Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Hari baru Moon Hanyul



Hari hari baru Moon


Hanyul


“Siapa yang datang, Oppa?”


Dari arah tangga, Yebin yang sedang berjalan menuruni anak tangga itu


menyahut melihat Yul sedang berdiri di ambang pintu menyambut seseorang yang


datang. Dalam benak wanita itu bertanya tanya siapa yang bertemu ke rumahnya di


waktu sepagi ini.


Di ambang pintu itu, Yul seketika menoleh mendengar suara Yebin. Begitu


Yul menoleh, Yebin pun dapat melihat siapa yang sedang bertamu di rumahnya. Itu


tidak lain adalah Jin Haeri.


Sambil menggendong Hanyul, Yul segera berjalan menghampiti Yebin begitu


tiba di lantai satu. Lelaki itu tiba di hadapan Yebin dan langsung membisikkan


sesuatu. Kemudian menurunkan Hanyul dalam gendongannya kepada Yebin.


“Sama Bibi sebentar ya,” ucap Yul meyakinkan Hanyul.


“Sini. Ayo kita mandi.”


Begitu Yebin menerima tubuh Hanyul dengan mudah. Begitu Hanyul sudah


berpindah ke pelukannya, Yebin pun kembali naik ke lantai dua. hendak


memandikan Hanyul sebelum berangkat menuju rumah sakit untuk menjalani


pengobatan kanker.


Sementara Yebin telah tenggelam ke dalam kamar tidurnya, Yul kembali


berjalan ke ruang tamu. Ia duduk berhadap hadapan dengan Haeri yang datang


sepagi ini untuk memberikan suatu informasi penting.


“Maaf karena aku tidak memberi tahu terlebih dahulu sebelum datang ke


rumahmu sepagi ini. Rencananya aku mau memberimu kabar lewat telepon saja.


Tetapi ada hal penting lain yang harus kusampaikan jadi mau tidak mau aku harus


menemuimu,” jelas Haeri yang merasa tidak enak kepada Yul dan Yebin atas


kedatangannya yang mendadak di waktu sepagi ini.


“Tidak apa apa. Jadi apa yang ingin kau beri tahukan?” sahut Yul.


Raut wajah Haeri menyendu. Bola matanya menatap Yul lekat sebelum


menjawab.


“Orang tua Hanyul meninggal bunuh diri. Mereka bunuh diri bersama dengan


meledakkan mobil di depan hotel tempatnya menginap,” cerita Haeri.


Yul menghela napas panjang. Pantas saja Hanyul yang biasanya tenang tiba


tiba memikirkan orang tuanya dan menangis tersedu sedu karena mereka. Mungkin


bocah kecil itu mendapatkan firasat akan hal ini.


“Jadi ini sebabnya Hanyul menangis sejak bangun tidur karena merindukan


orang tuanya,” gumam lirih Yul yang hampir tidak didengar oleh Haeri.


“Lalu, bagaimana?” lanjut Yul bertanya.


“Proses pengadopsiannya akan semakin mudah karena Hanyil sekarang tidak


memiliki wali. Kita tidak perlu tanda tangan resmi dari walinya karena orang


tua sah Hanyul sudah meninggal. Tinggal meminta ibu pengasuh panti asuhan untuk


menandatangani beberapa surat saja semuanya akan beres. Tapi, masalahnya orang


tuanya Hanyul tidak memiliki siapa siapa di sini. Yul-a, paling tidak kau yang


harus mengurusi kepulangan jenazah dari luar negeri dan juga mengurus semua


pemakaman mereka.” Haeri berucap dengan tutur katanya yang lembut. Kemudian


mengeluarkan sesuati dari tas yang ia pangku. “Ini nomor telepon yang bisa kau


hubungi untuk memulangkan jenazan orang tua Hanyul. Aku sudah berkata pada


mereka supaya semua proses berjalan dengan lancar.”


Sambil menganggukkan kepala Yul menerima kartu nama berwarna hitam yang


diberikan Haeri tersebut. Lalu berkata, “Baiklah. Aku akan mengurus semuanya,


juga pemakamannya.”


