
Epilog
“Sayang, cepatlah kemari! Waktunya sarapan.”
Suara Yebin dari dapur lantai satu terdengar sampai lantai dua tempat Yul dan Hanyul menyibukkan diri waktu yang masih sangat pagi ini. Kedua laki laki itu sedang berada di ruang melukis. Yul sedang sibuk mengajari putranya yang sudah berumur sepuluh tahun menggambar di ruang melukisnya.
Ceritanya, pada liburan musim panas nanti Yul akan mengadakan pameran seni di galeri seni keluarganya. Ia telah membangun sebuah galeri seni di pulau ‘Moon Family Island’. Pembangunannya baru selesai sekitar satu bulan lalu. Dan Yul rencananya akan mengadakan pameran seninya yang pertama kalinya di pulau tersebut. Lukisan lukisan yang akan dipamerkannya dalam pameran seni itu adalah lukisan yang selama ini hanya tertimbuh di dalam ruangan pribadinya. Selain itu, ia juga ingin memamerkan hasil lukisan dari tangan ajaib putra sulungnya, Moon Hanyul, yang memiliki bakat besar menjadi pelukis terkenal seperti Yul.
Yul telah berjanji bahwa jika salah satu anaknya ada yang memiliki bakat besar dan ketertarikan dalam dunia lukis, ia akan mendukung dengan sepenuh hati. Artinya Yul akan melakukan segalanya untuk menjadikannya purtranya sebagai pelukis terkenal. Menjadi pelukis terkenal adalah yang Yul cita citakan sejak kecil. Tak apa jika ia tak berhasil meraih mimpi itu karena harus fokus pada hal lain, namun ia bisa mewujudkan mimpi putranya yang ingin menjadi pelukis terkenal.
Sejak berumus lima tahun, Hanyul telah diajari teknik teknik melukis yang baik oleh Yul. Sejak umur yang masih sangat dini kemampuan melukis Hanyul sudah diasah. Hasilnya, bakat yang dimiliki Hanyul pun bisa maksimal. Ia bisa melukis dengan sangat baik di usia sepuluh tahun. Bahkan Yul tidak ragu untuk menyertakan semua lukisan Hanyul dalam pameran seni yang akan ia selenggarkan di pulau.
“Ayah! Ibu menyuruh ayah dan kakak turun. Cepat turun!”
Dari ambang pintu ruang lukis itu, terdengar suara teriakan anak perempuan berusia empat tahun. Ia adalah Yenni, putri kedua Yul yang sangat menggemaskan dan cukup banyak bicara seperti ibunya.
Mendengar celetukan putrinya dari ambang pintu, kapala Yul langsung tertoleh. Senyum senringahnya seketika itu tersimpul. Ia melihat putri kecilnya berjalan ke arahnya dengan wajah memberengut kesal.
“Aduh, putri ayah pagi pagi kok sudah ngambek,” sahut Yul sambil beranjak berdiri. Ia berjongkok di hadapan Yenni sambil tersenyum hangat pada putri kecilnya yang sebentar lagi akan berulang tahun yang keempat.
“Ayah, ibu memanggil Ayah untuk sarapan. Ayah dan kakak harus sarapan supaya tidak sakit perut!” celetuk Yenni dengan cara bicaranya yang patah patah dan tedengar sangat polos.
Yul terkekeh kekeh mendengar nasihat putri kecil yang sejak kecil sudah merawatnya dan merawat kakaknya. Anak kecil itu yang selalu mengingatkan Yul dan Hanyul untuk sarapan. Juga yang suka membangunkan Yul dan Hanyul yang suka bangun kesiangan di akhir pekan.
“Cantik sekali anak ayah. Kau sudah pandai merawat sejak kecil.” Yul membalas celetukan putri kecilnya sambil mencubit pipinya pelan. Merasa gemas. “Baiklah. Ayah akan turun sekarang juga.”
“Oppa, ayo sarapan. Oppa bisa sakit perut jika tidak segera sarapan!” Yenni berganti mengingatkan kakak laki lakinya, Hanyul, yang masih sibuk menggoreskan kuas cat ke atas kain kanvas.
Mendengar celetukan sang adik, Hanyul segera beranjak dari duduk dan menoleh. Ia ikut berjongkok dan mencubit pipi Yenni dengan gemas.
“Baiklah. Oppa juga akan turun. Terima kasih, Yenni.” Hanyul tersenyum menatap wjah menggemaskan adik perempuannya.
