Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Niat hati berkencan, apadaya hati tak sampai



Bab 27


Niat hati berkencan, apadaya hati tak sampai


Akhirnya, setelah berhari hari menunggu Mino pun memiliki waktu untuk berkencan bersama Lysa. Ups, sebenarnya ia tak yakin apa benar itu yang dinamakan berkencan. Karena secara resmi keduanya belum berpacaran.


Selama beberapa ahri terakhir Lysa sangat sibuk dengan ujian musim panasnya. Juga dengan pekerjaannya di kafe. Sehingga Mino menunggu sampai semua ujian Lysa selesai utnuk bisa mengajak gadis itu jalan keluar. Dan hari ini adalah hari yang tepat. Akhir pekan setelah semua ujian musim panas Lysa terlewati, Mino ingin mengajaknya keluar dan ini sekaligus menjadi kesempatan yang bagus untuk lelaki itu meresmikan hubungannya dengan Lysa—berkencan.


“Oppa, sampai kapan kau memakai topeng monste itu? Kau tidak mau membantuku menghabiskan makanan ini?”


Dari meja dapur, Mina yang mulutnya penuh oleh makanan itu menyahut. Gadis dua puluh tahun yang tampak sedang memakan bukkeumbab (nasi goreng kimchi) itu mengernyit melihat kakaknya yang sedang perawatan wajah di atas sofa.


Yaps, benar sekali! Sebelum berkencan, persiapan Mino adalah perawatan wajah. Ia tentunya tidak ingin terlihat lebih tua ketika berkencan dengan gadis yag delapan tahun lebih muda darinya. Sehingga lelaki menggunakan topeng inframerah untuk mengencangkan kulit wajahnya dari penuaan dini karena usia yang bertambah.


Mendengar sang adik itu menceletuk, Mino menghela napas panjang. Ia beranjak duduk dari sofa dan melepaskan topeng inframerahnya yang terlihat seperti topeng iron man itu.


“Sudah kubilang, masak sedikit saja untuk kau makan sendiri. Aku tidak akan makan karena habis ini aku mau keluar,” sahut Mino kepada adiknya yang sedang menikmati makanan. Gadis itu terlihat sangat lapar setelah menghabiskan waktu sepanjang hari dengan belajar untuk persiapan masuk universitas.


“Kalau begitu aku habiskan sendiri saja makanannya,” celetuk Mina.


“Terserah kau saja.”


Setelah menjawab dengan tak acuh, Mino kembali memasang topeng inframerah itu di wajahnya. Melanjutkan perawatan sebelum bersiap siap pergi berkencan pada pukul enam sore nanti.


Melihat kakaknya yang sangat telaten memakai topeng inframerah itu membuat Mina mengernyitkan kening dalam dalam. Ia hanya menggumam gumam heran melihat kakaknya yang begitu gigih mendapatkan hati seorang gadis yang jarak usianya hanya dua tahun di atas adik perempuannya.


Beberapa saat berlalu. Mino menyelesaiakn perawatannya dan masuk ke dalam kamar. Bersiap siap untuk pergi berkencan. Memakai setelan bagus dan menyenprot tubuhnya menggunakan parfum yang harumnya semerbak memenuhi seisi kamar.


Begitu keluar kamar setelah selesai bersiap siap, Mino dikejutkan dengan keberadaan seorang wanita yang sedang duduk berdua bersama Mina di atas sofa. Tubuh Mino membeku sejenak. Ia menatap kosong ke awah wanita itu sebelum pandangannya beralih pada Mina dan bertanya siapa yang membukakan pintu untuk wanita itu.


“Aku memanggil manggilmu, Oppa. Tapi kau tidak menyahut. Jadi aku bukakan saja pintunya untuk kakak ipar ... maksudku, untuk Jiwon Eonni.” Merespon tatapan penuh tanda tanya sang kakak, Mina segera menjelaskan. Beberapa waktu lalu ia terpaksa membukakan pintu untuk Jiwon yang tiba tiba datang tanpa memberi tahu Mino terlebih dahulu.


Mino menganggukkan kepalanya. Mengerti apa yang dimaksud Mina dan memaklumi apa yang sang adik lakukan.


“Baiklah.”


Sementara Mina berdiri dari duduk, Mino berjalan ke arah sofa. Mino menatap adiknya untuk memberi isyarat agar sang adik meninggalkan kakaknya dengan Jiwon untuk berbicara berdua.


“Aku pulang duluan, Oppa. Nanti malam jangan lupa mampir ke rumah, ibu mencarimu.” Mina berucap sambil menyangklong tas di atas punggung.


“Baiklah. Hati hati.”


“Hmm.”


