
Bab 59
Nyanyian merdu kekasih yang tampan
Di lantai dua apartemennya, Mino menunggu dengan rasa cemas dan khawatir yang memuncak di dada. Kakinya tidak bisa diam. Ia tidak bisa duduk dengan tenang karena merasa terlalu mencemaskan Lysa yang sedang berbicara dengan brian di lantai satu. Mino bahkan menggigir kuku jari jari tangannya karena merasa begitu khawatir.
‘kenapa tidak terdengar suara apa apa? Bagaimana jika Brian melakukan hal yang buruk seperti membius Lysa dan membawanya pergi secara diam diam? Brian kan profesor biologi, pastinya dia tau banyak tentang unsur unsur manusia dan bisa melakukan sesuatu yang membuat Lysa diam diam tidak sadar. Astaga... apa yang aku pikirkan ini? kenapa mereka sangat hening dan tidak terdengar bunyi apa apa? Apa jangan jangan Lysa sudah dibawa pergi olehnya? Haruskah aku memeriksa mereka di lantai satu? Tidak tidak, jika aku melakukannya, nanti Lysa akan marah. Dia ingin bicara empat mata dengan Brian. Kalau aku turun lagi ke lantai satu dan mengawasi jalannya percakapan mereka, Lysa akan marah padaku, seolah olah aku tidak percaya padaku... Hais... tapi aku tidak bisa berhenti memikirkan hal hal burung yang kemungkinan terjadi.’
Sambil menggerak gerakkan kaki secara tidak sadar dan menggiit gigit kuku jari tangannya, Mino memikirkan semua itu. Keningnya mengerut dalam dengan tatapan waspada yang menatap sesuatu di atas meja.
“Bagaimana jika terjadi sesuatu, Hyung? Kenapa mereka tidak ada suara sama sekali?” Minjae yang duduk di sebelah Mino dengan perasaan khawatir yang sama itu menceletuk pelan. Laki laki muda itu juga tampak khawatir karena tidak dapat mendengar suara apa pun dari bawah.
“Tidak boleh begini!”
Merasa tidak sanggup lagi menahan semua gejolak pikiran dan semua tanda tanya yang ada di kepalanya. Ia sungguh tidak bisa menahan rasa cemasnya terhadap Lysa. Terlebih, kondisi Lysa sedang tidak begitu sehat saat ini. kalau gadis itu tiba tiba pingsan dan dibawa keluar secara diam diam oleh Brian, juga tidak ada yang tahu.
Mino yang sudah tidak sanggup lagi menahan rasa cemas yang ada di kepalanya, seketika langsung beranjak bangkit dari duduk.
“Hyung, kau mau turun ke lantai satu?” tanya Minjae yang tersentak melihat kakaknya tiba tiba beranjak berdiri dari duduk dengan raut wajah cemas yang tidak dapat tertutupi lagi.
“Paling tidak aku ingin memastikan kalau Lysa masih ada di dalam apartemenku.”
Mino menjawab pertanyaan adiknya dengan gumaman pelan. Laki laki itu berjalan menjauhi tempat duduk di lantai dua. berjalan menuju anak tangga menuju lantai satu. Dan baru beberapa langkah berjalan saja, terdengar suara pintu apartemen nya yang terbuka. Tubuh Mino langsung tersentak dengan rasa khawatir bahwa itu adalah suara Brian yang membawa Lysa keluar dari apartemennya. Dan tidak hanya Mino yang merasa tersentak karena suara pintu yang terbuka itu. Kedua adiknya, Mina dan juga Minjae, ikut tersentak dan langsung berdiri dari duduk. Mereka bertiga berlari cepat menuju anak tangga untuk memastikan bahwa di lantai satu masih ada sosok Lysa.
“Sayang!”
Dari ujung anak tangga itu, Mino menceletuk kaget. Kakinya seketika itu berhenti melangkah. Ia menghadang kedua adiknya untuk tidak segera turun ke lantai satu. Karena, pemandangan yang saat ini Mino saksikan adalah Kim Lysa yang sedang menangis tersedu sedu di atas sofa lantai satu apartemen Mino. Gadis itu menangi sendirian sementara Brian telah tidak berada di sana lagi. Rupanya, suara pintu apartemen yang terbuka tadi adalah suara yang mengiringi kepergian Brian seorang diri.
Melihat kekasihnya yang sedang menangis sesegukan di atas sofa, Mino segera memberikan aba aba untuk kedua adiknya yang juga mencemaskan Lysa yang sedang menangis itu.
