedang duduk di pinggiran ranjang menunggu Oppa selesai bersiap.
“Ayo.”
Setelah itu kami keluar bersama. Menuju sebuah restoran dengan diantarkan oleh seorang pemandu wisata dari Korea yang akan mendampingi seluruh perjalananku dengan Yul Oppa. Pemandu wisata itu yang mengurus segala hal dalam perjalanan bulan maduku ini bersama Yul Oppa.
“Hello, good morning!” seru Yul Oppa begitu melangkah masuk ke dlaam restoran yang dikelola oleh penduduk lokal.
Penduduk lokal Havana sangat ramah dan terbuka dengan orang asing. Mereka segera membalas sapaan Yul Oppa dengan senyum semringah yang terasa begitu ramah.
Bahasa yang umum digunakan di Kuba adalah bahasa Spanyol. Namun beberapa penduduk lokal pandai berbahasa inggris untuk bercakap cakap dengan orang asing seperti aku dan Oppa. Dan pemandu wisata yang sudah mahir berbahasa Spanyol itu, sedikit sedikit mengajari kami bahasa Spanyol. Oppa yang sedikit tahu bahasa Spanyol ini, menggunakan kemampuannya untuk bertukar sapa dengan penduduk lokal dan bercanda ria bersama.
“Okay, grashias (terima kasih)!” ucap Oppa dalam bahasa Spanyol untuk berterima kasih pada pelayan restroran yang telah menyajikan makanan lezat untuk kami.
Setelah melakukan sarapan, kami pun memutuskan untuk berjalan jalan di Havana. Mengamati pemandangan kota tua yang klasik dan aktivitas keseharian pada penduduk lokal. Melihat cerahnya langit di pagi hari dan udara segar yang bercampur dengan aroma aroma makanan yang dijual di sepanjang jalan. Juga melihat mobil mobil tua antik berwarna warni melintas di jalanan kota Havana.
Di Korea sekarang mungkin sedang turun salju dengan begitu lebatnya. Tapi, di Havana cuaca sangat cerah. Sinar mentari yang mulai menyorot dari timur, terasa hangat mengenai permukaan kulitku.
“Oppa, lihatlah. Mobil mobil itu sangat unik. Aku merasa seperti sedang berada dalam film di era penjajahan, yang masih ada banyak mobil unik seperti itu,” seruku semangat melihat mobil mobil tua yang unik melin tas di hadapanku.
“Wah, mereka merawat mobilnya dengan sangat baik. Sungguh unik melihat mobil setua itu masih bisa digunakan untuk transportasi. Jika di Korea, mungkin mobil itu hanya bisa dilihat di museum,” ucap Oppa menanggapi.
“Pemandangan kotanya sangat indah. Sangat mirip seperti yang kulihat di televisi. Aku bahkan enggan untuk sekedar berkedip. Karena tidak ingin melewatkan satu detik pun pemandangan di Havana,” sambungku.
“Hahahaha.”
Oppa tertawa terpingkal mencerna kata kataku. Kami terus berjalan dengan tangan Oppa yang memeluk kedua bahuku. Menyusuri kota Havana yang keindahannya sangat sayang untuk dilewatkan.
Tempat ini namanya Experimental Graphics Workshop. Merupakan tempat galeri seni yang ada di Kuba. Dan, bukan hanya galeri seni, tetapi pengunjungnya juga bisa melihat secara langsung para seniman yang sedang bekerja untuk menciptakan karya seni.
“Wahh, tempat ini seratus persen mirip seperti yang kulihat di televisi hari itu,” cetusku begitu melangkah masuk ke dalam galeri seni.
Aku mendampingi Yul Oppa yang tampak menikmati hasil lukisan seniman seniman Kuba. Oppa yang termangu lama memandangi lukisan lukisan itu terlihat seperti anak remaja yang menemukan kembali jati dirinya. Seolah olah ia telah menyatu dalam lukisan moderen dan penuh arti yang menjadi karya seni pelukis pelukis Kuba.
“Lukisannya memiliki makna yang sangat dalam, tentang peradaban dan revolusi Kuba,” gumam Oppa saat menandangi salah satu lukisan yang terpajang di dinding galeri.
“Lukisan yang ini?” sahutku sambil menunjuk lukisan yang ditatap Oppa cukup lama.
Aku hanya membatin saja. Perdaban? Revolusi? Aku sama sekali tidak menemukan kedua makna itu dalam lukisan yang terlihat eksentrik itu. Lukisannya memang berbeda dari yang lain. Tapi, aku tidak begitu mengerti tentang lukisan. Jadi aku tidka begitu memahami makna terselubung apa yang ada di dalam lukisan ini.