“Dan ini ada titipan untukmu.” Haeri lanjut berucap sambil mengulurkan


sebuah amplop cokat kepada Yul. “Ada seseorang yang menitipkan amplop ini di


meja kerjaku. Tapi saat kulihat, sepertinya aplop ini bukan untukku tapi


untukmu.”


Yul menerima amplop itu sambil mengerutkan kening.


“Kalau begitu, aku pergi dulu. Setelah ini aku harus bertemu dengan Jina


untuk meminta kesaksiannya tentang Leo Park.” Haeri beranjak berdiri dari duduk


setelah merasa urusannya dengan Yul hari ini sudah selesai.


“Oh ya, sepertinya kapan kapan kau juga harus berbincang dengan istriku,”


kata Yul sambil ikut beranjak dari duduk. “Sepertinya istriku juga punya banyak


informasi tentang Leo Park. Kalian harus bertemu dan berbicara nanti,”


lanjutnya.


Haeri menganggukkan kepala. “Baiklah.”


Setelah itu Haeri pergi meninggalkan rumah Yul. Berpamitan dengan lelaki


itu.


Sambil membawa amplop coklat dan juga kartu nama berwarna hitam itu Yul


beranjak pergi meninggalkan ruang tamu. Naik ke lantai dua, menuju ruang kerja.


Di ruangan itu ia membuka amplop di bagian luarnya terdapat perangko. Surat itu


dikirim dari luar negeri. Yul membuka amplop itu sambil menyandarkan tubuh ke


meja kerja.


Ternyata itu adalah surat yang ditulis oleh ayah Han Yul. Surat itu


berisi tulisan tulisan yang menggambarkan rasa terima kasih yang besar kepada


Yul yang bersedia merawat anak mereka dengan kondisi seperti itu. Orang tua


kandung Hanyul berkata kalau mereka sudah tahu kabar pengadopsian itu entah dari


mana. Mereka juga meminta maaf karena kondisi mereka membuat mereka tidak bisa


lagi bersama Hanyul. Sehingga Yul dan Yebin sebagai orang tua Hanyul yang baru


diminta untuk merawat Hanyul dengan baik. Sekali lagi mereka meminta maaf baik


kepada Hanyul dan juga Yul serta istrinya. Di bagian akhir surat itu, terdapat


tulisan bahwa mereka sangat menyesal atas semua penderitaan yang harus anaknya


rasakan. Karena hal itu mereka sangat menyesal dan merasa tidak pantas hidup.


Setelah selesai membaca semua surat itu, Yul menghela napas dalam dalam.


Pandangannya jatuh. Ia meletakkan surat itu kembali ke atas mejanya. Lalu tak


lama kemudian pintu ruangan terbuka. Kang Yebin yang baru selesai memandikan


Hanyul, melangkah masuk ke dalam ruang kerja Yul.


“Ada apa, Sayang? Apa terjadi sesuatu?” tanya Yebin spontan begitu


melihat Yul terlihat begitu sendu. Ia berjalan pelan menuju Yul yang


pandangannya menurun. Lelaki itu terlihat begitu sedih sekaligus pilu.


“Orang tua kandung Hanyul... meninggal di luar negeri.” Yul menjawab


lirih pertanyaan spontan Yebin.


“Ohh... Pantas Hanyul menangis karena teringat orang tuanya.” Yebin


berucap lirih sambil mengembuskan napas panjang.


“Mereka menuliskan surat ini untuk kita.” Yul menunjukkan surat dari luar


negeri itu kepada Yebin.


**


Ini adalah saat saat yang paling berat untuk seorang anak lima tahun


bernama Hanyul. Karena ia harus menyaksikan pemakaman kedua orang tuanya yang


dilakukan secara terbuka.


Membutuhkan banyak sekali pertimbangan sebelum akhirnya Yul mengadakan


pemakaman itu secara terbuka. Tentu ini akan menjadi pukulan keras untuk Hanyul


menyaksikan kedua orang tua kandungnya meninggalkan dan di makamkan. Tapi ini


juga bisa menjadi sebuah kekuatan baru untuk Hanyul dalam menjalani kehidupan


barunya sebagai bagian dari keluarga Yu.


