
Gabby sungguh memesan sarapan menggunakan layanan room service. Ia sudah sangat malas dan muak melihat wajah George yang selalu membuatnya berdebat terus menerus.
Usai sarapan, semua bersiap untuk ke bandara. Kali ini Gabby sudah siap di lobby bandara terlebih dahulu. Ia sudah mengatakan pada Diora akan menunggu mereka di bandara saja, karena tak ingin satu mobil dengan George. Sebenci itu dirinya dengan George hingga menghindari pria itu.
Gabby duduk di atas kopernya, sebab hari ini bandara sangat ramai hingga tak ada kursi tunggu yang kosong. Ia menggunakan celana jeans panjang, kemeja biru gelap kedodoran dengan panjang yang menutupi setengah daerah pahanya, tas ransel yang ia selempangkan satu di bahunya, sneakers warna putih, rambut di cepol, kacamata hitam yang bertengger menutup kedua matanya, earphone yang menutup kedua telinganya, dan satu cup iced cappuccino menemaninya menunggu empat orang rombongannya.
Kakinya menghentak-hentak lantai seirama dengan musik rock yang ia dengar di telinganya. Kepalanya naik turun dengan tangan yang memperagakan jika dirinya tengah bermain gitar.
“Shit! Menganggu!” umpat Gabby ketika satu earphonenya diambil paksa oleh seseorang. Sontak ia langsung berdiri menantang orang di hadapannya yang berani mengusik kesenangannya. Setelah melihat siapa orang yang menganggunya, ia menyambar earphonenya dengan kasar. Ia tak berniat membuka suaranya. Gabby memilih menarik tuas kopernya, mengayunkan kakinya, dan mendorong kopernya menjauhi George.
Ya, siapa lagi yang berani mengusik hidup Gabby jika bukan George.
George yang mengajukan dirinya sendiri untuk mencari Gabby di tengah lautan manusia yang memenuhi bandara, saat ia mencoba memanggil Gabby dengan baik-baik namun tak direspon, ia langsung mengambil dengan kasar earphone di telinga Gabby. Tak tahu apa yang ada di fikiran pria itu hingga ia selalu saja mengusik hidup Gabby.
George langsung mengejar Gabby. “Bukan ke sana arahnya, tapi ke sana,” tegurnya menunjuk arah yang berlawanan.
Gabby yang sudah berjalan menuju tempat check-in tiket langsung berbalik arah tanpa menanggapi George. Ia tak ingin berujung perdebatan di tempat umum yang ramai sekali, pasti akan menjadi tontonan jika itu terjadi.
Mereka langsung bertemu dengan Davis, Diora, dan Sophie yang sudah menunggu di gate khusus para pemilik jet pribadi. Tanpa banyak bicara, mereka langsung masuk ke dalam jet pribadi milik Davis.
Gabby membiarkan George untuk duduk terlebih dahulu, agar dirinya bisa memilih tempat duduk yang tak berdekatan dengan George.
Dua puluh satu jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di Helsinki Airport. Dua mobil sudah terparkir di depan bandara. Mobil satu milik Davis yang diantarkan oleh salah satu petugas bandara yang dititipi mobil milik Davis dan satunya lagi milik George yang dititipkan pada sekretarisnya.
“Hmm,” jawab George.
“Tak perlu, aku akan pulang sendiri naik taksi,” tolak Gabby, mencari-cari kopernya. “Dimana koperku?” tanyanya pada George yang ia curigai.
George mengedikkan bahunya. “Mungkin hilang,” balasnya dingin. Padahal koper Gabby sudah lebih dulu dimasukkan olehnya ke bagasi mobil ketika wanita itu mengantarkan Sophie ke toilet.
“Awas saja jika kau menyembunyikan koperku,” ancam Gabby.
“Kopermu sudah dimasukkan ke bagasi olehnya,” terang Diora yang kasian dengan kebingungan sahabatnya.
“Kau ....” Gabby menuding Geroge dengan telunjuknya. “Keluarkan koperku sekarang juga!” perintahnya.
“Keluarkan saja sendiri,” sahut Geroge acuh.
“Kalian ini seperti kucing dan tikus, tak pernah akur,” seloroh Diora. “Lebih baik kau bersamanya, lebih aman daripada sendiri,” imbuhnya.
“Memangnya kenapa kalau sendiri? Ada orang yang berani denganku memangnya?” Gabby meninggikan suaranya karena tak suka sahabatnya malah berpihak pada George.
George tak memperdulikan penolakan Gabby, ia menarik tangan wanita itu menuju ke mobilnya. “Masuk!” Geroge membukakan pintu untuk Gabby, pintu di depan yang persis di samping jok pengemudi. Ia masih penasaran dengan ‘pria ingkar janji’ sehingga ingin mencecar lagi Gabby hingga wanita itu mau membuka suaranya.
Gabby menghempaskan tangannya. “Cih ... tak sudi aku duduk di sampingmu!” Ia membuka pintu lainnya, lalu masuk ke dalam mobil dengan menutup pintu dengan keras.