
Bab 26
Waktu yang tak dapat diputar
Keesokan harinya Lysa mendatangi Brian untuk memeriksa keadaan lelaki itu. Hubungan saudara Lysa dengan Brian sudah terlalu dekat untuk keduanya tidak saling peduli satu sama lainnya. Ia tahu, saat ini Brian sedang berada dalam masa masa sulit akibat pekerjaandan juga penelitian yang dilakukannya di kapus. Belum lagi dengan adanya rencana pernikahan itu semakin membuat Brian merasa tertekan.
Siang ini sehabis menyelesaikan kuliahnya, Lysa datang ke labolatorium biologi untuk bertemu dengan Brian. Kebetulan lelaki itu sedang ada di sana seorang diri setelah menyelesaikan kelasnya siang ini. Ia sendirian tanpa ketiga asistennya yang sedang mengikuti kuliah siang.
"Brian," panggil Lysa.
Awalnya Brian tidak yakin dengan pendengaran nya. Ia merasa mendengar suara Lysa namun tidak biasa mendengar gadis itu memanggil nya dengan nama Brian, bukannya panggilan Sam yang selalu gadis itu gunakan.
"Kim Lysa. Ada apa kau datang? Tumben sekali. Kau tidak ada kuliah siang ini?" Tanya Brian menyambut kedatangan Lysa. Meski ia tak yakin mengapa panggilan gadis itu terhadap nya berubah, Brian hanya menerimanya dengan baik.
Di dalam lab yang sepi, yang hanya ada Brian seorang itu, Lysa melangkah masuk. Kepalanya menggeleng geleng untuk menjawab pertanyaan Brian.
“Tidak apa apa. Aku hanya mampir sebentar setelah kuliahku selesai sepuluh menit lalu.” Lysa berucap, selagi berjalan menghampiri Brian di meja labolatorium. Brian mengenakan pakaian putih dan juga peralatan pelindung serta kaca mata. Tengah bekerja menggunakan mikroskop untuk penelitiannya.
“Ah, begitukah?”
Brian yang masih tampak sibuk itu hanya menyahut seadaanya sebagai bukti bahwa ia mendengarkan perkataan Lysa. Namun perhatian lelaki itu tertuju sepenuhnya pada kaca pembesar di mikroskop yang ia pegang.
“Apa kau masih sangat sibuk?” tanya Lysa kembali. Ia ingin mengatakan suatu hal. Tetapi melihat Brian tampak begitu sibuk itu membuat Lysa bepikir untuk tidah usah mengganggu Brian yang sedang bekerja dan akan mencarinya lain kali untuk mengatakan suatu hal itu.
Biasanya, ketika sedang sibuk bekerja, Brian akan berkata bahwa ia sibuk dan tidak ingin diganggu. Jika memang seperti itu, maka Lysa pun tidak akan mengganggu pekerjaan Brian dan memilih untuk pergi. Mengurungkan niatnya untuk bersama Brian atau untuk mengajaknya bicara. Lebih memilih untuk pergi dan menunda berbicara dengan Brian karena Lysa pun tak ingin menjadi pengganggu untuk urusan pekerjaan Brian.
Tetappi kali ini Brian menunjukkan reaksi yang sedikit berbeda. Ketika ia mendengar Lysa bertanya apakah ia sedang sibuk, hal yang seketika terbesit di benak Brian adalah, Lysa sengaja datang untuk mencarinya dan ingin mengatakan suatu hal. Karena itulah Lysa datang di saat membalas pesan teks atau menjawab telepon Brian saha gadis itu jarang,
Seketika Lyssa bertanya demikian, Brian langsung menjauhkan pandangannya dari mikroskop yang sebelumnya ia gunakan. Ia beranjak berdiri dari kursi tempatnya terduduk. Melepas kacamata dan menolehkan tubuh pada Lysa.
“Ini sudah waktunya istirahat siang. Jadi ada apa?” tanya Brian. Sepertinya lelaki itu berniat untuk menjeda pekerjaannya karena waktu sudah memasuki jam makan siang.
Awalnya Lysa tampak bingung terhadap Brian yang dengan suka rela menjeda kegiatan bekerjanya. Padahal, sebelum sebelumnya ketika ia sedang konsentrasi bekerja, menjawab pertanyaan Lysa saja dengan acuh tak acuh dan tidak begitu memperhatikan keberadaan Lysa. Namun laki laki itu sekarang berbeda. Ia dengan suka rela menghentikan kegiatan bekerjanya dan memberikan perhatian penuh pada Lysa yang kelihatannya ingin membicarakan sesuatu dengannya.
