Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Kemarahan Predator



Empat puluh menit berlalu sejak Yul diam menunggui Yebin sadar dari anestasi. Selama empat puluh menit waktu yang terlewati itu, Yul hanya diam sambil menggenggam tangan Yebin menggunakan kedua tangannya. Seperti seorang pangeran menunggu putri tidur bangun dari tidurnya.


Tidak ada apa pun yang terjadi selama empat puluh menit waktu yang terlewati itu. Yebin hanya terus tidur dalam ketidaksadaranya karena anestasi. Tak mengerjap maupun tak bergerak. Pernapasannya stabil. Denyut nadi stabil dilihat dari sebuah alat seperti monitor yang menampilkan denyut nadi serta detak jantungnya secara bersamaan. Pun jari jari tangan Yebin terasa dingin. Tubuhnya pucat karena AC di dalam ruangan operasi yang bersuhu sangat rendah.


Selang beberapa waktu kemudian, saat Yul masih menyungkurkan kepala ke atas ranjang tempat Yebin terbangun, bola mata Yebin mengerjap ngerjap. Perlahan... perlhan... ia mengerjapkan mata. Sebelum akhirnya menyadari dirinya tengah berada di ruang rawat inap tempatnya berada seblum operasi. Dan disamping ranjang tempatnya terbaring, Yul duduk.


Kesadaran Yebin telah kembali setelah operasi. Obat anestasi yang digunkan untuk membiusnya, perlahan lahan melebur hilang. Yebin menyadari keberadaan suaminya. Melirik ke arah Yul yang menyungkurkan kepala di sebelah perutnya. Mungkin sedang tidur, atau sedang berdoa. Yang dirasakan Yebin adalah gengaman tangan Yul yang sangat hangat dan menenteramkan benaknya. Menyapu halus semua kegelisahan yang beradu dalam benak Yebin. Melihat suaminya, Yebin merasa seolah olah baru terbangun dari mimpi yang panjang yang nyaris menghilangkannya dari dunia.


Perlahan lahan Yebin mengangkat tangan kirinya. Mengarahkan tangan kirinya ke kanan. Kemudian membelai rambut Yul dengan lembut. Membuat Yul tersadar dan segera mengangkat kepala.


Melihat Yebin yang telah sadar dari anstasi, Yul tesentak. Ia segera bangun dari duduk untuk menatap Yebin dengan lebih jelas.


“Yebin-a! Kau sudah sadar? Apa kau merasa baik baik saja? Apa ada yang terasa sakit? Jika iya, katakan saja. Aku kan memanggilkan dokter untuk memberikan peredanyeri padamu.”


Melihat suaminya yang tampak begitu cemas, Yebin hanya tersenyum tipis. Menandakan bahwa ia baik baik saja.


“Aku baik baik saja. Kau tidak usah khawatir, Sayang.”


Seketika mendengarnya, Yul mengembuskan napas panjang. Separuh jiwanya baru saja kembali. Membuat kakinya lemas dan ia kembali duduk. Setengah mati lega rasanya. Yul merasa benar benar lega melihat Yebin bisa bangun dari ketidaksadaran.


“Ya Tuhan... aku sangat syok mendengar berita kecelakaanmu. Saat itu aku sedang rapat dengan para manajer, dan tiba tiba saja aku mendapat telepon bahwa kau kecelakan bersama Hun. Seketika itu juga aku meninggalkan rapat dan bergegas menuju bandara untuk mendapat penerbangan langsung. Aku pulang tanpa membawa apa apa. Hanya membawa tubuh. Semua barang barangku tertinggal di hotel dan aku belum sempat check out."


Wajah Yul terlihat pucat. Ia tampak hancur sejak mendengar kabar tentang kecelakaan itu.


Setelah mendengar cerita itu, Yebin berucap lirih.


“Oppa, aku ingin duduk.”


“Baiklah. Tunggu sebentar.”


