Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Hal yang mendesak!



Bab 36


Yebin POV


“ Ada apa, Yebin~a?”


Perasaanku tidak nyaman. Ini terasa menyakitkan, membuat dadaku terasa sesak.


Bukan berarti sebelumnya hubunganku dengan Hun Oppa itu buruk. Aku telah menganggap Hun Oppa seperti kakak laki-lakiku. Yang menjagaku dengan baik. Yang selalu memerhatikanku di saat orang yang aku sayangi berpaling. Hun Oppa selalu ada untukku. Hun Oppa selalu membuatku merasa tenteram di tengah semua permasalahan yang aku sangga. Bahkan, genggaman tangan Hun Oppa terasa hangat. Pelukannya benar membuatku menghangat.


Kadang aku berpikir. jika saja Hun Oppa datang lebih awal, jauh sebelum aku menyukai Yul Oppa. Aku pasti telah jatuh hati padanya. Dengan sikapnya yang tenang dan hangat, aku pasti akan luluh seketika ia menyatakan cintanya padaku. Namun, semua itu tak terjadi. Aku lebih mengenal Yul Oppa. Aku lebih dulu menyukainya dan lebih dulu menjadikan Yul Oppa bagian dari hidupku. Hatiku telah dikuasai Yul Oppa jauh sebelum Hun Oppa datang. Membuatku tak dapat berpaling darinya sekali pun ada laki-laki lain datang dengan semua sikapnya yang memberiku ketenteraman.


Paling tidak aku ingin tetap menganggap Hun Oppa sebagai kakakku. Aku tetap ingin meiliki hubungan yang baik dengannya. Entah apakah keinginanku ini terlampaui tinggi setelah membuat Hun Oppa sakit begitu dalam.


Dari lantai satu aku mendongakkan kepala. Menatap Hun Oppa yang berdiri di tengah tangga menuju lantai dua, membalas tatapan heningku.


“Ibu memintamu datang. Untuk sarapan pagi seperti biasanya. Apa Hun Oppa bisa datang?” tanyaku pelan.


Hun Oppa tampak sedang mempertimbangkan ajakanku. Jika bukan ibuku sendiri yang memanggil, Hun Oppa tidak pernah datang ke rumahku untuk sarapan seperti biasanya. Ia selalu menolak tawaranku untuk sarapan. Juga menolak ketika aku ingin mengajaknya bicara sebentar saja. menolak dengan caranya yang halus. Dengan berbagai alasan.


Ia menolehkan kepala. Melihat jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh lebih empat puluh lima menit.


“Sepertinya aku tidak bisa,” ucap Hun Oppa setelah beberapa detik berlalu.


“Kenapa? Oppa kan tidak bekerja di akhir pekan?”


“Benar aku tidak bekerja. Tapi aku ada janji bertemu seseorang tepat pukul delapan.” Hun Oppa memberikan penjelasannya. Lalu berbalik dan melanjutkan berjalan menaiki anak tangga sebelum aku kembali memanggilnya.


“Oppa!”


Hun Oppa kembali berhenti. Menoleh ke arahku.


“Sampai jam berapa pertemuanmu nanti?”


“Entahlah. Aku tidak yakin.” Hun Oppa menjawab spontan. Kemudian lanjut bertanya, “Kenapa?”


Aku menggelengkan kepala.


“Tidak apa-apa. Hanya saja, sudah lama kita tidak makan es krim bersama. Ah, mungkin karena musim panas sudah di depan mata. Tiba-tiba aku ingin makan es krim. Sejauh ini aku belum menemukan kedai es krim yang enak selain tempat biasanya kau mengajakku.”


Di tengah anak tangga itu Hun Oppa tiba-tiba terdiam. Tatapan sayu itu tidak dapat ditutupinya dariku. Aku melihat kedua bola mata Hun Oppa yang menyayu. Membawa perasaan getir untukku.


“Aku akan menghubungimu nanti setelah pertemuanku selesai.”


Hanya satu kalimat itu yang diucapkan Hun Oppa sebelum berbalik meninggalkanku seorang diri di lantai satu rumahnya ini. Membuatku terbengong. Baik. Untuk saat ini, aku akan menunggunya menghubungiku nanti. Tidak banyak yang aku inginkan. Meski kami tak mungkin sedekat dulu, setidaknya aku ingin memiliki hubungan yang baik dengan Hun Oppa. Mengingat ia adalah orang yang baik dan tenang. Aku tidak ingin kehilangan seseorang seperti Hun Oppa. Bukan karena alasan ia akan menjadi bagian dari keluargaku. Tetapi karena ia adalah orang yang baik dan tulus membantuku saat dalam kesulitan.


“Kenapa kau masih berdiri di situ?”


Celetukan Yul Oppa di depan pintu kamarnya yang berada di lantai dua itu seketika menyadarkanku dari segala lamunan yang melintas. Aku menyadari, diriku masih ada di rumah ini.


