
Bunyi suara kapal saling bergantian memberikan pertanda akan keberangkatan dari dermaga. George mulai memasukkan mobilnya ke dalam sebuah kapal pesiar.
George sengaja tak membangunkan Gabby yang masih tertidur pulas. Ia memilih menggendong wanita itu dan membawa ke kamar untuk beristirahat.
George membiarkan Gabby menyelam ke alam mimpi tanpa mengganggunya. Ia memilih menemui nahkodanya agar menjalankan kapal menuju tengah laut.
George kembali ke kamar setelah dirasa kendaraan pribadi berharga fantastis itu mulai menyusuri lautan. Ia tak tidur di ranjang bersama Gabby. Ia memilih duduk di sofa mengamati bagaimana wanita itu tidur. Hingga tak terasa ia ikut tertidur dengan posisi duduk.
...........
Semburat jingga menghiasi langit sore itu. Gabby mulai meregangkan ototnya. Matanya mengerjap perlahan, mengumpulkan kesadarannya. Ia Langsung duduk saat teringat bahwa ia di bawa pergi oleh George.
“Aku di mana?” gumam Gabby seraya matanya mengedar menyapu sudut demi sudut ruangan itu. Dan terhenti pada sosok pria yang terlelap di sofa. “Ternyata masih memiliki sopan santun juga dia, ku kira dia akan seenaknya memanfaatkan situasi.” Pujian itu ia berikan untuk George yang tak dapat mendengarnya.
Gabby mulai menurunkan kakinya. Berjalan perlahan agar tak menimbulkan suara. Membuka pintu pun ia sangat hati-hati. Ia sedang ingin menyendiri.
“Kenapa dia membawaku ke tangah laut?” gumamnya lagi saat ia melihat hamparan air yang memantulkan cahaya jingga yang indah.
Masa bodohlah, yang penting saat ini Gabby jauh dari keramaian. Ia bisa leluasa menumpahkan kesedihannya.
Wanita itu menuju ke bagian ujung kapal. Ia naik dua baris besi pembatas. Tubuh bagian depannya, dari bawah pinggul hingga kaki, tersandar pada besi itu. Kedua tangannya ia rentangkan, matanya terpejam. Menghirup dalam-dalam udara yang menampar-nampar di kulitnya. Lama sekali ia melakukan itu.
“Aku tak mengizinkanmu bunuh diri!” seru George segera berlari ke arah Gabby. Ia bergegas keluar mencari wanitanya saat tak mendapati Gabby di ranjang lagi.
Gabby yang mendengar itu langsung berbalik. Ia yang belum siap dengan terpaan angin yang begitu kuat, tak sengaja tergelincir hingga ia akan terjatuh.
George reflek menarik tangan Gabby hingga berada dalam dekapannya. “Sesulit apa masalahmu hingga kau ingin meregang nyawamu sendiri?” tanyanya tanpa mengurai pelukannya.
Pletak!
Tangan Gabby menyentil kening George. Membuat pria itu melepas rengkuhannya untuk mengusap bagian yang sakit.
“Sembarangan! Siapa yang ingin mengembalikan nyawa kepada Tuhan? Aku sedang menikmati udara segar untuk menetralkan pikiranku,” protes Gabby dengan berkacak pinggang.
George terkekeh. “Ku kira, kau sudah bosan hidup,” selorohnya. “Ikut aku jika kau ingin menikmati udara segar,” ajaknya. Namun tak menunggu jawaban, George sudah menarik tangan Gabby.
George mengajak Gabby naik ke bagian paling atas kapal. Terpaan angin terasa lebih kuat di sana.
“Teriaklah sekencang-kencangmu, keluarkan semua yang mengganjal di hatimu dan yang membuatmu bersedih. Anggap saja aku tak ada,” ujar George. Tangannya membimbing kedua tangan Gabby untuk berpegangan erat pada pembatas. Ia pun langsung berdiri di samping Gabby dengan posisi yang sama.
Gabby tak mengikuti arahan George. Ia terdiam dengan sesekali melirik ke arah pria itu.
George menaikkan sebelah alisnya. “Kenapa diam saja? Cobalah, itu akan membuatmu lebih lega daripada kau memendamnya terus sendirian. Atau, kau butuh contoh? Aku akan mencontohkannya.”
Tanpa menunggu jawaban Gabby, George mengalihkan pandangannya menuju hamparan laut yang luas, menghirup oksigen dalam-dalam, dan berteriak sekencang-kencangnya.
“Gadis kecilku ... maafkan aku yang sempat melupakanmu, maafkan aku yang tak mengenalimu, maafkan aku yang berbuat kasar denganmu, maafkan semua kesalahan yang pernah ku perbuat untukmu ... ku mohon maafkan aku, aku akan memperbaiki semuanya ... maafkan aku yang membandingkanmu dengan wanita lain. Jujur, aku sudah tak berharap dengan Catherine. Aku benci penghianatan!”