Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Menjelang Pernikahan 2



Menjelang Pernikahan 2


Yebin Pov


“Kang Yebin!”


Mendengar bentakan lagi, aku reflek menoleh. Kutatap wajah Yul Oppa yang terlihat sedih bercampur frustasi.


“Baiklah. aku tidak akan menyalahkanmu untuk urusan tadi....”


“Aku memang tidak bersalah!” Kali ini aku yang memotong perkataan Yul Oppa, dengan nada yang meninggi.


Yul Oppa menghela napas panjang. menatapku lekat.


“Kau tau? Apa yang kau lakukan tadi justru menjadi penghalang untuk aku mengembalikan keadaan kafe.”


“Tapi mereka berdua—”


“Dengarkan aku dulu, Kang Yebin!”


Yul Oppa kembali memotong kalimatku. Membuatku tidk punya pilihan selain diam dan mendengarkan Oppa lanjut berbicara.


“Aku sedang berusaha memulihkan nama baik Moonlight Coffe. Aku perlu mempertahankan semua karyawanku, aku memerlukan mereka semua untuk bisa mengembalikan kafe seperti dulu. Banyak di antara karyawanku yang tidak bertahan dan akhirnya mengundurkan diri. Yang kulakukan sekarang adalah mempertahankan semua karyawan yang masih bertahan. Tapi kau... apa yang kau lakukan tadi? Apa yang kau harapkan dengan melakukan hal tadi kepada karyawanku?”


Tubuhku tiba-tiba terasa sangat dingin, membeku. Mulutku tidak bisa berkata-kata. Kedua tanganku bergetar dan genangan air kembali memenuhi bola mataku.


“Karena itu, kumohon... biarkan aku yang mengatasi semua ini. Jangan melibatkan dirimu. Aku yang akan mengatasi semuanya.”


Air mataku terbebas dan terjun mengaliri pipi. Sial. Ini menyebalkan sekali. maksudnya, aku tidak boleh iktu camput karena aku hanya akan menghancurkan semua usahanya? Apa yang dimaksud Oppa aku ini hanya bisa merusak bukannya membantu memperbaiki?


Setelah menyeka air mata menggunakan jari tanganku, aku menoleh. Kutatap wajah Yul Oppa yang sama sedihnya sepertiku.


“Kalau begitu kenapa Oppa menikah denganku? Kenapa Oppa ingin menikah denganku jika tidak mengizinkanku terlibat dalam urusanmu? Dan kenapa Oppa ingin menikah denganku yang kau anggap hanyalah batu sandungan untukmu?” tanyaku dengan suara yang tersedat sendat karena tangis.


Raut wajah Oppa semakin sedih. Ia hendak meraih tanganku untuk digenggamnya. Namun aku segera menepis.


“Bukan itu maksudku, Yebin~a. Kau tau, bukan itu maksudku.”


“Sudahlah.”


Akhirnya aku bisa mengendalikan tangisanku. Dadaku masih terasa sesak. Tapi aku mencoba bernapas dengan baik.


“Kita tidak usah pergi berbulan madu ke mana pun. Oppa tetap di sini saja menyelesaikan semua urusan bisnismu. Tapi jangan memintaku untuk tidak terlibat. Sekali lagi Oppa melarangku untuk terlibat, pernikahan kita batal. Aku anggap Oppa tidak cukup memercayaiku hingga selalu memintaku untuk tidak terlibat.”


Selesai mengatakan semua itu, aku melepas sabuk pengaman dan langsung beranjak turun dari mobil. aku berjalan menuju halte bus. Menunggu bis yang sebentar lagi akan datang. dari pada berada di dalam mobil bersama Yul Oppa dan membuatku ingin terus menangis, lebih baik aku turun dan menaiki bis unutk membawaku pulang sampai rumah. Benar. Ini lebih baik.


Melihatku turun dengan tiba-tiba, Oppa ikut turun dari mobil. ia mengejarku dan langsung mencengkeram pergelangan tanganku. Melarangku pergi.


“Kau mau ke mana, Kang Yebin?” tanya Yul Oppa sambil menarik tanganku. Membuat tubuhku otomatis berbalik.


“Aku bukan gadis bodoh yang tidak tahu arah jalan pulang. Berhenti menganggapku bodoh dan tidak tahu apa-apa. Cemaskan saja dua karyawan kafemu yang kurang ajar itu. Jangan pedulikan aku.”


Sekeras mungkin aku menyentakkan tanganku ke udara. Melepas cenkeraman erat Yul Oppa pada pergelangan tanganku. Lanjut berjalan. Naik ke dalam bus yang baru saja berhenti di depan halte. sementara Yul Oppa hanya memandangi kepergianku menggunakan bus dengan tatapan penuh rasa bersalahnya.


Setelah mencabik-cabik perasaanku, dia merasa bersalah? Yang benar saja. harusnya dia tidak melakukan hal yang membuatnya menyesal dan merasa bersalah. Dasar bodoh.


***


Kaleng bir yang ada di genggamanku ini telah kosong setelah aku meneguk untuk yang terakhir kalinya. Kuremas botol kaleng bir yang telah kosong ini. Kubiarkan segala perasaan yang berkecamuk dalam benakku ini terlampiaskan dalam remasan kaleng bir.


Pandanganku terarak ke depan. Melihat dari kejauhan kamar Yebin yang masih terang.


Aku tengah berada di balkon. Berdiri menghadap luar. Mengamati gerak gerak Yebin yang ada di dalam kamarnya.