Setelah itu Mina keluar dari apartemen sang kakak. Meninggalkan Mino berbicara berdua dengan Jiwon yang entah mengapa datang kembali menemui Mino.


Melihat Jiwon yang duduk di atas sofa dengan wajah yang sangat sendu—itu adalah ciri khas dari Im Jiwon; wajah sendunya yang membuat ia sungguh sulit untuk dibenci.


“Mau teh?” Mino menawarkan tanpa pikir panjang.


Jiwon segera menganggukkan kepala. “Boleh.”


“Tunggu sebentar.”


Akhirnya Mino pun berjalan menuju dapur. Membuatkan secangkir teh untuk ia suguhkan kepada Jiwon. Tidak peduli siapa wanita itu dan apa yang telah diperbuatnya kepada Mino di masa lalu, wanita itu tetaplah wanita yang pernah mengukir hari hari Mino dengan kebahagiaan. Meski kebahagiaan itu kini telah sirna dengan kalimat perpisahan yang sungguh menyakitkan.


Tidak menunggu lama Mino pun selesai menyeduhkan teh untuk Jiwon. Sambil berjalan ke arah sofa temppat wanita itu terduduk, Mino membuka suara.


“Aku cukup terkejut, karena kau datang tanpa memberi tahuku terlebih dahulu.” Mino berucap. Ia meletakkan cangkit berisi teh hijau ke atas meja sofa hadapan Jiwon. Kemudian terduduk dengan berseberangan meja sofa dengan wanita itu.


  bJiwon hanya tersenyum getir mendengar perkataan Mino itu. Memang salahnya. Datang tiba tiba ke apartemen Mino di akhir pekan seperti ini. Namun, Jiwon pun tidak yakin kalau semisal ia berkata terlebih dahulu kepada Mino, Mino kemungkinan besar tidak akan menerimanya dan melarangnya utnuk datang. Sehingga Jiwon berpikir bahwa kedatangannya yang tiba tiba ini lebih baik dari pada tidak pernah datang ke tempat ini lagi karena Mino melarangnya.


“Maaf, hanya saja aku memiliki sesuatu yang sangat mendesak untuk dibicarakan.”


Apa pun alasannya, tidka seharusnya wanita itu datang tiba tiba ke apartemen Mino seperti ini. Selain itu tidak nyaman untuk Mino sendiri, Mino juga memiliki janji bertemu dengan Lysa setelah ini. Tepat pukul enam, lima menit lagi.


Mino melihat ke arah jam. Mendapati waktunya yang tidak banyak lagi.


“Aku ada janji bertemu seseorang setelah ini. Tolong katakan secepat mungkin. Aku tidak ingin membuat seseorang menunggu terlalu lama karena kedatanganmu yang mendadak ini.” Mino berkata dengan tegas. Sudah cukup ia bersikap lunak selama ini terhadap Jiwon. Sekarang ia tidak akan melunak lagi di hadapan wanita itu.


Jiwon terlihat terkejut mendengar Mino berkata seolah olah kedatangannya ini sangat menganggu. Namun, ia hanya tersenyum.


“Sepertinya kau sangat tergesa gesa. Baiklah. Aku akan katakan secepat mungkin” Jiwon berucap dengan hati hati, bersama tatapannya yang terlihat terluka.


Mino hanya menganggukkan kepalanya. Berharap Jiwon mengatakan maksudnya secepat mungkin karena ia tidak mau membuat Lysa menunggu terlalu lama.


“Aku tidak tahu apakah ini kabar buruk atau kabar baik untuk kau dengar. Namun, sejauh ini aku merasa ini adalah kabar baik untuk kita berdua,” kata Jiwon.


Kening Mino mengernyit ketika mendengar kata ‘kita berdua’ dari Jiwon. Di tambah raut wajah wanita itu yang terlihat senang, membuat Mino merasa waswas sekaligus curiga.


“Kita ... berdua?” gumam lirih Mino yang merasa tidak yakin akan apa yang didengarnya berusan. “Apa maksudnya?”


Dengan semangat Jiwon menjelaskan. “Aku sudah berbicara dengan ayahku. Dan ayahku berkata ingin memberikan kesempatan lagi untukmu,” ucap Jiwon.


Kening Mino mengerut semakin dalam. Dalam hati ia berteriak ‘apa apaan maksudnya?’


“Kesempatan? Kesempatan apa?” tanya Mino bingung.


“Ayah ingin memberimu kesempatan untuk bisa menikah denganku. Semalam aku berbicara dengan ayah. Dan sepertinya dia berubah pikiran. Menurutmu bagaimana, Mino ya? Kita bisa bersama lagi, seperti dulu. Perjodohanku dengan laki laki itu ... bisa dibatalkan jika kau mau memulai semuanya bersama lagi.”