Pertimbangannya adalah, Yul tidak mau menyembunyikan sesuatu seperti ini


dari Hanyul. Karena bagaimana yang meninggal itu adalah orang tua Hanyu. Dalam


membesarkan Hanyul, Yul tidak menginginkan ada satu pun kebohongan yang


nantinya akan menjadi konflik di antara mereka. Mungkin sekarang Hanyul tak


akan mengerti kenapa pemakaman kedua orang tua kandungnya itu dilakukan secara


terbuka. Namun saat dewasa nanti ia akan tahu bahwa ini adalah sebagai bentuk


kepedulian Yul yang benar benar tidak ingin membuat anaknya merasa dibohongi


atau dibodohi dengan fakta fakta yang disembunyikan darinya. Lebih baik Hanyul


tahu sejak awal sehingga ia bisa memulai hari hari barunya sebagai Moon Hanyul,


putra Moon Yul dan Kang Yebin yang sekarang telah sah secara hukum.


Selama satu minggu pertama Hanyul memang kelihatan sedih dan terpuruk.


Tapi Yebin dan Yul memberinya dukungan penuh dan banyak kasih sayang sehingga


Hanyul tidak terlarut larut dalam kesedihannya ditinggal oleh kedua orang


tuanya. Dan setelah satu minggu berlalu, semua semakin baik baik saja. Hanyul


menjalani kesehariannya seperti biasanya dan terus menjalani pengobatan kanker


terbaik di negeri ini.


Keadaan Hanyul juga semakin baik setiap harinya. Rambut rambut di


kepalanya mulai tumbuh meski tak dalam jumlah banyak. Ia juga belum mendapat


lampu hijau dari dokter yang menanganinya tentang kesembuhannya total dari


kanker. Tetapi ia menunjukkan perubahan di setiap kali menjalani kemoterapi.


Hanyul hanya perlu bertahan sebentar lagi untuk benar benar sembuh dari


penyakit yang menyerangnya sejak berusia tiga tahun itu.


Di sore hari akhir pekan ini Yul tak memiliki jadwal pekerjaan selain


menemani Hanyul melakukan perawatan di rumah sakit. Jika tak bekerja ia pasti


akan menemani istrinya dan juga Hanyul pergi ke rumah sakit. Namun jika


pekerjaannya itu tidak bisa ditinggalkan, dengan berat hati ia akan membiarkan


Yebin menemani Hanyul sendirian.


Namun hari ini bertepatan dengan jadwal kontrol Hun yang telah keluar


dari rumah sakit sejak satu minggu yang lalu. Sembari menunggu Hanyul yang


sedang menjalani perawatan bersama dokter dan ditemani Yebin, Yul bertemu


dengan Hun di ruang tunggu.


“Kau sungguh sudah mau bekerja lagi? Tidakkah harusnya kau beristirahat


beberapa hari lagi di rumah?” tanya Yul yang mendengar kabar bahwa adiknya itu


sudah mulai bekerja sejak beberapa hari yang lalu.


“Bagaimana aku bisa beristirahat lagi di saat pekerjaanku di kantor sudah


seperti timbunan kain di gudang?” omel Hun sambil mengeluh.


“Tck tck tck,” decak Yul lirih. “Memangnya kau mendapat gaji berapa


sebagai pegawai pemerintah? Sampai harus bekerja di kondisi seperti itu,”


lanjut Yul mendecak decak pasrah. Gaji sebagai hakim itu memang besar tapi tak


tergolong besar sekali. Jika dibanding dengan tugas seberat dan sebanyak itu, gaji


seorang hakim bisa dikatakan kecil.


Tepat setelah itu ponsel Yul di dalam saku bergetar. Ia segera mengmbil


ponselnya dan menjawab telepon dari Yebin.


“Ya? Baiklah. Aku ke sana sekarang.”


Panggilan telepon yang sangat singkat itu berakhir dengan cepat. Yul


memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku sambil beranjak dari duduk.


“Aku akan menjemput Hanyul di ruang perawatan dulu. Kau masih akan tetap


di sini?” tanya Yul kepada sang adik.


Kepala Hun mengangguk angguk.


“Aku masih menunggu Jina sedang diperiksa,” jawab Hun.


