
Bab 53
Kemunuclan tidak terduga Brian Alvendo
“Kali ini jangan membantah. Kamu tidak boleh bekerja Lysa.”
Mino menjawab dengan tegas Lysa yang berkata ingin berangkat bekerja di kafe karena kondisi tubuhnya yang telah membaik. Padahal semalam gadis itu masih mengeluh pusing dan berjalan saja masih sempoyongan. Tidak hanya itu. Gadis itu juga terlihat lemas setiap kali berjalan agak jauh, seperti berjalan dari lantai satu apartemen Mino menuju lantai dua. tetapi ia berkata ingin masuk bekerja di kafe karena sudah lama tidak bekerja di sana.
“Aku hanya akan berjaga di kasir. Kurasa aku tidak akan kecapekan hanya karena menggunakan mesin pembayaran dan memberikan kembalian pada pelanggan.”
Lysa yang tidak mudah menyerah itu mencoba membujuk Mino yang sedang mengancingkan kancing kemeja untuk bersiap siap bekerja di kafe. Namun lelaki itu terus diganggu Lysa yang menggandoli lengan dan tangannya supaya keinginannya untuk bekerja itu dituruti.
“Sekali kubilang tidak boleh, ya tidak boleh. Aduh, kau itu masih sakit, Lysa. Tidak hanya pikiranmu yang sakit, tetapi tubuhmu juga sakit. Apa kau tidak ingar baru kemarin kau nyaris saja menghadapi kematian jika aku tidak segera membawamu ke rumah sakit? Dan sekarang, apa? Kau ingin bekerja di saat kondisimu masih seperti itu?” Mino mengomeli Lysa yang sungguh keras kepala itu. Mino hanya heran saja, apa Lysa tidak tidak bisa merasakan sakit atau hanya memaksakan diri saja? Padahal betul betul tubuhnya itu masih sangat rentan dan sangat mudah lelah, mana mungkin dia mau berangkat bekerja di kafe?
Karena keinginannya itu tidak dituruti, Lysa memasang wajah cemberut. Bukan apa apa, ia hanya merasa akan sangat bosan jika seharian berada di rumah Mino seorang diri, tanpa seorang pun yang menemani dan yang bisa ia ajak mengobrol. Lysa hanya merasa akan sangat bosan di rumah sehingga memilih untuk bekerja saja. Namun Mino sepertinya bersi kukuh tidak ingin melihat Lysa bekerja di kafe. Dan melihat bagaimana raut wajah Mino saat melarang gadis itu bekerja, Lysa merasa tidak bisa membujuknya lagi apa lagi merayunya.
Merasa tidak ada harapan, Lysa pun mengembuskan napas panjang panjang. Ia mundur beberapa langkah dan terduduk di pinggir ranjang kamar Mino.
“Aku hanya merasa akan sangat bosan di rumah sepanjang hari dan sendirian. Tidak ada yang bisa aku ajak bicara,” keluh Lysa dengan memebrengutkan wajah dan mengerutkan bibir, seperti anak remaja yang ingin merajuk pada teman lelaki yang dia sukai.
Selesai mengancingkan kancing pada kedua lengan kemejanya, Mino menghampiri Lysa yang duduk di pinggir ranjang. Mencoba meyakinkan gadis itu.
“Aku berjanji akan menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat supaya bisa pulang lebih awal. Jadi kau di rumah saja, jangan ke mana mana. lakukan apa pun yang kau sukai di dalam rumah. Jangan keluar karena kau itu sangat susah dicari kalau sudah berada di luar, kau tau?” ucap Mino. Sebenarnya, ia khawatir jika Lysa pergi ke luar, gadis itu akan diculik atau dibawa oleh Tuan Alvendo yang mungkin sekarang sedang mencarinya di mana mana.
Tidak bisa berbuat apa apa, Lysa pun hanya terdiam sebagai tanda setuju pada semua ucapan Mino.
“Berjanji akan pulang lebih cepat?” tanya lysa meyakinkan diri.
Kepala Mino mengangguk angguk. Kemudian lelaki itu tersenyum manis.