“Adik adikku.” Panggil Mino.
“Ya, Hyung.”
“Ya, Oppa.”
“Sepertinya kalian harus pulang lebih awal hari ini. Aku akan menenangkan Lysa setelah ini. Jadi kalau kalian mau pulang sewaktu waktu, tidak usah mencariku. Cukup kirimi aku pesan teks jika kalian sudah sampai di rumah dengan selamat.” Mino memberikan pesan pada kedua adiknya.
Hari ini adalah hari sabtu, sebentar lagi malam Minggu. Biasanya, Mina dengan Minjae memang datang ke apartemennye di malam minggu untuk mengajaknya makan makan bersama dan bermain sampai larut malam di dalam apartemen Mino. Di apartemen Mino ada banyak alat alat canggih yang tidak dapat mereka mainkan di rumah. Seperti konsol game, peralatan gym, perangkat VR dan tiga dimensi, serta beberapa peralatan canggih lainnya yang sangat disukai Mina dan juga Minjae. Sehigga mereka pasti datang kemari di akhir pekan atau pun hari libur lainnya. Namun sepertinya hari ini mereka tidak bisa bermain sampai larut malam, karena ada Lysa yang butuh waktu utnuk menenangkan pikiran.
“Baiklah, Oppa.”
“Okay, Hyung.”
Untungnya kedua adik Mino itu, biar pun agak bandel, tetap mengerti akan situasi dan kondisi. Jika mereka berada di apartemen Mino semalaman, mereka hanya akan membuat kegaduhan dan membuat Lysa tidak bisa beristirahat dengan nyaman. Sehingga mereka pun mengerti dan memilih untuk memberikan ketenangan pada kakak iparnya yang sedang kurang sehat dan berada dalam waktu waktu yang sangat sulit itu.
Setelah menyampaikan pesan pada kedua adiknya, Mino pun perlahan lahan berjalan menuruni tangga. Sementara Mina dan Minjae hanya menyaksikan kakaknya itu dari ujung tangga lantai dua. melihat Mino yang sedang mendatangai Lysa di atas sofa dan langsung memeluknya dengan hangat.
“Hhh... ini lebih menyedihkan dari adegan drama.” Mina yang menyaksikan adegan yang sangat sedih ketika Mino memeluk Lysa dengan hangat, menceletuk pelan kepada Minjae. Baru kali ini ia merasa sangat sedih melihat kakak iparnya menangis. Padahal, sebelum sebelumnya ketika Mina melihat Jiwon menangis di hadapan Mino dan meminta perhatian lelaki itu, Mina hanya merasa muak seperti ingin muntah. Namun, kali ini ia benar benar sedih melihat wanita yang akan menjadi kakak iparnya menangis dengan sangat pilu di pelukan Mino.
“Kali ini, aku berharap Hyung benar benar bisa menikah dengan Nunim. Aku tidak pernah mendukung orang pacaran selama ini. tapi, aku mendukung Hyung berpacaran dengan wanita seperti Nunim, yang seperti malaikat pemberani.” Minjae mengimbuhkan.
“Jadi kau tidak mendukungku pacaran, Minjae ya?” desus Mina pelan yang seketika membuat Minjae menoleh. Dilihatnya tatapan mematikan dari Mina yang berdiri di sebelahnya.
Sambil berdeham deham pelan, Minjae berjalan menuruni tangga. “Ehmn ... augh.. mereka romantis sekali. Aku sampai tidak bisa berkata kata.”
**
“Bisa kau ceritakan padaku, kenapa kau tadi menangis dengan sangat sedih saat Brian pergi meninggalkan apartemenku...”
Setelah beberapa saat suasana hening, akhirnya Mino memulai percakapan. Laki laki itu sedang tidur memiring di atas ranjang tidurnya, memeluk Lysa yang masih terbawa kesedihan setelah Brian datang ‘berkunjung’ ke mari.
“Aku menyayangkan semuanya.” Lysa bergumam pelan di dalam pelukan Mino. Sungguh. Hari ini gadis itu merasa sangat lelah secara fisik dan juga psikologis. Mulai dari kejadian dengan ayahnya, sampai kedatangan Brian yang tidak diundang. Semuanya membawa rasa lelah yang teramat pilu untuk Lysa yang secara fisik memang belum benar benar sehat.
“Apa saja yang kamu sayangkan?” Mino bertanya, sambil membelai lembut rambut Lysa. Lalu mempererat dekapannya pada sang gadis yang terlihat sangat lemas dan tidak bertenaga sama sekali.
