
Bab 29
Terbelahnya langit saturnus
Menjadi bodoh kadang menguntungkan. Karena itu artinya sesorang tidak perlu menggunakan otaknya untuk memikirkan sesuatu. Sehingga tidak perlu merasakan perasaan perasaan tidak diperlukan yang membuat suasana hatinya benar benar buruk dan kepalanya terasa mau pecah karena terus memikirkan.
Benar sekali, sebenarnya Lysa telah mengetahui siapa mantan kekasih Mino yang selalu membuat pria itu terbayang bayang. Lysa juga sudah tahu kalau wanita bernama Im Jiwon yang memperkenalkan diri sebagai calon tunangan Brian itu adalah mantan kekasih Mino yang membuat lelaki itu terluka begitu dalam sampai sampai merasa kesulitan untuk memulai hubungan baru dengan orang lain.
Ceritanya, pada hari di mana Im Jiwon mengajak Lysa bertemu, Lysa menemukan sebuah foto yang terjatuh di lantai depan kasir. Waktu itu Lysa hendak memesan minuman dan melakukan pembayaran. Dan tiba tiba perhatiannya tetruju pada sebuah foto yang terjatuh di atas lantai. Awalnya ia kira foto itu hanyalah foto biasa milik pelanggan kafe yang tidak sengaja menjatuhkannya. Namun semakin dilihat, Lysa menyadari bahwa laki laki yang ada di dalam foto itu adalah Han Mino, bersama seorang wanita yang tersenyum dengan amat menawan. Pun wanita cantik yang ada di sebelah Mino dalam foto itu adalah wanita yang pernah sekali Lysa lihat di sebuah restoran bersama ayah dan ibu Brian.
Akhirnya Lysa pun mengambil foto itu dan menyimpannya sendirian, tanpa ada seorang pun yang tahu. Dan setelah mengetahui semua kebenarannya, Lysa merasa seperti teriris iris. Sehingga tanpa direncanakan ia bersikap agak kejam pada Jiwon meski wanita itu tidak melakukan kesalahan apa apa dan hanya bertanya beberapa hal saja tentang Brian. Namun karena hal lain, Lysa merasa sangat tidak suka dengan wanita itu yang berurusan dengan dua laki laki yang berarti dalam hidup Lysa.
Awalnya Lysa berpikir bahwa Im Jiwon hanyalah bagian dari masa lalu Mino. Itu yang terus Lysa pikirkan dan membuatnya mampu bersikap baik baik saja di hadapan Mino maupun Brian. Apalagi Mino juga selalu bersikap terbuka terhadap Lysa, memperhatikannya, bersikap seolah olah Lysa adalah wanita baru yang sednag Mino perjuangkan. Namun, kenyataan tidak semakin apa yang Lysa pikirkan selama ini. karena faktanya, Mino kembali ragu ragu terhadap Lysa dan berkata ingin mempertimbangkan kembali hubungan tidak jelas mereka selama ini.
Di saat seperti inilah Lysa merasa sangat putus asa. Ia sudah terlanjut menyayangi Mino dan berharpa banyak tentang laki laki itu. Ia berhasil mengatasi perasaan tak terbalasnya kepada Brian berkat Mino yang hadir sebagai orang baru dalam hidup Lysa. Namun kini kenyataan berbalik. Mino kembali ragu terhadap Lysa. Sedangkan sikap Brian terhadap Lysa banyak berubah.
Ahh, ini semua sangat rumit. Lysa tak dapat berpikir apa apa kecuali keinginan untuk mengisi perutnya dengan makanan yang sangat pedas supaya tidak stres.
Setibanya di restoran, Lysa disambut baik oleh Brian dan juga ayahnya.
“Kau sudah datang? Bukannya kau ada janji?” sahut Brian begitu Lysa tiba di bangku tempat ayahnya dengan Brian berada. Lysa baru saja mendaratkan pantatnya ke atas kursi restoran.