....


**


Suasana hati Mino berubah drastis setelah medengar perkataan Jiwon beberapa waktu lalu. Ia sama sekali tak merasa senang. Juga sama sekali tak merasa sedih. Jujur, Mino tidak tahu apa yang dirasakannya saat ini. Sungguh tidak tahu. Ini adalah saat saat terbodohnya sepanjang hidup, karena tak tahu apa yang dia rasakannya setelah mendengar kabar bahwa ia diberikan kesempatan untuk rujuk dengan mantan kekasihnya di saat ia ingin memulai perkencanan baru dengan gadis lain.


Mino sama sekali tidka merasa senang mednengar kabar itu. Juga tidak merasa bingung atau pun kesal, dan bahkan marah. Ia tak merasakan semua itu. Yang ia rasakan hanyalah suasana hatinya yang mendadak hancur. Rasa semangat sebelum ia melihat Jiwon di dalam apartemennya melebur hilang. Dan ia seperti seseorang yang tak merasakan emosi sedikit pun.


Sembari menyetir mobil menuju kampus tempat Lysa menunggu, Mino hanya melamun. Ia berkendara mobil sambil berangan angan kosong. Lalu tibalah ia di tempat yang dituju.


Di seberang jalan terlihat Lysa yang sedang menunggunya dengan duduk di atas kursi.


Mobil Mino masih terparkir di seberang jalan dengan kedua lampu sen mobilnya yang menyala. Entah mengapa ia merasa ragu untuk menghampiri Lysa. Dari kejauhan itu, dari seberang jalan, Mino hanya mengamati Lysa yang terlihat sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon genggamnya.


Baru sepuluh detik Mino mengamati Lysa di seberang jalan, ada seorang laki yang membawa mobil berwarna biru berhenti di depan Lysa. Laki laki yang tidak lain adalah Brian itu keluar dari mobil, dan seketika itu juga Lysa berdiri dari duduk.


Melihat itu, napas Mino terhela panjang panjang. Ia terus mengamati Lysa dengan Brian di seberang jalan. Sambil menggumam gumam.


“Lelaki itu ... sungguh menggangguku.”


**


“Brian, bukannya kau sekarang sudah pulang? Kenapa tiba tiba kau berkata ingin mengajakku keluar?”


Lysa menceletuk dengan Brian yang ada di seberang telepon. Padahal gadis itu sedang menunggu Mino yang sedikit terlambat menjemputnya. Tetapi tiba tiba ia mendapat telepon dari Brian yang mengajaknya makan di luar malam ini.


“Tidak bisa, Brian. Hari ini aku.... Oh!”


Kata kata Lysa seketika terhenti ketika di hadapannya berhenti sebuah mobil biru yang tidak lain adalah mobil Brian. Seketika itu Lysa menurunkan telepon genggamnya. Berdiri dari duduk melihat Brian melangkah turun dari mobil berwarna biru yang laki laki itu kendarakan dari arah selatan.


“Brian?” sahut Lysa kaget. Ia sangat terkejut melihat Brian yang sampai beberapa detik lalu bercakap cakap dengannya melalui telepon, kini ada di hadapannya.


Melihat kedatangan Brian yang tiba tiba, Lysa menghela napas panjang dengan pelan. Ia berusaha tersenyum melihat kedatangan Brian yang tidak terduga. Ia tahu, lelaki itu datang untuk mengajaknya keluar bersama. Namun, tidak ada hal lain yang bisa Lysa lakukan. Karena ia terlebih dahulu memiliki janji dengan Mino.


“Kau sungguh tidak bisa? Aku mau makan malam dengan ayahmu, dan kuharap kau juga bisa datang. Apa janjimu itu tidak bisa dibatalkan?”


Begitu tiba di hadapan Lysa, Brian berkata demikian. Apa yang diucapkannya itu hanya membuat Lysa terbengong.


“Ti ... tidak bisa. Janjiku tidak bisa dibatalkan. Sungguh tidak bisa.” Lysa menjawab dengan yakin. Karena sungguh, ia tidak berniat sedikit pun untuk membatalkan janjinya bersama Mino. Dalam hati, Lysa pun sangat merindukan Mino. Selama dua pekan terakhir mereka jarang bisa bersama karena ujian musim panas yang Lysa lakukan begitu banyak menyita waktu. Dan ini adalah saat yang paling tepat untuk ia bisa menghapus rasa rindunya terhadap Mino. Ia sungguh ingin bertemu dengan Mino dan menghabiskan waktu bersama lelaki itu tanpa terkecuali.