“Tentu saja. Aku akan usahakan untuk pulang lebih cepat supaya bisa segera bertemu denganmu di rumah. Ingat, jangan keluar ke mana mana.”
Setelah luluh, Lysa pun mengangguk anggukkan kepala. Ia menyetujui semua ucapan Mino tanpa perlawanan. Dalam hatinya, gadis itu sangat pasrah dan tidak ada pilihan selain mengiyakan apa yang Mino ucapkan. Lysa tahu betapa khawatirnya Mino selama ini, dan tidak ingin membuat lelaki itu lebih khawatir jika ia bermain ke luar rumah lalu ditemukan pingsan karena terlalu lemas atau kehabisan tenaga.
Terakhir, sebelum berangkat bekerja, Mino memeluk tubuh Lysa. Memeluknya dengan hangat. Kemudian mencium keningnya dan mengelus elus kepala gadis itu dengan pelan.
“Begitu dong. Kau sangat cantik saat mau menuruti apa yang kukatakan. Ah, juga, kalau ingin memesan makanan atau apa pun, aku tinggalkan beberapa brosur restoran pesan antar di meja makan. Kalau ingin makan apa pun, kamu bisa langsung memesan saja, aku juga sudah tinggalkan kartu kreditku di atas meja makan.”
Setelah itu Mino berangkat bekerja, meninggalkan Lysa yang berada seorang diri di dalam kamar apartemen. Melihat kepergian Mino, hati Lysa merasa mulai kesepian. Ia tidak yakin bagaimana ia menjalani sepanjang hari ini dengan penuh rasa bosan.
Di kafe, Mino melakukan pekerjaannya seperti biasanya. Pekerjaannya cukup banyak karena ia berada di Filipina selama beberapa minggu. Sampai jam makan siang ini, yang Mino lakukan hanyalah membaca laporan penjualan kafe dan juga sederet laporan lainnya yang diserahkan oleh Asisten Min, yang menggantikan pekerjaannya selama beberapa saat ia berada di Filipina.
Pada jam makan siang, Mino masih berada di dalam ruangannya untuk memeriksa tumpukan laporan yang ada di atas mejanya. Kemudian tiba tiba Asisten Min mengetuk pintu lalu masuk setelah mendengar aba aba dari Mino untuk masuk.
“Manajer Han, ada seseorang yang mencari Anda,” ujar Asisten Min.
“Siapa?” tanya Mino dengan pandangan yang masih fokus ke laporan statistik yang ia baca.
“Seseorang yang ingin bermitra dengan Moonlight Retail,” jawab Asisten Min.
Kening Mino mengernyit dalam dan kepalanya seketika itu mendongak. “Moonlight Retail? Tapi kenapa dia mencariku? Dia kan bisa menghubungi manajer di Moonlight Retail, kenapa malah datang kemari?” tanya Mino yang merasa aneh. Ia memang yang mengurus segala hal tentang Moonlight Retail setelah diresmikan, sebelum akhirnya semua pekerjaan itu diserahkan ke seorang manajer baru karena Mino harus kembali mengurus kafe sebagai Manajer Umum menggantikan tugas tugas Moon Yul sebagai pemilik.
“Itu, saya juga kurang tahu. Saya sudah memberi tahu kepada orang itu bahwa Anda sudah tidak lagi mengurusi Moonlight Retail. Tetapi orang itu bersi keras ingin bertemu dengan Anda untuk membicarakan sesuatu tentang kerja sama Moonlight Retail.” Asisten Min menjelaskan singkat.
Setelah berpikir sejenak, Mino pun menganggukkan kepala. Ia memutuskan untuk bertemu dengan seseorang itu.
“Baik. Saya akan persilakan dia masuk.”
Asisten Min membungkukkan badan kemudian keluar dari ruangan Mino. Hendak memanggilkan seseorang yang ingin bertemu dengan Mino.
Di dalam ruangan kerjanya, Mino masih melanjutkan beberapa pekerjaannya. Sampai sesaat kemudian, terdengar suara ketukan pintu yang ia duga adalah dari orang yang ingin bertemu dengannya.