“Hm. Urusanku sudah selesai,” jawab Lysa tak acuh.
“Aduh, putriku. Kau tambah kurus saja. Apa kau belajar sangat keras di kampus sampai sampai berat badanmu turun banyak sekali?” Ayah Lysa yang sudah lebih dari dua minggu tidak melihat putrinya itu, terlihat prihatin melihat berat badan Lysa yang turun banyak. Sebelumnya ia tak pernah melihat Lysa sekurus ini.
Yah, tentu saja Lysa jadi lebih kurus. Karena ia harus bekerja di kafe siang dan malam untuk mencari penghasilan tambahan, ditambah lagi ia harus tetap belajar karena tidak ingin nilainya turun hanya karena ia bekerja paruh waktu di Moonlight Coffe. Waktu belajar Lysa tidak boleh berkurang karena ia ingin tetap mempertahankan nilainya sehingga beasiswa yang ia dapat tidak dicabut. Sehingga, waktu tidur Lysa lah yang berkurang setelah ia bekerja. Mau tidak mau Lysa harus mengurangi waktu tidur malamnya untuk belajar dan mengerjakan tugas. Sehingga ia tetap bisa bekerja di siang hari tanpa mengkhawatirkan tugas yang belum selesai dan nilai mata kuliah.
“Aku sedang diet, Ayah.”
Karena tak bisa mengatakan yang sejujurnya di hadapan sang ayah, Lysa pun berbohong dengan mengatakan bahwa ia sedang diet. Ya, itu adalah kebohongan yang paling natural untuk ia katakan saat ini.
“Diet? Kenapa kau diet segala, putriku? Perawakanmu tidak gemuk, jadi kau tidak bisa kelihatan gemuk. Tapi kenapa kau malah diet?” celetuk ayah Lysa.
“Diet itu sekarang lagi jadi tren, Ayah. Dan aku memang tidak gemuk, tapi belum tentu aku tidak berlemak. Aku tidak mau kalau bagian bagian tubuhku kelihatan berlemak. Bagaimana pun aku ingin terlihat cantik dan seksi supaya segera dapatkah kekasih,” ungkap Lysa.
Kata ‘kekasih’ yang selama ini tidak pernah ayahnya dengar itu membuatnya terbelalak. Sang ayah sangat kaget ketika mendengar putrinya tiba tiba menyinggung tentang kekasih. Padahal, sebelumnya Lysa selalu teriak dengan wajah yang terlihat sebal setiap kali ayahnya menyinggung tentang kekasih.
“Wah, rupanya kau sudah berpikir untuk mencari laki laki ya? Hoho! Baguslah, putriku. Setidaknya kau harus mulai memikirkannya sejak sekarang. Berkencanlah, bertemulah dengan seorang laki laki baik. Kau juga harus merasakan berkencan di usiamu yang sekarang ini, ya?” Sambil tersenyum lebar, sang ayah berkata demikian. Wajahnya terlihat sangat senang karena Lysa akhirnya memikirkan untuk berkancan. Sungguh suatu hal yang selama ini ayahnya harap harapkan.
Satu hal yang selama ini ayah khawatirkan adalah, bagaimana jika perceraiannya dengan sang istri itu membawa trauma yang cukup besar untuk Lysa dan membuat sang putri merasa enggan untuk memulai hubungan dengan laki laki? Ayah tahu, perceraiannya dengan sang istri, dan kandasnya rumah tangganya itu membawa dampak yang sangat besar dalam kehidupan Lysa. Lysa menjadi orang yang tidak mudah percaya dan terkungkung dalam luka akibat penghianatan yang pernah dirasakan sang ayah. Sehingga Lysa sulit untuk bertemu dengan orang orang baru apalagi menjalin sebuah hubungan yang sehat. Namun, sang ayah percaya, bahwa putrinya itu telah tumbuh menjadi sosok wanita yang tangguh dan kuat. Lysa bisa bertahan dengan caranya. Lysa bisa mengatasi trauma yang dirasakannya dengan cara yang ia lakukan selama ini. dan ayah juga yakin bahwa Lysa bisa memulai hubungan dengan seorang laki laki baik yang bisa mengubah cara pandang Lysa terhadap pernikahan.
