Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Predator



Yul pun beranjak dari duduk. Menghampiri Yebin yang langkahnya seketika terhenti.


“Aku menghabiskan masa mudaku dengan bisnis kafe dan sering melakukan kerja sama dengan berbagai pihak dan juga investor. Tidak pernah sekalipun, dalam bekerja sama aku bebas dari kendala. Dan ketika kendala berbisnis itu datang, semua pihak saling menyalahkan. Meskipun bekerja sama, ketika ada masalah semua akan saling menuduh dan menyalahkan. Merasa paling dirugikan dan akhirnya kerja sama pun berakhir tragis. Memutuskan kontrak dan harus membayar denda bahkan ada yang sampai melayangkan gugatan.”


Sejenak Yul terdiam. Ia memegangi kedua bahu Yebin yang terbalut towel dress. Di atas tangan Yul yang kekar itu, air dari rambut Yebin yang basah menetes netes. Yebin memperhatikan raut wajah Yul. Melihat dengan baik tatapan sendu suaminya itu.


“Aku hanya tidak ingin jika suatu saat kerja sama kita ada masalah itu akan bedampak pada rumah tangga kita. Bisnis adalah bisnis. Aku tidak ingin kehidupan rumah tangga kita nantinya goyah gara gara urusan bisnis. Aku mencintaimu, Istriku. Aku ingin hidup bersamamu sampai tua nanti dan membangun keluarga yang harmonis. Aku tidak mau kau, keluarga kita, terkena dampak buruk jika nantinya bisnisku berada dalam masa masa seperti yang dulu pernah terjadi.”


Napas Yebin pun terhela panjang. Menatap sendu suaminya yang berpikir sejauh itu untuk masa depan rumah tangga mereka.


“Oppa, bekerja sama itu berarti menanggung untung dan ruginya bersama. Lebih dari siapa pun Oppa sudah mengenalku luar dalam. Harusnya Oppa tahu bahwa aku juga ingin melindungi keutuhan keluarga kita apa pun yang terjadi. Aku tidak akan membiarkan rumah tangga kita terguncang karena permasalahan bisnis. Aku mencintaimu sebesar kau mencintaiku. Harusnya Oppa percaya bahwa kita sama sama bisa saling mengandalkan untuk kelangsungan rumah tangga dan juga bisnis kita berdua.”


Apa yang Yebin katakan itu memang tidak salah. Sama sekali tidak salah. Yebin dan Yul menikah karena mereka saling mencintai, bukan menikah karena bisnis. Kalau pun keduanya membangun bisnis bersama dan suatu saat bisnis itu berada dalam masalah, Yebin merasa bisa mengatasi semua masalah itu asalkan ia bersama Yul. Sendirian mungkin akan mustahil bagi Yebin mengatasi semua masalah yang akan terjadi di masa depan. Tetapi ia tidak pernah sendirian. Yul selalu ada bersamanya. Kalau pun Yul benar benar berhenti menjadi pebisnis dan meneruskan karirnya sebagai pelukis, bukan berarti ia akan lepas tangan jika suatu saat Moonlight Coffe yang dikelola Yebin dilanda masalah. Itu yang membuat Yebin berpikir untuk mengambil alih pekerjaan Yul di kafe. Yebin yakin bisa melakukannya. Karena jelas ia tak akan sendirian nantinya. Dan Yebin juga merasa yakin dengan kerja sama Moonlight Retail dengan Biniemoon.


“Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, Yebin-a. Dulu aku berpikir Moonlight Coffe akan baik baik saja selama orang orang yang bekerja bersamaku bisa kupercaya. Tapi kenyataannya berbeda. Bahkan orang yang aku percaya pun menghianatiku. Dan bisnis yang kukira akan baik baik saja itu berada dalam krisis besar dan nyaris tak selamat.”


Yul berbicara dengan raut wajah serius. Ia masih tak yakin bahwa bekerja sama dengan Biniemoon akan selamanya baik baik saja. Bukan karena ia tak memercayai Yebin. Tetapi ia hanya khawatir akan ada masalah besar lagi yang turur membuat Biniemoon jatuh dan tentunya akan menyulitkan posisi Yebin.


“Yang Oppa maksud itu, kau belum memercayaiku sepenuhnya?” tandas Yebin.


Napas panjang Yul berembus. Ia berjalan meninggalkan Yebin, kembali duduk di pinggiran kasur.