“Sepertinya kau sedang bekerja. Apa sungguh tidak apa apa?” Sekali lagi Lysa meyakinkan.
Tanpa ragu Brian mengangguk angguk. “Tentu saja. Sudah memasuki jam makan siang kan? Aku pun ingin istiraha sebentar. Ah, apa kau sudah makan siang?” tanya Brian. Ia melepaskan jas labolatoriumnya yang berwarna putih. Juga melepaskan perlengkapan bekerja lainnya.
“Aku akan makan siang nanti saja. Sekalian nanti mau bekerja di kafe,” jawab Lysa.
Wajah Brian terlihat kecewa karena penolakan halus Lysa. Sebenarnya lelaki itu ingin mengajak Lysa untuk makan bersama siang ini. Namun karena Lysa menolak, ia pun tidak bisa berbuat apa apa.
“Ah, begitukan?” gumam Brian.
Brian mengambil sebuah gelas kopi berwarna putih. Di dalamnya, kopi yang ia beli beberapa waktu yang lalu sudah dingin. Brian meminum kopi yang sudah dingin itu dan menghabiskannya. Lalu melempar gelas kosong ke tempat sampah.
“Jadi, ada apa kau mencariku? Kau bahkan tidak pernah menjawab teleponku.” Brian berucap. Semalam ia mencoba menelepon Lysa, tetapi karena Lysa sudah tertidur karena kecapekan bekerja di kafe, ia tidak bisa menjawab panggilan telepon Brian.
Jujur saja. Bukan niat Lysa untuk tidak menjawab panggilan telepon Brian. Hanya saja lelaki itu selalu menelepon Lysa di saat sibuk. Seperti ketika ia bekerja di kafe, saat ia mengerjakan tugas kelompok, saat ia sedang menyiapkan bahan untuk presentasi, dan bahkan saat Lysa sedang tidur. Lelaki itu selalu menelepon Lysa di saat yang tidak tepat sehingga Lysa tidak bisa menjawabnya. Dan ketika ingin menelepon balik, gadis itu sudah lupa karena hal hal lain yang harus ia lakukan.
Mendengar perkataan Brian yang terdengar seperti menyindir itu Lysa merasa tidak enak hati. Toh, bukan keinginannya untuk tidak menjawab telepon Brian. Apa lagi gadis itu juga tidak sengaja melakukannya.
“Itu, bukannya aku tidak mau menjawab. Hanya saja...”
“Jadi ada apa?” Brian memotong ucapan Lysa sebelum gadis itu menyelesaikan ucapannya. Lysa pun menghela napas panjang panjang dan mengembuskannya dengan sangat ringan.
“Aku tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi. Kemarin, wanita itu menemuiku.” Lysa membuka pembicaraan. Brian yang mendengarnya itu terlihat sedang menebak nebak siapa yang dimaksud Lysa dengan sebutan ‘wanita itu’.
“Wanita itu .... Siapa?” Brian bertanya ketika ia tidak bisa menemukan jawaban siapa wanita yang dimaksud Lysa. Ia kira Lysa tidak mengenal banyak orang yang bisa dia sebut dengan wanita itu. Karena biasanya Lysa hanya sering menggunakna istilah seperti ‘teman itu’ atau ‘senior itu’ yang lebih jelas dan mungkin Brian kenali.
Berat hati Lysa menjawab, “Calon tuanganmu, Brian. Entah bagaimana caranya dia tahu nomor teleponku dan mengajakku bertemu. Dia bahkan tahu beberapa informasi tentangku, entah bagaimana ia bisa tahu.”
Begitu mendengar kata ‘calon tunangan’, raut wajah Brian sontak berubah. Ekspresi wajahnya menjadi benar benar dingin dan tidak menunjukkan emosi. Seolah olah lelaki itu sedang menyembunyikan perasaan tidak senangnya dari Lysa ketika gadis itu menyeburkan seseorang yang membuat Brian merasa tertekan sampai pada hari ini. Karena kemunculan wanita bernama Im Jiwon itu, hidup Brian terasa semakin rumit. Ia didesak oleh orang tuanya untuk segera menikah dengan wanita itu sedangkan Brian sendiri belum ingin menikah lantaran ingin fokus terlebih dahulu dengan pekerjaannya di kampus. Ia ingin melanjutkan penelitiannya untuk menjadi seorang profersor biologi sebelum bisa menikah dengan seorang wanita. Dan kalau pun Brian sudah mendapatkan apa yang diinginkannya dan merasa siap untuk menikah, tentu yang ingin dinikahinya adalah orang yang ia cintai dan tentunya yang mencintainya. Bukan orang yang ingin menikah dengannya hanya karena ingin mengejar sesuatu.