“Semuanya. Brian adalah orang yang baik. Selama lebih dari sepuluh tahun kita saling mengenal, Brian selalu memperlakukan ku dengan baik. Dia memperhatikanku seperti perhatian seorang kakak. Dan sejak dulu, hal yang paling ku inginkan adalah saudara. Entah adik atau pun kakak, aku sangat menginginkan paling tidak salah satunya. Brian membuatku merasa seperti memiliki kakak laki laki yang bisa kuandalkan. Dan mungkin karena itu, sejak kecil aku menyukainya. Aku menyukainya yang bersikap menjagaku dan memperlakukan aku penuh rasa perhatian. Dan sampai aku remaja, sepertinya aku salah mengira. Aku salah mengartikan rasa sukaku kepada Brian itu sebagai rasa yang disebut orang dewasa sebagai rasa cinta. Aku tubuh dengan pikiran bahwa aku mencintainya, padahal itu adalah rasa sayang sesama saudara. Dan berkali kali aku mengutarakan perasaanku pada Brian. Sampai pada akhirnya, aku bertemu denganmu, pria pertama yang benar benar memperkenalkanku dengan rasa cinta yang sesungguhnya. Hingga akhirnya aku menyadari, bahwa rasa yang selama ini kurasakan terhadap Brian bukanlah cinta, melainkan rasa suka atau pun sayang kepada nya sebagai laki laki yang telah menjagaku selama ini, yang melindungiku seperti seorang kakak.”
Lysa bercerita pelan selagi berada di pelukan Mino yang hangat. Ia balas mendekap tubuh Mino. Merasakan kehangatan tubuh lelaki itu. Lysa menelusupkan kepalanya di antara dada bidan sang kekasih. Menghirup aroma tubuh Mino yang seperti obat penenang untuk Lysa cium.
“... Aku teringat kembali semua waktu dari masa kecil sampai dewasa yang aku lalui bersama Brian. Biar bagaimana pun, Brian adalah laki laki pertama di hidupku yang menemani hari hariku dengan indah. Ketika ayah dan ibukku sama sama sibuk bekerja, Brian yang menemaniku bermain. Ketika nenekku meninggal, Brian yang mengantarku dengan mobil sementara ibu dan ayah baru menyusul di sore harinya. Aku mengingat semua itu. Dan aku merasa sangat kehilangan ketika melihat Brian yang sekarang, yang benar benar berbeda dari Brian yang aku kenal sebelumnya. Aku merasa seperti telah kehilangan sesosok teman sekaligus kakak laki laki yang biasanya menjagaku dan melindungiku. Aku merasa sangat sedih jika harus melawan Brian dan keluarganya di depan hukum. Aku seperti merasa tidak tega karena aku memikirkan mereka sebagai bagian dari keluargaku. Namun di sisi lain jiwaku sendiri terancam jika tidak melakukan perlawanan. Karena itu aku merasa serba salah, merasa sangat sedih sampai aku menangis tanpa terkendali.”
Selagi melanjutkan ceritanya, air mata Lysa kembali berlinangan. Membasahi dada Mino.
Mino mendengarkan dengan baik semua cerita dan keluh kesah Lysa. Ia tahu, ini semua pasti berat untuk Lysa. Ia tahu, Lysa ada di posisi serba salah yang membuatnya tertekan secara psikologis. Bahkan Mino sekali pun merasa cukup sedih mendengar cerita Lysa. Apalagi Lysa yang merasakan semua itu sendirian.
“Sayang, aku rasa kamu saat ini sedang sangat lelah. Ya kan? Kamu hanya sangat lelah. Maka dari itu sekarang istirahat lah. Kamu merasa sangat sedih karena tubuh dan pikiranmu terlalu lelah merespon semua yang terjadi hari ini. Jadi sekarang beristirahatlah. Aku akan tetap memelukmu seperti ini.”
Sambil membelai wajah Lysa dengan lembut, Mino mengucapkan semua itu. Hari ini memang sangat melelahkan untuk Lysa. Lysa mengalami banyak kejadian menyedihkan yang mencabik cabik hatinya menjadi beberapa bagian. Ditambah lagi kedtangan brian yang semakin membuat Lysa merasa semakin tertekan.