“Bukan itu maksudku. Berapa kali harus kutegaskan, bukan itu maksudku. Apa kau senang jika aku bertanya seolah olah kau tidak memercayaiku berulang kali?”


Yul pun menjadi geram atas pertanyaan Yebin yang terus berulang. Ia hanya tidak habis pikir pada Yebin yang terus berkata seolah olah Yul tidak memercayainya. Padahal itu adalah hal yang sudah jelas. Yul percaya pada Yebin. Benar benar percaya. Percaya pada kemampuannya dalam berbisnis. Percaya pada setiap perkataan dan setiap perbuatan yang yebin lakukan. Yul memercayai semua hal yang Yebin lakukan dan memegang prinsip atas itu. Bukan hal yang menyenangkan untuk mednengarkan pertanyaan sudah pasti yang terus berulang.


Tepat setelah itu bel rumah berbunyi dua kali. Perdebatan mereka sore ini sepertinya harus berhenti karena ada tamu yang datang.


Yebin yang masih memakai handuk itu tentu tidak bisa turun untuk membukan pintu pada tamu yang datang. Sehingga Yul yang beranjak bediri sambil berujar, “Aku akan membuka pintunya.”


Yul pun keluar meninggalkan Yebin di dalam kamar. Menuruni anak tangga. Menuju ruang tamu untuk membukakan pintu pada tamu yang datang sore ini.


“Oh!”


Begitu ia membukakan pintu untuk tamu yang datang, tubuh Yul tersentak. Yang saat ini sedang bertamu ke rumahnya tidak lain adalah Leo Park. Lelaki itu lagi lagi datang tanpa memberi tahu terlebih dahulu kepada Yul.


Saat ini Yul berada dalam kondisi mood yang kurang baik akibat perdebatannya dengan Yebin. Dan ia merasa semakin geram melihat kedatangan Leo Park yang seenaknya sediri. Selama ini sudah cukup Yul memaklumi tingkah laku seenaknya Leo Park. Dan kini ia merasa makin geram diperlakukan seenaknya sendiri oleh orang yang bekerja untuknya di proyek terbarunya.


“Leo ssi, bisa kau katakan terlebih dahulu padaku ketika ingin datang kemari? Kita bisa membicarakan bisnis pada jam kerja dan selain di rumah. Aku mengerti jika kau ingin melakukan yang terbaik untuk Moonlight Retail. Namun kau juga harus mengerti situasi dan tahu kapan, di mana, kita bisa membicarakan bisnis.” Yul menceletuk geram melihat Leo Park yang berdiri di depan pintunya.


Leo Park yang memperlihatkan wajah tak bersalah itu diam selama beberapa detik. Mengamati ekspresi wajah Yul. Yul yang biasanya ramah dan mengutamakan kesopanan itu mendadak bersikap seperti ini. Pasti ada sesuatu yang terjadi padanya. Seperti... pertengkaran dengan istri.


Dalam benak Leo tertawa senang melihat Yul yang diduganya sedang bertengkar dengan Kang Yebin itu. Namun ia menenggelamkan tawa senang itu di dalam benaknya dan segera merespon celetukan Yul tadi.


“Maaf jika aku mengganggumu, Tuan Moon Yul. Tapi, aku datang bukan atas kemauanku sendiri. Aku datang karena permintaan dari Nyonya sendiri.”


Kening Yul mengerut dalam. “Istriku yang memintamu datang kemari?”


“Aku yang memintanya datang, Sayang.” Yebin yang menuruni anak tangga itu menceletuk. Ia telah memakai dress panjang dengan keadaan rambutnya yang setengah basah. Sepertinya ia sedang mengeringkan rambutnya di dalam kamar ketika mendengar bahwa yang datang itu adalah Leo Park. Sehingga bergegas keluar sebelum menyelesaikan kegiatannya mengeringkan rambut.


Untuk membahas bisnis itu lebih dalam lagi, secara pribadi Yebin memang menyuruh Leo Park untuk datang ke rumah sore ini. Yebin ingin mendengarkan semuanya sekali lagi, di hadapan Yul. Sekaligus untuk meyakinkan suaminya itu untuk bersedia membangun bisnis bersama Yebin dan saling berbagi beban bersama sebagai suami istri.


Yul yang masih berada di ambang pintu itu menyorotkan tatapan heran kepada Yebin. Sungguh. Bukan Kang Yebin namanya jika tak pernah membuat Yul terkejut.


“Silakan duduk. Aku tinggal dulu sebentar untuk berbicara dengan istriku.”