“Oh, Jina juga sedang sakit?”


“Hmm. Dia mengeluhkan sakit sejak kemarin.” Hun menjawab dengan raut


wajah yang datar.


“Baiklah. Aku duluan kalau begitu.”


Setelah itu Yul pergi meninggalkan ruang tunggu. Meninggalkan Hun yang


perawatan khusus di mana terdapat Hanyul, Yebin, dan beberapa dokter spesialis


yang telah selesai melakukan perawatan terhadap Hanyu. Hanyul sudah selesai


menjalani terapi. Dan sekarang sedang tertidur karena kelelahan.


“Hanyul sudah tidur? Secepat itu?” tanya Yul begitu masuk ke dalam


ruangan dan melihat Hanyul tertidur dengan begitu pulasnya dengan wajahnya yang


pucat.


Di sebelah tempat Hanyul tertidur, Yebin yang juga terlihat pucat itu


segera menarik Yul keluar dari ruangan. Mengajaknya berbicara empat mata


sementara dokter di dalam sedang meresepkan obat untuk Hanyul.


“Ada apa? Apa yang terjadi? Kau menangis?” tanya pelan Yul melihat Yebin


kembali menyeka air mata.


Terlihat lemas, Yebin seketika mendudukkan tubuhnya ke atas kursi tunggu


di depan ruangan. Ia menggenggam kedua tangan Yul sambil berbicara.


“Sangat menyakitkan. Bahkan aku yang melihatnya menjalani pengobatan


sekeras itu merasa sangat kesakitan.”


Kemudian Yul memeluk tubuh Yebin yang melemas. Bukan hal yang mudah untuk


Yul atau pun Yebin sendiri. Apalagi untuk Hanyul yang harus menderita penyakit


itu di saat usianya masih begitu muda. Di usianya sekarang, harusnya Hanyul


bersenang senang bersama teman temannya. Bermain dan melakukan apa pun yang dia


inginkan. Namun karena keterbatasan itu, Hanyul tidak dapat hidup seperti


kebanyakan anak seusianya. Di usianya yang baru menginjak lima tahun ini ia


harus menjalani pengobatan kanker yang sangat menyakitkan dan berat. Ia harus


melakukan pengobatan itu jika ingin sembuh dari kankernya dan menjalani


hidupnya dengan normal sampai dewasa nanti.


Ini merupakan ujian berat untuk Hanyul dan untuk orang tua yang


membesarkannya. Berkali kali Yebin harus menguatkan hati dan mentalnya untuk


tetap bisa mendampingi Hanyul dan memberinya dorongan yang besar untuk tetap


semangat menjalani pengobatan dan tidak pernah menyerah.


Yul memeluk Yebin yang kembali terisak karena merasa begitu kasihan dan


pilu pada Hanyul. Hingga kemudian ia merasa lebih tenang.


“Tadi dokter ingin berbicara denganmu,” kata Yebin begitu tangisnya itu


mereda. Ia melepaskan tubuhnya dari dekapan Yul setelah merasa tenang.


“Oh ya?”


Yul pun beranjak berdiri dari duduk. Ia melangkah masuk ke dalam ruangan


bersama Yebin yang mengikutinya di belakang.


“Anda ingin berbicara dengan saya dok?” tanya Yul menghadap seorang


dokter yang melakukan terapi kanker pada Hanyul.


“Silakan duduk, Tuan.”


Sesuai perintah dokter, Yul pun beranjak duduk di kursi yang telah


disediakan di dalam ruangan itu. Berhadapan dengan sang dokter sementara Yebin


ikut duduk di kursi sebelahnya.


“Saya ingin memberitahukan tentang kondisi anak Anda yang sekarang. Jadi


kondisinya semakin membaik. Tadi memang terapi yang paling berat untuk anak


Anda. Tetapi hasilnya cukup baik. Dalam dua minggu atau satu bulan ke depan


kami sarankan agar anak Anda kembali melakukan pemeriksaan kanker untuk melihat


apakah sel kanker dalam tubuhnya sudah benar benar hilang atau masih


membutuhkan perawatan kembali,” jelas dokter tersebut kepada Yul.


Yul menganggukkan kepalanya. Mengerti terhadap apa yang dibicarakan sang


dokter.