“Ya, masuk.”
Mino mempersilakan orang tersebut masuk. Dan, masuklah seorang laki laki paruh baya yang berpakaian jas hitam yang tampak kusam.
Seketika tamunya masuk ke dalam ruangan, Mino berdiri dari duduk. Laki laki paruh baya yang baru masuk dengan membawa sebuah berkas di tangannya itu membungkukkan badan kepada Mino untuk menyapanya.
“Annyeonghasibnikka, Manajer Han.”
“Annyeonghaseyo, silakan duduk.”
Sambil berjalan menuju sofa di alam ruangannya, Mino mempersilakan pria paruh baya itu untuk duduk. Mereka berdua pun duduk dengan berhadap hadapan.
“Kalau boleh tau, apa yang ingin Anda bicarakan dengan saya?” tanya Mino sopan kepada pria paruh baya yang duduk berseberangan meja dengannya. Mino tidak mengenal siapa laki laki paruh baya itu, tetapi entah mengapa ia merasa familiar dengan wajahnya, mungkin mereka pernah bertemu sebelumnya karena bisnis.
“Saya pebisnis baru di bidang retail yang ingin bekerja sama dengan Moonlight Retail. Karena itu saya ingin bertemu dengan Manajer Han. Dari yang saya dengar, Manajer Han yang tahu banyak tentang moonlight Retail.” Laki laki paruh baya itu menjelaskan dengan singkat.
Kepala Mino mengangguk angguk. Moonlight Retail memang memiliki manajer pengelola yang sedang menjabat saat ini. Namun Mino memang yang tahu banyak mengenai Moonlight Retail mengingat kalau dulu ia yang mengurus segalanya di sana. Dan sekarang pun, manajer baru yang mengelola Moonlight Retail itu pun sering mendiskusikan sesuatu masalah bersama Mino.
“Boleh saya lihat resum tentang Anda dan juga portofolio Anda?” tanya Mino.
“Ya, tentu saja.”
Pria paruh baya itu kemudian mengulurkan berkas yang dibawanya kepada Mino. Mino pun menerima berkas itu dan membacanya sekilas.
“Pak Kim?” Mino memastikan panggilannya kepada laki laki paruh baya yang ada di hadapannya.
“Ya.”
“Ini pertama kalinya Anda memiliki bisnis di bidang retail?” Mino kembali bertanya.
“Ya, ini pertama kalinya.”
“Tapi ini saya lihat kalau Anda sudah cukup berpengalaman di bidang bisnis,” lanjut Mino.
“Sebelumnya saya memang berbisnis. Tapi di bidang lain, dan sekarang saya ingin mencoba berbisnis di bidang retail.” Pak Kim memberi penjelasan singkat.
Selama beberapa saat mino membaca portofolio Pak Kim. Merasa kalau portofolio yang dibacanya itu bagus dan cukup menarik perhatian, Mino pun meletakkan berkas itu ke atas meja dan berkata, “Apa Anda sudah membawa proposalnya?”
“Baiklah. Saya akan membaca proposal ini dan membicarakannya dengan manajer Moonlight Retail. Bagaimana pun, ini adalah wewenangnya. Saya hanya bertugas menyampaikan apa pendapat saya mengenai pengajuan kerja sama yang Anda ajukan ini.”
Pekerjaan Mino hari ini selesai sampai pada pukul tiga. Seperti janjinya kepada Lysa, ia ingin pulang lebih cepat untuk menemani Lysa di rumah.
Tetapi rencana Mino itu tidak dapat berjalan dengan lancar karena seseorang yang datang ke kafe pada jam ketika Mino mau pulang. Laki laki yang mencarinya di kafe itu tidak lain adalah Brian. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Brian muncul di hadapan Mino dan ingin berbicara dengannya.
Ceritanya, Mino sedang berjalan keluar dari kafe. Ia menuju mobilnya yang terparkir di halaman kafe. Namun tiba tiba Brian menghampiri tepat ketika Mino hendak membuka pintu mobilnya.