Perubahan pada raut wajah Brian itu membuat Lysa merasa tidak enak. Ia tahu pembahasan tentang wanita itu selalu membuat Brian merasa kembali tertekan dan sangat suntuk. Sehingga, Lysa segera menambahkan bercerita.
“Aku tidak ingin ikut campur masalah kalian, Brian. Tapi aku merasa sangat prihatin karena ternyata kau benar benar sendirian di dunia ini. Melihat bagaimana wanita itu mengejarmu dan mengelabuhi kedua orang tuamu, membuatku berpikir bahwa kau sedang berjuang sendirian.” Lysa menjeda ucapannya sejenak. Lalu kepalanya menunduk. “Aku tidak tahu aku bisa berbuat apa untukmu. Tapi kalau boleh jujur, di situasi seperti ini aku ingin membalas semua kebaikanmu. Kau yang selalu membantuku di saat sulit. Kau yang menemaniku datang ke Korea selatan setelah kaluargaku hancur berkeping keping. Kau yang membantuku beradaptasi, mengajariku cara bertahan hidup di sini, dan membuatku melupakan semua permasalahan keluargaku dengan semua cara yang kau lakukan. Entah bagaimana caranya aku ingin membalas semua kebaikanmu, Brian. Mungkin apa yang aku lakukan tidak akan setara dengan yang kau lakukan. Tapi aku ingin berbuat sesuatu paling tidak sedikit saja untuk membalasmu.”
Lysa mengatakannya dengan menundukkan kepala karena merasa begitu malu dan sungkan kepada Brian. Terlepas dari perasaan tidak terbalasnya pada lelaki itu selama ini, Lysa merasa sangat terbantu dengan adanya Brian. Lysa merasa memiliki hutang budi yang begitu besar pada Brian yang selalu membantunya dalam situasi sulit dan berbuat sesuatu untuknya. Meski apa yang Lysa lakukan mungkin tidak akan banyak, Lysa ingin membalas semua kebaikan Brian. Dengan cara itu Lysa merasa bisa tetap memiliki hubungan persaudaraan dengan Brian meski perasaan pada lelaki itu berakhir tragis sejak dulu.
Di sisi lain Brian mencerna ucapan Lysa dengan seksama. Ia mendegarkan setiap kata yang Lysa lontarkan dengan hati hati dan sudut pandang yang luas.
“Situasiku memang sedang sulit saat ini. Tapi, apa kau benar ingin membantuku?” Brian berucap. Tatapannya yang teramat sendu dan kelam itu menatap kedua bola mata Lysa yang berdiri di hadapannya.
“Hmm. Saatnya aku membalas semua kebaikanmu, Sam.”
“Panggil aku Brian.” Brian yang kembali mendengar Lysa memanggilnya Sam itu segera menyela. Ia meraih kedua tangan Lysa dan menggenggamnya dengan hangat. “Jangan panggil aku Sam lagi. Panggil aku Brian, seperti yang tadi kau lakukan.”
Seketika itu juga Lysa membeku dan tak dapat berkata kata. Genggaman tangan Brian yang terasa hangat itu membuat tubuhnya tidak dapat bergerak karena gugup. Bukannya ia masih memendam perasaan apa apa terhadap laki laki itu. Hanya saja ... hanya saja ini jauh di luar dugaannya. Dan Lysa sendiri tak tahu harus merespon perlakuan Brian ini dengan seperti apa.
“Ba—baiklah. Aku akan memanggilmu Brian mulai sekarang.”
Lekukan bibir Brian yang tampak manis seketika itu juga menyambut ucapan Lysa. Lelaki itu tersenyum, dengan kedua tangannya yang masih menggenggam tangan Lysa dengan hangat. Dan itu lama lama membuat Lysa merasa tidak nyaman.
“Brian, jangan seperti ini. Tolong lepaskan tanganku.”
Lysa mulai meronta supaya Brian melepaskan kedua tangannya. Gadis itu mulai merasa tidak nyaman. Bukan karena ia tidak suka Brian mengenggam tangannya seperti ini. Hanya saja ia khawatir kalau ini akan menjadi salah paham untuk Lysa sendiri sehingga akhirnya ia harus mengorbankan perasaan orang lain yang telah memilihnya sejak awal.
Melihat Lysa meronta itu akhirnya Brian melepaskan kedua tangan sang gadis. Wajahnya terlihat sayu, seperti seorang anak kecil ketika keinginannya tidak dituruti oleh ibunya.