Setelah itu Yul bangun dari duduk. Mencari tombol di sekitar bawah bantal Yebin untuk menegatur posisi kasur yang duduki Yebin. Yul pun mengatur posisi tempat tidur Yebin sedemikian rupa supaya Yebin bisa duduk dengan bersandarkan kasur yang mencondong.


“Bagaimana? Sudah nyaman posisinya?” tanya Yul.


Kepala Yebin mengangguk ringan.


“Hmm. Sudah.”


Setelah selesai mengatur posisi tempat tidur Yebin, Yul masih duduk di atas kasur bersama Yebin. Duduk di pinggiran kasur, menatap wajah pucat Kang Yebin yang dipenuhi luka.


“Mulai sekarang aku tidak akan meninggalkanmu ke mana mana. Maafkan aku.”


Yul berucap lirih selagi membelai wajah Yebin dan merapikan rambut sang istri yang terurai. Menyampaikan rasa bersalahnya pada Yebin yang terluka seperti ini karena ia tinggalkan ke Jeju. Harusnya dari awal Yul tidak pernah meninggalkan Yebin. Harusnya ia tidak mementingkan bisnis dan tidak berangkat ke pulau Jeju dengan tergesa gesa hingga tak mempersiapkan banyak hal untuk kepentingan kafe di Seoul. Andai saja Yul pergi ke Jeju setelah menyelesaikan semua urusanya di Seoul untuk Moonlight Retail, maka Yebin tidak perlu menggantikan tugasnya sebagai pemilik kafe. Maka ia tidak perlu meminta tolong pada Hun untuk mengantar jemput istrinya ke Gangnam. Dan, maka kecelakaan itu tidak akan pernah terjadi. Baik Hun maupun Yebin tidak akan ada yang terluka karena kelalaiannya.


“Oppa, ini bukan kesalahanmu. Berhenti menyalahkan dirimu sendiri.” Yebin berkata penuh tuntutan. Sedari tadi ia melihat, wajah suaminya hanya dipenuhi oleh kabut rasa bersalah yang tebal. Membuat Yul tampak benar benar hancur dan murung.


Menatap suaminya itu yang masih memperlihatkan rasa bersalah yang mendalam. Yebin mengangkat salah satu tangannya untuk menyentuh pipi Yul. Mengelusnya lembut dan hangat.


“Rasanya aku baru saja bangun dari kematian. Oppa jangan menyalahkan dirimu sendiri, itu bisa membuatku merasakan mati yang kedua kalinya. Aku sudah sangat senang melihatmu ada di hadapanku saat ini. Aku sangat bersyukur karena bisa melihatmu lagi setelah mengira aku tidak akan bangun lagi. Karena itu jangan menyalahkan dirimu sendiri. Oppa cukup ada dan selalu hadir menemaniku di saat saat seperti ini.” Yebin berucap panjang lebar untuk menghilangkan rasa bersalah Yul yang teramat dalam. Ia tahu, ini bukan kesalahan Yul. Dan Yebin cukup mengerti kenapa suaminya itu dilanda rasa bersalah. Bukan Yul jika tidak gampang merasa bersalah. Lelaki itu gampang merasa bersalah dan gampang menyalahkan diri sendiri. Perasaannya terlalu peka dan kadang kali itu sama sekali tidak berguna, justru membuatnya sering tertekan.


Dalam waktu lama Yul diam mencerna semua ucapan Yebin itu. Kemudian ia tersenyum hangat. Pun senyumannya terasa pilu.


“Terima kasih.”


Setelah mengucapkan sepatah kata itu untuk sang istri yang telah memberikan ‘pencerahan’ untuknya, Yul memeluk tubuh Yebin dengan sangat perlahan. Tubuh Yebin masih sangat rentan setelah operasinya beberapa waktu lalu. Sehingga Yul menahan dirinya untuk tidak memeluk Yebin dengan lebih erat.


“Terima kasih sudah selamat. Terima kasih sudah bertahan. Terima kasih sudah menjadi istriku yang setia. Aku menyayangimu.”