Mendengar akhirnya Lysa berbicara tentang mencari seorang laki laki, membuat hati ayah merasa sangat lega. Kekhawatirannya telah sirna. Dan ia mendukung sepenuhnya keputusan Lysa.
“Baguslah. Kalau memang kau melakukan diet untuk alasan itu, terserah kau saja. Yang penting jangan sampai kau kekurusan dan hanya terlihat seperti memiliki tulang dan kulit saja. Meski pun diet, kau juga harus menerapkan pola hidup sehat ya, putriku.” Sang ayah mengimbuhkan, sebagai bentuk dukungan terhadap keputusan Lysa untuk diet. Jujur saja, ia tidak yakin apakan diet menjadi tren di kalangan anak muda yang ingin mendapatkan kekasih. Namun melihat putrinya berkata ingin diet untuk mendapatkan kekasih sungguh membuatnya merasa senang.
“Jangan khawatir, Ayah. Aku bisa menjaga diriku dengan baik.” Lysa pun meyakinkan ayahnya dan berkata demikian.
Di sisi lain, Brian yang duduk di sebelah ayah Lysa itu tampak terdiam memandangi Lysa yang sedang melahap makanan pedas di hadapannya. Brian menatap Lysa curiga. Yang laki laki itu pikirkan adalah pertanyaan mengapa Lysa makan begitu banyak makanan pedas hari ini? Salah satu kebiasaan Lysa yang diketahui oleh Brian adalah kebiasaan Lysa memakan makanan pedas di saat hatinya sedang sedih. Tidak hanya makan makanan pedas, tetapi di saat saat ia merasa sangat sedih, Lysa makan dalam jumlah yang lebih banyak, dua kali lipat dari porsi makanannya yang biasanya. Dan itu yang membuat Brian sedari tadi menatap Lysa curiga. Melihat Lysa yang memakan makanan itu dengan lahap dan dengan ekspresi wajahnya yang berakting baik baik saja di depan sang ayah itu membuat Brian merenungkan banyak hal.
Brian terus menatap Lysa dengan tatapan mata yang misterius. Hingga sesaat kemudian, pandangan Lysa menaik dan ia bertatap tatapan dengan Brian.
Lysa tidak tahu arti tatapan Brian itu terhadapnya. Namun ia merasakan ada energi dingin yang disalurkan oleh lelaki itu. Seolah olah Brian sedang memergoki Lysa yang suasana hatinya sungguh buruk pada hari ini, yang membuatnya ingin memakan makanan pedas dalam jumlah banyak—tepat seperti kebiasaan yang gadis itu lakukan ketika sedih mau pun frustasi.
Merasakan hawa dingin dari tatapan Brian itu, Lysa rasanya sedikit kesusahan untuk menelan makanan yang memenuhi mulutnya. Namun dengan susah payah ia menelannya. Dan mengambil air minum sebelum kembali bertatapan dengan Brian yang menatapnya dengan sangat misterius.
Lysa sendiri tidak tahu mengapa Brian menatapnya degan seperti itu. Dan anehnya ia merasa kesal karena Brian menatapnya demikian. Sikap Brian itu sudah dingin, apalagi perlakuannya kepada Lysa selama ini. dan melihat pria itu menatap Lysa dengan tatapan dingin yang sangat misterius itu membuat Lysa seolah olah berada di kutub utara.
Saat keduanya masih bertatap tatapan seperti itu, tiba tiba ayah Lysa menolehkan kepala. Pria paruh baya itu mendapati Brian dengan Lysa yang sedang bertatap tatapan, seperti perang tatapan satu sama lain. Dan kejadian ini sangat langka.