Awalnya kedua laki laki itu bertatap tatapan dengan canggung. Mereka sama sama memendam amarah untuk masing masing. Sama sama ingin bericara satui sama lain untuk membicarakan seorang gadis yang menjadi korban, yang kehidupan dan masa depannya di pertaruhkan dengan sangat tidak manusiawi.
“Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Bisa kita berbicara sebentar?” itu yang Brian katakan kepada Mino untuk mmecahkan kecanggungan di antara mereka.
Dan Mino pun memberikan jawaban dengan pasti. “Aku juga ada yang ingin kubicarakan denganmu.”
Akhirnya kedua laki laki itu memutuskan untuk berbicara empat mata. Mino kembalib masuk ke dalam kafe untuk membawa Brian menuju ruangannya. Berbicara di kursi pelanggan akan sangat mencurigakan untuk para karyawan Mino. Sehingga akhirnya Mino memutuskan untuk mengajak Brian berbicara di dalam ruang kerjanya.
Begitu keduanya masuk ke dalam ruangan dan duduk berhadap hadapan di atas sofa, yang pertama kali terlontar dari mulut Brian adalah, “Di mana Lysa?”
Kening Mino mengernyit dalam. Mendengar kata kata Brian itu, garis rahang Mino mengeras. Wajahnya terlihat kaku karena muncul perasaan geram di dalam hatinya mendengar kata kata Brian. Setelah membuat Lysa terlibat dalam masalah keluarganya seperti ini, untuk apa laki laki itu mencari Lysa dan menanyakan keberadaannya kepada Mino? Mino pikir, Brian itu sudah gila dan tidak bisa berpikir dengan waras di saat saat seperti ini.
“Untuk apa kau mencarinya? Untuk kau hancurlkan lagi?” tanya Mino sinis. Tatapan tajamnya tertuju pada Brian yang memasang wajah sedih karena lelah mencari Lysa ke mana mana.
“Aku tidak pernah menghancurkan gadis yang aku sayangi. Justru kau yang sudah menghancurkannya.” Brian menyangkal dengan tajam. Ia membalas tatapan tajam Mino dengan penuh amarah. Untuk laki laki seperti Brian yang jarang mengekspresikan emosinya kepada orang lain, tahap kemarahannya saat ini benar benar sudah memuncak.
Mino hanya tertawa pelan mendengar Brian berkata demikian. Jelas jelas Brian yang membuat Lysa begitu hancur karena kelakuannya. Dan tidak hanya itu, Biran juga telah membuat Lysa hancur karena melibatkan gadis itu dalam urusan keluarganya yang ribet itu. Jelas jelas Lysa berkata tidak ingin bersamanya dan hanya menganggapnya sebagai seornag kakak, tetapi laki laki itu tidak juga mengerti dan terus mengharapkan Lysa bahkan menggunakan cara yang salah, cara yang nyaris menghancurkan hidup dan masa depan Lysa.
“Apa kau bahkan tau kalau Lysa hampir saja kehilangan nyawa? Apa kau tau kalau dia benar benar nyaris kehilangan naywa jika saja aku terlambat sedikit saja membawanya ke rumah sakit hari itu? Kau berada di Seoul selama ini dan untuk waktu yang lama. Tapi kau sama sekali tidak memperhatikan Lysa, tidak peduli padanya, bahkan ketika dia sakit dan hampir mati! Apa kau sungguh menyayanginya? Ku rasa, kau tidak menyayangi Lysa sungguh sungguh dan hanya ingin bersamanya untuk kepentinganmu saja bukan?”
Mino usdah tidak dapat lagi menahan kesabarannya. Ia singguh marah pada Brian yang tidak bertanggung jawab atas Lysa bahkan setelah menghancurkannya. Ia sangat marah karena Lysa harus melalui semua ini karena ulahnya yang tidak manusiawi itu. Mino juga laki laki. Mino juga menyayangi Lysa lebih besar dari Brian menyayangi Lysa. Tapi, Brian sama sekali tidak pernah memikirkan keadaan Lysa. Tidak pernah memikirkan dari sudut pandang Lysa. Yang Brian pikrikan hanyalah kebahagiaan dan kesenangannya saja, tidak mempertimbangkan dari sisi Lysa. Brian sangat egois dan kurang ajar. Dia tidak pantas bersama Lysa. Sungguh tidak pantas. Sama sekali tidak pantas!