Setelah pertengkaran kami di dalam mobil siang menjelang sore tadi, Yebin sama sekali belum keluar dari rumahnya. aku tak melihatnya keluar sama sekali. Bahkan ketika sore aku dan Hun diajak makan bersama di rumah Ibu Miyoon, Yebin tak turun dan lebih mmeilih tidak makan.


Itu semua memang kesalahanku. Aku akui, aku telah berlebihan dalam menyikapinya. Tapi, aku melarang Yebin, membuatnya tidak usah terlibat dalam permasalahan Moonlight Coffe, karena aku tidak ingin Yebin ikut terluka. Cukup aku yang menanggung semua beban dan resikonya. Aku tidak ingin melibatkan Yebin dalam permasalahan yang di luar kendali ini.


Baik. Aku memang berlebihan. Aku akui aku telah berlebihan dalam memberikan larangan itu pada Yebin. Tapi aku berharap Yebin dapat mengerti semua yang kulakukan ini.


Hari Sabtu depan kami sudah menikah. tetapi Yebin masih menjauh dan tak mau berbicara denganku. Aku tidak tahu kenapa pertengkaran ini terjadi pada hari hari menjelang pernikahan kami berakhir. Dan, satu hal lagi yang tidak bisa kumengerti. Kenapa Yebin mengancam akan membatalkan pernikahan jika aku melarangnya sekali lagi? apa sedangkal itu artinya sebuah pernikahan untuk Yebin?


“Menantu Moon, di sini kau rupanya.”


Suara ibu yang menceletuk itu seketika membuat tubuhku berbalik. Kulihat Ibu Miyoon yang tengah berdiri di depan pintu balkon. Ia berjalan mendekat membawa satu mug keramik berisi minuman herbal, dilihar dari uap yang menyembul dan aroma tumbuh tumbuhan herbal.


“Ibu,” sahutku spontan. Aku melihatnya melayangkan senyum hangat sembari menyerahkan mug keramik itu begitu tiba di sebelahku.


“Kudengar kau sering kelelahan akhir akhir ini. jadi kubuatkan minuman herbal yang bagus untuk daya tahan tubuh dan staminamu,” ujar ibu.


“terima kasih banyak, Ibu.”


Tanpa menunggi lama aku menerima ramuan herbal itu. Menyesapnya perlahan. Aroma tumbuhan dan rempah rempah yang sedikit mencekat. Tetapi rasanya manis dan terdapat harum bunga chamomile kering.


“Kau dan Yebin bertengkar lagi?” tanya ibu sesaat kemudian.


Aku terdiam sejenak. Kepalaku menunduk sebagai tanda penyesalan.


“Ada sedikit salah paham saat kami tadi mengunjungi kafe,” jelasku tidak enak. Hanya sebatas itu yang dapat kuceritakan kepada ibu.


“Yebin memang keras kepala dan mudah menyimpulkan sesuatu. Karena itu dia gampang salah paham. Aku tidak begitu mengerti kenapa sikap keras kepalanya itu tidka pernah berubah sejak kecil.” Ibu menjeda kalimatnya sejenak. Pandangan kami berdua tertuju pada kamar Yebin yang masih menyala. “Tapi, Yul~a, apa kau tahu?”


Aku menolehkan kepala ketika ibu berkata demikian. Diamku adalah pertanda bahwa aku ingin menedngarkan kelanjutan kalimat ibu.


“Dengan keras kepalanya, dengan sikap kaku dan berapi-apinya, Yebin bisa melindungi apa yang menjadi miliknya. Dia juga bisa melindungi dirinya sendiri dan orang orang yang dia cintai. Sejak kecil, sejak di sekolah, Yebin tidak bisa diam. Dia tidak bisa diam melihat seorang temannya dibuli teman-teman yang lain. Dia tidak bisa diam ketika melihat seorang ditindas. Dia sering terlibat perkelahian, bahkan berkali kali dipanggil oleh guru bimbingan konseling karena terus bertengkar. Semua gurunya menganggap Yebin siswa yang nakal. Tapi aku tahu, Yebin tidak nakal. Yebin hanya tidak bisa diam melihat orang lain menderita. Jiwa melindungi Yebin sangat kuat, seperti ayahnya. Walau itu sering disalah artikan oleh orang lain karena terkesan Yebin seperti suka ikut campur.”


Aku terdiam mendengarkan semua cerita ibu tentang Yebin dan masa kecilnya. Aku tahu, seperti apa kepribadian Yebin. Tetapi sejauh ini aku masih belum mengerti bagaimana harusnya aku menyikapi sikap Yebin yang kadang tidak terkendali.


“Kafe sedang dilanda masalah besar. Saya... saya sengaja membuat Yebin tidak terlibat karena tak ingin membuatnya dalam kesulitan. Cukup saya yang menanggung semua kesulitan dan beban ini, tapi tidak dengan Yebin. Sejak hari itu saya telah bertekad untuk tidak membuat Yebin berada dalam kesulitan apalagi menderita. Saya ingin, pernikahan ini hanya membawa hal yang baik untuk Yebin, bukan justru menyulitkannya.” Aku menjelaskan panjang lebar. Kemudian menoleh pada ibu yang mendnegarkan dengan seksama penjelasan panjangku. “Ibu mengerti maksud saya kan?”


Ibu menganggukkan kepala beberapa kali.


“Tentu aku tahu maksudmu. Tapi, apa Yebin tahu maksudmu?”


Seketika aku terdiam. Ini kesalahanku. Karena tidak membuat Yebin mengerti maksudku melarangnya.


***