“Ehmn. Halo, kalian berdua itu ... apa yang sedang terjadi?”
Ayah Lysa bertanya di tengah ketengangan suasana yang sedang terjadi ini. ia merasakan hawa hawa aneh di antara putrinya, Lysa, dengan Brian, laki laki yang seperti kakak laki laki untuk Lysa selama ini.
“Maaf, Paman Kim. Saya ingin berbicara empat mata bersama Lysa.”
Sembari berdiri dari duduk, Brian berkata demikian. Ia berdiri sambil meraih salah satu tangan Lysa yang berada di atas meja.
“Kalian bicara di sini saja. Aku mau menjawab telepon dulu.”
Setelah itu ayah Lysa berjalan menjauh dari bangku restoran. Ia keluar menuju teras restoran untuk menjawab telepon dari seorang teman.
Begitu ayah Lysa beranjak keluar, Brian kembali mendudukkan tubuhnya ke atas kursi. Napasnya terhela panjang panjang sambil menatap ke arah Lysa yang raut wajahnya memurung.
“Apa yang terjadi?” tanya Brian dengan tatapan yang dingin.
“Apa yang kau bicarakan, Brian? Aku sama sekali tidak menger—”
“Bukannya kau tadi keluar bersama laki laki yang menjadi manajer Moonlight Coffe itu? Kenapa sekarang kau sudah kembali? Apa yang terjadi padamu, Kim Lysa? Kau diapakan olehnya sampai terlihat begitu frustasi seperti ini?” Brian yang tidak pernah menunjukkan kemarahan dan cenderung seperti air es yang tenang dan tidak bergerak itu, tiba tiba meninggikan suara. Lelaki itu terlihat marah karena suatu alasan yang tidak pernah bisa Lysa mengerti.
Lysa tidak yakin dari mana Brian tahu bahwa ia tadi keluar bersama Mino. Namun, jika dipikirkan kembali, Brian itu orangnya sangat jeli dan sangat teliti. Mungkin ia bisa menebak dari pakaian Lysa, make up yang dipakainya, bahkan sampai parfum yang Lysa kenakan untuk bertemu dengan Mino.
Menyadari itu, kedua mata Lysa bergetar. Hatinya sangat sakit, seperti tercabik cabik karena apa yang Mino lakukan kepadanya beberapa waktu lalu. Dan sekarang Brian malah bersikap sok perhatian padanya. Apa apaan ini? Apa sekarang Brian sedang memainkan perannya sebagai ‘kakak yang baik’ di hadapan Lysa?
“Memang apa urusanmu, Brian? Untuk apa aku menceritakan setiap peristiwa yang kualami kepadamu?” Lysa yang mulai kesal itu ikut meninggikan nada bicara.
“Katakan saja apa yang laki laki brengsek itu lakukan padamu. Apa dia melakukan sesuatu yang buruk kepadamu? Apa kau dilukai olehnya?” Brian kembali menceletuk.
Mendengar itu, napas Lysa terhela panjang panjang. Kepalanya mengangguk angguk selagi ia bergumam gumam pelan.
“Benar sekali, lelaki brengsek. Tapi, apa kau tahu, Brian? Baik kau maupun lelaki itu, kalian berdua sama sama brengsek. Apa kau tahu?” Lysa yang tak dapat menutupi kemarahannya itu kembali berteriak penuh amarah pada brian. Ia tahu, apa yan g Mino lakukan terhadapnya itu memang sangat tidak manusiasi. Namun apa yang sekarang dan akhir akhir ini Brian lakukan juga tidak manusiasi, alias sama brengseknya seperti yang Mino lakukan.
Kening Brian mengerut dalam. “Apa katamu?”
Tidak dapat menutupi amarahnya, Lysa menyetakkan tangannya ke atas meja sampai terdengar bunyi yang begitu keras di dalam restoran. Sontak apa yang dilakukannya itu membuat beberapa orang menoleh.