“Apa anak saya benar benar bisa sembuh dengan cara seperti itu dok?”


tanya Yul.


“Melihat perkembangannya sejauh ini, peluang kesembuhan semakin besar.


Jadi kami sarankan supaya anak Anda tetap menjalani kemoterapi sampai terbebas


dari kanter. Yah, walau kami pun tahu kemoterapi itu tidak mudah untuk anak


Anda atau pun Anda sekalian. Tapi kami akan mengusahakan yang terbaik untuk


anak Anda.” Sang dokter berkata meyakinkan.


Merasa yakin, Yul pun menganggukkan kepalanya.


“Terima kasih Dok. Jadi kapan sesi terapi yang selanjutnya?” Yul kembali


bertanya.


“Kami jadwalkan untuk satu minggu lagi anak Anda datang kemari untuk


menjalani kemoterapi.”


Setelah berbicara secukupnya dengan dokter, Yul beranjak pergi. Ia


menggendong tubuh ringan Hanyul yang masih pucat dan lemas. Menggendong anak


kecil itu keluar dari ruangan ini, bersama Yebin yang mengikutinya di sebelah.


Sementara Hanyul masih terlelap dari tidurnya. Dalam pelukan sang ayah bocah


lelaki itu tidur dengan begitu nyamannya.


“Oh ya, tadi aku melihat Hun Oppa bersama Jina datang kemari. Apa mereka


sudah pulang?” tanya Yebin di sela berjalannya.


“Kurasa belum. Saat kau meneleponku tadi, Hun masih ada di ruang tunggu


untuk menunggu kekasihnya diperiksa dokter.”


“Apa kita tunggu saja mereka? Sudah lama sekali kita tidak makan bersama


dengan Hun Oppa dan juga kekasihnya. Sepertinya Hanyul juga akan senang kalau


makan malam nanti sama sama,” usul Yebin.


“Bukan ide buruk.”


**


Cho Jina baru saja selesai melakukan pemeriksaan dengan dokter di hari


yang menjelang gelap ini. Ia keluar dari ruang dokter dengan kepala yang


menunduk dalam dalam dan wajah yang memucat. Sambil membawa sesuatu dalam


genggaman, wanita itu berjalan pelan ke arah Hun yang sedang berdiri di lorong


rumah sakit menunggunya keluar.


Mendengar ada suara derap langkah, tubuh Hun seketika itu berbalik. Ia melihat


kekasihnya yang sedang berjalan gontai menuju arahnya dengan sesuatu yang ia


genggam.


“Jina-ya, sudah selesai? Bagaimana kata dokter? Kau sakit apa?” tanya Hun


melihat kekasihnya yang masih menundukkan kepala dalam dalam, tak menatap ke


arahnya.


Kening Hun mengernyit medapati hal itu. Ia lantas mendekat pada Jina,


memegangi kedua bahunya yang terasa lemas di genggaman.


“Ada apa, Jina-ya? Kau ada apa? Apa kata dokter kau sedang sakit parah? Katakan


padaku apa yang terjadi,” desak Hun sembari memegangi kedua bahu sang kekasih.


Perlahan lahan Jina menaikkan pandangan. Mendongakkan kepala dan menatap


ke arah Hun.


“Hun ssi,” panggil Jina pelan sembari melayangkan tatapan sendu kepada


Hun.


“Iya, ada apa? Katakan padaku ada apa,” jawab Hun.


“Ayo kita menikah!”


Terkejut, Hun sontak melepaskan cengkeraman bahunya kepada Jina. Ia masih


terdiam selama beberapa detik untuk mencerna perkataan Jina itu. Menimbang nimbang


apakah pendengarannya sedang bermasalah. Atau ia sedang berhalusinasi akibat


efek dari gagar otak yang pernah dialaminya beberapa minggu yang lalu.


Sampai beberapa saat Hun bergeming. Ia menatap bengong ke arah Jina yang


sepertinya mengatakan hal itu dengan serius.


“Ap... apa maksudmu? Kenapa tiba tiba kau membahas pernikahan?” tanya Hun


tak yakin.