Aku masih gelagapan menjawab pertanyaan Oppa yang sedang berjalan menuruni anak tangga.


“Ti—tidak apa-apa. Ayo, ibu sudah menunggu.”


***


“Jadi, ayah dari bayi yang kau kandung itu adalah kepala dari tempat les tempatmu mengajar? Beruntung sekali kau, Kak Jangmi. Sekarang kau tidak akan lagi kesulitan finansial. Benar kan?” Aku menceletuk menanggapi cerita dari ibu tentang siapa ayah dari bayi yang Kak Jangmi kandung.


Dunia sudah banyak berubah. Korea bukan lagi negara seperti kekaisaran pada masa Joseon yang norma sosial dan aturan hukumnya sangat ketat. Aku kira hal seperti yang terjadi pada Kak Jangmi ini hanya terjadi di dalam melo drama yang tayang hari Sabtu Minggu di teevisi Korea. ternyata hal seperti itu lumrah terjadi di abad ini. Hamil dulu baru menikah. Memiliki anak dari ‘kesalahan’ saat kedua manusia yang saling mencintai mabuk karena lima botol soju.


“Itulah kenapa aku tidak suka mabuk. Sekali pun toleransi alkohol tubuhku ini sangat tinggi dan aku sulit mabuk, aku tidak menyukai soju seperti orang-orang menyukainya. Karena dari sebotol soju, ‘kesalahan’ itu terjadi dan manusia baru muncul di dunia ini,” lanjutku menceletuk selagi mengunyah daging ayam yang dimasak ibu untuk sarapan pagi ini.


“Apa maksudmu ‘kesalahan’? Aku dan Jisuk~ssi sudah merencanakannya. Hanya saja bertepatan sekali kami berdua sangat mabuk malam itu,” sanggah Kak Jangmi dengan bangganya.


Keningku seketika mengernyit. Aku menatap miris Kak Jangmi yang sedang memakan sarapan dengan lahap.


“Aigoo, kalian itu benar-benar.... Apa Bibi sudah tahu kalau kau sedang hamil? Apa Bibi juga tahu siapa ayah dari bayi yang kau kandung itu?” lanjutku bertanya.


“Aku akan memberitahunya besok. Sekaligus mengenalkan Jisuk~ssi pada ibu,” jawab Kak Jangmi.


“Lalu kapan kau akan menikah?”


“Minggu depan.”


“Apa?!”


“Kak Jangmi!”


“Ah, kenapa? Kenapa dari tadi kau berteriak?” Kak Jangmi yang terlihat kesal, membalas celetukanku dengan berteriak.


“Apa kau itu sungguh gila? Bisa-bisanya kau menikah minggu depan dan baru memberi tahu Bibi besok tentang bayi dalam kandunganmu? Bukannya itu keterlaluan?”


Aku sungguh tidak dapat mengerti apa yang sedang kakak sepupuku itu pikirkan. Bisa bisanya ia bersikap begitu santai dengan bayi dalam kandungannya itu? apa pemikiran perempuan Korea masa ini memang begitu? Atau hanya aku saja yang masih kolot dan menganggap perkara ini bukan hal yang sepele?


“Jangan khawatirkan aku. Ibu pasti akan merestuiku dengan Jisuk~ssi. Apalagi dengan bayi yang ada dalam kandunganku. Tidak mungkin kan ibu membiarkanku melahirkan bayi ini tanpa suamia?” ucap Kak Jangmi yang masih sibuk menyunyah makanan. Pada situasi yang seperti ini, ia masih bisa menelan makanannya dengan baik. Entah mengapa itu sangat mengherankan untukku.


Napasku terhela panjang panjang.


“Aduh, kenapa hidupmu itu rumit sekali? Apa yang Bibi lakukan saat mengandungmu?” desusku lirih sambil mengambil lauk pauk di atas meja makan.


“Hidupku ini justru sangat simpel. Kisah cintamu itu yang rumit.” Kak Jangmi menimpali perkataanku. Membuatku seketika naik darah.


“Apa?!”


“Sudah-sudah. Kenapa kalian itu selalu bertengkar? Yebin~a, apa kau tidak malu pada calon suamimu yang sejak tadi terganggu makannya karena kau terus mengomel? Setidaknya bersikaplah sedikit anggun karena sebentar lagi kau akan menjadi nyonya Moonlight Cafe.”


Ibu yang sejak tadi mendengarku dan Kak Jangmi beradu argumen, mencerocos panjang. Mengomeliku yang selalu mengomel ngomel.


Memang apa salahnya kalau aku terus mengomel? Kenapa juga aku harus menjadi anggun di depan lelaki yang akan menikah denganku? Bukannya dia mau menikahiku karena telah menerima semua sisi yang ada dalam diriku, dalam artian menerima apa adanya diriku? Pemikiran ibu itu rumit sekali. Apa ibu juga berpikir kalau semua perempuan itu harus seperti permaisuri yang anggun dan lemah lembut? Omong kosong!