Begitu misinya selesai, Yennie berbalik badan dan berjalan meninggalkan ruangan dengan penuh riang. Ia bersemangat untuk melakukan sarapan pada pagi hari ini. Karena hari ini adalah hari ulang tahun Hyeon yang kelima. Sehingga begitu selesia sarapan nanti, ia akan berlari ke rumah sebelah, rumah Hun, untuk bermain main dengan Hyeon yang sedang ulang tahun. Bermain main sambil menyiapkan pesta ulang tahun untuk nanti sore.
“Hati hati, Yenni. Jangan berlari, kau bisa jatuh.” Yul memperingatkan Yenni yang berjalan penuh semangat untuk menuruni tangga.
“Ne!”
Yul yang tiba terakhir, langsung berjalan menuju meja dapur untuk membantu Yebin yang sedang hamil lima bulan untuk menyiapkan sarapan.
“Selamat pagi, Sayang.” Yul mengucapkan selamat pagi untuk sang istri kemudian mengecup bibirnya. Tak lupa ia juga menyapa bayi dalam kandungan Yebin. “Hai, Sayangku. Aku sudah tidak sabar menunggu kelahiranmu,” kata Yul lalu mencium perut Yebin yang membesar.
Keluarga kecil yang bahagia itu melakukan sarapan bersama sambil bercakap cakap. Menanyakan bagaimana sekolah Hanyul dan bagaimana hubungan pertemanannya. Menanyakan liburan yang diinginkan putri kecilnya, Yenni. Juga menanyakan bagaimana pekerjaan Yul di kafe. Mereka semua menikmati waktu bersama dengan hangat dan penuh arti.
Begitu sarapan berakhir, Yenni langsung menarik tangan Hanyul untuk diajaknya bermain di rumah Hyeon.
“Oppa, ayo ikut denganku! Aku ingin denganmu dan dengan Hyeon. Ayo, Oppa.” Yenni mengajak, setengah memaksa kakaknya sambil menarik bajunya.
Hanyul yang bajunya ditarik tarik itu terkekeh kekeh melihat tingkah laku adiknya yang menggemaskan. “Baiklah, baiklah. Ayo kita ke rumah Hyeon.”
Melihat tingkah lucu putri keduanya, Yul ikut terkekeh kekeh.
“Lihatlah, Yenni adalah bentuk kecil dari Kang Yebin. Bagaimana bisa kalian sangat mirip? Ini sangat tidak adil. Kita kan membuatnya bersama sama, tapi kenapa Yenni lebih mirip denganmu, Sayang?” Yul menggumam gumam kesal. Mengeluh seperti anak kecil kepada istrinya yang sedang mengandung.
“Aku yang mengandungnya. Adil adil saja jika Yenni lebih mirip denganku,” timpal Yebin.
Yul yang memeluk pinggangnya itu seketika menoleh. Keningnya mengernyitkan kening.
“Tidak bisa begitu dong. Aku kan juga ikut membuatnya,” sanggah Yul merasa tidak adil. Lalu ia memegangu perut Yebin. Berbicara pada bayi yang ada dalam kandungan Yebin itu. “Nak, nanti kau harus mirip ayah ya. Sembilan puluh persen kau nanti harus mirip ayah ya. Muuuahhh.”
Kecupan itu membuat Yebin terkekeh kekeh. Ia tidak mengerti mengapa Yul merasa tidak adil. Padahal, di banyak sisi Yenni itu sangat mirip dengan Yul. Kontur wajah Yenni, kedua lesung pipitnya, mata bulatnya, dan sikapnya saat marah, itu sangat mirik dengan Yul. Tetapi Yul masih merasa itu tidak adil.
Sambil bangun dari berjongkok, Yul tersenyum hangat memadang Yebin. Inilah yang ia inginkan. Keluarga bahagia dengan anak anaknya yang tumbuh dengan baik dan bahagia. Setelah sebuah badai besar berlalu lima tahun lalu, Yul merasa sungguh bahagia.
“Aku menyayangimu, Sayang.” Yul mengatakan itu sambil memeluk tubuh Yebin dan meletakkan kepalanya di atas kepala Yebin.
“Aku juga menyayangimu, Sayang.” Yebin membalas.
“Mari kita hidup bahagia sampai tua nanti. Sampai anak anak kita tumbuh dewasa dan memiliki cucu,” lanjut Yul berucap.
Sambil tersenyum Yebin menganggukkan kepala. Kemudian, Yul menurunkan wajahnya untuk mencium kening Yebin dengan hangat dan pelan.
**