“Ajeossi itu memang brengsek karena mempermainkan perasaanku. Tapi, kau juga tidak kalah brengsek dengan Ajeossi itu, Brian? Kau tahu di mana letak kebrengsekanmu? Kenapa .... kenapa sikapmu padaku berubah saat aku sudah memutuskan untuk berhenti menyukaimu? Ingat, kau itu sudah memiliki calon tunangan. Dan aku sudah bisa melupakan semua perasaan yang pernah aku punya untukmu. Dari aku masih remaja, sampai beberapa bulan yang lalu, aku masih menyukaimu. Tapi kau ... apa yang sudah kau lakukan padaku? Kau memintaku menyerah dengan sikap dinginmu dan semua perlakuan acuh tak acuhmu. Tapi begitu aku bisa melupakan perasaanku padamu, dan mulai mencintai laki laki lain, kenapa sikapmu berubah?! Apa bagimu aku itu serendah itu?!”
Akhirnya amarah Lysa meluap luap. Ia tahu, apa yang dilakukannya saat ini sangat tidak masuk akal. gadis itu sedang melampiaskan kemarahannya kepada Brian. Padahal amarah terbesarnya bukan pada lelaki itu, tetapi kepada Mino yang mergukan perasaan Lysa dan ingin mempertimbangkan lagi hubungan mereka di saat Lysa sudah menyayanginya begitu banyak. Amarha terbesar Lysa karena Mino. Namun karena Brian yang memancing amarah itu keluar, Brian lah yang menjadi sasaran empuk untuk Lysa meluapkan semua kemarahannya.
“Sekarang katakan padaku, kenapa sikapmu berubah? Kau tidak pernah menceritakan hal lain padaku selain urusan pekerjaanmu. Tapi kenapa kau mulai bercerita masalah masalah pribadimu dan bahkan masalah keluargamu? Kenapa kau lebih sering menghubungi dan meneleponku di saat dulu kau sering tidak menjawab saat aku menelepon? Dan kenapa kau memelukku, bersandar di dadaku lalu menangis? Kenapa kau sekarang kau bersikap seolah olah aku adalah satu satunya orang yang bisa kau jadikan tempat bergantung di saat dulu saja aku tidak memiliki posisi apa apa di hatimu?!”
Amarah Lysa yang meledak ledak itu membuat bahunya naik turun. Ia begtu marah sampai sampai air matanya berjatuhan saja ia tidak sadar. Lysa menangis. Lysa meneteskan air mata di pipinya. Namun ia tidak menyadari hal itu. Sampai akhirnya ia berhenti berteriak dan merasakan sesuatu yang dingin di pipinya.
Segera Lysa menyeka air mata yang membasahi pipinya. Ia mengendalikan dirinya yang ingin menangis lebih dan lebih lagi di hadapan Brian. Lalu kembali menyantap makanan pedas yang ada di hadapannya.
Sementara itu, tubuh Brian membeku. Lelaki itu kaku seperti balok es tersiram kata kata Lysa. Kedua matanya kosong dan bergetar. Mulutnya yang kering itu hanya bisa bergumam gumam.
“Jangan ....”
Kepala Lysa menaik mendengar gumaman pelan itu dari Brian. Keduanya kembali bertatapan. Wajah Brian yang begitu sendu, ditambah tatapannya yang semendung awan. Lelaki itu menatap Lysa dengan mata yang bergetar.
“Jangan lakukan,” ulang Brian.
“Jangan lakukan apa?” tanya Lysa tidak mengerti.
“Jangan berhenti menyukaiku. Tolong, jangan berhenti menyukaiku. Karena aku ... karena aku mulai memandangmu sebagai wanita. Aku mulai menyukaimu, Kim Lysa. Jadi jangan berhenti menyukaiku. Tetaplah suka padaku, seperti dulu, seperti yang selama ini kau lakukan.”
**