Rasanya amat menenteramkan mendengar kata kata itu terlontar dari Yul. Indra pendengar Yebin, sampai seluruh ruang dalam tubuhnya, menghangat karena kata kata Yul dan juga pelukan ringannya. Tidak ada yang lebih Yebin syukuri selain memiliki seorang suami yang teramat baik seperti Yul. Entah bagaimana, Yebin merasa dilahirkan ke dunia untuk bersama lelaki itu. Untuk melengkapi semua hal yang tak ada dalam diri Yul.


“Aku juga menyayangimu, Sayang. Teruslah bersamaku. Jangan tinggalkan aku ke mana mana.”


Sembari mengatakannya, Yebin menelusupkan kepalanya ke dalam dada Yul yang terasa kokoh dan hangat. Melanjutkan pelukan ringan mereka selama beberapa saat. Sampai kemudian terdengar suatu bunyi yang tidak asing.


Ttuuit.


Yebin menahan napas seketika bunyi itu terdengar dari dalam tubuhnya. Yul yang juga mendengarnya, terkekeh kekeh pelan sambil melepaskan pelukan itu.


“Ahh, aku tidak bisa mengendalikan tubuhku.” Yebin mengeluhkan tubuhnya yang telah mengeluarkan bunyi kentut di saat saat mendebarkan seperti tadi.


Yul lanjut terkekeh melihat ekspresi wajah tak berdosa Kang Yebin. Wajah Yebin yang awalnya pucat menjadi kemerahan karena menahan malu. Memang keduanya telah tinggal serumah sejak menikah. Namun sejauh ini, Yebin tak pernah buang angin di hadapan Yul. Apalagi di saat saat genting seperti tadi. Suasana yang seharusnya maish menghangat dan romantis ini pun dalam sekejap berubah menjadi adegan komedi.


“Itu tandanya bius operasimu sudah benar benar hilang. Kenapa kau malah menyalahkan tubuhmu?” rutuk Yul yang dalam hati masih ingin tertawa melihat ekspresi wajah Yebin.


“Oh, begitukah?” sahut Yebin ragu.


“Ya. Sekarang kau sudah boleh makan dan minum. Mau makan apa? Biar aku pesankan lewat layanan pesan antar.”


Yebin berpikir sejenak. “Aku mau Jajjangmyeon.”


Kening Yul mengerut tidak setuju. “Kau baru operasi, kenapa malah makan mi? Makan bubur ayam atau bubur sapi saja buat membantu mempercepat pemulihanmu.”


“Kalau begitu kenapa Oppa bertanya aku mau makan apa?” protes Yebin.


“Kukira kau akan meminta bubur atau semacamnya, jadi aku bertanya.”


Setelah itu Yul beranjak dari kasur. Menuju meja sofa dalam ruangan untuk mengambil ponsel. Hendak menelepon seseorang untuk membelikan bubur.


Yul memencet beberapa tombol untuk melakukan panggilan telepon dengan orang tersebut. Begitu panggilan telepon tersambung, ia berucap, “Sangsik-a, apa kau sedang bekerja? Tinggalkan sebentar pekerjaanmu, aku mau meminta tolong. Belikan aku bubur di seberang kafe, lalu antarkan ke rumah sakit tempat istriku di rawat. Aku akan menghitung ini sebagai pekerjaan tambahan dan memberimu gaji tambahan.”


Tak menunggu lama Yul menjawab telepon dari teman dekatnya sewaktu kuliah.


“Halo, Hyun.”


[Yul-a, kau sekarang ada di Seoul?]


“Ya, aku kembali dari Jeju. Kenapa? Kau mau mengajakku minum?” jawab Yul.


[Itu kapan kapan saja. Sekarang, ada sesuatu yang lebih penting daripada minum minum.]


Dari nada bicara temannya itu yang terdengar tergesa, Yul mengerutkan kening curiga.


“Ada apa? Ada masalah lagi di hotel tempatmu bekerja?” tanya Yul.