Bodohnya aku tidak bisa mengatakan semua itu di hadapan itu. Dan aku pun memilih untuk diam. Tak menanggapi apa-apa lalu melanjutkan kegiatan sarapanku.


“Tidak apa-apa, Ibu. Yebin terlihat manis saat sedang mengomel. Ya kan?” Oppa mengulurkan tangannya untuk menaruh satu potong telur gulung di atas mangkuk nasiku. Bersama dengan senyumnya yang memikat itu, ia mengulurkan tangannya lagi untuk mencubit gemas pipiku yang mengembung karena makanan.


Aku hanya diam terpegun. Mencerna kalimatnya saja sudah membuatku tersipu hingga wajahmu memerah. Untuk apa dia memegangi pipiku dan membuat jantungku seakan mau meledak? Aku perlu makan untuk memberi nutrisi pada tubuhku. Tetapi bagaimana aku bisa menelan makananku dengan baik di saat jantungku berdegup dengan sangat kencang seperti ini? Ini menyebalkan. Tapi aku menyukainya.


“Aduh, lihatlah kalian berdua itu. Aku benar-benar tidak tahan melihatnya.”


Kak Jangmi, yang sepertinya telah menyelesiakan sarapannya, segera beranjak berdiri. Ia berjalan pergi meninggalkan ruang makan. Sedangkan Ibu yang masih duduk di bangku meja makan, memperlihatkan senyum semringah dari sudut mataku.


Tak ingin membiarkan wajahku tersipu makin lama, aku menurunkan pandangan. Mengambil satu potong telut gulung di atas nasiku lalu langsung melahapnya. Begitu pun yang terjadi pada Oppa yang kembali melanjutkan kegiatan sarapannya.


“Ah, benar. Kenapa Hun tidak ikut sarapan di sini? Apa dia juga bekerja di akhir pekan?” tanya Ibu.


“Aku tadi sudah memintanya datang. Tapi Hun Oppa ada janji bertemu pagi-pagi. Jadi dia tidak bisa datang untuk sarapan,” jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari makanan.


“Aku khawatir pada Hun. Tubuhnya semakin kurus. Pasti beban pekerjaannya sebagai hakim yang membuat tubuhnya semakin kurus setiap hari. Memprihatinkan sekali. memang tidak ada pekerjaan yang mudah, apalagi menjadi hakim yang mulia.” Ibu menggumam-gumam selagi menyelesaikan makan paginya.


Sepertinya perutku sudah kenyang. Lidahku menggetir dan tak dapat merasakan makanan yang aku kunyah. Tenggorokanku juga terasa sesak untuk menelan makanan.


Setelah berniat mengakhiri sarapan, pandanganku menaik. Di seberang meja, kulihat Yul Oppa yang sepertinya tak nafsu lagi untuk makan. Ia mengakhiri kegiatan sarapannya dengan meneguk satu gelas air putih. Seiring dengan itu, pandangannya memendung seperti awan hitam yang akan menumpahkan hujan. Dari raut wajahnya, Oppa menunjukkan kegetiran hati saat mendengar Ibu menggumamkan tentang Hun Oppa, adiknya.


Kegiatan sarapan di rumahku telah selesai. Setelah membantu ibuku memberesi meja makan dan mencuci peralatan makan, Yul Oppa beranjak keluar. Berjalan melewati pagar rumah untuk kembali ke rumahnya.


“Oppa,” panggilku yang seketika membuat Yul Oppa berbalik. Aku pun mendekat ke arahnya.


“Ada apa?” sahutnya.


“Oppa mau pergi ke kafe?” tanyaku begitu tiba di hadapan Yul Oppa.


“Ya. Ada sesuatu yang ingin kuperiksa. Kenapa?”


Aku meragu. Sebetulnya ada satu hal yang ingin kutanyakan padanya. Tetapi benakku diselimuti keraguan. Aku berpikir panjang sebelum akhirnya memutuskan untuk meneruskan niatku menanyakan hal itu.


“Oppa, kau sudah berbicara pada Hun Oppa?” tanyaku lirih. Kulihat ekspresi wajah Yul Oppa yang tidak berubah. “Hanya saja, aku masih merasa sedikit sungkan padanya setelah yang terjadi hari itu.”


Raut wajah Yul Oppa masih belum berubah setelah mencerna semua kata-kataku. Kemudian ia tersenyum tipis dan berucap, “Jangan khawatir. Aku sudah berbicara dengannya. Kau tidak perlu merasa tidak nyaman lagi.”


Kedua alisku menaik. Jujur saja aku merasa terkejut mengetahui kalau ternyata Yul Oppa sudah mengajak Hun Oppa berbicara.


“Sungguh?”


Yul Oppa kembali tersenyum dan mengangguk kecil.


“Tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Bersikaplah padanya seperti sebelum sebelumnya. Hun bukan pendendam. Dan dia sudah menganggapmu keluarga sejak kedatangannya dari Amerika.”


***