Setelah menyampaikan satu hal itu pada tamunya, Yul pun berjalan menghampiri Yebin yang baru saja sampai di lantai satu. “Ayo bicara,” bisik Yul selagi menyamber tangan Yebin untuk diajaknya kembali menaiki tangga dan berbicara empat mata.


Sementara pasangan yang tampak tidak akur itu tenggelam di salah satu ruangan lantai dua, Leo yang memerhatikan mereka tersenyum miring. Ia menyeringai ke arah ruangan tempat Yul dan Yebin menenggelamkan diri. Merasa senang melihat suami istri yang biasanya mesra itu menjadi tak akur.


“Pemandangan seperti inilah yang aku inginkan. Ya, teruskan saja perdebatan kalian.”


***


Di ruangan lukis yang terdapat puluhan karya lukis Yul ini, pasangan suami istri itu sedang berbicara serius. Yul yang lagi lagi merasa dikejutkan oleh istrinya, membawa istrinya itu ke ruangan ini. Cukup diketahui saja, ruang lukis ini kedap suara dan memiliki ukuran dua kali lipat kamar tidur mereka. Percakapan mereka di dalam ruangan ini dijamin tidak akan bocor keluar.


“Apa yang coba kau lakukan, Kang Yebin? Untuk apa kau mengundang Leo Park kemari?” cetus Yul.


“Untuk mendengarkan rencana masa depan bisnis kita, Sayang. Tadi sudah kutegaskan, aku ingin berbisnis denganmu. Aku ingin melakukan semuanya bersamamu. Tanpa celah!” Yebin menjawab dengan tegas dan sedikit penekanan pada suaranya.


Melihat Yebin yang begitu gigih, Yul pun mendesah pasrah. Ia menatap Yebin lekat lekat.


“Kau serius? Bagaimana jika di masa depan Moonlight Retail mendapat masalah dan itu merugikan Biniemoon?" tanya Yul meyakinkan.


Giliran Yebin yang mendesah panjang. Ia sungguh tidak tahu kenapa Yul se mencemaskan kekacauan di masa depan yang bisa dihincari dan belum tentu terjadi itu.


“Oppa, kita ini bersama sama. Tidak hanya dalam hal bisnis, tetapi dalam segala hal. Sejujurnya tanpa kita bekerja sama bisnis pun, jika ada apa apa pada Moonlight Retail atau pun Moonlight Coffe, Oppa akan berada dalam kesulitan dan aku juga. Kita ini suami istri. Beban kita tanggung bersama dan segalanya kita lakukan bersama sama.” Yebin berkata penuh penegasan. Sungguh. Ia tidak tahu harus berbuat seperti apa lagi untuk meyakinkan Yul bahwa mereka bisa melakukan bisnis bersama dan memperjuangkan segala hal bersama.


“Kau sungguh yakin?” sekali lagi Yul meyakinkan.


“Apa ini saja yang kau inginkan? Kerja sama antara Biniemoon dan Moonlight Retail, sungguh ini saja yang kau inginkan?” tanya Yul kembali.


Sejenak Yebin tak menjawab. Ia menebarkan pandangan ke sekeliling. Mengamati semua lukisan bernilai seni tinggi yang terpajang di dinding ruangan ini. Semua ini adalah lukisan Yul yang tersembunyi dari dunia. Lukisan bernilai seni tinggi yang belum sempat terekspos pada dunia lantaran pelukisnya yang masih sibuk mengurusi bisnis untuk bertahan hidup. Tujuan Yebin adalah membuat semua lukisan ini terekspos pada dunia. Supaya semua orang tahu bahwa suaminya ini sejatinya adalah seorang pelukis terkenal namun belum sempat menunjukkan dirinya ke hadapan dunia. Bahwa ia adalah keturunan penerus dari seorang pelukis legendaris Korea Selatan yang menurunkan bakat menulisnya pada putra pertama.