[Tidak. Akan kukirimkan foto. Coba kau lihat.]


“Foto?”


Panggilan telepon itu seketika terputus. Yul mengernyit kaget mendapati temannya yang tiba tiba mematikan telepon. Sedetik kemudian, ia menapat kiriman foto dari teman yang barusan meneleponnya.


Dengan perasaan bertanya tanya Yul membuka foto yang dikirimkan temannya itu. Melihat foto dari sebuah rekaman CCTV.


Seketika itu juga terlihat perubahan raut wajah pada Yul. Keningnya mengerut. Matanya menatap tajam ke arah foto yang mucul dalam ponselnya. Itu adalah foto Kang Yebin, yang sedang dipeluk oleh Leo Park di dalam ruangan rapat sebuah hotel bintang lima.


Menatap foto itu membuat tubuh Yul membeku. Ia memaku selama beberapa saat dengan segala pemikiran yang terbesit dalam benak. Sebelum akhirnya sebuah panggilan membuatnya tersadar.


“Oppa, kenapa kau terus berdiri di sana? Ke sinilah, aku sangat merindukanmu.”


Celetukan Yebin dari arah ranjang itu membuat Yul segera mematikan ponselnya. Meletakkannya kembali ke atas meja sofa. Lantas berbalik, menatap Yebin dari jarak dua meteran.


Sejenak Yul terdiam. Menatapi wajah Yebin yang penuh luka. Juga melihat ekspresi kerinduan yang terpancar jelas di wajah Yebin yang sedikit bengap karena luka luka itu.


Setelah beberapa waktu menimbang nimbang, Yul tersenyum simpul. Lantas berjalan menghampiri Yebin di ranjangnya.


Benar. Tidak mungkin Yebin melakukannya. Yul percaya pada Yebin sejauh ia mengenalnya. Yebin tidak seperti itu. Yul telah memutuskan untuk mengabaikan apa pun foto yang baru dikirimkan temannya itu. Dan berjalan menuju Yebin yang menunggunya dengan penuh harap dan juga luka di sekujur tubuh.


“Sebegitu rindukah kamu aku tinggal beberapa hari saja di Jeju?” sahut Yul bersama seutas senyum yang disimpulkan.


“Tentu saja. Satu hari aku tinggal sendirian tanpamu, rasanya sudah seperti satu tahun. Ada perasaan hampa dan kosong yang tidak dapat aku deskripsikan. Seperti... seolah olah ada satu sisi dalam diriku yang hilang. Aku harap waktu cepat berlalu supaya aku bisa segera bertemu denganmu, tapi justru waktu terasa sangat lambat.”


Mendengar semua keluhan itu, Yul hanya terkekeh kekeh. Pastinya, ia mengerti dengan baik apa yang dimaksud Yebin. Karena tak hanya Yebin yang merasa demikian, tetapi Yul sendiri juga merasakan kehampaan dan kekosongan batin saat berada jauh dari Yebin.


Sesampainya di hadapan Yebin, Yul mendudukkan tubuh. Menghadap Yebin yang menatapnya polos seperti anak kecil.


“Karena itulah aku tidak tenang meninggalkanmu ke mana mana.” Yul berucap sambil mencubit hidung Yebin dengan gemas. “Aku selalu khawatir meninggalkanmu. Khawatir kau lupa membawa handuk saat mandi. Khawatir kau lupa mematikan kran air sampai kebanjiran. Khawatir kau lupa mematikan kompor setelah selesai memasak. Dan khawatir pakaian dalammu berserakan di atas kasur.”


Yebin seketika tertawa renyah karena gurauan Yul yang berdasarkan fakta. Itu semua adalah kecerobohan Yebin selama hidup bersama Yul di satu rumah. Yebin sering ceroboh pada hal hal kecil yang sifatnya tidak begitu penting. Tetapi selalu teliti mengerjakan hal hal besar sebagaimana bisnisnya.