Merasa kemarahannya saat ini sudah tidak terkendali, Mino mengalihkan sejenak pandangannya dari Brian, untuk mengendalikan emosi dan juga perasaan marah yang ia rasakan. Sementara itu, Brian yang terkejut dengan apa yang didengarnya dari Mino itu hanya terbengong. Laki laki itu sedang ebrusaha mencerna perkataan Mino tentang Lysa yang katanya hampir saja meninggal... karenanya.
Brian masih terdiam. Tatapan matanya yang sebelumnya tampak menahan amarah yang teramat dalam terhadap Mino itu, mendadak menjadi pilu dan penuh kepedihan.
“Lysa ... hampir kehilangan nyawa? Kenapa? Apa yang terjadi padanya?” tanya Brian khawatir mendengar cerita tentang Lysa.
Mino menghela napas panjang. Ia beranjak dari duduk akrena merasa terlalu lelah untuk berbicara dengan brian yang telah membuat gadis yang sangat disayanginya berada dalam masa masa sulit karenanya.
“Sekarang Lysa sudah baik baik saja. Selama ada aku, aku akan menjamin kalau Lysa akan tetap baik baik sada. Dan asalkan kau serta keluargamu itu tidak ikut campur dalam hidup Lysa, Lysa akan tetap baik baik saja. Jadi kuperingatkan di awal, jangan membuat lysa berada dalam masa yang lebih sulit lagi. Siapa pun itu, aku tidak segan untuk menghancurkannya jika ia membuat wanita yang kucintai merasa sulit dan tidak bahagia.”
Setelah mengatakan semua itu, Mino berjalan keluar dari ruangannya. Meninggalkan Brian yang masih duduk terpegun di atas kursi sofa. Mino berjalan meninggalkan ruangan. Keluar dari kafe menuju mobilnya yang terparkir di halaman. Tanpa menunggu lama lagi, Mino masuk ke dalam mobilnya dan melaju menuju Nohyeon dong, distrik tempat apartemennya berada.
Tidak lama kemudian Mino telah sampai di kompleks apartemennya. Dan ia merasa terkejut ketika melihat beberapa mobil hitam mengintai di depan gedung apartemennya. Mino tidak yakin mereka siapa. Tapi, melihat dari beberapa bodyguard yang berjaga di sekeliling mobil, yang mereka semua adalah laki laki asing (seperti orang Amerika berkulit putih), Mino merasa kalau mereka semua adalah orang suruhan Tuan Alvend dari Hangin Grup.
Mino mengembuskan napas panjang panjang, merasa benar benar lelah terhadap Hangin Grup dan semua yang terlibat di dalamnya. Tuan Alvend maupun Brian, keduanya sama saja kehidupan Lysa menjaid sangat terbatas dan tidak bebas seperti dulu lagi. Membatasi gerak Lysa dan membuat Lysa berada dalam masa masa yang semakin sulit.
Mobil yang dikendarakan Mino hanya melintasi mobil mobil yang berjajar di depan gedung apartemennya. Mino mengendarakan mobilnya memasuki tempat parkir bawah tanah. Setibanya di basement, Mino pun menghentikan mobil setelah terparkir dengan baik di sana. Seketika itu Mino mengambil ponselnya. Melakukan panggilan telepon pada pihak keamanan gedung apartemen yang ditinggalinya. Apartemen yang di tempati Mino itu adalah aprtemen elit yang ditempati oleh masryarakat kalagan atas kota Seoul. Ada artis, idola, dan beberapa profesi lainnya yang meninggali apartemen ini. Sehingga tidak jarang kompleks apartemennya itu diintai oleh penggemar dari artis atau idola yang tinggal di sana. Sehingga melaporkan ketidaknyamanan ataau keluhan terhadap hal hal yang menganggu itu sangat diperbolehkan. Pihak pengelola apartemen sangat menghargai privasi pemilik unit yang tinggal di gedung tersebut. merkea juga cekatan dalam menangani keluhan yang disampaikan.