Itu adalah misi Yebin saat ini. Mengembalikan Yul ke dunia seni. Mengembalikan suaminya itu pada hal yang seharusnya ia dapatkan sejak dulu. Membuatnya benar benar mendapatkan dunianya seutuhnya. Dunia Yul adalah seni. Isi kepala Yul penuh dengan ruang imajinasi. Sedangkan tangannya adalah untuk berkreasi. Sekarang sudah saatnya Yul kembali ke dunia melukis. Saatnya Yul memiliki kembali dunia yang selama ini ia idam idamkan. Yul tahu bahwa keinginannya untuk melukis itu selalu memberontak dan membuatnya merasa terbebani ketika mengerjakan pekerjaan lain. Tetapi ia mengabaikan pemberontakan yang dirinya sendiri lakukan. Ia telah menenggalamkan mimpinya sebagai pelukis. Dan Yebin ingin mengembalikan Yul pada dunia yang diidam idamkannya secara tak sadar. Jauh di alam bawah sadar Yul, Yul ingin melukis. Tetapi Yul meredam keinginan itu karena harus berkecimpung di dunia bisnis untuk menghidupi keluarganya. Dan Yebin, istri Yul, mengetahui keinginan bawah sadar Yul itu. Lebih dari siapa pun, Yebin tahu bahwa sebenarnya Yul ingin untuk melukis.


“Yang aku inginkan bukan itu saja, tentunya. Aku ingin mengambil alih pekerjaan Oppa di Moonlight. Aku ingin menggantikanmu menjadi bos.”


Untuk kali ini, Yebin mengutarakan ambisinya dengan begitu gamblang di hadapan Yul. Membuat itu seolah olah ambisi Yebin semata tanpa ada unsur lainnya.


“Itu... kau juga serius?” desus Yul. Ia meyakinkan pendengarannya.


“Sekarang mungkin hanya kerja sama. Tetapi di masa depan aku ingin menggabungkan aset Biniemoon dengan Moonlight Grup; Moonlight Coffe dan Moonlight Retail,” Yebin menegaskan.


“Tidak. Biniemoon tetap menjadi milikmu. Dan Moonlight Grup adalah milik kita berdua,” tegas Yul. Ia meraih kedua bahu Yebin. Mendekatkan jarak mereka. “Biarkan aku bertanya satu hal. Jawablah dengan sejujur jujurnya dan jangan coba menyembunyikan apa pun dariku.”


Kepala Yebin yang mengangguk angguk itu berarti setuju.


“Apa alasanmu begitu gigih ingin melakukan kerja sama dengan Moonlight Retail? Dan apa alasanmu ingin mengambil alih pekerjaanku menjadi bos?” tanya Yul.


Tiga detik lama Yebin terdiam. Lalu dengan yakin ia menjawab, “Aku ingin Biniemoon tumbuh semakin besar dan menjadi pusat perbelanjaan fashion nomor satu di negeri ini. Untuk melakukan itu, aku tidak bisa melakukannya sendirian. Aku membutuhkan kekuatan besar dari Moonlight Grup, juga darimu. Itu alasanku ingin melakukan kerja sama denganmu. Dan untuk pertanyaan terakhir, itu juga murni karena ambisiku. Aku ingin melakukan semua yang aku bisa, dengan caraku.”


Entah bagaimana, perasaan Yul melega mendengar itu. Sejujurnya ia ragu bahwa Yebin bersedia melakukan semua itu karenanya. Jika alasan Yebin melakukan semua itu adalah ia, maka Yul tidak akan menuruti semua keinginan Yebin itu. Tetapi karena itu semua karena ambisi besar Yebin sebagai pebisnis, maka Yul akan memberinya kesempatan.


“Sayang... mengizinkanku kan?” tanya Yebin meyakinkan. Melihat raut wajah Yul, sepertinya permintaannya itu sedang dipertimbangkan baik baik.


“Pertama, kita lakukan kerja sama dulu.”


Seketika itu juga Yebin tersenyum lega mendengarnya. Ia reflek memeluk tubuh Yul. Merasakan kehangatan tubuh lelak iitu selama beberapa saat. Sejak perdebatan tadi, semuanya terasa dingin. Bahkan lantai rumah yang biasanya hangat pun menjadi dingin. Namun setelah semuanya kini selesai, kehangatan kembali merayapi tubuh mereka. Keduanya berdekapan erat. Seolah olah melepaskan semua hawa dingin yang meregangkan hubungan mereka selama beberapa saat.


“Terima kasih. Dan maaf jika tadi aku telah menyakiti perasaanmu. Maafkan semua kata kataku yang keterlaluan,” desus pelan Yebin saat masih berada dalam dekapan Yul. Kini, ia menyesali semua kata kata kasar yang terlontar dari mulutnya.


“Sama sama. Aku minta maaf karena tak menceritakannya lebih awal,” balas Yul mendesus.