Menikah adalah satu hal yang selama ini tak pernah terbesit di kepala


Hun. Ia masih belum memikirkan untuk menikah. Hun masih ingin fokus pada


kariernya. Apalagi setelah kejadian kecelakaan itu, sampai detik ini ia masih


mencoba menangkap siapa yang mencoba membunuhnya lewat kecelakaan itu. Hun


masih mencari cari cara untuk bisa segera menangkap pelaku tersebut dan


menggali motifnya melakukan percobaan pembunuhan kepada Hun. Tapi, menikah?


Saking merasa heran, Hun sampai tidak sanggup memikirkan apa apa sekarang.


“Jina-ya, aku tahu jika kau memang ingin segera menikah. Tapi, tidak


bisakah kita menunggu sebentar lagi? Paling tidak setelah aku menyelesaikan


kasus ini. Atau paling tidak dalam satu tahun ke depan kita bisa merencanakan pernikahan.


Kalau sekarang....”


“Aku hamil.” Jina menyela perkataan panjang Hun.


Hun sontak terdiam. Kedua matanya terbelalak lebar. Menatap tidak percaya


ke arah Jina. Tidak tidak. Pasti ia salah dengar. Pasti ia sedang berhalusinasi


mendengar kabar bahwa Jina hamil.


Tapi Hun itu tidak sedang halusinasi. Ia dalam kondisi seratus persen


baik. Tidak mabuk. Tidak mengonsumsi obat obatan yang menyebabkan seseorang


berhalusinasi. Dan tidak sedang berada dalam mimpi. Jadi, Jina benar benar


hamil anak Hun?”


Hun yang akhirnya menyadari realitas, langsung ternganga lebar dan segera


menutup mulutnya menggunakan kedua tangan. Oh, tidak. Ini kecelakaan. Ini tidak


disengaja. Hun yang benar benar merasa terkejut lebih dari apa pun itu


bergeming cukup lama sambil menatap kosong ke arah Jina yang memasang wajah


sendu. Bukan hanya Hun saja, tetapi Jina juga masih ingin fokus dengan karirnya


di kehakiman. Apalagi di negara ini, seorang wanita memilik kesempatan lebih


kecil dibanding laki laki dalam hal karir. Dan ini adalah kecelakaan. Benar benar


tidak direncanakan baik oleh Jina maupun oleh Hun sendiri.


“Ka... kau su—sungguhan? Kau... hamil?” tanya Hun meyakinkan


pendengarannya.


Pikiran Hun sudah tidak karuan saat ini. Ia bertatapan dengan Jina cukup


lama. Sampai akhirnya suara orang lain terdengar hampir saja memecahkan gendang


telinganya.


“Apa? Hamil?!”


Dari sudut lain, suara Yul yang sedang memekik itu terdengar. Lelaki itu


sedang menggendong tubuh anaknya dan berdiri di ujung lorong. Ia sempat


mendengar apa yang sedang adiknya perbincangkan dengan sang kekasih. Dan merasa


terkejut bukan kepayang.


“Hun-a, kau benar benar menghamili kekasihmu? Benar begitu?!” hentak Yul.


Ia sampai lupa jika di dalam pelukannya saat ini, Hanyul sedang tidur.


Melihat tubuh Hanyul memolet karena teriakan Yul, Yebin segera


berinisiatif untuk mengalihkan tubuh Hanyul padanya. Ia meraih Hanyul dari


pelukan sang suami dan menggendongnya di depan dada. Sementara itu Yul sedang


kalut dengan suasana aneh yang berlangsung itu.


Di hadapannya, Hun hanya diam. Tak memberikan respon apa pun.


“Hyeo.... hyeong....” Hun hanya dapat menggumam gumam tidak jelas.


Bola mata Yul yang membelalak itu seolah melemparkan bola api kepada sang


adik. Ia telah dikerubuti amarah melihat adiknya melakukan hal yang sungguh di


luar dugaan.


“Bocah ini benar benar. Sini kau, aku harus memberimu pelajaran! Bagaimana


bisa kau melakukan hal semacam itu? Bisa bisanya kau seceroboh ini? Apa aku


pernah mengajarimu menjadi lelaki kurang ajar seperti ini?!”


**