“Halo, saya Han Mino, yang tinggal di unit A 805. Di depan gedung apartemen, saya lihat beberapa orang sedang melakukan pengintaian. Tolong segera ditindaklanjuti, itu sangat mengganggu kenyamanan saya sebagai penghuni apartemen. Mereka juga terlihat mencurigakan. Kalau perlu, panggil polisi setempat untuk mengusir pengintai itu.”
Setelah menyampaikan keluhannya, pihak keamanan apartemen langsung memberikan respon positif terhadap keluhan Mino. Dan setelah itu Mino mematikan panggilan tersebut. turun dari mobil menuju unit apartemennya yang berada di lantai delapan.
Begitu masuk ke dalam apartemen, tidak terlihat keberadaan Lysa di lantai satu. Mino menengok ke sekeliling. Memeriksa kamar tidur dan Lysa tidak ada di dalamnya.
“Chagiya~ Lysa, kau di mana?” Mino memanggil manggil Lysa, tetapi tidak ada tanggapan.
Mulai tumbuh peradaan panik di dalam kepala Mino. Lalu laki laki itu terburu buru naik menuju lantai dua. dan di lantai dua, terlihat sosok Lysa yang sedang berdiri di depan jendela kaca dengan tubuh yang terpaki pada pemandangan di bawah.
“Lysa... kau membuatku khawatir karena tidak menjawab penggilanku.” Sambil berjalan menuju Lysa, Mino menceletuk lega. Napasnya berembus panjang panjang karena merasa begitu lega melihat Lysa masih berada di dalam apartemennya.
Merasa tersentak terhadap kedatangan Mino, tubuh Lysa seketika menoleh. Gadis itu sontak tersenyum melihat kedatangan Mino.
“Chagi memanggilku? Aku tidak mendengar, hehe.”
Setiba di hadapan Lysa, Mino langsung memeluknya dengan erat. Membuat Lysa sangat terkejut karena pelukan tidak teduga yang sangat erat itu. Mino memeluk Lysa dnegan erat sampai sampai membuat Lysa kesulitan bernapas. Dan sikap Mino yang aneh itu membuat Lysa merasa curiga.
“Ada apa, Chagiya? Apa yang terjadi? Ada sesuatu?” tanya Lysa sambil membelai kepala Mino yang menyungkur di kepalanya.
Sejenak kemudian, Mino mengangkat pandangannya. Bertatap tatapan dengan Lysa.
“Tidak ada apa apa. Aku hanya sangat merindukanmu. Kau tidak apa apa kan? Sudah minum obat? Ah, sudah makan?” tanya Mino khawatir.
“Aku sudah makan tadi siang. Sudah minum obat.”
“Anak pintar,” gumam Mino sambil mengacak acak rambut Lysa dengan bangga.
Pandangan Lysa kembali terarah ke luar jendela. Melihat beberapa mobil hitam yang berjalan menjauh setelah beberapa petugas keamanan yang mengusir mereka.
“Mereka datang untuk mencariku,” ucap pelan Lysa sambil menatap sendu jalanan di bawahnya.
Mendengar itu, Mino kembali memeluk tubuh Lysa. Ia memeluk Lysa dari belakang dan menyandarkan kepalanya pada bahu sang gadis.
“Kau akan tetap aman bersamaku. Tidka usah khawatir.”
Lysa terdiam. Setelah beberapa saat, ia menoleh kepada Mino di bahu kirinya dan berkata, “Tidak. Aku sendiri yang akan mengusir mereka. Aku sendiri yang akan berbicara dengan Tuan Alvend untuk menghentikan semuanya....”
Terkejut mendengar apa yang Lysa katakan, kepala Mino seketika itu terngkat. Ia memutar tubuh Lysa untuk menghadapnya.
“Kim Lysa, apa yang sedang kau rencanakan? Apa yang akan kau lakukan?”
**