Mino tahu, Lysa merasa sangat lelah hari ini. karena peristiwa menyedihkan yang terjadi antara ia dan ayahnya, Lysa merasakan tekanan batin yang cukup besar. Karena ini adalah masalah dengan ayahnya. Sementara ayah adalah satu satunya anggota keluarga yang Lysa miliki, yang ada untuk Lysa. Dan jika ayah Lysa tidak mengakuinya sebagai seorang putri lagi, maka Lysa benar benar tidak memiliki siapa siapa selain Mino.
Selama ini Lysa berjuang begitu keras untuk ayahnya. Sekuat tenaga gadis itu berusaha bertahan di tengah hancurnya keluarganya akibat perceraian orang tuanya itu. Dan sekuat tenaga Lysa bertahan dengan selalu terlihat baik baik saja di depan sang ayah karena tidak mau terlalu membebaninya. Lysa bekerja untuk mencari uang dalam rangka mengurangi beban finansial sang ayah. Selain masalah keuangan, ada banyak hal lain yang Lysa korbankan untuk sang ayah, demi terlihat baik baik saja sehingga tidak menambah beban sang ayah yang hidupnya telah hancur berkeping akibat penghianatan sang ibu dan juga kebangkrutan bisnis.
Lysa bertajan sampai titik in untuk sang ayah. banyak hal yang Lysa lakukan selama ini semata mata karena ia ingin membantu ayahnya memiliki kehidupan yang lebih baik. Seperti Lysa berusaha untuk belajar lebih keras supaya nantinya bisa membantu ayahnya mengelola bisnis baru, dan banyak hal lainnya. Namun hari ini Lysa merasakan penolakan yang teramat kasar dari ayahnya. Kedatangannya ditolak mentah mentah oleh ayahnya hanya karena Lysa menginap beberapa hari di rumah Mino setelah selamat dari kematian hari itu. Selain untuk alasan kesehatan, Lysa hanya merasa sangat lelah menghadapi konflik dengan keluarga Hangin Grub, sehingga ia ingin selalu bersama Mino yang menjadi sandaran hangat untuknya. Namun tanpa diduga, hal itu justru memuci kemarahan yang besar pada ayah sampai sampai ayah tidak mau lagi mengakui Lysa sebagai putrinya dan mengusirnya jauh, bahkan menyebut Lysa sebagai perempuan ****** (ini adalah sebutan yang sering Lysa gunakan untuk mengata ngatai ibunya di dalam hati ketika mengingat apa yang telah ibunya lakukan terhadap sang ayah; selama ini Lysa menganggap bahwa ibunya adalah perempuan ****** yang menghianati cinta tulus dari ayahnya untuk berselingkuh dengan laki laki muda; dan tanpa diduga, sebuhan ****** itu dipakai ayah Lysa untuk menyebut Lysa yang menginap bersama seorang lak laki yang sangat dicintainya).
Tentu saja, Lysa tidak dapat menyalahkan ayahnya. Karena bagaimana pun seorang ayah pasti tidak ingin putri satu satu yang dimilikinya, telah ‘dicicipi’ oleh laki laki yang belum menjadi suaminya. Meski itu adalah hal biasa untuk masyarakat Korea selatan, tetap saja hati ayah Lysa tidak rela. sehingga ia marah besar kepada Lysa dan menyebutnya ******.
“Benar, Sayang. Aku sangat lelah hari ini.”
Lysa yang merasakan belaian lembut pada wajahnya itu membenarkan apa yang Mino ucapkan. Lki laki itu memang benar sekali, bahwa Lysa hanya merasa sangat lelah menghadapi semua permasalahan hidupnya yang datang bertubi tubi.
“Karena itu istirahatlah. Perlu aku nyanyikan lagi supaya kau cepat tidur?” Mino mengimbuhkan.
Kedua mata Lysa terbelalak. Baru pertama kali ini ia mendengar Mino menawarkan diri untuk bernyanyi.
“Sayang bisa bernyanyi untukku? Bernyanyi apa?” tanya Lysa yang cukup penasaran terhadap nyanyian Mino.
“Bisa dong. Yah setidaknya suaraku tidak sampai merusak gendang telinga orang lain,” jawab Mino sambil bercanda.
Mino yang sedang bersiap siap untuk menyanyikan lagu pengantar tidur itu kembali memeluk tubuh Lysa dengan hangat. Menenggelam kan kepala Lysa di antara leher dan dadanya yang bidang itu. Mendekap Lysa dengan erat lalu mulai menyanyikan lagu kesukaannya, lagu berjudul ‘Dont Worry, My Dear’ yang diciptakan dan dinyanyikan oleh penyanyi sekaligus musisi legendaris Korea Selatan, Jeon In Kwon.