Setelah itu Yul meregangkan pelukan mereka. Lantas mencium bibir Yebin dengan penuh gairah sampai turun ke leher. Saat saat paling panas sekaligus mendebarkan pada pasangan suami istri adalah sesaat setelah terjadinya bertengkaran. Api yang semula menyulut karena amarah dan kesalah pahaman itu kini telah redam. Menyisakan api api kecil yang menyalakan gairah. Yul yang melayangkan ciuman ganas pada bibir, leher, dan kini dada Yebin itu membuat Yebin terlena sesaat. Kemudian ia menyetop apa yang Yul lakukan. Menghentikan aksi suaminya itu dengan menjauhkan tubuh Yul darinya.


“Ada Leo Park di bawah sedang menunggu.”


Yul pun benar benar berhenti mencium setelah mendengar gumaman Yebin itu. Benar juga. Ada orang lain di bawah sedang menunggu.


Tak lama kemudian pasangan suami istri yang selesai berbincang bincang—berdebat—itu pun keluar dari ruang lukis. Turun menuju ruang tamu untuk menghampiri Leo Park yang sedang menunggu.


“Maaf, jika terlalu lama. Ada banyak yang harus dibicarakan,” ucap Yul begitu tiba di sofa. Ia segera duduk sementara Yebin berbelok ke dapur untuk membuatkan minuman.


“Tidak apa apa. Biasanya suami istri memang membutuhkan waktu lama untuk berdiskusi.”


Entah hanya pendengarannya Yul saja, atau memang ada yang aneh dari penekanan pada kata ‘diskusi’ yang diucapkan Leo Park itu. Seperti makna terbalik yang menandakan bahwa sebenarnya mereka tidak berdiskusi, melainkan bertengkar.


“Langsung dimulai saja, Leo ssi.”


Yebin menceletuk begitu meletakkan tiga cangkir teh hijau ke atas meja. Ia mempersilakan Leo Park untuk segera memulai pembahasan.


“Baiklah. Dari semua analisis yang telah saya sampaikan baik pada Tuan dan Nyonya Moon, singkatnya seperti ini. Kerja sama itu tidak hanya menguntungkan Moonlight Retail dalam mencari popularitas. Tapi juga bisa membantu Biniemoon mengatasi krisis finansial....”


“Tunggu, tunggu.” Yul menyela penjelasan Leo Park. “Apa maksudnya krisis finansial Biniemoon?”


Leo yang juga tampak terkejut itu mendesus ringan, “Ooh, rupanya Tuan Moon ini tidak tahu kalau Biniemoon sedang berada dalam krisis finansial. Itu yang Yebin ssi ceritakan kepada saya saat bertemu pagi tadi.”


Segera Yul menoleh pada Yebin. “Benar begitu?”


Yebin tampak gelagapan saat ingin menjawab itu. Ia sempat lupa. Bahwa ia belum menceritakan tentang hal itu pada Yul.


Yul yang melihat istrinya itu hanya diam dan mengangguk pelan sambil menundukkan kepala, menghela napas panjang panjang. Untuk yang ke sekian kalinya, ia dibuat terkejut oleh Kang Yebin. Krisis finansial Biniemoon... bagaimana Yul sampai tidak tahu hal itu? Dan bagaimana mungkin Yebin tidak menceritakan permasalahan itu kepada Yul? Krisis finansial bukan hal yang sepele. Sudah sewajarnya Yebin menceritakan hal itu pada Yul supaya Yul juga bisa membantunya mencarikan penyelesaian.


“Sungguh, sampai kapan kau akan menyembunyikan hal semacam ini dariku?” desus pelan Yul yang merasa keheranan.


Baru saja hubungan suami istri mereka bergairah setelah perdebatan panjang. Dan sekarang, kecurigaan lainnya muncul? Yul marah mendapati Yebin yang menyembunyikan masalah besar itu darinya. Ia beberapa kali menunjukkan amarahnya dengan deru napas yang terdengar gusar. Sementara Yebin yang merasa bersalah, tak berani menatap suaminya. Ia hanya menundukkan kepala dalam dalam.


“Rupanya Tuan Moon benar benar tidak tahu tentang masalah itu.” Leo Park yang kini merasa yakin, kembali menggumam keras. Membuat Yul menolehkan pandangan dari Yebin.


“Mengejutkan sekali. Ini pertama kalinya aku mendengar tentang itu,” ucap Yul.


“Ternyata banyak sekali hal yang kalian rahasikan satu sama lain ya? Apa itu yang dilakukan oleh pasangan suami istri masa kini?” desus Leo polos. Namun jelas, ia itu sedang menyindir.


***