Mendengar jawaban Lysa yang sangat menyakinkan itu, Brian mengembuskan napas panjang panjang karena kecewa. Ia sungguh ingin bisa makan di luar bersama Lysa lagi. Karena sudah lama sekali lelaki itu tidak keluar bersama Lysa. Namun, kalau memang Lysa tidak bisa, tidak ada hal yang bisa Brian perbuat.


“Sungguh?” sekali lagi Brian menanyakan.


“Ini sangat mendadak, Brian. Andai saja kau mengatakan padaku sejak pagi tadi atau kemarin, mungkin aku bisa makan malam bersamamu dan juga ayah. Tapi aku terlanjur memiliki janji dengan orang lain. Dan aku tidak bisa membatalkan janji itu sepihak. Maafkan aku.” Lysa menjelaskan dengan perasaan tidak enak. Sebenarnya sudah lama juga ia tak bertemu dengan ayahnya. Namun, ini sangat mendadak. Ia bisa mengunjungi ayahnya besok, dan sekarang ingin menghabiskan waktu bersama Mino.


“Baiklah kalau memang begitu. Tapi aku ingin mengajakmu makan bersama lagi, Lysa. Kapan kira kira kau bisa keluar denganku? Sudah lama sekali kita tidak pergi ke sebuah tempat bersama. Akhir akhir ini aku merasa sangat suntuk dan ingin menghirup udara segar. Apa kau bisa menemaniku?” kata Brian.


Tidak biasanya Brian seterbuka itu berkata bahwa dirinya sedang suntuk kepada Lysa. Tidak biasanya juga lelaki itu yang mengajak, setengah memaksa Lysa untuk menemaninya keluar dan mencari udara segar.


Sejenak Lysa berpikir. “Mungkin besok sore, setelah aku bertemu dengan ayah,” jawab Lysa.


Kepala Brian mengangguk angguk.


“Baiklah. Besok aku akan menghubungimu lagi.”


Tanpa banyak berkata lagi, Brian melihat jam dan segera masuk ke dalam mobil. Entah, Lysa sendiri tidak tahu sejak kapan Brian akrab dengan ayahnya sampai memiliki janji makan bersama di akhir pekan seperti ini.


Tangan Lysa melambai lambai melihat mobil Brian pergi dari hadapannya. Dan tidak lama kemudian, seseorang yang ia tunggu tunggu datang. Mino datang menggunakan mobilnya.


Seketika Mino menghentikan mobil di hadapan Lysa dan menurunkan kaca jendela, senyum Lysa terukir lebar. Gadis itu tersenyum dengan begitu indah melihat kedatangan orang yang sangat ia rindukan.


“Masuklah,” kata Mino yang masih duduk di kursi kemudi.


Mendengar itu, Lysa segera melangkah masuk ke dalam mobil Mino. Duduk manis di mobil tersebut dan tersenyum lebar menatap Mino.


Melihat Lysa yang tersenyum tulus kepadanya, Mino ikut mengukir senyuman. Sejenak, keraguannya tentang Lysa menghilang melihat senyuman tulus gadis lugu di hadapannya.


“Kau menungguku lama? Maaf, ada urusan mendesak tadi.” Mino berucap.


Sambil tersenyum, Lysa menjawab, “Tidak apa apa. Aku menunggunya tidak lama kok.”


Mino terdiam sejenak. Ia meraih kedua tangan Lysa untuk digenggamnya. Lalu menatap gadis itu dengan pandangan mata yang sangat sendu, seolah olah lelaki itu sedang memperlihatkan segala kegundahannya pada Lysa.


“Kenapa, Oppa? Apa ada sesuatu yang terjadi?” Lysa yang melihat tatapan sendu Mino itu segera bertanya. Melihat Mino sesendu itu membuat Lysa merasakan sedikit kepedihan dalam benak.


Pandangan Mino menurun. Ia hanya sanggup menggenggam kedua tangan Lysa tanpa memiliki keberanian untuk menatapnya.


Tak tau apa yang terjasi pada Mino, Lysa hanya merasa sangat prihatin. Ia pun segera memluk tubuh Mino dan membuatnya sedikit merasa tenang.


“Ada apa? Katakan saja padaku, Oppa.” Lysa berkata sembari memeluk tubuh Mino.


“Aku ... ingin mempertimbangkan perasaanku kembali, Lysa. Kurasa hubungan ini hanya menguntungkanku sepihak. Dan kadang aku juga takut kalau ternyata aku ini sedang memanfaatkan gadis baik dan lugu sepertimu untuk terbebas dari luka masa lalu yang pernah kurasakan.”


**