Suasana mendadak sunyi setelah itu. Lysa tidak memiliki apa pun untuk dikatakan lagi. Keduanya pun jadi canggung sepergi laki laki dan perempuan etika di kencan pertama, sama sama canggung dan memilih untuk diam karena tak ingin menmabah kecanggungan jika sampai salah berucap.
Brian menundukkan kepala dalam dalam. Selama beberapa waktu laki laki itu tetap menundukkan kepala. Seoah tak memiliki daya untuk mengangkat wajahnya dan menatap Lysa lagi. Hingga beberapa waktu kemudian keberaniannya kembali terkumpul. Ia mengangkat kepalanya untuk menatap Lysa lekat lekat.
“Bukannya kau ingin membalasku? Aku bahkan tidak yakin apa saja yang sudah kuperbuat untukmu selama ini. dan aku tidak tahu apa yang saat ini kuinginkan. Yang aku inginkan hanya ... perasaan bebas, tidak terkekang, kemerdekaan, dan perasaan bahagia saat kau bersamaku. Kalau aku meminta supaya kau tetap di sisiku seperti dulu, apa jawaban yang akan kau berikan?” tanya Brian sungguh sungguh. Tatapannya pada Lysa terasa sangat dalam. Itu adalah tatapan yang selama ini tidak pernah Brian tunjukkan pada siapa pun, bahkan pada Lysa sendiri. Tatapan yang seolah olah tersembunyi di dalam diri Brian tanpa pernah ia tunjukkan pada siapa pun; tatapan kasih sayang dan tatapan membutuhkan.
Lysa tidak menyangka akan medengar permohonan yang seperti itu dari Brian. Ia hanya bingung saja, apa yang sebenarnya pria itu inginkan setelah dulu menolak perasaannya sampai berkali kali dan akhirya Lysa memilih untuk menyerah. Brian pernah menolak cintanya di masa lalu. Dan bahkan beberapa bulan lalu Lysa bertanya untuk yang terakhir kalinya, bahwa perasannya itu tetap menjadi cinta sepihak hingga akhirnya Lysa benar benar menyerah. Sekarang ia telah menyerah. Perasaannya terhadap Brian hilang dalam sekejap karena Mino yang mampu memberikan apa yang tidak pernah Lysa dapatkan dari Brian; kasih sayang dan pengakuan.
Pertanyaan Brian tadi tidak dapat dijawab oleh Lysa semerta merta. Sehingga Lysa hanya menjawab, “Aku akan membalas semua bantuan yang telah kau ulurkan padaku, Brian. Aku akan pasti akan membalasmu ... dengan caraku sendiri.”
Ucapan Lysa itu berarti bahwa ia tiudak bisa tetap berada di sisi Brian seperti dulu. Lysa tahu betul, maksud tetap di sisi Brian ‘seperti dulu’ itu adalah perasaan Lysa terhadap Brian yang seperti dulu. Lelaki itu meminta Lysa untuk menyayanginya lgi seperti dulu. Brian ingin meminta Lysa supaya gadis itu menyukainya lagi seperti dulu, ketika perasaannya tidak dapat dibalas oleh Brian. Brian sama saja meminta Lysa mengulang kembali perasaannya dan menumbuhkan kembali rasa yang sudah mati itu.
Setelah mengatakannya, Lysa pergi meninggalkan labolatorium. Ia meninggalkan Brian yang masih harus bekerja seusainya makan siang. Namun perasaan Lysa sama sekali tidak nyaman. Meninggalkan Brian begitu saja membuat Lysa merasa bersalah dan sangat tidak nyaman.
Akhirnya Lysa menghentikan perjalanannya. Ia menghela napas panjang panjang. Berpikir kembali tentang apa yang harus ia lakukan kepada Brian.
Di pinggir jalan trotoar itu Lysa membuka ponselnya. Ia mengirimkan satu pesan singkat untuk Brian yang masih berada di dalam labolatorium biologi. Pesan itu hanya berisi satu kata ‘Semangat!’ untuk Brian.
Setelah mengirimkan pesan teks itu Lysa merasa lebih lega. Dan saat itu juga Mino meneleponnya.
Sambil lanjut berjalan Lysa menjawab panggilan telepon dari Mino.
“Halo, Oppa. Ada apa?” sahut Lysa begitu sambungan telepon mereka tersambung.
[Kapan kau akan datang ke kafe?]
“Aku sedang di jalan menuju ke sana.”
[Langsung masuklah ke ruanganku. Aku sudah menyiapkan makan siang untukmu. Kau belum makan siang kan? Segeralah ke sini, aku menunggumu.]
**