“Di sebelah sana adalah studio para seniman yang sedang bekerja. Anda bisa masuk dan melihat para seniman menciptakan karya di sebelah sini,” kata pemandu wisata. Ia mengarahkan aku dan Yul Oppa untuk masuk ke dalam studio itu.
Saat kami memasuki studio, kulihat Oppa yang seolah menemukan dunianya yang sesungguhnya. Laki laki yang saat ini kugandeng lengannya, seolah baru saja bertatapan kembali dengan jati dirinya yang sebenarnya. Ibarat seorang bocah lelaki yang baru pulang ke rumah setelah bermain seharian di luar dan mengejar layang layang yang putus.
Meski Oppa tak pernah mengatakannya secara langsung, aku tahu betapa Oppa menyukai seni. Betapa ia mencintai melukis. Oppa mencintai melukis tapi ia harus meninggalkannya demi hal lain. Padahal jiwa Oppa adalah jiwa seorang seniman. Yang penuh dengan imajinasi harus diluapkan dalam bentuk karya karya lukisan. Ibaratnya, melukis adalah makanan pokok untuk seorang Moon Yul, yang tidak bisa digantikan dengan hal lain. Tetapi Oppa memaksakan dirinya untuk ‘memakan’ makanan selain makanan pokoknya. Yang membuatnya sering berada dalam kesulitan. Rasa sesak pastinya Oppa rasakan karena ia tak bisa meluapkan semua imajinasi yang beradu di otaknya. Dan rasa sesak itu, entah sampai kapan Oppa bisa hidup dalam rasa sesak yang tidak dapat ditoleransi.
Setelah kami keluar dari galeri seni, aku mengajak Oppa untuk menaiki salah satu mobil tua Havana yang disewakan.
“Kau ingin menaiki mobil tua warna maroon itu?” Oppa mengulangi pertanyaanku. Kulihat, mobil tua warna maroon itu sangat unik. Terlihat seperti yang ada di film film Spanyol era 90-an.
“Ngg. Aku sungguh ingin menaikinya.”
“Baiklah.” Oppa segera mengiyakan permintaanku. Lalu ia berkata pada pemandu wisata kami untuk menyewakan mobil tua warna maroon itu untuk kami tumpangi berkeliling kota.
Sembari menunggi pemandu wisata kami yang tampak sibuk melakukan tawar menawar dengan pengemusi mobil, aku dan Oppa membuat rencana untuk nanti sore dan besok.
“Oppa, bagaimana kalau nanti kita melihat matahari tenggelam. Aku melihatnya di siaran televisi. Matahari tenggelam di Kuba sangat indah, aku ingin melihatnya langsung,” ucapku.
Kedua alis Oppa menaik. Ia juga tampak tertarik pada perkataanku.
“Benarkah? Baiklah. itu bisa diatur nanti.”
Aku tersenyum mendengar Oppa yang mengiyakan permintaanku. Sepertinya, aku adalah wanita paling beruntung di dunia ini. karena mendapatkan suami sebaik Yul Oppa. Ia sangat pengertian dan menuruti semua keinginanku. Ia juga bisa menjadi sangat fleksibel sehingga kami sangat jarang sekali bertengkar. Yah, kecuali pertengkaran pertengkaran kecil yang bisa dengan mudah diselesaikan.
Sejak menikah, aku menemukan sosok baru dari Yul Oppa. Sosok yang tak pernah kulihat sebelumnya. Sosok yang sangat menawan dan membuatku merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia karena berhasil mendapatkannya. Bukan hanya mendapatkannya saja. tetapi juga mendapatkan limpahan kasih sayangnya yang Oppa luapkan dalam tiap kali matanya menatapku dan tiap kali tubuhku disentuhnya. Aku sangat yakin, bersama Oppa hidupku kedepannya akan menjadi lebih baik. Dan tugasku adalah menjadi pendamping paling baik untuknya. Menjadi istri yang baik, bisa diandalkan, mandiri dan pastinya pengertian.
Kami berkeliling kota menggunakan mobil tua merwarna maroon yang berhasil didapatkan oleh pemandu wisata. Menikmati pemandangan kota di tengah suara yang sangat cerah sampai sampai membuatku merasa sayang jika harus menggunakan sun glasses. Lalu berhenti sejenak di lapangan revolusi. Berfoto bersama Yul Oppa dengan latar belakang gedung kementrian dalam negerti yang terdapat gambar wajah dari Che Guevara, seorang tokoh terkenal dalam revolusi Kuba.
***