Sementara sepasang suami istri itu sedang bercanda ria di dalam ruang rawat VIP tempat Yebin dirawat inap, seseorang memperhatikan mereka berdua dari luar. Melalui celah kaca pintu ruangan yang terutup itu, Leo Park berdiri mengamati mereka dengan ekspresi wajah tidak senang. Matanya menatap tajam. Raut wajahnya bersungut sungut dengan garis rahang yang mengeras. Ia membenarkah keras kemejanya yang terasa mencekik leher. Kemudian beralu pergi meninggalkan ruangan itu, selagi melonggarkan dasinya menggunakan tangannya yang berlumuran darah.


**


*Beberapa jam sebelumnya, ketika Yebin masih dioperasi.*


Di sebuah ruangan yang gelap dan pengap, napas Leo terengah engah. Ia menatap tajam ke arah dinding ruangan yang lembab dan dingin. Di tempat itu, empat orang berpakaian gangster tampak sedang berlutut di depan dinding. Sementara satu orang lainnya, sedang berdiri di sebelah Leo Park sambil membawa tablet yang didalamnya terdapat video Blackbox dari dua mobil van yang terparkir basement.


“Siapa kalian berani sekali melukai wanitaku? Kalian pikir kalian itu siapa?!” Sambil berteriak, Leo Park berbalik menatap keempat gangster yang berlutut ketakutan di hadapannya. Dengan napasnya yang tersenggal senggal itu, Leo Park kembali berteriak pada keempat gangster yang mengemudikan mobil van hitam yang menyebabkan kecelakaan pada Hun dan juga Yebin. “Sudah kukatakan, hancurkan hakim sialan itu saja. Bunuh saja hakim sialan yang menggangguku itu, kenapa kalian juga melukai wanitaku?!”


Kemudian Leo Park berjalan menghampiri keempat pria bertato yang tengah berlutut. Membungkukkan tubuh untuk mencengkeram kerah leher salah satu dari mereka.


“Kau? Kau yang menabrakkan mobil itu sampai wanitaku terluka? Kau!”


“Bu—bukan saya, Bos. Bukan saya.”


Leo pun beranjak pada gangster lain. Mengcengkeram leher lelaki bertato itu dengan tatapan mata yang berapi api.


“Apa itu kau? Kau yang membuat wanitaku menangis kesakitan sampai membuat hatiku tersayat sayat? APA ITU KAAUUU!” teriak Leo meluapkan amarahnya pada empat anak buahnya yang bodoh.


“Sa—saya... hanya melakukan perintahmu, Bos. Untuk menyingkirkan hakim itu,” ucap seorang gangster dengan tergagap gagap.


BUUKKK!


Seketika itu juga satu pukulan keras dari tangan Leo mendarat di wajah laki laki yang dicengkeramnya. Lelaki itu pun jatuh tersungkur di atas lantai dengan bibir dan hidungnya yang mencucurkan darah.


Setelah melayangkan satu pukulan, Leo berdiri tegak sambil merilekskan otot leher. Ia mengatur pernapasan untuk mengendalikan amarahnya pada anak buahnya yang tidak becus ini.


“Kalian bisa menabrak hakim itu sampai mati saat dia berkendara sendirian. Kenapa melibatkan wanitaku! Kenapa kalian membuat wanitaku terluka parah? Dasar tidak berguna!”


Begitu meneriakkan itu semua, Leo menoleh ke arah laki laki di belakangnya yang membawa tablet. Ia adalah anak buah Leo, yang melakukan pekerjaan kotor untuk menutupi semua kejahatan yang Leo perbuat. Menghancurkan bukti, menghilangkan identitas, bahkan membuat identitas palsu dan mencarikan Leo tempat untuk bekerja formal disamping pekerjaan utamanya sebagai bos dari klub malam terbesar di Seoul.


Seolah mengerti isyarat yang diberikan Leo itu, anak buahnya mendekat sambil membawakan sebuah kotak berwarna hitam yang berisi alat pemukul.


“Akan kuhabisi siapa pun yang membuat wanitaku terluka....”


**