Geudae yo amu gongjong haji marayo
[Kamu jangan khawatir untuk apa pun]
Uri hamkke norae habsida
[Mari kita bernyanyi bersama]
Geudae apeun giok deul modu gaedae yo
[Semua kenangan menyakitkanmu]
Gaedae gaseum e gip i mudo beorigo
[Terkubur jauh di dlam hatimu]
Suara Mino mulai mengalun pelan mengisi gendang telinga Lysa. Merdu, pelan, dan menenangkan. Kurang lebih seperti itulah nyanyian Mino yang sedang diperdengar kan kepada Lysa saat ini. Suara Mino sangat pelan dan merdu. Suara bas pada tenggorokannya memberikan kesan yang maskulin untuk siapa pun yang mendengar. Meski pun lantunan lagu Mino tak sebagus nyanyian seorang penyanyi profesional sekelas Sung Si Kyung atau pun K Will, Lysa merasa sangat bahagia karena Mino menyanyikannya dengan sangat tulus, dengan emosi yang tidak dibuat buat.
Lysa yang merasa sangat senang dan tenteram mendengar suara merdu Mino yang lirih di telinganya itu pun tersenyum sembari menikmati alunannya. Ia mempererat pelukannya pada Mino sementara Mino terus melanjutkan kegiatan bernyanyi untuk membuat hati Lysa menjadi lebih tenang. Membuat Lysa sejenak lupa pada permasalahannya dan bergegas tidur untuk mengistirahatkan tubuh dan juga pikiran.
Jinagan go seul jinagan daero geuron uimi ga it jyo
[Semua hal yang telah berlalu biarlah berlali, itu semua memiliki arti]
Deonani ege norae haseyo
[Bernyanyilah pada mereka yang telah pergi]
‘Hue eopsi saranghae nora mareyo’
[Katakan padanya kamu mencintainya tanpa penyesalan]
Nyanyian Mino masih terus berlanjut, sampai akhirnya Lysa pun terlelap dalam pelukan hangat Mino dan juga buaian merdu suaranya yang meresap ke dalam hati. Lysa terlelap di pelukan Mino. Sedangkan Mino yang merasakan embusan napas Lysa yang telah terlelap itu, menghentikan nyanyian dan memiringkan tubuh untuk menatap Lysa yang telah terbang ke alam mimpi.
Dalam keheningan ruangan Mino menatap wajah Lysa. Wajah yang biasanya tersenyum dengan begitu manis dan ceria itu kini semakin meredup senyumannya. Pipi Lysa semakin tirus karena berat badannya yang terus berkurang. Lysa yang biasanya paling semangat ketika makan dagung sapi, menjadi tidak begitu memiliki nafsu makan yang tinggi bahkan ketika Mino membelikannya daging sapi panggang di restoran Itaewon yang katanya paling enak itu. Mino hanya membatin. Bagaimana bisa, seorang gadis muda yang bertubuh mungil seperti Lysa itu menanggung permasalahan hidup yang teramat berat. Mulai dari masalah keluarganya, masalah pribadinya, sampai masalah besar yang melibatkan Hangin Grub. Bagaimana bisa? Sungguh... Mino tdak habis pikir.
Kalau tidka ada Mino, apa yang akan terjadi pada Lysa? Apakah Lysa akan tetap baik baik saja melawan Hangin Grub seorang diri? Atau pada akhirnya dia menyerah? Tidak. Lysa adalah gadis yang luar biasa di mata Mino. Mino yakin, tanpanya pun, Lysa bisa bertahan. Namun, karena Mino ada untuk Lysa, laki laki itu bertekad untuk tidak akan melepaskannya. Sungguh, apa pun yang terjadi, Mino tidak akan melepaskan tangan Lysa. Mino akan tetap menggenggam tangan mungil gadis itu untuk membawanya berlari menuju kebahagiaan.
Mino yang mengucapkan segala janji yang tidak terucap untuk Lysa itu, perlahan lahan mengecup kening Lysa. Memberinya kecupan dengan sangat lembut supaya tidak membangunkan Lysa dari tidurnya yang lelap. Dan setelah memberinya kecupan lembut, Mino kembali mendekapnya dengan hangat sambil membisikkan kalimat dengan sangat lirih di telinga Lysa.
“Aku menyayangimu, Kim Lysa. Karenamu aku bisa hidup. Aku tidak akan melapasmu apa pun yang terjadi. Sungguh tidak akan.”
**